Claim Missing Document
Check
Articles

Kesesuaian dan Daya Dukung Wisata Pantai Trikora Bintan, Kepulauan Riau Mukhlis, Mukhlis; Apdillah, Dony; Willian, Nancy; Khodijah, Khodijah; Zulfikar, Andi
Akuatiklestari Vol 7 No 2 (2024): Jurnal Akuatiklestari
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/akuatiklestari.v7i2.7175

Abstract

Wisata pantai merupakan kegiatan wisata yang dilakukan untuk bersantai seperti rekreasi, berenang, berjemur dan olahraga dilingkungan pantai yang didukung fasilitas yang lengkap, nyaman dan aman serta akses yang mudah untuk dijangkau. Kabupaten Bintan khususnya pesisir timur Pulau Bintan menawarkan beragam pantai yang menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung. Sepanjang pesisir timur Pulau Bintan tersebut dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan Pantai Trikora. Peningkatan kunjungan wisatawan ke Pantai Trikora menegaskan bahwa lokasi ini merupakan salah satu destinasi wisata pantai skala massal yang paling favorit di Bintan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis kesesuaian wisata pantai dengan mempertimbangkan kapasitas jumlah fasilitas sarana prasarana, kenyaman keamanan dan akses yang mudah serta jumlah pengunjung yang diperbolehkan untuk kegiatan wisata pantai di pantai Trikora Bintan. Penelitian dilakukan disepanjang pantai Trikora dengan 6 (enam) area pengamatan yaitu Pantai Atok, Pantai Jazz, Pantai Kita, Pantai Nenek, Pantai Tergok, dan Pantai Trikora 4. Analisis kesesuaian (suitability analysis) wisata menggunakan Multi Criteria Analysis (MCA) dengan kalkulasi jarak spasial (euclidian distance) untuk menentukan zona- zona spasial dan luasnya. Kemudian daya dukungnya mengunakan perhitungan Boullon’ Carrying capacity mathematical model (BCCMM). Hasil penelitian menunjukan bahwa Real Carrying Capacity (RCC) disepanjang pantai Trikora Bintan ditinjau dari aspek kesesuaian, maka kawasan yang sangat sesuai untuk wisata pantai luas 594.412 m2 dan berenang seluas 665.800 m2. Daya dukung kawasan pantai mampu menerima kunjungan wisatawan sebanyak 433 orang setiap hari dengan 3 zona dan daya dukung untuk berenang sebanyak 12.131 orang setiap hari dengan 4 zona.
Evaluasi Rencana Peruntukan Ruang Kota Tanjungpinang Terhadap Kesesuaian Habitat Ekosistem Mangrove Berdasarkan Kriteria Ekologi Noviyati, Syamsinar; Haryanti, Dewi; Lestari, Febrianti; Ismail, Khodijah; Zulfikar, Andi
Akuatiklestari Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Akuatiklestari
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/akuatiklestari.v8i1.7179

Abstract

Ekosistem mangrove penting bagi wilayah kepulauan untuk melindungi pantai dari bahaya gelombang tinggi yang mengakibatkan banjir dan erosi pantai. Namun, mangrove hanya dapat tumbuh pada kondisi sesuai kriteria ekologi ekosistem mangrove. Pelestarian ekosistem mangrove perlu diintegrasikan kedalam perencanaan tata ruang kota pesisir. Menyusun rencana tata ruang kota pesisir di pulau kecil harus adaptif terhadap perubahan lingkungan dengan berbasis pada ekologi ekosistem pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil analisis kesesuaian habitat mangrove dengan rencana pola ruang RDTR Kota Tanjungpinang. Kesesuaian habitat ekosistem mangrove di Kota Tanjungpinang berdasarkan kriteria ekologi mangrove diperoleh luas lahan yang sangat sesuai yaitu seluas 1227,87 Ha, sesuai 2651,52 Ha, dan kriteria cukup sesuai dengan luas 412,84 Ha. Zona budidaya antara lain berupa zona perumahan, perdagangan jasa, perkantoran, industri pada rencana peruntukan ruang RDTR Kota Tanjungpinang berada pada lahan yang memiliki kesesuaian habitat ekosistem mangrove berdasarkan kriteria ekologi.
Strategi Pengelolaan Ekosistem Mangrove Sebagai Upaya Adaptasi Perubahan Iklim di Pesisir Tanjungpiayu Kota Batam Zakia, Rahima; Lestari, Febrianti; Apdillah, Dony; Zulfikar, Andi
Akuatiklestari Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Akuatiklestari
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/akuatiklestari.v8i1.7180

Abstract

Penelitian ini dilakukan dari September 2023 hingga Mei 2024 di kawasan hutan mangrove pesisir Tanjungpiayu Kota Batam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi biomassa, stok karbon, dan serapan karbon di kawasan hutan mangrove Tanjungpiayu, menghitung nilai ekonomi karbon hutan mangrove Tanjungpiayu, serta untuk merumuskan pengelolaan ekosistem mangrove dalam upaya adaptasi perubahan iklim di pesisir Tanjungpiayu Kota Batam. Lokasi penelitian ditentukan melalui metode survei, dimana titik sampling dipilih secara purposive sampling. Untuk menghitung biomassa pohon dilakukan tanpa merusak (nondestructive), dengan mengukur diameter batang setinggi dada (Diameter at Breast Height/DBH) yang diambil pada ketinggian sekitar 1,3 m dari permukaan tanah. Selanjutnya, perhitungan dilakukan dengan model allometrik untuk menghitung potensi biomassa dan penyimpanan karbonnya. Penentuan strategi pengelolaan menggunakan metode AHP dengan responden sejumlah 7 orang sebagai informan kunci. Berdasarkan hasil analisis data nilai total biomassa, stok karbon dan serapan CO2 pada lokasi penelitian adalah sebesar 150,32 ton/ha, 70,65 ton/ha dan 259,06 tonC/ha. Hal ini menunjukkan bahwa mangrove Tanjungpiayu memiliki potensi sebagai penyerap karbon atmosfer. Berdasarkan perhitungan nilai ekonomi karbon mangrove di pesisir Tanjungpiayu adalah Rp 25.054.254,16 (pasar sukarela) dan Rp 65.475.117,55 (CDM). Berdasarkan perolehan skor tertinggi aspek saintek menjadi prioritas dalam mempertimbangkan alternatif strategi pengelolaan ekosistem mangrove. Alternatif prioritas dengan skor tertinggi untuk pengelolaan ekosistem mangrove di pesisir Tanjungpiayu berupa pendampingan peningkatan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan ekosistem mangrove berbasis adaptasi perubahan iklim.
Peran Coder Terkait Keakuratan Pengkodean ICD-10 Pada Pelaksanaan Sistem INA-CBG’s Rumah Sakit TK. II 14.05.01 Pelamonia Makassar Ekawati, Dian; Nuryadin, Adriyana Adevia; Windarti, Sriyani; Zulfikar, Andi
Jurnal Manajemen Bisnis dan Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2024): Volume. 1 No.2 2024 October-Desember
Publisher : Edu Berjaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70817/jmbk.v1i2.13

Abstract

Dalam pelaksanaan JKN, kegiatan coder klaim BPJS Kesehatan dimulai dengan menerima dokumen rekam medis pasien BPJS dari unit assembling. Kemudian, jika ada kesalahan, dokumen tersebut dipisahkan dan dikirim ke bagian yang terkait untuk diperbaiki terlebih dahulu. Selanjutnya adalah menentukan kode penyakit dan prosedur medis. Tujuan penelitian, untuk mengetahui peran coder terkait keakuratan pengkodean ICD-10 pada pelaksanaan sistem INA-CBG’s di Rumah Sakit TK.II 14.01.05 Pelamonia Makassar. Metode ini menggunakan penelitian kualitatif. Pengumpulan data melakukan dengan wawancara kepada Kepala Casemix, Kepala Rekam Medis, Petugas Coder dan Petugas Rekam Medis. Hasil dan Kesimpulan menunjukkan bahwa petugas rekam medis dan petugas coder rata-rata memiliki pengalaman yang mencukupi untuk menjalankan proses pengkodean klaim BPJS, walaupun masih terdapat beberapa permasalahan yang biasa dialami petugas. Petugas coder sudah mendapatkan pendidikan yang sesuai tentang pengkodean dan beberapa petugas pernah mengikuti seminar INA-CBG’s sehingga mengetahui apa itu INA-CBG’s dan juga fungsinya. Namun, masalah yang paling umum yang dihadapi petugas coder termasuk penulisan diagnosis penyakit yang sering disingkat, perbedaan antara tindakan yang ditulis dan dilaporkan DPJP.
Plankton Abundance in Senggarang Waters as Blue Swimming Crab Catchment Area, Tanjungpinang City, Riau Islands Muzammil, Wahyu; Rahmah, Nurhidayah; Apriadi, Tri; Melani, Winny Retna; Zulfikar, Andi
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 31 No. 1 (2026): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18343/jipi.31.1.127

Abstract

Senggarang waters are a traditional fishing spot for small-scale blue swimming crab (BSC) fishermen in Tanjungpinang City. The fishermen have their own BSC catchment areas to capture this product, which is the primary aim. Plankton, an aquatic microbe that lives floating in the water column and can't move or only move slightly to follow the current, has a high ecological significance as a source of food for fisheries biota. The purpose of this study was to monitor the existence of plankton by determining plankton abundance, diversity index, uniformity index, and plankton dominance index in crab fishermen's traditional fishing grounds in Senggarang seas. This is a quantitative study; planktons were sampled at 10.00−13.00 using the horizontal static method with a plankton net, placed in a sample bottle, and given 10% Lugol, before being identified at the Marine Biology Laboratory, Faculty of Marine Sciences and Fisheries, Raja Ali Haji Maritime University. Samples were collected for five weeks at five locations designated by purposive sampling in the same location as the BSC fishermen who set their traps (bubu). The results revealed 41 genera of planktons classified as Cyanophyceae, Bacillariophyceae, Branchiopoda, Chlorophyceae, Dinophyceae, Sarcodina, Copepods, and Tintinnidae. The largest plankton abundance occurs in the fourth week of Station 5, with 15961 ind.L−1. The plankton diversity index was low, and the uniformity index was inversely proportional to dominance. Keywords: blue swimming crab catchment areas, plankton abundance, Senggarang Waters, Tanjungpinang City
Estimation of Phosphorus Storage in Seagrass in the Coastal Waters of Eastern and Northen Bintan Island Luthvi Nurwulandari; Apriadi, Tri; Zulfikar, Andi
Journal of Marine and Coastal Science Vol. 14 No. 3 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jmcs.v14i3.72783

Abstract

The eastern and northern coastal waters of Bintan Island are seagrass conservation areas with high biodiversity and coverage. Seagrass is known to play an essential role in the carbon cycle and has the potential to store phosphorus, but limited information is available regarding its phosphorus reserves. This study aims to estimate phosphorus (P) storage in seagrass and analyze the relationship between seagrass ecological parameters and phosphorus content. A field survey and hierarchical sampling technique were conducted at six locations, with samples of seagrass, substrate, and water analyzed in laboratory. Results showed the highest seagrass density in Pengudang (816 shoots/m²) and the lowest in Berakit 2 (107 shoots/m²); the highest coverage in Teluk Bakau 1 (83.5%) and the lowest in Teluk Bakau 2 (43.1%); and the highest biomass in Pengudang (138.55 gr/m²) and the lowest in Berakit 2 (19.39 gr/m²). The highest phosphorus storage was recorded in Berakit 2 (0.321%) and the lowest in Teluk Bakau 2 (0.258%). A positive correlation was observed between coverage and phosphorus content, indicating that increased seagrass coverage potentially enhances phosphorus storage capacity. These findings offer new insights into the role of seagrass in the phosphorus cycle and its implications for sustainable coastal ecosystem management.
Laju Pertumbuhan dan Produksi Biomassa Daun Lamun di Perairan Senggarang Besar Kota Tanjungpinang Hanifah, Putri Nur; Zulfikar, Andi; Nugraha, Aditya Hikmat; Muzammil, Wahyu
Akuatiklestari Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Akuatiklestari
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/akuatiklestari.v9i1.5358

Abstract

Perairan Senggarang Besar merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Tanjungpinang Kota memiliki sebaran lamun yang cukup luas dengan kondisi cukup beragam. Untuk menjaga agar lamun dapat tetap berperan penting bagi ekosistem perairan, perlu diketahui produktivitas dari ekosistem lamun itu sendiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur laju pertumbuhan dan produksi biomassa daun lamun di Perairan Senggarang Besar serta menentukan hubungan laju pertumbuhan daun lamun dengan parameter lingkungan perairan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Juni 2022. Penentuan titik sampling dilakukan menggunakan metode Random Sampling pada 30 titik yang tersebar di 3 lokasi yang memiliki sebaran lamun. Pengamatan laju pertumbuhan dan produksi biomassa daun lamun menggunakan metode pemangkasan dengan memilih 1 tegakan secara acak pada kuadran ukuran 50x50 cm dari masing-masing jenis lamun dan diamati selama 28 hari. Hasil penelitian menujukkan E. acoroides memiliki nilai laju pertumbuhan daun tertinggi dibandingkan jenis lamun lainnya. Berdasarkan hasil penelitian, jenis lamun E. acoroides, T. hemprichii, H. uninervis, dan C. rotundata memiliki nilai laju pertumbuhan daun lamun sebesar 0,55 cm/hari, 0,14 cm/hari, 0,37 cm/hari, dan 0,22 cm/hari. Jenis lamun yang memiliki nilai produksi biomassa daun tertinggi adalah E. acoroides dengan rata-rata 134,68 gbk/m2. Sedangkan T. hemprichii, H. uninervis, dan C. rotundata memiliki nilai produksi biomassa daun lamun sebesar 72,98 gbk/m2, 1,70 gbk/m2, dan 67,59 gbk/m2. Berdasarkan analisis korelasi dan regresi linear berganda parameter yang memiliki hubungan signifikan terhadap laju pertumbuhan daun lamun pada setiap jenis adalah suhu, pH, salinitas, DO, dan TOM.
Analisis Risiko Banjir Rob dan Kerentanan Pesisir di Kabupaten Kepulauan Anambas Koenawan, Chandra Joei; Zulfikar, Andi
Akuatiklestari Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Akuatiklestari
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/akuatiklestari.v9i1.7698

Abstract

Studi difokuskan pada evaluasi risiko banjir rob serta tingkat kerentanan pesisir di Kabupaten Kepulauan Anambas, khususnya di Kecamatan Palmatak dan Kute Siantan. Kajian bertujuan menganalisis tingkat kerentanan dan risiko banjir rob melalui pendekatan integratif yang mencakup aspek sosial, fisik, ekonomi, dan lingkungan, serta menyusun indeks komposit kerentanan sebagai acuan dalam perencanaan mitigasi berbasis komunitas dan strategi adaptasi multipihak. Dilakukan pada 12 desa dengan menggunakan pendekatan pemetaan sosial dan analisis spasial. Data primer diperoleh melalui survei lapangan, kuesioner, dan wawancara, sedangkan data sekunder bersumber dari BPS, BNPB, dan peta Digital Elevation Model (DEM). Analisis risiko dilakukan melalui penerapan pendekatan penilaian risiko berbasis Pedoman Umum Pengkajian Resiko Bencana, dengan mempertimbangkan aspek ancaman, kerentanan, dan kapasitas wilayah. Hasil kajian menunjukkan bahwa banjir rob merupakan ancaman paling dominan dengan skenario terburuk berupa kenaikan muka laut hingga 5–6 meter di atas kondisi normal. Kerentanan sosial tertinggi ditemukan di Desa Tebang (53,02%) dan Ladan (52,75%), sementara kerentanan fisik terbesar tercatat di Desa Piabung dan Putik (100%). Kerentanan ekonomi relatif rendah (0–10%), sedangkan kerentanan lingkungan tertinggi (100%) terdapat di Teluk Bayur, Batu Ampar, Belibak, dan Langir. Secara komposit, indeks kerentanan tertinggi berada di Desa Tebang dan Ladan (57%). Kontribusi penelitian ini terletak pada penyajian peta kerentanan terintegrasi yang menggabungkan aspek sosial, fisik, ekonomi, dan lingkungan di kawasan pulau kecil. Hasil kajian ini dapat dijadikan dasar dalam perencanaan mitigasi berbasis masyarakat serta penyusunan strategi adaptasi multipihak, termasuk pelibatan sektor swasta melalui program CSR, guna memperkuat ketahanan masyarakat pesisir terhadap ancaman banjir rob.
A Comparative Study of Social-Ecological Characteristics of Land-based and Island-based Small-Scale Fisheries in Southeast Sulawesi Province Ariston, Muhamad; Adrianto, Luky; Bengen, Dietriech G; Susanto, Handoko Adi; Zulfikar, Andi
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 14 No 3 (2024): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.14.3.484

Abstract

Small-scale fisheries exhibit unique, diverse, and varied characteristics in each region. These distinctive traits render small-scale fisheries challenging to regulate centrally. This research aims to compare the characteristics of land-based and island-based small-scale fisheries in Southeast Sulawesi Province. Data were collected through structured interviews involving 445 respondents from two distinct areas: North Konawe, representing land-based fisheries, and Konawe Islands, representing island-based fisheries. Both qualitative (questionnaire data) and quantitative analyses were conducted using R software. Proportion data were tested using the R ggstatsplot package, while word cloud analysis utilized the R wordcloud package. The analysis of fishing ground distribution hotspots was performed using QGIS software version 3.30. The research findings demonstrate differences across various aspects, including education levels, boat sizes, fishing frequency, monthly income, and types of captured fish. Furthermore, the study highlights that island-based small-scale fisheries hold a higher income potential compared to their landbased counterparts. These differing characteristics serve as essential considerations in developing policies that support sustainable management of small-scale fisheries based on the needs of local communities.
Exploring the Resources Governance Connectivity of Cultural Ecosystem Services: Evidence in Tanjung Lesung SEZ Tourism, Banten Province, Indonesia Kusuma, Okky Rizal; Adrianto , Luky; Kurniawan, Fery; Zulfikar , Andi
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 16 No. 1 (2024): JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jipk.v16i1.45220

Abstract

Abstract The existence of the utilization of the Tanjung Lesung Special Economic Zone (SEZ) as connectivity, interaction relationships, and the balance of resource governance influence cultural ecosystem service. This research aimed to map out the social-ecological system components of coastal and marine cultural ecosystem services. The focus is on examining the connectivity network between resource governance (RG) components such as resource actors (RA), resource units (RU), and resource systems (RS). The data obtained were analyzed using the stages of social-ecological network analysis. The results show a significant influence and strong interaction between resource governance (RG) components and other components. The presence of institutional structures and typologies is a crucial component that serves as a guideline for SEZ management influenced by actor centrality through links. Several performance indicators are still lacking based on the interaction conditions, indicating the need for strategies to strengthen governance. However, a particular challenge that needs attention is the implementation of every governance strategy formulation. Cohesion among stakeholders in enhancing resource governance performance with the surrounding community is paramount. Improvement can be achieved through strong collaboration to ensure the sustainability of coastal and marine cultural ecosystem services. Highlight Research The components of the social-ecological system of cultural coastal and marine ecosystem services can be identified and analyzed in a case study of a special economic zone. The complexity of the social-ecological system was analyzed using a network perspective approach. Centrality analysis was used to determine the magnitude of influence of each component in the system. The performance condition of governance can be determined using analysis of the resource governance interactions.
Co-Authors . Zairion Aditya Hikmat Nugraha Adrianto , Luky Agrianti, Renny Alsha, Syahbana Advani Amrullah Usemahu Andrinal Andrinal Anggawangsa, Regi Fiji Ani Suryanti Apdillah, Doni Ariston, Muhamad Arta, Fatimah The Last Azzahra Maulidina Beale, Calvin S. Booth, Hollie Chandra Joei Koenawan Dewi Haryanti Dian Ekawati Diana Azizah Dietriech Geoffrey Bengen Dony Apdillah Efrina Yanti Esty Kurniawati Faisal, La Ode M Febrianti Lestari Ferawati Runtuboi Fery Kurniawan FERY KURNIAWAN Ginting, Rio Junaydi Hanifah, Putri Nur Haryati, R. Nina Hermansyah, Rizky Fajar Hollie Booth I Wayan Nurjaya Irfan Yulianto Ismi Dwi Yulianti Karto Wongsopatty Khodijah Ismail Khodijah Khodijah Kurniawan, Rika Kusuma, Okky Rizal Laode M Faisal Leni Agustina Lestari, Putri Agil Lily Viruly Luky Adrianto Luthvi Nurwulandari mala kurnia Manik, Grace Rika Mennofatria Boer Muhammad Ichsan Mukhlis Mukhlis Munawar Munawar Muzahar Nancy Willian Nanda, Tri Nofrizal Nofrizal Noviyati, Syamsinar Nuralim Pasisingi Nuralim Pasisingi Nurhidayah Rahmah Nuryadin, Adriyana Adevia Nyoman M N Natih Okky Rizal Kusuma Oktavialy, Feby Rachmawati, Puput Fitri Rachmawati`, Rita Rahima Zakia Rahmah, Nurhidayah Renny Agrianty Reny Puspasari Reny Puspasari, Reny Rio Junaydi Ginting Ritha, Nola Rosnah, Rosnah Sabriyati, Deni SAPUTRI, ANGGUN Saputri, Anggun Septian Anugrah Susanto, Handoko Adi Sutran Sutran Sutran, Sutran Taryono, Taryono Thamrin Thamrin Tri Apriadi Wahyu Muzammil Windarti, Sriyani Winny Retna Melani Yusni Ikhwan Siregar Zen, Linda Waty Zulhamsyah Imran