Claim Missing Document
Check
Articles

Determinan Kejadian Dermatitis pada Nelayan di Dusun Waemital, Negeri Pelauw Suryanti Tukiman; Rahma Tunny; Ety Dusra; Abd Rijali Lapodi; Mariene Wiwin Dolang; Dasmawati Sampolawa
Wiraraja Medika : Jurnal Kesehatan Vol 16 No 1 (2026): Wiraraja Medika : Jurnal Kesehatan
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24929/fik.v16i1.4229

Abstract

Dermatitis is one of the most common occupational skin diseases among fishermen due to exposure to seawater, humid working environments, and low use of personal protective equipment (PPE). Data from the Pelauw Health Center indicate that dermatitis cases remain relatively high. The occurrence of dermatitis is influenced by several factors, including age, history of allergies, personal hygiene, and use of PPE. This study aimed to determine the determinants of dermatitis among fishermen in Waemital Hamlet, Pelauw Village, Pulau Haruku District, Central Maluku Regency in 2025. This study employed a quantitative method with an analytical observational design using a cross-sectional approach. The study population consisted of all fishermen in Waemital Hamlet, totaling 35 respondents, using a total sampling technique. Data were collected using a structured questionnaire covering age, history of allergies, personal hygiene, use of PPE, and dermatitis occurrence. Data analysis was performed using univariate and bivariate analysis with the Chi-Square test at a significance level of α = 0.05. The results showed that most respondents had dermatitis (85.7%), had a history of allergies (77.1%), did not use PPE (91.4%), and had poor personal hygiene (54.3%). The bivariate analysis showed no significant relationship between age and dermatitis occurrence (p = 1.000) or between history of allergies and dermatitis occurrence (p = 0.067). In contrast, there was a significant relationship between personal hygiene and dermatitis occurrence (p = 0.006), as well as between PPE use and dermatitis occurrence (p = 0.047). It can be concluded that personal hygiene and PPE use are factors associated with dermatitis among fishermen, while age and history of allergies are not significantly related. Improvement in clean and healthy living behavior and consistent use of PPE is needed to reduce the risk of dermatitis among fishermen.
Pemberdayaan Masyarakat melalui Edukasi Pengolahan Nugget Ikan Tuna untuk Pencegahan Stunting di Desa Masnana Herlien Sinay; Fitria Umagapi; Zulfikar Lating; Abd. Rijali Lapodi; Mariene Wiwin Dolang; Rahma Tunny
Jompa Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2026): Jompa Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting merupakan salah satu masalah gizi kronis yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di wilayah pesisir yang memiliki potensi sumber daya pangan lokal yang melimpah. Salah satu upaya pencegahan stunting dapat dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat dalam pemanfaatan pangan bergizi berbasis sumber daya lokal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengenai pengolahan ikan tuna menjadi nugget sebagai alternatif pangan bergizi dalam upaya pencegahan stunting di Desa Masnana, Kabupaten Buru Selatan. Kegiatan dilaksanakan melalui penyuluhan kesehatan, pelatihan, demonstrasi, dan praktik langsung pembuatan nugget ikan tuna yang diikuti oleh 30 peserta yang terdiri atas ibu rumah tangga, kader kesehatan, dan ibu yang memiliki balita. Evaluasi kegiatan dilakukan secara kualitatif melalui observasi selama pelaksanaan kegiatan, diskusi interaktif, wawancara singkat, dan penilaian terhadap kemampuan peserta dalam mempraktikkan pembuatan nugget ikan tuna. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai stunting, pentingnya konsumsi protein hewani, serta pemanfaatan ikan tuna sebagai pangan bergizi bagi anak. Peserta juga mampu mempraktikkan pengolahan ikan tuna menjadi nugget secara mandiri sesuai tahapan yang telah diberikan. Luaran utama kegiatan berupa meningkatnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah ikan tuna menjadi nugget, tersusunnya produk olahan nugget ikan tuna sebagai alternatif pangan bergizi berbasis sumber daya lokal, serta meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan potensi perikanan lokal sebagai upaya pencegahan stunting. Kegiatan ini juga membuka peluang pengembangan usaha rumah tangga berbasis olahan ikan tuna. Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat melalui edukasi pengolahan ikan tuna menjadi nugget merupakan salah satu intervensi berbasis komunitas yang berpotensi mendukung pencegahan stunting secara berkelanjutan.
PERAN TENAGA KESEHATAN MASYARAKAT DALAM ERA DIGITAL: TINJAUAN NARATIF TENTANG PEMERATAAN LAYANAN KESEHATAN PADA POPULASI RENTAN Rahma Tunny; Fadly Kaliki; M Taufan Umasugi; Endah Fitriasari
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol. 11 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v11i1.4834

Abstract

Latar Belakang: Kesenjangan akses layanan kesehatan masih menjadi tantangan global utama, terutama pada populasi rentan. Tinjauan naratif ini menganalisis literatur terkini mengenai peran tenaga kesehatan masyarakat (Community Health Workers/CHW) dalam konteks transformasi digital dan upaya pemerataan layanan kesehatan. Metode: Penelusuran sistematis dilakukan terhadap literatur yang dipublikasikan antara tahun 2016-2025. Sebanyak 15 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola, tren, dan kesenjangan penelitian. Hasil: Hasil analisis mengidentifikasi lima tema utama: (1) integrasi teknologi digital dalam intervensi berbasis CHW; (2) pendekatan adaptif untuk pemerataan layanan kesehatan; (3) intervensi multisektoral antara kesehatan dan pendidikan; (4) penanganan penyakit kronis dan multimorbiditas di tingkat komunitas; dan (5) pengembangan kapasitas CHW dalam penerapan teknologi kesehatan. Ditemukan bahwa intervensi berbasis teknologi yang diimplementasikan oleh CHW menunjukkan potensi signifikan dalam meningkatkan aksesibilitas dan kualitas layanan kesehatan, terutama pada daerah dengan sumber daya terbatas. Kesimpulan: Tinjauan ini menunjukkan pentingnya sinergi antara tenaga kesehatan masyarakat dan inovasi teknologi dalam mencapai pemerataan layanan kesehatan. Diperlukan pendekatan kontekstual yang mempertimbangkan karakteristik lokal, kebutuhan populasi rentan, dan integrasi multisektoral untuk mengoptimalkan dampak intervensi kesehatan masyarakat.
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUNJUNGAN ANTENATAL CARE (ANC) PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS RIJALI KOTA AMBON Rahma Tunny; Asih Dwi Astuti
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 2 No. 1 (2022): Maret : Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v2i1.1165

Abstract

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator yang peka terhadap kualitas dan aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan, berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) AKI diperkirakan sebanyak 500.000 kematian setiap tahun dan 99% diantaranya terjadi di negara berkembang. Melalui kunjungan antenatal care, komplikasi yang mungkin ada atau akan timbul pada kehamilan tersebut lekas diketahui, dan segera dapat diatasi sebelum berpengaruh tidak baik terhadap kehamilan tersebut. Faktor internal sangat berperan untuk ibu hamil melakukan Asuhan antenatal, beberapa dari faktor internal merupakan sebab dari dilakukannya dan tidak dilakukannya Asuhan antenatal secara rutin. Faktor internal meliputi usia ibu hamil, pengetahuan, dan paritas. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kunjungan Antenatal Care (ANC) pada ibu hamil di puskesmas Rijali kota Ambon. Metode yang dipakai dengan deskriptif analitik dengan menggunakan desain cross sectional dengan sampel sebanyak 95 ibu hamil yang telah melahirkan kurang lebih 30 hari yang lalu yang pernah melakukan kunjungan antenatal care kemudian dilakukan analisa dengan uji chis quare. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh usia ibu hamil terhadap kunjungan antenatal care yaitu p=0,017 (p< 0,05), pengetahuan ibu hamil terhadap kunjungan antenatal care yaitu p=0,030 (p<0,05), namun tidak ada pengaruh parietas terhadap kunjungan antenatal care dengan nilai p=0,051 (p>0,05).
Intervensi Pangan Lokal Bergizi Untuk menurunkan Risiko Stunting pada Balita di Desa Negeri Lima Rahma Tunny; .Fadly Kaliky; Mariene Wiwin Dolan; Ernawati Hatuwe; Mirdad Hitiaut
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.62976

Abstract

Risiko stunting pada balita memerlukan intervensi pangan bergizi berbasis kearifan lokal. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi efektifitas Pemberian Makanan Tambahan (PMT) biskuit Good Time Hotong Kelor dibandingkan PMT Puding sehat terhadap peningkatan berat badan, tinggi badan, asupan energi, protein dan zat besi (Fe) serta pengetahuan ibu di desa Negeri Lima. Metode Penelitian  ini menggunakan quasi eksperiment  dengan nonequivalent control group design yaitu Membandingkan dua kelompok (kelompok perlakuan dan kelompok kontrol) yang sudah ada sebelumnya tanpa acak dan dilakukan pada  32 responden (16 kelompok control dan 16 kelompok intervensi) dengan kriteria usia 24-59 bulan, intervensi yang diberikan selama 60 hari. Hasil penelitian ini adalah kelompok intervensi menunjukkan peningkatan berat badan yang signifikan (p = 0,000), yaitu 2,13 kg lebih besar dibanding kelompok kontrol. Peningkatan tinggi badan kelompok intervensi juga signifikan (p < 0,05) sebesar 1,67 ± 0,37 cm, dibanding kontrol (0,86 ± 0,17 cm). Setelah intervensi, terdapat perbedaan signifikan pada asupan energi (p = 0,019), protein (p = 0,007), dan zat besi/Fe (p = 0,004) yang lebih tinggi pada kelompok intervensi. Selain itu, edukasi kesehatan berhasil meningkatkan pengetahuan ibu balita secara signifikan (p < 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah PMT Good Time hotong kelor efektif meningkatkan berat badan, tinggi badan, serta asupan energi, protein, dan Fe balita. Edukasi kesehatan secara signifikan juga meningkatkan pengetahuan ibu dalam perbaikan gizi anak.
Hubungan Asi Ekslusif, MPASI dan BBLR dengan Kejadian Stunting pada Balita di Desa Morokai Rahma Tunny; Herlien Sinay; Fitria Umagapi; Ety Dusra
JUKEJ : Jurnal Kesehatan Jompa Vol 5 No 3 (2026): JUKEJ: Jurnal Kesehatan Jompa
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jkj.Vol5.Iss3.3190

Abstract

Stunting merupakan masalah pertumbuhan pada balita yang berkaitan dengan pemenuhan gizi dan kondisi kesehatan pada periode awal kehidupan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan riwayat pemberian ASI eksklusif, Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dengan kejadian stunting pada balita di Desa Morokai, wilayah kerja Puskesmas Pasahari B, Kabupaten Maluku Tengah. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri atas 70 ibu yang memiliki balita usia 6–59 bulan dan dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara, pemeriksaan Buku KIA, serta pengukuran panjang/tinggi badan balita. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 23 balita (32,9%) mengalami stunting. Riwayat pemberian ASI eksklusif berhubungan signifikan dengan kejadian stunting (p<0,001; PR=11,28; 95% CI: 3,71–34,32). Pemberian MP-ASI juga berhubungan signifikan dengan kejadian stunting (p<0,001; PR=44,96; 95% CI: 6,45–313,15). BBLR berhubungan signifikan dengan kejadian stunting (p<0,001). Seluruh balita dengan riwayat BBLR mengalami stunting, sedangkan seluruh balita tanpa riwayat BBLR tidak mengalami stunting, sehingga ukuran asosiasi dan CI 95% tidak dapat diestimasi karena terdapat sel dengan frekuensi nol. Kesimpulannya, ASI eksklusif, MP-ASI, dan BBLR berhubungan dengan kejadian stunting. Pencegahan perlu dilakukan melalui optimalisasi ASI eksklusif, pemberian MP-ASI sesuai kebutuhan, dan pemantauan pertumbuhan balita dengan riwayat BBLR.