Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

STRATEGI PEMASARAN HASIL KARYA WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS I BANDAR LAMPUNG Ridwan, M. Sabichis; Anwar, Umar
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 9, No 7 (2022): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v9i7.2022.2521-2531

Abstract

Pemasaran hasil karya warga binaan pemasyarakatan tidaklah maksimal dikarenakan daya saing dan banyaknya competitor. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidetifikasi factor internal dan eskternal Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Bandar Lampung dalam pemasran hasil warga binaan, (2) Memformulasikan strategi yang dapat dilakukan Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Bandar Lampung untuk meningkatkan pemasaran hasil warga binaan, (3) Memberikan rekomendasi strategi dari berbagai alternatif yang dirumuskan. Metode yang digunakan adalah metode Kualitatif dengan pendekatan analisis SWOT. Hasil analisis menunjukkan bahwa rumusan alternatif pemasaran yang diperoleh dari factor eksternal dan internal dari bekerja sama dengan patner (MOU), promosi edukatif. Berdasarkan analisis SWOT-ANP bahwa penjualan baik secara online dan promosi edukatif sangatlah direkomendasikan.
IMPLEMENTASI ASSESSMENT RISK AND NEEDS DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PROGRAM PEMBINAAN KEMANDIRIAN NARAPIDANA DI LAPAS KELAS IIB CIANJUR Maulana, Raihan Irsad; Muhammad, Ali; Anwar, Umar; Priyatmono, Budi
Law Journal (LAJOUR) Vol 6 No 2 (2025): Law Journal (LAJOUR) Oktober 2025
Publisher : LPPM Universitas Bina Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32767/lajour.v6i2.313

Abstract

Abstrak Sistem Sistem pemasyarakatan Indonesia menghadapi tantangan residivisme dan kelebihan kapasitas Lapas di Indonesia, salah satunya di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Cianjur menghadapi tantangan internal yang signifikan, tercermin dari angka residivisme yang mencapai 11,2% dan disparitas partisipasi program, di mana hanya 52 dari 713 narapidana mengikuti program kemandirian. Fakta ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara program yang ditawarkan dengan kebutuhan riil narapidana untuk reintegrasi. Landasan untuk menjembatani kesenjangan ini adalah implementasi Assessment Risk and Needs (R/NA) yang efektif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis secara mendalam implementasi assement risk and needs dalam meningkatkan kualitas program pembinaan kemandirian di Lapas Kelas IIB Cianjur, beserta faktor pendukung dan penghambatnya. Metode yang digunalan Penelitian kualitatif berdesain studi kasus ini mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen kepada petugas dan narapidana. Teori yang digunakan adalah Teori Kognitif Sosial dari Albert Bandura, menggunakan konsep efikasi diri (self-efficacy) untuk mengetahui mekanisme psikologis dari Prinsip Responsivitas dalam pembinaan. Hasil penelitian menunjukkan implementasi assement risk and needs secara prosedural telah berjalan baik dan terbukti mampu meningkatkan efikasi diri narapidana, yang termanifestasi melalui penguatan motivasi untuk menguasai keterampilan teknis. Namun, program pembinaan tidak terealisasi maksimal akibat hambatan struktural seperti keterbatasan SDM, fasilitas, dan variasi program. Akibat adanya kehambatan SDM, fasilitas,dan variasi mengakibatkan program pembinaan kemandirian di lapas Cianjur tidak berjalan dengan optimal . Kesimpulannya implementasi assement risk and needs secara prosedural telah berjalan baik namun adanya hambatan seperti SDM, fasilitas, serta kurangnya variasi program pembinaan kemandirian mengakibatkan kurangnya kualitas program pembinaan kemandirian di Lapas Kelas IIB Cianjur. Novelty dalam penulisan ini Berbeda dari penelitian sebelumnya yang cenderung berhenti pada evaluasi prosedural, studi ini membuktikan bahwa meskipun assesment telah dilaksanakan dengan baik, hal tersebut tidak secara otomatis menjamin kualitas output pembinaan. Temuan utamanya adalah identifikasi "kesenjangan kapabilitas" antara hasil assesment dengan program pembinaan yang di berikan.Dengan mengaitkan kesenjangan ini secara langsung pada keterbatasan dalam proses R/NA dalam memetakan kebutuhan non-teknis narapidana, penelitian ini memberikan kontribusi orisinal terhadap pemahaman mengapa program pembinaan seringkali gagal menghasilkan kemandirian yang berkelanjutan. Kata kunci: Implementasi, Assessment Risk and Needs, Pembinaan Kemandirian, Efikasi Diri, Lembaga Pemasyarakatan
DINAMIKA PROSES PEMBELAJARAN KRIMINAL ANAK DARI ORANG DEWASA: STUDI KASUS ANAK DI RUTAN KELAS I DEPOK DAN BALAI PEMASYARAKATAN KELAS II BOGOR Nur Saidi, Ahmad Ali; Muhammad, Ali; Anwar, Umar; Priyatmono, Budi
Judge : Jurnal Hukum Vol. 6 No. 05 (2025): Judge : Jurnal Hukum
Publisher : Cattleya Darmaya Fortuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54209/judge.v6i05.1680

Abstract

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, anak yang terlibat dalam tindak kriminal sering kali dipengaruhi oleh lingkungan sosial, terutama interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika proses pembelajaran kriminal pada anak yang terlibat dalam sistem peradilan pidana, khususnya di Rutan Kelas I Depok dan Balai Pemasyarakatan Kelas II Bogor. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran orang dewasa baik dari lingkungan keluarga ataupun teman sepergaulan anak memiliki peran dalam membentuk pembelajaran kriminal pada anak dan apa dampak yang terjadi dari adanya peran tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk mengumpulkan data dari informan yang terdiri dari pembimbing kemasyarakatan, wali anak, petugas pemasyarakatan, tahanan anak, dan klien anak. Teori yang digunakan dalam penelitian ini antara lain Teori Peran - Biddle dan Thomas (1966) dan Teori Asosiasi Diferensial - Edwin H. Sutherland (1939). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika proses pembelajaran kriminal anak dari orang dewasa memiliki peran signifikan khususnya dari orang dewasa yang berasal dari lingkungan pergaulan anak. Sedangkan, peran orang dewasa dari lingkungan keluarga berusaha untuk memberikan pengaruh positif kepada anak. Sementara itu, peran orang dewasa tidak hanya sebagai pengarah dan pengawas, tetapi juga sebagai figur yang memberikan nilai-nilai moral dan sosial yang penting dalam proses perubahan perilaku anak. Kesimpulan dari penelitian ini adalah anak mendapat pengaruh signifikan dari orang dewasa di lingkungan pergaulannya dalam pembelajaran tindak kriminal, dan peran orang dewasa ini menjadikan figur otoritatif bagi anak sehingga anak terdorong dan termotivasi melakukan tindakan kriminal.
Sosialisasi Konsep Reintegrasi Sosial melalui Kegiatan Barista bagi Klien Pemasyarakatan kepada Komunitas Masyarakat Siallagan, Antony Surya Johan; Pahlevi, Muhammad Naufal Andika; Hasibuan, Samuel Alexander; Anwar, Umar; Butar-Butar, Herry Fernandes
Jurnal Pengabdian Masyarakat Mentari Vol. 2 No. 5 (2025): Desember
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmm.v2i4.177

Abstract

Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman klien tentang tugas dan fungsi Balai Pemasyarakatan (Bapas) serta program integrasi sosial yang dilaksanakan. Balai Pemasyarakatan berperan penting dalam memberikan pembimbingan dan pengawasan kepada klien pemasyarakatan agar dapat kembali ke masyarakat dengan baik. Program integrasi sosial bertujuan untuk membantu klien dalam proses adaptasi dan reintegrasi ke dalam lingkungan masyarakat. Dalam sosialisasi ini, disampaikan informasi mengenai peran Bapas dalam rehabilitasi dan reintegrasi klien, prosedur serta tahapan yang harus dilalui oleh klien, dan berbagai program pendukung yang tersedia. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam mendukung program pemasyarakatan serta memperkuat jaringan kerjasama antara Bapas dan klien. Pada dasarnya seseorang yang melakukan kejahatan dapat disebabkan pada ketidaktahuan seseorang akan hukum yang berlaku. Oleh karena itu, diperlukan untuk menumbuhkan kebiasaan sadar hukum budaya sadar dan taat hukum yang di mulai dari lingkup terdekat yakni lingkungan masyarakat.
Community Development in the Prevention of Body Shaming in Students in Cisalak Village, Subang Equatora, Muhammad Ali; Anwar, Umar; Butar-Butar, Herry Fernades; Tando, Cahyoko Edi; Hamzah, Imaduddin; Priyatmono, Budi; Muhammad, Ali; Biafri, Vivi Sylviani; Aulia, Qhistina
Indonesian Journal of Community Services Vol. 4 No. 2 (2025): November
Publisher : CV. Literasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47540/ijcs.v4i2.2358

Abstract

This community service aims to prevent body-shaming behavior among students at SMA Plus Pagelaran, Cisalak Village, Subang, through a community development approach. Body shaming, the act of criticizing a person's physical appearance, hurts students' psychology and self-confidence. This program is implemented by providing education to students, teachers, and parents about the negative consequences of body shaming and the importance of respecting physical diversity.  The activities carried out include socialization, group discussions, and the formation of supportive communities that strengthen students' confidence. The method is a participatory approach that involves all stakeholders in the school environment to create social norms that reject body shaming. Data collected through observation and interviews indicated increased awareness and a shift toward more positive attitudes toward physical differences among students. The results of community service activities prove that community development-based interventions are effective in reducing body shaming and building an inclusive and supportive school environment. This program is expected to serve as a model for preventing body shaming in other rural schools by empowering the community and supporting students' mental well-being. Further implementation can strengthen the role of schools and communities in fostering a positive culture that respects diversity and promotes solidarity among students in Cisalak Village, Subang.