Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Peningkatan Kapasitas Kader dalam Pencatatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak Suryantara, Bima; Agustiani, Mia Dwi; Dewi, Novita Puspa; Fibrila, Firda; Dwihestie, Luluk; Mariana Mangoto, Sela; Widyasari, Kiki; Yuniarti, Yuyun; Arianti, Dewi; Zayani, Zayani; Anggarsih, Rumiati; Lorenza, Gracelia; Meyrent, Wita; Seyudhianti, Tira; Samosir, Rut Desmayanti
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/pvkeke31

Abstract

Peningkatan kapasitas kader dalam pencatatan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) merupakan langkah strategis untuk memperkuat sistem informasi kesehatan di tingkat komunitas. Buku KIA berperan penting sebagai alat pencatatan kesehatan ibu dan anak yang terintegrasi, namun keberhasilan penggunaannya sangat bergantung pada kompetensi kader. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah meningkatkan kapasitas kader dalam aspek pencatatan buku KIA. Metode yang diterapkan dalam kegiatan ini berupa refreshing tentang pencatatan buku KIA, simulasi dan pendampingan kader di Dusun Kepuh Desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Hasil kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader tentang pencatatan buku KIA di nilai dari perolehan nilai mean pretest sebesar 48 poin menjadi 90 poin pada posttest. Selain itu sebanyak 88% kader mampu mengisi pencatatan di Buku KIA dengan benar. Dari kegiatan ini, dihasilkan sebuah e-book yang dapat dijadikan petunjuk bagi kader dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Kesimpulan dari kegiatan ini yaitu, refreshing dan pendampingan secara berkelanjutan memberikan manfaat efektif untuk meningkatkan kapasitas kader. Kegiatan ini merekomendasikan untuk memanfaatkan e-book dalam mendukung tercapainya efisiensi dan peningkatan pencatatan di masa depan.
The Effect Of Warm Water Foot Soak On Back Pain In Third Trimester Pregnant Women Rizky, Denada Novia; Fibrila, Firda -; Ridwan, M -
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 9, No 4 (2023): Volume 9 No. 4 Oktober 2023
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v9i4.12438

Abstract

Latar Belakang: Rasa nyeri pada bagian punggung atau low back pain dialami oleh 20%-25% ibu hamil. Keluhan ini dimulai pada usia 12 minggu dan akan meningkat pada saat usia kehamilan 24 minggu hingga menjelang persalinan di akibatkan pembesaran uterus sehingga beban tarukan tulang punggung ke arah depan akan bertambah dan menyebabkan lordosis fisiologis. Dampakya pada ibu akan mengalami gangguan tidur, keletihan serta ketidaknyamanan dalam melakukan aktivitas sehari-hari akan membuat janin menjadi fetal distress. Terapi rendam kaki air hangat salah satu upaya untuk mengurangi nyeri punggung.Tujuan: untuk mengetahui pengaruh terapi rendam kaki air hangat terhadap nyeri punggung pada ibu hamil trimester III.Metode: penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain Pra Eksperiment dengan rancangan one group pretest posttest design. Populasi semua ibu hamil trimester III dengan jumlah sampel berdasar perhitungan besar sampel diperoleh sebanyak 34 responden menggunakan teknik pengambilan sampel Quota sampling. Pengukuran nyeri punggung menggunakan NRS (Numeric Rating Scale) dengan tingkat nyeri skala 0-10. Pengukuran nyeri dilakukan sebelum dan sesudah pemberian intervensi. Perendaman kaki dengan air hangat dilakukan sebanyak 2,5 L atau lebih dari 15 cm dengan suhu air 37-39◦C yang diukur menggunakan termometer air dalam waktu 15 menit selama 7x pemberian. Analisis menggunakan univariat dan bivariat dengan uji wilcoxon.Hasil: didapatkan rata-rata intensitas nyeri punggung sebelum dilakukan intervensi adalah 5,06 sedangkan rata-rata intensitas nyeri punggung sesudah dilakukan intervensi adalah 0,35. Hasil uji wilcoxon didapatkan nilai p value = 0,000 (≤0,05).Simpulan: terapi rendam kaki air hangat berpengaruh dalam penurunan nyeri punggung pada ibu hamil trimester III. Selain praktis dan mudah dilaksanakan oleh ibu hamil sendiriSaran: terapi rendam kaki dengan air hangat dapat dijadikan salah satu alternatif dalam penanganan nyeri punggung pada ibu hamil. Kata kunci: Nyeri punggung, Rendam Air Hangat ABSTRACT Background: Back pain or low back pain is experienced by 20%-25% of pregnant women. This complaint begins at the age of 12 weeks and will increase at 24 weeks gestation until before delivery due to enlargement of the uterus so that the burden of the spine to the front will increase and cause physiological lordosis. The impact on the mother will experience sleep disorders, fatigue and discomfort in carrying out daily activities will make the fetus become fetal distress. Warm water foot soak therapy is one of the efforts to reduce back pain. Objective: to determine the effect of warm water foot soak therapy on back pain in III trimester pregnant women.Methods: This research is a quantitative research using Pre-Experimental design with one group pretest posttest design. The population of all III trimester pregnant women with the number of samples based on the calculation of sample size was obtained as many as 34 respondents using the Quota sampling technique. The analysis used univariate and bivariate with the Wilcoxon test.Results: It was found that the average intensity of back pain before the intervention was 5.06 while the average intensity of back pain after the intervention was 0.35. Wilcoxon test results obtained p value = 0.000 (≤0.05), meaning that there is an effect of warm water foot soak therapy on reducing back pain in III trimester pregnant women.Conclusion:  Warm water foot soak therapy has an effect in reducing back pain in III trimester pregnant women. Besides being practical and easy to implement by pregnant women themselvesSuggestions: foot soak therapy with warm water can be used as an alternative in the treatment of back pain in pregnant women. Kata kunci: Back pain, warm water soak
The Relationship between Knowledge Factors, Reproductive Health Conditions and Age on Readiness to Have a Family in Young Women Fibrila, Firda -; Ridwan, M. -; Herlina, Herlina -
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 8, No 4: Desember 2023
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30604/jika.v8i4.2436

Abstract

In Indonesia, marriages between children under the age of 16 are around 1.8% and the percentage of marriages between children under 15 years is 0.6%. In Lampung Province, based on records at the Bandar Lampung High Religious Court (PTA), cases of early marriage in 2020 were relatively similar to those in 2021, where there were 240 cases as of May 2021. Meanwhile in Metro City, 15 cases were recorded, which is ranked 2nd in number. all cases in all districts/cities in Lampung Province. Adjustments to roles and duties for partners, especially at the beginning of marriage, certainly have the potential to cause problems and conflicts for couples. Lack of self-readiness to carry out new tasks which leads to divorce is one of the causes of difficulty in carrying out new tasks. In 2022, there were 17,043 divorce cases recorded in Lampung, an increase from 16,110 divorces in 2021, meaning that during 2022 there will be an increase of 933 cases compared to 2021. The aim of this research is to determine the relationship between knowledge, age and reproductive health conditions on readiness to have a family among young women in Metro City. The research design was cross sectional and used a sample of 163 people with an age range of 15-24 years. Sampling was taken using Simple Random Sampling using the incidental sampling technique. Data are presented with frequency tables and cross tables then analyzed using the Chi Square test. The results of the study showed that 56.5% of adolescent girls had less knowledge about family readiness, 39% of adolescent girls had reproductive health problems, 83.1% of adolescents in the reproductive age group were at risk and 51.5% of adolescent girls stated that they were not ready to have a family. . The results of the correlation analysis show that there is a relationship between adolescent girls' knowledge and family readiness with p-value = 0.042 (? alpha), there is a relationship between adolescent reproductive health conditions and family readiness with p-value = 0.000 (? alpha) and there is a relationship between adolescent age and readiness married with p-value = 0.000 (? alpha). It is necessary to form youth classes as an information and education communication (KIE) effort and a screening effort for prospective brides and grooms, especially young women.
Action on health screening and education to disseminate and improve the health status of the elderly Widiyanti, Septi; Fibrila, Firda; Herlina, Herlina; Ridwan, M; Lestari, Gangsar Indah; Puspitaningrum, Elisa Murti
Indonesian Journal of Community Services Cel Vol. 3 No. 1 (2024): Indonesian Journal of Community Services Cel
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70110/ijcsc.v3i1.57

Abstract

Indonesia has an alarming trend where from year to year the prevalence of degenerative diseases continues to increase, especially in the elderly. This condition is further exacerbated by the number of elderly people in Indonesia reaching 10.48% in proportion to 1 elderly person supported by the productive age population. In addition, there are still many elderly people who are vulnerable due to a lack of preparation both financially and non-financially. The implementation of this health screening action aims to stimulate the growth of disease prevention behavior in old age through education and disease screening activities. The methods used are counseling and health checks. As a result of this activity, 24 elderly people voluntarily participated in health screening. The health condition of the elderly in neighborhood V of Margodadi Village, South Metro District was identified. As many as 95.8% of the elderly are in an unhealthy condition. At least they have 1 problematic health indicator including BMI status, blood pressure, temporary blood glucose value, and uric acid. With details: hypertension 75% (18 elderly), high uric acid levels, 41.6% (10 elderly), and there is 1 elderly who has a malnutrition status based on BMI. It is important to provide assistance, especially for the elderly who are malnourished, to pay attention to food consumption that meets balanced nutritional standards. If possible, provide additional food such as mung bean porridge or other types and do physical activity to increase the metabolism of the elderly body which can support to improve the quality of life.
PENJARINGAN KASUS ANEMIA DAN DEFICIENCI ENERGI KRONIK SERTA PENGETAHUAN REMAJA PUTRI Fibrila, Firda; Ridwan, M.
AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 08 (2022): AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : CV. Multi Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurang Energi Kronis (KEK) merupakan salah satu masalah yang banyak ditemui pada kelompok wanita usia subur (WUS) dan ibu hamil. KEK adalah keadaan dimana seseorang mengalami kekurangan kebutuhan energi yang berlangsung terus menerus. Di Indonesia secara nasional prevalensi KEK pada remaja putri (usia 15 – 19 tahun) cenderung meningkat dari tahun 2018 sebesar 33,5 % dan di tahun 2020 sebesar 36,3 %. Prevalensi KEK pada wanita tidak hamil usia 15 – 19 tahun di Provinsi Lampung tahun 2018 sebesar 13,62 menurun sebesar 12,77 % tahun 2019, sedangkan kejadian KEK pada remaja di Kota Metro sebesar 14,45% pada tahun 2018. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini untuk mengetahui status kesehatan reproduksi pada remaja putri khususnya penjaringan kasus KEK dan anemia di SMK Muhammadiyah 3 Kota Metro sebanyak 240 orang yang nantinya dapat dijadikan masukan dalam pengambilan kebijakan program di Puskesmas dan di sekolah tersebut.
Peningkatan Kesehatan Remaja Putri melalui Penapisan dan Pendampingan Kesehatan Reproduksi Remaja di Pondok Pesantren Darul Muttaqin Al Islami Metro Fibrila, Firda; Widiyanti, Septi; Lestari, Gangsar Indah; Ridwan, M
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 12 (2024): Volume 7 No 12 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i12.17565

Abstract

ABSTRAK Kelompok remaja dianggap selalu dalam kondisi sehat, kenyataannya banyak permasalahan kesehatan yang dialami oleh remaja. Terdapat 4 masalah kesehatan remaja Indonesia yaitu 48,9% anemia, 21,6% stunting, 36,3% kekurangan energi kronik (KEK), obesitas usia > 18 tahun dengan IMT≥25 sebesar 13,5% dan dengan IMT≥27 sebanyak 15,4%. Hal ini jelas memberikan dampak buruk dalam mencetak kualitas generasi di masa datang. Meningkatnya pengetahuan dan Memberdayakan remaja dalam meningkatkan status kesehatan reproduksi  dan gizi seimbang melalui penapisan di kelas reproduksi remaja. Pembentukan tim konselor teman sebaya kesehatan reproduksi remaja yang diikuti oleh 14 orang remaja putri. Edukasi tentang pentingnya kesehatan reproduksi dan status gizi remaja yang ditunjukkan adanya peningkatan pengetahuan sebelum dengan nilai rerata 8,16 poin dan menjadi 70 poin setelah edukasi. Pelatihan tim konselor teman sebaya kesehatan reproduksi remaja yang  ditunjukkan adanya peningkatan keterampilan remaja putri sebelum dengan nilai rata-rata 4,46 menjadi 7,86 setelah pelatihan.  Melakukan skrining kesehatan peserta oleh tim pengabmas meliputi pengukuran TB, BB, IMT, LILA dan TD, lalu melakukan evaluasi kegiatan pengabmas. Terbentuknya tim konselor sebaya, adanya peningkatan pemahaman remaja tentang pentingnya kesehatan reproduksi dan status gizi, dteridentifikasi status kesehatan remaja serta adanya berpartisipasi aktif santriwati dalam semua kegiatan pengabdmas, dan semua santriwati memiliki raport kesehatanku. Kata Kunci: Peningkatan dan Pelatihan, Remaja Putri, Kesehatan Reproduksi  ABSTRACT Teenage groups are considered to always be in good health, but in reality teenagers experience many health problems. There are 4 health problems among Indonesian teenagers, namely 48.9% anemia, 21.6% stunting, 36.3% chronic energy deficiency (KEK), obesity aged > 18 years with a BMI≥25 by 13.5% and by a BMI≥27 by 13.5% 15.4%. This clearly has a negative impact on the quality of future generations. Increase knowledge and empower teenagers in improving their reproductive health status and balanced nutrition through screening in adolescent reproduction classes. Formation of a team of adolescent reproductive health peer counselors which was attended by 14 young women. Education about the importance of reproductive health and nutritional status of adolescents showed an increase in knowledge beforehand with an average score of 8.16 points and 70 points after education. The peer counselor team training on adolescent reproductive health showed an increase in the skills of adolescent girls before with an average score of 4.46 to 7.86 after the training.  Carrying out health screening of participants by the community service team includes measuring TB, BB, BMI, LILA and BP, then evaluating community service activities. The formation of a team of peer counselors, increased understanding of adolescents about the importance of reproductive health and nutritional status, identification of adolescent health status and active participation of female students in all community service activities, and all female students have health reports. Keywords: Improvement and Training, Young Women, Reproductive Health
Edukasi Tentang Pentingnya Imunisasi Pada Bayi Di Wilayah Puskesmas Seputih Banyak Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah Muspitaningrum, Elisa Murti; Fibrila, Firda; Triwijayanti, Yoga; Martini, Martini
RENATA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Kita Semua Vol. 3 No. 3 (2025): Renata - Desember 2025
Publisher : PT Berkah Tematik Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61124/1.renata.216

Abstract

Imunisasi adalah suatu proses yang bertujuan untuk mengembangkan kekebalan tubuh terhadap serangan mikroorganisme seperti bakteri dan virus yang bisa menyebabkan infeksi. Program imunisasi merupakan langkah untuk mencegah penyakit menular dengan cara memberikan vaksin pada seseorang sehingga tubuhnya resisten terhadap penyakit tertentu. Tujuan pemberian imunisasi adalah membentuk kekebalan tubuh agar tidak mudah terinfeksi virus penyebab penyakit. Pemberian imunisasi pada bayi menjadi hal yang penting, sebab tubuh bayi memiliki tingkat imunitas yang rendah sehingga harus segera mendapatkan perlindungan dari infeksi penyakit menular. Imunisasi menjadi salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif di dunia, karena dapat mencegah 2 hingga 3 juta kematian anak setiap tahunnya. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 132 menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh imunisasi dasar sesuai dengan ketentuan untuk mencegah terjadinya penyakit yang dapat dihindari melalui imunisasi. Program pemerintah memfasilitasi pelayanan imunisasi yang diberikan secara rutin pada bayi dan anak meliputi imunisasi dasar dan imunisasi lanjutan. Oleh karena itu berdasarkan kasus tersebut akan dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh Dosen Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang dengan tema Edukasi tentang Pentingnya Imunisasi Pada Bayi di Wilayah Puskesmas Seputih Banyak, Kecamatan Seputih banyak, Kabupaten Lampung Tengah. Kegiatan pengabdian ini dilakukan dengan metode edukasi dan pre-posttest menggunakam kuesioner. Hasil edukasi terdapat peningkatan pengetahuan ibu balita. Kesimpulan pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat kepada ibu bayi bahwa terjadi peningkatan pengetahuan ibu balita tentang pentingnya imunisasi di wilayah Puskesmas Seputih Banyak dengan perbedaan mean sebesar 56,25%
Edukasi Dan Pelatihan Pijat Tuina Untuk Meningkatkan Nafsu Makan Pada Balita Dengan Berat Badan Kurang Ridwan, M; Herlina, Herlina; Fibrila, Firda
Jurnal Perak Malahayati: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 November 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpmpkm.v7i2.23245

Abstract

Pendahuluan: Balita dengan berat badan kurang merupakan kondisi di mana berat badan anak berada di bawah standar usia yang seharusnya, akibat dari ketidakseimbangan antara asupan gizi dan kebutuhan tubuh. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kurangnya asupan makanan bergizi, penyakit infeksi yang berulang, serta rendahnya nafsu makan pada anak. Tujuan : kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan pelatihan pijat tuina untuk meningkatkan nafsu makan pada ibu yang memiliki balita dengan berat badan kurang. Metode: Kegiatan dilaksanakan dengan cara ceramah, diskusi dan pelatihan teknik pijat tuina yang diikuti oleh 25 ibu yang memiliki balita dengan berat badan kurang. Evaluasi dinilai berdasarkan hasil pretest dan posttest yang dilaksanakan sebelum dan setelah kegiatan edukasi dan pelatihan. Indikator keberhasilan peserta ditunjukkan dengan adanya peningkatan pengetahuan dan trampilnya ibu balita dalam memperagakan pijat tuina. Manfaat: kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu yang memiliki balita tentang teknik pijat tuina untuk meningkatkan nafsu makan pada balita dengan berat badan kurang. Hasil: Diperoleh nilai rata–rata pretest sebesar 6,16 dan nilai rata–rata posttest sebesar 6,72. Kesimpulan: meningkatnya pengetahuan ibu tentang pijat tuina sebesar 0,56. Diharapkan ibu secara rutin dapat menarapkan pijat tuina sebagai alternatif meningkatkan nafsu makan pada balita terutama dengan berat badan kurang.Introduction: Underweight toddlers is a condition where the child's weight is below the age standard, as a result of an imbalance between nutritional intake and body needs. This condition can be caused by a lack of nutritious food intake, repeated infectious diseases, and low appetite in children. Objective: This activity aims to provide education and training on tuina massage to increase appetite in mothers who have underweight toddlers. Objective: This activity aims to provide education and training on tuina massage to increase appetite in mothers who have underweight toddlers. Methods: The activity was carried out by means of lectures, discussions and training in tuina massage techniques which were attended by 25 mothers who had underweight toddlers. Evaluation is assessed based on the results of the pretest and posttest carried out before and after education and training activities. Indicators of participant success were shown by an increase in the knowledge and skills of mothers of toddlers in demonstrating tuina massage. Benefits: This activity is expected to increase the knowledge and skills of mothers with toddlers regarding tuina massage techniques to increase appetite in underweight toddlers. Results: The average pretest value was 6.16 and the average posttest value was 6.72. Conclusion: increased maternal knowledge about tuina massage by 0.56. It is hoped that mothers can routinely apply tuina massage as an alternative to increase appetite in toddlers, especially those with underweight.
Analysis Of Factors Relating To Breast Self Examination Behavior In Adolescent Women In Metro Cities Ridwan, M; Fibrila, Firda; Herlina, Herlina
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 12, No 2 (2026): Volume 12 No 2 Februari 2026
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v12i2.24979

Abstract

 Latar Belakang: Kanker payudara merupakan penyakit dimana sel-sel abnormal pada payudara tumbuh di luar kendali dan membentuk tumor dimulai di dalam lobulus penghasil susu di payudara. Kasus kanker payudara masih cukup besar tercatat pada tahun 2023 diduia sebesar  2,3 wanita terdiagnose kanker payudara.. Di Provinsi lampung ditahun yang sama sebesar 278 kasus dan di Kota Metro berdasarkan data Sadasin di Puskesmas Tejoagung terdapat 718 (44,3%) terdeteksi tomor/benjolah di payudara pada remaja putri. Salah satu upaya deteksi yang murah dan mudah dapat dilakukan remaja putri dengan melakukan Periksa Payudara Sendidi (SADARI).Tujuan: untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan perilaku SADARI pada remaja putri di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Tejoagung Metro Timur.Metode: penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain Cross Sectional. Populasi penelitian adalah semua remaja putri di berusia 15-19 tahun di Wilayah kerja UPTD Puskesmas Tejoagung berjumlah 1028 remaja putri. Berdasar perhitungan besar sampel diperoleh jumlah sampel sebanyak 97 responden menggunakan teknik pengambilan sampel purposive random sampling. Analisis menggunakan univariat dan bivariat dengan uji Chi Square.. Hasil: dari 97 responden sebanyak 28,9% tidak melakukan perilaku sadari, 27,8% usia menarhce 12 tahun, 44,3% mengalami obesitas, 45,4% memiliki pengetahuan kurang tentang sadari, 28,9% memiliki sikap tidak mendukung perilaku sadari, 59,9% tidak mendapatkan dukungan keluarga, 42,3% teman sebaya memiliki pengaruh negatif terhadap perilaku sadari, 26,8%  tidak mendapat dukungan tenaga kesehatan, dan 46,2% akses internet/media sosial memiliki pengaruh negatif terhadap perilaku sadari. Hasil analisis uji statistik hubungan usia menarche dengan perilaku sadari diperoleh p value = 0,064, hubungan obesitas dengan perilaku sadari diperoleh p value = 0,022, hubungan pengetahuan dengan perilaku sadari diperoleh p value = 0,009, hubungan sikap dengan perilaku sadari diperoleh p value = 0,029, hubungan dukungan keluarga dengan perilaku sadari diperoleh p value = 0,030, hubungan pengaruh teman sebaya dengan perilaku sadari diperoleh p value = 0,010,.hubungan dukungan tenaga kesehatan dengan perilaku sadari diperoleh p value = 0,043 dan hubungan pengaruh akses internet dengan perilaku sadari diperoleh p value = 0,043.Simpulan: Terdapat hubungan antara obesitas, pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, dukungan teman sebaya, dan dukungan tenaga kesehatan. Sedangkan variabel usia menarhe dan pengaruh internet/media sosial tidak ada hubungan dengan Perilaku Sadari. Upaya edukasi secara kontineu dengan pendampingan oleh guru dan orang tua terhadap perilaku sehat. Pembinaan kesehatan remaja perlu terus dilakukan oleh tenaga kesehatan termasuk pemeriksaan sadari pada remaja putri secara terus menerus. Kata kunci: Faktor, Perilaku Sadari, Remaja Putri ABSTRACT Background: Breast cancer is a disease where abnormal cells in the breast grow out of control and form tumors starting in the milk-producing lobules of the breast. Breast cancer cases are still quite large, recorded in 2023 in the world, 2.3 women were diagnosed with breast cancer. In Lampung Province in the same year there were 278 cases and in Metro City, based on Sadasin data at the Tejoagung Community Health Center, there were 718 (44.3%) detected tumors/lumps in the breasts in young women. One of the cheap and easy detection efforts can be done by young women by doing a Joint Breast Examination (BSE).Methods: to analyze factors related to BSE behavior in adolescent girls in the UPTD Working Area of the Tejoagung Metro East Health Center.Results: Of the 97 respondents, 28.9% did not carry out conscious behavior, 27.8% were 12 years of age at menarche, 44.3% were obese, 45.4% had less knowledge about conscious behavior, 28.9% had an attitude that did not support conscious behavior, 59.9% did not get family support, 42.3% peers had a negative influence on conscious behavior, 26.8% did not receive support from health workers, and 46.2% had access to the internet/social media. has a negative influence on conscious behavior. The results of the statistical test analysis of the relationship between menarche age and conscious behavior obtained p value = 0.064, the relationship between obesity and conscious behavior obtained p value = 0.022, the relationship between knowledge and conscious behavior obtained p value = 0.009, the relationship between attitude and conscious behavior obtained p value = 0.029, the relationship between family support and conscious behavior obtained p value = 0.030, the relationship between peer influence and conscious behavior obtained p value = 0.010, the relationship between support from health workers and conscious behavior obtained p value = 0.043 and the relationship between the influence of internet access and conscious behavior obtained p value = 0.043.Conclusion: The research results show that there is a relationship between obesity, knowledge about conscious behavior, attitudes towards conscious behavior, family support, peer support, and support from health workers. Meanwhile, the variables menstrual age and the influence of the internet/social media have no relationship with Awareness Behavior. Continuous educational efforts regarding healthy behavior and assistance by teachers and parents. Adolescent health development needs to continue to be carried out by health workers, including continuous self-examination of female adolescents. Kata kunci: Factors, Conscious Behavior, Young Women 
Edukasi dan Pelatihan Teknik Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) pada Remaja Putri di SMAN 4 Kota Metro Ridwan, M.; Fibrila, Firda; Herlina, Herlina; Widiyanti, Septi
Jurnal Pustaka Mitra (Pusat Akses Kajian Mengabdi Terhadap Masyarakat) Vol 6 No 2 (2026): Jurnal Pustaka Mitra (Pusat Akses Kajian Mengabdi Terhadap Masyarakat)
Publisher : Pustaka Galeri Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55382/jurnalpustakamitra.v6i2.1774

Abstract

Kanker payudara merupakan penyakit dimana sel-sel abnormal pada payudara tumbuh di luar kendali dan membentuk tumor dimulai di dalam lobulus penghasil susu di payudara. Berdasarkan data Kemenkes 2024, kasus baru kanker payudara di Indonesia mencapai 20 juta kasus dengan angka kematian 9,7 juta kasus. Penyebabnya karena rendahnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini. Salah satu upaya deteksi dini untuk menurunkan kejadian kanker payudara yang paling murah dan praktis terutama bagi remaja putri dengan melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Sasaran kegiatan adalah remaja putri di SMAN 4 Kota Metro berjumlah 97 otang. Edukasi diberikan dalam bentuk ceramah, diskusi dan tanya jawab, serta dilakukan pelatihan teknik pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dengan mendemonstrasikan menggunakan panthom. Selanjutnya dilakukan pendampingan dimana peserta dibagi 7 kelompok sehingga tiap kelompok terdiri dari 13-14 orang. Setiap kelompok peserta memperagakan teknik SADARI yang didampinggi oleh 7 orang fasilitator tim pengabmas yaitu dosen dan mahasiswa Diploma III Kebidanan Metro. Fasilitator menggunakan daftar tilik dalam melakukan pendampingan pada peserta sehingga diperoleh gambaran nyata pengetahuan dan keterampilan peserta dalam melakukan tiknik SADARI. Hasil edukasi dan pelatihan teknik SADARI diperoleh nilai rata–rata pretest sebesar 5,88 dan nilai rata-rata posttest sebesar 8,19. Hasil ini diperoleh adanya perbedaan nilai rata-rata antara sebelum dan sesudah diberikan edukasi dan pelatihan SADARI sebesar 2,31. Dapat disimpulkan bahwa edukasi dan pelatihan teknik SADARI  dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja putri dalam deteksi dini untuk mencegah kanker payudara secara mandiri.