Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Kelayakan Usahatani Padi Inpari IR Nutri Zinc Kelompok Tani Ngudi Makmur Kabupaten Tulungagung Siti Chumidah; Andajani, Wiwiek; Sidhi, Eko Yuliarsha; Agustia Dwi Pamujiati
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 4 No. 1 (2024): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v4i1.5325

Abstract

Tulungagung Regency ranks 18th with 2,901 stunting cases, the equivalent of 5.51% in East Java. More specifically, stunting cases in Kauman District, Tulungagung Regency, reached 104 or around 3.6%. One of the causes of stunting is iron (Zn) deficiency. The Tulungagung Regency Agriculture Service conducted an Inpari IR Nutri Zinc Rice cultivation development program for the Ngudi Makmur Farmers Group in Balerejo Village, Kauman District, to support reducing stunting cases. Cultivating Inpari IR Nutri Zinc Rice has been carried out well. However, an analysis of the costs and feasibility of farming has yet to be carried out, so further research needs to be conducted. This research aims to determine the costs and feasibility of cultivating Inpari IR Nutri Zinc Rice. This research was a quantitative descriptive study involving the participation of 30 respondents belonging to the Ngudi Makmur Farmers Group, Balerejo Village, Kauman District, determined by census. Cost analysis calculations included variable and fixed costs so that income and receipts would be known. Feasibility analysis was calculated using the R/C ratio. The study findings showed that the average expenditure figure for Inpari IR Nutri Zinc Rice agricultural activities in the Ngudi Makmur Farmer Group was IDR10,382,373 with an income of IDR19,463,007 per ha in one planting season. The R/C ratio calculation result was 2.88. This shows that the Inpari IR Nutri Zinc Rice cultivation business is profitable and feasible. Kabupaten Tulungagung menempati urutan ke-18 dengan jumlah 2901 kasus stunting atau setara dengan 5,51% di Jawa Timur. Lebih spesifik lagi, kasus stunting di Kecamatan Kauman Kabupaten Tulungagung mencapai 104 atau sekitar 3,6%. Salah satu penyebab stunting yaitu kekurangan zat besi (Zn). Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung melakukan program pembinaan budidaya Padi Inpari IR Nutri Zinc kepada Kelompok Tani Ngudi Makmur Desa Balerejo Kecamatan Kauman untuk mendukung penurunan kasus stunting. Proses budidaya Padi Inpari IR Nutri Zinc telah dilakukan dengan baik, namun belum dilakukan analisis biaya serta kelayakan usahataninya sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui biaya dan kelayakan usaha budidaya Padi Inpari IR Nutri Zinc. Penelitian ini adalah suatu studi deskriptif kuantitatif yang melibatkan partisipasi dari 30 responden anggota Kelompok Tani Ngudi Makmur Desa Balerejo Kecamatan Kauman yang ditentukan secara sensus. Penghitungan analisis biaya meliputi biaya variabel dan biaya tetapsehingga akan diketahui pendapatan dan penerimaan. Analisis kelayakan dihitung menggunakan R/C ratio. Temuan studi menunjukkan angka rata-rata pengeluaran dalam kegiatan pertanian Padi Inpari IR Nutri Zinc pada Kelompok Tani Ngudi Makmur sebesar Rp10.382.373 dengan pendapatan sebesar Rp 19.463.007 per ha dalam satu musim tanam. Hasil perhitungan R/C ratio sebesar 2,88. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani budidaya Padi Inpari IR Nutri Zinc menguntungkan dan layak untuk dijalankan.
Analisis Komparatif Pengguna dan Non Pengguna Pupuk Organik Cair pada Usahatani Padi (Oryza sativa L.) di Desa Tanggungkramat Kabupaten Jombang Umi Mariyati; Andajani, Wiwiek; Sidhi, Eko Yuliarsha; Nina Lisanty
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 4 No. 1 (2024): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v4i1.5327

Abstract

This research aims to increase rice production by introducing Liquid Organic fertilizers (POC) as an alternative to chemical fertilizers. Farmers have so far only relied on chemical fertilizers, causing a decrease in soil fertility and an increase in the use of subsidized chemical fertilizers. The research was conducted in the village of Tuliskramat, Ploso District, Jombang Regency, which is a rice production center. The research method used observation, filling in a list of questions, interviews, and direct documentation for 40 respondent farmers (8 POC user farmers and 32 non-user farmers). Primary and secondary data were analyzed using farming costs, revenues, income, and comparative t-tests. The results showed that the average rice production with POC reached 7,000 kg/ha, while 6,489 kg/ha without POC. Rice farming income with POC (IDR21,426,010.00/ha) is higher than without POC (IDR18,228,966.00/ha). Hypothesis testing shows a significant difference between the two, indicating that using POC provides more significant rice farming income than without POC. This research implies the importance of adopting POC to increase farmers' yields and income and reduce dependence on subsidized chemical fertilizers. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan produksi padi dengan mengenalkan Pupuk Organik Cair (POC) sebagai alternatif penggunaan pupuk kimia. Petani selama ini hanya mengandalkan pupuk kimia, menyebabkan penurunan kesuburan tanah dan peningkatan penggunaan pupuk kimia yang bersubsidi semakin berkurang. Penelitian dilakukan di desa Tanggungkramat, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, yang merupakan sentra produksi padi. Metode penelitian menggunakan observasi, pengisian daftar pertanyaan, wawancara, dan dokumentasi langsung kepada 40 petani responden (8 petani pengguna POC dan 32 petani non-pengguna). Data primer dan sekunder dianalisis dengan metode biaya usahatani, penerimaan usahatani pendapatan usahatani, dan uji t komparatif. Hasil menunjukkan rata-rata produksi padi dengan POC mencapai 7.000 kg/ha, sedangkan tanpa POC sebesar 6.489 kg/ha. Pendapatan usahatani padi dengan POC (Rp21.426.010/ha) lebih tinggi daripada tanpa POC (Rp18.228.966/ha). Uji hipotesis menunjukkan perbedaan signifikan antara keduanya, mengindikasikan bahwa penggunaan POC memberikan pendapatan usahatani padi yang lebih besar dibandingkan tanpa POC. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya adopsi POC untuk meningkatkan hasil dan pendapatan petani serta mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia bersubsidi.
Analisis Ketergantungan Petani Padi Terhadap Tengkulak Dalam Sistem Pemasaran di Sentra Produksi Padi Kecamatan Pace Agustina, Liya; Sidhi, Eko Yuliarsha; Artini, Widi; Lisanty, Nina
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 4 No. 2 (2024): JULY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v4i2.5697

Abstract

In the current era, farmers in Indonesia, as an agricultural country, face significant challenges in post-harvest and marketing activities, often relying heavily on middlemen. This dependence is influenced by limited capital, transportation assistance, and kinship relationships. Farmers usually sell their crops to middlemen at lower prices, which affects their income and sustainability. This research aims to analyze the factors that cause the dependence of rice farmers in Pace District on middlemen in the marketing system. This research used a purposive sampling method in three villages in Pace District, involving 40 rice farmers and five key informants (middlemen). Data were analyzed using logistic regression and Spearman correlation to determine the influence of various factors on dependency and satisfaction levels. Logistic regression results show that limited capital and kinship relationships significantly influence farmers' dependence on middlemen. Spearman's correlation showed a weak and insignificant relationship between reasons for dependence and level of satisfaction. Policy interventions should focus on providing alternative capital and improving transportation and market access to reduce reliance on middlemen. Creating agricultural cooperatives and rural financial institutions can empower farmers, ensuring more equitable and sustainable relationships. Di era sekarang, petani di Indonesia, sebagai negara agraris, menghadapi tantangan signifikan dalam kegiatan pascapanen dan pemasaran, sering kali sangat bergantung pada tengkulak. Ketergantungan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti keterbatasan modal, bantuan transportasi, dan hubungan kekerabatan. Petani sering menjual hasil panen mereka kepada tengkulak dengan harga yang lebih rendah, yang mempengaruhi pendapatan dan keberlanjutan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan ketergantungan petani padi di Kecamatan Pace terhadap tengkulak dalam sistem pemasaran. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling di tiga desa di Kecamatan Pace, melibatkan 40 petani padi dan 5 informan kunci (tengkulak). Data dianalisis menggunakan regresi logistik dan korelasi Spearman untuk menentukan pengaruh berbagai faktor terhadap ketergantungan dan tingkat kepuasan. Hasil regresi logistik menunjukkan bahwa keterbatasan modal dan hubungan kekerabatan secara signifikan mempengaruhi ketergantungan petani pada tengkulak. Korelasi Spearman menunjukkan hubungan yang lemah dan tidak signifikan antara alasan ketergantungan dan tingkat kepuasan. Untuk mengurangi ketergantungan pada tengkulak, intervensi kebijakan harus fokus pada penyediaan modal alternatif dan peningkatan akses transportasi dan pasar. Pembentukan koperasi pertanian dan lembaga keuangan pedesaan juga dapat memberdayakan petani, memastikan hubungan yang lebih adil dan berkelanjutan.  
Studi Pemasaran Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Menggunakan Sistem Tebasan di Desa Nglinggo Kecamatan Gondang Kabupaten Nganjuk Nopitasari, Santi; Andajani, Wiwiek; Sidhi, Eko Yuliarsha; Pamujiati, Agustia Dwi
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 4 No. 2 (2024): JULY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v4i2.5704

Abstract

Shallots are used as a spice and spice; they are also used as traditional medicine ingredients and play a role in helping increase people's income in national development, one of which is the shallot plant. This research aims to determine the costs, income, and feasibility of shallot farming using the slash system in Nglinggo Village, Gondang District, Nganjuk Regency. This research was carried out purposively in Nglinggo village, Gondang district, Nganjuk district. This location was chosen because it is one of the centers for developing shallot farming. The sampling method used in this research was census (saturated sampling). Based on the survey results and these criteria, the number of farmers was 30 respondents. The types of data used in this research are primary and secondary. The data analysis methods include farming costs, revenue analysis, income analysis, R/C ratio, and profitability analysis. The results of research on the analysis of shallot farming using the slash marketing system showed that the average total production cost for shallot farming is IDR 88,109,666.7/Ha, the total revenue from shallot farming is IDR 128,313,365/Ha, the average shallot farming income is IDR 40,203,698/Ha. The R/C Ratio is 1.46, and profitability is 15.2%.   Salah satu bumbu yang sering digunakan adalah bawang merah. Bawang merah juga bermanfaat untuk obat tradisional dan berperan dalam peningkatan pendapatan masyarakat. Riset ini bertujuan untuk mengetahui biaya dan pendapatan serta pemasaran bawang merah dengan sistem tebasan di Desa Nglinggo Kecamatan Gondang Kabupaten Nganjuk. Riset ini dilaksanakan secara sengaja di Desa Nglinggo karena daerah tersebut salah satu sentral pengembangan usahatani bawang merah. Metode sensus digunakan untuk pengambilan sampel. Berdasarkan hasil survei dan juga kriteria tersebut, maka jumlah petani adalah 30 responden. Jenis Data utama dan data tambahan diperlukan pada riset ini. Metode analisis data yang dilakukan antara lain biaya usahatani, pendapatan, penerimaan, R/C Ratio serta rentabilitas. Hasil riset tentang analisis usahatani bawang merah dengan sistem pemasaran tebasan ini menunjukkan total biaya produksi usahatani bawang merah Rp.88.109.666,7/Ha, total penerimaan usahatani bawang merah Rp. 128.313.365/Ha, dengan pendapatan senilai Rp. 40.203.698/Ha. R/C Ratio sebesar 1,46 serta rentabilitas 15,2%.
STRENGTHENING MODEL FOR DAIRY CATTLE BREEDERS WITH PROFIT-SHARING SYSTEM IN TRENGGALEK REGENCY Artini, Widi; Sidhi, Eko Yuliarsha; Lisanty, Nina; Sutiknjo, Tutut Dwi; Bahar, Asikin
Jurnal Ilmu Ilmu Agribisnis: Journal of Agribusiness Science Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Lampung University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jiia.v13i1.8806

Abstract

The Government of Trenggalek Regency is strongly committed to advancing the dairy cattle industry and boosting milk production in the region, with particular emphasis on Dompyong Village, Bendungan District.  This research aims to assess the capital requirements for dairy cattle farming and develop a model to strengthen the position of breeders using a profit-sharing system.  A survey method, incorporating both quantitative and qualitative descriptive approaches, was employed to gather comprehensive data.  The study revealed that independent dairy cattle farming requires a total capital of IDR 23,150,000.  However, under the profit-sharing system, breeders need only IDR 9,900,000 due to shared costs for purchasing dairy cows.  The profit-sharing arrangement generally involves a 50:50 split between breeders and investors, including income from the sale of calves and milk, resulting in a total profit-sharing value of IDR 23,000,000 per year.  Additionally, breeders receive 10 to 20 percent of the revenue from the sale of dairy cows, depending on the agreement.  The proposed model for strengthening breeders focuses on developing their character and credibility to build investor trust, advocating for written profit-sharing agreements to prevent disputes, and enhancing institutional support to improve business efficiency and provide technical guidance. Keywords : dairy cows; livestock, profit-sharing system.
Implementasi Strategi Brand Awareness Produk Jadam Sulfur “JDM” melalui Kolaborasi Komunitas Petani Nareswari, Aptika Hana Prastiwi; Kustiani, Edy; Sidhi, Eko Yuliarsha; Aji, Satriya Bayu; Dewi, Wiwin Septia
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v5i2.7082

Abstract

Implementasi brand awareness produk Jadam Sulfur (JDM) melalui pendekatan kolaboratif bersama komunitas petani merupakan inovasi dalam memperkenalkan produk pertanian ramah lingkungan di tingkat masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga bulan di Desa Klitih, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, mencakup tahap persiapan, produksi JDM, pelatihan pembuatan, demonstrasi lapang, hingga promosi berbasis komunitas. Penerapan strategi promosi yang memadukan edukasi partisipatif, pemasaran sederhana, dan pendekatan berbasis pengalaman nyata petani merupakan keunggulan dari kegiatan ini. Metode ini tidak hanya meningkatkan kesadaran merek hingga lebih dari 90%, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat dalam memahami nilai ekonomi dan ekologi produk organik. Kolaborasi antara tim pelaksana dan petani berhasil membangun kepercayaan, memperluas jejaring distribusi lokal, serta menumbuhkan kesadaran terhadap praktik pertanian berkelanjutan. Implementasi di masyarakat menunjukkan bahwa penguatan merek berbasis komunitas lebih efektif disbanding promosi konvensional karena melibatkan peran aktif petani sebagai duta merek. Secara keseluruhan, model ini berpotensi direplikasi untuk memperkuat posisi produk ramah lingkungan di pasar lokal dan meningkatkan kemandirian ekonomi petani melalui inovasi sosial berbasis pengetahuan lokal.