Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

PERANCANGAN MUSEUM WAYANG BALI DI GIANYAR I Wayan Budiantara; Made Mariada Rijasa; Ngakan Putu Ngurah Nityasa
Jurnal Teknik Gradien Vol 12 No 1 (2020): Gradien
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknikgradien.v12i1.449

Abstract

Seni pewayangan merupakan salah satu dari berbagai warisan kebudayaan masa lampau Bangsa Indonesia yang terkenal di antara banyak karya seni budaya yang ada. Pertunjukan seni pewayangan meliputi seni suara, seni musik, seni peran, seni pahat, seni lukis, seni perlambang, dan karya sastra. Dilihat dari perjalanan sejarahnya, seni pewayangan tampak terus berkembang dari masa ke masa. Dunia pewayangan mengalami banyak perubahan dimana pada awalnya sebagai media ritual pemujaan roh leluhur kemudian berkembang sebagai media dakwah, pemahaman filsafat, pendidikan moral, penyuluhan masyarakat, hingga menjadi media hiburan belaka. Di tengah-tengah derasnya kemunculan bentuk-bentuk hiburan modern masa kini, rupanya seni pewayangan masih mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali. Di Desa Singapadu Kabupaten Gianyar Bali, teater wayang sering digelar dalam acara-acara formal maupun informal dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Untuk itu, sudah sepatutnya seni pewayangan ini dilestarikan. Salah satunya adalah dengan membuatkan sebuah fasilitas museum yang menyimpan berbagai jenis wayang yang pernah ada di Bali. Konsep desain arsitektur museum wayang ini disusun melalui tahapan proses desain yang sistematis. Studi literatur, studi instansional, hingga observasi terhadap fasilitas sejenis telah dilakukan. Metode analisis dan sistesis selalu dilakukan dalam setiap pengambilan keputusan mulai dari merumuskan spesifikasi, konsep dasar, tema rancangan, program ruang, program site, hingga konsep perancangan arsitektur museum wayang Bali. Dari hasil proses perancangan arsitektur ditentukan bahwa konsep dasar konservatif, edukatif, dan rekreatif akan menjadi landasan dalam desain yang dipadukan dengan tema Neo Vernakular dalam perwujudan bangunan museum wayang untuk menjaga kearifan lokal dan penyesuaian dengan kondisi alam lingkungan setempat. Ada empat kelompok ruang pada Museum Wayang Bali ini yaitu area pengelola, area museum, area penunjang serta area Service. Total luas ruangannya adalah 15.650 m2 dan membutuhkan luasan site sebesar 20.000 m2. Rumusan konsep perancangan arsitektur museum wayang Bali mulai dari konsep perancangan site, perancangan bangunan, struktur, dan utilitas juga akan menjadi solusi dan pertimbangan dalam desain aritektur museum wayang Bali di Desa Singapadu Gianyar.
NILAI ARSITEKTUR HIJAU PADA POLA MASSA RUMAH TRADISONAL DESA PENGLIPURAN Made Mariada Rijasa
Jurnal Teknik Gradien Vol 12 No 2 (2020): Gradien
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknikgradien.v12i2.462

Abstract

Praktik arsitektur hijau di kalangan dunia arsitektur terus dilakukan secara berkesinambungan sebagai suatu usaha kepedulian terhadap lingkungan. Hal ini disebabkan karena permasalahan lingkungan dan energi yang tiada henti dihadapi oleh dunia global. Arsitektur hijau itu sendiri dimaknai sebagai arsitektur yang berwawasan dan berlandaskan konservasi lingkungan, menekankan kepada efisiensi energi (energy-efficient), pola berkelanjutan (sustainable), dan pendekatan holistik (holistic approach). Di sisi lain, eksistensi arsitektur tradisional diakui sebagai arsitektur yang sangat peduli dengan lingkungan, seperti yang bisa dilihat dalam arsitektur tradisional rumah adat di Desa Penglipuran Bangli. Arsitektur tradisional ini dilandasi konsep-konsep kearifan lokal yang dijiwai oleh kepercayaan Hindu Bali. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan deduktif kualitatif. Dalam pendekatan ini, penyusunan kesimpulan dilakukan secara deduktif melalui proses verifikasi konsep dan standar arsitektur hijau serta konsep arsitektur rumah tradisional Bali ke dalam sebuah model pola massa rumah tradisional Penglipuran di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Hasil verifikasi ini diharapkan bisa menjelaskan hubungan teori/konsep yang ada dengan objek penelitian, yaitu melihat nilai arsitektur hijau yang ada dalam rumah tradisional Penglipuran dari sudut pandang teori arsitektur hijau. Hasil penelitian menunjukkankan bahwa pola massa rumah tradisional Penglipuran sangat sejalan dengan nilai-nilai arsitektur hijau, terutama terkait dengan efesiensi energi, konservasi air dan udara,, serta pengurangan emisi pemanasan kawasan (lingkungan).
PERANCANGAN GELANGGANG REMAJA DI DENPASAR I Putu Ariana Putra; Ida Bagus Idedhyana; Made Mariada Rijasa
Jurnal Teknik Gradien Vol 12 No 2 (2020): Gradien
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknikgradien.v12i2.463

Abstract

Pembinaan dan pengembangan generasi muda menjadi salah satu usaha yang utama dalam mewujudkan masa depan bangsa yang lebih baik. Kurangnya fasilitas untuk kegiatan remaja merupakan masalah umum yang dihadapi oleh berbagai wilayah di Indonesia. Bali dan khususnya Denpasar merupakan tempat yang sering digunakan dalam menyelenggarakan kejuaraan dengan skala nasional maupun internasional. Menurut Menteri Pendidikan dan Olahraga dalam satu kota atau kabupaten di Bali idealnya terdapat minimal dua bangunan gelanggang remaja aktif, dengan standar fasilitas yang baik (Menpora, 2018). Di kota Denpasar, fasilitas yang telah tersedia dari segi jumlah bangunan telah memenuhi persyaratan yang ada, namun dilihat dari kondisi fasilitas yang ada hampir semua bangunan GOR yang ada terlihat kurang terawat dan kurang aktif. Dengan kondisi tersebut maka dirasa perlu untuk dibuatkan rancangan Gelanggang Remaja di Denpasar, dengan menerapkan fasilitas dan manajemen yang lebih baik. Tujuan dalam perancangan Gelanggang Remaja di Denpasar ini adalah menentukan Konsep Dasar dan Tema Perancangan, Program Ruang dan Tapak, serta Konsep Perancangan Gelanggang Remaja di Denpasar dengan klasifikasi B dan memiliki ruang lingkup kota madya. Konsep dasar pada Gelanggang Remaja di Denpasar ini adalah “Edukatif dan Rekreatif”. Prinsipnya untuk menciptakan suasana pendidikan dengan kesenangan yang memberikan kenyamanan terhadap remaja, sedangkan rekreatif disini maksudnya adalah cara menanamkan fungsi pendidikannya (studi sekaligus kesenangan, bukan dengan cara pendidikan formal), sehingga menciptakan rasa ketertarikan dan menghilangkan rasa jenuh kepada remaja. Dengan didukung tema Neo Vernakular sebagai upaya dalam mewujudkan dan mempertahankan ciri khas bangunan setempat sebagai perwujudan bangunan yang memiliki unsur budaya kearifan lokal dan dipadukan dengan konsep modern. Terdapat empat kelompok ruang pada Gelanggang Remaja ini yaitu Area Pengelola, Area Komunitas Remaja, Area Penunjang serta Area Service. Site Gelanggang Remaja terletak di Jalan Drupadi, Desa Sumerta Kelod, Denpasar dengan luas sebesar 30.039 m2. Karakteristik site secara umum memiliki tingkat kebisingan sedang, beriklim tropis, berkontur relatif datar dengan Build Up Area sebesar 27.900 m2. Melalui program ruang dan program tapak kemudian ditentukan konsep perancangan, konsep Perancangan terdiri dari Konsep Site, Konsep Bangunan, Konsep Struktur dan Konsep Utilitas. Lalu dari keseluruhan konsep yang ada ditransformasikan ke dalam sebuah desain.
PERANCANGAN WISATA AIR DI GUNAKSA KLUNGKUNG, BALI Agus Wiryadhi Saidi; Made Mariada Rijasa; I Made Gusriana
Jurnal Teknik Gradien Vol 14 No 1 (2022): Jurnal Teknik Gradien
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknikgradien.v14i1.833

Abstract

Bali sebagai pusat pariwisata Indonesia bagian tengah dan sebagai salah satu daerah tujuan wisata yang terkemuka di dunia memiliki berbagai potensi yang menunjang pertumbuhan kepariwisataan mencakup potensi alam, manusia dan kebudayaan. Kabupaten Klungkung memiliki beragam potensi wisata yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata dan pemerintah Kabupaten Klungkung mulai melakukan penataan serta mengembangkan potensi wisata yang ada, dengan tujuan untuk menambah jumlah dan mutu obyek wisata, sehingga dapat menarik minat wisatawan ke Kabupaten Klungkung. Dari latar belakang masalah yang ada, dapat diidentifikasikan beberapa permasalahan yang ditemukan, dikumpulkan, dan dirumuskan yaitu perlunya pengembangan potensi wisata yang ada di Klungkung agar bisa memberikan sumbangan pendapatan yang signifikan bagi daerah berupa sebuah Perancangan Wisata Air di Gunaksa, Klungkung, Bali. Lokasi yang dipilih di kawasan galian C di desa Gunaksa dengan luas sekitar 303,31 Ha dapat dikembangkan untuk berbagai kegiatan terkait kepariwisataan, pemukiman dan fasilitas umum lainnya. Letak kawasan pasca galian C pada jalur jalan Tohpati Kusamba sehingga memiliki aksesibilitas tinggi ke kawasan lainnya di Bali. Kawasan galian C juga memiliki panorama yang unik, memiliki view laut, pulau Nusa Penida, hamparan bukit dan gunung, dan juga hamparan sawah yang luas. Konsep dasar dari Objek Wisata Air di Klungkung adalah rekreatif, edukatif, dan komersial. Sedangkan tema dari perencanaan ini adalah neo-vernacular dan metafora dengan memadukan kekayaan budaya lokal dengan gaya modern. Penulis ingin menonjolkan kekayaan budaya lokal kabupaten Klungkung yang dipadu padankan dengan gaya modern sehingga diharapkan didapat rancangan yang dinamis, elegan yang sarat dengan kekayaan lokal daerah dan rancangan tersebut dapat diwujudkan dan dikembangkan secara bertahap dan berkesinambungan.
Interpretation of the Bedawang Nala ornament located on the base of Pura Pabean in Buleleng Regency Indonesia Ida Bagus Idedhyana; Made Mariada Rijasa
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 7 No 2 (2022): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Mei 2022 ~ Agustus 2022
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v7i2.1721

Abstract

Pura (temple) is a sacred place for the Hindus in Bali, such as Pura Pabean, which is included in pura kahyangan jagat (temple for all people). Pura Pabean is located on the northern part of the main Singaraja-Gilimanuk road, Banyupoh Village, Gerokgak Sub-district, Buleleng Regency, Indonesia. The area also extends into the ocean and is positioned on steep rocky terrain. Unlike other Pura in Bali, this temple stands on the base of an ornament, as a Bedawang Nala (cosmic tortoise) with two dragons (serpents) wrapped around the body. The embodiments of the tortoise and the two dragons are the essential parts of the temple, with their heads overlooking the ocean. Therefore, this study aims to examine the interpretation of Bedawang Nala, as the Hindu icon located on the base of Pura Pabean. In this analysis, Capon's theory was developed and combined with the stages of the hermeneutic method. The analyzed Bedawang Nala was also a combination of Akupara (tortoise) with Vedava-nala (cosmic fire/fire of the apocalypse). This indicated that the body was similar to that of a tortoise, with the head being observed as a cosmic fire resembling the figure of a mare. The results showed that Bedawang functioned as an aesthetic and symbolic ornament, which depicted the bhu mandala (earth or region) in the middle of the ocean. This was a description of God's position in His manifestation, as the ruler of ports, trade, and water flow. These results are expected to develop the traditional Balinese architecture in the present and future activities and performances.
PENGELOLAAN SAMPAH DI BANJAR TEGEH SARI KELURAHAN TONJA DENPASAR UTARA Yudistira Adnyana; Bagus Arya Wijaya; Made Mariada Rijasa
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 1 No. 9: Februari 2022
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jabdi.v1i9.1289

Abstract

The government of Denpasar City is currently carry out a source-based waste solution program. Banjar Tegeh Sari is one of the banjars in Tonja Village, East Denpasar, that has implemented a waste management program. The problems of partners from Banjar Tegeh Sari and Banjar Tegeh Sari Foundation: 1. The administrators (prajuru) of Banjar Tegeh Sari have yet a customary regulations (perarem) on waste management; 2. Residents haven’t get any information, seeding and maintenance skills as well as business opportunities for maggot cultivation. The implementation method is carried out by: phase of requirement planning, and phase of implementation. The solution to overcome the waste problem is by: making customary regulations (perarem) so that residents will comply and participate in waste management. The solution for maggot cultivation is carried out by providing training on maggot cultivation to a group of residents in Gang Sari Dewi. The implementation of the Perarem-making activities began with literature study, discussion, drafting, discussion and submission of Perarem draft on waste to be discussed and ratified in the Banjar Tegeh Sari forum (parum). The implementation of maggot cultivation activities began with library research, discussions, preparing equipment, socialization and training on maggot cultivation to the community group of Gang Sari Dewi, Banjar Tegeh Sari.
Desain Ruang Parahyangan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Berkonsep Ekologi Frysa Wiriantari; Made Mariada Rijasa
Jurnal Ilmiah Vastuwidya Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Mahendradatta Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47532/jiv.v6i1.785

Abstract

Parahyangan atau yang lebih dikenal dengan sebutan pura merupakan sebuah ruang atau wadah tempat masyarakat Hindu Bali melakukan aktivitas untuk menjalankan sradha bakti kepada Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Parahyangan sebagai tempat suci acapkali dilupakan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. Saat ini pembangunan masih berorientasi pada fasilitas fasilitas untuk masyarakat skala luas dan mengesampingkan kaum minoritas. Di Bali sendiri keberadaan parahyangan memegang nilai vital dan merupakan jiwa bagi masyarakat Hindu, sehingga keberadaannya patut untuk dilestarikan. Fenomena diataslah yang menjadi dasar diangkatnya penelitian ini, bahwa sangat penting untuk menjaga dan melibatkan tata ruang parahyangan/pura dalam konsep pembangunan berkelanjutan. Ruang lingkup penelitian terbatas pada bentuk, fungsi dan makna dari ruang parahyangan dalam kaitannya dengan pembangunan keberlanjutan. Penelitian ini menggunakan metode descriptive kualitatif, dengan memfokuskan pencarian data melalui observasi dan wawancara mendalam dengan berbagai pihak yang diyakini mampu mewakili masyarakat untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang ada.Dari hasil penelitian di peroleh bahwa Tri Hita Karana sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam tata ruang dan kehidupan masyarakat Hidu Bali juga tercermin dalam tata ruang parahyangan yakni terdapatnya tiga pembagian ruang berupa Jaba sisi, jaba tengah dan jeroan. Serta adanya bentuk parahyangan yang menyesuaikan dengan orientasi matahari dan sumbu bumi sebagai poros dunia. Bagian tersuci dari parahyangan merupakan arah terbitnya matahari sebagai makna kemakmuran dan juga merupakan tempat tertinggi sebagai makna tempat yang disucikan dan tempat berstananya para Dewa.Sebagai wadah untuk menunjukkan sradha bakti kepada Tuhan sebagai pencipta alam semesta, nilai nilai dan makna simbolik merupakan makna yang paling dirasakan dan diakui oleh masyarakat mengenai keberadaan parahyangan. Penggunaan material dari alam dan keberadaan ruang terbuka akan menciptakan iklim mikro memberikan kenyaman bagi masyarakat yang berada di sekitarnya. Terpenuhinya aspek ekonomi, social dan budaya dalam ruang parahyangan menjadikan ruang skala meso ini sangat layak sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. 
Pengembangan Desa Wisata Darmasaba Melalui Perancangan Ekowisata Jalan Usaha Tani dan DAM Tanah Putih Made Mariada Rijasa; Ni Putu Silvi; I Gusti Agung Prabandari Tri Putri; Cokorda Istri Agung Vera Nindia Putri; Ni Putu Ari Setyaningsih
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 2 (2023): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v7i2.16395

Abstract

Desa wisata sedang menjadi pengembangan yang sedang dilakukan oleh pemerintah daerah, termasuk Desa Darmasaba. Konsep sustainable architecture dan sustainable tourism mendasari perancangan ekowisata Jalan Usaha Tani (JUT) dan DAM Tanah Putih. Sustainable architecture mengarah pada penggunaan material ramah lingkungan sehingga mendukung ekowisata yang mengarah pada pelestarian lingkungan. Target utamanya adalah menarik wisatawan untuk datang ke Desa Darmasaba dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat desa. Pemilihan JUT untuk dikembangkan karena adanya fungsi tambahan yang dapat dimanfaatkan dengan baik yakni sebagai sarana berolahraga. Beberapa tahapan yang dilakukan meliputi persiapan, observasi lapangan rencana pembangunan ekowisata, perancangan gambar, sosialisasi desain yang telah selesai, serta tahap berkelanjutan. Perancangan gambar oleh tim PkM memanfaatkan sejumlah aplikasi seperti Autocad, SketchUp, Photoshop dan Lumion. Hasil dari pengabdian berupa desain jalur jogging track dan area rekreasi terbuka hijau dengan mengedepankan aspek pembangunan berwawasan lingkungan, edukasi, serta ekonomi. Pada tahap sosialisasi, perwakilan masyarakat merasa senang apabila perancangan ekowisata dapat segera direalisasikan. Program berkelanjutan akan dilaksanakan pada periode mendatang saat desain ekowisata telah mendapatkan persetujuan pembangunan.
Signifikansi ekspresi nilai simbol budaya peciren bebadungan pada desain fasad bangunan publik di Bali I Kadek Pranajaya; Made Mariada Rijasa; Ni Made Emmi Nutrisia Dewi
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 8 No 1 (2023): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Januari 2023 ~ April 2023
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v8i1.1916

Abstract

There is a need to preserve areas with distinct identities by utilizing several local architectural potentials to develop their appearances. One example of this is in the Denpasar and Badung regions of Bali, where the use of peciren bebadungan ornaments is currently being applied to shape their respective identities. The peciren bebadungan is an expression of brick tectonics with strong, hard, and simple characteristics. However, it has been observed that the designs of some public building facades in Bali were produced without due consideration for the meaning and philosophy of these ornaments. Therefore, this research was conducted to examine and analyze the importance of the cultural value symbol expression associated with the peciren bebadungan in Bali using a qualitative exploration method. The findings showed the implementation of the style on several public buildings in Bali, specifically in Denpasar City and Badung Regency, in combination with contemporary designs. Some others also apply the style but with incomplete implementation and modification through a simpler and more minimalistic concept. This was observed to have eliminated the inherent meaning and cultural symbol value. Therefore, it is recommended that the government, architects, as well as the entire community, need to play a very important role in preserving the peciren bebadungan cultural value symbol expression.
PUSAT PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN KESENIAN TRADISIONAL LOMBOK DI PRAYA Ari Hidayat; Made Mariada Rijasa; Ayu Putu Utari Parthami Lestari
Jurnal Anala Vol 12 No 1 (2024): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.12.1.1474.1-13

Abstract

Secara umum, kebudayaan NTB terdiri dari tiga suku asli utama, yakni suku sasak di Lombok, suku Mbojo di Bima dan Dompu, suku Samawa di Sumbawa. Kebudayaan suku sasak di Lombok mengalami penurunan minat generasi muda untuk menekuni kesenian tradisional. Untuk menyokong pelestarian dan pengembangan kesenian tradisional maka dibutuhkan gedung Pusat Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Tradisional Lombok di Praya, karena jarangnya pertunjukan menyebabkan tradisi Lombok ini berangsur-angsur dilupakan sehingga kepandaian-kepandaian teknik tradisionil yang merupakan salah satu ciri kepribadian setempat, juga terdampak. Agar bisa merangkum kebudayaan Lombok, dan dapat mempermudah akses wisatawan untuk melihat sekaligus mengenal kebudayaan Lombok. Fasilitas ini juga bertujuan untuk memberi informasi sekaligus pengembangan, pelestarian dan juga memperkenalkan kebudayaan Lombok sesuai dengan aspek kebudayaan Lombok meliputi keseniaan serta bangunan adat Lombok merupakan bagian dari wujud kebudayaan. Melalui metode desktiptif pada studi kasus di taman budaya NTB. Kata kunci: Pusat Kesenian, Kesenian tradisional Lombok, Neo Vernakular