Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Hubungan Usia, Jenis Kelamin, SGOT, SGPT, dan HBV DNA Kuantitatif terhadap Tingkat Kekakuan Hati pada Penderita Hepatitis B Kronik Parmono, Ahda Thirdaza Putra; Rajibsman, Rajibsman; Fitriany, Evi; Hopmen, Hopmen; Nuryanto, Muhammad Khairul
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 4 No 2 (2024): JUPIN Mei 2024
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.322

Abstract

Hepatitis B kronik merupakan penyakit infeksius dengan variabel yang kompleks untuk menggambarkan kerusakan hati. Kerusakan hati dapat diketahui melalui pemeriksaan LSM (Liver Stiffness Measurement) dengan alat fibroscan. Namun, kondisi penderita meliputi status degeneratif, biologis, organik, dan virulensi penyakit dapat menggambarkan bagaimana kerusakan hati yang sedang terjadi. Studi ini bertujuan untuk menelusuri hubungan usia, jenis kelamin, SGOT, SGPT, HBV DNA kuantitatif terhadap kekakuan hati pada penderita hepatitis B kronik. Metode analitik dalam studi ini adalah analitik deskriptif dengan pendekatan studi potong lintang. Data berasal dari rekam medik Rumah Sakit Abdoel Wahab Sjahranie dengan subjek penelitian sebanyak 49 penderita hepatitis B kronik yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data yang diambil meliputi usia, jenis kelamin, SGOT, SGPT, HBV DNA kuantitatif dan LSM (Liver Stiffness Measurement). Analisis statistik yang digunakan adalah korelasi Spearman’s dan Mann-Whitney dengan nilai kemaknaan p < 0,05. Uji statistik menunjukkan terdapat korelasi positif pada usia (r = 0,323, p = 0,024), SGOT (r = 0,483, p < 0,001), SGPT (r = 0,439, p = 0,002), dan korelasi negatif pada log HBV DNA kuantitatif (r = -0,336, p = 0,018). Tidak terdapat perbedaan signifikan pada jenis kelamin dengan tingkat kekakuan hati (p = 0,622). Terdapat hubungan positif yang signifikan antara usia, SGOT, SGPT terhadap tingkat kekakuan hati, hubungan negatif antara HBV DNA kuantitatif terhadap tingkat kekakuan hati, dan tidak terdapat perbedaan signifikan antara laki-laki dengan perempuan terhadap tingkat kekakuan hati.
UJI VALIDITAS INSTRUMEN DAN STUDI PENDAHULUAN: HUBUNGAN FAKTOR PREDISPOSISI KOGNITIF DAN SIKAP TERHADAP PRAKTIK PENGGUNAAN ANTIBIOTIK BERBASIS ONE HEALTH Nuryanto, Muhammad Khairul; Saptiani, Gina; Tarigan, Daniel; Yadi, Yadi; Tandirogang, Nataniel; Sukarti, Komsanah; Sawitri, Endang
Jurnal Kedokteran Mulawarman Vol 13, No 1 (2026): Jurnal Kedokteran Mulawarman
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jkm.v13i1.28330

Abstract

Resistensi antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR) merupakan ancaman kesehatan lingkungan global. Mengukur dinamika perilaku komunitas secara presisi membutuhkan instrumen yang tepat. Penelitian ini bertujuan sebagai studi pendahuluan (pilot study) untuk menguji validitas instrumen kuesioner berbasis pendekatan One Health serta menganalisis korelasi awal antara faktor predisposisi kognitif dan sikap terhadap luaran praktik penggunaan antibiotik di tingkat rumah tangga. Desain studi kuantitatif belah lintang dilakukan terhadap 50 responden kepala keluarga di kawasan semiperkotaan Kota Samarinda, Indonesia pada April 2026. Analisis bivariat menggunakan Fisher’s Exact Test (α = 0,05). Hasil uji psikometri membuktikan instrumen kuesioner valid (r hitung > r tabel 0,279) dan reliabel (Cronbach's Alpha > 0,60). Hasil pemotretan awal menunjukkan mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan spesifik yang rendah (60% skor nol) dan terjebak dalam praktik berisiko tinggi terkait paparan antibiotik dan buruknya sanitasi (90%). Terdapat hubungan bermakna secara statistik antara pengetahuan dengan praktik berisiko (p = 0,028) serta antara sikap dengan praktik (p = 0,034). Namun, korelasi jenjang pendidikan formal umum dengan pengetahuan spesifik tidak signifikan (p = 0,762). Kesimpulannya, instrumen kuesioner yang dikembangkan terbukti handal untuk mengukur determinan perilaku AMR di kawasan sungai. Temuan awal ini mengonfirmasi adanya paradoks literasi kesehatan dan kedaruratan infrastruktur sanitasi, yang menjadi justifikasi krusial bagi pelaksanaan investigasi dan intervensi skala besar di masa mendatang.