Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Social Interactions and Quality of Life among Community-Dwelling Older Adults Alfianur, Alfianur; Ezalina, Ezalina; Saputra, Candra; Sapitri, Gusdi Riska
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No 3 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6i3.3208

Abstract

The escalating quantity of older individuals as a susceptible demographic necessitates significant consideration. The emergent challenges encompass not solely physical aspects but also psychological and societal dimensions, subsequently impacting their holistic well-being. An element contributing to the enhancement of the well-being of older individuals involves participating in communal exchanges. Past studies have suggested that seniors who regularly partake in various pursuits and participate in favorable social exchanges in their day-to-day routines may enhance their well-being. This study aimed to examine and analyze the relationship between social interaction and the quality of life among community-dwelling older adults. This study was a correlation with a cross-sectional approach. The sample was selected purposively, resulting in a sample of 228 older adults at the Harapan Raya Inpatient Health Center in Pekanbaru City. The data were collected using two validated questionnaire including social interaction questionnaire with Cronbach's α coefficient of 0.882, and WHOQOL-BREF with the Cronbach's α coefficient for the domains ranged from 0.41 to 0.77. To test the hypothesis regarding the relationship between the social interaction and the older adults quality of life, a chi-square test was employed. The research findings revealed a significant relationship between social interaction and the quality of life among older adults, with a p-value of 0.00 (<0.05) and an OR of 5.6. This implies that older adults with high social interaction have a 5.6 times higher chance of experiencing a good quality of life compared to those with low social interaction. Older adults with high social interaction tend to have a better quality of life compared to those with low social interaction.
Mapping the motives: Patterns and contributing factors of sexual violence against women in Indonesia Susanti, Susanti; Retnowati, Yuni; Gusriani, Gusriani; Alfianur, Alfianur
Majalah Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 1: 2025
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/makein.2025273

Abstract

Sexual violence remains a pervasive and underreported human rights violation, affecting one in three women globally and constituting a serious public health issue. Grounded in gender-based violence theory, this study critically analyzed 40 cases of sexual violence against women reported to the Tarakan City Police from 2020–2021 to examine how cases are documented, categorized, and understood locally. Using a descriptive design and secondary police data, the research found that most reported victims were young women aged 18–24, with boyfriends and husbands comprising the majority of perpetrators. Molestation (35%) and domestic violence (22.5%) were the most frequently reported forms, while “biological” motives predominated in police records (77.5%). Notably, no cases of rape were documented, suggesting possible underreporting or misclassification. These findings reflect not the true prevalence of sexual violence, but rather the patterns of reporting and official categorization, shaped by social stigma, legal norms, and systemic barriers. The study calls for enhanced education for law enforcement, survivor-centered reporting protocols, and multisectoral interventions to improve prevention and support. Limitations include the use of only reported cases, the small sample size, and inherent bias in administrative data, underscoring the need for further qualitative and mixed-method research. Abstrak: Kekerasan seksual tetap menjadi pelanggaran hak asasi manusia yang meluas dan kurang dilaporkan, memengaruhi satu dari tiga perempuan secara global serta menjadi masalah serius dalam kesehatan masyarakat. Berlandaskan teori kekerasan berbasis gender, studi ini menganalisis secara kritis 40 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang dilaporkan ke Kepolisian Kota Tarakan pada tahun 2020–2021 untuk menelaah bagaimana kasus-kasus tersebut didokumentasikan, dikategorikan, dan dipahami secara lokal. Dengan menggunakan desain deskriptif dan data sekunder dari kepolisian, penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar korban yang dilaporkan adalah perempuan muda berusia 18–24 tahun, dengan pacar dan suami sebagai pelaku terbanyak. Pencabulan (35%) dan kekerasan dalam rumah tangga (22,5%) merupakan bentuk kekerasan yang paling sering dilaporkan, sementara motif “biologis” mendominasi dalam catatan kepolisian (77,5%). Menariknya, tidak ada kasus pemerkosaan yang tercatat, yang dapat mengindikasikan adanya underreporting atau salah klasifikasi. Temuan ini tidak mencerminkan prevalensi kekerasan seksual yang sebenarnya, melainkan pola pelaporan dan kategorisasi resmi yang dipengaruhi oleh stigma sosial, norma hukum, dan hambatan sistemik. Studi ini merekomendasikan peningkatan edukasi bagi aparat penegak hukum, protokol pelaporan yang berpusat pada korban, serta intervensi multisektor untuk memperkuat pencegahan dan dukungan. Keterbatasan penelitian ini mencakup hanya menggunakan kasus yang dilaporkan, ukuran sampel yang kecil, dan bias bawaan pada data administratif, sehingga menekankan perlunya penelitian lebih lanjut dengan metode kualitatif dan campuran.
HUBUNGAN BEBAN KERJA PERAWAT PELAKSANA TERHADAP PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEPERAWATAN Nani, Hasni; Handayani, Fitriya; Hasriana, Hasriana; Hidaya, Nurman; Alfianur, Alfianur; Ose, Maria Imaculata
Jambura Journal of Health Sciences and Research Vol 6, No 2 (2024): APRIL: JAMBURA JOURNAL OF HEALTH SCIENCES AND RESEARCH
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/jjhsr.v6i2.19266

Abstract

Ketidakpuasan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan perawat masih sering terjadi, dan mutu pelayanan rumah sakit bergantung pada kinerja pelayanan perawat. Kinerja yang tidak memadai akan merugikan kualitas pelayanan yang diberikan sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dan ketidakpuasan pasien. Beban kerja yang berlebihan berdampak negatif terhadap efisiensi pekerjaan perawat. Tuntutan beban kerja perawat terlihat pada sebagian besar waktunya, sekitar 80%, didedikasikan untuk aktivitas produktif. Kegiatan ini mencakup pekerjaan di luar lingkup keperawatan, seperti tugas administratif dan tanggung jawab non-klinis. Kebaruan penelitian ini  karena melihat hubungan kerja perawat pelaksana terhadap pendokumentasian asuhan keperawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara jumlah pekerjaan dengan kinerja perawat, khususnya dalam konteks pencatatan asuhan keperawatan. Metodologi penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, secara eksplisit menggunakan desain cross-sectional. Sebanyak 96 peserta dilibatkan dalam penelitian ini, dipilih dengan teknik seleksi acak bertingkat, dengan mempertimbangkan kriteria inklusi dan eksklusi tertentu. Analisis data menggunakan uji Chi-Square yang secara khusus berfokus pada nilai yang diperoleh melalui Fisher's Exact Test. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa sekitar 51% (setara dengan 49 perawat) memiliki beban kerja yang sederhana, sedangkan sekitar 94,8% (setara dengan 91 perawat) menunjukkan dokumentasi asuhan keperawatan yang baik. Analisis bivariat menunjukkan nilai P-value sebesar 0,025, lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05. Kesimpulan terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara beban kerja dan dokumentasi asuhan keperawatan.
Pengaruh Pemberian Modifikasi Non-Nutritive Sucking (NNS) Terhadap Nilai Premature Infant Pain Profil–Revised (PIPP-R) Pada Neonatus yang Diberikan Vaksin Hepatitis B Indrasari, Neneng; Zulfia, Rahmatuz; Alfianur, Alfianur; Sulidah, Sulidah; Hasriana, Hasriana
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 8 (2024): Volume 4 Nomor 8 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i8.14734

Abstract

ABSTRACT There are various kinds of non-pharmacological pain management that can be applied to neonates, including Non-Nutritive Sucking (NNS). NNS is a method of stimulating the neonate’s sucking reflex, providing relief from acute pain. Premature Infant Pain Profile-Revised (PIPP-R) is a neonatal pain assessment that has validity, reliability, and feasibility. This research aimed to describe the process of determining non-pharmacological pain management that was applied with non-pharmacological techniques or management using NNS or finger sucking to reduce pain. The method used was a quasi-experimental design to assess the effect of NNS modification on the value of PIPP-R. The sample was taken from the respondents who were giving the Hepatitis B vaccine. The results showed that there was an effect of giving the NNS modification on the value of PIPP-R in neonates who were given the Hepatitis B vaccine at H. Jusuf S.K Tarakan Hospital, North Kalimantan Province, as evidenced by a p-value <0.05. The mean values after administrating the Hepatitis B vaccine intervention showed that there was a difference in the mean value in the intervention group which was more effective in reducing the scale based on the PIPP-R scale with NNS modification compared to the control group. Granting the NNS modification on the value of PIPP-R in neonates was more effective in the intervention group than that in the control group. Keywords: Hepatitis B, Neonates, NNS, Pain, PIPP-R  ABSTRAK Ada berbagai macam manajemen nyeri non farmakologis yang dapat diterapkan pada neonatus, diantaranya adalah Non-Nutritive Sucking (NNS). NNS adalah metode untuk merangsang refleks mengisap neonatus, memberikan bantuan dari nyeri akut. Prematur Infant Pain Profile Revised (PIPP-R) merupakan pengkajian nyeri neonatus yang memiliki validitas, reliabilitas, dan kelayakan. Penelitian ini bertujuan menggambarkan proses penentuan manajemen nyeri non farmakologis yang dapat diterapkan dengan teknik atau manajemen non farmakologis menggunakan NNS atau hisap jari untuk mengurangi nyeri. Desain yang digunakan yaitu desain Quasi eksperimental untuk menilai pengaruh pemberian modifikasi NNS terhadap nilai PIPP-R. Pengambilan sampel pada responden yang diberikan vaksin Hepatits B. Data yang diperoleh yaitu ada pengaruh pemberian modifikasi NNS terhadap nilai PIPP-R pada neonatus yang diberikan vaksin Hepatitis B di Rumah Sakit H. Jusuf S.K Tarakan Provinsi Kalimantan Utara dibuktikan dengan nilai p <0.05. Nilai rata-rata setelah pemberian tindakan vaksin Hepatitis B menunjukkan terdapat perbedaan nilai rata-rata pada kelompok intervensi lebih efektif dalam menurunkan skala nyeri berdasarkan skala PIPP-R dengan modifikasi NNS dibandingkan kelompok kontrol. Pemberian modifikasi NNS terhadap nilai PIPP-R pada neonatus lebih efektif pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol. Kata Kunci: Hepatitis B, Neonatus, NNS, Nyeri, PIPP-R
Analisis Berat Badan Bayi terhadap Kejadian Ikterus Neonatorum Setelah Terjadinya Sepsis Neonatorum pada Bayi Baru Lahir Hasratati, Putri; Zulfia, Rahmatuz; Alfianur, Alfianur; Najihah, Najiha
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 7 (2024): Volume 4 Nomor 7 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i7.14634

Abstract

ABSTRACT Neonatal sepsis is still a problem experienced by many newborns. Sepsis in newborns is an invasive bloodstream infection characterized by bacteria found in body fluids such as blood, bone marrow, or urine. The aim of this study was to analyze the relationship between infant weight and neonatal jaundice after neonatal sepsis in newborns. This type of research was a retrospective analytic observational approach The population was all newborns who were treated in the perinatology room at Tarakan City General Hospital. The newborn had been medically diagnosed with neonatal sepsis with neonatal jaundice. The sampling technique used is total sampling. The results showed that the incidence of neonatal jaundice after neonatal sepsis with low birth weight (79.7%) was greater than the normal (60.2%). The analysis obtained a p-value 0.012 so, which means that the p-value <0.05 with a prevalence ratio of 6.357. It means that babies with low birth weight are a risk factor for neonatal jaundice after neonatal sepsis at Tarakan City General Hospital in 2020-2021. The conclusion of this study was that there was a relationship between infant weight and neonatal jaundice after neonatal sepsis in infants. Newborns and babies with low birth weight have six times greater chance of experiencing neonatal jaundice after neonatal sepsis compared to the normal. Keywords: Birth Weight, Neonatal Jaundice, Neonatal Sepsis  ABSTRAK Sepsis Neonatal Masih Menjadi Permasalahan Yang Banyak Dialami bayi baru lahir. Infeksi aliran darah invasif yang dikenal sebagai sepsis pada neonatus ditandai dengan adanya bakteri dalam cairan tubuh termasuk urin, cairan sumsum tulang, atau darah. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa hubungan berat badan bayi terhadap kejadian ikterus neonatorum setelah terjadinya sepsis neonatorum pada bayi baru lahir. Jenis penelitian ini adalah pendekatan observasional analitik retrospektif. Populasi adalah semua bayi baru lahir yang dirawat di ruangan perinatologi di Rumah Sakit Umum Kota Tarakan dan telah di diagnosis medis sepsis neonatorum dengan kejadian ikterus neonatorum pada bayi baru lahir. Tehnik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kejadian penyakit kuning neonatal setelah sepsis dengan berat badan lahir rendah (79,7%) lebih tinggi dibandingkan kejadian setelah sepsis dengan berat lahir normal (60,2%). Berdasarkan analisis, rasio prevalensi sebesar 6,357 dan p-value <0,05 dengan p-value 0,012. Oleh karena itu, bayi baru lahir dengan berat badan lahir rendah memiliki peluang lebih besar untuk terkena penyakit kuning neonatal setelah adanya kasus sepsis neonatal di RSU Kota Tarakan pada tahun 2020–2021. Kejadian ikterus neonatorum setelah terjadinya sepsis neonatorum pada bayi baru lahir dan bayi dengan berat badan lahir rendah berpeluang mengalami ikterus neonatorum setelah terjadinya sepsis neonatorum 6 kali lebih besar dibandingkan dengan berat badan lahir normal. Kata Kunci: Berat Badan Lahir, Ikterus Neonatorum, Sepsis Neonatorum 
Analisis Pekerjaan dan Dukungan Keluarga terhadap Cakupan Imunisasi Rutin Lengkap Bayi dan Balita pada Kelurahan Juata Laut Nurtilawati, Sri; Wahyudi, Donny Tri; Alfianur, Alfianur; Handayani, Fitriya; Zulfia, Rahmatuz; Ose, Maria Imaculata
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 5 (2024): Volume 4 Nomor 5 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i5.14365

Abstract

ABSTRACT Immunization services are one of the most effective and efficient efforts to prevent and break the chain of communicable diseases. According to data from the Local Area Monitoring of the Juata Health Center, Juata Laut Village has not yet reached UCI (Universal Child Immunization), which is 56.4%, while the UCI target is 95%. This study aims to determine the relationship between employment status and family support on Complete Routine Immunization Coverage for Infants and Under-fives in Juata Laut Village. This research is a quantitative analytic study with a cross sectional design. The sample consisted of 50 mothers who had children aged less than 2 years with complete and incomplete routine immunizations obtained from total sampling. Data analysis used univariate and bivariate analysis with Chi Square test. The results showed that the mother's employment status was closely related to the achievement of complete routine immunization coverage for children under two with p-value = 0.001 < α (0.05) and there was a significant relationship between family support and the complete routine immunization status of infants and under-fives in Juata Village. Sea with p-value = 0.001. The conclusion of this study is that the mother's employment status and family support are related to complete routine immunization coverage for infants and under-fives in Juata Laut Village. To Health Center staff further improve health promotion by providing counseling on the importance of Complete Routine Immunization for infants and Bad and old, the side effects of the benefits of immunization. The community is expected to be more active in participating in the implementation of immunization. Keywords: Complete Routine Immunization, Coverage, Infants, and Under-Fives  ABSTRAK Pelayanan imunisasi merupakan salah satu upaya yang paling efektif dan efisien untuk mencegah dan memutus mata rantai penyakit menular. Menurut Data dari Pemantauan Wilayah Setempat Puskesmas Juata bahwa Kelurahan Juata Laut belum mencapai UCI (Universal Child Immunization) yaitu 56,4% sedangkan target UCI 95%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status pekerjaan dan dukungan keluarga terhadap Cakupan Imunisasi Rutin Lengkap pada Bayi dan Baduta di Kelurahan Juata Laut. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross sectional. Sampel terdiri dari 50 ibu yang memiliki anak usia kurang dari 2 tahun dengan imunisasi rutin lengkap dan tidak lengkap yang didapatkan dari total sampling, analisis data menggunakan  analisis univariat dan bivariat  dengan uji Chi Square , α: 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status pekerjaan ibu berhubungan erat dengan pencapaian cakupan imunisasi rutin lengkap bagi anak baduta dengan p-value =0,001 dan terdapat hubungan signifikan  antara dukungan keluarga terhadap status kelengkapan imunisasi rutin lengkap bayi dan baduta di Kelurahan Juata Laut dengan p-value= 0,001. Kesimpulan dari penelitian ini adalah status pekerjaan ibu dan dukungan keluarga berhubungan dengan cakupan imunisasi rutin lengkap pada bayi dan baduta di Kelurahan Juata Laut. Kepada Petugas Puskesmas lebih meningkatkan promosi Kesehatan dengan memberikan penyuluhan pentingnya Imunisasi Rutin Lengkap bagi bayi dan Baduta, efek samping keuntungan pemberian imunisasi. Masyarakat diharapkan dapat lebih aktif berperan serta dalam pelaksanaan imunisasi. Kata Kunci: Baduta, Bayi, Cakupan, dan Imunisasi Rutin Lengkap, Cakupan
Penyakit Ginjal Kronis Pada Masyarakat di Wilayah Pesisir Napitupulu, Regia; Paridah, Paridah; Tukan, Ramdya Akbar; Alfianur, Alfianur; Wijayanti, Dewi; Lesmana, Hendy
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 7 (2024): Volume 4 Nomor 7 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i7.14713

Abstract

ABSTRACT Chronic kidney disease is a condition of progressive decline in kidney function that occurred within a few months or years. Globally, there were 850,000 deaths each year from chronic kidney disease. The high incidence of chronic kidney disease is supposed to be caused by several risk factors such as hypertension, Diabetes Mellitus, smoking habits, consumption of supplement drinks, and lifestyle. The objective of this study was to identify the factors that influence the incidence of chronic kidney disease in coastal communities. The design of this study was cross sectional. The sampling used a purposive sampling method with a total sample of 68 respondents. The results of this study showed that there was a significant correlation between Sociodemographic factors (age and sex), comorbidities (Hypertension, Diabetes Mellitus, and Hyperuricemia), and lifestyle (consumption of seafood, alcohol, and caffeine). In addition, there was no significant correlation Sociodemographic factors (education), lifestyle (consumption of supplements), and family history toward the chronic kidney disease of people in coastal areas. The conclusions of the most dominant risk factors were likely to occur of chronic kidney disease in coastal area communities namely age, Hyperuricemia comorbidities and a lifestyle in consuming seafood. Keywords: Risk Factors, Chronic Kidneys, Coastal Areas  ABSTRAK Penyakit ginjal kronis merupakan suatu keadaan adanya penurunan fungsi ginjal secara progresif yang terjadi dalam beberapa bulan atau tahun. Secara global, setiap tahun terdapat 850.000 kematian akibat dari penyakit ginjal kronis. Tingginya angka kejadian penyakit ginjal kronis diduga disebabkan oleh beberapa faktor risiko seperti penyakit Hipertensi, Diabetes Mellitus, kebiasaan merokok, konsumsi minuman suplemen, dan gaya hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit ginjal kronis pada masayarakat pesisir. Desain penelitian ini adalah studi cross-sectional. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah sampel 68 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara faktor sosiodemografi (usia dan jenis kelamin), penyakit penyerta (Hipertensi, Diabetes Mellitus, dan Hiperurisemia), gaya hidup (konsumsi seafood, alkohol, dan kafein), dan tidak ada hubungan signifikan faktor sosiodemografi (pendidikan), gaya hidup (komsumsi suplemen), dan riwayat keluarga dengan penyakit ginjal kronis pada masyarakat di wilayah pesisir. Kesimpulan faktor risiko yang paling dominan berpeluang untuk terjadinya penyakit ginjal kronis pada masyarakat di wilayah pesisir yaitu usia, penyakit penyerta Hiperurisemia dan gaya hidup mengosumsi seafood. Kata Kunci: Faktor Risiko, Ginjal Kronis, Wilayah Pesisir
Peningkatan Kualitas Tidur Pada Pasien Nyeri Akut dengan Relaksasi Benson Madda, Hasmidah; Paridah, Paridah; Tukan, Ramdya Akbar; Ose, Maria Imaculata; Najihah, Najihah; Alfianur, Alfianur; lesmana, Hendy
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 7 (2024): Volume 4 Nomor 7 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i7.14714

Abstract

ABSTRACT Pain is a sensory and emotional experience accompanied by a sense of discomfort due to actual and potential damage to body tissues Pain or soreness is the most frequent major complaint, leading individuals to seek help at health facilities Pain has been identified as the cause of poor sleep quality Therefore, pharmacological and non-pharmacological interventions were needed to overcome the problem Benson relaxation can be used as a non-pharmacological intervention to reduce pain and improve sleep quality. The purpose of this study was to identify the effectiveness of Benson relaxation intervention on improving sleep quality in acute pain patients. This research used a quasi-experimental method with a One-group pretest-posttest design. The sampling used Purposive Sampling (Judgmental Sampling) with a total sample of 47 respondents who were treated in Anggrek A room of RSUD dr. H Jusuf SK. The results of a statistical test using the Wilcoxon Signed Rank test obtained a value of p-0.001 It showed that there was a significant difference between respondents' sleep quality and acute pain before and after Benson relaxation intervention The conclusion of the study showed that Benson relaxation which was given 20 minutes for 3 days was effective for improving sleep quality in acute pain patients. Keywords: Acute Pain, Benson Relaxation Therapy, Insomnia, Sleep Quality  ABSTRAK Nyeri adalah suatu pengalaman sensorik serta emosional disertai rasa ketidaknyamanan akibat rusaknya jaringan tubuh aktual dan potensial. Rasa sakit atau nyeri merupakan keluhan utama yang paling sering, membuat individu mencari bantuan ke fasilitas kesehatan. Nyeri telah diidentifikasi sebagai penyebab kualitas tidur yang buruk oleh karena itu dibutuhkan intervensi farmakologi dan non farmakologi untuk mengatasi masalah tersebut. Relaksasi Benson dapat digunakan sebagai intervensi non farmakologi untuk mengurangi nyeri dan menaikkan kualitas tidur. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi efektifitas intervensi relaksasi Benson terhadap peningkatan kualitas tidur pada pasien nyeri akut. Jenis penelitian ini menggambarkan metode quasi-exsperimen dengan desain One-group pretest-posttest design. Pengambilan sampel mengunakan Purposive Sampling (Judgmental Sampling) dengan jumlah sampel 47 pasien yang dirawat di ruang Anggrek A RSUD dr. H Jusuf SK. Hasil uji statistic menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test didapatkan nilai p=0,001, ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kualitas tidur pasien dengan nyeri akut sebelum dan setelah dilakukan intervensi relaksasi benson. Kesimpulan penelitian adalah relaksasi benson yang diberikan 20 menit selama 3 hari efektif untuk meningkatkan kualitas tidur pada pasien nyeri akut. Kata Kunci:Benson Relaxation Therapy, Insomnia, Kualitas Tidur, Nyeri 
Pemanfaatan Tanaman Lokal Moringa Oleifera dalam Bentuk Bolu Kukus sebagai Upaya Pencegahan Stunting Devita, Yeni; Puswati, Desti; Nita, Yureya; Alfianur, Alfianur; Saputra, Rahmat
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 3 (2024): Volume 7 No 3 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i3.13358

Abstract

ABSTRAK Stunting masih menjadi masalah Kesehatan utama di dunia maupun di Indonesia. Salah satu upaya untuk mencegah stunting adalah meningkatakan gizi mayarakat. Peningkatan gizi dapat dilakukan dengan mengkonsumsi daun kelor. Daun kelor memiliki banyak kandungan gizi. Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang stunting dan dapat mengolah daun kelor menjadi sebuh inovasi makanan seperti membuat bolu kukus dari daun kelor yang disebut dengan bolu kukus unkel ceting, yaitu bolu kukus pencegah stunting. Kegiatan ini dilakukan di Kelurahan Industri Tenayan Raya Kota Pekanbaru Riau. Metode kegiatan masyarakat ini terdiri dari penyuluhan, demonstrasi, pendampingan, dan penanaman bibit kelor. Tampak masyarakat sangat antusias mengikuti setiap kegiatan pengabdian masyarakat ini. Kata Kunci: Tanaman Lokal, Moringa Oleifera, Bolu Kukus, Stunting  ABSTRACT Stunting is still a major health problem in the world and in Indonesia. One of the efforts to prevent stunting is to improve the nutrition of the community. Improving nutrition can be done by consuming Moringa leaves. Moringa leaves have a lot of nutritional content. The purpose of this community service activity is to increase public knowledge about stunting and be able to process Moringa leaves into a food innovation such as making steamed sponge from Moringa leaves called steamed sponge unkel ceting, which is a steamed sponge that prevents stunting. This activity was carried out in the Tenayan Raya Industrial Village, Pekanbaru Riau City. This method of community activity consists of counseling, demonstration, mentoring, and planting Moringa seedlings. It seems that the community is very enthusiastic about participating in every community service activity Keywords: Local Plants, Moringa Oleifera, Steamed Sponge, Stunting
The Effectiveness of Implementing Daily Journaling on The Anxiety of Mother Children With Hemophilia Puswati, Desti; Rahmadini, Irena; Nita, Yureya; Devita, Yeni; Alfianur, Alfianur
Jurnal Keperawatan Priority Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/jukep.v7i1.4533

Abstract

The anxiety of mothers who have children with hemophilia can be overcome in various ways, including daily journal writing therapy. The research aims to determine the effectiveness of implementing a daily journal in reducing the anxiety of mothers who have children with hemophilia at HMHI Riau: quantitative research type, quasi-experimental design, one group pre-test post-test—carried out the research from January to June 2023. Samples were taken using a total population technique of 25 respondents. The research instrument used the HARS (Hamilton et al.), which consists of 14 items. This research has passed ethical test no. 067/STIKES PN/KEPK/V/2023. Before the intervention, respondents filled out personal and anxiety data questionnaires. Then, respondents were given a notebook to write down what they felt every day, and their anxiety level was measured again. The research results showed that the average level of maternal anxiety decreased by (7.56%) before the intervention (27.00) and after the intervention (19.44), p-value 0.000 < 0.05. So, H0 was rejected, which means that the daily journal is effective in reducing the anxiety level of mothers who have hemophilic children at HMHI Riau. The research results showed that the majority of respondents had the same anxiety both before and after the intervention, namely feeling afraid about their thoughts about their children; they are worried that their child will experience injury or bleeding during their daily activities. It recommended that future researchers create a digital program to overcome anxiety in mothers with hemophilia.