Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Pengambilan Air Tanah Di Kelurahan Sirnagalih Kota Tasikmalaya Sulwan Permana; Adi Susetyaningsih
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 13 No. 1 (2023): Volume 13 No 1, Maret 2023
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v13i1.860

Abstract

Abstrak Sampai saat ini kebutuhan air bersih bagi masyarakat Kota Tasikmalaya sebagian dilayani oleh Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Sukapura. Masyarakat di Kelurahan Sirnagalih sebagian besar masih mengandalkan air tanah untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sebagian kecil sudah terlayani oleh PDAM meskipun kualitas air masih perlu ditingkatkan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui banyaknya air tanah yang dimanfaatkan masyarakat di Kelurahan Sirnagalih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci pakaian, dan mencuci peralatan dapur. Air tanah yang diambil dari sumur umumnya menggunakan pompa otomatis dan dialirkan melalui pipa berdiameter 0,02 m. Lokasi penelitian di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya. Perhitungan aliran menggunakan persamaan energi dengan memperhitungkan kehilangan energi primer dan sekunder. Banyaknya air tanah yang digunakan rata-rata 130 liter/orang/hari. Kedalaman sumur rata-rata 6 m dan ketinggian reservoir rata-rata pada ketinggian 5 m. Debit yang dialirkan dari sumur ke reservoir sekitar 0,000627 m3/det sedangkan yang dialirkan dari reservoir ke bak mandi sekitar 0,00054 m3/det. Jumlah penduduk di Kelurahan Sirnagalih 8.301 jiwa, banyaknya air yang digunakan oleh masyarakat sekitar 1.079.130 liter per hari (1.079,13 m3/hari) setiap satu keran atau setara dengan menggunakan keran air sebanyak 23 buah. Penggunaan listrik hanya untuk penggunaan pompa air saja adalah 2,89 kW per hari. Kata kunci: Air tanah, kehilangan energi, pompa, reservoi   Abstract Until now, the need for clean water for the people of Tasikmalaya Municipality is partly served by the Regional Drinking Water Company (PDAM) Tirta Sukapura. Most of the people in Sirnagalih Urban Village still rely on groundwater to meet their daily needs. A small part has been served by PDAM although the water quality still needs to be improved. The purpose of this study was to determine the amount of groundwater used by the community in Sirnagalih Urban Village to meet their daily needs, such as bathing, washing clothes, and washing kitchen utensils. Groundwater taken from wells generally uses an automatic pump and flows through pipes with a diameter of 0.02 m. The research location is in Sirnagalih Urban Village, Indihiang Sub-district, Tasikmalaya Municipality. The flow calculation uses the energy equation by taking into account the primary and secondary energy losses. The amount of groundwater used is on average 130 liters/person/day. The average well depth is 6 m and the average reservoir height is 5 m. The discharge flowing from the well to the reservoir is about 0.000627 m3/s while that flowing from the reservoir to the bath is about 0.00054 m3/s. The population in Sirnagalih Urban Village is 8.301 people, and the amount of water used by the community is around 1079130 liters per day (1.079.13 m3/day) per one faucet or the equivalent of using 23 faucets. The use of electricity only for the use of water pumps is 2.89 kW per day. Keywords: Groundwater, head loss, pump, reservoir.
Kalibrasi Model NRECA dan Sacramento Diterapkan Pada Daerah Aliran Sungai Cimanuk-Bojongloa Terhadap Debit Sulwan Permana; Dendi Yogaswara
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 14 No. 1 (2024): Volume 14 Nomor 1, Maret 2024
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v14i1.1042

Abstract

Abstrak Data hidrologi dalam menentukan besaran debit adalah curah hujan dan klimatologi. Salah satu tempat di sungai Cimanuk yang memiliki pos duga air adalah Cimanuk-Bojongloa. Data debit selain dari hasil observasi, juga bisa menggunakan pemodelan. Model yang digunakan pada penelitian ini adalah model NRECA dan model Sacramento. Data curah hujan untuk kalibrasi dengan empat pos, yaitu Pamegatan, Pangauban, Kapakan, dan Bayongbong dari tahun 2017 sampai 2021. Curah hujan rata-rata dihitung dengan metode Thiessen. Kalibrasi model untuk memperoleh parameter kalibrasi terbaik sehingga debit pemodelan akan mendekati debit observasi. Pemodelan debit menggunakan data harian dari tahun 2012 sampai 2021. Hasil kalibrasi pada model NRECA, yaitu PSUB, GWF, dan Wo adalah masing-masing 0,9; 0,2; 600; dan nilai NSE adalah -1,557. Pada model Sacramento hasil kalibrasi adalah UZTW sebesar 25; UZFW sebesar 400; LZTW sebesar 600; LZFS sebesar 20; dan LZFP sebesar 40. Nilai NSE pada model Sacramento adalah 0,471. Kata kunci: kalibrasi, NRECA, NSE, Sacramento    Abstract Hydrological data in determining the amount of discharge is rainfall and climatology. One of the places on the Cimanuk river that has a water observation post is Cimanuk-Bojongloa. Discharge data apart from measurement results, can also use modeling. The models used in this research are the NRECA model and the Sacramento model. Rainfall data for calibration with four station namely Pamegatan, Pangauban, Kapakan, and Bayongbong from 2017 to 2021. Average rainfall is calculated using the Thiessen method. Calibrate the model to obtain the best calibration parameters so that the modeled discharge will be close to the observed discharge. Discharge modeling uses daily data from 2012 to 2021. The calibration results for the NRECA model, namely PSUB, GWF, and Wo are 0.9 each; 0.2; 600; and the NSE value is -1.557. In the Sacramento model the calibration results are UZTW 25; UZFW 400; LZTW 600; LZFS 20; and LZFP 40. The NSE value in the Sacramento model is 0.471. Keywords: calibration, NRECA, NSE, Sacramento
Analisis Karakteristik Curah Hujan Terhadap Banjir di Kabupaten Garut Sulwan Permana; Adi Susetyaningsih
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 15 No. 1 (2025): Volume 15 Nomor 1, Maret 2025
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v15i1.1232

Abstract

Abstrak Areal pertanian di Kabupaten Garut masih banyak dijumpai, karena merupakan mata pencaharian masyarakat sebagai petani. Curah hujan berperan penting dalam kelangsungan bidang pertanian khususnya persawahan.  Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan karakteristik curah hujan di berbagai ketinggian di wilayah Kabupaten Garut. Data hujan diambil 10 tahun, dari tahun 2014 sampai 2023. Pos curah hujan yang dipilih adalah  Pameungpeuk, Miramare dengan rata-rata 9,97 mm; pos Singajaya dan Bungbulang dengan rata-rata 12,43 mm; dan pos Pakenjeng, Pangauban, dan Pamegatan dengan rata-rata 8,22 mm.   Curah hujan wilayah dihitung dengan cara rata-rata aljabar.  Berdasarkan uji kecocokan dengan Chi-Kuadrat dan Kolmogorov-Smirnov, distribusi Normal dan Gumbel yang diterima. Lengkung Intensitas Durasi Frekuensi (IDF) dihitung dengan metode Mononobe. Lengkung IDF digunakan untuk sebaran curah hujan jam-jaman dengan Alternating Block Method (ABM). Curah hujan efektif musim tanam I berkisar antara 2,63 mm/hari sampai 10,69 mm/hari, musim tanam II berkisar 0,4 mm/hari sampai 6,84 mm/hari. Kata kunci: ABM, distribusi frekuensi, IDF, probabilitas.  Abstract Agricultural areas in Garut Regency are still widely found, because it is the livelihood of the community as farmers. Rainfall plays an important role in the sustainability of the agricultural sector, especially rice fields. The purpose of this study was to determine the characteristics of rainfall at various altitudes in the Garut Regency area. Rainfall data was taken for 10 years, from 2014 to 2023. The selected rainfall stations were Pameungpeuk, Miramare with an average of 9.97 mm; Singajaya and Bungbulang stations with an average of 12.43 mm; and Pakenjeng, Pangauban, and Pamegatan stations with an average of 8.22 mm. Regional rainfall was calculated using the algebraic average method. Based on the goodness of fittest test with Chi-Square and Kolmogorov-Smirnov, the Normal and Gumbel distributions were accepted. The Intensity Duration Frequency (IDF) curve was calculated using the Mononobe method. The IDF curve is used for the distribution of hourly rainfall with the Alternating Block Method (ABM). Effective rainfall in planting season I ranges from 2.63 mm/day to 10.69 mm/day, in planting season II ranges from 0.4 mm/day to 6.84 mm/day. Keywords: ABM, frequency distribution, IDF, probability
Prediksi Ketersediaan Air Berdasarkan Debit Andalan untuk Kebutuhan Irigasi di Bendung Copong Sulwan Permana; Adi Susetyaningsih; Alan Wijaya
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol 16 No 2 (2026): Teras Jurnal (September 2026)
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v16i2.1386

Abstract

Abstrak   Kabupaten Garut masih mengandalkan sektor pertanian sebagai penunjang perekonomian daerah. Dalam mendukung sektor pertanian, pemerintah pusat bekerja sama dengan pemerintah daerah mengenai tata kelola sumber daya air untuk kelangsungan irigasi.  Infrastuktur sumber daya air di Kabupaten Garut adalah bendung Copong. Daerah Irigasi Leuwigoong dengan luas layanan 5313 hektar dialiri dari bendung Copong. Kebutuhan dan ketersediaan air merupakan faktor utama dalam pertanian. Tujuan penelitian untuk mengetahui rangkaian debit andalan yang akan dipakai dalam merencanakan pola tanam. Pos hujan yang diperhitungkan adalah 4 pos, yaitu pos Pamegatan, pos Pangauban, Pos Kepakan, dan pos Tarogong dari tahun 2015 sampai 2024. Debit simulasi digunakan cara F.J. Mock, debit andalan yang didapat dari debit simulasi besarnya berfluktuasi di musim hujan besar debit melebihi debit normal yaitu 8,66 m3/detik. Musim Tanam (MT) disesuaikan dengan debit andalan setiap bulan, dengan  awal MT I dan MT II masing-masing bulan November dan Maret setiap tahunnya.   Kata kunci: bendung, debit, irigasi, kebutuhan, ketersediaan       Abstract   Garut Regency continues to rely on the agricultural sector as a cornerstone of its regional economy. To support this sector, the central government collaborates with the local government on water resource management to ensure irrigation sustainability. A key piece of water resource infrastructure in Garut Regency is the Copong Weir. The Leuwigoong Irrigation Area, which covers a service area of 5,313 hectares, is supplied by this weir. Water demand and availability are the primary factors in agriculture. The purpose of this study is to determine the range of dependable flow to be used in planning cropping patterns. The analysis incorporates data from four rainfall stations—Pamegatan, Pangauban, Kepakan, and Tarogong—covering the period from 2015 to 2024. The simulation discharge was calculated using the F.J. Mock method. The dependable flow derived from these simulations fluctuates; during the rainy season, the discharge exceeds the normal level, reaching 8.66 m³/s. The Cropping Seasons are adjusted according to the monthly dependable flow, with Cropping Season I and II beginning in November and March each year, respectively.   Keywords: weir, flow, irrigation, requirement, availability
Prediksi Ketersediaan Air Berdasarkan Debit Andalan untuk Kebutuhan Irigasi di Bendung Copong Sulwan Permana; Adi Susetyaningsih; Alan Wijaya
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol 16 No 2 (2026): Teras Jurnal (September 2026)
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v16i2.1386

Abstract

Abstrak   Kabupaten Garut masih mengandalkan sektor pertanian sebagai penunjang perekonomian daerah. Dalam mendukung sektor pertanian, pemerintah pusat bekerja sama dengan pemerintah daerah mengenai tata kelola sumber daya air untuk kelangsungan irigasi.  Infrastuktur sumber daya air di Kabupaten Garut adalah bendung Copong. Daerah Irigasi Leuwigoong dengan luas layanan 5313 hektar dialiri dari bendung Copong. Kebutuhan dan ketersediaan air merupakan faktor utama dalam pertanian. Tujuan penelitian untuk mengetahui rangkaian debit andalan yang akan dipakai dalam merencanakan pola tanam. Pos hujan yang diperhitungkan adalah 4 pos, yaitu pos Pamegatan, pos Pangauban, Pos Kepakan, dan pos Tarogong dari tahun 2015 sampai 2024. Debit simulasi digunakan cara F.J. Mock, debit andalan yang didapat dari debit simulasi besarnya berfluktuasi di musim hujan besar debit melebihi debit normal yaitu 8,66 m3/detik. Musim Tanam (MT) disesuaikan dengan debit andalan setiap bulan, dengan  awal MT I dan MT II masing-masing bulan November dan Maret setiap tahunnya.   Kata kunci: bendung, debit, irigasi, kebutuhan, ketersediaan       Abstract   Garut Regency continues to rely on the agricultural sector as a cornerstone of its regional economy. To support this sector, the central government collaborates with the local government on water resource management to ensure irrigation sustainability. A key piece of water resource infrastructure in Garut Regency is the Copong Weir. The Leuwigoong Irrigation Area, which covers a service area of 5,313 hectares, is supplied by this weir. Water demand and availability are the primary factors in agriculture. The purpose of this study is to determine the range of dependable flow to be used in planning cropping patterns. The analysis incorporates data from four rainfall stations—Pamegatan, Pangauban, Kepakan, and Tarogong—covering the period from 2015 to 2024. The simulation discharge was calculated using the F.J. Mock method. The dependable flow derived from these simulations fluctuates; during the rainy season, the discharge exceeds the normal level, reaching 8.66 m³/s. The Cropping Seasons are adjusted according to the monthly dependable flow, with Cropping Season I and II beginning in November and March each year, respectively.   Keywords: weir, flow, irrigation, requirement, availability
Co-Authors , Sahrirudin Abdal Azziz Abdullah Syafe'i Aceng Nurkholis Majid Adhitya Surya Pratama Adi Muhammad Aripin Adi Susetyaningsih Aditya Ramdhani Pratama Adri Triadi Agun Gunawar Agus Ismail Ai Dini Andriani Alan Wijaya Almiansyah Nurdin Alwin Andika Andri Setiawan Anjas Ninda Hantari Annisa Nur Ilham Al-Jabbar Ayu Nur Isti Ajijah Azka Mutsla Fauzan Azqia Fhairiza Rusmana Cepi Wendiki Alamsyah Dendi Yogaswara Denny Firmansah Depi Prayogi Diana Puspa Ramadhan Dicky Muhamad Fadli Eko Walujodjati Eko Walujodjati Endang Adi Juhana Endang Andi Juhana Erwin Nadinoor Fajar Abdul Aziz Farhan Fauzaan A Febri Gumilar Fitri Nuraeni Ganjar Jojon Johari Greece Maria Lawalata Hadi Nurhuda Hanifah Nurfauziah Hendi Hamdani Ida Farida Ida Farida Indra Lukman Nul Hakim Irgi Agustian Ismi Purnamasari Ita Warsita Jani Albas Lukman Rudiat M. Sandi Kurniawan Saputra Madi Hermadi Martha Puspa Vaniati Mirza Fathir Moch Lukman Nul Hakim Muhamad Alwan Fauzan Muhammad Diki Paris Muhammad Nur Azmi Muthi’ah Hudaedi Nanang Neng Nenti Fajriyanti Noni Nuraeni Pamella M Sri Rezeki Pamella M. Sri Rezeki R Dini Destiani Siti Fatimah Rachminawati Ratu Mafas Sukmalaras Rena Ruspa Reski Ramadhani Rian Hidayatullah Ridwan Alamsyah Rika Banowati Rina Kurniawati Risma Liyana Ulfa Risna Merliana Rizal Nurhakim Rizki Kurniawan Robby Maulana Sopa Roestaman Roestaman Roestaman Roestaman Rudy Febrijanto Sena Arian Sin Sin Husnul Rizal Siti Ulpah Nurazizah Siti Yuni Yuningsih Sofa Tsuroya Aulya Sri Rahayu Subhan Mulyana Taupik Saepul Rohman Tendi Rismansyah Tintin Kartini Tri Astita Gunawan Tutin Mustaatinah Widya Prima Mulyana Yaumil Wahdan Yeni Pariyatin Yoga Adela Yuda Yudistira Yusri Fisabili Shaffan