Ritonga, Arya Widura
Department Of Agronomy And Horticulture, Faculty Of Agriculture, IPB University (Bogor Agriculture University), Jl. Meranti, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680, INDONESIA

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Jurnal Agro

Perbedaan pertumbuhan dan produktivitas varietas bayam hijau dan bayam merah Arya Widura Ritonga; Muhammad Syaifuk Ar Rosyid; Axel Anderson; Muhamad Achmad Chozin; Purwono Purwono
Jurnal Agro Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/14664

Abstract

Bayam termasuk salah satu sayuran terpenting di Indonesia karena paling banyak dikonsumsi setelah kangkung. Bayam hijau dan bayam merah merupakan jenis bayam paling banyak ditanam dan dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pertumbuhan dan produktivitas varietas bayam hijau dan bayam merah. Penelitian dilakukan pada Februari – April 2021 di Kebun Percobaan Leuwikopo, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB University. Sebanyak 9 varietas bayam hijau (Maryland, Richie, Maestro, Benua, Doly, Khanafiah, Manila, Pacific, White Leaf) dan 4 varietas bayam merah (Mira, Baret Merah, Clara, Aurora) ditanam menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak dengan tiga ulangan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa varietas bayam hijau memiliki kandungan persentase warna hijau daun lebih banyak namun memiliki persentase warna biru dan merah yang lebih rendah dibandingkan varietas bayam merah. Hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa varietas bayam hijau menghasilkan tinggi tanaman dan produktivitas yang lebih baik dibandingkan varietas bayam merah, namun varietas bayam merah menghasilkan luas daun dan jumlah daun per tanaman saat panen yang lebih baik besar dibandingkan varietas bayam hijau. Varietas White Leaf merupakan varietas bayam yang sangat baik karena memiliki persentase warna hijau daun yang tinggi, luas daun yang besar dan produktivitas yang tinggi. Spinach is one of the most important vegetables in Indonesia because it was the second most consumed after kangkung. Green spinach and red spinach are the most widely grown and consumed types of spinach. This study aimed to determine differences in growth and productivity between varieties of green spinach and red spinach. The research was conducted in February – April 2021 at the Leuwikopo Experimental Field, Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University. A total of nine varieties of green spinach and four varieties of red spinach were planted using a completely randomized block design with three replications. The results showed that the green spinach variety contained a higher percentage of green leaf color but had a lower percentage of blue and red leaf color than the red spinach varieties. The results also showed that the green spinach varieties produced better plant height and productivity than the red spinach varieties, but the red spinach produced better leaf area and a number of leaves per plant at harvest than the green spinach. The White Leaf variety is the excellent spinach variety because it has a high percentage of green leaf color, large leaf area, and high productivity.
Evaluasi keragaman genetic berbagai galur murni jagung manis utnuk penentuan tetua hibrida Arya Widura Ritonga; Dwiwanti Sulistyowati; Candra Budiman; Ahmad Zamzami; Okti Syah Isyani Permatasari
Jurnal AGRO Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/22932

Abstract

Sweet corn is one of the most popular crops in Southeast Asian countries, including Indonesia. Superior sweet corn varieties breeding is important to do in order to improve the quality and productivity of sweet corn in Indonesia. Plant breeding programs rely on genetic quality variability and heritability information. Therefore, this study aimed to evaluate the performance and genetic variablity of various sweet corn inbred lines to determine the best prospective parents for hybridization. The study was conducted at the Leuwikoppo experimental field of the Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, IPB, from January to March 2022. Twelve sweet corn inbred lines were planted in the field using a completely randomized block design with three replications. Analysis of variance, estimation of the genetic parameters, broad sense heritability, genetic and phenotypic coefficients variability and cluster analysis were carried out in this study. The results showed that there were differences in qualitative and quantitative characters between the tested sweet corn genotypes. Plant height, ear height, stem diameter, ear length, and ear weight had a high broad sense heritability and moderate to high of genetic coefficients of variability. SM12-2 and T10-3 lines become the prospective parents generating a high cob weight and seed sweetness.ABSTRAK Jagung manis merupakan salah satu tanaman yang sangat populer di negara-negara Asia tenggara, termasuk Indonesia. Hal ini menjadikan perakitan varietas unggul jagung manis dengan produktivitas dan kualitas tinggi perlu dilakukan. Informasi keragaman genetik sangat penting dalam program pemuliaan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaan dan keragaman genetik berbagai galur jagung manis sehingga dapat diperoleh tetua potensial untuk pembentukan hibrida F1 jagung manis. Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Leuwikoppo, Departmen Agronomi, Fakultas Pertanian, IPB, dari bulan Januari sampai Maret 2022. Sebanyak 12 galur murni jagung manis ditanam menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak dengan 3 ulangan. Data diolah dengan menggunakan analisis ragam, pendugaan parameter genetik komponen ragam, heritabilitas arti luas, koefisien keragaman genotipik dan fenotipik serta analisis kluster. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pada karakter kualitatif dan kuantitatif diantara galur jagung manis yang diuji. Selain itu, diperoleh informasi bahwa karakter tinggi tanaman, tinggi tongkol, diameter batang, panjang tongkol, dan bobot tongkol memiliki nilai heritabilitas yang tinggi serta nilai koefisien keragaman genetik kategori moderat sampai tinggi. Berdasarkan penelitian ini, galur jagung manis SM12-2 dan T10-3 merupakan tetua yang potensial menghasilkan bobot tongkol dan kemanisan biji yang tinggi.
Keragaman genetik stroberi (Fragaria x ananassa Duch) berdasarkan marka morfologi dan molekuler Arisanti, Tiffani Nindya; Sobir, Sobir; Ritonga, Arya Widura
Jurnal AGRO Vol 11, No 1 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/34537

Abstract

The development of new superior varieties will be more efficient if it is based on accurate information about the genetic diversity and population structure of available breeding resources, so that the combination of the most potential parents in the breeding program that will be carried out can be identified. Indonesia still lacks information of strawberry diversity. The aim of this research is to study strawberry genetics based on morphological and molecular markers in order to develop strawberry varieties efficiently. Genetic relationship analysis was carried out on 20 genotypes of strawberries collected by Indonesian Instruments Standardization Testing Center for Citrus and Subtropical Fruits (BPSI Jestro), based on morphological characteristic and molecular Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD). Morphologycal markers analysis showed that there were two groups of strawberry genotypes using Gower dissimilarity coefficient value of 0.0936–0.5977. The result of molecular marker analysis was also separated into two groups by dissimilarity coefficient value of 0,1321-0,5566. Combination of morphologycal and molecular analysis was carried out and also showed two groups by disimilarity coefficient of 0,1657–0,5264. The information obtained on morphological characteristics and genetic distances can be used as a basic consideration in parental selection for strawberry breeding program. Pengembangan varietas unggul baru akan lebih efisien bila didasarkan pada informasi yang akurat tentang keragaman genetik dan struktur populasi sumber genetik yang tersedia, sehingga dapat diketahui kombinasi tetua yang paling potensial dalam program pemuliaan yang akan dilakukan. Namun, informasi tentang keragaman genotipe-genotipe stroberi di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keragaman genetik stroberi berdasarkan marka morfologi dan molekuler dalam rangka pengembangan varietas stoberi yang efisien. Analisis kekerabatan genetik dilakukan pada 20 genotipe stroberi koleksi Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (BPSI Jestro), berdasarkan karakter morfologi dan molekuler dengan metode Random Amplified Polymorhpic DNA (RAPD). Pengamatan pada 41 karakter morfologi menunjukkan terdapat 34 karakter yang beragam dan 7 karakter yang seragam. Hasil analisis menggunakan marka morfologi menunjukkan bahwa 20 genotipe stroberi terbagi menjadi dua kelompok dengan nilai koefisien ketidakmiripan Gower 0,0936–0,5977. Hasil analisis menggunakan marka molekuler juga terbagi menjadi dua kelompok dengan nilai koefisien ketidakmiripan sebesar 0,1321-0,5566. Analisis gabungan morfologi dan molekuler yang dilakukan juga membagi ke 20 genotipe menjadi dua kelompok dengan koefisien ketidakmiripan 0,1657–0,5264. Informasi karakter morfologi dan jarak genetik yang diperoleh dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam pemilihan tetua pada kegiatan pemuliaan tanaman stroberi.
Keragaman genetik stroberi (Fragaria x ananassa Duch) berdasarkan marka morfologi dan molekuler Arisanti, Tiffani Nindya; Sobir, Sobir; Ritonga, Arya Widura
Jurnal AGRO Vol. 11 No. 1 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/34537

Abstract

The development of new superior varieties will be more efficient if it is based on accurate information about the genetic diversity and population structure of available breeding resources, so that the combination of the most potential parents in the breeding program that will be carried out can be identified. Indonesia still lacks information of strawberry diversity. The aim of this research is to study strawberry genetics based on morphological and molecular markers in order to develop strawberry varieties efficiently. Genetic relationship analysis was carried out on 20 genotypes of strawberries collected by Indonesian Instruments Standardization Testing Center for Citrus and Subtropical Fruits (BPSI Jestro), based on morphological characteristic and molecular Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD). Morphologycal markers analysis showed that there were two groups of strawberry genotypes using Gower dissimilarity coefficient value of 0.0936–0.5977. The result of molecular marker analysis was also separated into two groups by dissimilarity coefficient value of 0,1321-0,5566. Combination of morphologycal and molecular analysis was carried out and also showed two groups by disimilarity coefficient of 0,1657–0,5264. The information obtained on morphological characteristics and genetic distances can be used as a basic consideration in parental selection for strawberry breeding program. Pengembangan varietas unggul baru akan lebih efisien bila didasarkan pada informasi yang akurat tentang keragaman genetik dan struktur populasi sumber genetik yang tersedia, sehingga dapat diketahui kombinasi tetua yang paling potensial dalam program pemuliaan yang akan dilakukan. Namun, informasi tentang keragaman genotipe-genotipe stroberi di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keragaman genetik stroberi berdasarkan marka morfologi dan molekuler dalam rangka pengembangan varietas stoberi yang efisien. Analisis kekerabatan genetik dilakukan pada 20 genotipe stroberi koleksi Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (BPSI Jestro), berdasarkan karakter morfologi dan molekuler dengan metode Random Amplified Polymorhpic DNA (RAPD). Pengamatan pada 41 karakter morfologi menunjukkan terdapat 34 karakter yang beragam dan 7 karakter yang seragam. Hasil analisis menggunakan marka morfologi menunjukkan bahwa 20 genotipe stroberi terbagi menjadi dua kelompok dengan nilai koefisien ketidakmiripan Gower 0,0936–0,5977. Hasil analisis menggunakan marka molekuler juga terbagi menjadi dua kelompok dengan nilai koefisien ketidakmiripan sebesar 0,1321-0,5566. Analisis gabungan morfologi dan molekuler yang dilakukan juga membagi ke 20 genotipe menjadi dua kelompok dengan koefisien ketidakmiripan 0,1657–0,5264. Informasi karakter morfologi dan jarak genetik yang diperoleh dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam pemilihan tetua pada kegiatan pemuliaan tanaman stroberi.