Herdhata Agusta
Departement Of Agronomy And Horticulture, Faculty Of Agriculture, IPB University (Bogor Agricultural University), Jl. Meranti, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680, INDONESIA

Published : 30 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Buletin Agrohorti

Pengaruh Bobot 1,000 Butir terhadap Field Emergence, Pertumbuhan dan Produksi pada Beberapa Varietas Padi (Oryza sativa L.) Alma Wahyuningrum; Ahmad Zamzami; Herdhata Agusta
Buletin Agrohorti Vol. 10 No. 3 (2022): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v8i3.46485

Abstract

Benih bermutu berperan penting dalam keberhasilan budidaya tanaman. Mutu benih yang tercantum pada kemasan benih bersertifikat hanya kadar air benih, daya berkecambah dan kemurnian benih. Nyatanya, masih banyak peubah mutu lain yang belum tercantum salah satunya bobot 1,000 butir. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih dan Kebun Percobaan Sawah Baru, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan Desember 2020 sampai Juni 2021. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan bobot 1,000 butir benih terhadap viabilitas dan vigor benih, field emergence, pertumbuhan dan hasil produksi padi. Percobaan disusun dalam Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) tiga perlakuan, yaitu benih berbobot 1,000 butir tinggi, sedang, dan rendah. Percobaan dilakukan pada tiga varietas, yaitu Ciherang, Inpari 32, dan Inpari 42. Bobot 1,000 butir benih berpengaruh nyata pada daya hantar listrik benih, tinggi bibit, jumlah daun bibit, bobot kering bibit dan pertumbuhan tanaman padi. Perbedaan bobot 1,000 butir benih tidak berpengaruh nyata terhadap peubah IV, DB, Kct, Kst, PTM, BKKN, komponen hasil dan produksi pada ketiga varietas yang diuji. Benih dengan bobot tinggi memiliki kemampuan untuk tumbuh menjadi bibit yang kuat dan dapat mempercepat masa persemaian dari ketiga varietas yang diuji. Benih berbobot tinggi dan sedang memiliki pertumbuhan vegetatif yang lebih baik dibandingkan benih berbobot rendah. Kata kunci: bibit, persemaian, produktivitas
Respons Pertumbuhan dan Hasil Produksi Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.) terhadap Penggunaan Pupuk Kasgot Eka Maulidiya, Sherly; Ummah, Kuntum Khaira; Miftahurridho, Muhammad Toha; Agusta, Herdhata; Hariyadi
Buletin Agrohorti Vol. 12 No. 3 (2024): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v12i3.57003

Abstract

Pupuk bekas maggot (kasgot) adalah jenis pupuk organik yang dihasilkan dari proses pengomposan limbah organik menggunakan larva black soldier fly (Hermetia illucens). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kasgot terhadap pertumbuhan pakcoy. Penelitian dilakukan di Agribusiness and Technology Park (ATP) IPB University, Cikarawang, Bogor pada bulan Maret hingga April 2024. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat perlakuan dan lima ulangan, sehingga menghasilkan 20 satuan percobaan. Perlakuan yang diberikan adalah dosis kasgot dengan K0 (kontrol/tanpa pupuk maggot), K1 (pupuk maggot 100 g), K2 (pupuk maggot 200 g), dan K3 (pupuk maggot 100 g) per polibag ukuran 35 cm x 35 cm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kasgot dapat meningkatkan hasil dan morfologi tanaman pakcoy. Produksi dan morfologi tanaman pakcoy dibandingkan dengan tanaman kontrol. Berdasarkan hasil penelitian, peningkatan dosis pupuk dari 100 g per polibag hingga 300 g per polibag tidak memberikan perbedaan yang signifikan terhadap beberapa parameter pertumbuhan tanaman pakcoy, seperti tinggi tanaman, lebar daun, dan panjang akar. Tinggi tanaman berkisar antara 17.10 cm hingga 19.00 cm, lebar daun antara 5.12 cm hingga 6.22 cm, dan panjang akar antara 12.60 cm hingga 15.00 cm. Hal ini menunjukkan bahwa dosis pupuk sebesar 100 g per polibag sudah cukup untuk mendukung pertumbuhan optimal tanaman pakcoy, dan peningkatan dosis lebih lanjut tidak memberikan efek positif yang berarti. Kata kunci: dosis, maggot, morfologi, pupuk organik
Manajemen Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Labuhanbatu, Sumatera Utara Tambunan, Elsass Riela; Ahmad Junaedi; Agusta, Herdhata
Buletin Agrohorti Vol. 12 No. 1 (2024): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v12i1.51535

Abstract

Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan penting yang potensial untuk dibudidayakan. Pemeliharaan pada tanaman kelapa sawit khususnya pemupukan memerlukan biaya yang tinggi sehingga perlu diperhatikan peningkatan efisiensi dan efektivitas pada penerapannya. Penelitian dilaksanakan di Labuhanbatu, Sumatera Utara yang berlangsung dari Januari–Mei 2022. Penelitian bertujuan untuk menganalisis sistem manajemen pemupukan kelapa sawit yang efektif dan efisien. Pengamatan pemupukan dilakukan pada penerapan kaidah 5T (tepat jenis, tepat dosis, tepat cara, tepat waktu dan tepat tempat). Data dianalisis menggunakan uji t-student. Berdasarkan hasil pengamatan, manajemen pemupukan sudah dijalankan dengan baik sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh kebun. Penerapan sistem tempat pengeceran pupuk meningkatkan kualitas pemupukan dan mempermudah proses pelangsiran pupuk. Ketepatan dosis aplikasi pupuk pada pemupukan HGFB mencapai persentase 95.5% dan pada pemupukan MOP mencapai persentase dan 92.8%. Realisasi aplikasi pupuk sudah sesuai dengan rekomendasi waktu pemupukan. Cara pengaplikasian pupuk juga sudah baik, rata–rata presentasi cara pemupukan HGFB dan MOP yaitu 95.5% dan 92.1%. Tempat pemupukan juga sudah diaplikasikan sesuai standar kebun (50 cm), rata–rata jarak aplikasi pupuk dari pokok pada pemupukan HGFB yaitu 54.9 cm dan MOP yaitu 52.9 cm. Kata kunci: efisiensi, keefektifan, kelapa sawit, ketepatan, pemupukan
Estimasi Jejak Karbon pada Budidaya Ubi kayu dari Berbagai Dosis Pupuk NPK dan Karbon Organik Tanah Santosa, Edi; Anwar, Syaiful; Hartono, Arief; Pramuhadi, Gatot; Diaguna, Ridwan; Zaman, Sofyan; Agusta, Herdhata
Buletin Agrohorti Vol. 12 No. 2 (2024): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v12i2.54453

Abstract

Ubi kayu atau singkong merupakan komoditas industri dan komponen penting pada ketahanan pangan di Indonesia, tetapi informasi jejak karbon dari kegiatan budidaya masih terbatas. Jejak karbon adalah salah satu pendekatan untuk memahami sumber emisi gas rumah kaca (GRK) yang berguna untuk mitigasi pemanasan global. Penelitian bertujuan melakukan asesmen jejak karbon budidaya ubi kayu pada berbagai taraf pupuk NPK dan karbon organik tanah (C-org). Penelitian dilakukan pada September 2022 hingga Mei 2023 di Kebun Percobaan IPB Jonggol. Data emisi diestimasi menggunakan skenario tier 1. Budidaya ubi kayu memiliki jejak karbon 2,511.2-10,641.4 kg CO2-eq ha-1 tergantung dosis NPK dan C-org. Budidaya mengemisikan karbon rata-rata 6,455.5 kg CO2-eq ha-1 dengan emisi langsung 4,532.3 kg CO2-eq ha-1dan tidak langsung sebesar 1,923.2 kg CO2-eq ha-1. Input NPK dan pupuk kandang menyumbang emisi langsung terbesar yakni berturut-turut 36.99% dan 54.96%. Pada waktu yang bersamaan, budidaya menskuestrasi karbon 27,445.1- 61,684.2 kg CO2-eq ha-1 (rata-rata 51,032.4 kg CO2-eq ha-1) sehingga budidaya memiliki neraca karbon positif yang berarti mengurangi GRK, yakni sebesar 24,933.9-54,493.1 kg CO2-eq ha-1 (rata-rata 44,577.0 kg CO2-eq ha-1). Berdasarkan regresi, tingkat C-org 4.8% dan dosis NPK (15-15-15) 440.7 kg ha-1 memberikan pengurangan (offsets) emisi GRK maksimum. Upaya mencapai budidaya ubi kayu rendah emisi diprioritaskan melalui pengurangan input pupuk misalnya dengan mengembalikan limbah biomasa budidaya. Kata kunci: emisi karbon, emisi GRK, ketahanan pangan, rendah emisi, singkong