Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Pada Mahasiswa Nesya Natasya; Maria Nugraheni Mardi Rahayu
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 9 No. 2 (2025): April 2025, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v9i2.7089

Abstract

Dukungan sosial memegang peranan penting dalam meningkatkan rasa percaya diri mahasiswa, terutama bagi mereka yang merantau. Penelitian bertujuan untuk mengkaji hubungan antara dukungan sosial dan penyesuaian diri mahasiswa dalam berbagai aspek, seperti akademik, sosial, personal-emosional, dan kelekatan dengan institusi di kalangan mahasiswa rantau yang tinggal di asrama. Sebanyak 166 mahasiswa menjadi responden dalam penelitian ini, yang menggunakan teknik snowball sampling. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional, dengan pengukuran melalui kuesioner Student Adaptation to College Questionnaire dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara dukungan sosial dan penyesuaian akademik (r = 0,211, p = 0,003) serta penyesuaian sosial (r = 0,455, p = 0,000). Namun, tidak ditemukan hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian personal-emosional (r = -0,036, p = 0,321) dan kelekatan dengan institusi (r = 0,166, p = 0,068). Dukungan sosial yang baik membantu mahasiswa meraih keberhasilan dalam menghadapi tantangan di perantauan. Kata kunci: dukungan sosial, penyesuaian akademik, penyesuaian sosial, penyesuaian personal emosional, kelekatan dengan instansi
Hubungan Body Image Dengan Self-Esteem Pada Ibu Yang Bergabung Dalam Komunitas Beauty Influencer Mulyanto, Angeline Meisya; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 9 No. 2 (2025): April 2025, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v9i2.7142

Abstract

Saat ini banyak ibu yang menjadikan beauty influencer sebagai pekerjaan tetap maupun hanya sebagai pekerjaan sampingan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara body image dengan self-esteem pada ibu yang bergabung dalam komunitas beauty influencer. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional. Pengumpulan data dilakukan dengan mengisi kuesioner dan diisi oleh 225 ibu yang bergabung dalam komunitas beauty influencer. Alat ukur yang digunakan adalah Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire-Appearance Scales (MBSRQ-AS) untuk mengukur body image dan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) untuk mengukur self-esteem. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan positif antara body image dengan self-esteem (r) = 0,306 dengan signifikansi 0.000 (p < 0,05). Artinya semakin positif body image yang dimiliki maka akan semakin tinggi self-esteem seorang ibu. Penelitian ini menunjukkan bahwa para ibu yang bergabung dalam komunitas beauty influencer akan memiliki peningkatan kesadaran diri terkait penampilan diri. Hal ini mendorong mereka untuk lebih peduli dengan kesehatan dan perawatan diri. Kata kunci: body image, self-esteem, ibu, beauty influencer
The Indonesian Adaptation of Developmental Crisis Questionnaire-12 (DCQ-12) Aprodita, Nindya Putri; Rasyida, Afinnisa; Mardi Rahayu, Maria Nugraheni
Journal of Educational, Health and Community Psychology VOL 13 NO 3 SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/jehcp.v13i3.28414

Abstract

The developmental crisis in early adulthood, often referred to as the Quarter-Life Crisis, has garnered significant attention in recent years. Although widely discussed in mass media and popular writings, there is a lack of a well-established psychological scale to measure this crisis in Indonesia. This study aims to examine the psychometric properties of the Indonesian adaptation of the Developmental Crisis Questionnaire (DCQ-12) developed by Petrov et al. (2022) for assessing early adulthood developmental crises. The DCQ-12 instrument consists of twelve statements divided into three factors: Disconnection and Distress, Lack of Clarity and Control, and Transition and Turning Point. Exploratory Factor Analysis (EFA) and Confirmatory Factor Analysis (CFA) are used in the test. This research involves 300 Indonesian early adult participants (mean age = 31.81 years, SD = 6.72, 90% female) for EFA testing and 248 participants (mean age = 25.2 years, SD = 5.32, 78.2% female) for CFA testing. The results indicate that the three-factor structure of the ten items of the Indonesian version of the DCQ has psychometric properties classified as "acceptable fit," making it suitable for research on developmental crises in early adult individuals. Future research should explore the psychometric properties of this instrument in other population groups, such as middle-aged and older adults, and consider implications for interventions or support programs
Attitudes Toward Death in Emerging Adulthood After the Emerging Infectious Disease COVID-19 Dewi, Erviana Laksito; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 14, No 1 (2026): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v14i1.23294

Abstract

Following the outbreak of the emerging infectious disease COVID-19, there has been a shift in young adults' perspectives on death. This study aims to provide an overview of differences in attitudes toward death based on gender, religious perception, and experiences during the pandemic (as survivors, loss of loved ones, both, or neither). The method used was quantitative descriptive with the Death Attitude Profile—Revised (DAP-R) instrument and involved 225 participants through accidental sampling. The results show that the majority of Indonesian young adults have a high neutral acceptance (85.8%) and approach acceptance (64.9%) attitude, but some also show fear of death (40%) and death avoidance (41.8%). Women tend to have a higher fear of death and death avoidance attitude than men, while other attitudes are relatively balanced. Based on perceptions of religiosity, the religious group showed higher scores on neutral acceptance (87.1%) and approach acceptance (70.3%), although not always lower in fear or avoidance of death than the non-religious group. Meanwhile, based on pandemic experiences, all groups showed a predominance of fear of death, but individuals who were grieving and experienced both (“being a survivor and experiencing loss”) showed higher acceptance scores than other groups These findings enrich our understanding of the dynamics of attitudes toward death among young Indonesian adults post-crisis as reviewed by gender, religious perception, and experiences during the pandemic.Setelah merebaknya emerging infeksius disease COVID-19 terjadi pergeseran dalam cara pandang individu emerging adulthood terhadap kematian. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran perbedaan sikap terhadap kematian berdasarkan jenis kelamin, persepsi religiusitas, dan pengalaman selama pandemi (sebagai penyintas, kehilangan orang terdekat, keduanya, atau tidak mengalami keduanya). Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan instrumen Death Attitude Profile—Revised (DAP-R) dan melibatkan 225 partisipan melalui accidental sampling. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas dewasa muda Indonesia memiliki sikap neutral acceptance (85,8%) dan approach acceptance (64,9%) yang tinggi, namun sebagian juga menunjukkan fear of death (40%) dan death avoidance (41,8%). Perempuan cenderung memiliki rasa takut terhadap kematian dan sikap menghindari kematian yang lebih tinggi daripada laki-laki, sementara sikap lainnya relatif seimbang. Berdasarkan persepsi religiusitas, kelompok religius menunjukkan skor lebih tinggi pada neutral acceptance (87,1%) dan approach acceptance (70,3%), meskipun tidak selalu lebih rendah dalam ketakutan atau penghindaran terhadap kematian dibanding kelompok non-religius. Sementara itu, berdasarkan pengalaman pandemi semua kelompok menunjukan dominasi fear of death, tetapi individu yang berduka,  dan mengalami keduanya  (menjadi penyintas dan mengalami kehilangan) menunjukkan skor acceptance lebih tinggi dibandingkan kelompok lain. Temuan ini memperkaya pemahaman dinamika sikap terhadap kematian pada dewasa muda Indonesia pasca-kriris yang ditinjau oleh jenis kelamin, persepsi agama, dan pengalaman selama pandemi.
Intolerance of Uncertainty and Psychological Distress Experienced by the First Batch of Students in the Newly Established Study Program Novita, Putri; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 11, No 1 (2023): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v11i1.9503

Abstract

Students experience symptoms of psychological distress such as difficulty sleeping, irregular eating patterns, irritability, difficulty concentrating, and feeling uneasy. The purpose of this study was to determine the relationship between intolerance of uncertainty and psychological distress in college students. The research method used was quantitative with correlational analysis, with a total of 35 participants who were first batch students of the Counseling Guidance study program at an Institute in city X. Data was collected using the DASS 42 scale with a Cronbach alpha value of 0.9483 and an intolerance scale uncertainty with a cronbach alpha value of 0.833. Based on the Pearson product moment correlation test, it is known that the value of r = 0.515 with a Sig value = 0.001 (p <0.05) means that there is a significant relationship between intolerance uncertainty and psychological distress. The higher the intolerance uncertainty, the higher the psychological distress felt by students. This research is useful for students so they don't have to worry too much about an uncertain future so they can avoid symptoms of psychological distress that can interfere with individual life.Mahasiswa mengalami gejala-gejala psychological distress seperti kesulitan tidur, pola makan tidak teratur, mudah marah, sulit berkonsentrasi, dan merasa tidak tenang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara intolerance of uncertainty dengan psychological distress pada mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan analisis korelasional, dengan jumlah 35 orang partisipan yang merupakan mahasiswa angkatan pertama program studi Bimbingan Konseling pada sebuah Institut di kota X. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala DASS 42 dengan nilai alpha cronbach sebesar 0,9483 dan skala intolerance uncertainty dengan nilai alpha cronbach sebesar 0,833. Berdasarkan uji korelasi product moment pearson diketahui nilai r = 0,515 dengan nilai Sig = 0,001 (p < 0,05) maka artinya ada hubungan yang signifikan antara intolerance uncertainty dengan psychological distress. Semakin tinggi intolerance uncertainty maka akan semakin tinggi juga psychological distress yang dirasakan mahasiswa. Penelitian ini berguna bagi mahasiswa agar tidak perlu khawatir secara berlebihan mengenai masa depan yang tidak pasti sehingga dapat terhindar dari gejala-gejala psychological distress yang bisa mengganggu kehidupan individu.
Apakah Terdapat Kaitan Antara Self Compassion dan Life Satisfaction Pada Remaja Panti Asuhan? Aulia, Cika Nurul; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 10, No 4 (2022): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v10i4.9243

Abstract

The problems that arise in orphanage adolescents are the lack of fulfillment of the need for security, complete love that should be obtained from parents and mass care carried out in orphanages. Less than optimal fulfillment of physiological needs, the sense of security and affection they get will affect the life satisfaction of adolescents living in orphanages. This study was conducted to determine the relationship between self-compassion and life satisfaction in orphanage adolescents. The method used in this study is a quantitative method with saturated sampling technique. The subjects in this study were middle teens in three orphanages in Temanggung with a sample of 35 teenagers. The measuring tool for the self-compassion variable is the Self Compassion Scale-Short Form (SCS-SF) which is translated by Lestari (2020) which consists of 12 items. The data analysis technique in this study was the assumption test and correlation test which was carried out with SPSS version 21 software. This study showed a significant relationship sig (2-tailed = 0.00) with a positive direction of relationship with a correlation coefficient of 0.698 between self-compassion and life satisfaction in orphanage youth, this means that the higher the compassion, the higher the life satisfaction of the orphanage youth.Problematika yang muncul pada remaja panti asuhan adalah kurang terpenuhinya kebutuhan rasa aman, kasih sayang utuh yang seharusnya didapatkan dari orang tua dan digantikan dengan pengasuhan massal yang dilakukan di panti asuhan. Kurang optimalnya pemenuhan kebutuhan fisiologis, rasa aman dan kasih sayang yang mereka dapatkan akan berpengaruh terhadap kepuasan hidup remaja yang tinggal di panti asuhan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dan life satisfaction pada remaja panti asuhan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan teknik sampling jenuh. Subjek dalam penelitian adalah remaja tengah di tiga panti asuhan di Temanggung dengan jumlah sample 35 remaja. Alat ukur untuk variabel self-compassion adalah Self Compassion Scale-Short Form (SCS-SF) yang diterjemahkan oleh lestari (2020) yang terdiri dari 12 item. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah uji asumsi dan uji korelasi yang dilakukan dengan software SPSS versi 21. Penelitian ini menunjukan terdapat hubungan signifikan sig (2-tailed =0,00) dengan arah hubungan yang positif dengan koefisien korelasi 0,698 antara self-compassion dan life satisfaction pada remaja panti asuhan , hal ini berarti semakin tinggi self-compassion maka semakin tinggi pula life satisfaction pada remaja panti asuhan.
Self Esteem dan Citra Tubuh Pada Wanita Dewasa Pasca Melahirkan Kumalasari, Ajeng Yunita; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 10, No 4 (2022): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v10i4.9099

Abstract

Postpartum is a period of childbirth, this causes women to experience physical changes after giving birth. Changes in body image can result in positive or negative attitudes. The development of body image is influenced by several factors, one of which is the personality factor where self-esteem is important in the development of body image. This study aimed to determine the relationship between self-esteem and body image in women after childbirth. 110 postpartum women in Salatiga are selected by accidental sampling technique. The measuring instrument in measuring self-esteem uses the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) developed by Rosenberg and adapted by Azwar (2012) consists of 10 items, while the body image scale used is the Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire-Appearance Scale. (MBSRQ-AS) adapted by Adiningsih (2016) this scale is a modification of the Cash scale which of 15 items. The results showed that there was a positive relationship between self-esteem and body image in postpartum adult women in Salatiga City with a value of r = 0.420, a significance value of 0.000, where the value is <0.05, which means the higher the level of self-esteem, the more positive the body image, or vice versa. So it can be concluded that to have a positive body image, postpartum adult women need to have high self-esteem.Postpartum merupakan periode setelah melahirkan, hal ini menyebabkan wanita mengalami perubahan fisik setelah melahirkan. Adanya perubahan citra tubuh dapat menghasilkan sikap yang positif maupun negatif. Perkembangan citra tubuh dipengaruhi oleh berberapa faktor, salah satunya faktor kepribadian dimana self-esteem merupakan hal yang penting pada perkembangan citra tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara self-esteem dengan citra tubuh pada wanita dewasa pasca melahirkan. Sampel dipilih dengan menggunakan teknik insidental sampling sebanyak 110 subjek. Alat ukur dalam mengukur self-esteem menggunakan skala Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) yang dikembangkan oleh Rosenberg dan diadaptasi oleh Azwar (2012) terdiri dari 10 item, sedangkan skala citra tubuh yang digunakan adalah skala Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire-Appearance Scale (MBSRQ-AS) diadaptasi oleh Adiningsih (2016) skala ini merupakan modifikasi dari skala Cash terdiri dari 15 item. Hasil penelitian menunjukan bahwa teradapat hubungan positif antara self esteem dengan citra tubuh pada wanita dewasa pasca melahirkan di Kota Salatiga dengan nilai r= 0,420 nilai signifikansi sebesar 0, 000 dimana nilai tersebut < 0,05, yang berarti semakin semakin tinggi tingkat harga diri yang dimiliki maka semakin positif citra tubuh, atau sebaliknya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk memiliki citra tubuh yang positif maka wanita dewasa pasca melahirkan perlu memiliki self esteem yang tinggi.
Peer Attachment dan Penyesuaian Mahasiswa Baru Fakultas Psikologi di masa Pandemi Covid-19 Javier, Reavisy; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 10, No 3 (2022): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v10i3.8356

Abstract

Beginning of college new students requires to be able to adjust well. One of factors that can effect the self adjustment to new students is peer attachment. The purpose of this study was determine the relationship between peer attachment and adjustment of new student from SWCU Faculty of Psychology during the pandemic. Subjects who used in this research where new students batch 2021 from SWCU Faculty of Psychology with a total of 161 students, which were determined using the quota sampling technique. This research is used quantitative method, scale who used to measure the peer attachment variable is Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) by Armsden & Greenberg (1987) and the scale for measure new student adjustment is the Inventory of New College Student Adjustment (INCA) developed by Watson and Lenz (2018). The results showed that there was a significant positive relationship between peer attachment and the adjustment of new SWCU Psychology Faculty students during the pandemic with a value of r = 0.532 with a significance of 0.000 (p < 0.05). So it can be concluded that to improve the adjustment of new students, they also need to build quality peer attachment. Masa awal perkuliahan mahasiswa baru dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan baik. Salah satu faktor yang mempengaruhi penyesuaian mahasiswa baru adalah peer attachment. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara peer attachment dengan penyesuaian mahasiswa baru Fakultas Psikologi UKSW di masa pandemi. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa baru angkatan 2021 Fakultas Psikologi UKSW dengan jumlah 161 mahasiswa, yang ditentukan dengan teknik quota sampling. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dengan menggunakan skala adaptasi dari Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) milik Armsden & Greenberg (1987) untuk mengukur variabel peer attachment dan skala untuk mengukur penyesuaian mahasiswa baru menggunakan Inventory of New College Student Adjustment (INCA) yang dikembangkan oleh Watson dan Lenz (2018). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif signifikan antara peer attachment dengan penyesuaian mahasiswa baru Fakultas Psikologi UKSW di masa pandemi dengan nilai r = 0,532 dengan signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan penyesuaian mahasiswa baru, mereka juga perlu membangun peer attachment yang berkualitas.
Self-Control dan Impulsive Buying Wanita Dewasa Awal Pada Masa Pandemi Charan, Yobella Yiska Pravu; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 10, No 4 (2022): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v10i4.9100

Abstract

This study is a quantitative study that aims to determine the relationship between self-control and impulsive buying of early adult women in Kudus Regency during the pandemic. The participants in this study were 111 early adult women in Kudus Regency aged 20-30 years. The sampling technique used is incidental sampling technique. The scale used in this study is the Full Self Control Scale and the Impulsive Buying Scale, and the questionnaire was distributed online. The results of the study using the Pearson Product Moment technique showed that there was a weak correlation with the direction of a negative relationship between self-control and impulsive buying, with a value of r = -0.235 with a significance value of 0.007 (p<0.05), which means the more individuals have good or high self-control, the individual's impulsive buying behavior is lower, and vice versa. So, it can be concluded that to have low impulsive buying behavior, early adult women need to have high self-control.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-control dengan impulsive buying wanita dewasa awal di Kabupaten Kudus pada masa pandemi. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 111 wanita dewasa awal di Kabupaten Kudus yang berusia 20-30 tahun. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik insidental sampling. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah Full Self Control Scale dan Impulsive Buying Scale, dan kuisioner disebarkan secara online. Hasil penelitian dengan teknik Product Moment Pearson menunjukkan adanya hubungan korelasi yang lemah dengan arah hubungan negatif antara self-control dengan impulsive buying, dengan nilai r = -0,235 dengan nilai signifikansi 0,007 (p<0,05), yang berarti semakin individu memiliki self-control yang baik/tinggi, maka semakin rendah perilaku impulsive buying, atau sebaliknya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk memiliki perilaku impulsive buying yang rendah, wanita dewasa awal perlu memiliki self-control yang tinggi.  
Hubungan antara Dukungan Sosial Keluarga dengan Quarter Life Crisis pada Mahasiswa Tingkat Akhir Setyawan, Ivana Abigail Weldiv; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 16, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v16i1.14827

Abstract

The end of college is a transitional period toward adulthood that often causes stress and anxiety about the future. Students at this stage often feel confused about determining their direction in life and facing new demands after graduation. In this situation, family social support plays an important role in providing comfort, motivation, and confidence to face change. Based on this, this study aims to determine the relationship between family social support and quarter-life crisis in final-year students. The study employed a quantitative method with a correlational design. The participants consisted of 203 final-year students obtained through accidental sampling. The instruments used included the Developmental Crisis Questionnaire (DCQ-12) (α = 0.650) to measure quarter-life crisis and the Social Support Scale (SSS) (α = 0.959) to measure family social support. Data analysis was performed using Pearson's Product Moment correlation test after fulfilling the assumptions of normality and linearity. The results of the study show a significant negative correlation between family social support and quarter life crisis (r = -0.246; p < 0.05). This means that the higher the level of family social support received by final year students, the lower the level of quarter life crisis experienced. These findings emphasize the important role of the family in helping students face the transition to adulthood with greater preparedness and emotional balance.
Co-Authors Afinnisa Rasyida Agung Setiyawan, Agung Ahat Nur Rohmah Anna Maria Aprodita, Nindya Putri Ardida, Neta Imanuela Aulia, Cika Nurul Bestin Julyan Sinaga Charan, Yobella Yiska Pravu Chaterine Beta Chandra Sheravina Dethan, Lidya Saraswati Karunia Dewi, Erviana Laksito Ellia, Seth Kenan Erika Devi Pakan Filia Dasiska Septi Arisandhi Tarigan Grenadi, Kezia Margaretha Hartono, Shelly Patricia Helen Yulia Wilfrida Henoch Setya Nugraha Hutabarat, Tabita Sammasda Ika Oktafia Ika Oktafia Intan Verutika Priscilla Baun Ivana Abigail Weldiv Setyawan Jati, Puri Puspita Javier, Reavisy Jusuf Tjahjo Purnomo Kakampu, Winston Lovevinzy Kartini Apriyuna Betty Kumalasari, Ajeng Yunita Laalah, Eunike Euangeline Trifena Laurenza, Hana LESTARI RELINDA ROMAULI RUMAPEA Litaay, Cindy Christine Maria Prima Novita Maria, Anna Mulyanto, Angeline Meisya Nesya Natasya Novita Rosa Margaretha, Made Novita, Putri Padji, Erly Marcella Pasaribu, Debbie Tiara Pinis, Eunike Margaritha Prasetyani, Renaningtyas Putri Rachel, Emanuella Rahma, Tarisa Habiba Rasyida, Afinnisa Renita Sitompul Rikumahu, Marchya Carina Exaudy Rudangta Arianti Salean, Adriani Maria Sangki, Maria Aprillia Angela Setyawan, Ivana Abigail Weldiv Sheravina, Chaterine Beta Chandra Sinaga, Bestin Julyan Situmeang, Louis Van Gall Sonny Christian Josua Sri Aryanti Kristianingsih Suprapti, Bhineska Juniar Dwi Tarigan, Filia Dasiska Septi Arisandhi Tasiabe, Hilman Richard Tasti, Dellana Panggar tifanny sischa saputri Tri, Abayomi Maleakhi Tumanan, Gabriela Vania Yus Veda Veronica Lowinsky Wijaya, Patricia Putri