Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Pengembangan Desa Wisata Darmasaba Melalui Perancangan Ekowisata Jalan Usaha Tani dan DAM Tanah Putih Rijasa, Made Mariada; Silvi, Ni Putu; Putri, I Gusti Agung Prabandari Tri; Putri, Cokorda Istri Agung Vera Nindia; Setyaningsih, Ni Putu Ari
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 2 (2023): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v7i2.16395

Abstract

Desa wisata sedang menjadi pengembangan yang sedang dilakukan oleh pemerintah daerah, termasuk Desa Darmasaba. Konsep sustainable architecture dan sustainable tourism mendasari perancangan ekowisata Jalan Usaha Tani (JUT) dan DAM Tanah Putih. Sustainable architecture mengarah pada penggunaan material ramah lingkungan sehingga mendukung ekowisata yang mengarah pada pelestarian lingkungan. Target utamanya adalah menarik wisatawan untuk datang ke Desa Darmasaba dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat desa. Pemilihan JUT untuk dikembangkan karena adanya fungsi tambahan yang dapat dimanfaatkan dengan baik yakni sebagai sarana berolahraga. Beberapa tahapan yang dilakukan meliputi persiapan, observasi lapangan rencana pembangunan ekowisata, perancangan gambar, sosialisasi desain yang telah selesai, serta tahap berkelanjutan. Perancangan gambar oleh tim PkM memanfaatkan sejumlah aplikasi seperti Autocad, SketchUp, Photoshop dan Lumion. Hasil dari pengabdian berupa desain jalur jogging track dan area rekreasi terbuka hijau dengan mengedepankan aspek pembangunan berwawasan lingkungan, edukasi, serta ekonomi. Pada tahap sosialisasi, perwakilan masyarakat merasa senang apabila perancangan ekowisata dapat segera direalisasikan. Program berkelanjutan akan dilaksanakan pada periode mendatang saat desain ekowisata telah mendapatkan persetujuan pembangunan.
PUSAT OTOMOTIF DI DENPASAR Yasa, I Made Dwi; Saidi, Agus Wiryadhi; Rijasa, Made Mariada
Jurnal Teknik Gradien Vol 8 No 1 (2016): Gradien
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan dunia otomotif di Bali khususnya Kota Denpasar dan sekitarnya membawa dampak pada kehidupan sosial masyarakat. Berbagai aktifitas dan kreatifitas otomotif telah masuk ke dalam aspek kehidupan masyarakat, sehingga menjadi trend serta gaya hidup masa kini. Minat masyarakat perkotaan akan kebutuhan produk otomotif meningkat secara kuantitas namun turun dari segi kualitas pelayanan. Di Kota Denpasar dan sekitarnya sampai saat ini belum ada pelayanan fasilitas otomotif dalam satu wadah yang dapat memberikan berbagai pelayanan mengenai dunia otomotif yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Pusat Otomotif adalah suatu wadah untuk menampung berbagai aktivitas yang berkaitan dengan otomotif. Pusat otomotif digunakan untuk memperkenalkan, memberikan informasi, memperlihatkan produk dan jasa otomotif serta segala kelengkapannya. Pusat otomotif sebagai suatu wadah bertemunya para pecinta otomotif yang berhubungan dengan kreatifitas, hiburan/rekreasi, sportifitas serta kegemaran atau hobi otomotif. Dalam perancangan “Pusat Otomotif di Denpasar” menggunakan metode pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, studi literatur, dan studi banding. Data-data yang telah terkumpul, diproses melalui kompilasi, analisis dan sintesis, sehingga dihasilkan spesifikasi umum dan spesifikasi khusus Pusat Otomotif di Denpasar. Adapun lokasi site untuk fasilitas ini dipilihdi Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Denpasar Utara. Program perancangan arsitektur, konsep dasar rancangan (dinamis, modern, dan rekreatif), serta tema rancangan (neo plasticisme)menjadi pedoman dalam penyusunan landasan konsepsual perancangan Pusat Otomotif di Denpasar ini, yang kemudian ditransformasi menjadi sebuah desain “Pusat Otomotif di Denpasar”.
IMPLEMENTASI DESAIN STREET FURNITURE DI KAWASAN PESISIR SANUR Jaya, I Kadek Prana; Wiriantari, Frysa; Rijasa, Made Mariada
Narada : Jurnal Desain dan Seni Vol 11, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/narada.2024/v11.i3.008

Abstract

Kawasan pesisir Sanur telah dilakukan penataan fasilitas meliputi pintu utama, jalur pedestrian, jalur bersepeda, dan penataaan kios, dan warung yang tersinkronisasi dengan desain penataan perabot jalan (street furniture). Wilayah pesisir Sanur seharusnya berfungsi sebagai penyangga alam dan tata lingkungan pantai, namun belum dapat memenuhi kriteria ruang publik bagi kepentingan masyarakat dan belum mampu memenuhi prinsip penataan lingkungan yang berkelanjutan, estetis, dan ramah pengguna.Penelitianini bertujuan untuk mengkaji implementasidesainstreet furnituredi kawasan pesisir Sanur dan menganalisis implikasistreet furnituredi kawasan pesisir Sanur terhadap peningkatan estetika, karakter, dan citra kawasan. Metode penelitian menggunakan metode eksplorasi kualitatif melalui pendekatan studi kasus dan dengan analisis reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ditemukan bahwa penerapan desain street furniture belum sepenuhnya menerapkan kaidah dan standar dan belum dapat memberikan informasi dan orientasi yang  baik, memperjelas identitas, integrasi kawasan, dan keterpaduan kawasan. Implikasi penataan lingkungan dan street furnituredi kawasan pesisir Sanur terhadap peningkatan estetika, karakter, dan citra dan untuk pelayanan publik tidak begitu signifikan memberikan perubahan kearah yang lebih baik. Fungsi keamanan, kenyamanan, fungsi estetik, dan belum memberikan dampak positif terhadap keterpaduan fungsi dan citra kawasan. 
DESAIN RUANG PARAHYANGAN UNTUK PEMBANGUNANBERKELANJUTAN BERKONSEP EKOLOGI Frysa Wiriantari; Made Mariada Rijasa
Jurnal Ilmiah Vastuwidya Vol. 6 No. 1 (2023): Jurnal Ilmiah Vastuwidya
Publisher : Universitas Mahendradatta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruang Parahyangan atau yang lebih dikenal dengan sebutan pura merupakansebuah ruang atau wadah tempat masyarakat Hindu Bali melakukan aktivitas untukmenjalankan sradha bakti kepada Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Parahyangansebagai tempat suci acapkali dilupakan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.Saat ini pembangunan masih berorientasi pada fasilitas fasilitas untuk masyarakat skalaluas dan mengesampingkan kaum minoritas. Di Bali sendiri keberadaan parahyanganmemegang nilai vital dan merupakan jiwa bagi masyarakat Hindu, sehingga keberadaannyapatut untuk dilestarikan. Pembangunan fisik yang sekecil apapun akan memberikandampak terhadap lingkungan, sehingga sangat penting untuk menerapkan konsep ekologidalam setiap lini pembangunan. Konsep ekologi merupakan metode dalam menciptakanlingkungan hidup yang berkelanjutan dan bisa berdampingan dengan makhluk hidup lai n.Penelitian ini didasarkan pada keinginan untuk menciptakan atau menghasilkan ecoproduct berupa ruang parahyangan yang menerapkan konsep ekologi dalampembangunannya, sehingga mampu bersinergi dengan tujuan pembangunan nasional yangberkesinambungan dan ramah lingkungan. Pembangunan khususnya pembangunan fisikselayaknya memiliki orientasi utama pada pembangunan yang memperhatikankeseimbangan alam dan lingkungan buatan yang harmoni antara lingkungan, manusia danbangunan. Ruang lingkup penelitian terbatas pada bentuk, fungsi dan makna dari ruangparahyangan dalam kaitannya dengan konsep ekologi. Penelitian ini menggunakan metodedescriptive kualitatif, dengan memfokuskan pencarian data melalui observasi danwawancara mendalam dengan berbagai pihak yang diyakini mampu mewakili masyarakatuntuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang ada.Dari hasil penelitian desain eko product pada ruang parahyangan di peroleh denganpenerapan konsep ekologi pada parahyangan, dicerminkan dari Tri Hita Karana sebagaibagian yang tidak terpisahkan dalam konsep tata ruang dan kehidupan masyarakat HinduBali. Pembagian ruang menjadi tiga bagian menyesuaikan dengan konsep alam yaituorientasi matahari dan sumbu bumi sebagai poros dunia. Bagian tersuci dari parahyanganmerupakan arah terbitnya matahari sebagai makna kemakmuran dan juga merupakantempat tertinggi sebagai makna tempat yang disucikan dan tempat berstananya paraDewa. Penggunaan material dari alam dan keberadaan ruang terbuka akan menciptakaniklim mikro memberikan kenyaman bagi masyarakat yang berada di sekitarnya. Tanamansarana upakara di letakkan pada sudut sudut parahyangan, selain sebagai elemenestetika, juga merupakan upaya untuk melestarikan jenis tanaman tertentu. Secara umumpenerapan konsep ekologi tercermin dari sinergi ruang parahyangan dengan alam yangmemungkinkan alam dapat berkembang dan mempertahankan jaring kehidupansebagaimana adanya.
PUSAT PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN KESENIAN TRADISIONAL LOMBOK DI PRAYA Ari Hidayat; Made Mariada Rijasa; Ayu Putu Utari Parthami Lestari
Jurnal Anala Vol. 12 No. 1 (2024): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.12.1.1474.1-13

Abstract

Secara umum, kebudayaan NTB terdiri dari tiga suku asli utama, yakni suku sasak di Lombok, suku Mbojo di Bima dan Dompu, suku Samawa di Sumbawa. Kebudayaan suku sasak di Lombok mengalami penurunan minat generasi muda untuk menekuni kesenian tradisional. Untuk menyokong pelestarian dan pengembangan kesenian tradisional maka dibutuhkan gedung Pusat Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Tradisional Lombok di Praya, karena jarangnya pertunjukan menyebabkan tradisi Lombok ini berangsur-angsur dilupakan sehingga kepandaian-kepandaian teknik tradisionil yang merupakan salah satu ciri kepribadian setempat, juga terdampak. Agar bisa merangkum kebudayaan Lombok, dan dapat mempermudah akses wisatawan untuk melihat sekaligus mengenal kebudayaan Lombok. Fasilitas ini juga bertujuan untuk memberi informasi sekaligus pengembangan, pelestarian dan juga memperkenalkan kebudayaan Lombok sesuai dengan aspek kebudayaan Lombok meliputi keseniaan serta bangunan adat Lombok merupakan bagian dari wujud kebudayaan. Melalui metode desktiptif pada studi kasus di taman budaya NTB. Kata kunci: Pusat Kesenian, Kesenian tradisional Lombok, Neo Vernakular
Penerapan Arsitektur Multisensori pada Perancangan Pusat Wisata Gastronomi Tradisional Bali Ni Made Putri Nadia Saraswati; Made Mariada Rijasa; Siluh Putu Natha Primadewi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4379

Abstract

Abstract: The rapid growth of global culinary tourism and its significant contribution to Indonesia's creative economy have driven the design of the Bali Traditional Gastronomy Tourism Center to address the lack of local culinary options in key tourist areas like Canggu, Seminyak, and Kuta. This project aims to formulate specifications, concepts, and a spatial program using a multisensory architectural approach, supported by methods such as observation, comparative studies, and literature reviews. Based on a concept focused on recreational, innovative, and educational experiences, the design specifies a total building area of 5,658.06 m², which includes a restaurant, a cooking class, and a gallery, strategically located on Jalan Sunset Road, Seminyak, with a site area of 13,640 m². The design concept applies a radial circulation pattern, the Balinese architectural concept of natah, and the use of softscape and hardscape elements to enrich the sensory experience, ultimately creating an innovative, informative, and engaging culinary destination for visitors. Keyword: Bali Traditional Gastronomy Tourism, Multisensory Architecture, Innovative Experience. Abstrak: Pertumbuhan pesat pariwisata kuliner global dan kontribusinya yang signifikan terhadap ekonomi kreatif di Indonesia mendorong perancangan Pusat Wisata Gastronomi Tradisional Bali untuk mengatasi minimnya kuliner lokal di area wisata utama seperti Canggu,Seminyak, dan Kuta. Perancangan ini bertujuan merumuskan spesifikasi, konsep, dan program ruang dengan pendekatan arsitektur multisensori, didukung oleh metode observasi, studi banding, dan studi literatur. Dengan konsep yang berfokus pada pengalaman rekreatif, inovatif, dan edukatif, perancangan ini merumuskan total luas bangunan 5.658,06 m² yang mencakup restoran, cooking class, dan galeri, yang berlokasi strategis di Jalan Sunset Road, Seminyak, dengan luas tapak 13.640 m². Konsep perancangan menerapkan sirkulasi radial, serta konsep natah pada arsitektur Bali, serta penggunaan elemen softscape dan hardscape untuk memperkaya pengalaman indrawi, menciptakan destinasi wisata kuliner yang inovatif, informatif, dan menarik bagi pengunjung.  Kata Kunci: Pariwisata Gastronomi Tradisional Bali, Arsitektur Multisensori, Pengalaman Inovatif.
Interpretation of the Bedawang Nala ornament located on the base of Pura Pabean in Buleleng Regency Indonesia Ida Bagus Idedhyana; Made Mariada Rijasa
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 7 No 2 (2022): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Mei 2022 ~ Agustus 2022
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v7i2.1721

Abstract

Pura (temple) is a sacred place for the Hindus in Bali, such as Pura Pabean, which is included in pura kahyangan jagat (temple for all people). Pura Pabean is located on the northern part of the main Singaraja-Gilimanuk road, Banyupoh Village, Gerokgak Sub-district, Buleleng Regency, Indonesia. The area also extends into the ocean and is positioned on steep rocky terrain. Unlike other Pura in Bali, this temple stands on the base of an ornament, as a Bedawang Nala (cosmic tortoise) with two dragons (serpents) wrapped around the body. The embodiments of the tortoise and the two dragons are the essential parts of the temple, with their heads overlooking the ocean. Therefore, this study aims to examine the interpretation of Bedawang Nala, as the Hindu icon located on the base of Pura Pabean. In this analysis, Capon's theory was developed and combined with the stages of the hermeneutic method. The analyzed Bedawang Nala was also a combination of Akupara (tortoise) with Vedava-nala (cosmic fire/fire of the apocalypse). This indicated that the body was similar to that of a tortoise, with the head being observed as a cosmic fire resembling the figure of a mare. The results showed that Bedawang functioned as an aesthetic and symbolic ornament, which depicted the bhu mandala (earth or region) in the middle of the ocean. This was a description of God's position in His manifestation, as the ruler of ports, trade, and water flow. These results are expected to develop the traditional Balinese architecture in the present and future activities and performances.
Signifikansi ekspresi nilai simbol budaya peciren bebadungan pada desain fasad bangunan publik di Bali I Kadek Pranajaya; Made Mariada Rijasa; Ni Made Emmi Nutrisia Dewi
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 8 No 1 (2023): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Januari 2023 ~ April 2023
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v8i1.1916

Abstract

There is a need to preserve areas with distinct identities by utilizing several local architectural potentials to develop their appearances. One example of this is in the Denpasar and Badung regions of Bali, where the use of peciren bebadungan ornaments is currently being applied to shape their respective identities. The peciren bebadungan is an expression of brick tectonics with strong, hard, and simple characteristics. However, it has been observed that the designs of some public building facades in Bali were produced without due consideration for the meaning and philosophy of these ornaments. Therefore, this research was conducted to examine and analyze the importance of the cultural value symbol expression associated with the peciren bebadungan in Bali using a qualitative exploration method. The findings showed the implementation of the style on several public buildings in Bali, specifically in Denpasar City and Badung Regency, in combination with contemporary designs. Some others also apply the style but with incomplete implementation and modification through a simpler and more minimalistic concept. This was observed to have eliminated the inherent meaning and cultural symbol value. Therefore, it is recommended that the government, architects, as well as the entire community, need to play a very important role in preserving the peciren bebadungan cultural value symbol expression.
The representation of the Trimurti concept in the architecture of Padma Tiga at Pura Luhur Muncaksari Ida Bagus Idedhyana; Made Mariada Rijasa; Siluh Putu Natha Primadewi
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 11 No 1 (2026): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | January 2026 ~ March 2026
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v11i1.4526

Abstract

Padmasana architecture is the most important sacred building in Balinese temples. Padmasana functions as the sthana (seat) of God and has many types, depending on the concept of God being represented. The ‘three padmas’ form, one of the types of padmasana architecture found in the Luhur Muncaksari Temple, is very different from the padmasana forms found in other major temples in Bali. This uniqueness often causes difficulties in understanding its function and symbolic meaning, both for the general public and intellectual circles. To understand its representation, an interpretation is carried out by broadening the horizon of understanding, from the parts of the form to the form as a whole. The purpose of this study is to discover the concept of God represented in the visual form of the ‘three padmas’. The findings reveal that the padma tiga at Pura Luhur Muncaksari symbolically represents the Trimurti: Brahma, Vishnu, and Shiva, through its spatial composition, structural elements, and ornamental features. These findings are crucial for informing the development and preservation of traditional Balinese architecture, which is rooted in cosmological and philosophical foundations.