Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Ayat Ayat Tentang Menepati Janji Dalam Al-Qur’an Berupa Q.S. Al-Maidah Ayat 1 Dan An-Nahl Ayat 91 Harahap, Mardian Idris; Nasution, Abdurrahman; Harahap, Jiskan Khalid; Ahmad, Kafi Khadafi; Halomoan, Panda Jaya
MUDABBIR Journal Research and Education Studies Vol. 5 No. 2 (2025): Vol. 5 No. 2 Juli-Desember 2025
Publisher : Perkumpulan Manajer Pendidikan Islam Indonesia (PERMAPENDIS) Prov. Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56832/mudabbir.v5i2.1363

Abstract

Menepati janji berdasarkan dua ayat utama dalam Al-Qur’an, yaitu Q.S. Al-Maidah ayat 1 dan Q.S. An-Nahl ayat 91. Kedua ayat tersebut menunjukkan pentingnya menjaga komitmen, baik dalam hubungan sosial maupun dalam pengabdian kepada Allah SWT. Q.S. Al-Maidah ayat 1 menekankan kewajiban memenuhi akad (perjanjian), sementara Q.S. An-Nahl ayat 91 memperkuat larangan untuk melanggar janji, khususnya janji yang diikat atas nama Allah. Dengan metode analisis tafsir tematik (maudhu’i), artikel ini mengungkap makna, konteks, serta implikasi moral dan spiritual dari ayat-ayat tersebut. Menepati janji dipahami sebagai bagian dari akhlak mulia, sekaligus indikator ketaatan dan integritas dalam kehidupan seorang Muslim. Kesimpulannya, Al-Qur’an menempatkan menepati janji sebagai prinsip fundamental dalam menjaga hubungan antarmanusia dan hubungan manusia dengan Allah.
Langkah-Langkah Penafsiran dalam Metode Hermeneutika Harahap, Mardian Idris; Indah , Bunga; Damanik, Nursumayyah; Halomoan, Panda Jaya
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2349

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai langkah-langkah penafsiran dalam metode hermenenutik yang dijelaskan oleh berbagai pendapat para ulama, yaitu seperti Hasan Hanafi, Hans-Georg Gadamer, Fazlur Rahman dan lainnya. Hermeneutika ini menekankan bahwa pembaca harus masuk ke dunia penulis untuk memahami teks sesuai dengan makna dan maksud pengarang tanpa mengubah esensi pesannya. Perkembangan hermeneutika klasik – modern menandai lompatan jauh dengan meninggalkan subjektivitas pembaca. Disiplin ilmu yang tidak hanya berurusan dengan bagaimana teks itu diproduksi akan tetapi juga bagaimana mereproduksi (makna) teks.
Semantic Interpretation of Riba In The Qur’an And Its Contemporary Financial Implications Fadillah, Insan; Jamil, M.; Harahap, Mardian Idris
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i1.32171

Abstract

This paper explores the Qur’anic prohibition of riba and its relevance to modern interest-based financial systems. Using a semantic approach and drawing on both classical and contemporary exegesis, the discussion covers the reasons for the revelation of verses on riba, the semantic interpretation of riba according to Toshihiko Izutsu, and the scholarly debate on the term adhāfan muḍhā‘afah in QS. Āli ‘Imrān [3]:130. The study reveals that the prohibition of riba is not limited to compounded interest but is rooted in its inherent injustice and exploitative nature. Scholars differ on whether all forms of interest qualify as riba or only certain types, yet they agree that exploitative riba is categorically forbidden. Beyond its moral implications, riba has systemic effects on the global economy, contributing to financial crises, economic inequality, inflation, and debt traps in developing countries. As a viable alternative, Islamic finance promotes sharī‘ah-compliant contracts rooted in real-sector activities, offering a more equitable and stable system. This study concludes that the Qur’anic prohibition of riba integrates spiritual, social, and economic dimensions. Paper ini mengkaji larangan riba dalam Al-Qur’an dan relevansinya terhadap praktik bunga dalam sistem keuangan modern. Dengan pendekatan semantic serta kajian tafsir klasik serta kontemporer, pembahasan dimulai dari sebab turunnya ayat-ayat riba, makna semantik riba menurut Toshihiko Izutsu, hingga perbedaan penafsiran terhadap istilah adhāfan muḍhā‘afah dalam QS. Āli ‘Imrān [3]:130. Studi ini menunjukkan bahwa larangan riba tidak hanya dilandasi oleh bentuknya yang berlipat ganda, tetapi juga oleh nilai ketidakadilan dan eksploitasi yang terkandung di dalamnya. Para ulama berbeda pendapat apakah semua bentuk bunga termasuk riba atau hanya bunga dalam kadar tertentu. Namun demikian, seluruh ulama sepakat bahwa riba yang bersifat merugikan dan menindas adalah haram. Selain sebagai larangan moral, riba juga berdampak sistemik terhadap perekonomian global, termasuk krisis keuangan, ketimpangan ekonomi, inflasi, hingga jeratan utang negara berkembang. Sebagai alternatif, sistem keuangan Islam menawarkan akad-akad syariah berbasis sektor riil yang lebih adil dan stabil. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelarangan riba dalam Al-Qur’an memiliki dimensi spiritual, sosial, dan ekonomi yang saling terintegrasi.