Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

PERANCANGAN MUSEUM WAYANG BALI DI GIANYAR I Wayan Budiantara; Made Mariada Rijasa; Ngakan Putu Ngurah Nityasa
Jurnal Teknik Gradien Vol 12 No 1 (2020): Gradien
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknikgradien.v12i1.449

Abstract

Seni pewayangan merupakan salah satu dari berbagai warisan kebudayaan masa lampau Bangsa Indonesia yang terkenal di antara banyak karya seni budaya yang ada. Pertunjukan seni pewayangan meliputi seni suara, seni musik, seni peran, seni pahat, seni lukis, seni perlambang, dan karya sastra. Dilihat dari perjalanan sejarahnya, seni pewayangan tampak terus berkembang dari masa ke masa. Dunia pewayangan mengalami banyak perubahan dimana pada awalnya sebagai media ritual pemujaan roh leluhur kemudian berkembang sebagai media dakwah, pemahaman filsafat, pendidikan moral, penyuluhan masyarakat, hingga menjadi media hiburan belaka. Di tengah-tengah derasnya kemunculan bentuk-bentuk hiburan modern masa kini, rupanya seni pewayangan masih mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali. Di Desa Singapadu Kabupaten Gianyar Bali, teater wayang sering digelar dalam acara-acara formal maupun informal dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Untuk itu, sudah sepatutnya seni pewayangan ini dilestarikan. Salah satunya adalah dengan membuatkan sebuah fasilitas museum yang menyimpan berbagai jenis wayang yang pernah ada di Bali. Konsep desain arsitektur museum wayang ini disusun melalui tahapan proses desain yang sistematis. Studi literatur, studi instansional, hingga observasi terhadap fasilitas sejenis telah dilakukan. Metode analisis dan sistesis selalu dilakukan dalam setiap pengambilan keputusan mulai dari merumuskan spesifikasi, konsep dasar, tema rancangan, program ruang, program site, hingga konsep perancangan arsitektur museum wayang Bali. Dari hasil proses perancangan arsitektur ditentukan bahwa konsep dasar konservatif, edukatif, dan rekreatif akan menjadi landasan dalam desain yang dipadukan dengan tema Neo Vernakular dalam perwujudan bangunan museum wayang untuk menjaga kearifan lokal dan penyesuaian dengan kondisi alam lingkungan setempat. Ada empat kelompok ruang pada Museum Wayang Bali ini yaitu area pengelola, area museum, area penunjang serta area Service. Total luas ruangannya adalah 15.650 m2 dan membutuhkan luasan site sebesar 20.000 m2. Rumusan konsep perancangan arsitektur museum wayang Bali mulai dari konsep perancangan site, perancangan bangunan, struktur, dan utilitas juga akan menjadi solusi dan pertimbangan dalam desain aritektur museum wayang Bali di Desa Singapadu Gianyar.
NILAI ARSITEKTUR HIJAU PADA POLA MASSA RUMAH TRADISONAL DESA PENGLIPURAN Made Mariada Rijasa
Jurnal Teknik Gradien Vol 12 No 2 (2020): Gradien
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknikgradien.v12i2.462

Abstract

Praktik arsitektur hijau di kalangan dunia arsitektur terus dilakukan secara berkesinambungan sebagai suatu usaha kepedulian terhadap lingkungan. Hal ini disebabkan karena permasalahan lingkungan dan energi yang tiada henti dihadapi oleh dunia global. Arsitektur hijau itu sendiri dimaknai sebagai arsitektur yang berwawasan dan berlandaskan konservasi lingkungan, menekankan kepada efisiensi energi (energy-efficient), pola berkelanjutan (sustainable), dan pendekatan holistik (holistic approach). Di sisi lain, eksistensi arsitektur tradisional diakui sebagai arsitektur yang sangat peduli dengan lingkungan, seperti yang bisa dilihat dalam arsitektur tradisional rumah adat di Desa Penglipuran Bangli. Arsitektur tradisional ini dilandasi konsep-konsep kearifan lokal yang dijiwai oleh kepercayaan Hindu Bali. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan deduktif kualitatif. Dalam pendekatan ini, penyusunan kesimpulan dilakukan secara deduktif melalui proses verifikasi konsep dan standar arsitektur hijau serta konsep arsitektur rumah tradisional Bali ke dalam sebuah model pola massa rumah tradisional Penglipuran di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Hasil verifikasi ini diharapkan bisa menjelaskan hubungan teori/konsep yang ada dengan objek penelitian, yaitu melihat nilai arsitektur hijau yang ada dalam rumah tradisional Penglipuran dari sudut pandang teori arsitektur hijau. Hasil penelitian menunjukkankan bahwa pola massa rumah tradisional Penglipuran sangat sejalan dengan nilai-nilai arsitektur hijau, terutama terkait dengan efesiensi energi, konservasi air dan udara,, serta pengurangan emisi pemanasan kawasan (lingkungan).
PERANCANGAN GELANGGANG REMAJA DI DENPASAR I Putu Ariana Putra; Ida Bagus Idedhyana; Made Mariada Rijasa
Jurnal Teknik Gradien Vol 12 No 2 (2020): Gradien
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknikgradien.v12i2.463

Abstract

Pembinaan dan pengembangan generasi muda menjadi salah satu usaha yang utama dalam mewujudkan masa depan bangsa yang lebih baik. Kurangnya fasilitas untuk kegiatan remaja merupakan masalah umum yang dihadapi oleh berbagai wilayah di Indonesia. Bali dan khususnya Denpasar merupakan tempat yang sering digunakan dalam menyelenggarakan kejuaraan dengan skala nasional maupun internasional. Menurut Menteri Pendidikan dan Olahraga dalam satu kota atau kabupaten di Bali idealnya terdapat minimal dua bangunan gelanggang remaja aktif, dengan standar fasilitas yang baik (Menpora, 2018). Di kota Denpasar, fasilitas yang telah tersedia dari segi jumlah bangunan telah memenuhi persyaratan yang ada, namun dilihat dari kondisi fasilitas yang ada hampir semua bangunan GOR yang ada terlihat kurang terawat dan kurang aktif. Dengan kondisi tersebut maka dirasa perlu untuk dibuatkan rancangan Gelanggang Remaja di Denpasar, dengan menerapkan fasilitas dan manajemen yang lebih baik. Tujuan dalam perancangan Gelanggang Remaja di Denpasar ini adalah menentukan Konsep Dasar dan Tema Perancangan, Program Ruang dan Tapak, serta Konsep Perancangan Gelanggang Remaja di Denpasar dengan klasifikasi B dan memiliki ruang lingkup kota madya. Konsep dasar pada Gelanggang Remaja di Denpasar ini adalah “Edukatif dan Rekreatif”. Prinsipnya untuk menciptakan suasana pendidikan dengan kesenangan yang memberikan kenyamanan terhadap remaja, sedangkan rekreatif disini maksudnya adalah cara menanamkan fungsi pendidikannya (studi sekaligus kesenangan, bukan dengan cara pendidikan formal), sehingga menciptakan rasa ketertarikan dan menghilangkan rasa jenuh kepada remaja. Dengan didukung tema Neo Vernakular sebagai upaya dalam mewujudkan dan mempertahankan ciri khas bangunan setempat sebagai perwujudan bangunan yang memiliki unsur budaya kearifan lokal dan dipadukan dengan konsep modern. Terdapat empat kelompok ruang pada Gelanggang Remaja ini yaitu Area Pengelola, Area Komunitas Remaja, Area Penunjang serta Area Service. Site Gelanggang Remaja terletak di Jalan Drupadi, Desa Sumerta Kelod, Denpasar dengan luas sebesar 30.039 m2. Karakteristik site secara umum memiliki tingkat kebisingan sedang, beriklim tropis, berkontur relatif datar dengan Build Up Area sebesar 27.900 m2. Melalui program ruang dan program tapak kemudian ditentukan konsep perancangan, konsep Perancangan terdiri dari Konsep Site, Konsep Bangunan, Konsep Struktur dan Konsep Utilitas. Lalu dari keseluruhan konsep yang ada ditransformasikan ke dalam sebuah desain.
PERANCANGAN WISATA AIR DI GUNAKSA KLUNGKUNG, BALI Agus Wiryadhi Saidi; Made Mariada Rijasa; I Made Gusriana
Jurnal Teknik Gradien Vol 14 No 1 (2022): Jurnal Teknik Gradien
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknikgradien.v14i1.833

Abstract

Bali sebagai pusat pariwisata Indonesia bagian tengah dan sebagai salah satu daerah tujuan wisata yang terkemuka di dunia memiliki berbagai potensi yang menunjang pertumbuhan kepariwisataan mencakup potensi alam, manusia dan kebudayaan. Kabupaten Klungkung memiliki beragam potensi wisata yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata dan pemerintah Kabupaten Klungkung mulai melakukan penataan serta mengembangkan potensi wisata yang ada, dengan tujuan untuk menambah jumlah dan mutu obyek wisata, sehingga dapat menarik minat wisatawan ke Kabupaten Klungkung. Dari latar belakang masalah yang ada, dapat diidentifikasikan beberapa permasalahan yang ditemukan, dikumpulkan, dan dirumuskan yaitu perlunya pengembangan potensi wisata yang ada di Klungkung agar bisa memberikan sumbangan pendapatan yang signifikan bagi daerah berupa sebuah Perancangan Wisata Air di Gunaksa, Klungkung, Bali. Lokasi yang dipilih di kawasan galian C di desa Gunaksa dengan luas sekitar 303,31 Ha dapat dikembangkan untuk berbagai kegiatan terkait kepariwisataan, pemukiman dan fasilitas umum lainnya. Letak kawasan pasca galian C pada jalur jalan Tohpati Kusamba sehingga memiliki aksesibilitas tinggi ke kawasan lainnya di Bali. Kawasan galian C juga memiliki panorama yang unik, memiliki view laut, pulau Nusa Penida, hamparan bukit dan gunung, dan juga hamparan sawah yang luas. Konsep dasar dari Objek Wisata Air di Klungkung adalah rekreatif, edukatif, dan komersial. Sedangkan tema dari perencanaan ini adalah neo-vernacular dan metafora dengan memadukan kekayaan budaya lokal dengan gaya modern. Penulis ingin menonjolkan kekayaan budaya lokal kabupaten Klungkung yang dipadu padankan dengan gaya modern sehingga diharapkan didapat rancangan yang dinamis, elegan yang sarat dengan kekayaan lokal daerah dan rancangan tersebut dapat diwujudkan dan dikembangkan secara bertahap dan berkesinambungan.
PENGELOLAAN SAMPAH DI BANJAR TEGEH SARI KELURAHAN TONJA DENPASAR UTARA Yudistira Adnyana; Bagus Arya Wijaya; Made Mariada Rijasa
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 1 No. 9: Februari 2022
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jabdi.v1i9.1289

Abstract

The government of Denpasar City is currently carry out a source-based waste solution program. Banjar Tegeh Sari is one of the banjars in Tonja Village, East Denpasar, that has implemented a waste management program. The problems of partners from Banjar Tegeh Sari and Banjar Tegeh Sari Foundation: 1. The administrators (prajuru) of Banjar Tegeh Sari have yet a customary regulations (perarem) on waste management; 2. Residents haven’t get any information, seeding and maintenance skills as well as business opportunities for maggot cultivation. The implementation method is carried out by: phase of requirement planning, and phase of implementation. The solution to overcome the waste problem is by: making customary regulations (perarem) so that residents will comply and participate in waste management. The solution for maggot cultivation is carried out by providing training on maggot cultivation to a group of residents in Gang Sari Dewi. The implementation of the Perarem-making activities began with literature study, discussion, drafting, discussion and submission of Perarem draft on waste to be discussed and ratified in the Banjar Tegeh Sari forum (parum). The implementation of maggot cultivation activities began with library research, discussions, preparing equipment, socialization and training on maggot cultivation to the community group of Gang Sari Dewi, Banjar Tegeh Sari.
Pengembangan Desa Wisata Darmasaba Melalui Perancangan Ekowisata Jalan Usaha Tani dan DAM Tanah Putih Made Mariada Rijasa; Ni Putu Silvi; I Gusti Agung Prabandari Tri Putri; Cokorda Istri Agung Vera Nindia Putri; Ni Putu Ari Setyaningsih
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 2 (2023): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v7i2.16395

Abstract

Desa wisata sedang menjadi pengembangan yang sedang dilakukan oleh pemerintah daerah, termasuk Desa Darmasaba. Konsep sustainable architecture dan sustainable tourism mendasari perancangan ekowisata Jalan Usaha Tani (JUT) dan DAM Tanah Putih. Sustainable architecture mengarah pada penggunaan material ramah lingkungan sehingga mendukung ekowisata yang mengarah pada pelestarian lingkungan. Target utamanya adalah menarik wisatawan untuk datang ke Desa Darmasaba dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat desa. Pemilihan JUT untuk dikembangkan karena adanya fungsi tambahan yang dapat dimanfaatkan dengan baik yakni sebagai sarana berolahraga. Beberapa tahapan yang dilakukan meliputi persiapan, observasi lapangan rencana pembangunan ekowisata, perancangan gambar, sosialisasi desain yang telah selesai, serta tahap berkelanjutan. Perancangan gambar oleh tim PkM memanfaatkan sejumlah aplikasi seperti Autocad, SketchUp, Photoshop dan Lumion. Hasil dari pengabdian berupa desain jalur jogging track dan area rekreasi terbuka hijau dengan mengedepankan aspek pembangunan berwawasan lingkungan, edukasi, serta ekonomi. Pada tahap sosialisasi, perwakilan masyarakat merasa senang apabila perancangan ekowisata dapat segera direalisasikan. Program berkelanjutan akan dilaksanakan pada periode mendatang saat desain ekowisata telah mendapatkan persetujuan pembangunan.
Konsep Reconnecting With Nature pada Desain Hospitality Banyan Tree Escape Primadewi , Siluh Putu Natha; Idedhyana, Ida Bagus; Rijasa, Made Mariada
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 11 No 1 (2024): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v11i1a5

Abstract

Banyan Tree Escape is located in Payangan Gianyar Bali and has a unique design concept "no wall, no door" which is rarely found in other hospitality properties. This hospitality accommodation is designed to establish a harmonious relationship between the owner and guests and re-establish the relationship between humans and the natural environment, resulting in friendly service and a pleasant atmosphere. The hospitality industry requires the presence of nature, repeated and continuous engagement with nature is very important, creating an atmosphere of relaxation that can reduce stress and provide a new sense of healthy wellness. Incorporating nature and culture into property design in the hospitality industry also aims to achieve the Sustainable Development Goals. This research aims to examine concepts that can be applied to achieve a connection with nature and sustainability goals in hospitality design. The descriptive qualitative method of case study is used in this research, guided by the concept of Reconnecting with Nature for Sustainability, followed by Biodiversity Inclusive Design analysis, Nature Climate analysis, and Vernacular Lifestyle analysis. The results show that the concept of the Biodiversity Inclusive Design approach is carried out by maintaining the condition of biodiversity, imitating the characteristics of the original/local habitat (the original habitat of Buahan Village), and the application of biophilic architecture. The concept of natural climate is applied with a combination of tropical architecture and local architecture. The Vernacular Lifestyle concept is carried out by adopting the cultural context and traditional Balinese architecture in responding to routine and boredom into relaxation.
Perancangan Gelanggang Remaja di Kabupaten Karangasem Bali Pranata, I Wayan Gede Mega; Rijasa, Made Mariada; Primadewi, Siluh Putu Natha
ARCHIHUMANUM Vol 3 No 1 (2025): April
Publisher : CV. Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/archimane.v3i1.128

Abstract

Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa, dimana remaja sedang senangnya mencari jati diri melakukan eksplorasi hal yang disukai. Aktivitas olahraga, penyaluran bakat dan seni sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan remaja. GOR Gunung Agung memiliki beberapa fasilitas yaitu, lapangan voli, lapangan sepak bola, lapangan bulu tangkis, lapangan panjat tebing, kolam renang dan lapangan basket. Rata-rata kondisi masing-masing lapangan tersebut mengalami kerusakan sedang hingga parah. Keberadaan gelanggang remaja di Kabupaten Karangasem ini nantinya bisa menjadi pemusatan keaktifan remaja dalam menampung dan menyalurkan minat serta bakat para remaja dengan memanfaatkan sarana prasarana yang ada didalamnya. Dilihat dari fungsingnya, Perancangan Gelanggang Remaja di Kabupaten Karangasem mengunakan tema Neo-Vernacular yang memiliki arti bentuk-bentuk bangunan setempat atau tradisional yang dikombinasikan dengan bentuk modern. Hasil dari analisa sebelumnya akan menghasilkan pelaku kegiatan yang terdiri dari pengunjung, dan pengelola. Setelah itu akan menghasilkan program ruang yang terbagi menjadi tiga bagian ruang yaitu ruang utama, ruang penunjang dan ruang servis dengan total besaran ruang sekitar 34.819.93 m2. Berdasarkan Analisa kebutuhan lahan, maka lahan yang direncanakan memiliki luasan sekitar 87.049,825 m2 atau 8.704.9825 ha. Kemudian setelah melalui beberapa proses analisa sebelumnya maka akan terciptanya konsep perancangan bangunan gelanggang remaja di Kabupaten Karangasem yang terdiri dari konsep perancangan tapak, konsep perancangan bangunan, konsep struktur, konsep perancangan utilitas, dan konsep perancangan zoning, dan blok plan.
TRANSFORMASI DIGITAL DALAM PROMOSI REAL ESTATE: ANALISIS IMPLEMENTASI AUGMENTED REALITY PADA KARYA MAHASISWA ARSITEKTUR SEBAGAI REPRESENTASI INOVASI DIGITAL NATIVE Dedi Suardika, I Made; Prarabda Karma, Made; Ratna Witari, Made; Mariada Rijasa, Made
Akses: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Ngurah Rai Vol 17 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70358/jurnalakses.v17i1.1516

Abstract

This study analyzes the implementation of Augmented Reality (AR) technology inarchitecture students' works in Real Estate courses as a representation of digital nativereadiness to face digital transformation in the property industry. Using a mixed-methodapproach with sequential explanatory design on three student projects: Skandinavilla (Villa27), Modern Villa Seminyak, and Sundara Town House. Analysis was conducted throughcontent analysis, comparative analysis, and thematic analysis. Results show that all threeprojects demonstrated consistency in using QR codes as AR gateway with varied promotionstrategies. Students showed high digital fluency with excellent to good technical integration,high content quality, and excellent marketing alignment. Digital native architecture studentshave developed significant digital competencies in integrating AR technology, reflectingreadiness to contribute to Indonesia's real estate industry digital transformation.
Application of the Bale Meten Architectural Concept on the Spatial Order Jeroan of Pura Mertasari Denpasar Mahaputra, Bayu; Mariada Rijasa, Made; WItarka Yudiata, Ketut
ASTONJADRO Vol. 12 No. 1 (2023): ASTONJADRO
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/astonjadro.v12i1.8551

Abstract

Pura Mertasari is a temple located on Jalan Kepundung, Denpasar-Bali. The spatial concept of this temple is tri mandala, with the main zone functioning as the offal, the middle zone functioning as the middle jaba and the nista zone functioning as the jaba sisi. However, in addition to the macro spatial division, the uniqueness of the micro spatial division of the jeroan pura was found. The spatial division in the jeroan of this temple is called the architectural concept of bale meten. The bale meten architectural concept is a unique concept. However, a problem was found, namely there has been no similar research that examines this concept. Thus, departing from the aim of enriching scientific studies of Balinese architecture which is applied to the spatial of temples and the desire to study the architectural concept of bale meten on the spatial of temple innards scientifically, this research needs to be carried out. So that in the future this research can be used as reading material and knowledge about the application of the architectural concept of bale meten in the spatial of temple innards. This research method is descriptive qualitative with a case study approach. The result of the research is that the innards of the temple are manifested like the concept of the bale meten space. This finding is confirmed by the division of three elements of the spatial hierarchy, namely the main function as gedong in the bale meten and as a spatial pelinggih on the innards of the temple, madya as the terrace of the owner of the house in the bale meten and as the canopy of pelinggih / place to put ceremonial facilities on the innards of the temple, and nista as the visitor's terrace in the bale meten and as a place for pengempon in the jeroan of pura.