Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Konflik Islam, Adat, dan Modernitas dalam Budaya Minangkabau di Era Digital Frizti Mayendi; Yusfita Sari; Ahmad Rafiky; Fathoni Hidayatulloh; Hoktaviandri Hoktaviandri
Maksimal Jurnal : Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, Dan Pendidikan Vol 3 No 5 (2026): Juni
Publisher : Maximal Journal : Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) mencerminkan identitas budaya yang kuat dari masyarakat Minangkabau, yang berasal dari perpaduan antara Islam dengan ritual-ritual kuno. Namun, kehidupan masyarakat Minangkabau telah dipengaruhi oleh sejumlah perubahan sosial yang ditimbulkan oleh kemunculan modernitas dan era digital. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji ketegangan yang muncul antara Islam, adat, dan modernitas dalam budaya Minangkabau serta mengidentifikasi upaya masyarakat dalam melestarikan identitas budayanya di tengah perubahan tersebut. Penelitian ini menggunakan penelitian pustaka dan metodologi kualitatif. Informasi mengenai budaya Minangkabau, Islam, adat, dan modernitas dikumpulkan dari berbagai buku, artikel jurnal, dan sumber akademis. Melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, data dianalisis menggunakan metodologi deskriptif-kualitatif. Temuan penelitian ini menunjukkan adanya konflik antara Islam, adat, dan modernitas dalam sejumlah aspek kehidupan masyarakat, termasuk penggunaan media digital, sistem kekerabatan, perkawinan, peran mamak, gaya hidup generasi muda, serta adat istiadat. Di satu sisi, modernitas dapat mengikis signifikansi lembaga-lembaga adat dan menggantikan nilai-nilai tradisional. Namun, era digital juga menciptakan peluang baru bagi budaya Minangkabau untuk dilestarikan dan diperkenalkan secara lebih luas. Oleh karena itu, agar Islam, adat istiadat tradisional, dan modernitas dapat hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat Minangkabau modern, diperlukan upaya integratif melalui penguatan prinsip-prinsip ABS-SBK.
Sejarah Alam Minangkabau: Dari Kerajaan Pagaruyung Hingga Terbentuknya Luhak Nan Tigo Sebagai Pusat Peradaban Adat Sopeli Arsad; Umi Kasum Fitri; Ismi Fahrunisa; Nadia Talisa Nainggolan; Hoktaviandri Hoktaviandri
Maksimal Jurnal : Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, Dan Pendidikan Vol 3 No 6 (2026): Agustus
Publisher : Maximal Journal : Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minangkabau merupakan salah satu peradaban adat terbesar di Nusantara yang memiliki akar sejarah panjang dan kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejarah alam Minangkabau, khususnya terkait asal-usul Kerajaan Pagaruyung sebagai pusat kekuasaan politik dan legitimasi adat, serta proses historis terbentuknya Luhak Nan Tigo sebagai pusat peradaban adat Minangkabau. Metode yang digunakan adalah library research dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui telaah berbagai sumber literatur relevan, meliputi tambo, dokumen adat, dan kajian akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kerajaan Pagaruyung memainkan peran sentral sebagai pusat legitimasi adat dan kekuasaan politik sejak abad ke-14, sementara Luhak Nan Tigo — yang terdiri atas Luhak Tanah Datar, Luhak Agam, dan Luhak Lima Puluh Kota — berkembang sebagai pusat peradaban adat yang mengatur kehidupan sosial, budaya, dan hukum masyarakat Minangkabau. Pembentukan Luhak Nan Tigo bukan semata proses geografis, melainkan merupakan proses peradaban yang melibatkan penyebaran nilai-nilai adat, sistem nagari, dan struktur kepemimpinan matrilineal. Meskipun menghadapi tekanan kolonialisme dan modernisasi, warisan sejarah Luhak Nan Tigo tetap relevan sebagai fondasi identitas budaya Minangkabau hingga kini.
Eksistensi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Di Era Digital: Tantangan Dan Peluang Bagi Generasi Z Minangkabau Adelia Ramadhani; Meisha Faradiba; Cherry Auralia; Hoktaviandri Hoktaviandri
Maksimal Jurnal : Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, Dan Pendidikan Vol 3 No 6 (2026): Agustus
Publisher : Maximal Journal : Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehidupan masyarakat telah berubah secara signifikan akibat kemajuan teknologi digital, termasuk dalam hal pelestarian nilai-nilai budaya daerah. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK), sebuah filosofi yang memandang adat sebagai sesuatu yang berakar pada ajaran Islam, merupakan salah satu unsur budaya yang membentuk identitas masyarakat Minangkabau. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki keberadaan ABS-SBK di era digital, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi Generasi Z Minangkabau dalam menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut, serta mengeksplorasi cara-cara untuk memperkuatnya di tengah kemajuan teknologi. Penelitian ini menggunakan penelitian pustaka dan metodologi kualitatif. Data dikumpulkan dari sumber-sumber literer seperti buku, jurnal ilmiah, esai, dan publikasi akademis yang relevan dengan topik penelitian. Metode deskriptif-kualitatif digunakan untuk menganalisis data pada seluruh tahap pengumpulan, reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan temuan penelitian, masyarakat Minangkabau tetap hidup sesuai dengan prinsip-prinsip ABS-SBK, namun mereka menghadapi sejumlah kesulitan akibat globalisasi, perkembangan media digital, serta perubahan dalam pola interaksi sosial, serta menurunnya minat generasi muda terhadap budaya lokal. Namun, era digital juga membuka peluang bagi pelestarian budaya melalui penggunaan media sosial, digitalisasi budaya, komunitas daring, pengintegrasian nilai-nilai budaya ke dalam pendidikan, komunitas digital, dan digitalisasi budaya. Untuk memperkuat penerapan prinsip-prinsip ABS-SBK serta memastikan relevansi dan keberlanjutannya di era digital, keluarga, lembaga pendidikan, pemimpin adat, pemimpin agama, pemerintah, dan generasi muda harus bekerja sama.
Integrasi Nilai Islam dalam Budaya Minangkabau melalui Konsep Adat Basandi Syara’ Syara’ Basandi Kitabullah Fathoni Hidayatulloh; Ahmad Rafiky; Hoktaviandri Hoktaviandri
Maksimal Jurnal : Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, Dan Pendidikan Vol 3 No 4 (2026): April
Publisher : Maximal Journal : Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji integrasi nilai Islam dalam budaya Minangkabau melalui konsep Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah sebagai landasan normatif kehidupan masyarakat. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi pustaka, melalui penelaahan berbagai sumber literatur yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi antara adat dan Islam di Minangkabau terbentuk melalui proses historis yang panjang dan dialogis, sehingga menghasilkan sintesis nilai yang harmonis dan adaptif. Konsep tersebut tidak hanya memiliki dimensi filosofis yang kuat, tetapi juga terimplementasi secara konkret dalam struktur sosial, norma kehidupan, serta praktik pendidikan masyarakat. Pendidikan berperan strategis dalam mentransmisikan nilai-nilai tersebut melalui jalur keluarga, surau, dan lembaga formal, sehingga terbentuk karakter masyarakat yang religius dan berbudaya. Tantangan pada era kontemporer yang ditandai oleh globalisasi dan perubahan sosial menuntut adanya upaya revitalisasi nilai agar tetap relevan tanpa kehilangan substansi. Temuan ini menegaskan bahwa konsep Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah tetap memiliki signifikansi sebagai model integrasi nilai yang mampu menjawab dinamika zaman.
Islam dan Tradisi Lokal Minangkabau: Proses Akulturasi, Falsafah ABS-SBK, dan Dinamika Sosial Budaya Dewi Afriyani Putri Siregar; Hataya Zalfa; Jheny Ferlisya Syahara; Ananda Arumbinang; Hoktaviandri Hoktaviandri
Jurnal Nakula : Pusat Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 4 (2026): Juli : Pusat Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Ilmu Sosial
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/nakula.v4i4.2875

Abstract

This article examines the relationship between Islam and the local traditions of the Minangkabau community in West Sumatra, Indonesia. The focus covers three main issues: the historical process of Islamization, the philosophy of Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK), and the coexistence of the matrilineal kinship system with Islamic inheritance law. Using a qualitative approach through systematic literature review of peer-reviewed journals published between 2020 and 2025, the study synthesizes findings from multiple academic sources. The results reveal that Islam entered Minangkabau gradually through trade and the surau educational institution, rather than through forced conversion. The resulting ABS-SBK philosophy meaning customary law is grounded in Islamic law, which is grounded in the Quran serves as a comprehensive life guide integrating religious norms with adat practices. The matrilineal inheritance system (pusaka tinggi) coexists with Islamic inheritance law (faraid) through a functional distinction: communal ancestral property follows adat, while individually acquired property follows Islamic law. Contemporary challenges such as globalization, urbanization, and weakened institutional roles of adat leaders threaten the vitality of ABS-SBK, though cultural revitalization efforts show promising resilience. This study concludes that Minangkabau represents a unique model of Islam-culture integration in the Indonesian archipelago.