Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Gambaran Faktor Risiko Low Back Pain Pada Pemanen, Pengangkut, Pemuat Tandan Buah Segar Di Wilayah Pengawasan Balai K3 Samarinda Tahun 2022 – 2023 Ledjap, Odilia Nadya Marsyanita; Nuryanto, Muhammad Khairul; Tresnasari, Putri; Diputra, Putu Yudhi Nusartha; Duma, Krispinus; Lagadoni, David
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 9 (2025): Volume 12 Nomor 9
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i9.19482

Abstract

Low Back Pain (LBP) adalah nyeri yang terjadi di antara batas bawah kosta dan lipatan gluteal inferior, yang dapat disertai atau tanpa nyeri ekstremitas bawah, dan sering disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari individu pekerja sendiri, lingkungan, dan pekerjaan yang tak jarang berkaitan dengan kesalahan ergonomi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran faktor risiko LBP pada pekerja pemanen, pengangkut, dan pemuat tandan buah segar di wilayah pengawasan Balai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Samarinda tahun  2022 – 2023. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan data sekunder yang diambil dari data hasil pemeriksaan dan pengujian Balai K3 Samarinda tahun 2022 – 2023 sebanyak 305 pekerja yang mengalami LBP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia terbanyak berada pada kelompok usia 44 – 54 tahun sebanyak 155 pekerja (50,8%). Distribusi frekuensi berdasarkan faktor beban manual terbanyak pada beban manual kategori berbahaya sebanyak 202 pekerja (66,2%), faktor postur janggal terbanyak pada postur janggal kategori berat sebanyak 189 pekerja (62,0%), faktor gerakan repetitif terbanyak pada gerakan repetitif kategori berisiko sebesar 192 pekerja (63,0%), faktor durasi paparan terbanyak pada kategori bahaya sebesar 273 pekerja (89,5%). Selain itu, jika dilihat dari kategori masa kerjanya, penderita terbanyak dengan masa kerja baru sebanyak 165 pekerja (54,1%).
Hubungan Usia, Jenis Kelamin, SGOT, SGPT, dan HBV DNA Kuantitatif terhadap Tingkat Kekakuan Hati pada Penderita Hepatitis B Kronik Parmono, Ahda Thirdaza Putra; Rajibsman, Rajibsman; Fitriany, Evi; Hopmen, Hopmen; Nuryanto, Muhammad Khairul
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 4 No 2 (2024): JUPIN Mei 2024
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.322

Abstract

Hepatitis B kronik merupakan penyakit infeksius dengan variabel yang kompleks untuk menggambarkan kerusakan hati. Kerusakan hati dapat diketahui melalui pemeriksaan LSM (Liver Stiffness Measurement) dengan alat fibroscan. Namun, kondisi penderita meliputi status degeneratif, biologis, organik, dan virulensi penyakit dapat menggambarkan bagaimana kerusakan hati yang sedang terjadi. Studi ini bertujuan untuk menelusuri hubungan usia, jenis kelamin, SGOT, SGPT, HBV DNA kuantitatif terhadap kekakuan hati pada penderita hepatitis B kronik. Metode analitik dalam studi ini adalah analitik deskriptif dengan pendekatan studi potong lintang. Data berasal dari rekam medik Rumah Sakit Abdoel Wahab Sjahranie dengan subjek penelitian sebanyak 49 penderita hepatitis B kronik yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data yang diambil meliputi usia, jenis kelamin, SGOT, SGPT, HBV DNA kuantitatif dan LSM (Liver Stiffness Measurement). Analisis statistik yang digunakan adalah korelasi Spearman’s dan Mann-Whitney dengan nilai kemaknaan p < 0,05. Uji statistik menunjukkan terdapat korelasi positif pada usia (r = 0,323, p = 0,024), SGOT (r = 0,483, p < 0,001), SGPT (r = 0,439, p = 0,002), dan korelasi negatif pada log HBV DNA kuantitatif (r = -0,336, p = 0,018). Tidak terdapat perbedaan signifikan pada jenis kelamin dengan tingkat kekakuan hati (p = 0,622). Terdapat hubungan positif yang signifikan antara usia, SGOT, SGPT terhadap tingkat kekakuan hati, hubungan negatif antara HBV DNA kuantitatif terhadap tingkat kekakuan hati, dan tidak terdapat perbedaan signifikan antara laki-laki dengan perempuan terhadap tingkat kekakuan hati.
Not All Water is Equal: The Hidden Impact of Drinking Sources on Maternal Hemoglobin Saputra, Rudi; Angelina, Grace; Najla, Syarifah Amira; Tricindra, Dzulhannisa; Ulpah, Rini Wahidatul; Hamri, Ahmad Ahsyar; Nuryanto, Muhammad Khairul; Nugroho, Setyo; Adrianto, Ratno
Mulawarman International Conference on Tropical Public Health Vol. 2 No. 2 (2025): The 4th MICTOPH
Publisher : Faculty of Public Health Mulawarman University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Water quality is vital for maternal health. In Indonesia, consuming untreated or lowquality water may increase anemia risk in pregnant women. Objective : This study examined the relationship between drinking water sources and hemoglobin levels and identified factors influencing water source selection. Research Methods / Implementation Methods : A cross-sectional study of 72 pregnant women was conducted at Palaran Health Center, Samarinda (Dec 2024–Jan 2025). Data on sociodemographics and drinking water sources were collected via questionnaire, while hemoglobin levels were obtained from laboratory records. Due to non-normal data distribution (p < 0.05), the Kruskal–Wallis test with post hoc comparisons was applied. Determinants of water source selection were analyzed using multinomial logistic regression. Results : Most respondents (76.4%) consumed unboiled refilled gallon water, which was associated with significantly lower hemoglobin levels than bottled or PDAM water (p = 0.002). The logistic model was significant (χ² = 75.233, df = 54, p = 0.030; Nagelkerke R² = 0.811). Significant predictors of water source choice included number of pregnancies, abortion or fetal death history, delivery history, household income, mother’s and husband’s education levels (p < 0.05). Conclusion / Lesson Learned : Unboiled refilled gallon water consumption is linked to lower hemoglobin levels and higher anemia risk. Reproductive and socioeconomic factors influence water source selection. Education on safe water handling and boiling practices is essential to improve maternal hematologic health.