Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Kesesakan dan kesejahteraan psikologis pada remaja di pondok pesantren Achmad Muhammad Danyalin; Farah Farida Tantiani
Jurnal Ecopsy Vol 9, No 1 (2022): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ecopsy.2022.03.003

Abstract

Kesejahteraan psikologis pada remaja menjadi hal penting dalam proses perkembangan akibat adanya pengaruh pola interaksi keluarga, teman, serta lingkungannya. Pada remaja yang tinggal di pondok pesantren, tingkat kepadatan lingkungan (densitas) yang tinggi dapat menimbulkan kesesakan yang berpotensi menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis mereka. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kesesakan terhadap kesejahteraan psikologis remaja di pondok pesantren. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif asosiatif dengan populasi remaja berusia 15-17 tahun yang tinggal di Pondok Pesantren X. Partisipan penelitian berjumlah 135 remaja yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen pengumpulan data terdiri dari dua skala, yaitu: skala kesejahteraan psikologis (α = 0,547 hingga 0,810) dan skala kesesakan (α = 0,830). Teknik analisis data menggunakan uji regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesesakan tidak berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis remaja di Pondok Pesantren X. Faktor yang terindikasi mempengaruhi hasil penelitian ini adalah usia dan tingkat ekonomi partisipan.
Upaya Peningkatan Baseline Body Acceptance Melalui Gerakan Say No to Body Shaming di Kalangan Pelajar Kota Mojokerto Sendhi Tristanti Puspitasari; Farah Farida Tantiani; Anggaunita kiranantika; Ludi Wishnu Wardhana
PLAKAT : Jurnal Pelayanan Kepada Masyarakat Vol 1, No 2 (2019): Volume 1, Nomor 2 Tahun 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/plakat.v1i2.2872

Abstract

Bullyingatau pelecehan verbal di kalangan pelajar semakin sering terjadi. Body shaming adalah perilaku mengkritik atau mengomentari fisik atau tubuh diri sendiri maupun orang lain dengan cara yang negatif. Standar ideal yang ada kemudian memengaruhi citra tubuh dan penerimaan tubuh dalam masyarakat, terutama remaja. Pelatihan ini menggunakan pendekatan ellicitive yang mengutamakan proses interaktif antara fasilitator dalam kegiatan sosialisasi dan pelatihan skill dengan peserta multi dimensi. Kegiatan pelatihan dan pengembangan pengetahuan melalui perempuan yang telah bergabung dalam komunitas yang berjumlah sekitar 5 (lima) komunitas dengan jumlah sekitar 8-20 orang per komunitas. Dalam kuesioner yang terkait dengan body acceptance baseline menunjukkan bahwa hanya sebesar 15% responden menjawab benar di mana memberikan gambaran penilaian positif dan penerimaan terhadap tubuh dan dirinya sendiri. Kemudian sebesar 85% responden menjawab salah terkait pernyataan kuesioner body acceptance baseline, sehingga jawaban responden didominasi oleh jawaban di mana memberikan penilaian negatif terkait gambaran penilaian dan penerimaan terhadap tubuh dan dirinya sendiri. Maka Gerakan Say No to Body Shaming di Kalangan Pelajar Kota Mojokerto perlu dilakukan sebagai salah satu upaya penerimaan tubuh dan sebuah dorongan dalam penyelesaian masalah terkait body image. Berdasarkan hasil evaluasi diketahui beberapa manfaat yang diperoleh dari peserta setelah mengikuti serangkaian kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah mereka mendapatkan pemahaman dan pengetahuan baru tentang apa itu body shaming dan dampak negatif yang muncul akibat body shaming, sehingga pelajar mulai memahami pentingnya menghindari bullying, dan dapat menekan dan mengurangi jumlah pelaku serta korban bullying terutama body shaming, serta meningkatkan penilaian diri remaja ke arah positif.
SELF-EFFICACY DAN SELF-REGULATED LEARNING PADA SANTRIWATI Adhelia Rochmatika; Nur Eva; Farah Farida Tantiani
Psyche: Jurnal Psikologi Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36269/psyche.v3i2.362

Abstract

ABSTRACTThis study aims to determine the relationship between self-efficacy and self-regulated learning on women students. This research is quantitative research and used simple regression statistical analytic method with a descriptive design. The population of this study was 128 women students. Data retrieval is done by simple random sampling technique. There were 83 students as research subjects. There are two instruments used in this study to collect data, the scale of self-efficacy has reliability of 0.979 and the self-regulated scale has reliability of 0.894. The results of this study show that (1) most women students have high self-efficacy, (2) most women students have high self-regulated learning (3) there is a significant effect between self-efficacy on self-regulated learning on women students (F = 35,654, R2 = 0.306, p <0.05). So self-efficacy gives an effect of 30.6% on self-regulated learning, while the remaining 69.4% is used by other variables that are not approved, such as, the social environment. The implication of this research is to maintain self-efficacy by increasing the strengths of women students in to solve self-regulated learning problems ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) gambaran self-efficacy santriwati (2) gambaran self-regulated learning santriwati (3) gambaran pengaruh self-efficacy terhadap self-regulated learning pada santriwati. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif dan analisis statistik regresi sederhana. Populasi penelitian ini berjumlah 128 santri, dan pengambilan data menggunakan teknik simple random sampling. Kemudian didapatkan 83 santri sebagai subjek penelitian. Terdapat dua instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu (a) skala self-efficacy dengan reliabilitas 0.979 (b) skala self-regulated dengan reliabilitas 0.894. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) sebagian besar santriwati memiliki self-efficacy tinggi, (2) sebagian besar santriwati memiliki self-regulated learning tinggi (3) ada pengaruh yang signifikan self-efficacy terhadap self-reulated learning pada santriwati (F = 35.654, R2 = 0.306, p < 0.05). Jadi self-efficacy memberikan pengaruh sebesar 30.6% terhadap self-regulated learning, sedangkan sisa 69.4% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti, seperti, lingkungan sosial. Implikasi dari penelitian ini adalah mempertahankan self-efficacy pada santriwati dengan mengoptimalkan kelebihan yang dimiliki santriwati dalam menyelesaikan berbagai persoalan self- regulated learning. 
KONTRAK PSIKOLOGIS KARYAWAN HR CENTER PADA PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA WITEL JATIM SELATAN Andayani, Sri; Tutut Chusniyah; Farah Farida Tantiani; Nur Eva
JRMSI - Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia Vol. 13 No. 02 (2022): Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia
Publisher : Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JRMSI.013.2.07

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui isi kontrak psikologis di unit HR center sebagai langkah pencegahan timbulnya masalah, khususnya pada proses transformasi. Pendekatan pengukuran kontrak psikologis dalam penelitian ini adalah pendekatan content oriented.Pendekatan ini dilakukan karena sebelumnya belum pernah dilakukan pengukuran kontrak psikologis di unit HR center pada PT Telekomunikasi Indonesia. Penelitian dilakukan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, dengan pengambilan subjek secara purposive dan menggunakan wawancara dan observasi sebagai teknik pengambilan data. Hasil penelitian ini adalah gambaran isi kontrak psikologis di unit HR center PT Telkom Witel Jatim Selatan sebagai berikut: (1) Harapan yang pantas diterima karyawan dari perusahaan termasuk dalam monetary reward dan non monetary reward. Sedangkan harapan yang diberikan kepada perusahaan termasuk dalam non monetary reward. (2) Harapan yang pantas diterima perusahaan dari karyawan termasuk dalam non monetary reward. Sedangkan harapan yang diberikan kepada perusahaan termasuk dalam monetary reward.
Peer support dan career decision making self-efficacy pada mahasiswa tingkat akhir di Malang Jihan Ikrima; Farah Farida Tantiani
Jurnal Psikologi Terapan dan Pendidikan Vol 4, No 2 (2022): November
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/jptp.v4i2.24517

Abstract

Mahasiswa tingkat akhir seringkali memiliki Career Decision Making Self-Efficacy (CDMSE) yang cenderung rendah. Sementara CDMSE penting bagi mahasiswa, khususnya di tingkat akhir karena dapat berpengaruh terhadap kepercayaan diri individu dalam mencapai karirnya di masa depan. Salah satu faktor yang dianggap memiliki kaitan dengan CDMSE adalah Peer Support. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara peer support dan CDMSE pada mahasiswa tingkat akhir di Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasi. Sampel pada penelitian ini terdiri dari 401 mahasiswa tingkat akhir di Kota/Kabupaten Malang. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik nonprobability sampling yaitu incidental sampling. Instrumen penelitian menggunakan skala peer support yang terdiri dari 17 item (&alpha;=0,896) dan skala career decision making self-efficacy menggunakan Career Decision Making Self Efficacy-Short Form terdiri dari 25 item (&alpha;=0,945). Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan uji korelasi Product Moment Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara peer support dengan seluruh dimensi CDMSE pada mahasiswa tingkat akhir, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi peer support maka akan semakin tinggi CDMSE pada mahasiswa tingkat akhir, begitu pula sebaliknya.
PSIKOEDUKASI PARENTING SELF-EFFICACY BAGI ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS Ayu Hapsari; Yudi Tri Harsono; Farah Farida Tantiani; Arum Sekar; Elwin Dewi Nurhazizah
Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2022): Mei
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.877 KB) | DOI: 10.29303/jppm.v5i2.3091

Abstract

Memiliki anak berkebutuhan khusus membawa dampak bagi orang tua. Hal ini disebabkan karena perkembangan anak berkebutuhan khusus tentu berbeda dengan tahap perkembangan di mana anak tersebut memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda sehingga memengaruhi praktik parenting atau pola pengasuhan yang dilakukan orangtua. Parenting self-efficacy menjadi pembeda atas keberhasilan orang tua dalam mengasuh anak. Parenting self-efficacy sendiri diterjemahkan sebagai sebuah komponen kognitif dalam kompetensi pengasuhan (parenting) yang menunjukkan persepsi orang tua mengenai kompetensi yang dimilikinya dalam menjalankan perannya sebagai orang tua dan kemampuan untuk mempengaruhi perilaku dan perkembangan anak secara positif. Tujuan diadakannya pengabdian pada masyarakat ini adalah untuk memberikan pemahaman atau psikoedukasi kepada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus mengenai pentingnya parenting self efficacy dalam upaya meningkatkan keterlibatan orang tua dan mempebesar kemungkinan keberhasilan treatment yang dijalani oleh anak. Dari psikoedukasi yang telah diberikan, diharapkan orang tua dari anak-anak berkebutuhan khusus dapat mengetahui bagaimana dampak positif parenting self-efficacy orang tua terhadap kemajuan dan keberhasilan treatment anak.
KUALITAS PERTEMANAN DAN KOHESIVITAS PADA MAHASISWA ANGGOTA KOMUNITAS VIRTUAL DI BIDANG KESEHATAN MENTAL Mualimah A. Sovia; Farah Farida Tantiani
Jurnal Psikologi Vol 16, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2023.v16i1.6910

Abstract

Technological development have created a virtual-based community that allows community members to not always interact directly. This can affect the quality of friendship and group cohesiveness because there is no physical closeness between members. Group cohesiveness is needed so that members remain in the community they follow and achieve community goals. One of the things related to being able to affect group cohesiveness is the friendship between its members. Therefore, this study aims to determine whether there is a relationship between the quality of friendship and cohesiveness in students in virtual communities in the field of mental health. This research uses quantitative methods with correlational research types. Respondents in this study were students who were active in the virtual community X with a total of 106 members. The instrument in this study consisted of a Friendship Quality (FQUA) and Group Environment Questionnaire (GEQ) scale. The data analysis technique in this study used the Pearson product moment correlation test. The results showed that there was a significant relationship between the quality of friendship and cohesiveness among students in virtual community X.
PENYESUAIAN PERNIKAHAN ISTRI USIA MUDA YANG DIBESARKAN DENGAN PENGASUHAN IBU TUNGGAL Tyara Anggraeni Putri; Farah Farida Tantiani
MOTIVA: JURNAL PSIKOLOGI Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : LPPM University 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/mv.v6i1.6493

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran penyesuaian pernikahan istri usia muda yang ayah dan ibunya bercerai hidup lalu dibesarkan oleh ibu tunggal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur kepada tiga orang partisipan dengan karakteristik utama yaitu istri yang menikah di usia muda, yang sebelumnya hanya dibesarkan oleh pengasuhan ibu tunggal. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis data model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dua partisipan cenderung memiliki penyesuaian pernikahan yang baik, sedangkan satu partisipan mengalami penyesuaian pernikahan yang buruk. Ketiga partisipan dalam melakukan penyesuaian pernikahannya harus mengatasi perbedaan yang dihadapi dengan suaminya terkait masalah sehari-hari. Ketiga partisipan memiliki pandangan kekhawatiran akan mengulangi pengalaman yang sama dengan ibu mereka saat bercerai dari sang ayah. Sehingga, dalam mengatasi konflik yang terjadi dalam pernikahannya, mereka cenderung bersikap lebih hati-hati saat mengambil keputusan. Selama menjalani pernikahan, dua partisipan merasa sudah cukup bahagia dengan pernikahannya dan hanya satu partisipan yang menyesal dengan pernikahannya karena ia merasa tidak memiliki kedekatan dengan suaminya. Hasil temuan lain dalam penelitian ini yaitu ditemukan bahwa pada partisipan yang memiliki penyesuaian pernikahan baik ternyata memiliki dukungan sosial dari lingkungan sekitarnya seperti dari nenek, mertua serta saudara iparnya, sedangkan pada partisipan yang memiliki penyesuaian pernikahan buruk tidak memiliki dukungan sosial dari lingkungan sekitarnya
Perbedaan Perkembangan Moral Ditinjau dari Jenis pola Asuh Orang Tua pada Remaja Kelas XI SMA Persatuan Kedungpring Lamongan Dayu Soraya; Nur Eva; Farah Farida Tantiani
Flourishing Journal Vol. 1 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.339 KB) | DOI: 10.17977/um070v1i12021p55-62

Abstract

Abstract: The purpose of the present study was to find out moral development difference by considering the types of parenting style on adolescents of class XI SMA Persatuan Kedungpring Lamongan. Research data were obtained from (a) Defining Issues Test-2 contains 60 items with reliability coefficients 0,933 and (b) Scale of Parenting Style contains 35 items with reliability coefficients 0,929. The type of this research is descriptive comparative. The techniques on this research are descriptive analysis and one way anova. Based on results of the analysis of the obtained three conclusions, namely: (1) moral development of adolescents reaches stage 4 or sosial order orientation, (2) parenting style the most are neglectful and authoritative, and (3) there is difference moral development based on parenting style on adolescent. Keywords: moral development, parenting style, adolescent Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan perkembangan moral ditinjau dari pola asuh orang tua pada remaja kelas XI SMA Persatuan Kedungpring Lamongan. Data diperoleh melalui (a) Skala Defining Issues Test-2 yang berisi 60 butir aitem dengan reliabilitas sebesar 0,933 dan (b) Skala pola asuh orang tua yang berisi 35 butir aitem dengan reliabilitas sebesar 0,929. Jenis penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Teknik analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis varians satu jalur. Berdasarkan hasil analisis diperoleh 3 kesimpulan, yaitu (1) perkembangan moral remaja mencapai tahap 4 atau orientasi keteraturan dan otoritas, (2) pola asuh orang tua sebagian besar mengabaikan dan otoritatf, dan (3) ada perbedaan perkembangan moral remaja ditinjau dari jenis pola asuh orang tua. Kata kunci: perkembangan moral, pola asuh orang tua, remaja.
PERBEDAAN KEMATANGAN EMOSI REMAJA YANG TINGGAL DENGAN ORANG TUA DAN REMAJA YANG TINGGAL DI PONDOK PESANTREN Nadia Kamila Anjani; Farah Farida Tantiani
Flourishing Journal Vol. 1 No. 6 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.337 KB) | DOI: 10.17977/um070v1i62021p474-481

Abstract

Abstract: This study wants to see examine (1) emotional maturity of teenagers who live with parents, (2) teenagers who live in islamic boarding house, (3) the differences of emotional maturity of both teenagers. The result of 75 teenagers who live with parents is that 8% of them have high emotional maturity, 73% of them have middle emotional maturity, and 19% of them have low emotional maturity. While the result of 75 teenagers who live in the Islamic boarding house is that 21% of them have emotional maturity, 66% of them have middle emotional maturity, and 12% of them have low emotional maturity. Based on hypothesis test, there is a difference of emotional maturity of teenagers who live with their parents and those who live in the Islamic boarding house which can be seen from mean of Islamic boarding house teenagers is higher than the mean of teenagers who live with their parents. Keywords: emotional maturity, teenagers, family, muslim boarding house Abstrak: Penelitian ini ingin melihat (1) kematangan emosi pada remaja yang tinggal dengan orang tua, (2) remaja yang tinggal di pondok pesantren, (3) perbedaan kematangan emosi pada kedua remaja tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif komparatif. Hasilnya 75 remaja yang tinggal dengan orang tua yaitu 8% kematangan emosi tinggi, 73% kematangan emosi sedang, 19% kematangan emosi rendah yang tinggal dengan orang tua sedangkan 75 remaja yang tinggal tinggal di pondok pesantren yaitu 21% kematangan emosi tinggi, presentase 66% kematangan emosi sedang. 12% kematangan emosi rendah yang tinggal di pondok pesantren.Uji hipotesis ada perbedaan kematangan emosi pada remaja yang tinggal dengan orang tua dan remaja yang tinggal di pondok yang dapat dilihat dari mean remaja dipondok pesantren lebih tinggi daripada mean remaja yang tinggal dengan orang tua dengan signifikansi 0,002 (p < 0,05). Kata kunci: kematangan emosi, remaja, keluarga, pondok pesantren