Claim Missing Document
Check
Articles

Self-Control dan Impulsive Buying Wanita Dewasa Awal Pada Masa Pandemi Charan, Yobella Yiska Pravu; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 10, No 4 (2022): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v10i4.9100

Abstract

This study is a quantitative study that aims to determine the relationship between self-control and impulsive buying of early adult women in Kudus Regency during the pandemic. The participants in this study were 111 early adult women in Kudus Regency aged 20-30 years. The sampling technique used is incidental sampling technique. The scale used in this study is the Full Self Control Scale and the Impulsive Buying Scale, and the questionnaire was distributed online. The results of the study using the Pearson Product Moment technique showed that there was a weak correlation with the direction of a negative relationship between self-control and impulsive buying, with a value of r = -0.235 with a significance value of 0.007 (p<0.05), which means the more individuals have good or high self-control, the individual's impulsive buying behavior is lower, and vice versa. So, it can be concluded that to have low impulsive buying behavior, early adult women need to have high self-control.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-control dengan impulsive buying wanita dewasa awal di Kabupaten Kudus pada masa pandemi. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 111 wanita dewasa awal di Kabupaten Kudus yang berusia 20-30 tahun. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik insidental sampling. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah Full Self Control Scale dan Impulsive Buying Scale, dan kuisioner disebarkan secara online. Hasil penelitian dengan teknik Product Moment Pearson menunjukkan adanya hubungan korelasi yang lemah dengan arah hubungan negatif antara self-control dengan impulsive buying, dengan nilai r = -0,235 dengan nilai signifikansi 0,007 (p<0,05), yang berarti semakin individu memiliki self-control yang baik/tinggi, maka semakin rendah perilaku impulsive buying, atau sebaliknya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk memiliki perilaku impulsive buying yang rendah, wanita dewasa awal perlu memiliki self-control yang tinggi.  
Hubungan antara Dukungan Sosial Keluarga dengan Quarter Life Crisis pada Mahasiswa Tingkat Akhir Setyawan, Ivana Abigail Weldiv; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 16, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v16i1.14827

Abstract

Akhir masa kuliah merupakan masa transisi menuju dewasa yang seringkali menimbulkan stres dan kecemasan akan masa depan. Mahasiswa pada tahap ini seringkali merasa bingung dalam menentukan arah hidup dan menghadapi tuntutan baru setelah lulus. Dalam situasi ini, dukungan sosial keluarga berperan penting dalam memberikan kenyamanan, motivasi, dan kepercayaan diri untuk menghadapi perubahan. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan quarter-life crisis pada mahasiswa tingkat akhir. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 203 mahasiswa tingkat akhir yang diperoleh melalui accidental sampling. Instrumen yang digunakan meliputi Developmental Crisis Questionnaire (DCQ-12) (α = 0,650) untuk mengukur quarter-life crisis dan Social Support Scale (SSS) (α = 0,959) untuk mengukur dukungan sosial keluarga. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Product Moment Pearson setelah memenuhi asumsi normalitas dan linearitas. Hasil penelitian menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dan krisis seperempat hidup (r = -0,246; p < 0,05). Artinya, semakin tinggi tingkat dukungan sosial keluarga yang diterima mahasiswa tingkat akhir, semakin rendah tingkat krisis seperempat hidup yang dialami. Temuan ini menekankan peran penting keluarga dalam membantu mahasiswa menghadapi transisi menuju dewasa dengan kesiapan dan keseimbangan emosional yang lebih baik.
The Relationship Between Assertiveness and Psychological Well-being in Early Adulthood Among the Javanese Tribe Tarigan, Filia Dasiska Septi Arisandhi; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 16, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v16i1.14836

Abstract

Javanese culture, which emphasizes social harmony and politeness, often makes it difficult for individuals to express their opinions, which can ultimately affect their psychological well-being. This study aims to determine the relationship between assertiveness and six dimensions of psychological well-being in early adult Javanese individuals. This study uses a quantitative method with a correlational design to examine the relationship between assertiveness and psychological well-being. There were 202 early adult Javanese individuals participating in this study, selected using incidental sampling technique. The measurement tools used were the Alberti and Emmons assertiveness scale (α = 0.812) and Ryff's Psychological Well-Being Scale (α = 0.786). The results showed a significant positive relationship between assertiveness and all dimensions of psychological well-being, including (r = 0.571; p < 0.05), environmental mastery (r = 0.634; p < 0.05), personal growth (r = 0.675; p < 0.05), positive relationships with others (r = 0.684; p < 0.05), life purpose (r = 0.647; p < 0.05), and self-acceptance (r = 0.722; p < 0.05). These findings indicate that the higher an individual's level of assertiveness, the higher their psychological well-being. The results of this study emphasize the importance of developing assertiveness as an effort to improve psychological well-being in the Javanese cultural context