Sus Derthi Widhyari
Divisi Penyakit Dalam, Departemen Klinik, Reproduksi, Dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor Jl Agathis, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680

Published : 43 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Pengimbuhan Kunyit dan Seng Oksida dalam Pakan Meningkatkan Kemampuan Ayam Pedaging dalam Mengeliminasi Tantangan Infeksi Escherichia coli (SUPPLEMENTATION CUCURMIN AND ZINC OXIDE INCREASE THE ABILITY OF BROILER CHICKENS IN ELIMINATING ESCHERICHIA COLI CH Sus Derthi Widhyari; Ietje Wientarsih
Jurnal Veteriner Vol 15 No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.967 KB)

Abstract

This study aims to determine the effect of the feed additive (zinc and herbs) in leucocyte profiles,performance, and observe the ability of broiler on E. coli challenge. A total of 160 chickens were dividedinto four groups: Group K-control negativewere given basal diet; Group two were given fed basal, turmeric1.5% + ZnO 180 ppm; Group two were given fed basal, garlic powder 2.5% + Zn0 180 ppm; and group K+ weregiven basal diet and treatment with antibiotics. At the age of three weeks all groups were challenged orallyby inoculation with E.coli at dose of 108CFU/mL. Observed parameters include performance (weight gain,consumption) and total leukocytes. Weight gain, consumption were observed at one to five weeks of age,whereas blood samplings for the examination of leukocytes were performed at week three (pre infection),week four and five (one week and two weeks after infection with E.coli). The results showed that thechicken body weight from age one to three weeks was increased sharply. One week after infection weightloss seemed to be decreased. The largest decrease was observed in the group given the combination ofgarlic-Zn, while providing a combination of curcumin-Zn shows that the weight tends to increase. Rationconsumption showed the same pattern as body weight. The highest consumption at the end of the studywas found in the group given the combination of curcumin - Zn, the lowest was in the garlic-Zn. Highleukocyte cells level at one week post infection, showing an animal in a state of infection and the leucocytedecreasing again at two weeks post infection. The conditions indicate the ability of chickens in eliminatinginfectious agents. These results explain the combination of curcumin-Zn showed the best results comparedwith other treatments. Providing supplementation of curcumin - Zn on chicken improved the ability toeliminate E.coli, leukocyte cell profile, and performance.
Profil Leukosit Serta Imbangan Neutrofil dan Limfosit pada Kambing Peranakan Etawah yang Sedang Bunting Sus Derthi Widhyari; Setyo Widodo; I Wayan Teguh Wibawan; Anita Esfandiari; Chusnul Choliq
Jurnal Veteriner Vol 21 No 4 (2020)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2020.21.4.581

Abstract

This research aimed to determine the profiles of total leukocytes and neutrophil -lymphocyte ratio (N/L) in pregnant etawah crossbreed goats. Six etawah crossbreed goats around 3-6 years old and body weight around 30-50 kg were used in this study. Blood samples were taken from jugulars vein in non pregnant (K), and at gestational age 12, 14, 16 and 18 weeks. Blood is inserted into a tube that containsEDTA (Ethylene Diamine Tetraacetic Acid) anticoagulant to obtain whole blood. Whole blood were analyzed to total leukocyte cells and leukocyte types. The results showed that total leukocytes profiles tend to increase during pregnancy. Lymphocytes stable until 16 weeks of pregnancy and tends to decrease at the end of pregnancy. The N/L ratio increase at the end of pregnancy, this condition indicates an increase in the number of neutrophils accompanied by decreased lymphocyte cells and can be found in etawah crossbreedat 18 weeks of gestation.
Suspect feline infectious peritonitis pada kucing Sus Derthi Widhyari; Bayu Firmala Kusuma; Setyo Widodo; Anita Esfandiari; Retno Wulansari; Leni Maylina
ARSHI Veterinary Letters Vol. 2 No. 1 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2018
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.059 KB) | DOI: 10.29244/avl.2.1.15-16

Abstract

Feline infectious peritonitis (FIP) adalah penyakit menular akibat infeksi corona virus dan dapat berakibat kematian. Diagnosa FIP dijumpai pada seekor kucing  dengan gejala anoreksia, lemas, perut membesar dan diare. Hasil pemeriksaan abdomen menunjukkan adanya undulasi positif diduga akibat penimbunan cairan di rongga abdomen. FIP tipe ini dijumpai adanya akumulasi cairan dalam rongga perut dan menyebabkan terjadinya pembesaran daerah abdomen dan disertai kesulitan bernafas. Berdasarkan pemeriksaan klinis dan laboratories, kucing di diagnosa mengalami suspect Feline Infectious Peritonitis (FIP) tipe basah. Perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk lebih meneguhkan diagnosa, seperti uji serologis, radiografi, dan ultrasonografi.
Suspect cushing’s syndrome pada kucing Hammada Raudlowi; Sus Derthi Widhyari
ARSHI Veterinary Letters Vol. 4 No. 2 (2020): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2020
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1060.169 KB) | DOI: 10.29244/avl.4.2.27-28

Abstract

Cushing’s syndrome yaitu sindrom klinis yang disebabkan kelebihan sekresi kortisol oleh kelenjar adrenal. Keluhan pemilik hewan kucing adalah adanya kebotakan dibagian perut kanan dan kiri, sering minum, dan sering urinasi. Temuan klinis adalah pembesaran abdomen seperti ‘pot-bellied’, polidipsia, poliuria dan alopecia bilateral pada bagian abdomen. Diagnosa penunjang melalui pemeriksaan ultrasonografi. Diagnosa banding adalah hipotiroid, pankreatitis dan dermatophytosis. Prognosa fausta sampai dubius. Terapi yang diberikan adalah pemberian mitotane dan ketoconazole
Mastektomi pada kambing peranakan etawa (Capra aegagrus hircus) Gunanti Soeyono; Sus Derthi Widhyari; Selma Laily Nur Afifah; Shavrillia Inovanny Angesti; Intan Khoirunnisa; Irda Khaeriyah; Riana Nurul Maulani; Beata LYL Ayu
ARSHI Veterinary Letters Vol. 4 No. 2 (2020): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2020
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (960.378 KB) | DOI: 10.29244/avl.4.2.29-30

Abstract

Kambing betina peranakan etawa berumur 3 tahun diperiksa dengan gejala ada pembesaran di kelenjar mamaria. Anamnesis kambing sudah beranak 5 kali, setiap beranak 1-2 ekor dan anaknya selalu mati. Air susu induk tidak keluar walaupun terlihat ada pembesaran kelenjar mamaria. Pemeriksaan klinis menunjukkan ada pembesaran salah satu kelenjar mamaria. Diagnosis kambing tersebut menderita tumor mamaria. Hasil pemeriksaan laboratorium sebelum operasi menunjukkan gambaran hematologi masih dalam keadaan normal meskipun Hb normal rendah dan platelet rendah. Setelah operasi menunjukkan peningkatan neutrophil, monosit, dan kadar hemoglobin. Operasi masektomi berhasil dengan baik dan kondisi hewan setelah operasi memperlihatkan nafsu makan dan minum baik. Terjadi peningkatan gambaran RBC dan Hb sehingga kambing dilanjutkan perawatan sampai pulih kembal
Peran Bone Marrow Mesenchymal Stem cells (BMMSC) dalam Perubahan Seluler Hyperplasia Kelenjar Adrenal Tikus Hipertensi Yanse Yane Rumlaklak; Erni Sulistiawati; Dondin Sajuthi; Sus Derthi Widhyari; Setyo Widi Nugroho
JURNAL KAJIAN VETERINER PROSIDING SEMINAR NASIONAL KE-7
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jkv.v0i0.1602

Abstract

Dalam keadaan hipertensi, hyperplasia merupakan salah satu abnormalitas jaringan yang terlihat yang ditunjukkan dengan peningkatan jumlah sel dalam jaringan atau organ sehingga jaringan atau organ menjadi lebih besar ukurannya dari normal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas bone marrow mesenchymal stem cells (BMMSC) terhadap perubahan seluler hyperplasia pada organ kelenjar adrenal tikus hipertensi. Penelitian ini menggunakan sepuluh ekor tikus jantan strain Wistar dengan umur ± 10-12 minggu dan berat badan ± 200-250 gram, dan dibagi menjadi 2 kelompok berbeda yaitu hipertensi BMMSC (+) dan hipertensi BMMSC (-). Tikus dikondisikan hipertensi menggunakan Metode Hashinoto. Nefrektomi kanan dan ligase arteri carotid communis dilakukan pada semua tikus. Tikus disuntik dengan deoxycorticosterone acetate (DOCA), kemudian 0,12% aminopropionitrile fumarate (BAPN) ditambahkan ke dalam air minum. Larutan NaCl 1% diberikan sebagai air minum selama penelitian. Evaluasi tekanan darah hipertensi dilakukan, kemudian tikus-tikus di euthanasia untuk koleksi organ kelenjar adrenal. Organ Kelenjar adrenal di fiksasi dengan formalin 10% dan kemudian diwarnai dengan pewarnaan Periodic Acid Shiff (PAS). Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini membuktikan terapi hipertensi dengan menggunakan BMMSC menunjukkan perubahan hiperplasia kearah normal.
Konsentrasi Mineral Serum saat Produksi Embrio dan Hubungannya dengan Kualitas dan Kuantitas Embrio pada Sapi Peranakan Ongole Putri Indah Ningtias; Sus Derthi Widhyari; Retno Wulansari
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 10 No. 2 (2022): Juli 2022
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.10.2.103-110

Abstract

Mineral merupakan salah satu nutrisi yang memiliki peran penting dalam reproduksi. Perubahan konsentrasi mineral akan menyebabkan masalah reproduksi termasuk mempengaruhi produksi embrio. Penelitian bertujuan untuk menganalisis konsentrasi mineral serum selama produksi embrio dan menganalisis hubungan antara konsentrasi mineral serum dengan kualitas dan kuantitas embrio pada sapi donor Peranakan Ongole (PO). Sampel darah dikoleksi dari 10 ekor sapi donor PO sebelum superovulasi dan saat melakukan panen embrio. Darah diambil melalui vena coccygea kemudian disentrifugasi untuk diambil serumnya. Serum dianalisis terhadap parameter kalsium (Ca), fosfor (P), dan magnesium (Mg) dengan prinsip fotometer menggunakan kit komersial. Data diuji secara statistik menggunakan uji nonparametrik Wilcoxon untuk membandingkan konsentrasi mineral serum sebelum superovulasi dan saat panen embrio. Hubungan antara konsentrasi mineral serum dengan kualitas dan kuantitas embrio dianalisis menggunakan uji korelasi nonparametrik Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi embrio tidak mempengaruhi konsentrasi mineral serum. Konsentrasi Mg secara signifikan berhubungan dengan embrio morula, tetapi tidak signifikan dengan total embrio (TE), embrio layak transfer (LT), embrio degenerasi (DG), oosit unfertile (UF), dan embrio blastosis. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsentrasi Ca dan P dengan TE, embrio LT, DG, oosit UF, embrio morula, dan blastosis.
THE EFFECTS OF AGE ON BIOCHEMISTRY PROFILES OF ACEH CATTLE BLOOD Lia Khairita; Anita Esfandiari; Sus Derthi Widhyari; Wiwin Winarsih
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 15, No 3 (2021): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.524 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v15i3.21698

Abstract

The purpose of this study was to analyze the effects of age on the biochemistry profiles of aceh cattle, which  included examinations of: total protein (TP), albumin, globulin, albumin/globulin ratio (A/G), aspartate aminotransferase (AST), gamma-glutamyltransferase (GGT), alkaline phosphatase (ALP), creatine kinase (CK), blood urea nitrogen (BUN), calcium (Ca), phosphorus (P) and magnesium (Mg) . Sixteen clinically healthy aceh cattle aged 2-4 years old, and 16 aceh cattle aged 4-6 years old were purposively selected for the study. Blood samples were drawn from the jugular vein and subjected to blood biochemistry measurements using commercial kits. The results showed that serum concentrations of TP, globulin, AST and Ca of aceh cattle were significantly (P0.05) higher in age group 4-6 years old, while ALP activity was significantly (P0.05) higher in age group 2-4 years old. In conclusion, age must be considered as a factor when interpreting the blood biochemistry profiles of aceh cattle.
ELECTROCARDIOGRAM OF PIGS (Sus scrofa) ANESTHETIZED WITH A COMBINATION OF KETAMINE-MEDETOMIDINE AND KETAMINE-ACEPROMAZINE Jessica Anggun Safitri; Gunanti Gunanti; Deni Noviana; Sus Derthi Widhyari
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 14, No 4 (2020): December
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.403 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v14i4.16984

Abstract

This study aims to evaluate and compare the effects of the combination of ketamine-medetomidine and ketamine-acepromazine anesthesia on pig electrocardiogram (ECG) images. The study was conducted to see the ECG Leads II in six pigs which were divided into two groups. Group I (K1) was given a combination of ketamine (10 mg/kg BW) and medetomidine (0.08 mg/kg BW), while Group II (K2) was given a combination of ketamine (22 mg/kg BW) and acepromazine (1.1 mg/kg BW) intramuscularly. ECG recording was performed after the pigs were anesthetized at the surgical stage by attaching the recording electrodes to the front wall of the chest, front left and right ankles, and back right and left back ankles. The ECG recording used 1 voltage (1 cm = 1mV) with a speed of 25 mm/sec. The parameters observed were heart rate frequency, heart rhythm, P duration, P amplitude, PR interval, R amplitude, QRS interval, QT interval, ST segment, T wave, and Mean Electrical Axis (MEA). Data obtained from this study were analyzed by T-test. The results showed that K1 had an average heart rate of 100 x/minute, regular heart rhythm, P duration of 0.07 sec, P amplitude of 0.27 mV, PR interval of 0.17 sec, R amplitude of 0.75 mV, QRS interval of 0.05 sec, QT interval of 0.20 sec, ST segment of 0.17sec, T wave of 0.17 mV, and MEA of 83.60°; meanwhile, K2 had an average heart rate of 122 x/minute, regular heart rhythm, P duration of 0.06 mm/sec, P amplitude of 0.23 mV, PR interval of 0.14 sec, R amplitude of 0.80 mV, QRS interval of 0.04 sec, QT interval of 0.16 sec, ST segment of 0.14 sec, T wave of 0.12 mV, and MEA of 68.60. The ketamine-medetomidine combination produced good quality of anesthetics for the cardiovascular system.
Kadar Protein Serum pada Sapi Peranakan Ongole di Balai Embrio Ternak Cipelang Bogor Putri Indah Ningtias; Sus Derthi Widhyari; Retno Wulansari
Jurnal Veteriner Vol 23 No 4 (2022)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2022.23.4.531

Abstract

Salah satu plasma nutfah yang dimiliki oleh negara Indonesia yaitu sapi peranakan ongole (PO). Data dan nilai referensi normal kadar protein serum pada sapi PO yang digunakan sebagai donor dalam produksi embrio belum banyak dilaporkan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran protein serum yaitu albumin, globulin dan rasio albumin/globulin sapi PO induk yang digunakan sebagai donor sebelum produksi embrio. Penelitian ini menggunakan 10 ekor sapi PO, berumur 4-8 tahun dengan BCS 2,5-4,0. Sampel darah diambil melalui vena coccygea sebanyak 10 mL menggunakan jarum nomor 18-G. Serum dianalisis terhadap parameter protein total, albumin dan globulin dengan menggunakan alat spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan konsentrasi protein total, albumin, globulin, dan rasio A/G sapi donor PO masing-masing secara berurutan adalah 8,19±0,40 g/dL, 3,72±0,26 g/dL, 4,48±0,41 g/dL, dan 0,84±0,10. Data hasil penelitian ini merupakan data referensi kadar protein pada sapi PO induk. Hasil ini mendekati nilai referensi normal untuk jenis sapi yang lain. Kadar protein dapat dijadikan salah satu indikator dalam menentukan status kesehatan hewan sapi donor dalam upaya penyiapan produksi embrio.