Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PENGARUH EDUKASI SENAM CUCI TANGAN TERHADAP KEBIASAAN CUCI TANGAN DALAM UPAYA PENCEGAHAN DIARE Hendara Hendra; Gayuh Siska Laksananno; Suparjo Suparjo
Juru Rawat. Jurnal Update Keperawatan Vol 3 No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Prodi Keperawatan Tegal Program Diploma III Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/juk.v3i1.10252

Abstract

Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan, jari-jemari menggunakan sabun dan air mengalir, bertujuan untuk memutus mata rantai kuman. Edukasi Senam CTPS adalah suatu senam atau gerakan didalamnya yang terdiri dari 6 langkah cuci tangan secara berurutan guna mempermudah pembelajaran cuci tangan dalam upaya pencegahan kasus diare pada anak sekolah dasar. Metode Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, menggunakan desain pre-experimental yaitu memberikan intervensi atau perlakuan pada subjek penelitian, kemudian efek perlakuan tersebut diukur dan dianalisis, dalam penelitian ini metode yang digunakan yaitu one group pretest and posttest dimana fokus pada satu kelompok tanpa kelompok kontrol dengan jumlah responden sebanyak 85 siswa kelas IV, V dan VI. Kuesioner pada penelitian ini menggunakan penskalaan dan metode observasi. Pada analisa data menggunakan wilcoxon signed rank. Hasil analisa univariat didapatkan sebelum dilakukan edukasi cuci tangan dari 85 responden terdapat 29 responden atau 34% memiliki kebiasaan buruk. Setelah dilakukan edukasi senam cuci tangan semua responden memiliki kategori kebiasaan baik yaitu 85 responden atau 100%. Hasil analisa bivariat didapatkan p value 0,000 atau (<0,05) yang artinya Ha diterima dan H0 ditolak, terdapat pengaruh yang signifikan edukasi senam cuci tangan terhadap kebiasaan cuci tangan. Sebelum dilakukan edukasi senam cuci tangan kebiasaan respondel dalam menerapkan cuci tangan kategori buruk, sesudah dilakukan edukasi senam cuci tangan kebiasan cuci tangan responden kategori baik dan terdapat pengaruh edukasi senam cuci tangan terhadap kebiasaan cuci tangan dalam upaya pencegahan diare siswa SD Negeri Poncomulyo.
PENERAPAN PIJAT BAYI TERHADAP PENURUNAN KADAR BILIRUBIN PADA BAYI DENGAN HIPERBILIRUBINEMIA DI RUANG NEONATAL RESIKO TINGGI RSUP DR. KARIADI SEMARANG Dwi Wahyuni; Gayuh Siska Laksanano; Lucia Endang Hartati
Juru Rawat. Jurnal Update Keperawatan Vol 4 No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Prodi Keperawatan Tegal Program Diploma III Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/juk.v4i1.11560

Abstract

Hiperbilirubinemia merupakan salah satu kejadian yang sering terjadi pada bayi baru lahir. Jika tidak segera ditangani akan terjadi komplikasi kern ikterus. Prosedur penatalaksanaan hiperbilirubinemia di rumah sakit adalah fototerapi namun berpotensi menimbulkan efek samping. Terapi pijat bayi yang dilakukan dengan melibatkan orang tua sesuai konsep family centered care diharapkan mampu membantu menurunkan kadar  bilirubin dan meningkatkan ekskresi bilirubin selama bayi mendapatkan fototerapi. Tujuan peneitian ini adalah Menganilisis penerapan terapi pijat bayi terhadap penurunan kadar bilirubin pada bayi hiperbilirubinem. Metode menggunakan  Analisis deskriptif yaitu studi kasus dengan jumlah subyek 3 bayi. Instrumen yang digunakan yaitu SPO pijat bayi. Terapi pijat bayi dilakukan 15-20 menit 2 kali sehari selama 2 hari. Hasil evaluasi evidence based nursing practice yang dilakukan pada ketiga klien kelolan yaitu terapi pijat bayi dapat disimpulkan efektif mampu membantu menurunkan kadar bilirubin serta frekuensi BAB mengalami peningkatan, warna feses kuning dan konsistensi lembek. Hasil Pada studi kasus ini didapatkan 3 bayi mengalami peningkatan kadar bilirubin, warna feses pucat, dan diprogram fototerapi 1x24 jam kemudian diterapkan terapi pijat bayi yang memberikan efek secara biomekanikal, fisiologikal dan neurologikal diharapkan membantu menurunkan kadar bilirubin. Terapi pijat bayi mampu membantu menurunkan kadar bilirubin, diharapkan orang tua tetap melanjutkan terapi pijat bayi secara mandiri di rumah
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG ASUPAN GIZI SEIMBANG DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 36 - 60 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MRANGGEN III KABUPATEN DEMAK Gayuh Siska Laksananno; Ela Amrina Rosyada; Tri Wiji Lestari
Juru Rawat. Jurnal Update Keperawatan Vol 5 No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Prodi Keperawatan Tegal Program Diploma III Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/juk.v5i1.12967

Abstract

Latar Belakang : Stunting saat ini menjadi permasalahan global yang harus segera diatasi. Tingginya angka Stunting pada anak akan berdampak buruk terhadap kesehatan fisik dan mental anak. Berdasarkan SSGI tahun 2022 kasus stunting di Indonesia menunjukkan angka 21,6 %. Presentase kasus stunting di Jawa Tengah sebesar 20,8%, sedangkan stunting di Kabupaten Demak mencapai angka 16,2%. Tujuan : untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang asupan gizi seimbang dengan kejadian Stunting anak usia 36-60 bulan di wilayah kerja Puskesmas Mranggen III Demak. Metode : Jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional untuk mendapatkan data. Sampel pada penelitian ini melibatkan 55 ibu yang memiliki anak stunting usia 36-60 bulan dengan teknik sampel yaitu teknik sampling jenuh. Instrument yang digunakan yaitu kuesioner pengetahuan ibu tentang asupan gizi seimbang. Hasil : Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan sebagian besar anak stunting berusia 36 – 47 bulan berjumlah 44 anak (80%) dan lebih banyak berjenis kelamin laki-laki berjumlah 30 anak (54.5%), serta mayoritas ibu yang memiliki tingkat pengetahuan kurang berjumlah 27 orang (49.1%). Simpulan : Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang asupan gizi seimbang dengan kejadian stunting anak usia 36-60 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Mranggen III Demak dengan P-Value = 0.001 (<0.05) Kata Kunci: Pengetahuan gizi ibu, Stunting
FAKTOR FAKTOR YANG BERKONTRIBUSI TERHADAP TERJADINYA GAGAL GINJAL KRONIS PADA USIA PRODUKTIF DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARDINAH TEGAL Hudinoto Eko Yudyarto; Gayuh Siska Laksanano; Nurcholis
Juru Rawat. Jurnal Update Keperawatan Vol 6 No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Prodi Keperawatan Tegal Program Diploma III Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/juk.v6i1.13842

Abstract

The increasing incidence of Chronic Kidney Disease (CKD) among the productive-age population has become a serious threat to quality of life and imposes a substantial economic burden. This study aimed to analyze factors associated with CKD stages among productive-age patients. This quantitative study employed a cross-sectional design involving 90 respondents aged 15–64 years with stage 4 and 5 CKD, selected using a total sampling technique. Data were analyzed using the Chi-square test to examine the relationship between demographic factors, medical history, and lifestyle variables with CKD stages. The majority of respondents were classified as stage 5 CKD (62%), predominantly within the 45–59-year age group and male patients. Statistical analysis revealed that age, sex, family history, fruit and vegetable consumption, alcohol intake, smoking, physical activity, and hypertension were not significantly associated with CKD stages (p > 0.05). Only obesity showed a significant association (p = 0.038; OR = 0.401), indicating that obese patients were more likely to be in advanced stages of CKD. Obesity is identified as a major contributing factor to CKD progression among the productive-age population at Kardinah Hospital.