Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Gambaran Kualitas Preparat Awetan Amoeba Berdasarkan Variasi Waktu Perendaman Trichrome Cahyani, Andi Putri; Ariyadi, Tulus; Ernanto, Aditya Rahman
Prosiding Seminar Nasional Unimus Vol 7 (2024): Transformasi Teknologi Menuju Indonesia Sehat dan Pencapaian Sustainable Development G
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Amoeba pada saluran pencernaan manusia umunya tidak patogen tetapi beberapa diantaranya patogen danberkontribusi pada peningkatan jumlah penyakit pencernaan di negara miskin dan berkembang.Pemeriksaan mikroskopik menjadi salah satu pemeriksaan penunjang penyebab infeksi Amoeba.Pembuatan Preparat awetan amoeba salah satunya menggunakan pewarnaan trichrome dan menghasilkan kualiatas preparat yang baik, dengan pengecatan trichrome sitoplasma akan berwarna hijau biru sedangkan nukleus, badan kromatin akan berwarna merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambarankualitas preparat awetan amoeba berdasarkan variasi waktu (10, 15, dan 20 menit) perendaman trichrome.Jenis penelitian ini adalah eksperimen. Sampel pada penelitian ini adalah feses positif Amoeba. Hasilpenelitian menggunakan pewarnaan trichrome dengan variasi waktu 10,15 dan 20 menit didapatkan hasilpreparat awetan Amoeba dilihat dari stadium kista E.histolytica yang terlihat jelas dan kejernihan darinukleus Amoeba walaupun warna merah dari Amoeba tersebut terlalu pekat sehingga badan kromatin dlltidak terlihat dan warna hijau biru yang mewarnai sitoplasma dari Amoeba juga tidak terlihat.Kata Kunci : Amoeba, Kualitas preparat, Variasi waktu, Pewarnaan trichrome.
PERBEDAAN KUALITAS PEWARNAAN HE PADA JARINGAN USUS BESAR TIKUS YANG DIFIKSASI MENGGUNAKAN GULA MOLASSES DENGAN NBF 10% Saleh, Hasniar Fuzran A; Ariyadi, Tulus; Iswara, Arya; Nurbaiti, Nurbaiti
InaBHS (Indonesian Journal of Biomedicine and Health Science) Vol 4 No 1 (2025): Indonesian Journal of Biomedicine and Health Science
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/inabhs.v4i1.10869

Abstract

Fiksasi jaringan merupakan tahap penting dalam pembuatan preparat histologi untuk mempertahankan struktur seluler dan morfologi jaringan. Neutral Buffer Formalin (NBF) 10% umum digunakan sebagai fiksatif, namun memiliki risiko toksisitas dan dampak lingkungan negatif. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE) pada jaringan usus besar tikus wistar yang difiksasi menggunakan gula molasses konsentrasi 30% dan NBF 10%. Penelitian dilakukan secara eksperimental laboratorium dengan dua kelompok perlakuan. Penilaian kualitas pewarnaan dilakukan secara mikroskopis terhadap inti sel dan sitoplasma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan yang difiksasi dengan NBF 10% memberikan kualitas pewarnaan HE yang lebih baik, dengan skor rata-rata 18,00 (kategori baik), dibandingkan gula molasses 30% yang memperoleh skor rata-rata 14,18 (kategori kurang baik). Kesimpulan, NBF 10% masih menjadi fiksatif yang lebih unggul dibandingkan gula molasses 30% dalam mempertahankan kualitas pewarnaan HE pada jaringan usus besar tikus. Namun, gula molasses tetap memiliki potensi sebagai alternatif fiksatif yang lebih ramah lingkungan, meskipun kualitasnya masih perlu ditingkatkan. Kata kunci: Fiksasi Jaringan, Gula Molasses, NBF 10%, Pewarnaan HE, Usus Besar Tikus, Histopatologi
Uji Efektivitas Ekstrak Kayu Bajakah (Spatholobus littoralis) Terhadap Mortalitas Cimex hemipterus Fristiani, Arista Kurniasari Budi; Firnanda, Citra; Hikmah, Annisa Nurul; Ariyadi, Tulus
JUKEJ : Jurnal Kesehatan Jompa Vol 4 No 4 (2025): JUKEJ: Jurnal Kesehatan Jompa
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jkj.Vol4.Iss4.2132

Abstract

Cimex hemipterus merupakan serangga penghisap darah yang mengganggu kenyamanan tidur dan gigitannya dapat menimbulkan ruam, reaksi alergi, kemerahan pada kulit, hingga lepuh. Pengendalian serangga yang umum dan efektif yaitu insektisida kimia namun berisiko bagi kesehatan, sehingga diperlukan alternatif yang lebih aman. Salah satunya menggunakan ekstrak kayu bajakah (Spatholobus littoralis) yang mengandung flavonoid, alkaloid, saponin, dan triterpenoid. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas ekstrak kayu bajakah terhadap mortalitas Cimex hemipterus. Metode penelitian yaitu eksperimental dengan teknik purposive sampling. Sampel berjumlah 125 ekor Cimex hemipterus dibagi dalam lima kelompok (konsentrasi 5%, 10%, 15%, kontrol positif, dan kontrol negatif) dengan lima kali pengulangan sesuai rumus federer. Cimex dinyatakan mati apabila tidak menunjukkan pergerakan dan tidak bereaksi saat disentuh menggunakan pinset. Data dianalisis secara univariat, diuji normalitas Shapiro-Wilk, uji Kruskal-Wallis, uji Mann-Whitney, serta analisis probit untuk menentukan nilai LC50 dan LC90. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi 15% menyebabkan mortalitas 100% dalam 24 jam. Nilai LC50 sebesar 6,56% dan LC90 sebesar 11,39%. Uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok (p<0,05). Mann Whitney menunjukkan konsentrasi 10% dan 15% tidak berbeda signifikan dengan Baygon (p>0,05). Kesimpulan, ekstrak kayu bajakah terbukti efektif dalam menyebabkan kematian Cimex hemipterus, dengan konsentrasi 15% menunjukkan efektivitas tertinggi yaitu 100% mortalitas dalam 24 jam).