Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : JURNAL SPASIAL

REVIEW: PRODUKTIVITAS AIR DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR PERTANIAN DI INDONESIA Farida, Farida; Dasrizal, Dasrizal; Febriani, Trina
Jurnal Spasial Vol 5, No 3 (2018)
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.875 KB) | DOI: 10.22202/js.v5i3.3161

Abstract

Sumber daya air memiliki peran yang besar bagi sektor pertanian. Air sebagai renewable resources digunakan untuk memenuhi produksi pertanian. Peningkatan produktivitas air pertanian memiliki peran yang penting dalam menghadapi kelangkaan dan kopetisi penggunaan sumber daya air, pencegahan terhadap kerusakan lingkungan dan ketahanan pangan. Tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana kuantitas dan produktivitas sumber daya air pertanian di Indonesia secara umum. Berdasarkan data luas pertanian Indonesia tahun 2009-2013, luas sawah irigasi di Indonesia mencapai 4,81 juta Ha setara dengan laju peningkatan 9%. Apabila sawah irigasi ini dibandingkan dengan luas baku irigasi sebesar 12.335.832 Ha, maka persentase sawah irigasi hanya sekitar 38%, kondisi ini menggambarkan bahwa pemanfaatan air irigasi masih relatif rendah. Dilihat dari hasil data ketersedian air yang ada di 7 pulau-pulau besar yang ada di Indonesia Pulau Jawa mengalami permasalahan paling tinggi  dimana terlihat dari tingginya tingkat kebutuhan air tidak sebanding dengan ketersediaan air yang ada, sehingga akan berdampak kepada ketahanan pangan dan juga kondisi kesejahteraan masyarakat khususnya petani, dengan hal tersebut ada strategi dalam  dalam upaya peningkatan  penyediaan air dan produktivitas air yaitu dengan cara konservasi ekosistem hidrologis daerah aliran sungai (DAS), peningkatan efisiensi pemanfaatan air pertanian, redistribusi aset infrastruktur irigasi dengan mekanisme pendanaan dan insentif yang sesuai serta adanya harmonisasi antar sektor dan wilayahsetempat dalam pengelolaan sumber daya air pertanian.Water resources have a large role for the agricultural sector. Water as renewable resources is used to fulfill agricultural production. Increasing productivity of agricultural water has an important role in dealing with scarcity and competition in the use of water resources, prevention of environmental damage and food security. This paper aims to have a general view of quantity of agricultural water resources in Indonesia. Based on data on Indonesia's agricultural area in the year 2009-2013, irrigated paddy fields in Indonesia reached 4.81 million Ha, equivalent to the rate of 9% increase. If this irrigated rice field is compared to the irrigated raw area of 12,335,832 Ha, then the percentage of irrigated paddy fields is only around 38%, this condition illustrates that the utilization of irrigation water is still relatively low. Judging from the results of water availability data in 7 major islands in Indonesia that Java Island experiences the highest problems, which can be seen from the high level of water demand that is not proportional to the availability of water, so that it will affect food security and the condition of community welfare especially farmers, with this in mind there is an inner strategy in an effort to increase water supply and water productivity, namely by conserving watershed hydrological ecosystems , increasing efficiency of agricultural water utilization, redistributing irrigation infrastructure assets with appropriate funding mechanisms and incentives and harmonizing between sectors and regions in the management of agricultural water resources.
ANALISIS SPASIAL POLA PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN PERTANIAN (STUDI KASUS NAGARI CUBADAK) Rezki, S.Pd., M.Si, Afrital; Juita, Erna; Dasrizal, Dasrizal; Putra Ulni, Arie Zella
Jurnal Spasial Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1177.029 KB) | DOI: 10.22202/js.v4i2.3089

Abstract

Perkembangan penggunaan tanah secara spasial di Nagari Cubadak dibatasi oleh faktor fisik yang didominasi oleh kemiringan landai dan agak sedikit curam. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk  mengetahui dan menganalisis Penggunaan tanah dan Pola perubahan penggunaan tanah untuk pertanian secara spasial di Nagari Cubadak. Penelitian ini menggunakan metode yang dilakukan adalah metode interpretasi citra penginderaan jauh, metode survey, dan analisis deskriptif berbasis keruangan. Interpretasi citra penginderaan jauh dilakukan untuk mengetahui informasi jenis penggunaan lahan khususnya pertanian aktual dan tahun-tahun terdahulu berdasarkan nilai digital yang terekam pada data penginderaan jauh. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa, Penggunaan tanah di Nagari Cubadak bisa diklasifikasikan delapan (8) jenis penggunaan lahan yakni; Bangunan Umum, Fasilitas Olahraga, Kolam, Makam, Perumahan, Sawah, Tanah Kosong, Tegalan dan Tempat Ibadah. Kemudian, pengurangan penggunaan tanah 1990–2000 yang paling banyak terdiri dari penggunaan tanah tegalan dengan 91 kavling, paling banyak berubah menjadi perumahan sebanyak 75 kavling, kemudian pengurangan sawah dengan 25 kavling, paling banyak berubah menjadi tegalan dengan 35 kavling dan kolam 20 kavling dengan pengurangan 52 kavling.The development of spatial land use in Nagari Cubadak limited by physical factors which are dominated by sloping slopes and slightly steep. This research was conducted with the aim to find out and analyze land use and the pattern of changes in land use for agriculture spatially in Nagari Cubadak. This study uses the method used is the method of interpretation of remote sensing images, survey methods, and spatial-based descriptive analysis. Interpretation of remote sensing imagery is done to find out information on the type of land use, especially actual and previous years based on digital values recorded on remote sensing data. From this study it can be concluded that, Land use in Nagari Cubadak can be classified as eight (8) types of land use namely; Public Buildings, Sports Facilities, Swimming, Graves, Housing, Paddy Fields, Empty Land, fields and places of worship. Then, the reduction in land use from 1990 to 2000 which mostly consisted of the use of upland land with 91 plots, at most turned into housing lots of 75 plots, then reduced fields with 25 plots, most changed to moor with 35 plots and pools of 20 plots with subtraction 52 lots.
ANALISIS SPASIAL TINGKAT BAHAYA LONGSOR KOTA PADANG PANJANG SUMATERA BARAT Juita, S.Pd. M.Si, Erna; dasrizal, dasrizal; Zuriyani, Elvi
Jurnal Spasial Vol 5, No 3 (2018)
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.688 KB) | DOI: 10.22202/js.v5i3.3096

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode survey, Metode yang digunakan dalam tahap analisis tabuler adalah metode scoring berdasarkan hasil penelitian lapangan yang telah dilakukan. Setiap parameter penentu tingkat bahaya longsor diberi skor tertentu. Setiap unit analisis skor tersebut dijumlahkan dan hasil penjumlahan skor selanjutnya diklasifikasikan untuk menentukan tingkat bahaya longsor. wilayah Kota Padang Panjang terbagi atas 3 potensi rawan longsor yaitu: (1) Tingkat sedang, (2) Tingkat rendah dan (2) Tidak rawan. Bahaya Longsor tingkat sedang terdapat di sebagian Kelurahan Bukit Surungan, Pasar Usang, Koto Katik, Koto Panjang, Ganting, dan Sigando, dan Silaing Bawah. Pada Zona ini dapat terjadi longsor jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Untuk bahaya longsor tingkat rendah yaitu terdapat di hampir sebagian besar wilayah Kota Padang panjang, bisa dikatakan hampir 2/3 bagian Kota Padang Panjang digolongkan pada kawasan dengan tingkat bahaya longsor rendah. Dan untuk kawasan yang tidak rawan longsor terdapat di sebagian Kelurahan Ganting, Silaing Bawah, Silaing Atas, Kampung Manggis, dan Bukit Surungan. This research is a descriptive research with survey method, the method used in the tabular analysis stage is the scoring method based on the results of field research that has been done. Each parameter determining the level of landslide hazard is given a certain score. Each unit of score analysis is summed and the sum of the results of the next score are classified to determine the level of landslide hazard. The area of Padang Panjang City is divided into 3 potential landslide hazards, namely: (1) Medium level, (2) Low level and (2) Not vulnerable. Medium level landslide hazards are found in parts of Bukit Surungan, Pasar Usang, Koto Katik, Koto Panjang, Ganting, and Sigando, and Silaing Bawah. In this zone landslides can occur if the rainfall is above normal, especially in areas bordering river valleys, swamps, road cliffs or if the slopes experience interference. For low level landslide hazards, which are found in most parts of the city of Padang Panjang, it can be said that almost 2/3 of the city of Padang Panjang is classified as an area with a low level of landslide. And for areas that are not prone to landslides, there are some in Ganting, Silaing Bawah, Silaing Atas, Manggis, and Bukit Surungan.
MANAJEMEN DATA SPASIAL: PENGGUNAAN TANAH WILAYAH PEDESAAN DI SUMATERA BARAT Rezki, S.Pd., M.Si, Afrital; Juita, Erna; Dasrizal, Dasrizal; Putra Ulni, Arie Zella
Jurnal Spasial Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (910.306 KB) | DOI: 10.22202/js.v5i2.3090

Abstract

Perkembangan penggunaan tanah bergerak horisontal secara spasial ke arah wilayah yang mudah diusahakan. Penggunaan tanah juga bergerak secara vertikal dalam rangka menaikkan mutunya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola penggunaan lahan, bagaimana manajemen penggunaan lahan di satu wilayah berdasarkan batas Nagari. Metode yang digunakan adalah analsisis spasial dengan interpretasi citra penginderaan jauh, survey lapangan, dan analisis deskriptif. Pertumbuhan pemukiman Nagari Sungai Sariak Kecamatan VII Koto Kabupaten Padang Pariaman mengakibatkan pemanfaatan ruang menjadi tumpang tindih. Diperlukan cara-cara pengelolaan dan managemen penggunaan tanah dalam rangka pembangunan berkelanjutan yang menaikkan taraf hidup masyarakat dan tidak menimbulkan kerugian lingkungan.Terdapat 9 jenis penggunaan lahan yang ada di Nagari Sungai Sariak. Penggunaan lahan tersebut adalah Primary Forest, Secondary Forest, Paddy Field, Settlement, Mixed Plantations, Crop Fields, Water Bodies, Bushes, dan Plantations. Penggunaan lahan yang paling luas di Nagari Sungai Sariak adalah jenis penggunaan lahan Primary Forest, sebesar 48% dari total luas wilayah Nagari Sungai Sariak. Pada tahun 2011 sampai tahun 2016, penggunaan lahan paling luas terjadi pada penggunaan lahan jenis Primary Forest yang kemudian menjadi Mixed Plantations. Land use Changes moved horizontally spatially towards areas that are easily cultivated. The land use also moves vertically in order to increase its quality. This study aims to analyze land use patterns, how land use management in one area is based on Nagari boundaries. The method used is spatial analysis with interpretation of remote sensing images, field surveys, and descriptive analysis. The growth of Nagari Sungai Sariak in Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman resulted in overlapping use of space. Management methods are needed and management of land use in the framework of sustainable development that raises the standard of living of the community and does not cause environmental losses. There are 9 types of land use in the Nagari Sungai Sariak. The land uses are Primary Forest, Secondary Forest, Paddy Field, Settlement, Mixed Plantations, Crop Fields, Water Bodies, Bushes, and Plantations. The most extensive land use in Nagari Sungai Sariak is the type of Primary Forest land use, amounting to 48% of the total area of the Nagari Sungai Sariak. From 2011 to 2016, the most extensive land use occurred in Primary Forest land uses which later became Mixed Plantations.
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Afdi Rahman Aulia Afrina Nengsih Afrital Rezki Akmal, Fauzi Amin, Visal Angel Angel Arfen Azizah, Isnel Arie Zella Putra Ulni Aslan Sari Thesiwati Asri Afrilliany Surbakti Aulia Rahmat Bangun, M. Afifuddin Br Purba, Junianty Dahnita Darmiyus Yulita Datres, Datres Desi Hasrilia Yanti Desi syefriani Diki Nopriadi Elvi Zuriyani Engkizar, Engkizar Erna M.Si Juita S.Pd Fahreza, Febriano Febriani, Afifah Febriani, Trina Ferawati Ferawati Filsa Mayalisa Fransiska, Nia Hafizzullah, Hafizzullah Harefa, Mei Brilian Hasnah, Deliza Nur Helni Januarti Hendri, Sufrial Ibrahim, Mohd Hairy Inda Prawita Irda Rafika Iswandi U Jaafar, Azhar Junaidi Junaidi Khairat, Hanivatul Leni Zahara M. Hidayat Ediz Maivanorita Maivanorita Mardianti Peranita Masuwd, Mowafg Abrahem Maulida Hania Mei nesti four ningsih Mira Sri Yanti MMSI Irfan ,S. Kom Mualim, Sadri Husnul Muhammad Taufan Muhararisa, Adilla Mutathahirin, Mutathahirin Nana Sutrisna Nefilinda Nefilinda Nofriani, Desi Nova Andrajani Nova Efrianti Novri Yani Asmi Nuraiman, Nuraiman NURLIANA NURLIANA Oktavia, Gifa Prahantas, Rinel Putri, Puput Sapti Putri, Rahma Hidayah Rahma Wira Nita Rahman, Ikhwan Ratna Dewita Refa, Candika Riana Yori Rika Despica RINEL MA FITLAYENI S.Sos Rio Nopiardi Rizalitaher, Alif Saum Rusli Zarkasyi, Ramzy Saidi, Nuha Sufina Binti Sandra, Heru Kartika Sari, Yoli Permata Sitorus, Nurul Adha Sulastri, Widia Suryadi Suryadi Syefrina Syefrina Tarigan, Hosea Tilawati Tilawati Timoti, Sandros Vela Mayasari Vivi Citra Yuselvia Wahyu Widodo Widya Prari Keslan Widya Prari Keslan Widya Prarikeslan Yeni Erita Yuherman Yuherman Yulid Darista Yusrial Yusrial Zul Atmi Zulfadli Zulfadli Zulkefli, Nur Akashah Binti Zusmelia Zusmelia