Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Pendampingan Optimalisasi Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) pada Kader Posyandu di Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang Afiatna, Puji; Fiki Wijayanti; Abdul Rohman; Nopita Widayanti; Intan Febriyana
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 7 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Community Empowerment November 2025
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v7i2.4549

Abstract

The Integrated Primary Service Posyandu (ILP) constitutes a transformation of primary healthcare delivery in Indonesia, shifting services previously provided at Community Health Centers (Puskesmas) to Posyandu at the village level. The ILP Posyandu emphasizes meeting healthcare needs across all life-cycle stages through promotive and preventive approaches. However, limited cadre knowledge and skills, coupled with insufficient equipment, have hindered optimal service delivery. Strengthening cadre competencies is therefore essential. This community empowerment program involved mentoring activities designed to enhance cadres’ knowledge and skills through lectures, discussions, demonstrations, and practical sessions. The program began with health education on the characteristics and nutritional needs of each stage of the life cycle. Subsequent training included anthropometric measurements, supporting health assessments, and the preparation of supplementary feeding (PMT) using locally sourced foods adapted to the nutritional requirements of each target group. The final phase included training on digitalized data reporting for ILP Posyandu implementation. Following the intervention, cadres’ average knowledge scores increased by 23.96 points. The number of cadres with good knowledge rose to 18 individuals (69.2%), and none remained in the poor-knowledge category. Improvements were also observed in cadres’ skills related to anthropometry, health assessments, PMT preparation, and digital reporting. High levels of curiosity and motivation to provide quality services to Posyandu participants served as an important foundation for their active engagement throughout the program.   ABSTRAK Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) merupakan transformasi pelayanan primer kesehatan yang semula dilaksanakan di Puskesmas menjadi dilaksanakan pada tingkat Posyandu di Desa. Posyandu ILP mefokuskan pada pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan di setiap fase siklus kehidupan melalui pendekatan promotif dan preventif. Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan kader diikuti peralatan yang tidak memadai yang dimiliki oleh setiap Posyandu menjadikan Posyandu belum dapat memberikan pelayanan secara optimal. Diperlukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader sebagai pelaksana Posyandu ILP. Kegiatan pendampingan kader untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dilakukan dengan metode ceramah, diskusi, demonstrasi dan praktik. Kegiatan didahului dengan pendidikan kesehatan mengenai karakteristik setiap fase kehidupan dan kebutuhan gizinya. Selanjutnya dilakukan pelatihan pengukuran antropometri, pengukuran kesehatan pendukung, pembuatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan dasar pangan lokal untuk setiap sasaran seluruh fase kehidupan sesuai dengan kebutuhan gizinya. Tahap akhir adalah pelatihan digitalisasi data pelaporan pelaksanaan Posyandu ILP. Hasil yang didapat adalah meningkatnya skor rerata pengetahuan kader sebesar 23,96 poin. Terjadi peningkatan jumlah kader yang memiliki pengetahuan baik, yaitu 18 orang (69,2%) serta tidak ada kader dengan pengetahuan masih kurang. Keterampilan kader dalam pengukuran antropometri, kesehatan, membuat PMT dan digitalisasi pelaporan meningkat. Keingintahuan dan motivasi yang tinggi untuk memberikan pelayanan yang baik kepada seluruh peserta posyandu menjadi modal awal untuk mengikuti kegiatan dan partisipasi diri secara dalam setiap sesi kegiatan.
Pengetahuan Ibu sebagai Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Pencegahan TB pada Anak Kontak Serumah Fiki Wijayanti; Natalia Devi; Fahri
Jurnal Informatika dan Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2026): IKN : Jurnal Informatika dan Kesehatan
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ikn.v3i2.5550

Abstract

Tuberculosis (TB) remains a major public health problem, particularly among children living in the same household as patients with TB. Children are at high risk of infection and disease progression; therefore, maternal involvement as the primary caregiver is essential in implementing preventive measures. Mothers’ knowledge is considered an important factor associated with their ability to practice TB prevention for children. Preventive measures include contact screening, cough etiquette, improving household ventilation, reducing exposure, and providing tuberculosis preventive treatment when indicated. This study aimed to analyze the relationship between maternal knowledge and tuberculosis prevention behaviors among children who were household contacts of patients with TB. A quantitative cross-sectional study was conducted among 68 mothers. Data were collected using questionnaires assessing maternal knowledge and TB prevention behaviors in children. Knowledge was categorized as low or high, while prevention behavior was classified as poor, moderate, or good. Univariate analysis was used to describe frequency distributions, and bivariate analysis was performed using the Chi-square test with a significance level of 0.05. Most mothers had a high level of knowledge, accounting for 44 respondents (64.7%), while 24 respondents (35.3%) had low knowledge. Prevention behavior was most frequently categorized as good in 30 respondents (44.1%), followed by moderate in 21 respondents (30.9%) and poor in 17 respondents (25.0%). Among mothers with high knowledge, 24 of 44 (54.5%) demonstrated good prevention behavior. Among mothers with low knowledge, 10 of 24 (41.7%) demonstrated poor prevention behavior. The Chi-square test showed a p-value of 0.026, indicating a significant association between maternal knowledge and TB prevention behaviors in children. Maternal knowledge was significantly associated with TB prevention behaviors among child household contacts. Structured family education should be strengthened to improve understanding and implementation of TB prevention practices at home.   ABSTRAK Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama pada anak yang tinggal serumah dengan pasien TB. Anak memiliki risiko tinggi terinfeksi dan mengalami progresi penyakit, sehingga keterlibatan ibu sebagai caregiver sangat penting dalam pelaksanaan pencegahan. Pengetahuan ibu diduga berkaitan dengan kemampuan menerapkan perilaku pencegahan TB pada anak. Upaya pencegahan mencakup skrining kontak, penerapan etika batuk, perbaikan ventilasi rumah, pengurangan paparan, serta pelaksanaan terapi pencegahan tuberkulosis sesuai indikasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan perilaku pencegahan tuberkulosis pada anak kontak serumah dengan pasien TB. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional pada 68 ibu. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan dan perilaku pencegahan TB pada anak. Tingkat pengetahuan dikategorikan menjadi rendah dan tinggi, sedangkan perilaku pencegahan dikategorikan menjadi kurang, cukup, dan baik. Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan distribusi frekuensi, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 0,05. Sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan tinggi, yaitu 44 responden (64,7%), sedangkan 24 responden (35,3%) memiliki pengetahuan rendah. Perilaku pencegahan paling banyak berada pada kategori baik sebanyak 30 responden (44,1%), diikuti kategori cukup 21 responden (30,9%) dan kurang 17 responden (25,0%). Pada kelompok pengetahuan tinggi, 24 dari 44 ibu (54,5%) memiliki perilaku pencegahan baik. Pada kelompok pengetahuan rendah, 10 dari 24 ibu (41,7%) memiliki perilaku pencegahan kurang. Hasil uji Chi-square menunjukkan p=0,026, sehingga terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dan perilaku pencegahan TB pada anak. Pengetahuan ibu berhubungan dengan perilaku pencegahan TB pada anak kontak serumah. Edukasi keluarga yang terstruktur perlu diperkuat untuk meningkatkan pemahaman dan penerapan perilaku pencegahan TB pada anak. Temuan ini dapat menjadi dasar bagi perawat dan tenaga kesehatan dalam menyusun edukasi yang lebih terarah, bagi keluarga dengan anak kontak serumah agar tindakan pencegahan diterapkan di rumah.