Claim Missing Document
Check
Articles

EFEKTIFITAS PEMBERIAN JUS TOMAT DITAMBAH JERUK NIPIS TERHADAP TEKANAN DARAH PADA WANITA DEWASA Hidayah, Nur; Ambarwati, Ria
JURNAL RISET GIZI Vol. 5 No. 1 (2017): Mei (2017)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v5i1.4904

Abstract

Background : Treatment of hypertension in the long term can affect adherence and cause toxic effects, therefore it takes alternative treatment by utilizing nutrients in food, one of which is the antioxidant like as lycopene and flavonoid in tomato-lime juice.Objective : The aim of this study was to analyze the effect of tomato juicewith extra lime on blood pressure in women adults.Methods : This study was clinical nutrition research with True Experiment randomized repeated measure control group design. The subject were 39 women adult 40-60 years, 19 control groups and 20 in treatment. Intervention was performed for 21 days with the measurement of systolic and diastolic blood pressure every 1 week 1 time. The statistical analysis was done by Anova Repeated Measure test with 95% confidence degree.Results : Anova Repeated Measure show that tomato juice with extra limecan lowered systolic and diastolic blood pressure (α = 0.005, p = 0.002 and p = 0.038), while the level of energy, protein, fat, carbohydrate, fiber, sodium, and potassium did not affect in systolic and diastolic blood pressure.Conclusion : tomato-lime juice effectively lowered systolic and diastolic blood pressure.
ANALISIS KANDUNGAN SERAT PANGAN DAN DAYA TERIMA FORMULA MINUMAN HEALTHY BOBA Fajrin, Hasina Nur; Jaelani, Mohammad; Setiadi, Yuwono; Ambarwati, Ria
JURNAL RISET GIZI Vol. 10 No. 1 (2022): Mei (2022)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v10i1.8762

Abstract

Background: Boba milk tea is a drink that contains high calories, sugar and fat and low fiber which can increase the risk factors for high blood sugar disorders. It needs to be modified by adding porang glucomannan flour and kappa carrageenan as high-fiber food ingredients. Objective: To determine the dietary fiber content and the acceptability of the healthy boba drink formula.Method: The study used a true experimental method with a one-factor completely randomized design (CRD) with three treatments. Food fiber content data were analyzed using One Way ANOVA and Post Hoc Duncan Multiple Range Test (DMRT). Acceptance data was analyzed using the Kruskal-Wallis Test. Results: The dietary fiber content of 1 serving of Healthy Boba drink formula is F1 (1.1663 g), F2 (1.8079 g), F3 (1.7527 g). Variations in the addition of glucomannan porang flour and kappa carrageenan had a significant effect on the dietary fiber content of the Healthy Boba Drink formula (p=0.000). There was no difference in panelists' acceptance of color (p=0.977), aroma (p=0.846), taste (p=0.109) and texture (p=0.148). The level of acceptance of the Healthy Boba drink is 90% of consumers can spend 75% of the portion of F1, 77% in F2 and 73% in F3. Conclusion: The highest dietary fiber content in the Healthy Boba Drink formula can meet 4.9% of the fiber needs in prediabetes adolescents, and can be recommended as an alternative drink in the prevention of prediabetes.
DETEKSI DINI FAKTOR RESIKO PTM PADA REMAJA BERBASIS POSBINDU Mintarsih, Sri Noor; Ambarwati, Ria; Rahmawati, Ana Yuliah; Mardiana, Mardiana
JURNAL RISET GIZI Vol. 10 No. 2 (2022): November (2022)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v10i2.9477

Abstract

Background: PTM is currently a risk for all people, including the youth group. a trigger factor for the emergence of PTM in adolescents is a sedentary lifestyle and unhealthy eating behavior, namely liking modern foods that are high in fat and low in fiber, lack of fruit and vegetable consumption, lack of activity and exercise, increased stressors and exposure to environmental conditions that are not conducive to health. Posbindu in schools as an effort to monitor and early detect NCD risk factors in students.Objective: To examine risk factors for adolescent NCDs in schools by empowering Peer Counselors through the implementation of Basic Posbindu in schools.Method: This type of cross-sectional research with a survey approach to students at SMAN XI and XV as many as 241 students. Peer counselors who were trained to become Posbindu cadres (63 students) to conduct early detection of NCD risk factors in their friends. PTM Risk Factor Detection usingPTM Risk Factor Monitoring Card includes personal identity, history of non-communicable diseases, behavioral risk factors, and physical examination by peer counselors and officers from the health center. Descriptive analysis was in the form of PTM risk factor proportions.Results: The behavioral risk factors found were a lack of consuming vegetables and fruit 77.4%, consuming excessive sweet food 92.8%, consuming excessive salty food 84.8%, consuming excessive fatty food 5.9%, consuming alcohol 0.5% and smoking habits 5.9% as well as lack of physical activity 69.7%. The proportion of adolescents who are overweight is 36.1%, high blood pressure is 43.0% and high sugar content is 23.0%.Conclusion: Lack of consuming vegetables and fruit, excessively sweet foods, excessively salty foods, lack of physical activity, obesity, high blood pressure, and high sugar levels are risk factors for PTM in adolescents at school. Early Detection of PTM Risk Factors in adolescents based on Posbindu can be done by Peer Counselors in the environment School.
Media E-Booklet dapat Berpengaruh terhadap Pengetahuan dan Sikap untuk Pencegahan DM Tipe 2 pada Remaja Nurhidayanti, Nova; Yuniarti, Yuniarti; Supadi, J.; Ambarwati, Ria; Jaelani, Mohamad
JURNAL RISET GIZI Vol. 11 No. 2 (2023): November (2023)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v11i2.10674

Abstract

Latar Belakang : Diabetes Melitus Tipe 2 merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan hiperglikemia yang disebabkan oleh kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan Kabupaten Rembang merupakan kabupaten dengan prevalensi diabetes mellitus tertinggi ke 7 di Jawa Tengah yaitu sebesar 3,02%. Pencegahan penyakit diabetes melitus yang meliputi promosi pola hidup sehat dapat dimulai sejak usia remaja. Masa remaja memegang peranan penting dalam menentukan status kesehatan pada masa dewasa atau lanjut usia.Tujuan : Untuk mengetahui efektivitas pendidikan gizi melalui e-booklet terhadap pengetahuan dan sikap Pencegahan DM Tipe 2 pada remaja.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian gizi klinis dengan jenis penelitian true eksperimental dan rancangan randomized pre and post test control group design. Jumlah responden sebanyak 17 kelompok intervensi dan 17 kelompok kontrol. Data yang dikumpulkan adalah pengetahuan dan sikap. Analisis statistik menggunakan uji Independent t-test, uji Mann-Whitney dan uji Regresi Linier.Hasil: Terdapat pengaruh pendidikan gizi dengan e-booklet terhadap pengetahuan (p=0,000) dan sikap (p=0,038). Pemberian pendidikan gizi dengan media e-booklet efektif meningkatkan pengetahuan remaja sebesar 2,420 kali lipat, sikap sebesar 0,217 kali dibandingkan tidak diberikan pendidikan gizi.Kesimpulan : Edukasi gizi melalui e-booklet pencegahan diabetes melitus tipe 2 efektif meningkatkan pengetahuan (25,49%) dan sikap (0,24).
Pengaruh Pemberian Puding Wortel dan Mentimun Terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Prehipertensi Umaila, Lulu; Larasati, Meirina Dwi; Ambarwati, Ria
JURNAL RISET GIZI Vol. 11 No. 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v11i1.10780

Abstract

Latar belakang: Penanganan hipertensi menggunakan obat antihipertensi memiliki efek samping gangguan gastrointestinal seperti kenaikan asam lambung, sakit perut, mual, muntah, mulut kering, gusi bengkak dan sariawan. Solusi untuk pencegahan dan penanggulangan hipertensi yaitu dengan terapi nonfarmakologis. Salah satu terapi nonfarmakologis adalah dengan meningkatkan asupan kalium. Wortel dan mentimun merupakan sayuran sumber kalium yang dapat dikonsumsi untuk mengontrol tekanan darah.Tujuan: mengetahui pengaruh pemberian puding wortel dan mentimun terhadap penurunan tekanan darah pada wanita dewasa prehipertensi.Metode: Jenis penelitian merupakan true eksperimen dengan rancangan randomized pretest-posttest with control group. Sampel sebanyak 23 wanita usia 35-45 tahun dibagi ke dalam kelompok perlakuan dan kontrol. Pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Kelompok perlakuan menerima puding wortel dan mentimun sebanyak ± 180 gram perhari selama seminggu. Uji statistik menggunakan Independent T-Test, Mann Whitney, Paired T Test, Wilcoxon dan ANOVA Repeated Measure.Hasil: Tidak terdapat perbedaan tekanan darah sistolik (p=0,133) dan diastolik (p=0,313) yang signifikan sebelum dan sesudah pemberian puding wortel dan mentimun. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap perubahan tekanan darah sistolik (p=0,834) dan diastolik (p=0,487) yang dikontrol dengan faktor perancu. Kesimpulan: Pemberian puding wortel dan mentimun selama seminggu mampu menurunkan tekanan darah sistolik secara klinis sebesar -2,25 mmHg dan diastolik sebesar -1,5 mmHg meskipun secara statistik tidak signifikan. Penurunan tekanan darah terbesar terjadi pada hari ke 4 yaitu tekanan darah sistolik menjadi sebesar 109,83 mmHg dan diastolik sebesar 76,400 mmHg.
Pengembangan Media Edukasi Self-Monitoring Card untuk Monitoring Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 pada Pasien Rawat Jalan Nafian, Nastaina Awim; Yuniarti, Yuniarti; Prihatin, Setyo; Jaelani, Mohammad; Ambarwati, Ria
JURNAL RISET GIZI Vol. 12 No. 2 (2024): November 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v12i2.11669

Abstract

Background: The success of a management in patients cannot be separated from monitoring. Therefore, a warning system is needed to monitor the management of diabetes mellitus. One way is to monitor the management of diabetes mellitus patients. Media Self-Monitoring Card is the development of control card media that contains educational materials as well as monitoring to monitor diabetes mellitus management independently. Media Self-Monitoring Card has the advantage that it is practical to use, self-based so that monitoring can be carried out intensely.Objective:  Develop Self-Monitoring Card educational media for monitoring the management of type 2 diabetes mellitus in outpatients.Method: This research method is Research and Development (R &; D) with five stages of development, namely analysis, development, implementation, and evaluation (ADDIE). The media that has been created is then tested through validation tests by two material experts and two media experts. The cut-off point Content Validity Index (CVI) limit on material validation and media validation tests is at least 0.8. Media that have been declared viable by material experts and media experts will then be field-tested limited by ten random respondents selected according to predetermined criteria.Result: The Content Validity Index (CVI) value in the material validation test was 0.9. While the Content Validity Index (CVI) value in the media validation test is 0.87. Based on limited field trials, a percentage of 94.3% was obtainedConclusion: Self-Monitoring Card media is suitable to be used as a medium for education and monitoring of type 2 diabetes mellitus management in outpatients. For this reason, further research is needed to determine the effectiveness of education using the Self-Monitoring Card to monitor the management of type 2 diabetes mellitus.
Pendampingan Kader Posbindu Penyakit Tidak Menular (PTM) Efektif Meningkatan Pengetahuan dan Ketrampilan Kader Tursilowati, Susi; Mintarsih, Sri Noor; Ambarwati, Ria; Assidhiq, Mohamad Reza
Jurnal LINK Vol 20 No 2 (2024): NOVEMBER 2024
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/link.v20i2.12303

Abstract

Pasca masa pandemi Covid-19, kegiatan Pos Binaan Terpadu (Posbindu) tidak berjalan dikarenakan kondisi yang belum memungkinkan. Sehingga kondisi kesehatan masyarakat tidak terpantau oleh kader. Salah satu alternatif yang mungkin dapat dikembangkan dengan menghidupkan kembali Posbindu yang sudah pernah berjalan sebelum pandemi.  Kader perlu mendapat pendampingan untuk memulai  melaksanakan kegiatan Posbindu secara rutin. Kegiatan pendampingan kepada  kader Posbindu yaitu dengan memberikan Pelatihan Kader. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan kader dalam melaksanakan kegiatan khususnya pada meja III yaitu pengukuran antropometri (tinggi badan dan berat badan) dan meja IV adalah teknik edukasi dan penyuluhan gizi pada masyarakat. Manfaat pendampingan kader Posbindu Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan kader dalam melakukan pengukuran antropometri  dan teknik memberikan edukasi dan penyuluhan gizi kepada masyarakat pada kegiatan Posbindu khususnya dalam penanggulangan Penyakit Tidak Menular (PTM). Peserta kegiatan pendampingan ini adalah perwakilan dari setiap kader di Wilayah Puskesmas Tlogosari Wetan. Kegiatan Monitoring Evaluasi dilakukan dengan memantau pelaksanaan Posbindu PTM dimasing-masing lokasi. Skor pengetahuan kader Posbindu terkait penyakit tidak menular (PTM) meningkat sebesar 6%. Hasil monitoring dan evaluasi menunjukkan bahwa ketrampilan kader dalam melakukan pengukuran berat badan meningkat 17% dan ketrampilan mengukur berat badan meningkat sebesar 31%. Selain mendapatkan edukasi dan pelatihan ketrampilan, peserta juga diberikan contoh memberikan konseling gizi yang baik dan benar. Diharapkan telah mengikuti kegiatan pendampingan ini peserta dapat mengaplikasikan proses konseling gizi di Posbindu PTM.
Pengaruh Substitusi Tepung Biji Alpukat (Persea Americana Mill.) Terhadap Daya Terima Dan Kadar Serat Cookies Rekhajanani, Alfi; Jaelani, Mohammad; Ismawanti, Zuhria; Prihatin, Setyo; Ambarwati, Ria; Rahmawati, Enny
Nutriology : Jurnal Pangan, Gizi, Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : Program Studi Gizi, Universitas Bumigora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30812/nutriology.v5i2.4259

Abstract

Asupan serat yang rendah di Indonesia merupakan salah satu penyebab terjadinya penyakit degeneratif. Perlu upaya meningkatkan asupan serat dengan menambahkan bahan pangan tinggi serat pada makanan, yaitu substitusi tepung biji alpukat dalam cookies. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung biji alpukat (Persea Americana Mill.) terhadap daya terima dan kadar serat cookies. Metode penelitian ini merupakan penelitian experimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Uji daya terima panelis menggunakan uji hedonik dengan 5 skala (sangat tidak suka, tidak suka, agak suka, suka, dan sangat suka), kemudian dianalisis menggunakan uji Friedman. Uji kadar serat menggunakan metode multienzim, dianalisis dengan uji beda One Way ANOVA, dan uji lanjut Tuckey. Hasil uji Friedman menunjukan adanya perbedaan signifikan pada uji hedonik pada warna, aroma dan rasa, sedangkan tekstur tidak menunjukan perbedaan signifikan. Ada perbedaan kadar serat (p=0,000) pada cookies substitusi tepung biji alpukat, dengan kadar serat tertinggi pada F5 (50%) dan terendah pada F0 (0%), semakin tinggi substitusi tepung biji alpukat, semakin tinggi kadar seratnya. Cookies dengan daya terima tertinggi adalah cookies substitusi 30% tepung biji alpukat, unggul dalam aspek warna dan tekstur. Reformulasi cookies diperlukan untuk meningkatkan kualitas dalam segi rasa.
Acceptability of patin fish dried noodles substituted with yellow pumpkin flour in toddler wasting Fitriani, Fitriani; Yuniarti, Yuniarti; Ambarwati, Ria
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 2, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(2).99-107

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Upaya penanganan masalah gizi kurang pada balita sangat penting dilakukan agar balita tidak masuk ke dalam kondisi gizi buruk dan menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius. Upaya pemilihan pangan lokal yang berprotein tinggi dapat ditambahkan/disubstitusi pada produk mi. Mi kering ikan patin yang disubstitusi tepung labu kuning dengan komposisi tepung labu kuning 7,5% memiliki kualitas kadar air terbaik berdasarkan SNI 8217-2015), sehingga direkomendasikan untuk dimodifikasi dengan berbagai resep dan teknik pengolahan. Pengolahan mi kering dapat diolah menjadi mi goreng, mi rebus atau variasi lainnya. Penyajian mi instan dalam bentuk mi goreng lebih disukai oleh balita usia 24 - 60 bulan.Tujuan: Menguji daya terima mi kering ikan patin yang disubstitusi tepung labu kuning pada balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Telogosari Wetan Kota Semarang.Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah pre-experimental design dengan rancangan one- shot case study. Tahapan penelitian terdiri dari: tahap pembuatan produk dan tahap uji daya terima produk, yaitu dengan 3 modifikasi resep yang akan diberikan pada hari ke-1 sampai hari ke-3, yaitu Mi Gosis (Mi Goreng Sosis), Mi Goreng Telur Puyuh (Mi Teluh) dan Mi Gong (Mi Goreng Kampung).Hasil: Tiga resep modifikasi mi kering ikan patin substitusi tepung labu kuning ini memiliki nilai gizi 224,6 kalori- 385,115 kalori, hal ini dapat memenuhi rata-rata 15% kebutuhan sajian makanan balita sebagai selingan. Pada uji daya terima dari 3 resep, sisa tertinggi (>20%) pada hari ke-2 sebanyak 56,7% balita. Daya terima tertinggi balita adalah pada olahan mi kering ikan patin hari ketiga atau mi goreng kampung yaitu sebanyak 22 orang (73,3%).Kesimpulan: Balita dapat menerima mi kering ikan patin dengan daya terima tertinggi adalah pada olahan mi goreng kampung yaitu sebanyak 22 orang (73,3%).KATA KUNCI: daya terima; mi kering ikan patin tepung labu kuning; 3 modifikasi resep; balita wastingABSTRACTBackground: Efforts to deal with malnutrition problems in toddlers are very important so that toddlers do not enter into malnutrition conditions and cause more serious health problems. Efforts to select high-protein local foods can be added/substituted to noodle products. Dried patin fish noodles substituted with yellow pumpkin flour with a composition of pumpkin flour of 7.5% have the best moisture content quality based on SNI 8217-2015), so it is recommended to be modified with various recipes and processing techniques. Dry noodle processing can be processed into fried noodles, boiled noodles, or other variations. The presentation of instant noodles in the form of fried noodles is preferred by toddlers aged 24 – 60 months.Objectives: This study aimed to test the acceptability of patin fish dried noodles substituted with yellow pumpkin flour  in malnourished toddlers in the working area of the Telogosari Wetan Health Center in Semarang City.Methods: The type of research used is a pre-experimental design with a one-shot case study design. The stages of the research consist of the product Preparation Stage and Product Acceptability Test Stage, namely with 3 recipe modifications that are said to be given on days k-e 1 to 3, namely Mi Gosis (Sausage Fried Noodles), Quail Egg Fried Noodles (Teluh Noodles), and Gong Noodles (Village Fried Noodles).Results: These three modified dry catfish noodle recipes have a nutritional value of 224.6 - 385,115 calories, this can fulfill an average of 15% of toddlers' food needs as a distraction. In the acceptability test of 3 recipes, the highest remaining (>20%) was on the 2nd day for 56.7% of toddlers. The highest acceptability for toddlers is processed dried catfish noodles on the third day or village fried noodles, namely 22 people (73.3%).Conclusions: Toddlers can accept dried catfish noodles with the highest acceptability being KEYWORD: acceptability; dried patin fish noodles yellow pumpkin flour; 3 recipe modifications; toddler wasting Received: 18 Dec 2024; Revised: 26 Apr 2024; Accepted: 24 Jan 2025; Available online: 30 Mar 2025; Published: 30 Mar 2025