Articles
Peningkatan Kapasitas Kader Kesehatan dalam Deteksi Dini Masalah Psikososial pada Penderita Hipertensi dan Diabetes Melitus
Esti Widiani;
Nurul Hidayah;
Nurul Pujiastuti
Abdimas Galuh Vol 8, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Galuh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25157/ag.v8i1.21282
Penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes mellitus tidak hanya menimbulkan dampak fisik, tetapi juga berdampak pada kondisi psikososial penderitanya. Kader kesehatan desa berperan penting dalam memberikan pelayanan kesehatan primer, namun sebagian besar belum memiliki keterampilan untuk mendeteksi dini masalah psikososial. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan dalam mengenali tanda dan gejala depresi maupun kecemasan pada penderita hipertensi dan diabetes mellitus. Metode pelatihan dilakukan melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan simulasi kepada 20 kader kesehatan desa. Evaluasi menggunakan pre-test dan post-test serta observasi keterampilan. Hasil menunjukkan rata-rata skor pre-test 52,5 meningkat menjadi 82,15 pada post-test, dengan rata-rata peningkatan 29,65 poin. Keterampilan kader juga meningkat, terlihat dari kemampuan melakukan wawancara singkat dan mengidentifikasi gejala psikososial dalam simulasi. Kesimpulan kegiatan ini adalah pelatihan efektif meningkatkan kapasitas kader dalam deteksi dini masalah psikososial. Disarankan pelatihan dilakukan secara berkelanjutan dengan dukungan pendampingan dari tenaga kesehatan profesional.
Hubungan Perilaku Caring Perawat Berdasarkan Teori Jean Watson dengan Tingkat Stres Pasien Ulkus Diabetikum di RSUD Mardi Waluyo Blitar
Namira Laksanti Putri;
Arief Bachtiar;
Nurul Pujiastuti;
Tri Anjaswarni
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jn.v10i3.61350
Pasien ulkus diabetikum sering mengalami stres berat akibat nyeri berkepanjangan, kekhawatiran amputasi, dan beban ekonomi. Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa perawat cenderung lebih berfokus pada aspek fisik seperti perawatan luka dan pemberian pengobatan, sehingga perhatian terhadap aspek psikologis, emosional, dan spiritual pasien belum optimal. Kondisi ini menunjukkan rendahnya perilaku caring perawat saat memberi asuhan keperawatan holistik. Penelitian ini tujuannya guna menguji kaitan diantara perilaku caring perawat berdasarkan teori Jean Watson atas tingkatan stres pasien ulkus diabetikum. Penelitian ini menerapkan desain korelasional cross-sectional. Populasi nya yakni seluruh pasien ulkus diabetikum dirawat di RSUD Mardi Waluyo Blitar tanggal 25 Agustus-25 September 2025. Jumlah sampel ditentukan menggunakan G*Power diperoleh sebanyak 48 responden dipilih menggunakn teknik purposive sampling. Penelitian menggunakan instrumen Kuesioner Perilaku Caring Perawat (KPCP) dan Perceived Stress Scale (PSS-10). Analisis data memakai uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian meliputi perilaku caring perawat berdasarkan teori Jean Watson pada kategori cukup, tingkat stres pasien ulkus diabetikum pada kategori sedang, nilainya (p = 0.001; r = −0.646), membuktikan adanya korelasi kuat diantara perilaku caring perawat berdasar teori Jean Watson dengan tingkatan stres pasien ulkus diabetikum. Penerapan teori caring Jean Watson secara konsisten diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis pasien.
PENGARUH PIJAT ENDORFIN TERHADAP HASIL SKRINING POST PARTUM BLUES PADA IBU NIFAS
Tiara Anggrelia Nuraini;
Nurul Pujiastuti;
Afnan Toyibah;
Rita Yulifah
Jurnal Kebidanan Khatulistiwa Vol 12, No 1 (2026): Jurnal Kebidanan Khatulistiwa
Publisher : Poltekkes Kemenkes Pontianak
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30602/jkk.v12i1.1640
Latar Belakang: Post partum blues merupakan masalah psikologis yang sering dialami oleh ibu nifas. Hal ini biasanya terjadi pada ibu nifas primipara, ibu dengan pengalaman melahirkan anak pertama belum dapat menerima sepenuhnya akan perubahan bentuk dirinya sehingga membuat dirinya kecewa, sedih, merasa tidak percaya diri atau tidak lagi menarik. Salah satu upaya untuk mengurangi kecemasan pada ibu nifas adalah dengan pemberian Pijat Endorfin. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh Pijat Endorfin terhadap Hasil Skrining Post partum Blues pada Ibu Nifas. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen one group pre-test post-test design. Instrumen penelitian berupa kuesioner karakteristik responden dan kuesioner Edinburgh Postnatal Depression Scale. Sampel pada penelitian ini 20 ibu nifas yang memenuhi kriteria inklusi dengan menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini dilakukan pada bulan juni tahun 2024. Analisis data yang digunakan uji paired T-test. Hasil: Analisis menggunakan uji T test dari hasil skor pre-test dan post-test dengan menggunakan Edinburgh Postnatal Depression Scale diperoleh sig-(2. Tailed) =0,000 (<0,05). Kesimpulan: Terdapat pengaruh signifikan pada terapi pijat endorfin terhadap hasil skrining post partum blues pada ibu nifas di wilayah Puskesmas Kepanjen. Dengan adanya penelitian ini ibu nifas dan keluarga dapat melakukan pijat endorfin secara berkala untuk mencegah dan menangani post partum blues.
PENDIDIKAN KESEHATAN PADA ANAK TENTANG SENAM OTAK UNTUK MENINGKATKAN KONSENTRASI BELAJAR
Nurul Pujiastuti;
Lukman Handoko;
Ria Gustirini;
Ririn Indriani;
Tri Astuti Sugiyatmi
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 2 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31764/jmm.v8i2.22313
Abstrak: Gerakan senam otak menghubungkan otak, indera, dan tubuh untuk merangsang sistem saraf pusat, meningkatkan relaksasi, kejernihan pikiran, dan fokus. Adanya gerakan dan tempo yang teratur pada senam otak sehingga dapat dengan mudah diikuti anak. Tujuan pengabdian kepada Masyarakat yaitu memberikan pendidikan kesehatan tentang senam otak pada anak usia sekolah untuk meningkatkan softskill anak dalam konsentrasi belajar di Desa Kemantren Kec. Purwosari Kab. Pasuruan. Metode pengabdian kepada masyarakat melalui penyuluhan kesehatan dengan sasaran anak usia sekolah. Peserta pengabmas sebesar 8 orang. Hasil pengabdian kepada masyarakat menunjukkan bahwa anak memiliki konsentrasi belajar sebagian besar kurang saat pre-test dan sebagian besar baik saat post-test. Konsentrasi belajar anak usia sekolah dinilai menggunakan skala tes The Army Alpha. Rata-rata nilai sebelum diberikan senam otak yaitu 2-7 (kategori rendah-sedang). Sedangkan rata-rata nilai setelah diberikan senam otak yaitu 8-12 (kategori tinggi-sangat tinggi). Kesimpulan pendidikan kesehatan tentang senam otak pada anak usia sekolah dapat meningkatkan konsentrasi belajar sebesar 100%.Abstract: Brain gymnastics movements connect the brain, senses, and body to stimulate the central nervous system, enhancing relaxation, mental clarity, and focus. The regular movements and tempo in brain gymnastics make it easy for children to follow. The objective of community service is to provide health education about brain gymnastics to school-aged children to improve their soft skills in learning concentration in Kemantren Village, Purwosari Sub-district, Pasuruan Regency. The method of community service is through health counseling targeting school-aged children. There were 8 participants in the community service program. The results of the community service show that children mostly had inadequate learning concentration during the pre-test and mostly had good concentration during the post-test. The learning concentration of school-aged children was assessed using The Army Alpha test scale. The average score before brain gymnastics was given ranged from 2-7 (low-medium category). Meanwhile, the average score after brain gymnastics ranged from 8-12 (high-very high category). The conclusion is that health education about brain gymnastics for school-aged children can increase learning concentration by 100%.
PEMBERDAYAAN KADER POSYANDU DALAM MENJAGA KUALITAS PRODUK OLAHAN LOKAL DAUN KATUK SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN PRODUKSI ASI
Nurul Pujiastuti;
Finta Isti Kundarti;
Esti Widiani;
Siti Asiyah;
Kasiati Kasiati
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 5 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31764/jmm.v8i5.25903
Abstrak: Kader posyandu merupakan kader kesehatan yang berasal dari warga masyarakat yang dipilih oleh masyarakat serta bekerja secara sukarela untuk membantu meningkatkan kesehatan masyarakat di wilayah kerja posyandunya. Selain itu, agar dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga, dapat dilakukan melalui kewirausahaan. Salah satu kewirausahaan yang dilakukan yaitu membuat olahan lokal daun katuk, yang memerlukan cara dalam menjaga kualitas produk yang dihasilkan. Tujuan pengabdian kepada masyarakat yaitu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu dalam menjaga kualitas produk olahan lokal daun katuk untuk meningkatkan produksi ASI. Metode yang digunakan pada pengabdian kepada masyarakat yaitu kegiatan pelatihan dalam menjaga kualitas produk olahan lokal daun katuk. Sasaran pelatihan yaitu kader posyandu Desa Martopuro Kec. Purwosari Kab. Pasuruan sebanyak 40 orang. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa pengetahuan peserta saat pre-test sebesar 50% baik dan post-test sebesar 90% baik. Hasil pelatihan untuk nilai keterampilan, saat pre-test sebesar 45% baik dan post-test sebesar 85% baik. Kesimpulan dari pelatihan menjaga kualitas produk olahan lokal daun katuk berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu. Diharapkan dengan meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan kader posyandu dapat meningkatkan jiwa kewirausahaannya dan membantu ibu menyusui dalam memilih bahan yang tepat dan berkualitas untuk asupan sehari-hari.Abstract: Posyandu cadres are health cadres selected by the community and work voluntarily to help improve the health of the community in their posyandu area. Additionally, in order to improve the economic welfare of families, entrepreneurship can be undertaken. One form of entrepreneurship is the production of local processed katuk leaves, which requires methods to maintain the quality of the products produced. The aim of this community service is to enhance the knowledge and skills of posyandu cadres in maintaining the quality of local processed katuk leaf products to increase breast milk production. The method used in this community service is training activities on maintaining the quality of local processed katuk leaf products. The training targets are 40 posyandu cadres from Martopuro Village, Purwosari District, Pasuruan Regency. The training results showed that participants' knowledge during the pre-test was 50% good and 90% good during the post-test. The training results for skill scores showed 45% good during the pre-test and 85% good during the post-test. The conclusion of the training on maintaining the quality of local processed katuk leaf products successfully increased the knowledge and skills of posyandu cadres regarding how to select the right and quality materials, process raw materials into flour, food packaging, and product aesthetics (product design). It is hoped that by increasing the knowledge and skills of posyandu cadres, their entrepreneurial spirit will be enhanced, and they can assist breastfeeding mothers in selecting the right and quality materials for daily consumption.
Health Belief Model and Contraceptive Choice Among High-Risk Women: A Cross-Sectional Study
Hayunda Shasta Deasy;
Nurul Pujiastuti;
Sunaeni;
Didien Ika Setyarini
Jurnal Kebidanan Midwiferia Vol. 12 No. 1 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21070/midwiferia.v12i1.1795
Inappropriate contraceptive choice among high-risk women of reproductive age (WRA) may increase the risk of unintended pregnancy and adverse maternal outcomes. Individual perceptions and beliefs regarding health risks and preventive actions, as described in the Health Belief Model (HBM), may influence contraceptive choice. However, evidence regarding the relationship between HBM components and contraceptive choice among high-risk WRA at the community level remains limited. This study aimed to analyze the relationship between Health Belief Model components and contraceptive choice among high-risk WRA in Mulyorejo Village, Sukun Subdistrict, Malang City. This study used a quantitative correlational design with a cross-sectional approach conducted from November 2024 to January 2025. A total of 64 respondents were selected using purposive sampling. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed using the Spearman Rank correlation test with a significance level of 0.05. The results showed statistically significant relationships between all HBM components and contraceptive choice among high-risk WRA. Perceived susceptibility was associated with contraceptive choice (r = 0.301; p = 0.016), as were perceived severity (r = 0.349; p = 0.005), perceived benefits (r = 0.314; p = 0.011), perceived barriers (r = 0.313; p = 0.012), and cues to action (r = 0.307; p = 0.014). All correlations were categorized as low to moderate. The findings indicate that HBM components play an important role in influencing contraceptive choice among high-risk WRA. Strengthening women’s perceptions of pregnancy risk and improving counseling strategies may support appropriate contraceptive selection and improve reproductive health outcomes.
Pemberian Terapi Hot-Pack Elektrik Menurunkan Skala Nyeri Dismenore Remaja Putri dengan Pendekatan Teori Kognitif
Dhinda Salsabil Maharani;
Sumirah Budi Pertami;
Nurul Pujiastuti;
Sulastyawati Sulastyawati
JUMANTIK (Jurnal Ilmiah Penelitian Kesehatan) Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Prodi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30829/jumantik.v9i2.19277
During menstruation, young women can experience problems, one of which is dysmenorrhea. Knowing the effect of giving electric hot-pack therapy to reducing dysmenorrhea pain scale with a cognitive theory approach. Research design using Quasy Experiment. The sampling technique is purposive sampling with 44 respondents. Data processing uses the Wilcoxon and Man Withney tests. The treatment group showed that most of the results (72.7%) were mild pain scales and the control group mostly (72.7%) were moderate pain scales. The Wilcoxon test results are Sig. (2-tailed) = 0.000, which means that there is a significant effect on the pain scale before and after giving electric hot-pack therapy to young women. The results of the man withney test are Sig. (2-tailed) = 0.005, which means that there is a significant difference in the pain scale between the treatment group and the control group. Giving electric hot-pack therapy to young women who experience dysmenorrhea can reduce pain and provide a sense of comfort.
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Penderita Diabetes Melitus
Tomi Agustias Aryanto;
Sulastyawati Sulastyawati;
Nurul Pujiastuti;
Nurul Hidayah
JUMANTIK (Jurnal Ilmiah Penelitian Kesehatan) Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Prodi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30829/jumantik.v9i1.16986
Diabetes mellitus is often called the silent killer because this disease attacks the majority of the sufferer's organs which can cause complaints and complications that affect the quality of life. Supporting factors that can affect the quality of life of people with diabetes is family support. This study aimed to determine the relationship between family support and the quality of life of people with diabetes mellitus in the working area of the Polowijen Health Center. The research design used a cross-sectional study. The sampling technique uses probability sampling with cluster random sampling specifications with a total of 46 respondents. Data processing using the Pearson test. The results of the Pearson test showed that there was a relationship between family support and quality of life for people with diabetes mellitus with a p-value significance value of (0.000), which means that there is a relationship between family support and quality of life for people with diabetes mellitus with a large correlation (0.836) which means that the correlation is very strong.
The Effectiveness of Swimming Intervention and Supplementary Feeding on the Growth of Malnourished Children
Risa Arina Zakiyah;
Nurul Pujiastuti;
Andi Hayyun Abiddin
Health Gate Vol 4, No 1 (2026): January
Publisher : Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Perawat Nasional Indonesia Kota Blitar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70111/hg4101
Malnutrition has remained a public health issue both regionally and globally. This condition resulted from inadequate nutritional intake, both in terms of quality and quantity, as well as health problems that interfered with the absorption and utilization of nutrients. This study aimed to analyze the effectiveness of swimming intervention and supplementary feeding on the growth of malnourished children in Kepanjenkidul District. The research employed a quantitative method with a pre-experimental one-group pretest-posttest design, conducted in Kepanjenkidul District, Blitar City, from January to March 2025. The sample consisted of 20 respondents selected using purposive sampling. Data were collected using a digital scale, stadiometer, observation forms, and questionnaires. The analysis was carried out using univariate and bivariate methods with a paired t-test statistical analysis. The results of the study showed that there was a difference in growth status before and after the swimming intervention, with a p-value of 0.000. There was no difference in weight before and after the swimming intervention, with a p-value of 0.042. There was a significant difference in the effectiveness of the swimming intervention combined with supplementary feeding, with a p-value of 0.000. This study contributed to the development of knowledge in the field of child health and nutrition and served as a reference for future research regarding interventions for malnourished children.
Hubungan Pola Makan dengan Status Gizi Balita Usia 3-5 Tahun di Puskesmas Watukenongo Kabupaten Mojokerto
Eileen Fairuzil Izdihar;
Nurul Pujiastuti;
Arief Bachtiar;
Joko Wiyono
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1092
Status gizi balita merupakan indikator penting untuk menilai kualitas kesehatan dan potensi perkembangan anak pada masa mendatang. Ketidakseimbangan asupan zat gizi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, peningkatan risiko penyakit, serta penurunan fungsi kognitif. Untuk menganalisis hubungan antara pola makan dan status gizi balita usia 3–5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Watukenongo Kabupaten Mojokerto. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Seluruh populasi, yaitu 100 balita usia 3–5 tahun, dijadikan sampel melalui teknik total sampling. Pola makan dinilai menggunakan metode food recall 2×24 jam, sedangkan status gizi dihitung berdasarkan indikator IMT/U menggunakan standar Z-Score WHO. Data dianalisis menggunakan uji Rank Spearman untuk mengetahui hubungan kedua variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita memiliki pola makan baik (57%) dan status gizi baik (57%). Uji Spearman’s rho menghasilkan koefisien korelasi r = 0,972 dengan nilai p < 0,001, yang menandakan adanya hubungan yang sangat kuat dan signifikan antara pola makan dan status gizi balita. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar balita memiliki pola makan dan status gizi yang baik, dan terdapat keterkaitan bahwa pola makan yang teratur, beragam, dan sesuai kebutuhan berperan penting dalam membentuk status gizi balita usia 3–5 tahun