Ihsana Sabriani Borualogo
Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung

Published : 47 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

STUDI PERBANDINGAN PROFIL PAULI ANTARA MAHASISWA BERPRESTASI TINGGI DAN MAHASISWA BERPRESTASI RENDAH ANGKATAN 2004 JURUSAN TEKNIK PENGECORAN LOGAM DI POLITEKNIK MANUFAKTUR NEGERI BANDUNG Ihsana Sabriani Borualogo; siti qodariah; Wulan Maulidya Rabayani
SCHEMA (Journal of Psychological Research) Volume 1 No.2 Januari 2009
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2674.245 KB) | DOI: 10.29313/schema.v1i2.2495

Abstract

Politeknik adalah salah satu perguruan tinggi yang didirikan untuk menjembatani antara lulusan STM (teknisi) dengan lulusan S1 (engineer). Di Politeknik Manufaktur Bandung, mahasiswa dituntut untuk memiliki kompetensi teoritik dan praktik, yang dinyatakan dalam IPT (Indeks Prestasi Teoritik) dan IPP (Indeks Prestasi Praktik) serta IPK (Indeks Prestasi Kumulatif). Namun, di Jurusan Teknik Pengecoran Logam, jumlah mahasiswa berprestasi rendah tergolong masih cukup banyak, yaitu IPT rendah sebanyak 35.29% sedangkan IPP rendah sebanyak 29.41%.Sesungguhnya, Politeknik Manufaktur Negeri Bandung telah melakukan seleksi penerimaan mahasiswa baru melalui psikotes. Salah satu alat tes yang digunakan adalah Pauli. Melalui Pauli dapat dilihat sikap kerja, motivasi, daya tahan, kekuatan usaha, pengaturan energi dan stabilitas emosi yang diperkirakan memberi pengaruh terhadap pencapaian prestasi akademik.Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan profil Pauli antara mahasiswa berprestasi tinggi dan mahasiswa berprestasi rendah di Jurusan Teknik Pengecoran Logam angkatan 2004. Hipotesis yang diajukan adalah “terdapat perbedaan Profil Pauli antara mahasiswa berprestasi tinggi dengan mahasiswa berprestasi rendah angkatan 2004 Jurusan Teknik Pengecoran Logam di Politeknik Manufaktur Negeri Bandung.” Hasil uji statistik dengan teknik T-test dan Chi-Kuadrat untuk grafik kerja, terdapat perbedaan yang signifikan pada jumlah, rata-rata, tinggi, kenaikan awal, dan simpangan. Mahasiswa berprestasi tinggi memiliki motivasi tinggi, perencanaan, vitalitas tinggi, pengaturan diri, dan stabilitas emosi. Hal ini membantu mereka untuk bertahan dan menyesuaikan diri terhadap tuntutan dan situasi di Polman, sehingga dapat mencapai prestasi yang baik. Sedangkan mahasiswa berprestasi rendah kurang memilki motivasi, kurang perencanaan, vitalitas kurang, dan emosi yang labil. Hal ini menyulitkan penyesuaian diri terhadap tuntutan dan situasi di Polman dan menjadikan rendahnya prestasi yang mereka raih. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa Tes Pauli dapat memprediksi pencapaian IPK dan IPP, tetapi tidak dapat memprediksi IPT
Pengaruh Cognitive Behavior Therapy terhadap Peningkatan Regulasi Emosi pada Individu Pelaku NSSI (Non-Suicidal Self Injury) Miftahul Adila; Ihsana Sabriani Borualogo; Endah Nawangsih
SCHEMA (Journal of Psychological Research) Volume 5 No. 2 November 2019
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.658 KB) | DOI: 10.29313/schema.v0i0.3966

Abstract

NSSI (Non-Suicidal Self Injury) merupakan perilaku melukai diri sendiri dengan sengaja tanpa maksud untuk bunuh diri (Klonsky, 2008). Pelaku NSSI mengalami emosi negatif yang sangat intens dan kesulitan dalam meregulasi emosi. Emosi negatif diakibatkan oleh adanya pikiran negatif yang selalu menyalahkan diri sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh CBT dalam meningkatkan regulasi emosi. Subjek penelitian adalah perempuan berusia 21 tahun. Metode penelitian single subject research (SSR) dengan rancangan desain changing criterion. Pengumpulan data menggunakan skala Emotion Regulation Questioner (ERQ) dari Gross & John (2003), wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan penerapan CBT berpengaruh dalam meningkatkan kemampuan regulasi emosi subjek pelaku NSSI. Terlihat dari perubahan skor dimana skor aspek Cognitive Reappraisal (CR) meningkat sebesar 52.17% dan skor aspek Expressive Supression (ES) menurun sebesar 30% pada fase treatment dibanding fase baseline. Tingkat Regulasi Emosi subjek berada pada kategori sangat adaptif dimana skor aspek CR lebih tinggi dari pada skor aspek ES. Kata kunci: Cognitive Behavior Therapy (CBT), Regulasi Emosi, Non-Suicidal Self Injury (NSSI)
Prevalence and Predictors of Cyberbullying in Middle and High School Students During the COVID-19 Pandemic Ihsana Sabriani Borualogo; Hedi Wahyudi; Sulisworo Kusdiyati
Jurnal Psikologi Vol 50, No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpsi.76494

Abstract

Schools were closed during the COVID-19 pandemic, and the learning process has changed dramatically. Students spent countless hours online for learning and leisure activities and risked themselves by engaging in cyberbullying. This study aims are twofold: (1) to investigate the prevalence of cyberbullying perpetration and victimization during the COVID-19 pandemic, and (2) to investigate predictors of cyberbullying perpetration and victimization. A cross-sectional survey method was used in this study. This study used three questionnaires named Cyberbullying Perpetration and Victimization, Problematic Internet Use Questionnaire Short Form (PIUQ-SF-6), and Cyberbullying Attitudes Measure. Participants are middle and high school students (N = 3,752; 52.4% were girls, 81.6% were middle school students). Data were analyzed using descriptive statistics and multivariate linear regression. Results showed that more students engaged in cyberbullying victimization than perpetration. Boys were more likely to engage in cyberbullying perpetration. Girls were more likely to engage in cyberbullying victimization. The most prevalent cyberbullying perpetration and victimization were posted mean or hurtful comments online. PIU, particularly more time spent online, harms both perpetrators and victims, as many as 3.4% for perpetrators and 4.5% for victims. Having fun teasing others online and feeling good attacking others online made the highest contributions to engaging in cyberbullying perpetration, as many as 10.9% and 10.1%, respectively. Do not accept harming others online and do not feel-good attacking others online, protecting the individuals from being cyberbullied as many as 4.2%. The attitude that school rules will be ineffective at stopping cyberbullying made the highest contribution to being cyberbullied, as many as 4.2%.
Hubungan antara Subjective Well-Being Orang Tua dan Anaknya Ariella Hazza Masturi; Ihsana Sabriani Borualogo
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7386

Abstract

Abstract. Having genetic influences and living in the same environment leads parents generally to believe that they have an important influence on their children's lives, so parents may expect associations that will make children resemble their parents in beliefs, attitudes, routines, and their values. Over time, during adolescence the values ​​and attitudes that are understood and practiced by adolescents become increasingly different from the values ​​and attitudes of their parents due to influences from the surrounding environment. This study aims to determine the relationship between the SWB of parents and their children. Data collection was carried out online using Google Forms and offline using a questionnaire using the cluster random sampling technique. The sample used in this study were 342 students and one of their parents (father/mother). The participants in this study were junior high school students in Bandung City grades 7, 8, and 9 (55.8% female and 44.2% male). SWB in parents and children was measured using the Personal Well-Being Index (PWI) nine items and Overall Life Satisfaction (OLS) one item. Data were analyzed using Pearson correlation analysis to determine the relationship between the SWB of parents and their children. The compare means statistical test was used to test the differences in SWB between parents and their children based on each life satisfaction domain. The results showed that the parents' SWB was higher with an average of (M = 81.62) compared to their children's (M = 79.59) and there was a relationship between the SWB of parents and their children but the relationship was weak. Abstrak. Adanya pengaruh genetik dan tinggal di lingkungan yang sama membuat orang tua umumnya percaya bahwa mereka memiliki pengaruh penting bagi kehidupan anak-anak mereka, sehingga orang tua mungkin mengharapkan adanya keterkaitan yang akan membuat anak menyerupai orang tua dalam hal kepercayaan, sikap, rutinitas, dan nilai-nilai mereka. Seiring berjalannya waktu, pada masa remaja nilai-nilai dan sikap-sikap yang dipahami dan dilakukan oleh remaja menjadi semakin berbeda dengan nilai-nilai dan sikap-sikap pada orang tuanya karena adanya pengaruh dari lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara SWB orang tua dan anaknya. Pengambilan data dilakukan secara daring menggunakan Google Form dan luring menggunakan kuesioner menggunakan teknik cluster random sampling. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 342 siswa beserta salah satu orang tuanya (bapak/ibu). Partisipan penelitian ini merupakan siswa SMP di Kota Bandung kelas 7, 8, dan 9 (perempuan 55.8% dan laki-laki 44.2%). SWB pada orang tua dan anaknya diukur menggunakan Personal Well-Being Indeks (PWI) sembilan item dan Overall Life Satisfaction (OLS) satu item. Data dianalisis menggunakan analisis korelasi pearson untuk mengetahui hubungan antara SWB orang tua dan anaknya. Uji statistik compare means digunakan untuk menguji perbedaan SWB pada orang tua dan anaknya berdasarkan setiap domain kepuasan hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SWB orang tua lebih tinggi dengan rata-rata sebesar (M = 81.62) dibandingkan dengan anaknya sebesar (M = 79.59) dan terdapat hubungan antara SWB orang tua dan anaknya tetapi hubungan tersebut lemah.
Hubungan antara Kepuasan Sekolah dan Subjective Well-Being Siswa SMP di Kota Bandung pasca COVID-19 Anggresya Syifa Novatiana; Ihsana Sabriani Borualogo
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7424

Abstract

Abstract. School satisfaction contributes to adolescent life satisfaction, especially given the importance of the school environment and the amount of time students spend at school. To measure adolescents' school satisfaction and life satisfaction, the most important thing is what happens during their daily life at school. The purpose of this study was to find out how satisfaction with school and SWB of junior high school students in Bandung City was post-COVID-19 and wanted to find out what was the relationship between school satisfaction and SWB in junior high school students in Bandung City after COVID-19. This research uses quantitative research methods. The sampling technique used is cluster random sampling. This study used measurement tools from Children's World, namely School Satisfaction, CW-SWBS5 and OLS. This study involved 965 students with a percentage of students namely 57.1% female students and 42.9% male students. The results show that male students (M = 82.7%) are more satisfied with their school than female students (M = 77.7%). Junior high school students in Bandung City overall had slightly above average satisfaction with school (M = 79.86), and their SWB was slightly above average (M = 75.16). Satisfaction as a school student is the factor that contributes most to students' overall life satisfaction, and satisfaction with what is learned at school is the factor that contributes most to their SWB. Abstrak. Kepuasan sekolah berkontribusi terhadap kepuasan hidup remaja, terutama mengingat pentingnya lingkungan sekolah dan jumlah waktu yang dihabiskan siswa di sekolah. Untuk mengukur kepuasan sekolah dan kepuasan hidup remaja, hal yang paling penting adalah apa yang terjadi selama kehidupan sehari-hari mereka di sekolah. Tujuan dari penelitian ini ingin mengetahui bagaimana kepuasan terhadap sekolah dan SWB siswa SMP di Kota Bandung pasca COVID-19 serta ingin mengetahui bagaimana hubungan antara kepuasan sekolah dengan SWB pada siswa SMP di Kota Bandung pasca COVID-19. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan yaitu cluster random sampling. Penelitian ini menggunakan alat ukur dari Children’s World yaitu School Satisfaction, CW-SWBS5 dan OLS. Penelitian ini melibatkan 965 siswa dengan persentase siswa yaitu 57.1% siswa perempuan dan 42.9% siswa laki-laki. Hasil menunjukkan bahwa siswa laki-laki (M = 82.7%) lebih puas dengan sekolah mereka daripada siswa perempuan (M= 77.7%). Siswa SMP di Kota Bandung secara keseluruhan memiliki kepuasan terhadap sekolah yang sedikit di atas rata-rata (M = 79.86), dan SWB mereka sedikit di atas rata-rata (M = 75.16). Kepuasan sebagai murid sekolah adalah faktor yang paling berkontribusi terhadap kepuasan kehidupan siswa secara keseluruhan, dan kepuasan dengan apa yang dipelajari di sekolah adalah faktor yang paling berkontribusi terhadap SWB mereka.
Resiliensi sebagai Mediator antara Perundungan dan Subjective Well-Being Siswa SMP Korban Perundungan Raihan Sarah Nabilla; Ihsana Sabriani Borualogo
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7425

Abstract

Abstract. This study aimed to investigate the role of resilience as a mediator in the relationship between bullying and subjective well-being (SWB). The participants in this study (N = 350; 53.7% female and 46.3% male) were junior high school students in Bandung City from grades 7 (n = 165; 47.1%), 8 (n = 121; 34.6%), and 9 (n = 64; 18.3%) who experienced bullying. The method used in this study was cluster random sampling which resulted in 16 schools being selected. Bullying was measured using the bullying measuring instrument, SWB was measured using the Children's Worlds Subjective Well Being Scale Five Items (CW-SWBS5) measuring instrument, and resilience was measured using the Child and Youth Resilience Measurement Revised plus Spirituality and Religiosity (CYRM-R plus S & R). Data were analyzed using regression tests with the PROCESS macro to examine the role of resilience as a mediator between bullying and SWB. Descriptive statistics were conducted using ANOVA to test the significance of the mean value of SWB and resilience. The results indicate that resilience mediates the relationship between bullying and SWB with coefficients of -.0164 (95% CI = -.7120, -.0130), indicating that resilience serves as a factor that reduces the negative impact of bullying on SWB and contributes positively to SWB. Abstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran resiliensi sebagai mediator dalam hubungan antara perundungan dan subjective well-being (SWB). Partisipan pada penelitian ini (N = 350; 53.7% perempuan dan 46.3% laki-laki) adalah siswa SMP di Kota Bandung dari kelas 7 (n = 165; 47.1%), kelas 8 (n = 121; 34.6%), dan kelas 9 (n = 64; 18.3%) yang mengalami perundungan. Teknik sampling pada penelitian ini menggunakan cluster random sampling dengan 16 sekolah yang terpilih. Perundungan diukur dengan menggunakan alat ukur perundungan, SWB diukur dengan menggunakan alat ukur Children’s Worlds Subjective Well Being Scale Five Items (CW-SWBS5), dan resiliensi diukur dengan menggunakan Child and Youth Resilience Measurement Revised plus Spirituality and Religiosity (CYRM-R plus S & R). Data dianalisis dengan menggunakan uji regresi dengan menggunakan PROCESS macro untuk menguji peran resiliensi sebagai mediator antara perundungan dan SWB. Statistik deskriptif dilakukan dengan menggunakan uji ANOVA untuk menguji signifikansi pada nilai rata-rata SWB dan resiliensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi memediasi hubungan antara perundungan dan SWB dengan koefisien sebesar -.0164 (95% CI = -.7120, -.0130) yang artinya resiliensi berfungsi sebagai faktor yang mengurangi dampak negatif perundungan pada SWB dan memberikan kontribusi positif terhadap SWB.
Hubungan antara Persepsi tentang Lingkungan Sekitar dan Subjective Well-Being pada Siswa SMP Firda Damayanti; Ihsana Sabriani Borualogo
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7426

Abstract

Abstract. Child Friendly City (CFC) is a crucial component in building A WorldFit for Children, which is closely related to the subjective well-being of children (SWB). This study aims to determine the relationship between perceptions about the neighborhood and junior high school students’s SWB in Bandung. Google Forms and Questionnaires were used to collect data online and offline through cluster random sampling technique. The participants are junior high school students in Bandung City aged 12-16 years (N= 956; 57.1% female; 42.9% male). Perceptions about the neighborhood were measured using a measurement tool from Children's Worlds, SWB was measured using the Children's Worlds Subjective Well-Being Scale 5 Items (CW-SWBS5) and Overall Life Satisfaction (OLS). Data were analyzed using multiple linear regression analysis to determine the relationship between perceptions about the neighborhood and the SWB of junior high school students in the city of Bandung. The comparable means statistical test is used to test the difference in the average value of perceptions about the surrounding environment and the average SWB. The results of this study show a positive relationship between environmental perceptions and SWB. Perceptions about the neighborhood contribute to the SWB of junior high school students in Bandung City by 38.7% in certain domains and 29.3%. overall. The component of perceptions about the neighborhood that contributes the most and significantly to student SWB is about people in their environment helping them when they have problems (B =.245; p<.000). To increase SWB for junior high school students in Bandung, the government, schools and parents can work together to create an environment that is safe, friendly and has adequate facilities for children. Abstrak. Kota Layak Anak (KLA) merupakan salah satu komponen penting dalam membangun A WorldFit for Children yang berkaitan erat dengan subjective well-being anak (SWB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi tentang lingkungan sekitar dan SWB siswa SMP di Kota Bandung. Pengambilan data dilakukan secara daring dan luring menggunakan Google Form dan Kuesioner dengan teknik cluster random sampling. Partisipan penelitian ini adalah siswa SMP di Kota Bandung berusia 12 – 16 tahun (N= 956; 57.1% perempuan; 42.9% laki-laki). Persepsi tentang lingkungan sekitar diukur menggunakan alat ukur dari Children’s Worlds, SWB diukur menggunakan Children’s Worlds Subjective Well-Being Scale 5 Items (CW-SWBS5) dan Overall Life Satisfaction (OLS). Data dianalisis menggunakan analisis regresi linear berganda untuk mengetahui hubungan persepsi tentang lingkungan sekitar terhadap SWB siswa SMP di Kota Bandung. Uji statistik compare means digunakan untuk menguji perbedaan nilai rerata persepsi tentang lingkungan sekitar dan SWB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara persepsi tentang lingkungan dan SWB. Persepsi tentang lingkungan sekitar memberikan kontribusi terhadap SWB siswa SMP di Kota Bandung sebesar 38.7% pada domain tertentu dan 29.3%. secara keseluruhan. Komponen persepsi tentang lingkungan sekitar yang memberikan kontribusi paling besar dan signifikan terhadap SWB siswa, yaitu persepsi mengenai orang-orang di lingkungan mereka menolong mereka jika mereka memiliki masalah (B =.245; p<.000). Untuk meningkatkan SWB pada siswa SMP di Kota Bandung, pemerintah, sekolah, dan orang tua dapat bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang aman, ramah, dan memiliki fasilitas memadai untuk anak.
Studi Deskriptif Persepsi Siswa, Orang Tua dan Guru Mengenai Perundungan pada Siswa SMP di Kota Bandung Sekar Aulia Putri; Ihsana Sabriani Borualogo
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7427

Abstract

Abstract. This study aims to determine the perceptions of students, parents and teachers regarding bullying behavior. The research participants in this study were junior high school students (N= 328) in Bandung City grade 7 (n = 184), grade 8 (n= 75) and grade 9 (n = 69). Then the participants in this study were parents, consisting of fathers (N= 226), mothers (N= 229) and teachers (N= 140). Data collection in this study was conducted online and offline using google forms and questionnaires. The sampling technique used was cluster random sampling. Clusters in this study were determined based on school type (public and private) and school base (religious and non-religious). The measuring instrument used refers to Olweus' bullying theory with four answer options 1= Strongly disagree; 2= Disagree; 3= Agree; 4= Strongly agree. With reliability tests on students, parents and teachers (Cronbach alpha>.05) This study used a quantitative approach, the data were analyzed using descriptive analysis. The results showed that students, parents and teachers assessed that bullying is an aggressive act committed by students against other students intentionally, aiming to harm the victim. Students also assess what is said to be bullying if there are repeated aggressive actions. However, parents and teachers considered that aggressive actions committed only once could be considered as bullying. Students, parents and teachers consider that bullying behavior occurs because of the power imbalance between the perpetrator and the victim. Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi siswa, orang tua dan guru mengenai perilaku perundungan. Partisipan penelitian pada penelitian ini yaitu siswa SMP (N = 328) di Kota Bandung kelas 7(n = 184), kelas 8(n = 75) dan kelas 9(n = 69). Kemudian yang menjadi partisipan dalam penelitian ini yaitu orang tua, yang terdiri dari bapak (N = 226), ibu (N = 229) dan guru (N = 140). Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan secara online dan offline dengan menggunakan google form dan kuesioner. Teknik sampling yang digunakan yaitu cluster random sampling. Cluster pada penelitian ini ditentukan berdasarkan tipe sekolah (negeri dan swasta) dan basis sekolah (agama dan non agama). Alat ukur yang digunakan mengacu pada teori perundungan Olweus dengan empat pilihan jawaban 1= Sangat tidak setuju; 2= Tidak Setuju; 3= Setuju; 4= Sangat Setuju. Dengan uji reliabilitas pada siswa, orang tua dan guru (Cronbach alpha >.05) Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, data dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukan siswa, orang tua dan guru menilai bahwa perundungan merupakan tindakan agresif yang dilakukan siswa terhadap siswa lain secara sengaja, bertujuan untuk menyakiti korban. Siswa juga menilai yang dikatakan sebagai perundungan yaitu jika ada tindakan agresif yang dilakukan berulang. Namun orang tua dan guru menilai tindakan agresif yang dilakukan hanya sekali dapat dikatakan sebagai perundungan. Siswa, orang tua dan guru menilai bahwa perilaku perundungan terjadi karena adanya power imbalance antara pelaku dan korban
Studi Komparasi Kepuasan Pertemanan dan Subjective Well-Being Remaja Panti Asuhan pada Saat dan Setelah Pandemi COVID-19 Alika Tsania Fauziah; Ihsana Sabriani Borualogo
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7428

Abstract

Abstract. Relationships with friends are important for adolescents, especially adolescents in residential care. For two years, they were required to lockdown due to the pandemic and now they are required to adapt back to normal life. This study is a longitudinal study comparing friendship satisfaction and subjective well-being (SWB) of adolescents in residential care during and after the COVID-19 pandemic. During the pandemic, there was a significant difference between the first year pandemic and the second year pandemic. Orphanage adolescents are more well-being in the first year of the pandemic. The sample selected in this study is the same sample as the previous study. Respondents of this study (N = 74; 66.2% female and 33.8% male). The sampling technique used was cluster random sampling. The measurement tools were friendship satisfaction from Children's World and CW-SWBS5. The compare means paired sample t-test analysis was used to see whether or not there were differences in friendship satisfaction and SWB during and after the COVID-19 pandemic. As a result, SWB during (M = 74.00) and after the COVID-19 pandemic (M = 74.32) showed no significant difference (M = -.324) with a significant (.894 > .05). Friendship satisfaction and friendship factors also did not show a significant difference where all significant values were more than .05 (p > .05). Abstrak. Relasi dengan teman merupakan hal yang penting bagi remaja, khususnya remaja panti asuhan. Selama dua tahun dituntut untuk melakukan lockdown karena terjadinya pandemi dan sekarang dituntut untuk beradaptasi kembali dengan kehidupan normal. Penelitian ini merupakan studi longitudinal yang membandingkan kepuasan pertemanan dan subjective well-being (SWB) remaja panti asuhan pada saat dan setelah pandemi COVID-19. Pada saat pandemi, di dapatkan hasil adanya perbedaan signifikan antara pandemi tahun pertama dan pandemi tahun kedua. Remaja panti asuhan lebih well-being di tahun pertama terjadinya pandemi. Sampel yang dipilih pada penelitian ini merupakan sampel yang sama dengan penelitian sebelumnya. Responden penelitian ini (N = 74; 66.2% perempuan dan 33.8% laki-laki). Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Alat ukur nya adalah kepuasan pertemanan dari Children’s World dan CW-SWBS5. Analisis compare means paired sample t-test digunakan untuk melihat ada atau tidak adanya perbedaan kepuasan pertemanan dan SWB pada saat dan setelah pandemi COVID-19. Hasilnya, SWB pada saat (M = 74.00) dan setelah pandemi COVID-19 (M = 74.32) tidak menunjukkan perbedaan secara signifikan (M = -.324) dengan signifikan (.894 > .05). Kepuasan pertemanan serta faktor-faktor pertemanannyapun tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan yang dimana semua nilai signifikannya lebih dari .05 (p > .05).
Studi Deskripsi Subjective Well-Being Korban Poliviktimisasi Perundungan di Kota Bandung Labibah Nur Hasanah; Borualogo, Ihsana Sabriani
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10052

Abstract

Abstract. Bullying has a negative impact on the subjective well-being (SWB) of children and adolescents. In Indonesia, there is a lot of research discussing bullying and its relationship with the SWB of children, but research on polyvictimization of bullying is still limited. Polyvictimization of bullying is a condition where students experience more than one form of bullying incident conducted by different perpetrators in different settings. This study aims to provide a description of cases of polyvictimization of bullying in schools by other student in school and also at home conducted by siblings experienced by junior high school students in the city of Bandung, and how their SWB is described. Participants in this study were junior high school students in Bandung in grades 7, 8, and 9 (N = 160) with a gender ratio of 56.3% female and 43.8% male. The sampling technique used was cluster random sampling. The measurement tools used included the frequency of bullying from Children's Worlds (α = 0.895), socio-economic status (SES), CW-PNAS (α = 0.975), and CW-SWBS5 (α = 0.525). The results of the study showed that the average SWB scores of male students who were victims of polyvictimization of bullying (M = 79.0; SD = 22.1) were higher than the SWB scores of female students (M = 59.7; SD = 30.2). Female students also showed a more dominant negative affect (M = 67; SD = 30.5) compared to male students (M = 53; SD = 31.8). Overall, junior high school students who were victims of polyvictimization of bullying in Bandung had SWB scores (M = 68.1; SD = 27.4), which means that these students did not feel a sense of well-being. Abstrak. Perundungan memberikan dampak yang negatif teerhadap subjective well-being (SWB) anak dan remaja. Di Indonesia banyak penelitian yang membahas mengenai perundungan dan hubungannya dengan SWB anak, namun penelitian yang membahas mengenai poliviktimisasi perundungan masih terbatas. Poliviktimisasi perundungan adalah kondisi di mana siswa mengalami lebih dari satu perundungan yang dilakukan oleh pelaku yang berbeda dan dilakukan pada setting tempat yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan deskripsi kasus poliviktimisasi perundungan di sekolah dan di rumah oleh siswa lain di sekolah dan juga saudara kandung yang dialami oleh siswa SMP di Kota Bandung dan bagaimana deskripsi SWB mereka. Partisipan pada penelitian ini adalah siswa SMP di Kota Bandung yang berada di kelas 7, 8 dan 9 SMP (N = 160) dengan perbandingan jenis kelamin sebanyak 56.3% perempuan, 43.8% laki-laki. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Alat ukur yang digunakan adalah frekuensi perundungan dari Children’s Worlds (α=.895), socio economic status (SES), CW-PNAS (α=.975) dan CW-SWBS5 (α=.525). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor SWB siswa laki-laki korban poliviktimisasi perundungan (M = 79. ; SD = 22.1) lebih tinggi dibandingkan dengan skor SWB siswa perempuan (M = 59.7; SD = 30.2). Siswa perempuan juga menunjukkan lebih dominan negative affect (M = 67; SD = 30.5) dibandingkan dengan siswa laki-laki (M = 53; SD = 31.8). Secara keseluruhan siswa SMP yang menjadi korban poliviktimisasi perundungan di Kota Bandung memiliki skor SWB (M = 68.1; SD = 27.4), yang berarti siswa SMP korban poliviktimisasi perundungan di Kota Bandung tidak merasa well-being.