Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

SKRINING FITOKIMIA DAN UJI AKTIVITAS SITOTOKSIK PADA KULIT BATANG TAMPOI (Baccaurea macrocarpa) TERHADAP Artemia Salina LeachDENGAN METODE BSLT Andi Hairil Alimuddin, Muhamad Agus Wibowo, Eka Dwijayanti,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 4 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tampoi (Baccaurea macrocarpa) merupakan salah satu tanaman dari genus Baccaurea.Beberapa informasi ilmiah tentang aktivitas dari tanaman genus ini diantaranya antioksidan, antimikroba dan sitotoksik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas sitotoksik ekstrak metanol kulit batang tampoi dan hasil fraksinasinya. Penelitian diawali dengan penyediaan ekstrak metanol kental melalui maserasi sampel menggunakan pelarut metanol. Ekstrak metanol dipartisi dengan pelarut n-heksana, klorofom dan etil asetat yang diikuti dengan uji fitokimia kemudian dilakukan uji toksisitas ekstrak kental metanol dan hasil partisi terhadap Artemia Salina L dengan metode Brine Shrimp Lethality test (BSLT).Hasil uji fitokimia ekstrak kulit batang tampoi dan fraksinasiya positif mengandung metabolit sekunder yaitu ekstrak metanol dan fraksi etil asetat positif mengandung flavonoid, steroid, polifenol dan alkaloid sedangkan pada fraksi klorofom dan fraksi n-heksana positif mengandung alkaloid dan pada fraksi metanol positif mengandung flavonoid, polifenol, dan alkaloid. Data kematian Artemia salina dianalisis dengan analisis probit untuk mengetahui nilai LC50. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai LC50 dari ekstrak kental metanol kulit batang tampoi adalah 318,150 ppm dan fraksinasinya adalah fraksi etil asetat 310,443 ppm, fraksi n-heksana 500,160 ppm,  fraksi metanol 602,869 ppm  dan fraksi klorofom 640,471 ppm.Berdasarkan hasil uji aktivitas sitotoksik yang dilakukan, kulit batang tampoi mempunyai aktivitas sitotoksik dengan tingkat aktivitas yang tergolong sedang.   Kata kunci: Tampoi ,Baccaurea macrocarpa,Fitokimia, Sitotoksik, Artemia Salina, BSLT.
PENENTUAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI KULIT BUAH CERIA (BaccaureapolyneuraHook.f.) TERHADAP Escherichia coli dan Staphylococcus aureus Andi Hairil Alimuddin, Savante Arreneuz, Marta Hendra Susanti,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 3 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ceria merupakan salah satu tanaman dari genus Baccaurea.Tanaman ini hidup di daerah tropis di Kalimantan Barat dan buahnya dapat dikonsumsi.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan golongan senyawa metabolit sekunder dan aktivitas antibakteri kulit buah ceria. Senyawa metabolit sekunder diperoleh dari proses ekstraksi yaitu maserasi dan partisi.Pengujian aktivitas antibakteriyang dilakukan pada penelitian ini yaitu terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus dengan metode difusi agar menggunakan sumur, kemudian dilanjutkan dengan penentuan nilai MIC.Hasil uji fitokimia menunjukan bahwa kulit buah ceria mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenol, terpenoid dan steroid. Hasil penelitian dari ekstrak metanol, dan ketiga fraksi yaitu : kloroform, etil asetat dan metanol memiliki aktivitas antibakteri terhadap E.coli dengannilai MICadalah 0,44%, 0,405%, 0,407%, dan 0,415%, dan terhadap S.aureus  adalah 0,438%, 0,391%, 0,421%, dan 0,412%. Dari keempat sampel uji tersebut yang paling efektif menghambat pertumbuhan bakteri uji adalah pada fraksi kloroform yaitu terhadap E.coli sebesar 0,405% dan pada S.aureus sebesar 0,391%.   Kata kunci : Aktivitas Antibakteri, Fitokimia, Ceria (B.polyneuraHook.f.)
UJI AKTIVITAS ANTIRAYAP MINYAK ATSIRI KULIT JERUK PURUT (Cytrus hystric D.C) TERHADAP RAYAP TANAH (Coptotermes sp) Afghani Jayuska, Andi Hairil Alimuddin, Noverita,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekstraksi minyak atsiri kulit jeruk purut (Cytrus hystric D.C) telah dilakukan melalui destilasi uap. Penelitian ini bertujuan untuk  menentukan komponen yang terdapat dalam minyak kulit jeruk purut yang diisolasi dengan destilasi uap serta menguji aktivitas termisida dari kandungan zat dalam minyak atsiri kulit jeruk purut terhadap rayap tanah. Kulit jeruk purut yang telah dipotong-potong didestilasi selama 5 jam. Minyak atsiri yang diperoleh diterapkan untuk menentukan aktivitas antirayap dengan metode  cellulose pads yang telah dimodifikasi menggunakan rayap tanah (Coptotermes sp). Minyak atsiri yang diperoleh dari proses destilasi uap memiliki rendemen 0,5%. Hasil analisis menggunakan GC-MS menunjukkan bahwa minyak jeruk purut mengandung beberapa senyawa utama (citronella 14,18%, cyclohexene 10,10%, β-citronella8,54%, beta phellandrene 4,47%, citronellyl acetate 1,95%). Hasil uji aktivitas antirayap dengan pelarut dietil eter pada konsentrasi  0%, 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25% menunjukkan bahwa minyak jeruk purut memiliki aktivitas antirayap terhadap rayap tanah (Coptotermes sp). Aktivitas paling tinggi sebesar 100% kematian pada konsentrasi  20% dan 25% dalam waktu uji selama kurang dari 5 hari. Kata Kunci : Minyak atsiri, Cytrus hystric. D.C, Aktivitas antirayap, GC-MS
IMPREGNASI PIGMEN NORBIXIN DALAM BENTONIT TERAKTIVASI HCl Andi Hairil Alimuddin, Nelly Wahyuni, Indra Jemain,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pigmen norbixin pada Kesumba mampu menyerap energi UV dan mengubahnya menjadi energi karena memiliki ikatan rangkap konjugasi. Namun ikatan rangkap konjugasi juga dapat mempercepat norbixin mengalami fotodegradasi sehingga perlu diembankan dalam suatu material padat. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakteristik interkalasi pigmen norbixin pada bentonit teraksivasi HCl serta menentukan konstanta degradasi bentonit teraktivasi-norbixin dan ekstrak norbixin akibat paparan sinar UV. Tahapan perlakuan meliputi pembuatan bentonit teraktivasi menggunakan larutan asam klorida dan dikarakterisasi menggunakan XRD. Selanjutnya dilakukan impregnasi pigmen norbixin pada bentonit teraktivasi dengan variasi massa tertentu dan dianalisis menggunakan spektrofotometer inframerah. Hasil XRD menunjukkan bahwa terjadi peningkatan daerah antarlapis pada bentonit (fresh clay) sebesar 19,36 Å pada 2θ=4,56 . Spektra inframerah menunjukkan bahwa terdapat serapan C-O asam karboksilat pada daerah 1381,03 nm diikuti dengan pembentukan ikatan hidrogen antara gugus hidroksil (-OH) norbixin dengan gugus silikat (-SiO) bentonit setelah imobilisasi. Produk impregnasi terbaik diperoleh pada variasi massa bentonit 1 gram ditandai dengan peningkatan paling besar pada intensitas gugus hidroksil (-OH).   Kata kunci : aktivasi, bentonit, norbixin
PEMANFAATAN EKSTRAK LANDAK LAUT (Diadema setosum) DARI PULAU LEMUKUTAN SEBAGAI ANTIJAMUR Candida albicans Andi Hairil Alimuddin, Lia Destiarti, Martina Evi,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 4 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Landak laut (Diadema setosum) merupakan hewan laut yang tergolong dalam filum Echinodermata, dimana hingga saat ini pemanfaatan landak laut belum optimal. Padahal pada penelitian terhadap filum yang sama yaitu teripang keling (Holoturia atra) berpotensi sebagai antijamur. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk memanfaatkan ekstrak dan hasil partisi landak laut sebagai agen antijamur Candida albicans. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu ekstraksi, skrining fitokimia dan difusi agar. Proses ekstraksi dilakukan secara maserasi dengan etanol dan dilanjutkan dengan partisi bertingkat menggunakan pelarut n-heksana, kloroform dan etil asetat. Uji senyawa metabolit sekunder menggunakan metode skrining fitokimia sedangkan uji aktivitas antijamur menggunakan uji difusi agar. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa golongan senyawa yang terdapat dalam ekstrak landak laut adalah alkaloid, triterpenoid, saponin dan polifenol. Hasil rata-rata diameter zona hambat (mmSD dari fraksi etanol, fraksi etil asetat dan fraksi kloroform pada konsentrasi 100 mg/mL berturut-turut adalah 22,300,24 ; 21,800,08 ; 21,120,02. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa ekstrak landak laut pada fraksi etanol, etil asetat dan kloroform konsentasi 100 mg/mL berpotensi sebagai antibiotik yang sensitif dalam membunuh jamur C.albicans.   Kata kunci : Antijamur, Candida albicans, Landak laut (Diadema setosum)
UJI AKTIVITAS BIOTERMITISIDA MINYAK ATSIRI DAUN Citrus nobilis Lour TERHADAP RAYAP TANAH (Coptotermes curvignathus sp) Andi Hairil Alimuddin, Eni Kartini, Afghani Jayuska,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun Citrus nobilis Lour diekstraksi untuk mendapatkan minyak atsiri dengan metode destilasi uap dengan suhu 95OC. Identifikasi Kromatografi Gas Spektrometri Massamenunjukkan 44 komponen penyusun minyak atsiri C. nobilis Lour dimana komponen utamanya adalah Limonen (14,08%). Rendemen minyak atsiri daun C. nobilis Lour yaitu 0,431%.Minyak atsiri diujikan sebagai biotermitisida terhadap rayap tanah (Coptotermes curvignathus sp). Hasil uji dilakukan selama 7 hari menunjukan bahwa minyak atsiri bersifat toksik terhadap rayap dengan konsentrasi 20% dengan mortalitas 100% pada hari ke-4. Semakin tinggi penambahan konsentrasi minyak atsiri, maka mortalitas meningkat seiring dengan penurunan persentase kehilangan berat kertas uji. Persentase pengurangan berat kertas uji yang telah ditetesi minyak atsiri pada 0%, 5%, 10%, 15%, 20%, 25% dan fipronil (kontrol positif) berturut-turut adalah 19,16%, 14,87%, 11,78%, 0,51%, 0%, 0%, dan 0%.   Kata kunci: biotermitisida, minyak atsiri, C. nobilis Lour, limonen.
UJIAKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAKKULIT BUAH TAMPOI (Baccaureamacrocarpa) TERHADAP BAKTERI Escherichia coli dan Staphylococcus aureus Andi Hairil Alimuddin, Puji Ardiningsih, Renos Yunus,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 3 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buah tampoi (B. macrocarpa) merupakan tumbuhan yang tumbuh di Kalimantan Barat. Penelitian ini bertujuan untuk             mengidentifikasi kandungan golongan senyawa metabolit sekunder kulit buah tampoidan menguji aktivitas antibakterinya terhadap bakteri E. coli dan S. aureus dengan Metode sumur. Hasil analisis fitokimia kulit buah tampoi pada Ekstrak metanol kulit buah tampoi positif mengandung golongan senyawa alkaloid, polifenol, dan flavonoid, fraksi n-heksan mengandung golongan senyawa alkaloid dan fraksi etil asetat menunjukan golongan senyawa alkaloid dan polifenol sedangkan fraksi metanol positif mengandung golongan senyawa alkaloid, polifenol dan flavonoid. Diameter zona hambat ekstrak metanol kulit buah tampoi tarhadap bakteri S. aureus pada konsentrasi 5%, 10%, dan 20% berturut-turut sebesar 0, 0,433, dan 6,40 mm, fraksi n-heksan sebesar 3,55, 6,55 dan 8,77 mm, fraksi etil asetat sebesar16,55, 19,05 dan 22,01 mm, dan pada fraksi metanol sebesar 6,92, 9,78 dan 12,32 mm, sedangkan ekstrak metanol pada bakteri E. coli pada konsentrasi 5%, 10%, dan 20% sebesar 5,01, 7,82, dan 9,21 mm, fraksi n-heksan sebesar 8,22, 11,36 dan 13,66 mm, fraksi etil asetat sebesar 15,41, 20,25 dan 23,92 mm, dan pada fraksi metanol sebesar 9,78, 13,43 dan 15,02 mm. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kulit buah tampoi positif mengandung golongan senyawa  alkaloid, polifenol dan flavonoid, uji aktivitas antibakteri kulit buah tampoi fraksi etil asetat memiliki daya hambat antibakteri paling tinggi terhadap  pertumbuhan S. aureus dan E. coli. Kata Kunci : tampoi, baccaurea macrocarpa, fitokimia, aktivitas antibakteri.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN HASIL KROMATOGRAFI VAKUM CAIR FRAKSI METANOL KULIT BATANG CERIA (Baccaurea hookeri) Andi Hairil Alimuddin, Harlia, JP Maro,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 4 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fraksi metanol kulit batang ceria (Baccaurea hookeri) telah diketahui memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan fraksi metanol kulit batang ceria hasil kromatografi vakum cair (KVC). Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH. Hasil uji aktivitas antioksidan fraksi metanol memiliki kemampuan menghambat radikal bebas DPPH dengan nilai IC50 sebesar 9,265 µg/mL. Hasil uji fitokimia menunjukkan fraksi metanol hasil KVC mengandung golongan senyawa polifenol dan terpenoid. Hasil ini menunjukkan bahwa fraksi metanol kulit batang ceria hasil KVC berpotensi kuat sebagai antioksidan, namun masih lebih rendah dibandingkan asam askorbat yang memiliki nilai IC50 sebesar 6,607 µg/mL. Kata kunci: Ceria (Baccaurea hookeri), antioksidan, polifenol, terpenoid
UJI FOTOSTABILITAS KAOLINIT-NORBIXIN BERDASARKAN ANALISIS SPEKTRA UV-VIS Nelly Wahyuni, Andi Hairil Alimuddin, Robbi Ridwansyah,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Norbixin mampu menyerap energi UV dan dapat menghasilkan energi yang tinggi. Adanya ikatan rangkap terkonjugasi pada struktur kimia norbixin mengakibatkan norbixin mudah terdegradasi sehingga dapat mengurangi fotostabilitasnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji fotostabilitas norbixin dan kaolinit-norbixin. Tahapan penelitian meliputi aktivasi kaolinit dengan larutan asam klorida, sintesis norbixin dari biji kesumba, imobilisasi norbixin pada kaolinit teraktivasi dan uji fotostabilitas norbixin dan kaolinit-norbixin. Imobilisasi pigmen norbixin pada kaolinit teraktivasi dianalisis menggunakan spektrum inframerah (IR). Produk hasil sintesis norbixin dikarakterisasi menggunakan spektra UV-Vis. Produk norbixin yang dikarakterisasi dengan spektra UV-Vis menunjukan adanya serapan khas norbixin yang berada pada panjang gelombang 453 nm dan 481 nm. Spektra IR menunjukan bahwa proses imobilisasi norbixin dengan kaolinit telah berhasil dilakukan ditandai dengan adanya serapan diena konjugasi C=C, serapan ikatan C=H alkena dan serapan pita OH karboksilat norbixin. Uji fotostabilitas menunjukkan bahwa norbixin memiliki konstanta laju degradasi sebesar 0,01 jam-1 dan memenuhi orde reaksi satu. Absorbansi kaolinit-norbixin setelah diiradiasi selama 12 jam pada umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan norbixin. Dari penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa imobilisasi pigmen norbixin pada kaolinit teraktivasi asam klorida mampu meningkatkan fotostabilitas pigmen norbixin.   Kata Kunci: Norbixin, fotostabilitas, imobilisasi, kaolinit teraktivasi, orde reaksi
CHARACTERIZATION OF NON-POLAR ORGANIC COMPOUNDS FROM Padina minor MACROALGAE FROM SINGKAWANG WATERS AND ANTIBACTERIAL ACTIVITY AGAINST Staphylococcus aureus AND Escherichia coli Wardani, Fina Rika; Sapar, Ajuk; Alimuddin, Andi Hairil
Jurnal Sains dan Terapan Kimia Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Kimia, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jstk.v18i1.15618

Abstract

Characterization of nonpolar organic compounds of macroalga Padina minor from Singkawang waters and activity against Staphylococcus aureus and Escherichia coli bacteria has been carried out. The stages of this research consisted of maceration, fractionation, phytochemical tests, characterization using FTIR and GC-MS, as well as testing the antibacterial activity with the well-diffusion method. The fractionation process produces n-hexane, dichloromethane, and methanol fractions. The n-hexane fraction was selected for packaging using gradient n-hexane: dichloromethane eluent and yielded 11 combined fractions (F1RW1-F1RW11). The combined fraction F1RW2 was separated again using n-hexane: dichloromethane eluent in a gradient manner and 18 combined fractions (F2RW1-F2RW18) were obtained. Then the F2RW4 isolate was characterized for GC-MS characterization and the F2RW3 isolate was characterized using FTIR. The FTIR interpretation results show the absorption of hydroxyl groups O-H (345.65 cm-1), C=O (1743.65 cm-1), C=C bonds (1633.71 cm-1), C-H (2926.01; 2854.01, 1438.9 and 723.31 cm-1), and C-O-C bonds (1170.79 cm-1). The results of the GC-MS analysis showed that the F2RW4 fraction had 2 main compounds, namely methyl decanoate and 11-methyl octadecenoate. The results of the antibacterial activity test showed that the methanol extract and n-hexane fraction of Padina minor were inactive against the inhibiting bacteria Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Keywords:  Padina minor, FTIR, GC-MS, Antibacterial