Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Promosi Kesehatan tentang Demam Berdarah Dengue (DBD) pada Siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Lombok Tengah Sofyandi, Arif; Kardi, Kardi; Una; Ningsih, Murtiana; Desimal, Iwan
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/5y6k1y43

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, ditandai dengan demam tinggi, nyeri sendi dan otot hebat, serta ruam.  Pada Tahun 2024 kasus Demam Berdarah Dangue di Lombok Tengah terjadi peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya, ialah sebanyak 238 kasus. Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan siswa dan siswi tentan pencegahan Deman Berdarah. Metode kegiatan ini meliputi beberapa tahap pelaksanaan, yaitu : a. Tahap Persiapan Tahap ini seluruh warga mengisi daftar hadir. b. Pembukaan kegiatan Pengabdian Masyarakat Pembukaan kegiatan, dilanjutkan dengan pre test/tes awal secara verbal bagi peserta untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan peserta tentang diare dan cara penanganannya sebelum diberikan penyuluhan, c. Penyampaian materi oleh Narasumber. Materi yang disampaikan adalah mengenai pengertian, penularan, gejala, fase penyakit, derajat keparahan, pencegahan 3M dan 3M Plus dan Penanganan. Penyampaian materi dilakukan dengan metode ceramah, tanya jawab. d. Kegiatan diakhiri dengan pemberian tes akhir menggunakan metode statistik analisis uji t pre-test dan post-test. Hasil dari kegiatan pengabdian ini adalah terjadi peningkatan pegetahuan siswa(i) dengan nilai rata-rata pengetahuan siswa/siswi sebelum diberikan penyuluhan adalah 40.22 namun setelah diberikan penyuluhan tentang tentang DBD, rata-rata pengetahuan siswa/siswi meningkat menjadi 59.78 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat selisih atau perbedaan nilai pre-test dan post test dengan selisih 19.56 dengan nilai P Value 0.000 (P<0.005). Improving Knowledge of Dengue Fever Prevention at State Elementary School 3, Central Lombok Abstract Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a viral infectious disease transmitted through the bite of the Aedes aegypti mosquito, characterized by high fever, severe joint and muscle pain, and rashes. In 2024, cases of Dengue Hemorrhagic Fever in Central Lombok increased from previous years, amounting to 238 cases. The purpose of this community service is to increase the knowledge of male and female students about preventing Dengue Fever. The method of this activity includes several stages of implementation, namely: a. Preparation Stage This stage all residents fill out the attendance list. b. Opening of Community Service Activities The opening of the activity, followed by a verbal pre-test/initial test for participants to determine the extent of participants' knowledge about diarrhea and how to handle it before being given counseling, c. Delivery of material by the resource person. Delivery of material is carried out using the lecture method, the material present is about definitions, transmission, symptoms, disease stages, severty levels, 3M and 3M plus prevention and treatment. The material delivery is done through lecture and question and answer methods. d. The end of the activity ends with a final test. The result of this community service activity is an increase in student knowledge (i) with the average value of student knowledge before being given counseling is 40.22 but after being given counseling about dengue fever, the average knowledge of students increased to 59.78 so it can be concluded that there is a difference or difference in pre-test and post-test values with a difference of 19.56 with a P Value of 0.000 (P <0.005).
Survei Penilaian Rumah Sehat di Desa Lembar, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat Astawan, Wanda Januar; Desimal, Iwan; Rakhmawati, Baiq Fathin Ayu; Zaidah, Una
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/yqph7924

Abstract

Rumah sehat merupakan determinan penting kesehatan masyarakat karena kualitas fisik bangunan, sanitasi dasar, dan perilaku penghuni memengaruhi risiko penyakit berbasis lingkungan. Secara nasional, masih terdapat proporsi besar rumah tangga yang tinggal di hunian tidak layak, sehingga pemetaan kondisi rumah sehat di tingkat lokal diperlukan sebagai dasar intervensi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan survei pemenuhan kriteria rumah sehat pada rumah tangga di Desa Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Metode yanng digunakan dalam penelitian ini berupa observasional deskriptif dengan desain potong lintang pada 15 rumah (purposive sampling) selama 10 Agustus–20 September 2025. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara menggunakan checklist penilaian rumah sehat mengacu pada SK Menkes No. 829/Menkes/SK/VII/1999. Skor total dikategorikan memenuhi syarat (1068–1200) dan tidak memenuhi syarat (<1068). Dari 15 rumah, 1 rumah (6,7%) memenuhi syarat rumah sehat dan 14 rumah (93,3%) tidak memenuhi syarat. Kekurangan dominan ditemukan pada komponen fisik (terutama ventilasi dan pencahayaan), sanitasi dasar (air bersih, jamban, SPAL, dan pengelolaan sampah), serta perilaku penghuni yang belum konsisten mendukung kebersihan lingkungan rumah. Mayoritas rumah belum memenuhi kriteria rumah sehat sehingga diperlukan intervensi bertahap yang memadukan perbaikan fisik rumah dan sanitasi dengan edukasi perilaku berbasis komunitas untuk menurunkan risiko penyakit berbasis lingkungan. Healthy Home Assessment Survey in Lembar Village, Lembar District, West Lombok Regency Abstract Healthy housing is an important determinant of public health because the physical condition of the building, basic sanitation, and residents’ behaviors influence the risk of environment-related diseases. Nationally, a large proportion of households still live in substandard housing; therefore, mapping healthy housing conditions at the local level is needed as a basis for intervention. This study aimed to survey compliance with healthy house criteria among households in Lembar Village, West Lombok Regency. The method used was an observational descriptive study with a cross-sectional design involving 15 houses (purposive sampling) conducted from 10 August to 20 September 2025. Data were collected through observation and interviews using a healthy house assessment checklist referring to the Indonesian Ministry of Health Decree No. 829/Menkes/SK/VII/1999. Total scores were classified as compliant (1068–1200) or non-compliant (<1068). Of the 15 houses, 1 (6.7%) met the healthy house criteria and 14 (93.3%) did not. The main deficiencies were found in physical components (especially ventilation and lighting), basic sanitation (clean water, latrines, wastewater disposal systems, and solid waste management), and residents’ behaviors that were not consistently supportive of a clean home environment. Most houses did not meet the healthy house criteria, indicating the need for phased interventions that combine improvements in housing and sanitation infrastructure with community-based behavior education to reduce the risk of environment-related diseases.
Pembuatan Inovasi Kemasan Ramah Lingkungan untuk Produk Pangan Lokal Muhsinun, Muhsinun; Desimal, Iwan; Littaqwa, Lalu Auliya Akraboe
SELAYAR: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 6: SELAYAR: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Desember 2025
Publisher : Gema Cendekia Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71094/selayar.v1i6.260

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan untuk merancang dan mengimplementasikan inovasi kemasan ramah lingkungan bagi produk pangan lokal melalui rangkaian kegiatan terstruktur yang berorientasi pada peningkatan kemampuan UMKM, pemanfaatan bahan yang dapat terurai, serta penerapan prinsip keberlanjutan dalam proses pengemasan. Pelaksanaan program mencakup analisis kebutuhan, pemberian materi mengenai konsep dasar kemasan berkelanjutan, pelatihan pembuatan kemasan berbahan alami, pendampingan dalam perancangan desain, dan pengujian prototipe pada produk pangan lokal. Melalui tahapan ini, peserta memperoleh pemahaman aplikatif mengenai peralihan dari penggunaan plastik konvensional ke arah kemasan yang lebih aman, fungsional, dan memiliki nilai tambah. Hasil kegiatan memperlihatkan bahwa pelaku UMKM mampu menerapkan teknik pembuatan kemasan sederhana menggunakan bahan lokal, menghasilkan prototipe dengan performa yang memadai, dan meningkatkan aspek visual untuk memperkuat strategi pemasaran. Uji penerapan menunjukkan bahwa kemasan ramah lingkungan tidak hanya berfungsi efektif dalam menjaga mutu produk, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap persepsi konsumen terhadap kualitas dan komitmen keberlanjutan produk. Selain itu, kegiatan ini meningkatkan kesadaran UMKM mengenai pentingnya praktik pengemasan berkelanjutan serta membuka kemungkinan replikasi program di wilayah lain. Secara umum, program ini berhasil memperkuat kemampuan UMKM dalam menjawab tantangan pasar yang semakin menuntut produk berwawasan lingkungan dan turut mendorong terbentuknya sistem pangan lokal yang lebih berkelanjutan.
Hubungan antara Jumlah Anggota Keluarga Ibu Paritas Grandemultipara dengan Kejadian Stunting Pada Balita Ali, Nur Aini Abdurrahman; Ningsih, Murtiana; Desimal, Iwan
DIKKESH : Jurnal Penelitian Pendidikan dan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2026): DIKKESH : Jurnal Penelitian Pendidikan dan Kesehatan, Februari 2026
Publisher : Lumbung Pare Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60126/dikkesh.v2i1.1439

Abstract

Stunting masih merupakan masalah utama di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kasus stunting tertinggi terdapat di Kabupaten Lombok Utara yaitu sebesar 35,3%. Salah satu Kecamatan yang ada di Kabupaten Lombok Utara yang masih tinggi kasus stunting adalah di Kecamatan Tanjung. Penyebab stunting adalah karena jumlah asupan makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh terutama dalam 1000 hari pertama pertumbuhannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan jumlah anggota keluarga dengan kejadian stunting pada balita di wilayah Kerja Puskesmas Tanjung. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain case control. Jumlah sampel sebanyak 64 yang terdiri dari 32 balita stunting dan 32 balita tidak stunting dari keluarga dengan ibu grandemultipara. Analisis data menggunakan uji Chi Square dengan SPSS. Hasil uji menunjukan bahwa terdapat hubungan antara jumlah anggota keluarga dengan kejadian stunting pada balita dengan nilai p value=0,001 dan nilai OR=21,211.
Hubungan antara Jumlah Anggota Keluarga Ibu Paritas Grandemultipara dengan Kejadian Stunting Pada Balita Ali, Nur Aini Abdurrahman; Ningsih, Murtiana; Desimal, Iwan
DIKKESH : Jurnal Penelitian Pendidikan dan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2026): DIKKESH : Jurnal Penelitian Pendidikan dan Kesehatan, Februari 2026
Publisher : Lumbung Pare Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60126/dikkesh.v2i1.1439

Abstract

Stunting masih merupakan masalah utama di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kasus stunting tertinggi terdapat di Kabupaten Lombok Utara yaitu sebesar 35,3%. Salah satu Kecamatan yang ada di Kabupaten Lombok Utara yang masih tinggi kasus stunting adalah di Kecamatan Tanjung. Penyebab stunting adalah karena jumlah asupan makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh terutama dalam 1000 hari pertama pertumbuhannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan jumlah anggota keluarga dengan kejadian stunting pada balita di wilayah Kerja Puskesmas Tanjung. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain case control. Jumlah sampel sebanyak 64 yang terdiri dari 32 balita stunting dan 32 balita tidak stunting dari keluarga dengan ibu grandemultipara. Analisis data menggunakan uji Chi Square dengan SPSS. Hasil uji menunjukan bahwa terdapat hubungan antara jumlah anggota keluarga dengan kejadian stunting pada balita dengan nilai p value=0,001 dan nilai OR=21,211.
Relationship Between Dug Well Construction and Physical Quality of Clean Water in Kayangan, North Lombok Hatimah, Husnul; Desimal, Iwan; Puspita, Yeni; Zulkarnaen, Muhammad Fauzi
Hydrogen: Jurnal Kependidikan Kimia Vol. 13 No. 6 (2025): December 2025
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/hjkk.v13i6.18763

Abstract

Dug wells serve as the main household water source for communities in the Kayangan Health Center area of North Lombok, making their structural integrity essential for ensuring safe water access. This study aimed to examine the relationship between dug well construction and the physical quality of clean water. An observational analytic study with a cross-sectional design was conducted from April to June 2024. From a total population of 82 dug wells, 45 wells were selected as study samples using the Slovin formula with a 10% margin of error and simple random sampling to ensure equal selection probability. Well construction characteristics were assessed through direct field observation using a structured checklist based on Indonesian Ministry of Health standards. Physical water quality was evaluated through organoleptic testing of color, odor, and taste in accordance with national clean water regulations. The results showed that 88.9% of dug wells did not meet recommended construction requirements, particularly regarding parapet height, well lining, and watertight flooring. Physical testing indicated that 80% of water samples met quality standards, while 20% failed to meet one or more indicators. Statistical analysis using the Chi-Square test revealed no significant association between well construction and physical water quality (p = 0.258). These findings suggest that physical indicators alone may not adequately reflect contamination risks, highlighting the need for comprehensive water quality monitoring that includes microbiological and chemical assessments to ensure groundwater safety.
The Relationship Between Septic Tank Distance And The Biological Quality Of Dug Well Water In Rensing Bat Village, West Sakra District Desimal, Iwan; Indah, Dahlia Rosma; Abqory, M. Hario Tangkas
Hydrogen: Jurnal Kependidikan Kimia Vol. 13 No. 6 (2025): December 2025
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/hjkk.v13i6.18917

Abstract

Based on data from the results of the Household Drinking Water Quality Surveillance of the Rensing Health Center in Rensing Bat Village in 2024, which was carried out from 15 wells, there were 13 wells that contained Eschericia colli bacteria  and 2 wells that did not contain Eschericia colli bacteria. This study aims to determine the relationship between the distance of the septic tank and the biological quality of dug well water in Rensing Village, West Sakra District in 2025. This type of research is an analytical survey with a cross sectional approach. This research was conducted in Rensing Bat Village, West Sakra District. The population in this study is 124 houses that have dug wells and septic tanks with a sample of 55 houses taken using systematic random sampling techniques. Data analysis used univariate and bivariate tests. The results of the statistical test  of the septic tank distance variable  showed a value (p value = 0.027<0.05) with the biological quality of the dug well water. Conclusion: there is a relationship between the distance of the septic tank and the biological quality of dug well water in Rensing Bat Village, West Sakra District in 2025. It is recommended to the head of the Rensing Health Center to assign environmental health workers to intensify counseling activities on the safe distance  of septic tanks to dug wells with a distance of ≥ 10 m and cook water before consumption in order to break the chain of water-transmitted diseases. Proper management of the septic tank distance is essential to prevent negative impacts on water quality and to protect public health and the environment.