Claim Missing Document
Check
Articles

Tradisi Mengarak Ogoh-Ogoh Telor Pada Masyarakat Islam di Desa Tembok, Tejakula, Buleleng, Bali (Sebagai Sumber Belajar Sejarah Kebudayaan di SMA Negeri 1 Tejakula) ., Desak Putu Wirastini; ., Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum; ., Drs. I Wayan Mudana,M.Si.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v3i3.2392

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pakraman Tembok, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Latar belakang masyarakat Islam di Desa Tembok melaksanakan Tradisi Mengarak Ogoh-Ogoh Telor, (2) Bentuk dari Ogoh-Ogoh Telor yang dibuat masyarakat Islam Desa Tembok, (3) Aspek-aspek dari Tradisi Mengarak ogoh-ogoh telorsebagai sumber belajar sejarah kebudayaan di SMA Negeri 1 Tejakula. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah yaitu, (1) Teknik penentuan informan, (2) Teknik pengumpulan data (teknik observasi, teknik wawancara, teknik studi dokumen), (3) Teknik validitas data, (4) Teknik analisis data, (5) Teknik penulisan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Latar belakang masyarakat Islam di Desa Tembok melaksanakan tradisi ini, karena adanya faktor historis, faktor kepercayaan, faktor budaya serta meningkatkan solidaritas sosial, (2) Bentuk yang dipakai dalam pembuatan ogoh-ogoh telor adalah bentuk perahu dan ikan karena tidak terlepas dari mata pencaharian masyarakat Islam yang sebagian besar adalah nelayan serta sebagai salah satu cara untuk menguatkan identitas keislaman di Desa Tembok, (3) Aspek-aspek tradisi Mengarak Ogoh-Ogoh Telor sebagai sumber belajar sejarah kebudayaan di SMA Negeri 1 Tejakula dapat di lihat dari aspek sistem komunikasi dan interaksi budaya sesuai dengan Kompetensi Dasar Menganalisis proses interaksi antara tradisi lokal, Hindu-Budha dan Islam di Indonesia. Selanjutnya dapat dilihat dari aspek pendidikan yaitu sebagai ajang pengenalan budaya terhadap siswa, agar nantinya budaya tersebut bisa memperkaya materi siswa dalam pembelajaran sejarah kebudayaan.Kata Kunci : Mengarak, Ogoh-Ogoh Telor, Sumber Belajar Sejarah This research was conducted in Pakraman Wall , District Tejakula , Buleleng , Bali . This study aimed to determine ( 1 ) Background of Islamic societies in the village of Wall implement Ogoh - Ogoh paraded Tradition egg , ( 2 ) Form of Ogoh - Ogoh made egg Islamic community village wall , ( 3 ) aspects of the tradition paraded ogoh - ogoh telor learning resources in the cultural history of SMA Negeri 1 Tejakula . The method used in this research is descriptive qualitative method steps , namely , ( 1 ) the determination technique informant , ( 2 ) the data collection techniques ( observation, interview techniques , study techniques document ) , ( 3 ) Technical data validity , ( 4 ) Data analysis techniques , ( 5 ) Technical writing research results . The results showed that ( 1 ) Background of Islamic societies in the village of Wall implement this tradition , due to historical factors , factors of trust , cultural factors and increasing social solidarity , ( 2 ) The form used in the making of ogoh-ogoh is the egg shape and fishing boats because it is inseparable from the Islamic community livelihoods , mostly fishermen as well as a way to strengthen the Islamic identity in the village of Wall , ( 3 ) aspects of Ogoh - Ogoh paraded tradition of egg as a source of learning history in high school culture can be seen from the aspect cultural communication and interaction system in accordance with the Basic Competence Analyze the process of interaction between the local tradition , the Hindu - Buddhist and Islam in Indonesia . Furthermore, it can be seen from the aspect of education that is as a venue for cultural recognition to the students , so that the culture can enrich the students in learning the history of material culture .keyword : paraded ogoh-ogoh egg, Source of learning history
IDENTIFIKASI BENTUK DAN FUNGSI TARIAN REJANG SUTRI DI DESA BATUAN, SUKAWATI, GIANYAR SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH KEBUDAYAAN DI SMK NEGERI 3 SUKAWATI ., I Gede Oka Parwata; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum; ., Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v4i2.3617

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1)Latar Belakang Tari Rejang Sutri sebagai tarian sakral, (2) Bentuk dan fungsi tarian Rejang Sutri, dan (3) nilai-nilai dalam tari Rejang Sutri sebagai sumber belajar sejarah kebudayaan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian kualitatif ialah (1) Penentuan Rancangan, (2) Penentuan Lokasi, (3) Jenis dan Sumber Data (4) Pengumpulan data, (Observasi, Wawancara, Studi Kepustakaan, Instrumen Penelitian, Penentuan Informan dan Analisis data). Berdasarkan temuan di lapangan ada faktor historis tari Rejang Sutri, lahir pada abad ke-17 tepatnya tahun 1658 di Kerajaan Timbul (Sukawati) saat berkuasa Ida Sri Aji Maha Sirikan bergelar I Dewa Agung Anom. Saat itu ada pengikut Balian Batur yaitu I Gede Mecaling yang sangat meresahkan masyarakat dengan menebar penyakit non medis, untuk mengurangi keresahan akan ancaman I Gede Mecaling masyarakat menarikan Tarian Rejang Sutri. Tarian Rejang Sutri melambangkan bidadari, sehingga membuat I Gede Mecaling terlena dan lupa untuk menebar penyakit. Oleh karena itu tarian ini dianggap sebagai penangkal ancaman penyakit dari I Gede Mecaling. Tarian tersebut disakralkan sampai sekarang. Bentuk tarian Rejang Sutri adalah suatu tarian yang ditarikan oleh sekelompok wanita yang merupakan tarian massal. Sedangkan bentuk gerakannya ada tiga yaitu: (1)Nyaup, (2)Ngembat, (3)Mejalan. Fungsinya ada empat yaitu: (1)Fungsi Religius, (2)Pendidikan, (3)Estetika, (4)Sosial. Nilai tarian Rejang Sutri yang dapat dijadikan sumber belajar sejarah kebudayaan: (1)Nilai historis yang terkandung dalam Tari Rejang Sutri di Desa Batuan dapat menimbulkan spirit atau kekuatan bagi masyarakat Batuan. (2)Nilai keyakinan Tari Rejang Sutri merupakan tari sakral, dipercaya untuk penolak bala dan menghindarkan dari wabah penyakit. (3)Nilai ekstrinsik Tari Rejang Sutri merupakan warisan leluhur yang di lestarikan sampai saat ini. (4)Nilai sosial dan sistem komunikasi merupakan satu organisasi yang menghasilkan keterampilan seni, dan sistem komunikasi antara Prajuru, penari, pemangku, serta masyarakat. Kata Kunci : Kata Kunci : Bentuk, Fungsi, Sumber belajar sejarah kebudayaan ABSTRACK The goal of this research is to knows (1) the background of Rejang Sutri dance as a sacred dance, (2) the forms and the function of Rejang sutri dance, (3) the values inside Rejang sutri dance as a leaning sources in history culture. The kind of this research is qualitative research. The steps that does in this qualitative research are (1) determining the programs, (2) determining the location, (3) the kind and the sources of the data, (4) collecting the data , (observation, interview, material resources, research instruments, determining the person who gives the information and data analysis). Base on the finding in the location there are historic factor on Rejang Sutri dance. Rejang Sutri dance established on the 17 centuries ago, that was on 1658 in Timbul kingdom in Sukawati. In that moment the king of this kingdom is Ida Sri Aji Maha Sirikan and he always called as I Dewa Agung Anom. In that moment there was a student of Balian Batur named I Gede Mecaling that always disturbing the society by making many people sick with non-medical disease, to decrease the fear of the society about the threatens of I Gede Mecaling. The society dance Rejang Sutri dance. RejangSutri dance as a symbol of angel, so it can make I gede Mecaling forget to spread the disease, so this dance reputed as a charm of the desease from I gede Mecaling. This dance is sacred until now. Rejang Sutri dance is a dance that dancing by a group of girl and it has three movements that are (1) Nyaup, (2) Ngembat, (3) Mejalan. There are four functions they are (1) Religious function, (2) education, (3) aesthetic (4) social. The value of Rejang sutri dance can be use as historical culture sources: (1) reliance value, Rejang Sutri dance is a sacred dance, and it believed as a rejecter of disaster. (2) art values, it is a legacy of ancestors that everlasting until nowadays (3) social organization system, is a organization that produce art skill (4) communication value between prajuru, dancer, Pemangku, and the society. keyword : Key words: Form, Function, a leaning sources, in history culture
IDENTIFIKASI POTENSI PRANGKO SERI KESEJARAHAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA ., G.B. Surya Utama; ., Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum; ., Dra. Tuty Maryati,M.Pd
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i2.3824

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Jenis-jenis prangko seri kesejarahan yang memiliki potensi sebagai sumber belajar sejarah di SMA, (2) Peristiwa yang terkandung di dalam prangko seri kesejarahan yang memiliki potensi sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Penelitian ini merupakan jenis penelitan deskriptif kualitatif. Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian deskriptif kualitatif ialah menggunakan pendekatan sosial yaitu: (1) Penentuan Rancangan Penelitian, (2) Penentuan Lokasi Penelitian, (3) Penentuan Informan, (4) Pengumpulan Data (observasi, wawancara, studi dokumen) dan (5) Validitas Data yang terdiri dari triangulasi data dan triangulasi metode, (6) Analisis data. Hasil penelitian ini adalah (1) Jenis-jenis prangko seri kesejarahan yang memiliki potensi sebagai sumber belajar sejarah di SMA pada dasarnya adalah semua prangko yang diterbitkan oleh suatu negara untuk memperingati suatu peristiwa kenegaraan. Prangko-prangko yang bertemakan seri kesejarahan yang terkait dengan Kurikulum, Silabus diantaranya adalah prangko seri 100 tahun paleontologi di Indonesia, seri candi, seri revolusi, seri pahlawan nasional, seri Soekarno, seri Suharto, seri B.J. Habibie sampai dengan prangko seri reformasi serta seri kesejarahan lain yang memiliki potensi Sebagai sumber belajar sejarah di SMA. (2) Prangko yang bertemakan sejarah dalam setiap seri penerbitannya memiliki gambar yang menceritakan Peristiwa, tokoh, ruang dan waktu. Adapun beberapa contoh peristiwa yang terkandung dalam prangko yang bisa dijadikan sumber belajar sejarah sebagai berikut. Pertama, prangko yang bergambarkan atau bertema revolusi Pertempuran Surabaya yang terbit pada tanggal tahun 1964 yang menggambarkan peristiwa perjalanan Bangsa Indonesia dalam melawan kolonialisme. Kedua, prangko yang bergambarkan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang terbit pada 17 Agustus 1955 yang menggambarkan peristiwa-peristiwa penting atau detik-detik menjelang proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Ketiga, prangko yang menggambarkan reformasi 1998 yang terbit pada tanggal 28 Oktober 1998 tentang peristiwa lengsernya Presiden Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun. Kata Kunci : Prangko Sejarah, Sumber Belajar This study aimed to determine (1) The types of historical stamp series that has potential as a source of learning history in senior high school, (2) the events contained in the historical series of stamps that have potential as a source of learning history in senior high school. This research is a qualitative descriptive study. Steps being taken in a qualitative descriptive study using a social approach, namely: (1) Determination of Design Research, (2) Determination of Location Research, (3) Determination of informants, (4) collection of data (observations, interviews, document studies) and (5) The validity of the data comprising the data triangulation and triangulation methods, (6) data analysis. The results of this study were (1) The types of historical stamp series that has potential as a source of learning history in high school is basically all the stamps issued by a country to commemorate an event state. Stamps themed historical series relating to curriculum, syllabus stamp series is 100 years of paleontology in Indonesia, temples series, series revolution, the national hero series, series Sukarno, Suharto series, series BJ Habibie to reform stamp series as well as other historical series that has the potential as a source of learning history in high school (2) history-themed stamps in each series has a picture that tells publishing events, figures, space and time. As some examples of events contained in stamps that can be used as a source of learning history following. First, themed stamps bearing the image of the revolution or the Battle of Surabaya which was published in December 1964 that describes the events of the trip Indonesian nation in the fight against colonialism. Secondly, a stamp bearing the image of reading the text of the proclamation of independence of the Republic of Indonesia which was published on August 17, 1955 depicting significant events or the seconds before the proclamation of Indonesian independence. Third, stamp depicting the 1998 reform, published on October 28, 1998 about the fall of President Suharto event that has been in power for 32 years. keyword : Historical Stamps, Learning Resources
IDENTIFIKASI POLA PENDIDIKAN KARAKTER PADA PEMBELAJARAN SEJARAH DI KELAS X IPA 1 SMA LABORATORIUM UNDIKSHA SINGARAJA BALI ., M Al Qautsar Pratama; ., Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v4i2.5379

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui pola pendidikan karakter yang diterapkan pada pembelajaran sejarah di kelas X IPA 1 SMA Lab Undiksha Singaraja Bali, (2) mengetahui kendala-kendala yang dihadapi oleh guru dan siswa dalam penerapan pola pendidikan karakter pada pembelajaran sejarah di kelas X IPA 1 SMA Lab Undiksha Singaraja Bali . Penelitian ini merupakan jenis pendekatan kualitatif prosedur penelitian yang menggunakan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian kulitatif yaitu dengan melakukan (1) teknik penentuan informan; (2) teknik pengumpulan data observasi,studi pustaka); (3) teknik pengolahan data/analisis data. Hasil penelitian menunjukkan: (1) terdapat pola pendidikan karakter yang yang diterapkan oleh guru sejarah di kelas X IPA 1 yang direncanakan dengan baik pada rpp yang dibuat oleh guru pelaksanaannya di kelas X IPA, (2) terdapat kendala-kendala yang dihadapi oleh guru maupun siswa dalam pelaksanaan pola pendidikan karakter dikelas, kendala-kendala yang dihadapi yaitu kendala waktu, kemampuan siswa dan materi pelajaran yang padat. Kata Kunci : pola, pendidikan karakter This research aims to (1) determine the pattern of character education is applied to the teaching of history in class X IPA 1 SMA Lab Undiksha Singaraja Bali . (2) knowing the constraints faced by teachers and students in the application of a character education on history teaching in class X IPA 1 SMA Lab Undiksha Singaraja Bali. This research is a qualitative approach research procedure that uses descriptive data in the form of words written or spoken of the people and behaviors that diamati.Tahap-stage qualitative research conducted by performing (1) a technique of determining the informant; (2) data collection techniques of observation, literature); (3) engineering data processing / data analysis. The results showed: (1) there is a pattern of character education that is applied by a history teacher in class X IPA 1 planned well in rpp made by the teacher in class X IPA implementation, (2) there are constraints faced by teachers and students in the implementation patterns of character education class, the constraints faced by the constraints of time, the ability of students and subject matter are solid. keyword : pattern, character education
SARKOFAGUS DI PURA PONJOK BATU DESA PACUNG, TEJAKULA, BULELENG, BALI SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA ., Kadek Dwi Mahayoni; ., Dr. Luh Putu Sendratari,M.Hum; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd., M.Pd
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i1.11289

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan sejarah keberadaan sarkofagus yang terdapat di areal Pura Ponjok Batu Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, (2) Mendeskripsikan unsur-unsur yang terdapat pada sarkofagus yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar sejarah di SMA kelas X, (3) Medeskripsikan strategi pembelajaran yang diterapkan dalam memanfaatkan sarkofagus sebagai sumber belajar sejarah di SMA kelas X berbasis Kurikulum 2013. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tahap-tahap; (1) Teknik penentuan lokasi penelitian, penelitian ini berlokasi di Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, (2) Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, (3) Teknik penentuan informan, penentuan informan dalam penelitian ini yaitu purposive sampling dan snow ball, (4) Teknik pengumpulan data, melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen, (5) Teknik validasi data, triangulasi metode, dan triangulasi sumber, (6) Teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukkan sejarah keberadaan sarkofagus di Pura Ponjok Batu membuktikan di sekitar pura tersebut dulunya pernah dihuni oleh masyarakat yang menjadi pendukung budaya sarkofah, khususnya pada zaman perundagian dan sekaligus bahwa tempat ini sudah ada tempat sucinya yakni tempat disemayamkannya para petinggi yang dihormati oleh masyarakat setempat. Keberadaan sarkofagus di areal Pura Ponjok Batu dikarenakan adanya pawisik yang mengharuskan sarkofagus ditetapkan berada di Pura Ponjok Batu. Unsur-unsur yang terdapat pada sarkofagus yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar sejarah di SMA dapat dibagi menjadi dua yaitu unsur real (denotatif) dan unsur makna (hidden/konotatif). Adapun strategi pembelajaran yang diterapkan dalam memanfaatkan sarkofagus sebagai sumber belajar sejarah di SMA kelas X berbasis Kurikulum 2013 adalah inquiri dan group investigation.Kata Kunci : Sejarah, Sarkofagus, Unsur-unsur, Sumber Belajar. This study aims to (1) Describe the history of the existence of sarcophagus in the area of Ponjok Batu temple, Pacung Village, Tejakula Sub-district, (2) Describe the elements contained in sarcophagus that can be used as a source of learning in high school class X, (3) to describe learning strategies applied in utilizing sarcophagus as a source of learning history in high school class X based on Curriculum 2013. This research uses Qualitative Method with stages; (1) Techniques of determining the location of research, this research is located in Pacung Village, Tejakula District, Buleleng Regency, 2) The research approach used Qualitative approach, (3) Informant determination technique, informant determination in this research is purposive sampling and snow ball, (4) Data collection technique, through observation, interview and document study, (5) Data validation technique , method triangulation, and source triangulation, (6) Data analysis technique. The results showed that the history of the existence of sarcophagus in Ponjok Batu temple proved in the vicinity of the temple was once inhabited by people who became supporters of the sarcophagus culture., especially in the days of perundagian and this place has a holy place to buried an high officials who are respected by the local community. The existence of sarcophagus in the area of Ponjok Batu Temple due to the holy direction which requires that the sarcophagus must be placed in Ponjok Batu temple. The elements contained in the sarcophagus that can be used as a source of history learning in the high school can be divided into two, namely the element of real (denotative) and elements of meaning (hidden / connotative). The learning strategy applied in utilizing sarcophagus as a source of learning history in high school class X based Curriculum 2013 is enquiry and group investigation.keyword : History, Sarcophagus, Elements, Learning Resources
PEMERTAHANAN TRADISI BUDAYA PETIK LAUT OLEH NELAYAN HINDU DAN ISLAM DI DESA PEKUTATAN, JEMBRANA -BALI ., Ida Ayu Komang Sintia Dewi; ., Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum; ., Drs. I Wayan Mudana,M.Si.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i3.4153

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, (1) latar belakang masyarakat Desa Pekutatan tetap mempertahankan tradisi Petik Laut; (2) Proses pelaksanaan tradisi Petik Laut di Desa Pekutatan, (3) Aspek-aspek dari tradisi Petik Laut yang dapat di pakai untuk pengembangan suplemen Sejarah Bahari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) teknik penentuan informan; (2) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi analisis/content atau dokumentasi); (3) teknik analisis data; (4) teknik penulisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang pemertahanan tradisi Petik Laut di Desa Pekutatan berkaitan erat dengan fungsi dari tradisi yaitu; (1) pemenuhan kebutuhan fisik yaitu: (1) fungsi individu yang berkaitan erat dengan kekuatan rasa aman dan suatu kepuasan diri secara emosional; (2) fungsi sosial berkaitan erat dengan peningkatan solidaritas sosial antara sesama sehingga menumbuhkan rasa integrasi sosial antar masyarakat sehingga dapat bekerja sama dengan baik; (2) pemenuhan kebutuhan psikologis yaitu: (1) keyakinan atau kepercayaan, hal ini berkaitan erat untuk memohon keselamatan dalam melaut, menghindari diri dari mara bahaya dalam melaut serta rasa takut oleh hal yang bersifat gaib, yang ada di luar kemampuan dan nalar manusia atau alam niskala. Proses pelaksanaan tradisi Petik Laut meliputi : (1) tahap persiapan, (2) tahap pelaksanaan; (3) tahap penutup. Aspek-aspek dari tradisi Petik Laut yang dapat di pakai untuk pengembangan suplemen Sejarah Bahari diantaranya: (1) aspek materi ajar; (2) aspek media pembelajaran. Kata Kunci : Latar belakang, pemertahanan tradisi, Petik Laut sebagai suplemen Sejarah Bahari This study aims to determine, (1) the background Pekutatan villagers still maintain the tradition of Petik Laut; (2) The process of implementation of Petik Laut tradition in the village Pekutatan, (3) Aspects of Marine Pick tradition that can be used to supplement the development of Maritime History. This study used a qualitative approach, namely: (1) a technique of determining the informant; (2) data collection techniques (observation, interview, study analysis / content or documentation); (3) data analysis techniques; (4) the techniques of writing. The results showed that the background retention Pick tradition in the Pekutatan Village Sea closely related to the function of tradition; (1) physical needs, namely: (1) the individual functions are strongly associated with strength and a sense of emotional self-satisfaction; (2) social function is closely related to an increase in social solidarity among fellow that foster a sense of social integration among the people so that they can work well together; (2) the fulfillment of psychological needs, namely: (1) belief or trust, it relates closely to invoke the safety at sea, prevent themselves from danger in the sea as well as by the fear of the supernatural, that is beyond the capability and human reasoning or abstract nature. Petik Laut tradition implementation process include: (1) preparation, (2) the implementation phase; (3) closing stages. Aspects of Marine Pick tradition that can be used for the development of Maritime History supplements include: (1) aspects of teaching materials; (2) aspects of learning media. keyword : Background, retention tradition, Petik Laut Maritime History as a supplement
PEMBANTAIAN MASSAL PENGIKUT GERAKAN 30 SEPTEMBER 1965 DI SETRA PEMASAHAN, DESA PAKRAMAN TIANYAR, KUBU KARANGASEM, BALI DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA ., I Gede Putra; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum; ., Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i3.4273

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) latar belakang sejarah pembantaian massal di Setra Pemasahan yang terdapat di Desa Pakraman Tianyar, Kubu, Karangasem. (2) proses pembantaian terhadap orang-orang yang dicurigai sebagai anggota dan simpatisan PKI, dan (3) Aspek-aspek dari peristiwa pembantaian di Setra Pemasahan sebagai sumber belajar sejar di SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan langkah-langkah, yakni: (1) penentuan lokasi penelitian, (2) penentuan informan, (3) pengumpulan data (teknik observasi, wawancara, studi dokumen), (4) teknik penjaminan keaslian data (triangulasi data, triangulasi metode), (5) teknik analisis data (reduksi data, display data, kesimpulan dan verifikasi), dan (6) penulisan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa latar belakang sejarah peristiwa pembantaian massal di Setra Pemasahan tidak dapat dilepaskan dengan gerakan penumpasan G30S diberbagai daerah di Indonesia. Selain itu juga pembantaian yang terjadi selalu disertai dengan rasa sentimen pribadi. Proses pembantaian massal di Setra Pemasahan berlangsung selama satu hari. Korban pembantaiannya mencapai 150 orang dan mereka merupakan orang-orang yang berasal dari luar Desa Pakraman Tianyar. Aspek-aspek pembantaian massal di Setra Pemasahan yang bisa dikembangkan sebagai sumber belajar sejarah di SMA, yaitu; (1) aspek kognitif (2) aspek afektif dan (3) aspek psikomotor.Kata Kunci : Setra Pemasahan, kuburan massal, pembantaian massal, ABSTRACT This study aimed to determine (1) the background of the massacre in the history of Setra Pemasahan contained in Pakraman Tianyar, Kubu, Karangasem. (2) the massacre of suspected PKI members and sympathizers, and (3) aspects of the massacre at Setra Pemasahan as a learning resource in school history. The method used in this study is a qualitative method steps, namely: (1) determining the location of the research, (2) determination of the informant, (3) data collection (observation, interviews, document studies), (4) the technique guarantees the authenticity of the data (data triangulation, triangulation method), (5) data analysis (data reduction, data display, conclusion and verification), and (6) that the results of the study. The results showed that the background of the massacre in the history of the events Setra Pemasahan can not be released by crushing the movement of the G-30 in various regions in Indonesia. In addition, the massacre is always accompanied by a sense of personal sentiment. The process of mass murder at Setra Pemasahan lasts for one day. Victims of massacre of 150 people and they are people who come from outside Pakraman Tianyar. Aspects of the massacre at Setra Pemasahan that could be developed as a source of learning history in high school, that is; (1) cognitive, (2) the affective aspect and (3) psychomotor aspect. keyword : Setra Pemasahan, mass graves, mass murder
TRADISI NGREKES DI DESA PAKRAMAN MUNTIGUNUNG, KUBU, KARANGASEM BALI (LATAR BELAKANG, SISTEM RITUAL DAN POTENSI NILAI-NILAINYA SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA) ., Ni Wayan Nonoriati; ., Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v4i2.3810

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, (1) latar belakang masyarakat Desa Pakraman Muntigunung tetap mempertahankan tradisi Ngrekes; (2) sistem ritual pelaksanaan tradisi Ngrekes, (3) Nilai- nilai karakter yang terdapat pada tradisi Ngrekes yang dapat dipakai sebagai sumber pembelajaran sejarah di SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) teknik penentuan informan; (2) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi analisis/content); (3) teknik analisis data; (4) teknik penulisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang pemertahanan tradisi Ngrekes di Desa Pakraman Muntigunung berkaitan erat dengan fungsi dari tradisi yaitu; (1) pemenuhan kebutuhan fisik yaitu: (1) fungsi individu yang berkaitan erat dengan kekuatan rasa aman dan suatu kepuasan diri secara emosional; (2) fungsi sosial berkaitan erat dengan peningkatan solidaritas sosial antara sesama sehingga menumbuhkan rasa integrasi sosial antar masyarakat sehingga dapat bekerja sama dengan baik; (2) pemenuhan kebutuhan psikologis yaitu: (1) keyakinan; (2) memohon keselamatan dan umur yang panjang; (3) historis, hal ini berkaitan erat untuk menghindarkan diri dari mara bahaya serta rasa takut oleh hal yang bersifat gaib, yang ada di luar kemampuan dan nalar manusia atau alam niskala. Adapun upaya pemertahanan tradisi Ngrekes diantaranya; (1) sosialisasi yang terjadi di keluarga; (2) sosialisasi masyarakat; (3) sosialisasi di sekolah. Sistem ritual pelaksanaan tradisi Ngrekes meliputi aspek-aspek : (1) lokasi upacara yaitu di Catus Pata Desa; (2) waktu pelaksanaan; (3) peserta upacara. Rangkaian pelaksanaan upacara Ngrekes diantaranya: (1) tahap perisiapan mencari dewasa ayu;( 2) ngulemin pemangku; (3) bakti piuning; (4) upacara memutus. Nilai-nilai karakter yang terdapat pada tradisi Ngrekes secara umum dapat dibagi menjadi lima diantaranya: (1) nilai religius; (2) cinta damai; (3) disiplin; (4) tanggung jawab; (5) peduli sosial. Berdasarkan potensi nilai yang dimiliki tradisi Ngrekes sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah di SMA.Kata Kunci : Kata Kunci : Ngrekes, Potensi, Pendidikan Karakter. This study aims to determine, (1) background people Pakraman Muntigunung maintain the tradition Ngrekes, (2) system implementation ritual tradition Ngrekes, (3) karakter values contained in the tradition Ngrekes that can be used as a source of teaching history in high school. This study used a qualitative approach is: (1) determination techniques informant; (2) data collection techniques (observation, interviews, analysis study/ content our documentation); (3) data analysis techniques; (4) writing techniques. Results showed that the background retention in the tradition Ngrekes Pakraman Muntigunung closely related to the function of tradition, namely : (1) physical needs, ie: (1) individual functions are closely related to strength and a sense of self satisfaction emotionally; (2) social function is closely related to an increase in social solidarity among fellow that foster a sense of social integration among the people so that they can work well together; (2) fulfillment of psychological needs, namely: (1) confidence; (2) invoke the safety and long life; (3) historically, it relates closely to avoid distress an fear by the things that are unseen, that is beyond the ability of human reason or nature and abstract. The preservation efforts such Ngrekes tradition; (1) socialization that occurs in the family; (2) community outreach; (3 socialization in schools. The system rituals implementation tradition Ngrekes aspects of cover : (1) the location of the ceremony is in catus pata village;(2) execution time; (3) participants of the ceremony. Series implementation of ceremonies such Ngrekes: (1) stage of preparation looking for adult ayu; (2) ngulemin pemangku; (3) bakti piuning; (4) upacara memutus. Character values contained in Ngrekes tradition in general can be divided among five: (1) value rilegius; (2) love peace; (3) discipline; (4) responsibility; (5) social care. Based on the pontential value of owned Ngrekes tradition that can be used as a source of teaching history in high school. keyword : Keywords: Ngrekes, potential,character education
IDENTIFIKASI POTENSI MONUMEN BHUWANA KERTA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA ., Gede Senjaya; ., Drs. I Ketut Margi, M.Si; ., Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i2.3967

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian adalah 1) penentuan rancangan penelitian, 2) penentuan lokasi penelitian, 3) penentuan informan, 4) pengumpulan data, 5) validitas data, dan 6) analisis data. Penelitian ini dilakukan di Desa Panji, Kecamatan Sukasada yang bertujuan untuk mengetahui; 1) Latar belakang dibangunnya monumen Bhuwana Kerta di Desa Panji; 2) Bentuk dan struktur monumen Bhuwana Kerta di Desa Panji; dan 3) Aspek-aspek sejarah Monumen Bhuwana Kerta yang dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran sejarah. Berdasarkan wawancara, observasi, studi dokumentasi di lapangan diketahui bahwa, 1) pendirian monumen dilatarbelakangi oleh perjuangan pertempuran panji; 2) bentuk monument dan struktur monumen Bhuwana Kerta terdiri dari dasar, badan, dan kepala, Monumen Bhuwana Kerta bertinggi 17 meter, merupakan visualisasi simbolik angka keramat kemerdekaan bangsa Indonesia. Puncak monumen berwujud padmasana dan api, merupakan simbol Tuhan yang memberi anugerah kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Di bawah wujud padmasana dan api terdapat wujud delapan helai daun teratai simbol asthadala, manifestasi Tuhan dalam keyakinan Hindu. Selain itu, bentuk ini merupakan simbol dari bulan kemerdekaan bangsa Indonesia. Bentuk badan monumen yang polos adalah simbol dari keluhuran, kesucian dan kejujuran perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia di Bali. Adanya bentuk dulang dengan wujud visual bercelah-celah sebanyak 45 buah di bagian bawah badan monumen, merupakan simbol dari tahun kemerdekaan bangsa Indonesia. Aspek-aspek dari monumen Bhuana Kerta yang bisa dijadikan sumber pembelajaran sejarah adalah aspek sejarahnya dan nilai-niulai yang terkandung dalam simbol-simbol monumen,seperti nilai edukatif, nilai pengetahuan,nilai artistic,nilai kepahlawanan dan nilai rekreatif Kata Kunci : Monumen,Potensi sumber belajar sejarah This research is qualitative, with the stages in the research done is 1) the determination of the study design, 2) determining the location of the study, 3) determination of the informants, 4) data collection, 5) the validity of the data, and 6) data analysis. This research was conducted in the village of Panji, District Sukasada which aims to find out; 1) Background Bhuwana Kerta monument built in the village of Panji; 2) The shape and structure of the monument in the village of Panji Bhuwana Kerta; and 3) the historical aspects Bhuwana Kerta monument that can be used as a source of learning history. Based on interviews, observation, field study documentation in mind that, 1) the establishment of the monument is motivated by struggles battle flag; 2) the shape and structure of the monument Bhuwana Kerta monument consists of a base, body, and head, Monument Bhuwana Kerta plays 17 yards, a sacred number symbolic visualization of Indonesian independence. Peak padmasana and fire tangible monument, a symbol of God's grace that gives independence for Indonesia. Under the form of padmasana and fire are eight strands form symbols asthadala lotus leaf, the manifestation of God in the Hindu faith. In addition, the shape of the moon is a symbol of Indonesian independence. Physique plain monument is a symbol of nobleness, purity and honesty of the struggle for independence of Indonesia in Bali. The presence of a platter with a slotted-slit visual form as many as 45 pieces at the bottom of the monument, a symbol of the independence of Indonesia. Aspects of the monument Bhuana Kerta that can be used as a source of learning history is an aspect of its history and value-niulai contained in symbols monuments, such as the educational value, the value of knowledge, artistic value, the value of heroism and recreational values keyword : Monument, potential sources of learning history
NYEPI LUH DAN NYEPI MUANI di DESA PEKRAMAN ABABI, ABANG, KARANGASEM, BALI SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH SMA ., I Kadek Dharma Tanaya; ., Drs. I Wayan Mudana,M.Si.; ., Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v3i3.2391

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui (1) Mengapa masyarakat Desa Pekraman Ababi, Abang, Karangsaem Melakukan Nyepi Luh dan Nyepi Muani.; (2) Bagaimana proses pelaksanaan upacara Nyepi Luh dan Nyepi Muani di Desa Pekraman Ababi, Abang, Karangasem; (3) Nilai-nilai pendidikan sejarah yang terdapat pada pelaksanaan Nyepi Luh dan Nyepi Muani di Desa Pekraman Ababi, Abang, Karangasem, yang bisa di jadikan sumber belajar sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1)lokasi dan subjek penelitian.(2) Teknik Penentuan Informan menggunakan Purposive Sampling, (3) Teknik Pengumpulan Data (observasi, wawancara, pencatatan dokumen,reduksi data,penyajian data,penarikan kesimpulan dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Tradisi Nyepi Luh dan Nyepi Muani sangat erat kaitanya dengan kehidupan pertanian masyarakat Desa Pakraman Ababi. Tradisi ini dilaksanakan atas dasar rasa syukur para petani kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas panen yang berlimpah di desa ini. Disamping beberapa hal yang diuraikan di atas ada beberapa latar belakang lain yang mendorong dilaksanakannya Tradisi Nyepi Luh dan Nyepi Muani di Desa Pakraman Ababi antara lain : Kekhawatiran Akan Marabahaya atau Takut Terhadap Hal-hal Yang Gaib, Media Memohon Kesuburan, Memohon Kemakmuran dan Kesejahteraan, Mempertebal Keyakinan Ajaran Agama Hindu, Media Mempererat Hubungunan Sosial Keluarga dan Masyarakat. (2) Pelaksanaan Tradisi Nyepi Luh dan Nyepi Muani dilakukan dalam dua tahap yaitu nyelampar dan nyirenin,.upacara Nyepi Luh dan Nyepi masing-masing terdiri dari tiga rangkaian, yaitu :Ngejaga, Nyepi,dan Ngembak Geni.waktu pelaksanaan Tradisi Nyepi Luh dan Nyepi Muani ini dilaksanakan pada hari Sasih kapitu dan kaulu., yang dimana peserta dalam tradisi ini dilakukan oleh krama lanang dan istri baik muda maupun dewasa. (3) Pelaksanaan Tradisi Nyepi Luh dan Nyepi Muani juga mengandung nilai-nilai pendidikan sebagai sumber belajar sejarah bagi generasi muda. Nilai-nilai pendidikan sejarah yang terdapat dalam pelaksanaan Tradisi Nyepi Luh dan Nyepi Muani tersebut yaitu: (1) Religius, (2) Sosial, (3) Budaya, (4) Etika (5) Estetika.Kata Kunci : Latar Belakang Sejarah, Pelaksanaan, Sumber Belajar Sejarah This study aimed to ( 1 ) Why villagers Pekraman Ababi , brother , Karangsaem Doing Luh and Nyepi Nyepi Muani . ; ( 2 ) How does the process of implementation Luh and Nyepi Nyepi ceremony Muani Ababi Pekraman Village , Abang , Karangasem , (3 ) Value - educational value of history contained in the implementation of Nyepi Luh and Nyepi Muani Ababi Pekraman Village , Abang , Karangasem , which can be made a source of learning history . This study used a qualitative approach , namely : ( 1 ) the location and subject of study . ( 2 ) Determination Techniques informants using purposive sampling , ( 3 ) Data Collection Techniques ( observation , interviews , document recording , data reduction , data presentation , drawing conclusions and verification of data . Results showed that ( 1 ) tradition Luh and Nyepi Nyepi Muani very close relation to the agricultural community life Pakraman Ababi . tradition is being carried out on the basis of the farmers' gratitude to Ida Sang Hyang Wasa Widhi over abundant harvest in the village . Besides some case described above there are some other background that drives the implementation tradition Luh and Nyepi Nyepi Muani in Pakraman Ababi among others : Concerns Will Marabahaya or Fear Of things That invisibility , Media Fertility Invoke , Invoke Prosperity and Welfare , strengthening of the Doctrine of Faith Hinduism , Media Strengthening Family and Community Social Hubungunan . ( 2 ) The tradition of Nyepi Luh and Nyepi Muani carried out in two stages, nyelampar and nyirenin , . Luh and Nyepi Nyepi ceremony , each consisting of three series , namely : Ngejaga , Nyepi , tradition and Ngembak Geni.waktu implementation Luh and Nyepi Nyepi this Muani held on Sasih kapitu and kaulu . , in which the participants in this tradition performed by lanang manners and wife both young and adult . ( 3) The tradition of Nyepi Luh and Nyepi Muani also contains the values of education as a learning resource for the history of the younger generation . educational values contained in the execution history of tradition and Nyepi Nyepi Luh Muani are: ( 1 ) Religious , ( 2 ) Social , ( 3 ) Culture , ( 4 ) Ethics ( 5 ) Aesthetics .keyword : Historical Background, Implementation, Learning Resources History
Co-Authors ., Ali Rausan Fikri ., I Nengah Dodong ., I Wyn Krisnayana R d ., Kadek Dwi Mahayoni ., Mukti Ali Asyadzili ., Ni Km Dina Indrayani ., Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, M.A. Aflachatun Nia Aizil Mamnun Alfrida Nola Ali Rausan Fikri . Alif Alfi Syahrin Aprilia Rofika Ardanareswari, Ni Putu Galuh Ariasa, Gede Wiga Anggara Aris Wibowo Aris Wibowo Arti, Luh Puji Arvitria, Devi Wina Barus, Ira Pratiwi Alberta Bawazir, Ema Maulidya Damayani, Kadek Putri Meita Darmayanti, Kadek Nanda Weda Dela Safitri Desak Made Oka Purnawati Desak Putu Wirastini . Dewi, Mevilia Taryo A Dr. Tuty Maryati,M.Pd . Drs. I Wayan Mudana,M.Si. . Drs. Wayan Sugiartha, M.Si. . Eky Pratiwi Ema Maulidya Bawazir Fani Haryadi Fantiya, Hetwin Fitri Noviani Fitri Noviani G.B. Surya Utama . Gede Aris Adi Sanjaya . Gede Senjaya . Gede Wiga Anggara Ariasa Gita Juliana Harefa, Lisaman Haryadi, Fani Hetwin Fantiya I Gede Oka Parwata . I Gede Putra . I Gede Yogi Sastrawan . I Gusti Ayu Virgin Septiarini I Gusti Made Arya Sutha Wirawan I Gusti Made Aryana I Kadek Dharma Tanaya . I Made Agus Eri Antara . I Made Pageh I Nengah Dodong . I Nengah Narendra Permana I Nyoman Candra Wiguna . I Nyoman Mantaka I Putu Sandiasa Adiawan . I Putu Widiarta . I Putu Widiarta ., I Putu Widiarta I Putu Wisnu Saputra I Wayan Kertih I Wayan Mudana I Wayan Pardi I Wayan Putra Yasa I Wayan Rai I Wayan Rai I Wayan Suwartika . I Wyn Krisnayana R d . Ida Ayu Komang Dina Lestariani Ida Ayu Komang Natika Wuni . Ida Ayu Komang Sintia Dewi . Juliana, Gita Kadek Aprianti . Kadek Aprianti ., Kadek Aprianti Kadek Dwi Mahayoni . Kadek Nanda Weda Darmayanti Kadek Putri Meita Damayani Kadek Ranti Ketut Jasiani . Ketut Jasiani ., Ketut Jasiani Ketut Sedana Arta Komang Sri Wahyuni Lapak, Maria Muda Mai Meria Lestariani, Ida Ayu Komang Dina Lola Utama Sitompul Luh Dessy Rismayani M Al Qautsar Pratama . M Al Qautsar Pratama ., M Al Qautsar Pratama M.Si Drs. I Ketut Margi . M.Si. Drs. Wayan Sugiartha . Mabruza, Qisti Sofi Made Wahyu Ari Wiarsana Mamnun, Aizil Maria Muda Mai Meria Lapak Mariyastini, Sang Ayu Putu Mevilia Taryo A Dewi Mudinillah, Adam Muhammad Idris Muhammad Idris Muhammad Syafri Muhammad Syafri, Muhammad Mukti Ali Asyadzili . Nela Agustin Permata Sari Nengah Bawa Atmadja Nengah Bawa Atmadja Nengah Bawa Atmadja Ni Kadek Ari Indrayani . Ni Kadek Ari Indrayani ., Ni Kadek Ari Indrayani Ni Kadek Shantikarini Himawan Ni Ketut Eka Kresna Dewipayanti . Ni Km Dina Indrayani . Ni Komang Rusna Dewi . Ni Komang Sukariasih . Ni Komang Trisna Suparwati . Ni Luh Anik Arisa Dewi . Ni Luh Suarmini Ni Made Dwipayani . Ni Nengah Suartini Ni Nengah Suartini, Ni Nengah Ni Nyoman Yelik Ni Putu Ratna Ayu Lestari NI Putu Swandewi Ni Wayan Astini . Ni Wayan Nonoriati . Ni Wayan Windiasih Ni Wayan Wiwik Astuti . Nia, Aflachatun Nola, Alfrida Permana, I Nengah Narendra Pratiwi, Eky Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, M.A. . Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja,MA . Putu Adi Sutama . Putu Adi Sutama ., Putu Adi Sutama Putu Ari Antara . Qisti Sofi Mabruza Ranti, Kadek Safitri, Dela Sang Ayu Putu Mariyastini Santana Sembiring Sari, Nela Agustin Permata Septiarini, I Gusti Ayu Virgin Suarmini, Ni Luh Sulistio, Aprillia Devi Susanti . Swandewi, Ni Putu Tarigan, Evlyn Lestari Br UNDIKSHA . Wiarsana, Made Wahyu Ari Windiasih, Ni Wayan Wirawan, I Gusti Made Arya Suta Wirawan, I Gusti Made Arya Sutha Wongkar, Daniel Jeremy Yelik, Ni Nyoman Zainal Abidin Zainal Abidin