Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Pengujian Dan Perbandingan Efektifitas Antimikroba Dari Hand Sanitizer In-House (Tahap Optimasi Kadar Etanol Terbaik untuk Membunuh Bakteri E. Coli.) S, Donatila Mano; Sidarta, Erick; Chris, Arlends
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i9.11053

Abstract

ABSTRACT Hand hygiene is an easy way to prevent the transmission of various infectious diseases. The presence of hand sanitizer has a major impact on the ease of accessing hand hygiene. Hand sanitizer is an alternative to washing hands when water and soap are not available. However, it is important to evaluate the antimicrobial effect of hand sanitizers in the market and in-house products. This study conducted a comparative research by comparing different formulations of ingredients on bactericidal effect. This study focuses on hand sanitizer and the comparative concentration of ethanol and tea tree oil to eliminate E. coli bacteria. The best alcohol concentration was 70%, compared to absolute, 80%, and 60% and there was no difference in the effectiveness of the tested hand sanitizers. Hand sanitizers manufacturing is highly dependent on active ingredients and concentrations. It is important to be thoughtfull about choosing and making hand sanitizer, so that the product can have adequate function. Hand sanitizer with optimal content and effect can reduce the incidence of infectious diseases. Keywords: Antimicrobial, Ethanol, Hand Hygine, Hand Sanitizer  ABSTRAK Hand hygine merupakan cara mudah untuk mecegah transmisi berbagai macam penyakit menular. Hadirnya hand sanitizer memberikan dampak besar dalam kemudahan akses hand hygine. Hand sanitizer menjadi alternatif mencuci tangan saat tidak tersedianya air dan sabun. Meski demikian pentingnya untuk mengevaluasi efek antimikroba yang terkandung dalam hand sanitizer yang beredar di pasar maupun produk sendiri. Studi ini melakukan penelitian komparatif dengan membandingkan formulasi bahan yang berbeda terhadap efek bakterisidal. Penelitian ini berfokus pada hand sanitizer dan tahap perbandingan kadar etanol dan konsentrasi tea tree oil untuk membunuh bakteri E. coli. Konsentrasi alkohol terbaik berdara di angka 70%, dibandingkan kengan kadar absolut, 80%, dan 60% serta tidak didapatkan perbedaan efektivitas terhadap produk hand sanitizer yang diuji. Pembuatan Hand sanitizer sangat bergantung pada bahan aktif dan konsentasi. Pentingnya untuk memperhatikan aturan dalam memilih dan membuat hand sanitizer, agar produk bisa memiliki fungsi yang adekuat. Hand sanitizer dengan kandungan dan efek yang optimal mampu menurunkan kejadian infeksi menular.Kata Kunci: Antimikroba, Etanol, Hand Hygine, Hand Sanitizer
HUBUNGAN PROKRASTINASI DENGAN STRES PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA Hidayanti, Dwi; Chris, Arlends
Ebers Papyrus Vol. 28 No. 1 (2022): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v28i1.19416

Abstract

Mahasiswa tidak terlepas dari aktivitas belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen dengan jangka waktu yang sudah ditentukan. Ketika menghadapi aktivitas tersebut mahasiswa seringkali menunda, mengabaikan dan memilih melakukan aktivitas lainnya, maka perilaku tersebut dinamakan prokrastinasi. Hal ini dapat mengakibatkan mahasiswa mengalami stres. Stres adalah perasaan tertekan yang dialami seseorang pada situasi tertentu dan dapat menganggu kesehatan fisik atau psikologisnya. Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan desain cross sectional pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Subyek penelitian adalah 63 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara yang sedang menjalankan blok muskuloskletal pada bulan Maret 2020. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yaitu kuesioner Procrastination Assesment Scale-Student (PASS) dan Depression Anxiety Stress Scale (DASS 42). Hasil analisis Chi-square didapatkan p value (0,011) menunjukkan hasil yang signifikan antara prokrastinasi dengan stres. Hasilnya, pada tingkat prokrastinasi kategori ringan adalah 10 responden (15,9%), tingkat prokrastinasi kategori sedang adalah 44 responden (69,8%), dan tingkat prokrastinasi kategori tinggi adalah 9 responden (14,3%). Hasil tingkat stres kategori normal adalah 9 responden (14,3%), tingkat stres kategori ringan adalah 25 responden (39,7%) tingkat stres kategori sedang adalah 21 responden  (33,3%), dan tingkat stres kategori berat adalah 8 responden (12,7%). Kesimpulan pada penelitian ini prokrastinasi dapat mempengaruhi stres pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara (p-value 0,011).
HUBUNGAN KESEPIAN TERHADAP TERJADINYA INTERNET ADDICTION PADA MAHASISWA KEDOKTERAN ANGKATAN 2018 UNIVERSITAS TARUMANAGARA JAKARTA BARAT Yuliavita, Shelvy; Chris, Arlends
Ebers Papyrus Vol. 28 No. 1 (2022): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v28i1.19422

Abstract

Kesepian merupakan sebuah perasaan dimana seseorang tidak merasakan kepuasan dalam hubungan sosialnya yang disertai dengan gejala tekanan psikologis terkait dengan perasaan kehilangan, dan perasaan tidak puas ketika tidak mendapatkan apa yang diharapkan dalam suatu hubungan. Intensitas pelajaran dan kesibukan di fakultas kedokteran menyulitkan mahasiswa untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial sehingga mendorong mereka untuk menjadi internet addiction sebagai cara mengatasi kesepian yang dialaminya. Survei nasional 2019 pada remaja di Indonesia terdapat (9,6%) yang selalu merasa kesepian dalam satu tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara kesepian terhadap terjadinya internet addiction pada mahasiswa kedokteran. Metode penelitian yang digunakan adalah analitik obeservasional dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan metode non-random sampling teknik consecutive sampling yang dilakukan dengan pengisian kuesioner UCLA-Loneliness scale untuk menilai kesepian  dan Internet Addiction Test (IAT) untuk menilai internet addiction. Responden merupakan mahasiswa kedokteran Universitas Tarumanagara Angkatan 2018 sebanyak 154 orang. Data yang diperoleh, terdapat 102(66,2%) responden kesepian tinggi dan 97(63%) responden positif internet addiction. Hasil analisis Chi-square menunjukkan hasil yang signifikan (P=0,001). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara kesepian terhadap terjadinya kejadian internet addiction pada mahasiswa kedokteran Universitas Tarumanagara Angkatan 2018.
HUBUNGAN TINGKAT DEPRESI DENGAN KEKUATAN GENGGAMAN TANGAN PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA Indrika, Stephanie Natasha; Chris, Arlends
Ebers Papyrus Vol. 28 No. 1 (2022): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v28i1.19423

Abstract

Depresi merupakan gangguan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati, kesedihan terus menerus, kehilangan motivasi dan semangat serta ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari selama 2 minggu. Depresi dapat menyebabkan penurunan fungsi fisik yang berpotensi mengubah komposisi tubuh dan metabolisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat depresi dengan kekuatan genggaman tangan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan 176 responden. Data tingkat depresi didapatkan dengan cara responden mengisi kuesioner Hamilton Rating Scale for Depression (HRSD) dan kekuatan genggaman tangan diukur menggunakan alat Camry Electronic Hand Dynamometer model EH101. Data yang diperoleh akan diuji analisis menggunakan uji chi-square. Hasil dari uji analisis didapatkan p value = 0,003 dan prevalence ratio sebesar 1,4. Dari hasil tersebut menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara tingkat depresi dengan kekuatan genggaman tangan dan variabel tersebut merupakan faktor resiko.
Hubungan Adiksi Internet dengan Aktivitas Fisik pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Angkatan 2017 Siauw, Liman Julianto; Chris, Arlends
Ebers Papyrus Vol. 29 No. 2 (2023): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v29i2.28131

Abstract

ABSTRACT Intoduction: Internet addiction is a psychological disorder caused by excessive internet usage and can affect social life, as well as individual health. In general, internet addiction is similar to other diseases that shows a tendency to become addicted, such as addiction to drugs, and alcohol. One of the impacts from internet addiction is changes in the level of one's physical activity. People with internet addiction usually have sedentary lifestyle. Methods: Carried out in Tarumanagara University Faculty of Medicine. By using the cross-sectional method, data from 148 respondents for both variables were obtained using the Internet Addiction Test by Young & Global Physical Assessment Questionnaire, which was then processed and classified based on groups: respondents with internet addiction, without internet addiction, with low physical activity, moderate and high physical activity. Results: Of the 148 respondents, 56% had internet addiction, and 44% did not have internet addiction. For the results of physical activity, it was found that 27.7% had a low level of physical activity, 50.7% had a moderate level of physical activity, and 21.6% had a high level of physical activity. Respondents were at the range of 17-21 years old. The sex distribution of 148 respondents was: male (29.7%) and female (70.3%). Conclusion: Prevalence Ratio of 1.57 was obtained, which showed that the variable is a risk factor. However, calculations using the chi-squared test (p = 0.266) did not show a statistically significant. ABSTRAK Pendahuluan: Adiksi internet adalah sebuah gangguan psikologis akibat pemakaian internet yang berlebihan yang dapat mempengaruhi kehidupan sosial, juga kesehatan individu. Pada umumnya, adiksi internet serupa dengan penyakit lain yang memiliki kecenderungan untuk menjadi ketagihan, seperti adiksi terhadap narkoba, dan alkohol. Dampak adiksi internet antara lain dapat mengakibatkan perubahan tingkat aktivitas fisik seseorang. Orang dengan adiksi internet biasanya memiliki kebiasan sedentari. Metode: Penelitian ini dilaksanakan pada Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Dengan menggunakan metode potong lintang, data dari 148 responden didapatkan untuk kedua variabel yang diukur menggunakan kuesioner Internet Addiction Test by Young & Global Physical Assessment Questionaire yang kemudian diolah berdasarkan kelompok: memiliki adiksi internet, dan yang tidak memiliki adiksi internet. Untuk variabel aktivitas fisik responden akan dibagi sesuai dengan tingkat aktivitas fisik rendah dan tingkat aktivitas fisik sedang-berat. Hasil: Dari 148 responden didapatkan sebanyak 56% memiliki adiksi internet, dan 44% tidak memiliki adiksi internet. Untuk hasil aktivitas fisik didapatkan 27,7% memiliki tingkat aktivitas fisik rendah, 50,7% memiliki tingkat aktivitas fisik sedang, dan 21,6% memiliki tingkat aktivitas fisik tinggi. Responden ada pada rentang usia antara 17-21 tahun. Distribusi jenis kelamin dari 148 responden adalah: laki-laki (29.7%) dan perempuan (70.3%). Simpulan: Didapatkan Prevalence Ratio sebesar 1,57, yang menunjukkan bahwa variabel merupakan faktor resiko. Namun, perhitungan menggunakan chi-squared test (p=0,266) tidak menunjukkan hubungan bermakna secara statistik.
EDUKASI HIPERTENSI BAGI JEMAAT GKI TERATE Chris, Arlends; Djaja Saputera, Monica
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 2 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i2.29297

Abstract

In 2023, WHO shows that 1.28 billion people in the world suffer from hypertension. 2018 Riskesdas data shows that prevalence of hypertension in Indonesia reached 34.1%, and data from the Indonesian Ministry of Health shows that prevalence of hypertension in Jakarta Capital Special Region reached 33.4%. Hypertension is a non-communicable disease (NCD) that continues to increase in developed and developing countries, including Indonesia. This community service program aims to educate the congregation about hypertension at GKI Terate, West Jakarta. Through this activity, the congregation at GKI Terate is expected to take promotive and preventive measures for hypertension. Thus, this activity can help fulfill the SDGs target in Indonesia, significantly reducing premature death rates due to non-communicable diseases. The methods used are anthropometric measurements, short interviews, education, and knowledge tests. The results of hypertension education activities which were measured through pre-test and post-test using statistical calculations did not show significant differences in knowledge. Although the results did not show a difference in knowledge scores, there was an increase in the range of knowledge scores on hypertension. In general, the knowledge of the GKI Terate congregation regarding the topic of hypertension is in the reasonably good category. Follow-up efforts still need to be carried out through regular education to increase promotive and preventive measures to control hypertension in the future.
KORELASI USIA DENGAN PENGETAHUAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL PADA SUATU KOMUNITAS LGBT (LESBIAN, GAY, BISEXUAL DAN TRANSGENDER) DI JAKARTA Winata, Raymond; Chris, Arlends; Valdo, Louis; Saputera, Monica Djaja; Sidarta, Erick
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v4i2.35850

Abstract

Latar Belakang: Infeksi Menular Seksual (IMS) tetap menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama di kalangan populasi LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Pengetahuan adalah faktor protektif utama dalam pencegahan IMS, namun praktik yang tidak konsisten sering ditemukan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara usia dan tingkat pengetahuan mengenai IMS pada komunitas LGBT di Jakarta. Metode: Desain cross-sectional dan teknik purposive sampling digunakan dalam penelitian ini, data dikumpulkan dari 58 responden LGBT berusia ≥ 18 tahun melalui kuesioner daring, korelasi dianalisis menggunakan Spearman’s rank correlation. Hasil: Ditemukan korelasi positif signifikan antara usia dengan pengetahuan penyakit duh tubuh (r = 0,259; p = 0,049), pengetahuan seksual umum (r = 0,296; p = 0,024), dan pengetahuan HPV (r = 0,259; p = 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa individu usia lebih tua cenderung memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Sebaliknya, tidak ditemukan korelasi signifikan antara usia dan pengetahuan tentang HIV (r = –0,037; p = 0,784), yang mungkin disebabkan oleh meratanya informasi HIV akibat intensitas kampanye global. Kesimpulan: Penelitian ini menegaskan usia berkorelasi positif dengan pengetahuan IMS secara umum pada komunitas LGBT. Intervensi edukatif berbasis usia sangat diperlukan untuk meningkatkan literasi kesehatan seksual, khususnya pada kelompok usia muda.
PERBEDAAN TEKNIK CUCI TANGAN PAKAI SABUN DI KALANGAN MAHASISWA: DIFFERENCES IN HANDWASHING WITH SOAP TECHNIQUES AMONG UNIVERSITY STUDENTS Sabriya, Ayesha Azwa; Chris, Arlends
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 25 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v25i1.1076

Abstract

Cuci tangan pakai sabun (CTPS) merupakan salah satu indikator penting dalam perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang efektif mencegah penularan penyakit seperti diare dan ISPA. Namun, tingkat kepatuhan terhadap praktik CTPS yang benar masih rendah, termasuk di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan teknik CTPS antara mahasiswa kedokteran dan non-kedokteran. Penelitian dilakukan dengan desain analitik observasional potong lintang pada 75 mahasiswa di Jakarta menggunakan instrumen checklist CTPS sesuai standar World Health Organization (WHO). Data dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney. Hasil menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan teknik CTPS antar jurusan (p<0,001), dengan mahasiswa kedokteran memiliki nilai teknik CTPS tertinggi dibandingkan mahasiswa eksakta dan sosial. Uji lanjutan juga menunjukkan perbedaan signifikan antara kedokteran dengan eksakta (p=0,001) dan sosial (p=0,000), tetapi tidak terdapat perbedaan signifikan antara mahasiswa eksakta dan sosial (p=0,171). Simpulan dari penelitian ini adalah mahasiswa kedokteran memiliki penguasaan teknik CTPS yang lebih baik, didukung oleh pemahaman dan pelatihan yang lebih intensif. Temuan ini menunjukkan pentingnya edukasi teknik CTPS yang tepat untuk meningkatkan perilaku higienis di kalangan mahasiswa dan masyarakat luas.
Edukasi hiperkolesterolemia bagi Jemaat GKI Terate Jakarta Barat Chris, Arlends; Valdo, Louis; Saputera, Monica Djaja; Sidarta, Erick
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 1 (2026): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v%vi%i.35861

Abstract

Abstrak Hiperkolesterolemia merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit jantung koroner dan stroke yang prevalensinya terus meningkat di Indonesia, khususnya pada kelompok lanjut usia. Berdasarkan hasil survei internal Gereja Kristen Indonesia (GKI) Terate Jakarta Barat, ditemukan banyak jemaat dengan faktor risiko tinggi mengalami hiperkolesterolemi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan jemaat GKI Terate mengenai hiperkolesterolemia melalui edukasi dan pemeriksaan kadar kolesterol total. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan kesehatan, pre-test dan post-test, serta pemeriksaan kolesterol total menggunakan alat EasyTouch GCU meter. Kegiatan diikuti oleh 21 peserta, dan hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada skor pengetahuan sebesar 45,1% dari 67,62 menjadi 98,10. Selain itu, 100% peserta memberikan umpan balik positif terhadap kegiatan. Rata-rata kadar kolesterol total dari 14 peserta yang diperiksa adalah 166,93 mg/dL, sebagian besar masih dalam rentang normal. Edukasi ini terbukti efektif meningkatkan pemahaman peserta tentang hiperkolesterolemia serta diharapkan dapat mendorong perubahan gaya hidup sehat guna menurunkan risiko penyakit kardiovaskular di kalangan jemaat. Kata kunci: hiperkolesterolemia; edukasi; lansia; pengabdian kepada masyarakat Abstract Hypercholesterolemia is one of the main risk factors for coronary heart disease and stroke, with a steadily increasing prevalence in Indonesia, particularly among the elderly population. Based on an internal survey at the Indonesian Christian Church (GKI) Terate, West Jakarta, many congregants were found to have risk factors associated with hypercholesterolemia. This community service activity aimed to improve congregants’ knowledge of hypercholesterolemia through health education and total cholesterol screening. The methods included health counseling, pre-test and post-test knowledge assessments, and total cholesterol examination using an EasyTouch GCU meter. The activity involved 21 participants, and results showed a significant 45.1% increase in knowledge scores, rising from 67.62 to 98.10. Additionally, 100% of participants provided positive feedback. The average total cholesterol level among 14 tested participants was 166.93 mg/dL, mostly within the normal range. The education program effectively enhanced participants’ understanding of hypercholesterolemia and is expected to promote healthier lifestyle changes to reduce cardiovascular disease risk among the congregation Keywords: hypercholesterolemia; education; elderly; community service program