Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Manajemen Konflik Sebagai Indikator Efektivitas Penguatan Diri: Perbedaan Antara Pola Pikir dalam Mengelola Emosional Antara Gen z dan Gen Milenial dalam Perspektif SDGs Nurlianti, Afifah Fatmala; Meisyacharis, Vella Elfanny; Fitriani, Albaitul Khoiridah; Hendrawan, Hieronimus Febian Jona; Fitrie, Revienda Anita; Hadianto, Nuh Krama
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8268

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya konflik interpersonal di era digital yang dipicu oleh tingginya intensitas interaksi daring serta adanya perbedaan pola pengelolaan emosi antar generasi, khususnya Generasi Z dan Milenial. Perkembangan teknologi komunikasi yang pesat turut memperluas ruang interaksi sosial, namun di sisi lain juga meningkatkan potensi kesalahpahaman dan konflik akibat keterbatasan ekspresi emosional dalam komunikasi digital. Permasalahan utama dalam penelitian ini terletak pada belum optimalnya pemahaman mengenai bagaimana kedua generasi tersebut mengelola konflik dan emosi dalam konteks sosial yang semakin kompleks dan dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran manajemen konflik dan kecerdasan emosional sebagai indikator penguatan diri, serta mengkaji perbedaan strategi yang digunakan oleh Generasi Z dan Milenial dalam perspektif Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya yang berkaitan dengan kesejahteraan mental dan pembangunan masyarakat yang inklusif. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi, melalui teknik wawancara mendalam terhadap enam informan yang dipilih secara purposif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z cenderung menggunakan strategi menghindar serta regulasi emosi berbasis refleksi diri dalam menghadapi konflik. Sementara itu, Generasi Milenial lebih mengedepankan pendekatan kolaboratif dan komunikasi terbuka untuk menyelesaikan permasalahan interpersonal. Temuan ini menegaskan bahwa kemampuan dalam mengelola konflik dan emosi memiliki kontribusi signifikan terhadap kesehatan mental individu, peningkatan kohesi sosial, serta mendukung terciptanya masyarakat yang inklusif, harmonis, dan berkelanjutan sesuai dengan tujuan pembangunan global.
ANALISIS PENERIMAAN PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) BATAM Rahmawati, Mila; Nadeak, Bunga Fryscilla Fedora; Fitrie, Revienda Anita; Fanida, Eva Hany
SULTAN ADAM: Jurnal Hukum dan Sosial Vol 4 No 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/sultan.v4i1.1761

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi pajak daerah dan retribusi daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Batam pada tahun 2022. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk memahami struktur fiskal Kota Batam, yang sangat bergantung pada pajak dan retribusi untuk mendukung pembangunannya. Pendekatan deskriptif kuantitatif digunakan, dengan memanfaatkan data sekunder dari Laporan Keuangan Pemerintah Kota Batam tahun 2022 dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan pajak memberikan kontribusi yang signifikan, yaitu sebesar 80,62% dari total PAD, dengan sektor properti dan pariwisata sebagai penyumbang utama. Sebaliknya, iuran daerah berkontribusi sebesar 7,40% terhadap PAD, yang mengindikasikan adanya potensi perbaikan di sektor iuran, terutama pasca pandemi. Komponen PAD lainnya, seperti Pengelolaan Aset Daerah yang Dipisahkan dan PAD Hukum Lainnya, masing-masing berkontribusi sebesar 0,81% dan 11,15%. Studi ini menyimpulkan bahwa kemandirian fiskal Batam sangat bergantung pada penerimaan pajak, dengan kebutuhan untuk mengoptimalkan pengumpulan pungutan melalui peningkatan kepatuhan dan digitalisasi. Rekomendasi untuk perbaikan di masa depan juga disertakan.
IMPLEMENTASI PENDAPATAN ASLI DAERAH DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DAERAH DI KOTA SURABAYA Linadi, Levina; Kusuma, Anggita Nanda Ayu; Billa, Zahra Salsa; Marchegiani, Anggi Defira; Puspita, Legina Ayu; Pradana, Alfin Fadhil; Hidayat, Melda Fadiyah; Fitrie, Revienda Anita
Jurnal Ekonomi, Akutansi dan Manajemen Nusantara Vol. 5 No. 1 (2026): Edisi Mei - Agustus In Progress
Publisher : Utiliti Project Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jeama.v5i1.789

Abstract

Kemandirian fiskal daerah menjadi prasyarat fundamental bagi pemerintah dalam mengakselerasi pembangunan infrastruktur fisik, terutama di wilayah perkotaan yang padat. Di Kota Surabaya, dinamika Pendapatan Asli Daerah (PAD) memegang peranan krusial dalam membiayai program strategis, namun realisasinya sering kali menghadapi tantangan struktural yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan efektivitas alokasi PAD terhadap capaian pembangunan infrastruktur fisik di wilayah perkotaan Surabaya. Menggunakan pendekatan analisis deskriptif kualitatif dengan studi kasus, data sekunder dari laporan keuangan daerah periode lima tahun terakhir diolah untuk menelaah korelasi antara pertumbuhan PAD dan progres proyek infrastruktur. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun terjadi peningkatan nominal PAD, efektivitas penyalurannya ke sektor infrastruktur masih dipengaruhi oleh inefisiensi dalam perencanaan anggaran serta ketergantungan yang masih tinggi pada dana transfer pusat. Temuan ini menegaskan perlunya revitalisasi strategi pemungutan pajak daerah serta penguatan sistem pengawasan anggaran guna memastikan akuntabilitas penggunaan dana. Implikasi dari studi ini menyarankan adanya reformasi manajerial keuangan daerah yang lebih responsif terhadap kebutuhan riil pembangunan infrastruktur.
Manajemen Konflik Digital dalam Perspektif SDGs 16: Studi Kasus Eskalasi dan Resolusi Konflik SEAblings vs KNetz Fitriyani, Rahma; Harina, Vannisha Rafa Naura; Sugiyanto, Yusrotul Widad; Samosir, Herdiyanto Fransiskus; Fitrie, Revienda Anita; Hadianto, Nuh Krama
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8543

Abstract

Konflik digital di media sosial semakin kompleks dan sulit dikendalikan, terutama ketika melibatkan perbedaan identitas budaya serta mekanisme algoritma yang mempercepat eskalasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola eskalasi konflik digital antara komunitas SEAblings dan KNetz, mengidentifikasi faktor-faktor yang memicu konflik, serta menilai strategi penyelesaian yang digunakan dalam perspektif manajemen konflik dan Sustainable Development Goal (SDG) 16, berfokus pada perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dipadukan dengan netnografi. Data dikumpulkan melalui observasi non-partisipatif dan dokumentasi digital pada platform X (Twitter), TikTok, Instagram, dan Telegram selama periode puncak eskalasi konflik, yaitu tanggal 9 hingga 11 Februari 2026. Sumber data meliputi unggahan, komentar, dan tangkapan layar yang dianalisis menggunakan analisis tematik dari Braun dan Clarke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik SEAblings vs KNetz mengalami eskalasi dalam tiga fase cepat: fase pemicu, fase penyebaran viral, serta fase polarisasi dan aksi kolektif. Faktor-faktor yang memicu konflik meliputi identitas kelompok yang kuat, anonimitas di media sosial, algoritma platform yang memprioritaskan konten provokatif, serta keterbatasan mediasi lintas batas. Strategi resolusi yang muncul sangat terbatas dan didominasi oleh gaya kompetisi, sementara upaya rekonsiliasi seperti permintaan maaf tenggelam oleh banjir konten konflik. Dari perspektif SDG 16, konflik ini melanggar prinsip perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh karena menghasilkan kekerasan verbal tanpa sanksi, ketidakadilan prosedural, serta kegagalan platform digital dalam mencegah eskalasi. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pengembangan mekanisme mediasi lintas platform dan lintas negara, serta reformasi algoritma yang mendorong rekonsiliasi agar target SDG 16 dapat tercapai di era digital.