Sus Derthi Widhyari
Divisi Penyakit Dalam, Departemen Klinik, Reproduksi, Dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor Jl Agathis, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680

Published : 43 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Canine monocytic Ehrlichiosis in Alaskan Malamute dog in GloriaVet Pet Health Solution, Bandung, Indonesia Amani, Aqila Zata; Rahma, Kinanti Dwi; Satyaningtijas, Aryani Sismin; Satriawan, Ivan; Nadelia, Nurul; Widhyari, Sus Derthi
Current Biomedicine Vol. 4 No. 1 (2026): January
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/currbiomed.4.1.24

Abstract

Background Ehrlichiosis is an infection caused by the bacterium Ehrlichia canis, which attacks monocytes. Ehrlichiosis is characterized by anemia, lethargy, lameness, pancytopenia, hemorrhage, and weight loss. Objective This study aimed to describe the clinical findings and treatment of a dog diagnosed with Ehrlichia canis infection. Case A 5-year-old female Alaskan Malamute dog named Salt was brought to the clinic of GloriaVet Pet Health Solution, Bandung, Indonesia, with lameness and weakness, accompanied by high fever and very pale mucous membranes (pallor). Examination and treatments Dog was examined using a general examination, hematology test, biochemistry test, native smear, and IDExx SNAP© 4dx test kit. The examinations showed a positive result for Ehrlichia canis infection, along with severe pancytopenia, hyperglobulinemia, and thrombocytopenia. Diagnosis heavily relied on serology and clinical manifestation, and further PCR testing was not performed. The treatment consisted of doxycycline 10 mg/kg/day for 28 days, a 0.75% ketamine drip infusion, darbepoetin alfa, and a blood transfusion. Conclusion Dog was infected with chronic ehrlichiosis with several clinical symptoms including severe anemia. Treatment with doxycycline as the treatment of choice for ehrlichiosis infection and a blood transfusion for treating severe anemia showed signs of improvement, but were ultimately ineffective due to the poor prognosis associated with chronic ehrlichiosis and severe pancytopenia.
Ragam Jenis Pinjal yang Menginfestasi Kucing Peliharaan dan Liar di Babakan, Dramaga, Bogor Putri, Tiara Annisa; Supriyono, Supriyono; Hadi, Upik Kusumawati; Soviana, Susi; Widhyari, Sus Derthi
Jurnal Veteriner Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Pinjal merupakan satu di antara jenis ektoparasit yang paling banyak menginfestasi kucing. Keberadaan pinjal bersifat merugikan karena berpotensi menjadi vektor dan inang intermediet dari berbagai agen penyakit menular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ragam jenis pinjal yang menginfestasi kucing (Felis catus) di Babakan, Dramaga, Bogor. Koleksi pinjal dilakukan terhadap 50 ekor kucing, yang terdiri atas 25 ekor kucing liar dan 25 ekor kucing peliharaan. Pengambilan pinjal dilakukan secara manual menggunakan sisir serit, kemudian diidentifikasi secara mikroskopis. Sebanyak 16 ekor dari 50 ekor kucing (32%) terinfestasi oleh pinjal dengan derajat infestasi berkisar dari ringan hingga sedang. Hasil identifikasi menunjukkan keberadaan tiga spesies pinjal, yaitu Ctenocephalides felis, C. canis, Ctenocephalides sp., dan Pulex irritans dengan total kelimpahan nisbi masing-masing sebesar 59,76%, 36,59%, 2,44%, dan 1,22%. Pinjal pada tubuh kucing paling banyak ditemukan pada regio kepala dan leher sedangkan paling sedikit ditemukan pada regio ekor dan kaki dengan spesies paling dominan adalah C. felis. Selain itu, ditemukan sebanyak 114 pupa pinjal di lingkungan sekitar kandang kucing. Lingkungan yang kotor dan kucing yang tidak terawat dengan baik memiliki potensi dalam meningkatkan infestasi pinjal.
Penanganan Kasus Fraktur Tibia-Fibula pada Kucing Domestik di GloriaVet Pet Health Solution Bandung Rahma, Kinanti Dwi; Amani, Aqila Zata; Satyaningtijas, Aryani Sismin; Widhyari, Sus Derthi; Satriawan, Ivan; Pradianto, Bagus Ilham
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 4 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.4.1.8-14.

Abstract

Fraktur pada tibia dan fibula di kucing biasanya terjadi akibat trauma. Evaluasi fraktur yang tepat harus dilakukan untuk menentukan tindakan yang sesuai. Kucing Virgo didiagnosa mengalami fraktur comminuted reducible pada tibia dan fraktur short oblique akibat tertabrak mobil setelah dilakukannya diagnosa penunjang berupa hematologi dan radiografi. Hasil dari planning yang dilakukan adalah pemasangan implan berupa bone plate dan intramedullary pin untuk mengurangi gaya bending dan rotation pada tulang. Operasi yang dilakukan merupakan operasi reduksi terbuka. Pengobatan pasca operasi juga sangat penting. Pengobatan terdiri dari pemberian antibiotik, analgesik, antifibrinolitik, dan fisioterapi.