Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

KONSEP ZEN GARDEN PADA INTERIOR RUANG KELUARGA Saraswati, Ni Komang Adinda Mahadyah; Artayasa, I Nyoman; Kerdiati, Ni Luh Kadek Resi
Jurnal Vastukara: Jurnal Desain Interior, Budaya, dan Lingkungan Terbangun Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Vastukara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/vastukara.v4i2.3898

Abstract

Zen Garden, yang berasal dari tradisi Jepang telah menjadi inspirasi dalam desain interior modern. Taman ini menciptakan suasana meditatif dan ketenangan melalui elemen-elemen alam seperti batu, pasir, dan tanaman. Dalam interior ruang keluarga, prinsip Zen Garden dapat diadaptasi untuk menciptakan lingkungan yang harmonis dan menenangkan. Artikel ini mengkaji bagaimana konsep Zen Garden dapat diterapkan dalam interior ruang keluarga untuk menciptakan suasana yang tenang dan harmonis. Mengidentifikasi elemen-elemen utama Zen Garden seperti keseimbangan, penggunaan elemen alami, dan minimalisme, serta mengkaji penerapannya dalam ruang keluarga. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan analisis deskriptif kualitatif, mengandalkan literatur dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan konsep Zen Garden dalam desain interior menciptakan ruang yang menenangkan dan meditatif, dengan fokus pada ketenangan, harmonisasi, dan keterhubungan dengan alam. Studi kasus seorang artis musisi menyoroti pentingnya lingkungan tenang untuk mendukung kreativitas dan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional. Desain ruang yang harmonis memungkinkan interaksi keluarga yang mendukung keseimbangan hidup, serta menciptakan hubungan yang kuat dengan alam melalui penggunaan elemen alami dalam Zen Garden.   Kata kunci : Zen Garden, Ruang Keluarga, Arsitektur Jepang  
Signifikansi Budaya Pada Restorasi Arsitektur Dan Interior Pemedal Agung Dan Penyengker Pura Desa Dan Pura Puseh Desa Adat Denpasar Pranajaya, I Kadek; Artayasa, I Nyoman; Winaja, I Wayan
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 8 No 1 (2024)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/jpah.v8i1.2741

Abstract

Many temples in Bali have been renovated without regard to their historical value, resulting in many new forms, ornaments, and materials even though the temple as a cultural heritage has cultural, social, and religious values. This research aimed to examine the reasons and process of restoring Pemedal Agung and Penyengker in the Pura Desa (Village Temple) and Pura Puseh (Puseh Temple) of Denpasar Traditional Village and analyze the restoration implementation implications of Pemedal Agung and Penyengker in the Pura Desa and Pura Puseh of Denpasar Traditional Village. This research used qualitative methods through a case study and ethnographic approach. The results showed that the causal factors in Denpasar Traditional Village restoring Pemedal Agung and Penyengker in the Pura Desa and Pura Puseh were due to a shared understanding of the importance of the traces and historical values in the temple building. It was outlined in the Perarem (rules) regarding the procedures for the temple repair process, and the community understands the importance of Denpasar’s identity value. The restoration stages and process of Pemedal Agung and Penyengker in the Pura Desa and Pura Puseh of Denpasar Traditional Village began with the planning process, identification of building form and damage, technical document preparations, procurement of construction workers, restoration implementation, and periodic supervision. The restoration process was accompanied by a series of Balinese Hindu ritual processes, namely Nuntun, Ngeruak, Mendem Pedagingan, Ngingsirang Pretime, and Ngeteg Linggih ceremonies. The restoration implications of Pemedal Agung and Penyengker in the Pura Desa and Pura Puseh of Denpasar Traditional Village could provide cultural significance, such as aesthetic, social, and religious values, with substantial cultural and symbolic capital.
KONSEP FALSAFAT TRI MANDALA MENJADI DASAR PENGELOLAAN KEBERSIHAN DI KOTA DENPASAR Artayasa, I Nyoman
Jurnal Ilmiah Cakrawarti Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Mahendradatta Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47532/jic.v5i2.646

Abstract

Pemanasan Global adalah suatu istilah yang menunjukan adalah adanya  kenaikan rata-rata temperatur Bumi, yang kemudian menyebabkan perubahan dalam iklim. Bumi yang lebih hangat dapat menyebabkan perubahan siklus hujan, kenaikkan permukaan air laut, dan beragam dampak pada tanaman, kehidupan , dan manusia. Penerapan Konsep Tri Mandala pada perumahan di Kota denpasar memberikan pola pengelolaan Kebersihan lingkungan dan menekankan penanaman pohon yang disesuikan dengan fungsi masing-masing mandala, karena pohon tersebut dapat mereduksi gas karbondioksida (Co2). Konsep Tri Mandala, yang terdiri dari Utama Mandala, Madya Mandala dan Nista Mandala, jika diterapkan dengan baik dan benar dapat mengatasi permasalahan kebersihan dan peningkatan suhu udara.
The Relevance of Jungian Psychological Theory towards the Analysis of Housewifization Representations in Photojournalism Prastiti, Ni Putu Suci; Artayasa , I Nyoman
Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management Vol. 4 No. 1 (2025): Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jacam.v4i1.3976

Abstract

Mass media play a significant role in shaping public perception of various aspects of life, including gender roles within households. One intriguing aspect in this context is the representation of housewives in photojournalism. This phenomenon often emerges through what is known as housewifization, the process by which the role of housewives is reduced to narrow stereotypes confined solely to domestic affairs. This writing aims to explore how Carl Gustav Jung's Jungian psychology approach can be applied to analyze the representation of mother subjects in news media. The research method used is descriptive qualitative. The results of this study indicate that Jungian psychological analysis offers an intriguing approach to understanding the phenomenon of housewifization in the context of photojournalism. This paper hopes to provide new insights into how media shape our perceptions of gender roles in society and pave the way for deeper reflection on the cultural and psychological implications of this phenomenon.
KONSTRUKSI PINTU UTAMA PADA RUMAH TINGGAL HENDRI POERNOMO Putra, I Putu Yudha Darma; Artayasa, I Nyoman; Mulyati, Made Ida
Jurnal Vastukara: Jurnal Desain Interior, Budaya, dan Lingkungan Terbangun Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Vastukara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/vastukara.v5i1.3766

Abstract

Pintu utama merupakan elemen penting dalam desain rumah tinggal, tidak hanya sebagai akses utama namun juga memiliki peran estetika yang signifikan. Pembangunan pintu utama harus memerhatikan aspek keamanan, fungsionalitas, serta estetika. Peneliti berfokus pada konstruksi pintu utama pada rumah Hendri Poernomo, dengan fokus pada pemilihan material, keamanan, dan desain estetika. Melalui metode deskriptif kualitatif, data diperoleh dari kajian pustaka dan wawancara mendalam dengan pemilik rumah. Hasilnya menunjukkan bahwa pintu utama yang terpasang menggunakan pintu geser dengan material utama aluminium alloy 6063 dan kaca laminated. Konstruksi rel pintu geser dan pemilihan sekrup juga menjadi bagian penting dalam pemasangan yang tepat. Pemilihan pintu geser didasarkan pada efisiensi ruang dan estetika. Pentingnya pemilihan material yang sesuai merupakan hal penting untuk meningkatkan keamanan dan keberlangsungan pintu utama. Aluminium alloy 6063 dipilih karena kekuatannya yang tinggi dan ketahanan terhadap korosi, sementara kaca laminated memberikan perlindungan tambahan dengan kemampuannya untuk tidak pecah menjadi pecahan tajam. Konstruksi rel pintu geser dan pemilihan sekrup juga memainkan peran penting dalam memastikan instalasi yang kokoh dan aman. Pintu geser dipilih karena efisiensi ruangnya yang sesuai dengan tren desain. Implikasi keberlanjutan dari pemilihan material dan konstruksi, menggambarkan bagaimana penggunaan material yang tepat dan efisien energi dari pencahyaan alami yang terpancar dari kaca laminated pintu geser tersebut dapat mendukung tujuan pembangunan yang berkelanjutan. Studi ini memberikan wawasan tentang pentingnya mempertimbangkan aspek keamanan, fungsionalitas, dan estetika dalam konstruksi pintu utama rumah tinggal serta kontribusinya terhadap keberlanjutan pembangunan.
PENERAPAN KONSEP "AFFECTIONATE ABODE" PADA INTERIOR RUANG KELUARGA DAN DAPUR DRG. HENDRI POERNOMO Meita Ayu Nita, Gst. A. Ayu; Artayasa, I Nyoman; Kerdiati, Ni Luh Kadek Resi
Jurnal Vastukara: Jurnal Desain Interior, Budaya, dan Lingkungan Terbangun Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Vastukara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/vastukara.v5i1.3794

Abstract

Keluarga merupakan kelompok sosial terkecil di dalam masyarakat yang terdiri dari dua orang atau lebih yang dibentuk atas dasar tali perkawinan yang sah, darah atau pun adopsi dimana kelompok tersebut hidup bersama, berinteraksi antara individu di dalam keluarga maupun hubungan keluarga dengan lainnya, dengan setiap anggota yang memiliki peranan masing-masing untuk memenuhi fungsi keluarga. Komunikasi merupakan hal yang paling esensial bagi kehidupan manusia, karena dengan komunikasi manusia dapat berinteraksi dengan manusia lainnya. Namun terkadang tidak semua manusia dapat melakukan komunikasi secara efektif, Karena kurangnya intensitas waktu untuk melakukan komunikasi dengan keluarga maupun anak-anak mereka berakibat pada komunikasi yang rusak diantara mereka, sehingga berakibat pada memburuknya kehidupan rumah tangga yang dialami wanita pekerja. Oleh karena itu diperlukan suatu tempat yang dapat menjadi sarana komunikasi efektif,tempat tinggal dan ruang yang mendukung kesejahteraan emosional dan fisik para penghuninya, memfasilitasi interaksi yang erat, serta menyediakan tempat yang aman dan nyaman untuk beristirahat dan berkumpul melalui konsep "Affectionate Abode" Desain yang hangat dan mengundang ini memprioritaskan kesejahteraan fisik dan emosional anggota keluarga, menciptakan tempat di mana mereka merasa dicintai dan dihargai. Dengan tidak adanya dinding pemisah antara dapur dan ruang keluarga, komunikasi antara anggota keluarga menjadi lebih mudah dan lancar. Saat salah satu anggota keluarga sedang memasak, mereka masih bisa berbicara dan berinteraksi dengan anggota keluarga lainnya yang berada di ruang keluarga, Dan untuk Menciptakan Kebersamaan Ruang yang terbuka memungkinkan seluruh anggota keluarga untuk melakukan aktivitas bersama, meskipun mereka mungkin sedang melakukan kegiatan yang berbeda. Anak-anak bisa bermain atau mengerjakan pekerjaan rumah di ruang keluarga sambil orang tua memasak atau menyiapkan makanan.
The Relevance of Jungian Psychological Theory towards the Analysis of Housewifization Representations in Photojournalism Prastiti, Ni Putu Suci; Artayasa , I Nyoman
Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management Vol. 4 No. 1 (2025): Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jacam.v4i1.3976

Abstract

Mass media play a significant role in shaping public perception of various aspects of life, including gender roles within households. One intriguing aspect in this context is the representation of housewives in photojournalism. This phenomenon often emerges through what is known as housewifization, the process by which the role of housewives is reduced to narrow stereotypes confined solely to domestic affairs. This writing aims to explore how Carl Gustav Jung's Jungian psychology approach can be applied to analyze the representation of mother subjects in news media. The research method used is descriptive qualitative. The results of this study indicate that Jungian psychological analysis offers an intriguing approach to understanding the phenomenon of housewifization in the context of photojournalism. This paper hopes to provide new insights into how media shape our perceptions of gender roles in society and pave the way for deeper reflection on the cultural and psychological implications of this phenomenon.
Let's Become A Humanist Communicator! The Importance of Interpersonal Communication Skills to Improve Group Cohesion Artyanti Putri, Putu Riana; Winayanti, Ratna Devy; Artayasa, I Nyoman; Pramana, Ida Bagus Gde Yoga; Apsari, Ayu Rahmadita; Anggreni, Ni Wayan Yuli
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 2 (2024): Volume 12, Issue 2, Juni 2024
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i2.15207

Abstract

The adolescent phase is a very critical development spear in life. Adolescents who have entered the age of high school students have experienced several significant changes that include emotional, cognitive, and social. School life not only revolves around understanding the material and working on tasks individually, but also includes good social interaction. In response to this, students are required to be able to blend in well to achieve social interaction with peers. It is important to have attachment between students to avoid prolonged conflicts between students and student groups. However, there are still many cases of conflict that occur due to low adhesion between students at school. The purpose of this study is to improve group cohesiveness by providing interpersonal communication training. The assumption of this interpersonal communication training is that by improving the interpersonal communication skills of participants, it will increase group cohesiveness in participants as well. This study is experimental research conducted on 14 students of class X IPS 1. There was a significant difference between the cohesiveness score of the group before and after the training with a sig value = 0.009 (p > 0.05), which showed that there was an increase in the cohesiveness score of the group of trainees. Based on the results of the research found, there was a change in behavior in class X IPS 1 student to become more blended and have more attachment to each other in class so that the classroom atmosphere became more synergistic and harmonious.Fase remaja menjadi tombak perkembangan yang sangat kritis di kehidupan. Remaja yang sudah memasuki usia peserta didik SMA telah mengalami sejumlah perubahan signifikan yang mencakup emosi, kognitif, dan sosial. Kehidupan sekolah tidak hanya berputar pada pemahaman materi dan pengerjaan tugas secara individu, tetapi juga mencakup interaksi sosial yang baik. Menanggapi hal tersebut, siswa diharuskan mampu untuk berbaur dengan baik guna mencapai interaksi sosial dengan teman sebaya. Penting memiliki kelekatan antar siswa untuk terhindar dari konflik berkepanjangan antar siswa maupun kelompok siswa. Akan tetapi, masih banyak sekali kasus konflik yang terjadi akibat rendahnya kelekatan antar siswa di sekolah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kohesivitas kelompok dengan memberikan pelatihan komunikasi interpersonal. Asumsi dari pelatihan komunikasi interpersonal ini adalah dengan meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal peserta maka akan meningkatkan kohesivitas kelompok pada peserta pula. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang dilakukan terhadap 14 orang siswa kelas X IPS 1. Terdapat perbedaan yang yang signifikan antara skor kohesivitas kelompok sebelum pelatihan dan sesudah pelatihan dengan nilai sig = 0,009 (p > 0,05), hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan skor kohesivitas kelompok peserta pelatihan. Berdasarkan hasil penelitian yang ditemukan, terjadi perubahan perilaku pada siswa-siswa kelas X IPS 1 menjadi lebih berbaur dan lebih memiliki kelekatan antar satu sama lain di kelas sehingga suasana kelas menjadi lebih bersinergi dan rukun.
PENGAPLIKASIAN KONSEP PRAGMATIS PADA INTERIOR EKA SUKMA STUDIO YOGA Legini, Putu Ayu Mas Nata; Artayasa, I Nyoman; Padmanaba, Cok Gde Rai
Jurnal Vastukara: Jurnal Desain Interior, Budaya, dan Lingkungan Terbangun Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Vastukara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/vastukara.v4i1.3454

Abstract

Eka Sukma Studio Yoga merupakan studio yoga aktif yang terletak di Desa Batubulan, Sukawati. Yoga adalah salah satu kegiatan yang paling diminati oleh wisatawan mancanegara dikarenakan yoga sendiri memiliki banyak manfaat salah satunya adalah mendatangkan kebahagiaan. Penelitian membuktikan bahwa latihan yoga konsisten memperbaiki depresi, meningkatkan kadar serotonin, dan menurunkan kortisol. Dengan mendukung dari tujuan yoga tersebut yang mana mengatakan yoga dapat mendatangkan kebahagiaan maka suasana dari tempat pelatihan yoga lebih diperhatikan lagi penataan desainnya. Dengan begitu tempat pelatiahan yoga di desain agar menciptakan suasana yang tenang bagi pengunjung. Kondisi Eka Sukma Studio Yoga saat ini masih belum dapat dikatakan sempurna untuk dijadikan studio yoga dikarenakan suasanya yang masih panas dan sempit. Desain interior Eka Sukms studio yoga dapat di desain dengan menggunakan konsep pragmatis, yang mana artinya mengutamakan pemecahan masalah dengan tanggapan langsung. Sarana Yogi Santika merupakan penerapan dari konsep Pragmatis yang berarti tempat pelatihan yoga yang mendamaikan. Pada kasus yang diambil yaitu studio yoga akan diterapkan konsep tersebut dengan bertujuan menciptakan suasana yang damai dan tenang kepada pengunjung sehingga pengunjung akan lebih merasa bahagia setelah melaksanakan yoga dan melepas penat dari hiruk pikuk kegiatan sehari hari. Dengan menggunakan konsep pragmatis dengan penerapan Sarana Yogi Santika pada interior studio yoga dan mengaplikasikan elemen elemen desain dengan maknanya masing masing diharapkan agar dapat menjadi pendukung dalam penciptaan suasana tenang pada interior studio yoga dan membuat para pengunjung dapat merasakan tujuan yang sebenarnya dari melaksanakan yoga wellness.
KONSEP ZEN GARDEN PADA INTERIOR RUANG KELUARGA Saraswati, Ni Komang Adinda Mahadyah; Artayasa, I Nyoman; Kerdiati, Ni Luh Kadek Resi
Jurnal Vastukara: Jurnal Desain Interior, Budaya, dan Lingkungan Terbangun Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Vastukara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/vastukara.v4i2.3898

Abstract

Zen Garden, yang berasal dari tradisi Jepang telah menjadi inspirasi dalam desain interior modern. Taman ini menciptakan suasana meditatif dan ketenangan melalui elemen-elemen alam seperti batu, pasir, dan tanaman. Dalam interior ruang keluarga, prinsip Zen Garden dapat diadaptasi untuk menciptakan lingkungan yang harmonis dan menenangkan. Artikel ini mengkaji bagaimana konsep Zen Garden dapat diterapkan dalam interior ruang keluarga untuk menciptakan suasana yang tenang dan harmonis. Mengidentifikasi elemen-elemen utama Zen Garden seperti keseimbangan, penggunaan elemen alami, dan minimalisme, serta mengkaji penerapannya dalam ruang keluarga. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan analisis deskriptif kualitatif, mengandalkan literatur dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan konsep Zen Garden dalam desain interior menciptakan ruang yang menenangkan dan meditatif, dengan fokus pada ketenangan, harmonisasi, dan keterhubungan dengan alam. Studi kasus seorang artis musisi menyoroti pentingnya lingkungan tenang untuk mendukung kreativitas dan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional. Desain ruang yang harmonis memungkinkan interaksi keluarga yang mendukung keseimbangan hidup, serta menciptakan hubungan yang kuat dengan alam melalui penggunaan elemen alami dalam Zen Garden.   Kata kunci : Zen Garden, Ruang Keluarga, Arsitektur Jepang