Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Pengaruh Sediaan Salep Ekstrak Daun Sirih (Piper betle Linn.) terhadap Jumlah Fibroblas Luka Bakar Derajat IIA pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Galur Wistar Kusumawardhani, Aliefia Ditha; Kalsum, Umi; Rini, Ika Setyo
Majalah Kesehatan FKUB Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.038 KB)

Abstract

Luka bakar merupakan salah satu insiden yang sering terjadi di masyarakat khususnya rumah tangga dan ditemukan terbanyak adalah luka bakar derajat II. Daun sirih (Piper betle Linn.) adalah bahan alam yang diduga dapat membantu mempercepat proses penyembuhan luka dan mempunyai pengaruh terhadap peningkatan jumlah fibroblas karena memiliki kandungan aktif seperti saponin, flavonoid, dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun sirih terhadap peningkatan jumlah fibroblas luka bakar derajat IIa pada tikus putih (Rattus norvegicus) galur Wistar. Studi eksperimental menggunakan desain penelitian true experiment post test dilakukan terhadap hewan coba tikus putih galur Wistar jantan dengan usia 2,5-3 bulan dan berat badan 150-250 g. Sampel diambil dengan teknik simple random sampling dan dibagi dalam empat kelompok yaitu kelompok (A) ekstrak daun sirih 15 % (n = 6), (B) ekstrak daun sirih 30 % (n = 6), (C) ekstrak daun sirih 45 % (n = 6) dan kelompok kontrol normal saline 0,9 % (n = 6). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada jumlah fibroblas antara kelompok yang diberi ekstrak daun sirih 15 % (  = 12,95), 30 % (  = 10,33), 45 % (  = 5,90) dan kelompok kontrol normal saline 0,9 % (  = 4,61) yaitu one way ANOVA p = 0,000 (p < 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian ekstrak daun sirih berpengaruh besar terhadap peningkatan jumlah fibroblas luka bakar derajat IIA pada tikus putih galur Wistar yaitu sebesar 77,6 % dan semakin kecil konsentrasi ekstrak daun sirih maka jumlah fibroblas semakin besar (r = -0.881) sehingga ekstrak daun sirih 15 % adalah konsentrasi yang paling optimal dalam mempercepat proses penyembuhan luka. Kata kunci: Daun sirih (Piper betle Linn.), Fibroblas, Luka bakar derajat IIA. 
Efektivitas Terapi Kompres Dingin dalam Menurunkan Stres Orang dengan Lupus (Odapus) Dewasa Muda di Perhimpunan Masyarakat Peduli Lupus Parahita Malang Dewi, Elvira Sari; Soemardini, Soemardini; Rini, Ika Setyo
Majalah Kesehatan FKUB Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.767 KB)

Abstract

Kompres dingin dapat digunakan untuk menurunkan stres. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas terapi kompres dingin dalam menurunkan stres Odapus dewasa muda di Parahita. Penelitian ini dilakukan dengan studi eksperimental semu menggunakan one group pretest posttest design. Sampel dipilih dengan teknik total sampling dan didapatkan 25 sampel sesuai kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Variabel yang diukur adalah stres sebelum dan sesudah diberikan terapi kompres dingin baik secara fisik (tekanan darah, pernapasan, nyeri kepala, dan gangguan tidur), kognitif (gangguan konsentrasi dan daya ingat), maupun emosional (tingkat stres). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompres dingin berpengaruh terhadap penurunan pernapasan, nyeri kepala, gangguan tidur, tingkat stres, dan gangguan konsentrasi dengan nilai p < 0,05. Namun pemberian kompres dingin tidak menunjukkan pengaruh pada penurunan tekanan darah dan gangguan daya ingat dengan nilai p > 0,05. Dapat disimpulkan bahwa terapi kompres dingin dapat digunakan untuk menurunkan stres Odapus dewasa muda di Parahita dengan efektivitas: (1) Terapi kompres dingin dapat digunakan untuk menurunkan respons stres berupa penurunan pernapasan, nyeri kepala, gangguan tidur, tingkat stres, dan gangguan konsentrasi. (2) Terapi kompres dingin tidak dapat digunakan untuk menurunkan respons stres berupa peningkatan tekanan darah dan gangguan daya ingat. Kata kunci: Kompres dingin, Lupus, Odapus, Parahita, Stres.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SELF EFFICACY PERAWAT DALAM MELAKSANAKAN RESUSITASI PADA PASIEN HENTI JANTUNG Ferianto, Kusno; Rini, Ahsan, Ika Setyo
Jurnal Kesehatan Mesencephalon Vol 2, No 4 (2016)
Publisher : Jurnal Kesehatan Mesencephalon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.653 KB)

Abstract

Abstrak : Henti jantung merupakan kasus kegawatdaruratan yang dapat mengancam jiwa jika tidak mendapatkan penanganan yang segera dan baik dari perawat. Self efficacy perawat menjadi fakctor yang berpengaruh terhadap keberhasilan dalam melaksanakan resusitasi henti jantung. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor yang mempengaruhi self efficacy perawat dalam melaksanakan resusitasi pada henti jantung. Desain penelitian yang digunakan  adalah  analitik korelatif dengan  pendekatan  cross  sectional  terhadap 30 Perawat IGD RSUD dr. R. Koesma Tuban. Pengumpulan data menggunakan tehnik total sampling dengan .Iinstrumen yang akan digunakan adalah kuisioner standar Perawat Karir, OSS-3, PSS Score dan GSE Score. Analisis menggunakan uji koefisien kontingensi dan regresi logistik. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan terdapat hubungan antara mastery experience dan verbal persuasif dengan self efficacy perawat dalam melaksanakan resusitasi henti jantung. Koefisien signifikansi yang dihasilkan sebesar 0,015 dan 0,013 dimana lebih kecil dari 0,05 sehingga menimbulkan hubungan yang bermakna. Kesimpulan dari penelitian ini adalah mastery experience dan verbal persuasive merupakan fakctor yang mempengaruhi self efficacy. Oleh karena itu, perawat perlu meningkatkan self efficacy dalam melaksanakan resusitasi pada henti jantung dengan cara pelatihan dan pendidikan yang berkelanjutan.Kata Kunci: self efficacy, henti jantung, perawat, resusitasi
GLASGOW COMA SCALE (GCS), TEKANAN DARAH DAN KADAR HEMOGLOBIN SEBAGAI PREDIKTOR KEMATIANPADA PASIEN CEDERA KEPALA Sumarno, S; Hidajat, Moch.; Rini, Ika Setyo
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan Vol 12, No 3 (2016): JURNAL ILMIAH KESEHATAN KEPERAWATAN
Publisher : LPPM STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26753/jikk.v12i3.162

Abstract

The number of incidence and mortality of patients with traumatic brain injury (TBI) is high, so it is called for better service, on the other hand healthcare care facilities, particularly bed of intensive care unit (ICU) limited. So often the hospital should perform a selection against patients. Mortality predictors can be used as tool for selection. The aims of this research is to gain a predictive model of mortality in isolativeTBI patients using a standardized examination in Emergency Department. Design of this study is a observational study with prospective approach. Respondents totaled 49 person byconsecutive sampling.The results of this research show that there is a correlation between all the independence variables with mortality of the patient.GCS (p<0,001, r=0,732), TDS (p=0,005, r=0,420), MAP (p=0,005, r=0,429), Hb (p=0,048, r=0,272). The result of logistic regression showed that GCS is the most dominant factor related to patient mortality is GCS (p=0,002, correlation coefisient = - 0,906). Keywords : Traumatic brain injury, mortality predictor, GCS, components of GCS
Analysis of Nurse Personal Factors of Triage Decision-Making in Emergency Installation at University of Muhammadiyah Malang Hospital Ali Rahmanto; Loeki Enggar Fitri; Ika Setyo Rini
Indian Journal of Forensic Medicine & Toxicology Vol. 15 No. 4 (2021): Indian Journal of Forensic Medicine & Toxicology
Publisher : Institute of Medico-legal Publications Pvt Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37506/ijfmt.v15i4.16837

Abstract

The high frequency of patient visits to the ER will disrupt the service process at the Emergency Department(IGD). One solution is the application of a triage system, which is the process of sorting patients accordingto their level of gravity. The accuracy of triage decisions has a significant impact on patient outcomes sothat in this case nurses in the ER must have knowledge, understanding, and skills about triage. Analyzepersonal factors that influence emergency nurse decision-making. This study aimed to identify personalfactors influencing triage decision-making among emergency nurses. Respondents were 30 male and femalenurses who worked and were active up to now in the IGD Hospital of the University of MuhammadiyahMalang. Data on work experience, education, and training were taken from data on the characteristics ofrespondents. The knowledge questionnaire came from the Emergency nurses association/ENA while theskills questionnaire used the Triage Skill Questionnaire/TSQ. The Spearman correlation test shows that thereis a significant relationship between skills and education with triage decision making (p=0.000; r=0.626 andp=0.039; r=0.378). Meanwhile, the variables of knowledge, work experience, and training do not correlatewith triage decision making (p> 0.05) except that GELS training shows a significant relationship betweenGELS training and triage decision making (p=0.016; r=0.437). The results of linear regression analysis,skills, and education are factors that influence decision-making in conducting triage in the ER (45,4%).Skills and education are the factors that most influence triage decision-making.
Komponen Glasgow Coma Scale (GCS) Dan Saturasi Oksigen Sebagai Prediktor Kematian Pada Pasien Cedera Kepala Di RSUP Dr. Kariadi Semarang Sumarno Sumarno; Moch Hidajat; Ika Setyo Rini
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 6 No. 1 (2019): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.765 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v6i1.370

Abstract

Abstrak Latar belakang : Angka kejadian dan kematian pasien cedera kepala cukup tinggi, sehingga menuntut pelayanan yang lebih baik, disisi lain fasilitas perawatan, terutama perawatan intensif (ICU) terbatas. Hal ini mengakibatkan rumah sakit harus melakukan seleksi terhadap pasien yang akan masuk ke ruang perawatan intensif. Prediktor kematian dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk melakukan seleksi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sebuah model prediksi kematian pada pasien murni cedera kepala dengan menggunakan pemeriksaan standar yang ada di Instalasi Gawat Darurat, terutama pada saat sebagian komponen GCS tidak dapat dinilai. Metode : Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan pendekatan prospektif. Responden ditentukan berjumlah 49 pasien. Analisis data dengan uji spearman, uji lambda, multivariat regresi logistik. Hasil : Didapatkan korelasi yang bermakna antara semua variabel bebas dengan kematian pasien, GCS-E (p=0,011, r=0,647); GCS-V (p=0,002, r=0,647); GCS-M (p=0,008, r=0,529); SaO2 (p=0,022, r=0,429). Semua komponen GCS dapat digunakan untuk memprediksi probabilitas kematian pasien cedera kepala bersama dengan SaO2. Simpulan : Semua komponen GCS dan saturasi oksigen dapat digunakan sebagai prediktor kematian pasien cedera kepala. Kata Kunci: cedera kepala, prediktor kematian, komponen GCS. Background : The number of incidence and mortality of patients with traumatic brain injury (TBI) is high, so it is called for better service, on the other hand healthcare care facilities, particularly bed of intensive care unit (ICU) limited. So often the hospital should perform a selection against patients. Mortality predictors can be used as tool for selection. The aims of this research is to gain a predictive model of mortality in isolative TBI patients using a standardized examination in Emergency Department, especially when part of GCS can’t be assesed. Methods : Design of this study is a observational study with prospective approach. Respondents totaled 49 person. Data analysis being performed with spearman test, lambda test, Multivariate logistic regression. Results : Correlation between all the independence variables with mortality of the patient, GCS-E (p=0,011, r=0,647); GCS-V (p=0,002, r=0,647); GCS-M (p=0,008, r=0,529); SaO2 (p=0,022, r=0,429). The all components of the GCS, SaO2 can be used to predict the probability of death of the patient injury head. Conclusion : GCS components and oxygen saturation can be used as mortality predictor on patients with traumatic brain injury. Keywords : Traumatic brain injury, mortality predictor, components of GCS
Pendampingan Perawat Dalam Optimalisasi Keberlanjutan Perawatan Ibu Nifas Dan Bayi Berat Badan Lahir Rendah (Bblr) Di Rumah Asti Melani Astari; Muladefi Choiriyah; Nurul Evi; Ayut Merdikawati; Laily Yuliatun; Sholihatul Amaliya; Ika Setyo Rini; Azizha Adila Fitri; Niken Ummu Raehana
Journal of Innovation and Applied Technology Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jiat.2021.006.02.6

Abstract

Keberlanjutan perawatan ibu nifas dan bayi BBLR di rumah sangat penting dilakukan melalui pendampingan perawat. Tujuan pengabdian masyarakat ini untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam perawatan nifas dan bayi prematur di rumah. Kegiatan ini dilakukan pada Januari-Maret 2020 dengan metode konseling secara homevisit. Ibu yang berpartisipasi dalam kegiatan ini adalah yang melahirkan bayi BBLR hidup dan bertempat tinggal di wilayah Malang & Batu. Pengumpulan data melalui kuesioner. Dua puluh lima responden ikut berpartisipasi memiliki tingkat pengetahuan baik (88%), parenting self-efficacy dalam kategori tinggi (84%), dan tingkat stress ringan (84 %). Hasil uji korelasi antara tingkat pengetahuan dengan parenting self-efficacy signifikan dan berkorelasi sedang (p-value =0.009; r =0.510). Sedangkan antara pengetahuan dan stress ibu tidak terdapat hubungan yang signifikan dalam merawat bayi BBLR di rumah (p-value =0,404; r =0,175). Kesimpulannya, pentingnya peningkatan pendampingan oleh tenaga kesehatan pada ibu nifas yang memiliki bayi BBLR di rumah.
ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETERLAMBATAN DALAM MENGATASI PASIEN STROKE SAAT MERUJUK KE RSUD JOMBANG Didik Saudin; Achdiat Agoes; Ika Setyo Rini
Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Stroke adalah serangan otak yang timbul secara mendadak ditandai adanya gangguan aliran darah karena adanya sumbatan atau pecahnya pembuluh darah tertentu di otak. Keberhasilan penanganan stroke sangat tergantung dari kecepatan, kecermatan dan ketepatan terhadap penanganan awal atau waktu emas dalam penanganan stroke adalah ± 3 jam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa faktor yang memepengaruhi keterlambatan dalam penanganan rujukan pasien stroke ke RSUD Jombang. Metode : Penelitian ini menggunakan methode Survey Cross Sectional merupakan suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko atau efek melalui observasi. Responden berjumlah 60 orang yang didapatkan dengan metode rule of thumb. Hasil dan Analisa : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi keterlambatan pasien stroke saat merujuk ke RSUD Jombang diantaranya jarak rujukan didapatkan signifikasi p value 0.021 dan pendampingan rujukan didapatkan p value 0.026. Berdasarkan uji regresi logistik disimpulkan bahwa ke 2 faktor mempunyai korelasi yang sama dengan keterlambatan pasien stroke dengan OR jarak rujukan sebesar 2.42 dan OR Pendampingan sebesar 2.27 serta diperkirakan keterlambatan pasien stroke sebesar 23.4%. Diskusi dan kesimpulan: Diantara variabel independen 6 faktor yang berpengaruh terhadap variabel dependen hanya ada dua variabel yang memiliki korelasi yaitu jarak rujukan dan pendampingan petugas saat melakukan rujukan ke RSUD Jombang. Kedua fakor memiliki kekuatan dan pengaruh yang sama saat melakukan rujukan pada kasus stroke ke RSUD Jombang. Kata Kunci: Stroke, Keterlambatan, Rujukan, Faktor yang mempengaruhi ABSTRACT Background: Stroke is a brain attack which occur suddenly marked by the interruption of blood flow due to blockage or rupture of blood vessels of the brain. The success of stroke treatment is highly dependent on the speed, accuracy and precision of the handling of the initial or the golden time in the treatment of stroke is ± 3 hours. This study aims to determine some of the factors that affect delays in the handling of a stroke patient referrals to hospitals Jombang. Method: This study uses a method Cross Sectional Survey is a research study to study the dynamics of the correlation between risk factors or the effects through observation. Respondents were 60 people who obtained the rule of thumb method. Result and Anlisys : The results of this study indicate that there is a correlation delay time stroke patients referred to hospitals Jombang include a reference distance obtained significance p value of 0.021 and referral assistance obtained p value 0.026. Based on logistic regression test concluded that to two factors have the same correlation with the delay of stroke patients with a referral by the distance OR OR 2:42 and 2:27 as well as the assistance of an estimated delay of 23.4% of stroke patients. Discussion and summary: Among the independent variables six factors that only two variables affect the dependent variable they are referral time and advocacy officer when making referrals to Jombang General Hospital. Both factor have the same power and influence when making reference to the Stroke case at Jombang General Hospital. Keywords : Stroke, Delay, Referral, Factors affecting
AKURASI REVISED TRAUMA SCORE SEBAGAI PREDIKTOR MORTALITY PASIEN CEDERA KEPALA Riki Ristanto; M Rasjad Indra; Sri Poeranto; Ika Setyo Rini
Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan akibat trauma yang membutuhkan tindakan cepat dan efisien untuk mencegah perburukan kondisi pasien. Pengukuran keparahan trauma adalah langkah yang sangat penting untuk mendukung pengambilan keputusan klinis yang tepat, efektif dan efisien untuk mencegah kecacatan dan kematian pasien cedera kepala. Revised Trauma Score (RTS) adalah merupakan physiologycal scoring systems yang dapat digunakan sebagai prediktor mortality pasien cedera kepala. Penilaian RTS dapat mengidentifikasi lebih dari 97% orang yang akan meninggal jika tidak mendapat perawatan dan kemampuan RTS dalam menentukan kondisi yang membahayakan jiwa adalah 76,9%. Namun, pada penelitian di Belanda, RTS memiliki nilai prediktif yang lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil penelitian RTS terdahulu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui akurasi penggunaan Revised Trauma Score sebagai prediktor mortality pasien cedera kepala. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan design cohort retrospektif. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 96 orang. Hasil analisis Uji Mann-Whitney penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara mortality pasien dalam 7 hari perawatan dengan score GCS, SBP, RR dan SpO2 dengan p value dari semua variabel independen < 0.05. Hasil Uji regresi logistik menunjukkan bahwa persamaan RTS (GCS, SBP, RR) memiliki nilai p value Uji Hosmer and Lamesho = 0.849, nilai sensitivity sebesar 0.93, specificity 0.863, Positive Predictive Value (PPV) 0.95, Negative Predictive Value (NPV) 0.79, dan dengan AUC 0.942 (CI95% 0.88-0.99). Maka persamaan RTS (GCS, SBP, RR) memiliki kualitas diskriminasi, kalibrasi dan akurasi yang baik, sehingga persamaan RTS (GCS, SBP, RR) dapat digunakan sebagai prediktor mortality pasien cedera kepala. Penggunaan persamaan RTS (GCS, SBP, RR) masih layak sebagai alat bantu dalam triage pasien cedera kepala. Kata kunci : Mortality, Pasien Cedera Kepala, RTS. Abstract Head injury is one of the major causes of death and disability due to trauma requiring fast and efficient action to prevent worsening of the patient's condition. Trauma severity measurement is a very important step to support clinical decision making proper, effective and efficient to prevent disability and death of head injury patients. Revised Trauma Score (RTS) is a physiologycal scoring systems that can be used as a predictor of mortality head injury patients. Rate RTS can identify more than 97% of people who will die if not treated and RTS in determining the ability of life-threatening conditions is 76.9%. However, in a study in the Netherlands, RTS has a lower predictive value when compared with the results of previous RTS. The purpose of this study to determine the accuracy of the use of Revised Trauma Score as predictors of mortality head injury patients. This study was an observational study with retrospective cohort design. The sample in this study amounted to 96 people. The results of the Mann-Whitney test analysis showed that there was significant relationship between patient mortality within 7 days of Ristanto, Akurasi Revised Trauma Score Sebagai Prediktor Mortality 77 treatment with a score of GCS, SBP, RR and SpO2 with the p value of all the independent variables of
HUBUNGAN KOMPETENSI PERAWAT GAWAT DARURAT DENGAN KINERJA PERAWAT DI INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD) RSUD dr. H. MOHAMMAD ANWAR SUMENEP DAN RSUD SAMPANG Dian Ika Puspitasari; Edi Widjajanto; Ika Setyo Rini
Wiraraja Medika : Jurnal Kesehatan Vol 5 No 2 (2015): Wiraraja Medika - Jurnal Kesehatan
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.668 KB)

Abstract

Emergency department (ED) is initial services in hospital. Nurse on ED must have more capability than nurse in other department. Nurse in ED have to be fast, skilled and ready every time. Patient criteria in ED make nurse have to understand wide range of nursing competency. Competency including work readiness and work behaviour. Nurse’s competency related to work capability so can be use to predict nurse performance. The purpose of this study is to know relationship between emergency nurse’s competency with nurse’s performance in Emergency Department RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep and RSUD Sampang. The design of this study is  correlational analytic with cross sectional approach. Purposive sampling was used as sampling technique so the participant became 30 nurse. Pearson correlation results indicate that there is a relationship between emergency department nurse competency based on diagnostic function (p value = 0.014), implementation of therapeutic intervention (p value = 0,020) and organizing the work roles (p value = 0.005) with the nurse performance. Emergency nurse competencies which is not related to nurse performance are effective management (p value = 0.890) and the role of helper (p value = 0.056). Correlation confounding variables results showed that there is a relationship between compensation (p value = 0.044) and work environment (p value = 0.037) with nurse performance. Based on the multiple linear regression analysis with backward method shows the most dominant competence that affect nurse performance is implementation of therapeutic intervention and the organizing work roles (52.4%). Confounding variables that greatly affect the nurse performance are working environment (14.7%). Nurse that usually applying skill on emergency nurse competencies will be more competent on doing their nursing skill for patient, and then nurse’s performance become better.   Keywords: Nurses competencies, Nurse performance, Emergency Department (ED)