Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Persentase Kandungan Kalsium Oksida (CaO) Pada Katalis Limbah Kulit Udang Elsa Rafelia Hartanti; Vivin Setiani; Ayu Nindyapuspa
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kulit udang mengandung konstituen utama yang terdiri kalsium karbonat (45% - 50%) yang diharapkan dapat mendaur ulang limbah kulit udang menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti pemanfaatan katalis heterogen CaO dalam pembuatan biodiesel. Kebanyakan katalis yang digunakan untuk pembuatan biodiesel adalah katalis homogen namun katalis basa homogen sangat sulit dipisahkan dari campuran reaksi sehingga tidak dapat digunakan kembali dan akhirnya akan ikut terbuang sebagai limbah yang dapat mencemarkan lingkungan. Kelebihan katalis heterogen yaitu stabil pada suhu tinggi, dapat diregenerasi sehingga mengurangi biaya produksi, proses pemisahan lebih mudah, dan dapat mengurangi limbah pencucian sehingga lebih ramah lingkungan. Katalis CaO yang berasal dari kulit udang akan mengurangi biaya operasional, dan dapat mengurangi dampak negatif bagi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persen kandungan CaO dalam limbah kulit udang menggunakan uji X-Ray Fluorescence (XRF). Kulit udang dibersihkan menggunakan air kemudian dijemur. Kulit udang di oven pada suhu 120°C selama 1 jam kemudian dihaluskan dan diayak menggunakan ayakan 100 mesh. Limbah kulit udang dikalsinasi pada suhu 1000°C selama 3 jam. Hasil uji XRF pada katalis CaO limbah kulit udang memiliki kandungan CaO sebesar 77,87%.
Pengomposan Sampah Daun Angsana menggunakan Cacing Eisenia fetida dengan Penambahan MOL Nasi Basi Athi’ Farida; Vivin Setiani; Ayu Nindyapuspa
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelabuhan Tanjuk Perak Surabaya memiliki fasilitas pengolahan sampah daun berupa rumah kompos. Sampah daun yang diolah merupakan hasil perantingan pohon angsana yang berada di taman dan sekitar jalan Pelabuhan Tanjung Perak. Pengolahan sampah daun di rumah kompos Pelabuhan Tanjung Perak menggunakan metode open windrow. Tahapan pengomposan hanya meliputi pencacahan dua kali, lalu ditumpuk di tempat terbuka beratap tanpa komposter. Hasil dari pengomposan tersebut belum maksimal, dikarenakan kompos yang dihasilkan masih berbentuk daun. Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan adanya modifikasi teknologi dalam pengomposan, salah satunya menggunakan metode vermicomposting. Penelitian ini menggunakan jenis cacing tanah Eisenia fetida dengan lama pengomposan 21 hari. Vermicomposting memanfaatkan Mikroorganisme Lokal (MOL) dari nasi basi untuk mempercepat proses pengomposan. Komposisi sampah terdiri dari 40% daun angsana, 40% kotoran sapi dan 20% serbuk kayu. Reaktor pengomposan menggunakan metode continous flow bin dengan dimensi 45 cm x 30 cm x 35 cm. Pengukuran yang dilakukan yaitu warna, tekstur, bau, kadar air, suhu, pH, C, N, rasio C/N, P2O5, dan K2O. Hasil akhir pengomposan telah memenuhi SNI 19-7030-2004 tentang spesifikasi kompos dari sampah organik. Kandungan rasio C/N pada kompos yang dihasilkan oleh cacing Eisenia fetida dengan penambahan MOL nasi basi yaitu 20,04.
Pengomposan Kulit Pisang Kepok dan Air Lindi Elok Diana Manzil; Vivin Setiani; Tanti Utami Dewi
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semakin bertambahnya penduduk, maka aktivitas yang dilakukan oleh manusia akan semakin beragam. Hal tersebut akan didampingi dengan semakin besarnya timbulan sampah yang dihasilkan. Sampah domestik merupakan salah satu komponen dengan jumlah besar dalam timbulan suatu daerah. Kulit pisang merupakan salah satu unsur sampah domestik yang apabila tidak segera diolah akan menimbulkan bau yang tidak sedap, salah satu pisang yang sering digunakan dalam beberapa olahan adalah pisang kepok. Keberadaan sampah tentunya didampingi dengan adanya lindi yang apabila terjadi pencemaran dapat membahayakan lingkungan sekitar. Maka dari itu pada penelitian ini dilakukan pengolahan sampah kulit pisang kepok menggunakan metode larva komposting, dengan larva black soldier fly dan penambahan lindi. Proses pengomposan dilakukan selama 15 hari dengan penambahan perlakukan fermentasi dengan air lindi sebanyak 500 ml selama 7 hari. Parameter yang diamati adalah parameter fisik dan kimia kompos, dihasilkan nilai keseluruhan parameter telah memenuhi SNI 19-7030-2004.
Optimalisasi Metode Pengomposan pada Rumah Kompos Pelabuhan Tanjung Perak dengan Perbedaan Feeding Regime pada Larva Black Soldier Fly Nyoto Sulistiyo; Vivin Setiani; Tanti Utami Dewi
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu fasilitas penunjang kegiatan operasional pelabuhan adalah adanya ruang terbuka hijau yang memadai, dan jenis vegetasi yang sangat populer untuk ditanam pada ruang terbuka hijau adalah pohon angsana (Pterocarpus indicus). Sejak 2018, Pelabuhan Tanjung Perak telah memanfaatkan kembali limbah dari perantingan pohon angsana (Pterocarpus indicus) untuk menjadi kompos. Sayangnya hasil kompos masih berupa daun utuh, sehingga hal ini memberikan ruang untuk dilakukannya perbaikan pada metode pengomposan. Pada penelitian ini, akan dilakukan pengomposan menggunakan larva Black Soldier Fly dan mikroorganisme lokal dari bonggol pisang. Bahan kompos berupa limbah daun angsana dicampurkan dengan limbah ikan tenggiri yang berasal dari kegiatan olahan makanan ikan tenggiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh perbedaan dosis mol terhadap kualitas kompos. Variasi dilakukan dengan perbedaan dosis mikroorganisme lokal bonggol pisang sebanyak 0 mL/kg, 7 mL/kg, dan 15 mL/kg. Hasil pengomposan menunjukkan bahwa kadar nitrogen total dan fosfor dari kompos tidak dipengaruhi oleh perbedaan penambahan dosis mol. Hasil desain dari reaktor berupa limas trapesium dengan dimensi alas 30 cm x 62 cm x 30 cm dan tinggi 30 cm, sehingga didapatkan volume sebesar 41,4 liter.
Pengolahan Sampah Kapas, Sampah Daun Pisang, dan Kotoran Kelinci menjadi Kompos dengan Metode Aerobik Rizki Alifiya Nurbiyanti; Vivin Setiani; Ayu Nindyapuspa
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri tekstil menjadi salah satu penyebab semakin meningkatnya jumlah timbulan sampah kapas. Dikatakan demikian, dikarenakan sampah kapas di lingkungan industri tekstil tidak dilakukan pengolahan sebagai tindakan untuk meminimalkan jumlah timbulan sampah kapas. Hal ini dapat menimbulkan polusi dan penyakit jika tidak ditindak lanjuti. Selain itu, permasalahan lain yang juga menjadi perhatian adalah sampah daun pisang. Sampah daun pisang sering kali ditumpuk kemudian dibakar di sekitar lingkungan pemukiman penduduk, maka tindakan ini dapat menimbulkan polusi udara. Salah satu solusi alternatif atas permasalahan tersebut adalah dengan cara memanfaatkan sampah menjadi kompos. Pada penelitian ini, pembuatan kompos memanfaatkan sampah kapas, sampah daun pisang (Musa balbisisana) dan kotoran kelinci. Metode pengomposan yang digunakan secara aerobik dengan jenis reaktor yaitu aerobic composting bin. Adapun variabel penelitian yaitu variasi komposisi sampah kapas sebesar 20,33%; sampah daun pisang sebesar 20,33%; dan kotoran kelinci sebesar 59,35%. Kualitas kompos yang mampu dihasilkan pada penelitian ini meliputi nilai rasio C/N sebesar 11,05; C-Organik sebesar 10,17%; NTotal sebesar 0,92%; Fosfor sebesar 0,08%; dan Kalium sebesar 1,30%.
Pengomposan Sampah Daun Angsana menggunakan Cacing Eisenia fetida dengan Penambahan MOL Nasi Basi Athi’ Farida; Vivin Setiani; Ayu Nindyapuspa
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelabuhan Tanjuk Perak Surabaya memiliki fasilitas pengolahan sampah daun berupa rumah kompos. Sampah daun yang diolah merupakan hasil perantingan pohon angsana yang berada di taman dan sekitar jalan Pelabuhan Tanjung Perak. Pengolahan sampah daun di rumah kompos Pelabuhan Tanjung Perak menggunakan metode open windrow. Tahapan pengomposan hanya meliputi pencacahan dua kali, lalu ditumpuk di tempat terbuka beratap tanpa komposter. Hasil dari pengomposan tersebut belum maksimal, dikarenakan kompos yang dihasilkan masih berbentuk daun. Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan adanya modifikasi teknologi dalam pengomposan, salah satunya menggunakan metode vermicomposting. Penelitian ini menggunakan jenis cacing tanah Eisenia fetida dengan lama pengomposan 21 hari. Vermicomposting memanfaatkan Mikroorganisme Lokal (MOL) dari nasi basi untuk mempercepat proses pengomposan. Komposisi sampah terdiri dari 40% daun angsana, 40% kotoran sapi dan 20% serbuk kayu. Reaktor pengomposan menggunakan metode continous flow bin dengan dimensi 45 cm x 30 cm x 35 cm. Pengukuran yang dilakukan yaitu warna, tekstur, bau, kadar air, suhu, pH, C, N, rasio C/N, P2O5, dan K2O. Hasil akhir pengomposan telah memenuhi SNI 19-7030-2004 tentang spesifikasi kompos dari sampah organik. Kandungan rasio C/N pada kompos yang dihasilkan oleh cacing Eisenia fetida dengan penambahan MOL nasi basi yaitu 20,04.
Pemanfaatan Limbah Padat Pasir Silika Limbah Sandblasting dan Fly Ash untuk Beton HVFA-SCC Havy Fathoni; Wiwik Dwi Pratiwi; Vivin Setiani; Wahyuniarsih Sutrisno
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beton High Volume Fly Ash (HVFA) merupakan campuran beton yang menggunakan fly ash dengan persentase fly ash yang digunakan lebih dari 50%. Adanya kandungan bahan kimia silika dan alumina, yang membuat fly ash memiliki sifat pozzolanik seperti semen, sehingga dapat dimanfaatkan untuk menjadi material pengganti semen. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan melakukan pembuatan beton high volume fly ash - self compacting concrete (HVFA-SCC) yang memanfaatkan limbah sandblasting sebagai pengganti agregat halus dan limbah fly ash sebagai pengganti semen yang akan dibandingkan dengan beton normal dan beton HVFA menggunakan pasir biasa. Hasil penelitian menunjukkan komposisi beton HVFA dengan variasi campuran 40% limbah fly ash dengan substitusi pasir silika limbah sandblasting menghasilkan kuat tekan sebesar 21,03 MPa pada usia beton 28 hari. Berdasarkan hal tersebut, pasir silika limbah sandblasting dapat berpotensi menjadi substitusi agregat halus pada beton HVFA dan termasuk ke dalam jenis beton mutu sedang yang dapat dimanfaatkan sebagai beton bertulang.
Pengomposan Limbah Ikan dan Susu Reject menggunakan Larva Black Soldier Fly Firda Dwi Rahmadhani; Vivin Setiani; Ulvi Pri Astuti
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meningkatnya limbah organik dapat menimbulkan besarnya timbulan sampah yang mengakibatkan pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan bagi masyarakat. Salah satu upaya pengolahan limbah organik adalah dengan memanfaatkan limbah organik menjadi kompos melalui proses biokonversi. Penelitian ini memanfaatkan limbah organik yaitu limbah ikan dan kotoran sapi dengan penambahan susu reject dan MoL nasi basi. Metode yang digunakan yaitu Black Soldier Fly Larvae Composting. Komposisi limbah ikan dan kotoran sapi pada pengomposan yaitu sebesar 50% limbah ikan dan 50% kotoran sapi. Penelitian ini menggunakan penambahan susu reject sebanyak200 ml/kg dan penambahan MoL sebanyak 20 ml/kg. Proses pengomposan dilakukan selama 15 hari dengan feedinglarva setiap 3 hari sekali. Parameter yang diamati yaitu parameter fisik dan kimia kompos serta karakteristik larva meliputi WRI. Hasil penelitian menunjukkan kualitas fisik (suhu, kadar air) dan kimia (C-Organik, N-Total, rasio C/N, fosfor, kalium) telah memenuhi SNI 19-7030-2004. Penambahan susu reject dan MoL pada pengomposan limbahikan dan kotoran sapi memberikan nilai indeks pengurangan sampah (WRI) sebesar 14,17%
Pengomposan Sampah Sisa Makanan dan Daun Mangrove serta LimbahSusu menggunakan Larva Black Soldier Fly Aga Sandya Laksana; Vivin Setiani; Tanti Utami Dewi
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sampah adalah hasil sisa dari produk atau aktivitas seperti rumah tangga atau kegiatan komersial lainnya. Proses produksi pada industri pengolahan susu akan menghasilkan limbah berupa susu reject yang dapat mencemari lingkungan. Limbah susu memiliki karakteristik berupa kerentanan terhadap bakteri dan kandungan nutrisi yang dapat dimanfaatkan. Pengomposan dapat menjadi sebuah alternatif pengolahan dari sampah dan limbah yang dihasilkan. Sampah berupa sisa makanan, daun mangrove dan limbah susu berbahan dasar organik dapat diolah menjadi produk kompos. Penelitian ini memanfaatkan limbah organik sisa makanan dan daun mangrove dengan penambahan limbah susu cair sebanyak 200 ml/kg. Metode pengomposan dilakukan dengan menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) sebagai agen biokonversi yang mampu mendegradasi sampah dengan menjadikannya sumber makanan. Hasil pengomposan dianalisis sesuai dengan spesifikasi kompos yang telah ditentukan pada SNI 19-7030-2004. Berdasarkan penelitian, proses pengomposan dilakukan selama 15 hari dengan pemberian umpan sebanyak 200 mg/larva/hari setiap 3 hari sekali. Pengamatan pada suhu, kadar air, pH, C-Organik, N-Total, fosfor dan kalium telah memenuhi baku mutu kompos. Sedangkan pada rasio C/N tidak memenuhi baku mutu kompos.
Komposisi Biochar dan Suhu Pembakaran Pirolisis Terhadap Kadar Air Biochar Tia Amelia; Ulvi Pri Astuti; Vivin Setiani
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 6 No. 1 (2023): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produksi buah kelapa yang tinggi di Indonesia berdampak pula pada tingginya produk samping berupa sabut kelapa. Sabut kelapa sering kali dibiarkan menumpuk hingga kering dan digunakan sebagai kayu bakar. Sabut kelapa mengandung rasio C/N yang tinggi sehingga potensial untuk dimanfaatkan menjadi biochar. Biochar merupakan bahan kaya karbon dari limbah padat biomassa pertanian yang melalui proses pirolisis. Setiap biomassa memiliki karakteristik yang berbeda sehingga terdapat perbedaan karakteristik biochar yang dihasilkan. Limbah biomassa yang digunakan dalam penelitian ini selain sabut kelapa, digunakan juga sekam padi dan tulang ikan. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi pengaruh dari perbedaan komposisi biochar dari dan suhu pembakaranterhadap kadar air biochar. Bahan baku biochar berupa sabut kelapa, tulang ikan, dan sekam padi akan diolah menjadi biochar dengan proses pembakaran dengan menggunakan rangkaian alat pirolisis dengan suhu pembakaran 350? dan 500?. Pengujian parameter yang dilakukan dalam penelitian ini berupa uji kadar air. Hasil pengujian kadar air biochar sebanyak 10 sampel berada pada rentang 2,58% - 0,62%.