Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

STABILISASI TANAH LEMPUNG PONTIANAK DENGAN KAPUR, BENTONITE DAN SEMEN Ade Arya Muhardi; Abubakar Alwi; Ahmad Faisal
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 7, No 3 (2020): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2020
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v7i3.42777

Abstract

Tanah merupakan akumulasi partikel mineral, bahan organik dan endapan–endapan yang relatif lepas (loose), yang terletak di atas batuan dasar (bedrock). Tanah lempung dapat menyerap air yang cukup banyak dan mengalirkan air sangat rendah. Tanah lempung memiliki daya dukung yang rendah, air sangat mempengaruhi perilaku fisis dan mekanisnya. Tanah dapat diartikan sebagai lapisan sedimen lepas seperti kerikil (gravel), pasir (sand), lanau (silt), lempung (clay) atau campuran dari keseluruhannya. Stabilisasi tanah lempung menggunakan bahan kimia merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk meningkatkan daya dukung tanah lempung. Pada metode penelitian ini penulis melakukan suatu metode pengujian tanah dengan stabilisasi additive berupa kapur, bentonite dan semen untuk melihat seberapa besar pengaruh campuran additive terhadap peningkatan nilai CBR, UCS. Pada penelitian ini digunakan tanah dari daerah lingkungan universitas tanjungpura, variasi penambahan additive sebesar 5%, 10%, dan 15%. Hasil dari penambahan variasi additive untuk nilai CBR didapat optimum pada campuran B3 (tanah + semen 2% + kapur 15%) sebesar 14.53%, nilai UCS didapat optimum pada campuran B3 (tanah + semen 2% + kapur 15%) sebesar 17.094 kg/cm2.Kata kunci: Additive, CBR, Bentonite, Kapur, Semen, Stabilisasi, UCS.
PENGARUH KADAR AIR TERHADAP PERILAKU KEMBANG SUSUT TANAH LEMPUNG DI CAPKALA KABUPATEN BENGKAYANG Andi Saputra; Abubakar Alwi; Aprianto -
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 8, No 1 (2021): JeLast Edisi Februari 2021
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v8i1.45050

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar air terhadap perilaku kembang susut tanah lempung Capkala. Hasil klasifikasi USDA tergolong tanah lempung, klasifikasi USCS tergolong CH, klasifikasi AASHTO tergolong A-7-5. Dari hasil pengujian pemadatan tanah asli didapat nilai Wopt 24,5%, γdmaks 1,130 gr/cm3 . Hasil pengujian persentase mengembang pada kadar air 17%, 20%, 22%, 26%, 28%, 32% pada curing 1 hari berturutturut sebesar 11,2375%, 10,7500%, 9,5000%, 3,5000%, 1,5000%, 0,4250%, untuk curing 3 hari berturut-turut 8,1250%, 7,6875%, 7,3750%, 3,1250%, 1,2500%, 0,1875%, pengaruh kadar air terhadap persentase mengembang menunjukkan apabila kadar air tanah semakin besar maka persentase mengembangnya semakin kecil. Hasil pengujian tekanan mengembang pada kadar air 17%,20%,22%,26%,28%,32% pada curing 1 hari berturut-turut sebesar 650 kPa, 640 kPa, 480 kPa, 92 kPa, 78 kPa, 28 kPa, untuk curing 3 hari berturut-turut 190 kPa, 180 kPa, 170 kPa, 66 kPa, 62 kPa, 28 kPa, pengaruh kadar air terhadap tekanan mengembang menunjukkan apabila kadar air tanah semakin besar maka tekanan mengembangnya semakin kecil. Hasil pengujian indeks pengembangan bebas tanah asli adalah 47,222%. Penelitian ini menunjukkan apabila persentase mengembang tanah semakin besar maka tekanan mengembang akan semakin besar dan semakin lama waktu curing maka nilai persentase pengembangan dan tekanan mengembang tanah semakin mengecil.Kata Kunci : kadar air, persentase mengembang, tanah lempung, tekanan mengembang
STABILISASI TANAH LUNAK DENGAN ABU AMPAS TEBU, FLY ASH, KAPUR DAN SEMEN TERHADAP SIFAT MEKANIS TANAH Arif Kurniawan; Abubakar Alwi; Vivi Bachtiar
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 6, No 3 (2019): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2019
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (923.188 KB) | DOI: 10.26418/jelast.v6i3.36661

Abstract

Tanah berguna sebagai bahan konstruksi dalam pekerjaan sipil, salah satunya pada pekerjaan jalan raya. Rendahnya kekuatan mekanis tanah lunak baik kuat tekan maupun kuat gesernya merupakan penyebab rendahnya daya dukung tanah yang sangat berpotensi terjadi penurunan konstruksi diatasnya. Stabilisasi kimiawi adalah perbaikaan tanah dilakukan dengan cara menambahkan bahan kimia tertentu dengan material tanah, Penggunaan abu ampas tebu, fly ash, kapur dan semen sebagai bahan stabilisasi tanah diharapkan dapat menstabilkan kondisi pH tanah, mengisi rongga pori sehingga mengurangi penyerapan air, dan meningkatkan daya dukung tanah. Penelitian dilakukan dengan mencari persentase rasio campuran tertentu yang menyebabkan kenaikkan daya dukung dan kuat geser tanah lempung yang distabilisasi dengan komposisi campuran bahan additive sebesar 30%, 40%, 50% terhadap total volume tanah campuran. Hasil pengujian didapatkan bahwa nilai daya dukung tanah dan kuat geser pada masing-masing campuran mengalami peningkatan dari kondisi tanah asli, campuran maksimal terjadi pada campuran desain A-3 50% tanah asli dan 50 % bahan additive (5% kapur +2,5% abu ampas tebu +17,5% fly ash + 25% semen ).Kata kunci : Stabilisasi, bahan kimia, daya dukung tanah, lapis fondasi bawah
PENGELOLAAN AIR LIMBAH PADA INDUSTRI TEPUNG KELAPA DI PT. KALIMANTAN KELAPA JAYA Panggabean, Hesty Wulandari; Alwi, Abubakar
Jurnal Teknik Sipil No 1 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 15 EDISI JUNI 2015
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.141 KB) | DOI: 10.26418/jtst.v15i1.26219

Abstract

PT. Kalimantan Kelapa Jaya adalah pabrik tepung kelapa yang mengolah air limbahnya menggunakan sistem IPAL sebelum dibuang ke lingkungan. Sumber penghasil limbah berasal dari kegiatan produksi pengupasan batok kelapa dan pencucian kelapa putih. Penelitian dilakukan dengan cara analisa langsung. Debit air limbah yang dihasilkan adalah 1.495,120 m3/hari. Perancangan ulang IPAL menambahkan bak koagulasi dan flokulasi serta bak anaerobik dengan tujuan untuk mempermudah proses penurunan kadar COD, BOD, dan TSS. Efisiensi hasil perancangan ulang IPAL untuk nilai COD yaitu: Bak santan 0%, bak ekualisasi 0%, bak koagulasi dan flokulasi 25%, bak pengendapan awal 35%, bak anaerobik 60%, bak aerobik 90%, bak pengendapan akhir 35%. Efisiensi hasil perancangan ulang IPAL untuk nilai BOD yaitu: bak santan 0%, bak ekualisasi 0%, bak koagulasi dan flokulasi 25%, bak pengendapan awal 40%, bak anaerobik 60%, bak aerobik 60%, bak pengendapan akhir 40%. Efisiensi hasil perancangan ulang IPAL untuk nilai TSS yaitu: bak santan 0%, bak ekualisasi 5%, bak koagulasi dan flokulasi 36%, bak pengendapan awal 60%, bak anerobik 65%, bak aerobik 10%, bak pengendapan akhir 90%. Effluent dari perancangan ulang IPAL untuk hasil air buangan yaitu nilai COD 55,37%, BOD 99,99% dan TSS 3,28%. Nilai tersebut memenuhi standar baku mutu air limbah Permen LH no 5 tahun 2014. Kata kunci: IPAL, air limbah, perancangan ulang, standar baku mutu
KAJIAN RENCANA PENGELOLAAN PERSAMPAHAN DI TPA SORAT KECAMATAN SAMBAS KABUPATEN SAMBAS Winardi, Gunawan; Alwi, Abubakar
Jurnal Teknik Sipil Vol 17, No 2 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2017
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (913.173 KB) | DOI: 10.26418/jtst.v17i2.25809

Abstract

Perkembangan pembangunan diwilayah Kabupaten Sambas dalam kebijakan pembangunanbidang persampahan adalah meningkatkan kualitas pengelolaan tempat pembuangan akhir sampah ke arah controlled Landfill untuk kota sedang dan kecil dan Sanitary Landfill untuk kota metropolitan dan besar serta tidak dioperasikannya TPA secara open dumping. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, maka diperlukan studi dan analisa untuk menganalisa karakteristik sampah yang masuk ke TPA Sorat, menganalisa kondisi eksisting dari evaluasi TPA Sorat ditinjau dari aspek teknik operasional, kelembagaan dan pembiayaan., serta menyusun strategi pengelolaan TPA yang sesuai standar dan memberikan rekomendasi perbaikan pengelolaan TPA Sorat. Metodologi diawali dengan identifikasi dan perumusan masalah, pengumpulan data (data primer dan data sekunder). Data primer mencakup  penulusuran   ke  lokasi penelitian,  observasi  lapangan,  wawancara,  dan   studi dokumentasi. Untuk pengumpulan data sekunder diperoleh dari instansi terkait. Dilanjutkan dengan analisa yaitu: mengevaluasi kinerja pengelolaan sampah kondisi eksisting, menganalisa strategi pengelolaan sampah, serta menganalisa pembiayaan dan sumber dana untuk pengelolaan persampahan. Berdasarkan data tahun 2016 diperoleh persentase jumlah timbulan sampah yang terangkut di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sorat sebesar 44,65% (39 m3/hr), sedangkan persentase jumlah sampah yang tidak terangkut sebesar 55,346% (48,34 m3/hr). Belum maksimalnya kinerja pengangkutan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sorat dipengaruhi oleh minimnya jumlah armada dan jumlah personil yang tersedia, pola buang sampah oleh masyarakat yang belum disiplin, masih sangat minim kerjasama stakeholder dalam pengelolaan persampahan untuk mengurangi jumlah sampah (3R: reduce, reuse, dan recycle), belum dimanfaatkannya pengelolaan sampah sistem controlled landfill disebabkan mahalnya pengelolaan sampah sitem ini. Berdasarkan kajian penelitian di di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sorat berada pada Kuadran I dengan sumbu (X,Y) = 0,83 ; 1,13. Hal ini menunjukkan bahwa TPA Sorat memiliki kekuatan internal dengan daya tarik bidang kegiatan yang cukup bagus serta peluang yang cukup besar. Berdasarkan nilai potensi ekonomi dari pemanfaatan sampah organik   dan sampah  non organik pada TPA tersebut, maka sudah saatnya pemerintah Kabupaten Sambas merencanakan suatu pilot project tentang pengelolaan sampah yang baik di TPA.  Kata Kunci: Persampahan, Controlled Landfill, Open Dumping, Sanitary Landfill, danPengelolaan TPA
PENINGKATAN DAYA DUKUNG TIANG PANCANG DENGAN PERLAKUAN GEJALA ELEKTROKINETIK Firmansyah, -; Rustamaji, R.M.; Priadi, Eka; Alwi, Abubakar
Jurnal Teknik Sipil Vol 20, No 1 (2020): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2020
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtst.v20i1.42739

Abstract

Elektrokinetik adalah suatu   gelaja akibat dari medan   listrik melalui media porus.  Medan listrik dihubungkan dengan ditimbulkan    arus listrik searah (DC) secara langsung, yang dapat diaplikasikan untuk meningkatkan daya dukung tanah lunak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki peningkatan tahanan friksi suatu model fondasi tiang pancang ditanah lunak dengan pengaruh perlakuan gejala elektrokinetik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah pemancangan dilakukan dengan pengaruh gejala     elektrokinetik dengan kuat arus dan waktu tertentu, berturut-turut meningkatkan daya dukung tanah. Rata-rata peningkatan daya dukung tiang tunggal yaitu untuk waktu tunggu 3 hari sebesar284,679 kg, waktu tunggu 7 hari sebesar 348,443 kg, dan waktu tunggu 15 hari sebesar 380,918 kg.
MODEL IMPLEMENTASI CSR (CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY) PADA SEKTOR PERKEBUNAN KELAPA SAWITDI KABUPATEN KUBU RAYA DALAM PEMBANGUNANINFRASTRUKTUR PERDESAAN Marwan, -; Marsudi, -; Alwi, Abubakar
Jurnal Teknik Sipil Vol 16, No 1 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 1 EDISI JUNI 2016
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.503 KB) | DOI: 10.26418/jtst.v16i1.24395

Abstract

Pembangunan infrastruktur perdesaan dihadapkan pada adanya kenyataan akan terbatasnya kemampuan pendanaan pemerintah, baik ditingkat pusat maupun daerah, sehingga pembangunan infrastruktur perdesaan akan sulit dilaksanakan bila hanya mengandalkan dana publik semata. Dalam kondisi seperti ini, maka diperlukan upaya penggalian alternatif pembiayaan pembangunan infrastruktur perdesaan diluar pendanaan pemerintah. Salah satu alternatif sumber pendanaan infrastruktur perdesaan yang cukup potensial adalah program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau dikenal dengan CSR (Corporate Social Responsibility) yang diselenggarakan oleh badan usaha (korporasi). Hal ini membuat penulis tertarik untuk menganalisis model implementasiCSR pada sektor perkebunan kelapa sawit dalam pembangunan infrastruktur perdesaan di Kabupaten Kubu Raya dengan judul "Model Implementasi CSR (Corporate Social Responsibility) Pada Sektor Perkebunan Kelapa Sawit di Kabupaten Kubu Raya Dalam Pembangunan Infrastruktur Perdesaan" yang diharapkan dengan adanya program CSRdapat membantu kebutuhan bagi warga setempat. Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) Mengetahui model implementasi CSR yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit dalam pembangunan infrastruktur perdesaan di Kabupaten Kubu Raya. (2) Mengetahui pandangan masyarakat terhadap program CSR yang sudah dilakukan oleh perusahaan-perusahan tersebut. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif (paradigma non-positivisme) menekankan pada pemahaman terhadap realitas sosial. Penelitian ini dilaksanakan di PT. Sintang Raya yang berlokasi di Kecamatan Kubu, karena perusahaan ini merupakan korporasi yang bergerak di bidang perkebunan sawit yang memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat. Dari temuan penelitian serta merujuk dari tinjauan pustaka, menggambarkan bahwa pola implementasi CSR PT. Sintang Raya adalah model implementasi "Keterlibatan Langsung", dimana perusahaan menjalankan program CSR secara langsung dengan menyelenggarakan sendiri kegiatan sosial atau menyerahkan sumbangan ke masyarakat tanpa perantara. Untuk menjalankan tugas ini, PT. Sintang Raya menugaskan salah satu pejabat seniornya. Infrastruktur-infrastruktur yang dibangun PT. Sintang Raya melalui program CSR, sebagai berikut : (a) Pembangunan jalan Desa Ambawang sepanjang 2.000 meter; (b) Penimbunan Jalan dan Pembangunan Jembatan di Desa Pelita Jaya; (c) Pembangunan kantor Kapala Desa Mengkalang. Untuk melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR maka perusahaan harus mengakui bahwa permasalahan masyarakat adalah milik mereka juga. Tidak hanya itu, perusahaan juga harus bersedia menanganinya. Itu dasarnya untuk melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Jadi hanya dengan mengakui masalah apa yang ada di masyarakat dan itu menjadi bagian mereka, maka CSR lebih mudah dilakukan. Sebab suatu rencana strategis dibelakang program-rogram CSR bisa jadi akan memberi kontribusi bagi pengurangan kemiskinan dan ketidakadilan sosial di masyarakat.Kata Kunci :   CSR (Corporate Social Responsibility), Infrastruktur Perdesaan
Kajian Ketentuan Pembuatan Pedoman Pengoperasian, Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung Widianto, Bambang; Alwi, Abubakar; Rustamaji, RM
Jurnal Teknik Sipil Vol 15, No 2 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 15 NO 2 EDISI DESEMBER 2015
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.826 KB) | DOI: 10.26418/jtst.v15i2.26056

Abstract

Umumnya di Indonesia, dalam perencanaan teknis, direncanakan Umur Rencana Bangunan Gedung adalah 50 tahun. Hal ini diperkuat dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 45 Tahun 2007 yang berbunyi: "Untuk bangunan gedung negara (termasuk bangunan rumah negara) umur bangunan diperhitungkan 50 tahun". Kemudian yang menjadi persoalan adalah, apakah bangunan gedung yang dibangun itu dapat mencapai umur rencana tanpa tindakan apapun terhadapnya? Tentunya tidak, bangunan gedung tersebut butuh pemeliharaan dan perawatan agar dapat ditempati dengan aman dan nyaman.Melalui UU Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, telah diamanatkan kepada pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung akan kewajiban melengkapi pedoman/petunjuk pelaksanaan pemanfaatan dan pemeliharaan bangunan gedung atas bangunan gedung yang dimiliki atau ditempatinya. Ketentuan ini kemudian diatur lagi melalui Lampiran III Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010, bahwa pada saat setelah ditanda tanganinya berita acara penyerahan awal, maka kepada Penyedia Jasa disamping menyerahkan As Built Drawing juga diwajibkan menyerahkan Pedoman Pengoperasian, Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung (P4BG) kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK/Pimpro). Namun ternyata ketentuan ini bisa dibilang tidak berjalan, walaupun sudah secara tegas diatur melalui peraturan perundang-undangan ternyata penyediaan P4BG dalam sebuah Bangunan Gedung sangat jarang kita temui. Dan melalui penelitian ini penulis mencoba meneliti penyebab-penyebab ketidak patuhan Penyedia Jasa dalam hal ini adalah Konsultan Perencana, Kontraktor Pelaksana dan Konsultan Pengawas untuk menyiapkan P4BG bagi Bangunan Gedung yang mereka terlibat didalamnya. Dalam penelitian ini, peneliti akan melakukan penelitian ex post facto dengan metode pengumpulan data primer melalui metode survei. Selanjutnya penelitian akan menyelidiki apakah ada pengaruh yang terjadi antara keadaan Penyedia Jasa terhadap ketersediaan P4BG pada sebuah bangunan gedung.  Kata kunci: bangunan gedung, umur rencana bangunan gedung, pedoman pengoperasian, pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung
PENENTUAN SKALA PRIORITAS PROGRAM PEMELIHARAAN RUAS JALAN KABUPATEN DI KABUPATEN KETAPANG DENGAN MENGGUNAKAN AHP Syarkawi, -; Alwi, Abubakar; Suyono, Rudi Sugiono
Jurnal Teknik Sipil Vol 17, No 1 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2017
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.88 KB) | DOI: 10.26418/jtst.v17i1.24810

Abstract

Jaringan jalan yang berstatus Jalan Kabupaten serta menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Ketapang. Mengingat keterbatasan   kemampuan keuangan   Pemerintah Kabupaten Ketapang yang dialokasikan setiap tahunnya dalam APBD Kabupaten Ketapang, sedangkan pembiayaan untuk pengelolaan infrastruktur jalan   yang cukup besar, maka dalam hal ini para stakeholder atau pengambil keputusan dituntut untuk mampu mempertimbangkan dan memutuskan   ruas-ruas jalan mana saja yang harus mendapat prioritas pertama, kedua, ketiga dan seterusnya, jangan sampai ruas-ruas jalan yang terpilih tersebut hanya mengacu kepada tingkat kerusakan maksimum saja, atau biaya konstruksi terkecil atau berdasarkan nilai stratesig kawasan saja.Tentunya dalam hal ini diperlukan suatu analisis yang dapat mengintegrasikan   berbagai kriteria, sehingga menghasilkan bobot maksimum yang dapat dijadikan dasar suatu keputusan sebagai alternatif pilihan yang terbaik. Metode penelitian dipaparkan secara deskriptif menjelaskan penentuan skala prioritas ruas jalan pada program peningkatan dan pemeliharaan ruas jalan di Kabupaten Ketapang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data primer berupa kuisioner yang disebarkan data sekunder berupa data spesifikasi jalan, jumlah penduduk dan data riwayat jalan. Teknik analisis menggunakan analisis kualitatif dengan menggunakan kuesioner dan analisis kuantitatif dengan menggunakan AHP.Berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan diperoleh hasil penelitian menunjukkan prioritas pemeliharaan ruas jalan di Kabupaten Ketapang berdasarkan dari nilai prioritas tertinggi. 10 ruas jalan yang memiliki nilai bobot tertinggi dari perhitungan AHP yaitu ruas jalan Jenderal Sudirman memiliki prioritas pertama dengan nilai 0,05960,kedua ruas jalan Kyai Tapa memiliki prioritas dengan nilai 0,05864 ketiga ruas jalan RE. Martadinata memiliki prioritas dengan nilai 0,05504,keempat ruas jalan P. Kusuma Jaya memiliki prioritas dengan nilai 0,05284, kelima ruas jalan Sei Awan Kiri "“ Tanjungpura memiliki prioritas dengan nilai 0,05150,keenam ruas jalan Gatot Subroto memiliki prioritas dengan nilai 0,0498,ketujuh ruas jalan Cut Nyak Dien memiliki prioritas dengan nilai 0,04857,kedelapan ruas jalan Sunan Ampel memiliki prioritas dengan nilai 0,04817,kesembilan ruas jalan Tanjungpura "“ Mayak memiliki prioritas dengan nilai 0,04754 dan kesepuluh ruas jalan Urip Sumoharjo memiliki prioritas dengan nilai 0,04562. Hasil prioritas pemeliharaan terhadap 32 ruas jalan disimpulkan bahwa Kriteria kondisi struktur jalan merupakan kriteria dominan dengan sub kriteria   dominan yaitu kondisi lalu lintas dan kondisi pelayanan.Kata Kunci: Jalan, Prioritas, AHP
ANALISA RESIKO DAN MITIGASI PADA KONSTRUKSI JALAN DI LAHAN GAMBUT Nugraha, Nosa; Widodo, Slamet; Alwi, Abubakar
Jurnal Teknik Sipil Vol 15, No 2 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 15 NO 2 EDISI DESEMBER 2015
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.463 KB) | DOI: 10.26418/jtst.v15i2.25549

Abstract

Permasalahan  dalam  pelaksanakan  proyek  adalah  tidak  teridentifikasi  dan   tertanganinya faktor-faktor risiko sehingga mengakibatkan   kendala dalam pencapaian tujuan proyek yaitu waktu (time), biaya (cost) dan kualitas (quality). Pembangunan  jalan di atas tanah gambut akan menghadapi   beberapa masalah geoteknik, salah satunya masalah stabilitas timbunan, penurunan   timbunan  yang cukup besar dan kekuatan   daya dukung dalam menahan   beban yang terjadi  di atasnya.  Keadaan  tanah   dasar  demikian  bila tidak   ditangani  dengan  baik akan mempengaruhi  kondisi badan jalan diatasnya dan akan mempercepat   kerusakan jalan. Berdasarkan hasil analisa risiko dari 6 lokasi yang disurvei pekerjaan pembangunan/peningkatan jalan di lahan gambut yang paling berisiko adalah proyek Pembangunan  Jalan Rasau Jaya  "“ Sungai  Bulan   (Tahun  Jamak)  yang mana   dianggarkan sebesar Rp. 14.839.400.000,00,  risiko biaya yang dikeluarkan untuk pekerjaan tanah + 30% dari    total    pelaksanaan      pekerjaan.       Jenis    tanah    dasar    menentukan      mahal    tidaknya pembangunan jalan. Kekuatan tanah tersebut menentukan tebal tipisnya lapisan perkerasan. Semakin tebal lapisan perkerasan akan semakin baik untuk meningkatkan   kekuatan tanah, namun juga membutuhkan biaya yang cukup besar. Untuk itu, diperlukan perencanaan yang baik,  dalam  menentukan  tebal  perkerasan  yang   sesuai  dengan  kondisi  tanah  agar   tidak boros  biaya,  tetapi  tetap  memperhatikan     kualitas  jalan.  Tindakan  mitigasi  dari  risiko dominan    yang     sering    terjadi    yaitu    risiko    biaya    untuk    penyelidikan    tanah    strategi penangannya    dengan    memasukkan    biaya    penyelidikan    tanah     dalam     biaya    konsultan perencanaan     pembangunan    jalan.  Jika  perencanaan    yang  telah  dirancang  tidak  akurat sebaiknya pelaksanaan pekerjaan dihindari. Secara keseluruhan tindakan mitigasi yang dilakukan  adalah   dengan   menghindari  risiko (risk avoidance)  yang terjadi  yaitu meliputi perubahan    rencana     manajemen    proyek  untuk  mengurangi    ancaman    "“  ancaman    yang diakibatkan   oleh risiko "“ risiko yang buruk, untuk mengasingkan  tujuan awal proyek dari dampak risiko.  Kata Kunci: Tanah Gambut, Risiko, Mitigasi