Claim Missing Document
Check
Articles

TEORI HUMANISTIK DALAM MULTIMEDIA PEMBELAJARAN BILANGAN BULAT Mita Hapsari Jannah; Suyoto Suyoto
Jurnal Karya Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2018): Jurnal Karya Pendidikan Matematika Volume 5 Nomor 2 Tahun 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.447 KB) | DOI: 10.26714/jkpm.5.2.2018.68-75

Abstract

This study aims to develop elementary V class multimedia based on humanistic theory on integer competencies that is valid, practical, and effective. The development model is a 4D (define, design, development, disseminate) model. In the define stage there are interviews and observations to study the curriculum and the needs of teachers and students. In the design stage, draft I multimedia was designed using Adobe Flash Player. In the development stage, draft I is valid based on questionnaires from media and  material expert validators. Furthermore, the results of field notes and student and teacher response questionnaires indicate that draft II is practical. Then drat III was tested by independent t-test which resulted that draft III is effective. Draft III developed into a final product which was then disseminated at the disseminate stage with the delivery of products to teachers, training of teachers, and publications in national journals.
Desain dan implementasi Sistem Komunikasi Wireless Pada SBC Alix3d2 Suyoto Suyoto; Ana Heryana; Ferdian Yunazar
INKOM Journal Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian Informatika - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/j.inkom.90

Abstract

Pada penelitian ini dilakukan perancangan dan implementasisistem komunikasi Wireless pada SBC (Single Board Computer) untuk sistem komunikasi stasiun cuaca. SBC yang digunakan adalah Alix3d2 dan Embedded linux yang digunakan adalah linux debian yang di bangun oleh komunitas embedded linux yang berawal dari uClinux, yaitu linux untuk prosesor tanpa Memory Management Unit (MMU) yang kemudian diambil library-nya yaitu uClibc sebagai pengganti libc yang lebih kecil ukurannya untuk native linux pada system minimalis dengan prosesor yang memiliki MMU. Selain library, beberapa fungsi native linux di gabungkan oleh Busybox, sehingga ukuran aplikasi menjadi lebih kompak. Hasil dari perancangan diimplementasikan pada Alix3d2 board. Kata Kunci : MMU, SBC, dan uCLinux.
Perancangan dan Implementasi Mapper dan Demapper untuk DVB-T Suyoto Suyoto; Agus Subekti; Arif Lukman
INKOM Journal Vol 5, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian Informatika - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/j.inkom.152

Abstract

Pada penelitian ini dilakukan perancangan dan implementasi mapper dan demapper untuk DVB-T (Digital Video Broadcaster-Terrestrial). Mapper digunakan untuk memetakan deretan bit digital kedalam symbol-simbol OFDM yang akan masuk ke IFFT, sedangkan demapper digunakan untuk memetkan simbol-simbol OFDM yang keluar dari FFT ke dalam deretan bit digital. Mapper dan demapper menggunakan konstelasi 16 QAM (Quadrature Amplitude Modulation). 4 bit digunakan untuk memetakan setiap simbol OFDM. Perancangan dilakukan dengan menggunakan ISE 9.2i Xilinx. Hasil dari perancangan diimplementasikan pada virtex-4 development board.
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI TEKNIK DEBAT PADA SISWA KELAS XI SMA IBU KARTINI SEMARANG TAHUN AJARAN 2010/2011 Suyoto Suyoto; Larasati Larasati; Siswanto Siswanto
Media Penelitian Pendidikan : Jurnal Penelitian dalam Bidang Pendidikan dan Pengajaran Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.221 KB) | DOI: 10.26877/mpp.v5i1 juni.443

Abstract

Kemampuan berbicara di kalangan siswa masih relatif rendah. Rendahnya kemampuan berbicara ini juga dialami oleh siswa SMA Ibu Kartini Semarang. Sikap malu, takut, dan kurang percaya diri senantiasa melingkupi siswa. Hal tersebut disinyalir karena rendahnya kreativitas?é?á guru dalam menentukan teknik pembelajaran berbicara. Fenomena ini merupakan permasalahan yang menuntut segera dicari penyelesaiannya.?é?á Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan menerapkan teknik debat dalam pembelajaran kemampuan berbicara. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui peningkatan kemampuan berbicara siswa kelas XI SMA Ibu Kartini Semarang melalui pembelajaran dengan teknik debat dan (2) mendeskripsikan perubahan perilaku siswa kelas XI SMA Ibu Kartini setelah diberikan pembelajaran keterampilan berbicara dengan teknik debat. Penelitian ini adalah penelitian berbasis kelas. Dengan demikian, metode yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas yang meliputi dua siklus. Data penelitian diambil melalui tes dan nontes. Alat pengambilan data nontes yang digunakan adalah pedoman observasi, wawancara, jurnal siswa, jurnal guru, dan dokumentasi foto. Adapun data tes yaitu berupa penilaian kemampuan berbicara dalam kegiatan debat. Selanjutnya data dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan analisis data penelitian, disimpulkan bahwa melalui pembelajaran dengan teknik debat, kemampuan berbicara siswa sebesar 7,12% dengan nilai rata-rata siswa sebesar 68.20% pada siklus I dan nilai rata-rata siswa?é?á 75.43% pada siklus II. Adapun perubahan perilaku yang ditunjukkan siswa yaitu siswa semakin aktif dan antusias dalam belajar, berani mengemukakan pendapat, dan percaya diri berbicara di depan forum resmi.Kata Kunci: keterampilan berbicara, pembelajaran berbicara, teknik debat
FUNGSI DAN PERAN KATA BERPREFIKS MENG- DALAM KALIMAT BAHASA INDONESIA Siswanto PHM; Suyoto Suyoto; Larasati Larasati; Arisul Ulumuddin
Sasindo Vol 1, No 1 Januari (2013): SASINDO
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/sasindo.v1i1 Januari.427

Abstract

Pembahasan prefiks meng- yang dilakukan oleh Alisjahbana (1948), Mess (1957),Wojowasito ( 1978), Ramlan (1981), Kridalaksana (1987, 1990) mempersoalkan pembentukan kata,karakteristik, dan kategori kata. Pembahasan yang dilakukan baru menyangkut konsep dan kriteriapenggolongan kata. Pembahasan kata berprefiks meng- sebagai unsur pusat di dalam relasiparadigmatik belum maksimal.Dengan demikian, masalah yang menyangkut fungsi dan peran kataberprefiks meng- dalam bahasa Indonesia penting untuk diteliti. Dengan penelitian tentang fungsidan peran kata berprefiks meng- diharapkan menjadi lebih mendalam.Pendekatan yang digunakandalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif. Untuk membuktikan adanya prefiks mengpembentukverba yang berfungsi dan berperan dalam penataan kalimat, digunakan juga pendekatanword and paradigm (WP) dengan memanfaatkan teori struktural.Data penelitian ini mencakupi datatulisan dan data lisan yang berasal dari pemakaian bahasa Indonesia pada kurun waktu 2000 sampai dengan 2011. Data tulis dikumpulkan dengan teknik dasar penyadapan dan teknik lanjutanpencatatan, sedang data lisan dijaring melalui teknik konfirmasi dan teknik wawancara. Dalampenelitian ini akan dilakukan kajian pada setiap bentuk berprefiks meng- pembentuk verba akandikaitkan fungsi, makna gramatikal, dan perannya. Dengan cara kerja ini akan diketahui adanyakata berprefiks meng- yang memiliki fungsi, makna, dan peran yang berbeda-beda.Ketransitifanprefiks meng- + (-kan) bermakna: a) melakukan aktivitas kegiatan yang dinyatakan oleh kata dasar,berfungsi P, berperan perbuatan aktif, serta berobjek, b)) ketransitifan prefiks meng- + -kanbermakna melakukan aktivitas kegiatan yang dinyatakan oleh kata dasar (benefaktif)), berfungsi P,berperan perbuatan aktif, serta berobjek (dan berpelengkap); 2) ketaktransitifan prefiks mengbermakna:a) menjadi, b) menyerupai, c) makan/minum, d)) menuju, e) mencari/mengumpulkan,dan berfungsi P, dan berperan keadaan, serta nomor 2.a) sampai dengan 2.i)) tidak memiliki sasaran(objek).Kata Kunci: Prefiks meng-, Fungsi, Peran
Perancangan Model Konseptual Penggunaan Dan Penerimaan Media Sosial Untuk M-Bisnis Basilius Agung Widya Wirawan; Suyoto Suyoto; A. Djoko Budiyanto
Jurnal Sistem dan Informatika (JSI) Vol 11 No 2 (2017)
Publisher : Bagian Perpustakaan dan Publikasi Ilmiah - Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) STIKOM Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dunia bisnis sudah merambah segala dimensi. Begitupun teknologi yang dijadikan sebagai alat bantu bahkan ujung tombak dalam usaha pemasaran dan operasional. Saat ini banyak perusahaan yang menggunakan media sosial namun sebatas untuk memperkenalkan merk. Hubungan dengan pelanggan adalah salah satu kunci kesuksesan sebuah organisasi. Di Indonesia, media sosial menduduki peringkat tertinggi penggunaan internet dan ini menjadi peluang yang sangat besar bagi para pelaku bisnis untuk dapat memanfaatkan situasi dengan strategi yang tepat. Penelitian ini dilakukan dengan metode studi literatur dengan mengkaji penelitian-penelitian terdahulu yang membahas mengenai pemanfaatan teknologi khususnya media sosial dari segi penerimaan dan juga penggunaannya. Teori mengenai Customer Relationship Management yang telah berkembang menyentuh ranah media sosial dan semakin dekat dengan teori penerimaan teknologi pun dijadikan bahan penelitian. Penelitian ini menghasilkan sebuah rancangan model konseptual untuk dapat dipakai mengukur tingkat penggunaan dan penerimaan konsumen terhadap media sosial untuk strategi m-bisnis dimana Technology Acceptance Model yang dikolaborasikan dengan Social Customer Relationship Management tersusun atas variabel familiarity, care, information sharing, critical mass, enjoyment, perceived trust-worthiness, perceiveid usefulness, perceived ease of use, attitude toward usage, behavioral intention, dan actual use yang berdasarkan penelitian terdahulu dinilai banyak mempengaruhi penggunaan media sosial
KONDISI KLENÈNGAN GAYA SURAKATA DI WILAYAH SOLO RAYA (2000-2017) Suyoto suyoto
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 17, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (782.765 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v17i2.2390

Abstract

AbstractThis research focuses on the condition of Surakarta style karawitan that is performed independently, also known as klenèngan, in the Greater Solo district. The research uses a musicological perspective and analyzes various aspects related to an ideal klenèngan performance. In accordance with the developments in the present era, the condition of klenèngan in the Greater Solo district has experienced a significant development in terms of its quantity. From the point of view of quality, aspects such as form, packaging of gending, and concept of patet are given insufficient attention in the performance of klenèngan in the Greater Solo district, and as a result, an ideal klenèngan performance has not been achieved. The results of this research show that in order to achieve an ideal klenèngan performance, there are a number of determining criteria, such as: (1) condition of the gamelan, (2) place and position of the gamelan, (3) sufficient number of musicians, (4) time, (5) continuity of performance, and (6) weather.  Keywords: gamelan, klenèngan, ideal. Abstrak Penelitian ini difokuskan pada kondisi karawitan gaya Surakarta yang bersifat mandiri yang disebut klenèngan, di wilayah Solo Raya. Penelitian ini  menggunakan perspektif musikologis, dengan menganalisis berbagai aspek berkaitan dengan penyajian klenèngan yang ideal. Sesuai dengan perkembangan zaman kondisi sajian klenèngan di wilayah Solo Raya dalam kehidupannya dari tahun ke tahun secara kuantitas telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan.  Sajian klenèngan di wilayah Solo Raya,  pada umumnya secara kualitas terutama bentuk, kemasan gending, konsep patet kurang diperhatikan, sehingga  tidak  dicapai sajian klenèngan yang ideal.  Hasil penelitian ini ditemukan bahwa untuk mencapai sajian klenèngan yang ideal terdapat beberapa kreteria antara lain, (1) kondisi gamelan, (2) tempat dan posisi gamelan, (3) kelengkapan pengrawit, (4) waktu, (5) kelancaran sajian, dan (6) cuaca. Kata Kunci: gamelan, klenèngan, ideal
REAKTUALISASI GARAP MUSIK KESENIAN PENTHUL MELIKAN DI DUSUN MELIKAN DESA TEMPURAN KABUPATEN NGAWI Wahyu Paramita Jati; Suyoto Suyoto
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 18, No 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.18 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v18i1.2395

Abstract

Abstrak “ Reaktualisasi Garap Musik Kesenian Penthul Melikan Di Dusun Melikan Desa Tempuran Kabupaten Ngawi” pada dasarnya membahas garap musik kesenian Penthul Melikan Kabupaten Ngawi setelah mengalami perubahan yang kemudian disebut Reaktualisasi.Inti permasalahan yang diungkap dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana bentuk garap musik pada kesenian Penthul Melikan di Dusun Melikan, Desa Tempuran, Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi (2) Faktor penyebab perubahan musik pada kesenian Penthul Melikan di Dusun Melikan, Desa Tempuran, Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, meliputi observasi, pengumpulan data, dan analisis data.Penelitian ini menggunakan teori, konsep-konsep, dan pemikiran dari beberapa tokoh. Landasan konseptual Reaktualisasi menurut Geriya bahwa adanya proses transformasi dalam perubahan bentuk dan fungsi namun tetap dalam esensi spesiesnya. Teori kreativitas diungkapkan Munandar, bahwa manusia yang memiliki kreativitas sehingga mampu untuk menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada, dari yang sudah ada menjadi lebih baru lagi. Penelitian ini juga menggunakan teori perubahan yang ditawarkan Boskoff ketika mengupas tentang perubahan atau pembaharuan, yang pada dasarnya disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Teori garap Supanggah, bahwasanya Reaktualisasi musik pada kesenian Penthul Melikan terdapat beberapa unsur garap meliputi; (1) materi garap, (2) penggarap, (3) sarana garap, (4) perabot garap, (5) penentu garap, dan (6) pertimbangan garap.Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa ada pengaruh positif terhadap kesenian Penthul Melikan setelah mengalami reaktualisasi, adanya perubahan garap dan bentuk baru pada kesenian Penthul Melikan yang kemudian dinamakan Ganongan Melikan, membuat kesenian Penthul Melikan dengan bentuk dan garap yang lama kembali dikenal masyarakat dan semakin berkembang.Kata kunci: Reaktualisasi, Garap, Kesenian Penthul Melikan.Abstract“A reactualisation of the musical style of Penthul Melikan in Dusun Melikan, Desa Tempuran, Ngawi Regency” is a discussion of the musical style found in the Penthul Melikan performance which has changed through a process Geriya terms “reactualisation”. This research explores the following issues: 1) What is the musical style of Penthul Melikan in Dusun Melikan, Desa Tempuran, located within the Paron sub-district of the Ngawi Regency, as well as 2) the factors that changed the music of this art form. This qualitative research uses qualitiative methods including observation, data collection and data analysis. This research employs the theories, concepts and ideas of several figures. Geriya’s Reactualisation involves, as its foundation, a transformation within the art form in formal and functional qualities while nonetheless retaining the essence of its species. Munandar’s theory of creativity explores the human ability to create something from nothing, and the new from the currently existing. Change and renewal are discussed through Boskoff’s theory of change which focuses on internal and external factors. Supanggah’s theory of garap, which discusses the musical materials and tools at the disposal of the musicians is also relevant to studying the reactualisation of Penthul Melikan.The findings suggest that reactualisation has had a positive effect on Penthul Melikan, which later became known as Ganongan Melikan. This has allowed the former style of Penthul Melikan to re-enter its community and develop further.Keywords: Reactualisation, Garap, Penthul Melikan
NGELIK SILIHAN DALAM KARAWITAN GAYA SURAKARTA Uni Ambarwati; Suyoto Suyoto
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 19, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1629.467 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v19i2.3075

Abstract

This study examines ngelik silihan in Surakarta style music. The problems revealed in this study are (1) How can ngelik in Surakarta style music, (2) Why does the Eling-eling ladrang dish generally use ngelik?, (3) Any factors that support a loan of ngelik silihan. This research is a qualitative research, data obtained from literature studies, observations, and interviews. The theory used as the basis for analyzing in accordance with the formulation of the problem is the creativity theory by Wallas about the process of creativity, and the theory of musical interaction by Benjamin Briner about musical interactions that occur in gending, and the theory of melodic contour by Judith Bekker about the melody flow obtained in theory worked on by Rahayu Supanggah, in the theory of the melodic contour it can emphasize the problem of the melody flow in the interconnected selection. The results of this study found that the use of ngelik silihan there are three factors, namely: 1. Shifting the function of the presentation, 2. Creativity of the artists. The use of ngelik silihan with consideration of the same melodic and song gong grooves, so that it is aligned with the borrowed portion of the loan, 3. Pathet factors for the lending and borrowed selection. In addition there is a historical statement that the Pangkur ladrang borrowed the Eling-eling ladrang. Information on the artist community that the Eling-eling ladrang borrowed the Pangkur ladrang, the reasons are: 1. Recognition of the perpetual artists acquired, 2. Manuscripts in the Mloyowidodo notation book, 3. Commercial cassette tapes which first popularized the Eling-ladrang ladrang from at Pangkur ladrang.Keywords: Ngelik, Silihan, Song, Sèlèh, Gending.
FLEKSIBILlTAS MUSIKAL SULUKAN GAYA SURAKARTA Suyoto Suyoto
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 4, No 1 (2004)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4680.787 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v4i1.575

Abstract

Wayang kulit is a representation of human life since the birth  until the death which is presented in patMt (musical concept or  musical atmosphere). Sulukan is an important medium and it is the  "soul" of the performance. Sulukan is divided into three: patMtan  (songs of the puppeteer accompanied by small gamelan ensemble),  senanon (the same genre as sulukan with specific musical effect), and  ada-ada (songs of the pupetteerto present tense atmospheres). Texts  used in sulukan are tembang gedhe (songs with long phrases),  tembang tengahan (songs with medium phrases), and tembang  macapat (songs with short phrases), those are different from other  songs. For that reason, the structure of sulukan is like that of  tembang in which rules are used. In sulukan there is kombangan  (songs with "vocal" expression rather than consonant) usually with the  word (long. " The kombangan becomes the special character of the  wayang kulit. Musically speaking, the kombangan is the "intermission"  between phrases. The texts relate to the social life and they are  contained in the texts of the sulukan; the contents of the sulukan are:  education of life, ethics, and mysticism in Javanese life.Keywords: Sulukan, fleksible musical, wayang kulit.