Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Ideology representation in the editorial of Koran Tempo and Kompas on COVID-19 handling in Indonesia Ginanjar, Bakdal; Widyastuti, Chattri Sigit; Sumarlam, Sumarlam
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol. 50, No. 1
Publisher : citeus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article examines the editorials in Koran Tempo and Kompas in representing their ideology of COVID-19 handling in Indonesia. This linguistic research is conducted qualitative­ly. The data were in the form of Indonesian-language editorial discourse, which discussed the COVID-19 handling in Indonesia. The written research data were taken from national news­papers, namely Koran Tempo and Kompas, and were obtained through the use of listening and note-taking techniques. They were then analyzed using Van Dijk’s critical discourse analysis model. The results of the analysis show that there are differences in the representa­tion of ideology in Koran Tempo and Kompas on COVID-19 handling in Indonesia through their editorials that are systematically constructed in microstructure, superstruc­ture, and macrostructure. In the microstructure, ideology is realized through the lexicon, specifically the use of the dominant persona, use of syntactic structures in the form of active-passive sentences, affirmative sentences, and imperative sentences, as well as the use of repetition styles and metaphors. Koran Tempo uses ideological patterns as actions and ideology beliefs in its superstructure. Meanwhile, Kompas uses ideological patterns as systems of thought and systems of action. The difference between the microstructure and the superstructure results in a different macrostructure. Koran Tempo portrays government as the key stakeholder in handling COVID-19 in Indonesia. Meanwhile, Kompas’ editorial was directed at how the handling of COVID-19 was done through communal actions. The Koran Tempo ideology underlines who has a role in handling COVID-19, while the Kompas ideology focuses at what needs to be done in handling COVID-19.
DERIVASI VERBA DENOMINA BAHASA INDONESIA PADA WEBSITE BERITA ONLINE (KAJIAN MORFOLOGI) Galuh Mustikasari; Ninik Pratiwi; Bakdal Ginanjar
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 18 No 2 (2022)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/rrtx7694

Abstract

Penelitian ini membahas tentang derivasi verba denomina bahasa Indonesia pada artikel berita online. Pada tahap pembahasan penelitian ini akan menguraikan proses morfologis data yang berbentuk kata pada artikel berita periode tahun 2021. Tujuan penelitian ini agar pembaca dapat memahami proses morfologis sekaligus fenomena perpindahan kategori kelas kata yang ditemui pada tulisan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yakni cara kerja dalam penelitian yang mendeskripsikan data yang berupa kalimat maupun kata berdasarkan nomina pembentuk verba dan distribusi afiks pembentuk verba denomina. Metode penyediaan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dengan teknik catat. Data dianalisis menggunakan metode Agih dengan teknik lanjutan Ultimate Constituent Analysis (UCA) atau Urai Unsur Terkecil untuk menguraikan satuan lingual tertentu atas unsur-unsur terkecilnya. Data akan disajikan dalam bentuk nonformal dengan mengklasifikan data yang didapat, lalu diuraikan setiap pola pada masing-masing bentuk yang ditemukan. Hasil penelitian ini menemukan 18 bentuk proses afiksasi yang menyebabkan perpindahan kategori kata dan makna kata. Kesimpulannya adalah tidak semua verba berasal dari bentuk dasar verba, melainkan dapat berasal dari bentuk nomina. Benuk afiksasi yang membentuk verba tidak hanya berdasarkan prefiks, tetapi juga konfiks. Selain itu, proses verba denomina akan menghasilkan derivasi pada kata yang diturunkan.
The Computers And Radio Broadcasters’ Politeness Wiwik Yulianti; Fx Sawardi; Henry Yustanto; Bakdal Ginanjar; Chattri Sigit Widyastuti; Hanifullah Syukri
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 9 No SpecialIssue (2023): UNRAM journals and research based on science education, science applic
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v9iSpecialIssue.5984

Abstract

With the technological advances of the 21st century, radio broadcasting has become more dependent on computers than ever before. Computers are used in radio broadcasting for a number of different tasks, including automation, control, monitoring, and logging. Automation is the most common use of computers in radio broadcasting. Automation software is used to control the playback of music and other audio content. This allows radio stations to operate without a live DJ or presenter. But in this case the presenter still needs to deliver the talk show program. The article studies the radio broadcasters’ language politeness, as part of the strategies in attracting the listeners. It aims to reveal the politeness principles used during the conversations of the radio programs. It deployed a Content Analysis combined with recording technique for the data collecting technique. Meanwhile, the analysis applied a Pragmatics Matching method through a Contextual Approach. The finding revealed the speaker’s compliance and violation of the politeness principles.
Pelatihan DAI bagi Remaja Masjid pada Forum Remaja Masjid se-Kabupaten Karanganyar Syukri, Hanifullah; Yustanto, Henry; Sawardi, F.X.; nugroho, miftah; Widyastuti, Chattri S; Widyastuti, Hesti; Ginanjar, Bakdal
SEMAR (Jurnal Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni bagi Masyarakat) Vol 11, No 1 (2022): Mei
Publisher : LPPM UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/semar.v11i1.44206

Abstract

Remaja masjid merupakan salah satu elemen yang turut pula membantu kemakmuran masjid. Salah satu wujud kemakmuran masjid yang dilakukan oleh remaja masjid adalah turut pula mengisi kegiatan keagamaan melalui ceramah atau pidato. Dengan turut berceramah atau berpidato diharapkan remaja masjid siap meneruskan penceramah yang usianya telah lanjut. Agar kemampuan pidato remaja masjid semakin mumpuni, pelatihan pidato bagi mereka perlu dilakukan. Hal ini juga berlaku di remaja masjid yang terdapat di Kabupaten Karanganyar. Supaya remaja masjid lancar dalam berpidato, kegiatan pelatihan berpidato diadakan dengan tujuan agar mereka memiliki pengetahuan dan pemahaman perihal teknik berpidato yang baik di depan umum.
DISFEMISME DALAM UNGGAHAN AKUN MEDIA SOSIAL TWITTER @AREAJULID Devi, Ery Kurnia; Ginanjar, Bakdal
Nuansa Indonesia Vol 25, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/ni.v25i1.81751

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipe disfemisme yang digunakan dalam unggahan Twitter @AREAJULID. Penelitian ini berjenis kualitatif deskriptif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori semantik. Data penelitian berupa kalimat-kalimat yang di dalamnya mengandung disfemisme, seperti kata, frasa, klausa, dan kalimat. Sumber data dari penelitian ini adalah unggahan akun Twitter @AREAJULID pada bulan Maret 2020 hingga Juli 2020. Metode penyediaan data yang digunakan adalah metode simak dengan teknik dasar teknik catat. Metode analisis data yang digunakan adalah metode agih dengan teknik lesap dan teknik ganti, selain itu juga menggunakan metode padan dengan teknik PUP. Hasil analisis data menunjukkan bahwa tipe disfemisme yang ditemukan dalam unggahan akun media sosial Twitter @AREAJULID  berupa 1) ekspresi figuratif (figurative expressions), 2) flipansi (flippancy), 3) pemodelan kembali (remodellings), 4) kliping (clipping), 5) akronim (acronyms), 6) singkatan (abbreviations) , 7) pelepasan (omissions), 8) Satu kata untuk menggantikan kata lain (one for one substitutions), 9) hiperbola (hyperbole), 10) Makna di luar pernyataan (understatement), 11) Istilah yang dipelajari atau jargon teknis (learned terms or technical jargon), 12) kolokial (colloquial), dan 13) pinjaman (borrowing).Kata kunci: disfemisme, semantik, tipe disfemisme, twitter @AREAJULID
Fenomena Disfemisme dalam Kartun Anak Pada Pertelevisian Indonesia Lelly Dwi Anjani; Bakdal Ginanjar
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 1 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i1.1787

Abstract

This paper examines the use of dysphemism in children's cartoon shows in Indonesian television which are categorized as dangerous and cautious according to KPAI and KPI. The issue of this paper is focused on discussing the types of dysfemism used. This research is a descriptive qualitative type. The data of this research are sentences containing dysphemism. The data source of this research is the children's cartoon show Spongebob Squarepants¸ Crayon Shinchan, and Little Krishna taken from television and Youtube shows. The method of providing data is done by referring to the record and record techniques. The method of data analysis is done by the method of distribution with techniques for direct elements, fade techniques, and dressing techniques. The results of data analysis are presented by informal methods. Based on the results of data analysis, it was concluded that the type of dysfemism in children's cartoon shows in Indonesian television is in the form of 1) a comparison between humans and animals that are conventionally considered to have certain behaviors, 2) term or nickname derived from taboo body organs, body effluvia (odor or secretion), and sexual behavior, 3) nickname or dysphemistic greetings taken from physical characters that are seen so that it is considered to be an abnormal person, 4) curses and nicknames that use the term from mental abnormalities or mental illness, 5) sexist, racist, speciesist, classist, ageist and otherIST dysfemism that function as insults, and 6) the term insult or disrespect that calls insult to the intended character.AbstrakDalam tulisan ini dikaji penggunaan disfemisme dalam tayangan kartun anak pada pertelevisian Indonesia yang dikategorikan berbahaya serta hati-hati menurut KPAI dan KPI. Permasalahan dalam tulisan ini difokuskan pada pembahasan jenis disfemisme yang digunakan. Penelitian ini berjenis deskriptif kualitatif. Data penelitian ini berupa kalimat yang mengandung disfemisme. Sumber data penelitian ini adalah tayangan kartun anak “Spongebob Squarepants”¸ “Crayon Shinchan”, dan “Little Krishna” yang diambil dari tayangan televisi dan YouTube. Metode penyediaan data yang digunakan adalah metode simak dengan teknik rekam dan teknik catat. Metode analisis data yang digunakan adalah metode agih dengan teknik bagi unsur langsung, teknik lesap, dan teknik ganti. Hasil analisis data disajikan dengan metode informal. Berdasarkan hasil analisis data, disimpulkan bahwa jenis disfemisme dalam tayangan kartun anak pada pertelevisian Indonesia berupa 1) perbandingan manusia dengan hewan yang secara konvensional dianggap memiliki perilaku tertentu, 2) istilah atau julukan yang berasal dari organ tubuh yang ditabukan, efluvia tubuh (bau atau sekresi), dan perilaku seksual, 3) julukan atau sapaan disfemistik yang diambil dari karakter fisik yang terlihat sehingga dianggap seolah menjadi orang yang abnormal, 4) kutukan dan julukan yang menggunakan istilah dari abnormalitas mental atau penyakit jiwa, 5) disfemisme sexist, racist, speciesist, classist, ageist, dan -IST lainnya yang berfungsi sebagai penghinaan, dan 6) istilah penghinaan atau tidak hormat yang menyerukan penghinaan pada karakter yang dituju.