Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PENGGUNAAN CERTIFIED EMISSION REDUCTIONS SEBAGAI BUKTI OBJEK TRANSAKSI CARBON CREDITING Agatha Sevilla Maharani; Muhamad Muhdar; Rahmawati Alhidayah
Jurnal de jure Vol 12, No 2 (2020): Jurnal De Jure
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/jurnaldejure.v12i2.467

Abstract

Indonesia ikut serta dalam skema jual-beli karbon sebagai upaya mitigasi perubahan iklim. Karbon merupakan benda tidak berwujud yang diperjualbelikan berdasarkan pada perjanjian. Penelitian ini diajukan untuk menjawab dua pertanyaan yaitu pertama menganalisis skema perdagangan karbon menurut Hukum Perdata khususnya jual-beli. Kedua menganalisa mengenai Certified Emissions Reductions (CER) sebagai bukti objek transaksi Carbon Crediting.Dalam hukum perdata Indonesia tidak mengenal karbon sebagai objek hukum, tetapi Indonesia telah melakukan jual-beli karbon sebagai bentuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Namun demikian dalam precedent praktek hukum dapat direplikasi sebagai objek hukum tidak berwujud. Hak kepemilikan dari karbon ditandai dengan CER berpotensi sebagai peneguhan objek kepemilikan karbon belum dapat dipastikan yang dapat berakibat pada adanya konflik dimasyarakat karena hak karbon dan pembagian manfaat dari jual beli karbon belum dapat dipastikan.
Analisis Pengaruh Threat Emotion Konsumen, Brand Trust dan Corporate Image pada Keputusan Penggunaan Jasa Gusti Noorlitaria Achmad; Rahmawati Rahmawati
Jurnal Manajemen Teori dan Terapan | Journal of Theory and Applied Management Vol. 13 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jmtt.v13i1.17054

Abstract

The Influence of Consumer Threat Emotion and Brand Trust and corporate image to the Buying Decision at Rumah Sakit Pertamina Balikpapan). This study aimed to analyze the influence of Threat Emotions and Brand Trust and corporate image to the Buying Decision. The independent variables in this study are threat emotions and brand trust, while the dependent variable in this study is buying decisions. The type of research that is used is quantitative research. The research was conducted on customers of Rumah Sakit Pertamina Balikpapan. The sampling technique used purposive sampling. Data analysis techniques in this study used regression analysis. This study shows that threat emotion does not have a significant positive effect on buying decisions, brand trust does have a significant positive effect on buying decisions, and corporate image has a positive and significant effect on buying decisions.
The Legal Protection of Agricultural Land Sustainable Food in Mining Coal Area of East Kalimantan Haris Retno Susmiyati; Rahmawati Al-Hidayah
Pattimura Law Journal VOLUME 5 ISSUE 1, SEPTEMBER 2020
Publisher : Faculty of Law, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47268/palau.v5i1.478

Abstract

The effort of fulfillment over people's food is a constitutional obligation of the State.  The development of an increasingly large population can threaten the existence of the tropical wet forest area when opening the land needs of food became imperative. As was the case in East Kalimantan, the area of food land is diminishing because over the function of the land are massive for coal mining and palm oil plantations. This will bring up the feared conditions insistence to open forest areas to agricultural land of food.  The Central Government has the authority to make the national policy while the local government is based on the provisions of Division of the authority of Government, have the authority to make policies related to land protection food crop sector ongoing in the area. This article would like to know (1) How is the legal content in the regulation regarding the protection of sustainable food crop lands at the national level; and (2) how is regional can make a regulation of the protection sustainable food crop lands. The method is used the legal research of normative, as well as by the method of analysis is  analytic descriptive. Based on the results of the study it was concluded that the regulation of sustainable food crops land protection at the national level has been set in full, but the content of legal protection, there is a weakness in political designation, which allows agricultural lands sustainable food converted as long as there is not determination as a sustainable agricultural lands. In other words, the provision in The Law No 41 Of 2009 On The Protection Of Land For Sustainable Food  Plantation, but in substance precisely open up opportunities for the occurrence over the function of the land. there is a regulation on the region level regarding legal protection one of them the Regional Regulation No 1 Of 2013 On The Protection Of Sustainable Agricultural Lands, but contain elements of weakness that requires a determination of the agricultural lands before protection While official functionary who is not determination agricultural location does not get strict sanctions. This is a weakness for the agricultural land which has not been established, although physically it is the agricultural land of food, but because there is no designation then will not be affordable by the regulation of the area.  
Peran Masyarakat Sekitar Kawasan Lindung Pura Sajau Kabupaten Bulungan Dalam Upaya Konservasi Hutan Rahmawati Al Hidayah
Jurnal Risalah Hukum Volume 7, Nomor 2, Desember 2011
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSI Penelitian ini dilakukan di desa Pura Sajau Kecamatan Tanjung Palas Timur Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Timur, dilatarbelakangi oleh adanya upaya konservasi yang dilakukan kelompok masyarakat sementara disisi lain kerusakan hutan merupakan hal yang marak terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat sekitar kawasan lindung Pura Sajau berperan dalam konservasi hutan di kawasan lindung Pura Sajau jauh sebelum kawasan ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini terbentuk melalui proses penyatuan atau integrasi persepsi, integrasi perasaan dan integrasi aturan di tengah masyarakat oleh lembaga adat dan peran seorang tokoh masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan. Penetapan kawasan lindung juga merupakan inisiatif dari masyarakat yang meminta pemerintah memberikan kekuatan hukum untuk mengelola kawasan tersebut dan mendapatkan dukungan penuh dari instansi terkait. Dalam hal ini ada beberapa tantangan bagi upaya konservasi dan pengelolaan kawasan lindung Pura Sajau yang kemungkinan dihadapi di masa mendatang, antara lain: (1) Kondisi internal masyarakat yang masih menjadikan tokoh masyarakat sebagai motor penggerak untuk melestarikan hutan dan keterbatasan dana dalam mengelola kawasan lindung Pura Sajau. (2) Kelembagaan yang belum koordinatif dalam mewujudkan konservasi, (3) Belum adanya perencanaan yang jelas terhadap kawasan lindung Pura Sajau juga menjadi tantangan masa mendatang dalam mewujudkan konservasi itu sendiri. Kata Kunci: peran masyarakat, kawasan lindung, dan konservasi hutan
Klinik Hukum Peningkatan Partisipasi Masyarakat Dalam Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Haris Retno Susmiyati; Rahmawati Al Hidayah
Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 4 (2021): Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/dinamisia.v5i4.5273

Abstract

Public participation in the preparation of regional regulations is a right guaranteed by the constitution, especially if the regulations to be made are closely related to the sustainability of the community's living space. This is what underlies community service activities carried out to the coastal communities of Balikpapan Bay through groups of fishermen and activists who focus on environmental and coastal issues with the aim of providing legal understanding and awareness to be involved or participate in the preparation of RZWP3K. With the FGD method through 3 stages which include presentation of material, identification of problems, and preparation of policy briefs, it is hoped that it will be able to provide concrete efforts for community participation in the preparation of regional regulations. Based on the results of community service activities, legal awareness was formed for the participants who attended, as evidenced by the involvement of all participants in the preparation of a policy brief that was submitted to the Kaltim DPRD - Special Committee on the Draft Regional Regulation. at RZWP3K East Kalimantan
Strengthening Legal Capacity of Micro, Small, and Medium Enterprises in the Mangrove Ecosystem of Mahakam Delta: Penguatan Kapasitas Hukum Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Kawasan Ekosistem Mangrove Delta Mahakam Haris Retno Susmiyati; Grizelda Grizelda; Rahmawati Al Hidayah; Warkhatun Najidah; Wiwik Harjanti; Alfian; Esti Handayani Hardi; Rita Diana; Nurul Puspita Palupi
CONSEN: Indonesian Journal of Community Services and Engagement Vol. 3 No. 1 (2023): Consen: Indonesian Journal of Community Services and Engagement
Publisher : Institut Riset dan Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The economic independence of the community through Micro, Small, and Medium Enterprises (UMKM) is an important priority that supports social economy. Especially during a crisis and pandemic COVID19, UMKM are one of the business actors who are still able to survive when economic activity declines. However, in this great potential, UMKM actors in the mangrove ecosystem in the Mahakam delta area have weaknesses in legal understanding as evidenced by the incomplete licensing requirements, and also do not have an understanding of the urgency and procedures for making contracts and other legal aspects. Therefore, training is needed to increase the legal capacity of UMKM actors. The method used is a training involving UMKM business actors in three stages; UMKM mapping; provide material on opportunities and challenges for UMKM in mangrove ecosystems and legal knowledge for UMKM; preparation of strategic plans for UMKM for mangrove ecosystems. The results of this activity indicate an increase in the legal understanding of UMKM actors and a strategic plan for strengthening UMKM in the mangrove ecosystem in the Delta Mahakam area has been formulated. This encourages the community to participate in protecting and rehabilitating mangrove areas for mutual prosperity. Keywords: Micro, Small and Medium Enterprises ; Mangrove ; Delta Mahakam
PEMBERLAKUAN AMBANG BATAS SUARA DALAM PERMOHONAN PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH/ GUBENUR, BUPATI DAN WAKIL WALIKOTA DI MAHKAMAH KONSTITUSI Rusdian Ramadhani, Siti Kotijah, Rahmawati Al Hidayah, dan Ine Ventyrina
DEDIKASI : Jurnal Ilmiah Sosial, Hukum, Budaya Vol 24, No 1 (2023): DEDIKASI
Publisher : Prodi Ilmu Administrasi Negara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/ddk.v24i1.7046

Abstract

Pemberlakuan Ambang Batas Suara Dalam Permohonan Pertimbangan Hasil Pemilihan Umum Pilkada Di Mahkamah Konsitusi telah terdapat Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 51/PUU-XIII/2015, demi kepastian hukum, Mahkamah Konstitusi harus tunduk pada ketentuan yang secara expressis verbis digariskan dalam Undang-Undang Pilkada. Pelaksanaaan Pasal 158 Undang-Undang tentang Pilkada dan aturan turunannya secara konsisten, Mahkamah Konstitusi turut ambil bagian dalam upaya mendorong agar lembagalembaga yang terlibat dalam proses Pilkada. Persoalan pengaturan ambang batas selisih suara menjadi anomali tersendiri dalam pelaksanaan Pilkada di Indonesia. Hal ini bisa dilihat setidaknya dalam dua edisi Pilkada serentak terakhir, yakni Pikada tahun 2015, tahun 2017 dan tahun 2020. Ketentuan ini secara konsep dan praktik dianggap akan menghambat upaya mewujudkan keadilan Pemilu sebagai hakikat awal proses pelaksanaan perselisihan hasil Pilkada di Mahkamah Konstitusi. Hal ini juga kemudian yang tidak sejalan prinsip bahwa sebuah sistem demokrasi tidak bisa hanya menjadi legitimasi dari suara terbanyak saja. Tetapi, sebuah proses demokratisasi yang bernama Pemilu, harus dilindungi oleh sebuah sistem hukum.
PEMENUHAN HAK POLITIK MASYARAKAT PENGANUT KEPERCAYAAN DALAM PEMILIHAN UMUM Pakpahan, Gilberd Marada Pakpahan Marada; Hidayah, Rahmawati Al; Ventyrina, Ine; Kotijah, Siti
DEDIKASI : Jurnal Ilmiah Sosial, Hukum, Budaya Vol 24, No 1 (2023): DEDIKASI
Publisher : Prodi Ilmu Administrasi Negara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/ddk.v24i1.7003

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjawab dua hal. Pertama, dia ingin menjawab dua hal. Pertama, kedudukan masyarakat yang menganut sistem hukum di Indonesia. Kedua, penelitian ini menganalisis pemenuhan hak politik masyarakat yang meyakini pemilihan umum di Indonesia. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan doktrin normatif, yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan meneliti kepustakaan atau data sekunder dan data primer sebagai dasar penelitian dengan mencari peraturan dan literatur yang berkaitan dengan masalah yang diteliti oleh penulis. Fokus penelitian ini adalah melindungi, mengatur, mengawasi dan menampung aspirasi masyarakat. Hasil kajian menunjukkan bahwa masih banyak pemeluk agama yang pelaksanaannya berbelit-belit dalam hal administrasi kependudukan yang menghambat pemeluk agama untuk mendapatkan hak politiknya, pemerintah tidak memberikan KTP Elektronik melainkan memberikan Formulir C-4 kepada pemeluk agama. dijadikan sebagai Data Pemilih, serta permasalahan minimnya pengetahuan dan informasi mengenai perkembangan pemeluk agama di Indonesia. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan pemilihan umum, masyarakat yang menganut kepercayaan belum terakomodasi secara maksimal dan penuh hak-hak konstitusionalnya. segala bentuk aspirasi masyarakat agar didengar oleh pemerintah desa secara keseluruhan kinerja BPD dalam hal ini sudah sangat baik dalam mendengarkan dan menyalurkan aspirasi masyarakat agar didengar dan dipertimbangkan untuk solusi yang tepat.
PEMBERLAKUAN AMBANG BATAS SUARA DALAM PERMOHONAN PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH/ GUBENUR, BUPATI DAN WAKIL WALIKOTA DI MAHKAMAH KONSTITUSI Ramadhani, Rusdian; Kotijah, Siti; Hidayah, Rahmawati Al; Ventyrina, Ine
DEDIKASI : Jurnal Ilmiah Sosial, Hukum, Budaya Vol 24, No 1 (2023): DEDIKASI
Publisher : Prodi Ilmu Administrasi Negara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/ddk.v24i1.7046

Abstract

Pemberlakuan Ambang Batas Suara Dalam Permohonan Pertimbangan Hasil Pemilihan Umum Pilkada Di Mahkamah Konsitusi telah terdapat Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 51/PUU-XIII/2015, demi kepastian hukum, Mahkamah Konstitusi harus tunduk pada ketentuan yang secara expressis verbis digariskan dalam Undang-Undang Pilkada. Pelaksanaaan Pasal 158 Undang-Undang tentang Pilkada dan aturan turunannya secara konsisten, Mahkamah Konstitusi turut ambil bagian dalam upaya mendorong agar lembagalembaga yang terlibat dalam proses Pilkada. Persoalan pengaturan ambang batas selisih suara menjadi anomali tersendiri dalam pelaksanaan Pilkada di Indonesia. Hal ini bisa dilihat setidaknya dalam dua edisi Pilkada serentak terakhir, yakni Pikada tahun 2015, tahun 2017 dan tahun 2020. Ketentuan ini secara konsep dan praktik dianggap akan menghambat upaya mewujudkan keadilan Pemilu sebagai hakikat awal proses pelaksanaan perselisihan hasil Pilkada di Mahkamah Konstitusi. Hal ini juga kemudian yang tidak sejalan prinsip bahwa sebuah sistem demokrasi tidak bisa hanya menjadi legitimasi dari suara terbanyak saja. Tetapi, sebuah proses demokratisasi yang bernama Pemilu, harus dilindungi oleh sebuah sistem hukum.
Strategi Hukum Pengembangan Tambak Smart Silvofishery dalam Rehabilitasi Mangrove di Ibu Kota Nusantara Hidayah, Rahmawati Al; Susmiyati, Haris Retno; Hardi, Esti Handayani; Diana, Rita; Palupi, Nurul Puspita
Seminar Nasional Lahan Suboptimal Vol 11, No 1 (2023): Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-11 “Optimalisasi Pengelolaan Lah
Publisher : Pusat Unggulan Riset Pengembangan Lahan Suboptimal (PUR-PLSO) Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-Hidayah, R., Susmiyati, H. R., Hardi, E. H., Diana, R., Palupi, N. P. (2023). Legal strategy for smart silvofishery pond development in mangrove rehabilitation in the capital city of nusantara. In: Herlinda S et al. (Eds.), Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-11 Tahun 2023, Palembang  21 Oktober 2023. (pp. 616-625).  Palembang: Penerbit & Percetakan Universitas Sriwijaya (UNSRI).Mangrove ecosystem areas in The Nusantara Capital area have not been protected, especially those located in traditional fish pond cultivation development areas. The aimed of this research is to analyse the legal problems of developing smart silvofishery ponds in mangrove rehabilitation and formulate legal strategies to overcome them. The method is a socio-legal research method with a qualitative approach used. The research results show that legal problems in the development of smart silvofishery ponds occur as a result of the absence of specific regulations governing this matter. Government and the community feel that they have no obligation to develop smart silvofishery ponds which will affect mangrove rehabilitation efforts. Besides that, fish farming operators do not understand the concept and urgency of smart silvofishery. Facing these problems, legal strategies are important to implement. Referring to the theory of legal formation, the law aims to integrate and coordinate various interests in society because in a traffic of interests, protection of certain interests can only be done by limiting various interests on the other side. The legal strategy is developed by establishing regulations at the central, regional and local levels regarding legal protection, both preventive and repressive. Preventive legal protection includes provisions that are preventative (prohabited) and repressive legal protection that is punitive (sanction). Multi-stakeholder roles and meaningful community participation are also needed.