Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Prediksi Penyakit Gagal Jantung Tahun 2025-2028 Rawat Inap di RSUD Gambiran Kota Kediri Anisa Rahmawati; Krisnita Dwi Jayanti; Eva Firdayanti Bisono; Ayu Pangestuti; Nugroho Nugroho; Nurhadi Nurhadi; Budi Pranoto
Antigen : Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi Vol. 3 No. 2 (2025): Antigen : Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/antigen.v3i2.667

Abstract

Heart failure is the most common cardiovascular disease. Gambiran Regional Hospital has the 1st position of heart failure cases out of the top 10 diseases with the largest population in hospitalizations. To determine the prediction of heart failure disease in 2025-2028 which will increase or decrease. Using a descriptive research method, with a retrospective study research approach The population of all heart failure patients in 2021-2024 at Gambiran Regional Hospital, with a sampling technique of total sampling, the number of samples of inpatient heart failure patients in 2021-2024 at Gambiran Regional Hospital. Data collection was carried out by observation. The total number of heart failure patients increased significantly to 259 (2022). The trend has increased and decreased, the number of male patients jumped sharply to 150,3 (2024), while for women it jumped to 92,3 (2024). Overall, the prediction of the highest heart failure patient in 2028 will reach 316,2 while the lowest will be in 2025. The number of heart failure hospitalizations shows a trend of change that tends to increase during 2021–2024. Based on gender, male patients dominated visits. The 2025–2028 prediction predicts an increase in the number of patients, with the highest number in male patients and total visits reaching 316,2.: Hospitals can collaborate with local health departments to hold routine screening programs for those at high risk.
Analisis Faktor Risiko Kejadian Campak di Provinsi Jawa Timur Tahun 2024 : Analisis Faktor Risiko Kejadian Campak di Provinsi Jawa Timur Tahun 2024 nofita sari; Elvanda Helzalia Putri2; Krisnita Dwi Jayanti; Endah Retnani Wismaningsih; Ayu Pangestuti; Anggraini Dyah Setiyarini
Journal of Health Educational Science And Technology Vol. 9 No. 1 (2026): J-HESTECH (Journal Of Health Educational Science And Technology)
Publisher : Faculty of Health Sciences , Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/htc.v9i1.12008

Abstract

Latar belakang penelitian ini didasarkan pada masih tingginya angka kasus campak di Jawa Timur yang dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara cakupan imunisasi MR 1, MR 2, pemberian vitamin A, status gizi buruk, dan kepadatan penduduk dengan kejadian suspek campak di Provinsi Jawa Timur. Metode yang digunakan adalah analisis bivariat dengan uji korelasi terhadap data sekunder yang bersumber dari Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh variabel independen tidak memiliki hubungan yang signifikan secara statistik terhadap kejadian suspek campak (p > 0,05). Nilai koefisien korelasi ditemukan lemah, yakni MR 1 (-0,180), MR 2 (-0,072), pemberian vitamin A (0,059), status gizi buruk (-0,111), dan kepadatan penduduk (-0,126). Simpulan dari penelitian ini adalah faktor-faktor risiko tersebut tidak berkorelasi langsung dengan jumlah kasus suspek campak pada periode data tersebut, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor lingkungan fisik dan validitas pelaporan data lapangan. Kata Kunci: Campak, Imunisasi MR, Vitamin A, Gizi Buruk, Jawa Timur. ABSTRACT The background of this research is based on the persistently high number of measles cases in East Java, influenced by various health risk factors. This study aims to analyze the correlation between MR 1 and MR 2 immunization coverage, vitamin A supplementation, malnutrition status, and population density with the incidence of suspected measles in East Java Province. The method used is bivariate analysis with correlation tests on secondary data sourced from the East Java Provincial Health Profile. The analysis results showed that all independent variables did not have a statistically significant relationship with the incidence of suspected measles (p > 0.05). The correlation coefficients were found to be weak: MR 1 (-0.180), MR 2 (-0.072), vitamin A supplementation (0.059), malnutrition (-0.111), and population density (-0.126). The conclusion of this study is that these risk factors do not directly correlate with the number of suspected measles cases during the data period, suggesting the need for further research into physical environmental factors and the validity of field data reporting. Keywords: Measles, MR Immunization, Vitamin A, Malnutrition, East Java.
Survei Cepat : Gambaran Umum Gejala dan Faktor Risiko Terduga Common Cold di Wilayah Kerja Puskesmas Pare Kediri: A RAPID SURVEY OF SYMPTOMS AND RISK FACTORS OF SUSPECTED COMMON COLD AT PARE PUBLIC HEALTH CENTER, KEDIRI Elvanda Helzalia Putri; Bintang Aisyah Putri; Nadi Fatullaili Qotrun Nanda; Cindy Prastika Saiful; Akhmadi Abbas; Krisnita Dwi Jayanti
Jenggala : Jurnal Riset Pengembangan dan Pelayanan Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56399/jgl.v5i1.296

Abstract

Common cold merupakan infeksi saluran napas atas yang sangat umum terjadi, ditandai oleh gejala ringan seperti batuk, pilek, bersin, dan nyeri tenggorokan. Penyakit ini bersifat self-limiting, namun tetap dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menimbulkan komplikasi jika tidak ditangani dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran umum gejala dan faktor risiko terduga common cold di wilayah kerja Puskesmas Pare, Kabupaten Kediri. Penelitian dilakukan melalui metode survei cepat dengan pendekatan cross-sectional pada 210 responden usia 15–64 tahun yang dipilih secara acak dari 30 klaster RW. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis secara univariat. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah perempuan (54,8%) dengan kelompok usia dominan 21–30 tahun (34,3%). Responden yang tergolong suspek common cold sebanyak 50 orang (23,8%), sedangkan yang non-suspek sebanyak 160 orang (76,2%). Tingkat pengetahuan responden didominasi kategori rendah sebanyak 107 orang (51%), sedangkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) mayoritas berada pada kategori baik (45,7%). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu meskipun perilaku PHBS tergolong baik, tingkat pengetahuan responden tentang common cold masih perlu ditingkatkan.
Hubungan Tingkat Stress dengan Kejadian Hipertensi pada Pasien BPJS di Wilayah Kerja Puskesmas Pare Kabupaten Kediri marshanda saqila; Akhmadi Abbas; Krisnita Dwi Jayanti; Rahma Nisa Intan Permata; Rizka Alifa Putri; Tania Aurelia Azzahra
Jenggala : Jurnal Riset Pengembangan dan Pelayanan Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56399/jgl.v5i1.299

Abstract

Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan global yang memerlukan perhatian khusus karena bersifat kronik,progresif, dan sering kali tanpa gejala. Salah satu faktor non-fisik yang berperan dalam kejadian hipertensiadalah stres, yang dapat memicu peningkatan tekanan darah melalui aktivasi sistem saraf simpatis danpelepasan hormon kortisol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat stres dengan kejadianhipertensi pada pasien BPJS di wilayah kerja Puskesmas Pare, Kabupaten Kediri. Desain penelitian yangdigunakan adalah analitik dengan pendekatan cross-sectional . Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakatpengguna BPJS di Kelurahan Pare dan Desa Tulungrejo, dengan jumlah responden sebanyak 210 orang yangdipilih menggunakan teknik cluster sampling . Data primer dikumpulkan melalui wawancara dan kuesioner,sedangkan data sekunder diperoleh dari Puskesmas Pare. Hasil uji Koefisien Kontingensi menunjukkan terdapathubungan signifikan antara tingkat stres dengan kejadian hipertensi (p . value = 0,000). Responden denganstres sedang memiliki proporsi hipertensi tertinggi (75%), diikuti oleh stres ringan (35,4%), sedangkan yangtidak mengalami stres memiliki proporsi terendah (17,6%). Kesimpulannya, terdapat hubungan yang kuatantara tingkat stres dengan kejadian hipertensi pada pasien BPJS di wilayah kerja Puskesmas Pare.Kata kunci: Stres, Hipertensi, BPJS, Epidemiologi, Layanan Kesehatan Primer
Hubungan Perilaku Merokok Dengan Kejadian Hipertensi Pada Laki-laki di Wilayah Kerja Puskesmas Gurah: Relationship between Smoking Behavior and Hypertension Incidence in Men in the Gurah Health Center Work Area Ashyfa Ramadhani; Akhmadi Abbas; Krisnita Dwi Jayanti; Afiyah Fitriana Adianti Adianti; Ella Brisadona Permatasari; Liza Ruvania
Jenggala : Jurnal Riset Pengembangan dan Pelayanan Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56399/jgl.v5i1.300

Abstract

Latar Belakang : Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang berisiko tinggi dansering tidak terdeteksi hingga menimbulkan komplikasi serius. Salah satu faktor risiko yang dapat diubah danmemiliki dampak besar terhadap hipertensi adalah kebiasaan merokok. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untukmengetahui hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi pada laki-laki usia 15–75 tahundi Desa Wonojoyo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Metode : Penelitian menggunakan desain crosssectional dengan total 210 responden laki-laki. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakanuji chi-square. Hasil : Hasil menunjukkan bahwa 73,8% responden mengalami hipertensi. Terdapat hubunganyang signifikan antara usia mulai merokok, jumlah rokok yang dikonsumsi, frekuensi merokok setiap hari,merokok di dalam rumah, dan ketergantungan terhadap rokok dengan kejadian hipertensi (p < 0,05).Kesimpulan : Temuan ini memperkuat bahwa merokok merupakan faktor risiko utama hipertensi, terutamabila dikaitkan dengan perilaku kecanduan dan rendahnya kesadaran kesehatan. Diperlukan upaya promotif danpreventif seperti edukasi, kampanye berhenti merokok, dan pemeriksaan tekanan darah rutin.
FUTURE CAREER PATHS: EXPLORING HEALTH AND TECHNOLOGY STUDY PROGRAMMES FOR GENERATION Z: JEJAK KARIER MASA DEPAN: EKSPLORASI PROGRAM STUDI KESEHATAN DAN TEKNOLOGI BAGI GENERASI Z Krisnita Dwi Jayanti; Arshy Prodyanatasari; Eggy Dio Otista
WISDOM : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Wisdom Vol. 3 No. 2 (2026): JPKM WISDOM 6, 2026
Publisher : PT. ROCE WISDOM ACEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71275/wisdom.v3i2.186

Abstract

The low Gross Enrollment Rate (GER) in higher education in Bojonegoro, particularly at SMA Negeri 1  Gondang, which is below 40 per cent, constitutes the primary urgency for implementing this community  service activity. This condition is exacerbated by students' limited information regarding study programs, future career prospects, and access to scholarships such as KIP Kuliah. This activity aimed to improve the  understanding and motivation of 12th-grade students in planning further studies, specifically in the field of  technology-based health. The method employed was participatory and interactive socialisation through interactive seminars and focus group discussions (FGD). The activity was conducted on January 28, 2026,  at the Hall of SMA Negeri 1 Gondang, Bojonegoro, with all 12th-grade students as the subjects. Data collection techniques utilised pre-tests and post-tests, observation sheets, and documentation, with instruments consisting of a ten-question multiple-choice questionnaire. Data analysis was performed using  descriptive quantitative analysis to measure the increase in understanding and descriptive qualitative  analysis to depict changes in student motivation. The results showed a significant increase in students'  understanding, evidenced by the rise in the average pre-test score from 42.86 to 93.88 on the post-test (a  119 per cent increase). Student enthusiasm was also evident from the numerous questions regarding study  programs at IIK Bhakta Kediri (midwifery, nursing, physiotherapy, medical laboratory technology, and  pharmacy), clinical practices, and graduate employment prospects. This activity concludes that  participatory socialisation effectively enhances students' understanding and motivation in planning further  studies. It is recommended that schools integrate study program exploration into sustainable career  guidance, provide technical assistance for scholarship applications, and expand the target to include 10th  and 11th-grade students. 
Si kecil cerdas obat: Edukasi penggunaan obat yang aman untuk anak SD Arshy Prodyanatasari; Dyah Ayu Kusumaratni; Adi Laksono; Mely Purnadianti; Mardiana Putri Prasetyani; Krisnita Dwi Jayanti
Abdimas Altruis: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 9 No 1 (2026): April 2026
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/aa.v9i1.29

Abstract

The community service activity was carried out in response to the high number of cases of medication misuse among children, with initial surveys showing that 65% of 4th-5th grade elementary school students in Kediri had taken medication without adult supervision, and 80% did not understand basic dosage rules. The programme, involving 44 students from SDN Bujel 3 Elementary School in Kediri City, was designed to improve health literacy through the Participatory Action Research (PAR) method, comprising three main stages: (1) initial assessment via a pre-test, (2) intervention in the form of interactive education and demonstrations on how to read medication labels, and (3) evaluation using a post-test and observation of skills. Based on the pre-test and post-test analyses, there was a 45% increase in participants' understanding, with only 40% of students correctly answering questions about medication dosages in the pre-test, increasing to 85% in the post-test. Based on these findings, it was concluded that the PAR approach effectively improved students' understanding and skills. For sustainability, the following recommendations were made: (1) developing digital modules, (2) involving parents in follow-up programmes, and (3) strengthening teachers' capacity through training as school health facilitators to ensure programme sustainability. This activity demonstrates that participatory health education can create sustainable behavioural change in school-age children.