Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Pada Remaja Putri Gangsar Indah Lestari; Firda Fibrila; M Ridwan
AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 8 : September (2023): AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : CV. Multi Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adolescence is a transitional period, often individuals face confusing situations. This causes conflict in adolescents where many behaviors are strange, awkward, and if not controlled will cause delinquency in adolescents, one of which is the risk of risky sexual behavior. Some factors related to adolescent reproductive health include socioeconomic factors, cultural and environmental factors, psychological factors and biological factors. The influence of global information (exposure to audio-visual media) that is increasingly accessible and actually provokes adolescents to adapt unhealthy habits, which will accelerate the age of early sexual activity and lead them to high-risk sexual behavior, because most adolescents do not have accurate knowledge about reproductive health and sexuality and do not have access to reproductive health information and services,  including contraception. One of the efforts that can be done is to conduct health education on how to care for reproductive organs, education about adolescent development during puberty, the impact of pornography, the impact of unwanted pregnancy, abortion, sexually transmitted diseases including HIV / AIDs and maturation of marriage age.
Efek Kombinasi Inisiasi Menyusu Dini dan I Love You Massage terhadap Breastfeeding Jaundice pada Bayi Baru Lahir Martini Fairus; Firda Fibrila; Riyanto Riyanto
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 15, No 1 (2022): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkmsaw.v15i1.3279

Abstract

Latar Belakang: Ikterus neonatorum merupakan masalah umum pada neonatal yang dapat dicegah dan diobati, tetapi membiarkan tidak diobati dapat berakhir pada kematian. Pencegahan yang dapat dilakukan antara lain tindakan inisiasi menyusu dini dan pemijatan yang lemput. Penelitian bertujuan merekomendasikan efek kombinasi intervensi pemberian asi secara dini dikombinasikan dengan I Love You Massage terhadap penurunan insidens breastfeeding jaundice.Metode:Non-randomized controlled trial dengan posttest only control group sebagai desain penelitian ini. Kelompok intervensi (n=22) diberikaninsisiasi menyusu dini dan I Love You Massage dan kelompok kontrol (n=22) diberikan insisiasi menyusu dini yang dilakukan selama 3-5 hari. Analisis data menggunakan uji chi square dengan taraf kemaknaan (α) 0,05. Hasil:Hasil studi menunjukkan breastfeeding jaundicepada kelompok intervensi lebih rendah (40,9%) dibandingkan kelompok control (73%). Uji statistik menemukan terdapat pengaruh inisiasi menyusu dini dan I Love You Massage terhadap pencegahan breastfeeding jaundice (0.033). Simpulan: Pemberian kombinasi inisasi menyusu dini dan I Love Massage mampu menurunkan breastfeeding jaundice. Studi ini memberikan kontribusi pencegahan breastfeeding jaundice yang dapat dilakukan oleh ibu segera setelah melahirkan.  Background: Neonatal jaundice is a common problem in neonates that can be prevented and treated, but left untreated can lead to death. Prevention that can be done includes early initiation of breastfeeding and gentle massage. Purpose: This study aims to recommend the effect of a combination of early breastfeeding intervention combined with I Love You Massage on reducing the incidence of breastfeeding jaundice. Methods: Non-randomized controlled trial with posttest only control group as the design of this study. The intervention group (n=22) was given early initiation of breastfeeding and I Love You Massage and the control group (n=22) was given early initiation of breastfeeding for 3-5 days. Data analysis used the chi-square test with a significance level (α) of 0.05. Results: The results showed that breastfeeding jaundice in the intervention group was lower (40.9%) than in the control group (73%). The statistical test found that there was an effect of early initiation of breastfeeding and I Love You Massage on the prevention of breastfeeding jaundice (0.033). Conclusion: The combination of early initiation of breastfeeding and I Love Massage can reduce breastfeeding jaundice. This study contributes to the prevention of breastfeeding jaundice that mothers can do immediately after giving birth. 
Pemberian Propolis terhadap Mempercepat Penyembuhan Luka Perineum pada Ibu Postpartum Gangsar Indah Lestari; Muhamad Ridwan; Firda Fibrila
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 13, No 1 (2020): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkm.v13i1.1961

Abstract

Background: The management of the perineum wound is not good to cause infections that affect the prolonged healing of perineum wounds. Purpose: Research aims to determine the effect of giving propolis on the length of healing of perineum wounds in postpartum mothers. Method: This study used a quasi-experimental design. The subject of the study was the postpartum mother who suffered perineum wounds. Sample cases as much as 39 and control samples as much as 39, the total samples of 79 postpartum mothers. Samples taken in the Non-Random sample in the form of Accidental sampling initiated a sample group of cases then sample control group according to criteria of inclusion and exclusion of research. Data analysis using T-Test (Paired T-Test). Result: Research shows the average degree of wound perineum in mothers group given propolis of 1.82 whereas in mothers who are not given propolis of 1.85. The average length of wound healing of perineum in mothers group given Propolis is 3.38 day while on a mother who is not given propolis of 1.85 and obtained p-value = 0.000 (≤ alpha 0.05). Conclusion: Perineum wound in postpartum mothers given propolis will be healed faster than those who are not given propolis. Midwives while giving care to the mother postpartum with perineum wounds can utilize propolis to accelerate the healing process while observing nutrition, personal hygiene, and consider the economic and ethical aspects.Latar belakang: Penatalaksanaan luka perineum tidak baik menyebakan infeksi yang berpengaruh terhadap lama penyembuhan luka perineum. Tujuan: Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh pemberian propolis terhadap lama penyembuhan luka perineum pada ibu postpartum. Metode: Penelitian menggunakan rancangan quasi eksperimen. Subyek penelitian adalah ibu post partum yang mengalami luka perineum. Sampel kasus sebanyak 39 dan sampel kontrol sebanyak 39, total sampel 79 ibu postpartum. Sampel diambil secara non random sample berupa acidental sampling dimulai sampel kelompok kasus lalu sampel kelompok kontrol sesuai kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Analisis data mengunakan T-test (paired t-test). Hasil: Penelitian menunjukkan rata-rata derajat luka perineum pada kelompok ibu yang diberi propolis sebesar 1,82 sedangkan pada ibu yang tidak diberi propolis sebesar 1,85. Rata-rata lama penyembuhan luka perineum pada kelompok ibu yang diberi propolis adalah 3,38 hari sedangkan pada ibu yang tidak diberi propolis sebesar 1,85 dan didapatkan p value = 0,000 (≤ alpha 0,05). Simpulan: Luka perineum pada ibu postpartum yang diberi propolis akan lebih cepat sembuh dibanding dengan yang tidak diberi propolis. Bidan saat memberikan asuhan pada ibu post partum dengan luka perineum bisa memanfaatkan propolis guna mempercepat proses penyembuhan dengan tetap memperhatikan  nutrisi, personal hygiene dan mempertimbangkan aspek ekonomis dan etika.
PENGARUH MENYUSUI DAN MOBILISASI DINI TERHADAP PERCEPATAN PENURUNAN TINGGI FUNDUS UTERI PADA IBU POST PARTUM DI BIDAN PRAKTEK SWASTA KABUPATEN LAMPUNG UTARA Firda Fibrila; Herlina Herlina
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 4, No 2 (2011): JURNAL KESEHATAN METRO SAI WAWAI
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkm.v4i2.1157

Abstract

Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia diperkirakan sebanyak 60 % akibat kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama yang sebagian basar disebabkan karena perdarahan post partum (Abdul Bari, 2000). Propinsi Lampung, diketahui AKI mencapai 122 kasus pada tahun 2009, dan Kabupaten Lampung Utara pada tahun yang sama AKI sebanyak 13 kasus. Salah satu indikator kesehatan pada masa nifas adalah berjalan lancarnya proses involusi yang ditandai dengan adanya penurunan tinggi fundus uteri pada 2 minggu pertama pasca salin. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya pengaruh mobilisasi dini dan menyusui dini terhadap percepatan penurunan tinggi fundus uteri pada ibu post partum di BPS yang berada di Kabupaten Lampung Utara.Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu post partum yang ditentukan dengan kriteria inklusi, di bagi dalam dua kelompok treatmen dan kelompok kontrol masing-masing sebanyak 30 responden. Tehnik pengambilan sampel yang digunakan adalah Nonprobability Sampling dengan teknik quota. Data yang digunakan adalah data katagorik dan numerik. Analisa dilakukan secara univariat untuk mengetahui nilai central tendency, selanjutnya dilakukan analisa bivariat dengan menggunakan uji Mann - Whitney.Hasil penelitian diperoleh rata-rata penurunan tinggi fundus uteri pada hari ke-7 adalah 6 cm pada kelompok treatment dan 7 cm pada kelompok kontrol. Percepatan penurunan lebih banyak terjadi pada kelompok treatmen yaitu sebanyak 16 responden (53,3 %) dibandingkan dengan kelompok kontrol yaitu 7 responden (23,3 %). Ada pengaruh yang bermakna antara kelompok treatmen dan kelompok kontrol dengan nilai p = 0,001.Untuk mempercepat penurunan tinggi fundus uteri pada ibu post partum disarankan untuk melakukan mobilisasi dini dan menyusui dini secara bersamaan sesuai tahapan segera setelah bersalin.
HUBUNGAN USIA ANAK, JENIS KELAMIN DAN BERAT BADAN LAHIR ANAK DENGAN KEJADIAN ISPA Firda Fibrila
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 8, No 2 (2015): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkm.v8i2.173

Abstract

Prevalensi ISPA di Indonesia sekitar 25% dan di provinsi Lampung sekitar 20%. Sebanyak 23% kasus ISPA berat terjadi pada anak berusia di atas 6 bulan, insidens lebih tinggi pada anak laki-laki dan berat badan lahir yang memiliki peran penting terhadap kematian akibat ISPA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia anak, jenis kelamin dan berat badan lahir dengan kejadian ISPA. Penelitian menggunakan survei analitik dengan rancangan case control. Sampel penelitian berjumlah 48 meliputi: 24 kasus dan 24 kontrol yang diperoleh dengan teknik quota sampling.  Pengumpulan data menggunakan data primer dengan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menyimpulkan terdapat hubungan antara usia anak (p-value = 0,018; OR = 5,320) dan berat badan lahir (p-value = 0,037; OR = 4,491) dengan kejadian ISPA, sedangkan jenis kelamin tidak terdapat hubungan. Petugas kesehatan perlu lebih meningkatkan promosi hidup sehat kepada orang tua untuk mencegah terjadi ISPA pada balita.
HUBUNGAN JENIS KELAMIN BAYI DAN USIA IBU BERSALIN DENGAN KEJADIAN PERSALINAN POSTTERM DI RSUD DEMANG SEPULAU RAYA LAMPUNG TENGAH Firda Fibrila
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 7, No 2 (2014): JURNAL KESEHATAN METRO SAI WAWAI
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkm.v7i2.558

Abstract

Kehamilan posterm atau prolonged pregnancy merupakan kehamilan yang berlangsung sampai 42 minggu atau lebih,  dihitung dari hari pertama haid terakhir. Salah satufaktor penyebab terjadinya kehamilan posttermadalah jenis kelamin janin. Jenis kelamin laki–laki memberikan konrtibusi sebesar 5% lebih banyak dari pada jenis kelamin perempuan terhadap kejadian postterm. Angka pasti kasus postterm ini memang sulit ditentukan. Berdasarkan data di RSUD Demang Sepulau Raya terjadi kecenderungan peningkatan angka ibu bersalin yang mengalami kehamilan postterm setiap tahunnya. Tahun 2012 kejadian ibu bersalin dengan kehamilan postterm 89 orang dari 1,277 ibu bersalin (6,96%), dan tahun 2013 sejumlah 113 orang dari 1179 ibu bersalin (10,77%). Dampak yang tejadi akibat kehamilan postterm adalah menghasilkan bayi besar ( 4000 gr).Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan jenis kelamin janin dan usia ibu dengan kejadian persalinan postterm pada ibu bersalin di RSUD Demang Sepulau Raya Lampung Tengah  Tahun 2013.Metode Penelitian menggunakan survey analitik dan rancangan case control. Persalinan Postterm sebagai variabel dependen serta Jenis kelamin janin  dan usia ibu bersalin sebagai variabel independen. Populasi penelitian ini adalah semua ibu bersalin di RSUD Demang Sepulau Raya Lampung Tengah Tahun 2013 berjumlah 1.179. Berdasarkan perhitungan sampel berjumlah 124 meliputi 62 kelompok kasus dan 62 kelompok kontrol. Teknik pengambilan sampel dengan sistematicrandom sampling.  Data yang digunakan data sekunder, dengan studi dokumentasi,alat ukur checklist. Analisa berupa univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi-square.Hasil penelitian diperoleh distribusi jenis kelamin janin laki - laki sebanyak  58,9% dan usia ibu bersalin berisiko sebanyak 29,77%. Hasil uji statistik hubungan jenis kelamin janin dengan persalinan postterm diperoleh p value = 0,004 (p α (0,05) dengan OR=3,21 dan hubungan usia ibu bersalin dengan persalinan postterm diperoleh p value = 0,002 (p α (0,05)dengan OR=3,81.Simpulan penelitian ada hubungan antara jenis kelamin janin dan usia ibu bersalin dengan persalinan postterm. Peneliti berharap Bidan mewaspadai terhadap usia kehamilan ibu pada kehamilan dengan jenis kelamin laki – laki dan usia berisiko. Pengawasan secera intensif saat ibu hamil perlu dilakukan dalam pendeteksian terjadinya resiko persalinan postterm.
PERBEDAAN TEKNIK KOMPRES HANGAT DAN TEKNIK MASASE UNTUK MENGURANGI NYERI PERSALINAN KALA I DI BPS NINING HARYUNI DAN BPS NURHASANAH DI BANDAR LAMPUNG TAHUN 2011 Dessy Rosalinda; Firda Fibrila; Sumiyati Sumiyati
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 4, No 1 (2011): JURNAL KESEHATAN METRO SAI WAWAI
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkm.v4i1.704

Abstract

Abstrak. Nyeri persalinan merupakan masalah yang dapat mempengaruhi mekanisme fisiologis tubuh yang menyebabkan terjadinya peningkatan kadar katekolamin sehingga terjadinya penurunan kontraksi dan terjadi distosia persalinan yang merupakan indikasi paling umum terjadinya persalinan secara sectio caesaria. Beberapa penelitian menunjukkan bahwasebagian besar atau sekitar 90% persalinan disertai dengan adanya rasa nyeri, namun pada lokasi penelitian belum terdapat data tentang nyeri persalinan. Keterampilan yang dapat digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik kompres hangat dan masase untuk mengurangi nyeri persalinan kala I. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan teknik kompres hangat dan teknik masase untuk mengurangi nyeri persalinan kala I. Subjek penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin yang memasuki kala I fase aktif. Objek penelitian ini adalah nyeri persalinan pada persalinan kala I. Rancangan penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin yang memasuki kala I di BPS Nining Haryuni dan BPS Nurhasanah di Bandar Lampung. Besar sampel yang digunakan yaitu 60 responden dengan teknik accidental sampling dan pengumpulan data menggunakan checklist sebagai alat ukur. Variabel Independen dalam penelitian ini adalah teknik kompres hangat dan teknik masase. Variabel Dependen dalam penelitian ini adalah Nyeri Persalinan. Data diolah secara manual dengan analisis univariat dan bivariat menggunakan t-test dengan derajat kesalahan 0,05 %. Hasil penelitian didapat proporsi penurunan nyeri pada teknik kompres hangat yaitu 27 pasien (90%) dan proporsi penurunan nyeri pada teknik masase yaitu 24 pasien (80%). Hasil uji statistik mengetahui perbedaan teknik kompres hangat dan teknik masase dalam mengurangi nyeri persalinan kala I didapat t-hitung t-tabel yaitu 3,052,00. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah ada perbedaan teknik kompres hangat dan teknik masase untuk mengurangi nyeri persalinan kala I di BPS Nining Haryuni dan BPS Nurhasanah di Bandar Lampung. Di harapkan bidan dapat menggunakan teknik kompres hangat atau masase untuk mengurangi nyeri persalinan kala I.
KUALITAS PERTUMBUHAN PADA MASA BAYI TERHADAP PENCAPAIAN PERKEMBANGAN PADA ANAK PRA SEKOLAH Firda Fibrila
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 9, No 2 (2016): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkm.v9i2.1749

Abstract

Golden age is important time to caring of children growth and development carefully so abnormality can be detected earlier. Abnormality that often happen in growth and development period is nutrition status problem as indicator of development. The most dangerous growth failure happen in 6-18 month years old. This study purpose is to know growth quality in baby period to development achievement in pre-school children period.  This study plan is descriptive and explorative. Sample of this study are mother and 3-5 years old children that have no special needs and registered as student in pertiwi 7 ECD Batanghari east lampung in mei-july 2015 that total 33 students. Data are get use weight and height measurement, interview with mom and child, documentation study and observation. Instrument of this study are checklist, interview guide and KPSP questionnaire. Data is process use univariate. Study result is known proportion quality of baby period growth largely in not good group that is 67,7%, development growth in pre-school children period largely in suitable development group that is 67,7%, respondent proportion with good growth quality with suitable development achievement is 90%. Suggested to teachers to can applied KPSP in ECD so the result can be consideration object to give stimulation to ECD children in study process to increase students motor. 
HUBUNGAN USIA MELAHIRKAN TERAKHIR, RIWAYAT PEMAKAIAN KONTRASEPSI, MENARCHE DAN BUDAYA DENGAN MENOPOUSE DI KEL. MULYOSARI KEC. METRO BARAT Firda Fibrila; M. Ridwan
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 7, No 1 (2014): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkm.v7i1.545

Abstract

Faktor  yang mempengaruhi menopouse antara lain adalah: usia haid pertama kali, jumlah anak, usia melahirkan, faktor psikis, wanita dengan histerektomi, pemakaian kontrasepsi, merokok, sosial ekonomi, budaya dan lingkungan. Efek yang  terjadi     pada   menopouse dini bagi  kesehatan yaitu meningkatnya risiko osteoporosis dan penyakit jantung. Hasil studi pendahuluan di Kel. Mulyosari Kec. Metro Barat dari 10 ibu usia 40-60 tahun didapatkan 60% (6) ibu telah mengalami menopause, 60% (4) ibu usia melahirkan terakhir 40 tahun dan 50% (3) ibu mempunyai riwayat pemakaian kontrasepsi hormonal. Tujuan penelitian mengetahui hubungan usia melahirkan terakhir, riwayat pemakaian kontrasepsi, menarche dan budaya dengan menopause. Jenis penelitian analitik kuntitatif dengan rancangan cross sectional. Populasi adalah seluruh ibu berusia 40-60 tahun dengan besar sampel berjumlah 172. Tehknik pengambilan sampel dengan systetmatic random sampling. Analisis  secara univariat dan bivariat menggunakan analisa chi square. Hasil penelitian diperoleh sebesar 52,3%, ibu yang sudah menopause, melahirkan terakhir pada usia beresiko ( 40 tahun), mempunyai riwayat pemakaian kontrasepsi hormonal sebesar 84,3%, mengalami menarche pada usia 12 tahun sebanyak (61,6%) dan ibu yang memiliki budaya mendukung sebesar 8,7%. Hasil uji statistik hubungan usia melahirkan terakhir dengan menopause diperoleh p value=0,008, hubungan riwayat pemakaian kontrasepsi hormonal dengan menopouse diperoleh p value =0,024 dan hubungan menarche dengan menopouse diperoleh p value=0.012 dan hubungan budaya dengan menopouse diperoleh p value=0,725.  Kesimpulan terdapat hubungan usia melahirkan terakhir, riwayat pemakaian kontrasepsi, menarche dengan menopouse dan tidak ada hubungan budaya dengan menopause. Perlu ditingkatkan program pembinaan lansia disertai penyuluhan pola konsumsi makanan sehat terutama konsumsi makanan sumber antioksidan dan makanan sumber fitoestrogen dalam menunda terjadinya menopouse. Olah raga yang teratur sehingga tubuh lansia tetap bugar
Sosialisasi abdominal stretching sebagai upaya menurunkan nyeri dismenorea pada remaja putri Fibrila, Firda; Herlina, Herlina; Ridwan, M.
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Humanity and Medicine Vol 5 No 1 (2024): Jurnal Pengabdian Masyarakat: Humanity and Medicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/Hummed.V5I1.131

Abstract

Problems surrounding menstruation, especially menstrual pain, are often discussed by women, especially young women. Menstrual pain or known as dysmenorrhea can occur in some women caused by hormonal, uterine contractions and inflammation. In adolescents, dysmenorrhea that occurs is more due to unstable hormones and causes discomfort. One of the non-pharmacological efforts to overcome this condition is by doing abdominal stretching. The socialization carried out in this service activity aims to increase the understanding and mastery of adolescents in overcoming dysmenorrhea by doing abdominal stretching. Based on the initial anamnesis on 20 adolescent girls, it was found that 1 adolescent experienced severe dysmenorrhea, 4 adolescents experienced moderate dysmenorrhea, and the others only complained of mild discomfort during menstruation. From the results of evaluating teenagers' understanding of efforts to reduce dysmenorrhea, there was an increase of 33.55 points based on the average value. Through this socialization, it is expected to empower adolescents to make preventive efforts to overcome dysmenorrhea as a characteristic of community independence.