Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT KOLABORASI KEMANUSIAAN PADA BENCANA BANJIR DI KABUPATEN WAJO Asyrafunnisa, Asyrafunnisa; Sufyaningsi, Ulfa; Yunding, Junaedi; Hijrah, Muh Fauzar Al-; Ratih, Ratih; Samsuddin, Samsuddin; Mansyur, Nurliana; Ahmad, Musfirah; Ashar, Jabal Rahmat; Wahab, Ali Akbar; Melansari, Nur
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 4 (2024): Volume 5 No. 4 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i4.32824

Abstract

Banjir merupakan fenomena alam yang dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar kendali manusia, tidak mungkin untuk sepenuhnya mencegah terjadinya banjir. Oleh karena itu, fokusnya adalah pada pengurangan risiko dan dampak yang ditimbulkan oleh banjir. Pengabdian masyarakat kepada korban banjir sangat penting karena memiliki banyak manfaat, seperti pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, pakaian, dan tempat tinggal. Selain itu kebutuhan Pendidikan dan sarana penunjang Pendidikan juga sangat diperlukan oleh anak sekolah yang terdampak banjir. Selain kebutuhan materil, bantuan berupa dukungan Psikologis juga sangat diperlukan, dimana banjir bisa menyebabkan trauma dan stress bagi para korban. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan di Sabbang Paru, Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan khususnya pada salah satu sekolah yang terdampak dan jauh dari perkotaan, yang dilaksanakan pada tanggal 8 Juni 2024. Metode pengabdian yang dilakukan berupa difusi iptek yaitu pemberian bantuan berupa peralatan alat tulis, buku cerita dan papan tulis. Serta advokasi berupa pemberian edukasi tentang tanggap darurat bencana banjir, trauma healing pasca bencana dan juga games hiburan untuk memotivasi para siswa/siswi yang berdampak banjir. Pengabdian ini mendapat apresiasi dari masyarakat khususnya pihak sekolah yang berdampak banjir, bantuan diterima langsung oleh kepala sekolah dan beberapa perwakilan siswa. Motivasi dan keceriaan juga tampak dari siswa/siswi yang datang setelah diberikan motivasi untuk menggapai cita-cita melalui Pendidikan.
Strengthening Global Collaboration Through Cultural Sustainability: Insights from the International Community Service Camp “Get Closer to Indonesian Culture” at Denassa Botanical Garden, Gowa Asyrafunnisa, Asyrafunnisa; D. Moelier, Dahlia; Batau, St. Haliah; Khaerani Rahman, Sri; Nur Amaliyah Syahbur, Syaila; Tenri Abeng, Andi; Masni, Masni; Abdul Maing, Rosmawati; Nopitasari, Dewi; Firdaus, Sirajul
MALAQBIQ Vol. 4 No. 2 (2025): Malaqbiq : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan International Community Service Camp “Get Closer to Indonesian Culture” merupakan hasil kolaborasi internasional antara Universitas Bosowa (Unibos), Universitas Fajar (Unifa), dan Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia (Nobel Institute) yang melibatkan mahasiswa internasional dari berbagai negara yaitu China, Sudan, Timor Leste, Suriah dan mahasiswa serta dosen Indonesia dari empat kampus yakni Unibos, Unifa Nobel Institute dan berbagai kampus yang ada di Makassar. Program ini bertujuan memperkuat jejaring akademik global, memperkenalkan budaya Indonesia, serta menerapkan nilai-nilai keberlanjutan melalui empat pendekatan utama: Socio-Cultural, Education, Engineering, Management & Entrepreneurship. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 8–9 November 2025 di Denassa Botanical Garden, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia denganmelibatkan kegiatan berbasis pengalaman seperti pertukaran budaya, lokakarya edukatif, dan inovasi sosial. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kesadaran lintas budaya, pemahaman nilai kearifan lokal, serta munculnya inisiatif kolaborasi berkelanjutan antar universitas mitra.
A social semiotic analysis of women’s political self-branding on Instagram in the Indonesian parliament elections Putra, Hendri Pitrio; Abduh, Nurul Khairani; Sairil, Sairil; Asyrafunnisa, Asyrafunnisa; Rongre, Yohanis
Linguistics Initiative Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27753719.61354

Abstract

This study analyzes the construction of political images of women legislative candidates on Instagram in the context of persistently low women's representation in the Indonesian House of Representatives (20.52% in 2019) despite the implementation of a 30% gender quota. The research explores the visual representation strategies employed by women politicians to enhance visibility and electability within a male-dominated political landscape. Employing qualitative methods and a social semiotic approach, this study examines eight Instagram posts from eight women candidates representing eight different political parties who were successfully elected in the 2024 General Election. The analytical framework integrates Kress and van Leeuwen's theory of visual grammar with Barthes' concepts of connotation and cultural myth. The findings reveal that candidates construct self-representations emphasizing closeness to constituents, religious and cultural values, femininity, professionalism, and integrity. The negotiation of visual meaning occurs through hybrid strategies that combine traditional gender roles (motherhood and domesticity) with attributes of modern political leadership, reflecting efforts to meet societal gender expectations while establishing political credibility. Local political dynamics, including the multiparty system and male dominance, shape adaptive and contextual representation strategies in the digital space. This study demonstrates that Instagram functions as a multimodal arena for political communication rich in social, spiritual, ideological, and cultural meanings. The findings contribute theoretical implications for advancing social semiotics and digital political communication studies by emphasizing the contextual and ideological nature of visual meaning. Practical implications include promoting gender-sensitive political communication strategies and strengthening more substantive women's political representation in the digital sphere.