Claim Missing Document
Check
Articles

Formulasi dan Evaluasi Sampo Ekstrak Labu Kuning (Cucurbita maxima D.) Agitya Resti Erwiyani; Riska Aninda Putri; Istianatus Sunnah; Anasthasia Pujiastuti
Majalah Farmasetika Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v8i2.43686

Abstract

Saat ini penggunaan sampo herbal telah disukai di masyarakat karena kepercayaan konsumen bahwa sampo herbal mengandung bahan alam yang lebih aman dan minimal efek samping. Labu kuning merupakan tanaman yang berpotensi untuk dikembangkan dalam bentuk sampo herbal. Labu kuning berdasarkan berbagai penelitian telah dibuktikan memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, antijamur, dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formula sampo herbal labu kuning. Ekstrak labu kuning diformulasi dalam F1, F2, dan F3 dengan konsentrasi berturut – turut sebesar 1%, 2%, dan 3%. Karakteristik fisik sampo dilakukan evaluasi pada parameter organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, tinggi dan stabilitas busa serta dilakukan pengamatan stabilitas pada penyimpanan suhu kamar (28±2°C) selama 14 hari dan cycling test selama 6 siklus. Hasil penelitian formula sampo herbal F1, F2 dan F3 memiliki warna kuning hingga kuning kecoklatan, homogen, memenuhi syarat fisik sediaan shampo pada parameter uji pH, viskositas, tinggi dan stabilitas busa. Formula F1 dan F2 pada penyimpanan suhu kamar (28±2°C) selama 14 hari dan cycling test selama 6 siklus tidak menunjukkan adanya perubahan organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, dan stabilitas busa sedangkan formula F3 tidak memenuhi sifat fisik pada parameter stabilitas busa. Tinggi busa pada uji cycling test semua formula mengalami perubahan signifikan tetapi masih memenuhi persyaratan tinggi sediaan sampo. Kesimpulan sampo ekstrak daging labu kuning memenuhi persyaratan sifat fisik pada formula F1 dan F2.
Perbandingan Kadar Flavonoid Total dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Labu Kuning dengan Variasi Pelarut: Comparison of Total Flavonoid Levels and Antioxidant Activity of Pumpkin Extract with Solvent Variations Anasthasia Pujiastuti; Agitya Resti Erwiyani; Istianatus Sunnah
Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS) Vol. 4 No. 2 (2022): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), September
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v4i2.215

Abstract

Pumpkin (Cucurbita maxima D.) has many bioactive compounds, especially in the flesh. Bioactive compounds in pumpkin fruit include flavonoids. Extraction of flavonoids can be done using the maceration method. The extraction process requires a solvent that can extract the active compounds contained in a plant. Solvents that can be used for extraction include 96% ethanol, 70% ethanol, ethyl acetate, and n-hexane. This study aimed to compare the total flavonoid content and antioxidant activity of pumpkin extract from 4 types of solvents. The extraction method in this study is maceration using 4 variations of solvents. The qualitative test was carried out using the Thin Layer Chromatography (TLC) method. Quantitative test to determine the antioxidant activity of pumpkin extract using the ABTS method. The results of the qualitative test resulted in the retention factor (Rf) ranging from 0.3 to 0.82, which means that pumpkin extract contains flavonoids. Quantitative test results of total flavonoid content in pumpkin extract with 96% ethanol (93.017 mgQE/g), 70% ethanol (29.799 mgQE/g), ethyl acetate (135.546 mgQE/g), n-hexane (125.833 mgQE/g) . Antioxidant activity with parameter IC50 value on pumpkin extract with 70% ethanol (67.85 ppm), 96% ethanol (69.00 ppm), ethyl acetate (84.79 ppm), and n-hexane (99.81 ppm) as solvent included in the strong category. The highest total flavonoid content of pumpkin fruit extract was ethyl acetate solvent. The best antioxidant activity was shown by pumpkin fruit extract with 70% ethanol solvent yielding an IC50 value of 67.85 ppm. ABSTRAKLabu kuning (Cucurbita maxima D.) memiliki banyak senyawa bioaktif, terutama pada daging buahnya. Senyawa bioaktif dalam buah labu kuning antara lain flavonoid. Ekstraksi flavonoid dapat dilakukan dengan menggunakan metode maserasi. Proses ekstraksi memerlukan pelarut yang dapat menyari senyawa aktif yang terdapat dalam suatu tanaman. Pelarut yang dapat digunakan untuk ekstraksi antara lain etanol 96%, etanol 70%, etil asetat dan n-heksan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kadar flavonoid total dan aktivitas antioksidan ekstrak buah labu kuning dari 4 jenis pelarut. Metode ekstraksi pada penelitian ini yaitu maserasi menggunajan 4 variasi pelarut. Uji kualitatif dilakukan dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Uji kuantitatif untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstark labu kuning menggunakan metode ABTS. Hasil penelitian pada uji kualitatif menghasilkan retensi faktor (Rf) berkisar antara 0,3 – 0,82 yang berarti ekstrak buah labu kuning mengandung flavonoid. Hasil pengujian kuantitatif kadar flavonoid total dalam ekstrak buah labu kuning dengan pelarut etanol 96% (93,017 mgQE/g), etanol 70% (29,799 mgQE/g), etil asetat (135,546 mgQE/g), n-hexana (125,833 mgQE/g). Aktivitas antioksidan dengan parameter nilai IC50 pada ekstrak buah labu kuning dengan pelarut etanol 70% (67,85 ppm), etanol 96% (69,00 ppm), etil asetat (84,79 ppm) dan n-hexana (99,81 ppm) termasuk kategori kuat. Kadar flavonoid total ekstrak buah labu kuning tertinggi yaitu dengan pelarut etil asetat. Aktivitas antioksidan terbaik ditunjukkan oleh ekstrak buah labu kuning dengan pelarut etanol 70% menghasilkan nilai IC50 sebesar 67,85 ppm.
Analisis Keefektifan Biaya Pengobatan Pada Pasien Pneumonia Balita Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Paru Dr. Ario Wirawan Salatiga Tahun 2018 Nita Tanti Wulandari; Ening Listyanti; Niken Dyahariesti; Agitya Resti Erwiyani
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 2 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.716 KB) | DOI: 10.35473/ijpnp.v2i2.276

Abstract

Pneumonia adalah infeksi akut yang menyerang jaringan paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Pengobatan pneumonia yang diterapi dengan antibiotik secara efektif dapat meningkatkan efek terapeutik klinis, meminimalkan toksisitas obat mengurangi angka kejadian resistensi dan lebih ekonomis. CEA merupakan suatu metode evaluasi ekonomi yang dapat digunakan dalam mengambil keputusan pemilihan alternatif terbaik pada pemilihan biaya pengobatan pneumonia. Penelitian ini bertujuan  untuk menganalisis keefektifan biaya pengobatan pada pasien pneumonia balita di rawat inap Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan Salatiga   tahun 2018. Penelitian ini menggunakan merupakan penelitian non eksperimental (observasional) menggunakan pendekatan retrospektif dan dianalisis secara deskriptif. Sampel yang digunakan sebanyak 30 pasien. Sampel dianalisis sesuai dengan metode ACER dan ICER. Efektivitas terapi dilihat dari LOS. Nilai ACER: kelas VIP: Ceftriaxon + Cefixime Rp. 615.177, Cefotaxime + Gentamisin Rp.810.773.  Kelas I: Cefotaxime + Gentamisin Rp. 536.880. Kelas II: Cefotaxime Rp. 408.493, Cefotaxime + Cefixime Rp. 357.397, Cefotaxime + Gentamisin Rp. 385.488 dan Ceftriaxon + Cefixime  Rp. 325.355. Kelas III: Cefotaxime Rp. 278.740, Ceftriaxon Rp. 186.250, Cefotaxime + Gentamisin Rp. 312.734, Cefotaxime + Cefixime Rp.286.128 dan Ceftriaxon + Cefixime Rp.295.100. Nilai ICER pada kelas VIP : Ceftriaxon + Cefixime dan Cefotaxime + Gentamisin Rp. -356.967 dan pada kelas III adalah Ceftriaxon dan Cefotaxime Rp.-91.219. Pada pengobatan bronkopneumonia balita terapi antibiotik yang paling cost-effective di ruang kelas VIP adalah penggunaan antibiotik kombinasi Ceftriaxon + Cefixime, ruang kelas I adalah Cefotaxime + Gentamisin, ruang kelas II adalah Cefotaxime, dan ruang kelas III adalah Cefotaxime.Kata Kunci           : Analisis Keefektifan Biaya, Terapi Antibiotik, PneumoniaPneumonia is an acute infection that attacks lung tissue caused by bacteria, viruses and fungi. Treatment of pneumonia is effectively treated with antibiotics because it can increase clinical therapeutic effects, minimizing drug toxicity reduces the incidence of resistance and more economical. CEA is an economic evaluation method that can be used in making the best decision on the selection of alternatives in the selection of pneumonia treatment costs. To analyze the effectiveness of medical expenses in pneumonia patients under five inpatient hospitalized Dr. Ario Wirawan Salatiga in 2018. This study used a non-experimental (observational) method using a retrospective approach and analyzed descriptively. The sample used was 30 patients. The samples were analyzed according to the ACER and ICER methods. The effectiveness of therapy was seen from LOS. ACER Value: VIP class: Ceftriaxon + Cefixime Rp. 615,177, Cefotaxime + Gentamisin Rp.810,773. Class I: Cefotaxime + Gentamisin Rp. 536,880. Class II: Cefotaxime Rp. 408,493, Cefotaxime + Cefixime Rp. 357,397, Cefotaxime + Gentamisin Rp. 385,488 and Ceftriaxon + Cefixime Rp. 325,355. Class III: Cefotaxime Rp.278,740, Ceftriaxon Rp.186,250, Cefotaxime + Gentamisin Rp. 312,734, Cefotaxime + Cefixime Rp.286,128 and Ceftriaxon + Cefixime Rp.295.100. ICER scores at VIP class: Ceftriaxon + Cefixime and Cefotaxime + Gentamisin Rp. -356,967 and in class III Ceftriaxon and Cefotaxime Rp.-91,219. In bronchopneumonia treatment toddlers the most cost-effective antibiotic therapy in VIP classrooms is the use of a combination antibiotic Ceftriaxon + Cefixime, class I is Cefotaxime + Gentamisin, Class II is Cefotaxime, and Class III is Cefotaxime.Keywords : Cost Effectiveness Analysis, Antibiotic Therapy, Pneumonia
Pengaruh Sediaan Gel Dan Krim Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa Oleifera Lamk) Terhadap Penurunan Luas Luka Bakar Pada Tikus Agitya Resti Erwiyani; Dedi Haswan; Andre Agasi; Sikni Retno Karminingtyas
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 3 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.137 KB) | DOI: 10.35473/ijpnp.v3i2.666

Abstract

                                               ABSTRAKLuka bakar adalah cedera pada kulit atau jaringan organik lainnya terutama disebabkan oleh panas atau karena radiasi, radioaktivitas, listrik, gesekan atau kontak dengan bahan kimia. Salah satu tanaman yang dapat digunakan dalam mengobati luka bakar adalah kelor. Daun kelor mengandung metabolit sekunder meliputi flavonoid, saponin dan tannin yang dapat menurunkan luas luka bakar.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh sediaan gel dan krim ekstrak etanol daun kelor (Moringa oleifera Lamk) terhadap penurunan luas luka bakar tikus putih. Metode pada penelitian ini merupakan penelitian eksperimetal dengan rancangan post test control group design. Tikus putih jantan sebanyak 45 ekor dikelompokkan  menjadi 9 kelompok, yaitu kelompok negatif (basis gel dan basis krim), kontrol positif (Bioplacenton), dan 6 kelompok perlakuan sediaan krim dan gel yang mengandung ekstrak etanol daun kelor dengan konsentrasi 5% b/v, 10% b/v dan 15% b/v. Pengukuran diameter luka dilakukan setiap hari selama 7 hari, selanjutnya dihitung penurunan luas luka bakar. Hasil pada sediaan krim dan gel ekstrak etanol daun kelor memenuhi persyaratan dalam uji homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat viskositas dan uji dipercepat. Sediaan krim menghasilkan efek penurunan luas luka lebih baik dibandingkan sediaan gel. Efektivitas paling besar pada sediaan krim ekstrak etanol daun kelor 15% b/v dengan penurunan luas diameter sebanding dengan kelompok kontrol positif.Simpulan penelitian ini sediaan krim mempunyai aktivitas penurunan luas luka bakar lebih tinggi dibandingkan sediaan gel.Kata kunci : gel, krim, daun kelor, Moringa oleifera, luka bakar ABSTRACTBurns are injuries on the skin or other organic tissues mainly due to heat or due to radiation, radioactivity electricity, friction or contact with chemicals. One of the medicinal plants that can be used is Moringa plants. Moringa leaves have flavonoid, saponin an tanin which can be used to reduce the extent of burn. This study aims to evaluated the effect of Moringa leaf extract gel  on the decrease in the extent of burns in white rats.  This research is experimental study with post test control group design. 45 male white rats were divided into 9 groups, namely negative control (gel and cream based), positive control (Bioplacenton), and 6 groups of gel and cream dosage forms containing  ethanolic extract of Moringa leaves with a concentration of 5% w/v, 10% w/v and 15% w/v. Measurement of wound diameter is carried out every day for 7 days, then the reduction in burn area was calculated. Result the cream and gel dosage forms of the ethanolic extract of Moringa leaves have the requirement in the homogeneity, pH, dispersion, viscosity adhesion, and accelerated test. Cream have better effect on reducing the area of the wound than gel dosage form. Moringa leave 15% w/v have greatest effectiveness comparable to the positive control group.  Conclusion : cream dosage form have a higher burn reduction activity than gel dosage form. Keywords : Gel, Moringa leaves, Moringa oleifera,  Burns
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Buah Parijoto (Medinilla Spesiosa B.) Dengan Perbandingan Pelarut Etanol 70% Dan Etanol 96% Terhadap Bakteri Pseudomonas Aeruginosa Rilla Noor Farida; Rissa Laila Vifta; Agitya Resti Erwiyani
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.146 KB) | DOI: 10.35473/ijpnp.v4i1.806

Abstract

Buah parijoto (Medinilla speciosa B) mengandung senyawa aktif flavonoid, saponin, tanin, dan glikosida diketahui mempunyai kemampuan sebagai antibakteri dan kandungan antioksidan cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan senyawa flavonoid sebagi antibakteri. Tujuan penelitian untuk menganalisis aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% dan 96% buah parijoto dalam menghambat bakteri Pseudomonas aeruginosa. Penelitian diawali dengan melakukan maserasi menggunakan pelarut etanol 70% dan 96%. Sedangkan aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram menggunkaan variasi konsentrasi 5%, 7,5%, dan 10%. Ekstrak buah parijoto didapatkan hasil rendemen etanol 70% (15,33) dan etanol 96% (18,50). Etanol 70% konsentrasi 5% memiliki daya hambat 18,00mm, konsentrasi 7,5% dan 10% nilai mean 19,50mm dan 21,58mm. Etanol 96% konsentrasi 5% memiliki daya hambat 18,08 mm,  konsentrasi 7,5% dan 10% nilai mean 19,66 mm dan 21,33 mm. Hasil statistik  aktivitas antibakteri etanol 70% dan 96% keduanya memiliki aktivitas antibakteri tidak jauh berbeda dibuktikan dari uji statistika T-Test. Ekstrak etanol 70% dan 96% buah parijoto didapatkan hasil ekstrak etanol 70% dan etanol 96% memiliki keefektifan dalam menghambat Pseudomonas aeruginosa.Medinilla speciosa B contains flavonoid, saponin, tannin and glycoside active compounds known to have the ability as antibacterial and high enough antioxidant content so that flavonoid compounds can be used as antibacterial. The aim of this research was to examine the antibacterial activity of 70% ethanol extract and 96% Medinilla speciosa B fruit in inhibiting the bacterium Pseudomonas aeruginosa. This type of experimental research is maceration of flavonoid compounds. While the antibacterial activity uses the disc diffusion method. Testing antibacterial activity using 70% ethanol and 96% ethanol variations 5%, 7.5%, and 10% concentration Medinilla speciosa B fruit extract obtained a yield of 70% ethanol (15.33) and 96% ethanol (18.50). Ethanol 70% concentration of 5% has a resistance of 18.00 mm, concentration of 7.5% and 10% mean values of 19.50 mm and 21.58 mm. Ethanol 96% concentration of 5% has a resistance of 18.08 mm, concentrations of 7.5% and 10% of the mean values of 19.66 mm and 21.33 mm. Statistical results of 70% ethanol antibacterial activity and 96% both have antibacterial activity not much different as evidenced from the statistical test T-Test. 70% ethanol extract and 96% Medinilla speciosa B obtained ethanol extract results 96% more effective in inhibiting the Pseudomonas aeruginosa.
Penetapan Kadar Flavonoid Total Ekstrak Etanol Biji Pinang (Areca catechu L.) Menggunakan Metode AlCl3 Agitya Resti Erwiyani; Dina Sihot Rejeki Gultom; Dian Oktianti
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.734 KB) | DOI: 10.35473/ijpnp.v4i1.888

Abstract

Pinang merupakan tanaman yang banyak tersedia di Indonesia dan memiliki berbagai manfaat. Pemanfaatan air rebusan biji pinang digunakan masyarakat dalam membersihkan dan menyembuhkan luka infeksi. Biji pinang mengandung senyawa fenolik seperti flavonoid, tannin, asam galat, katekin, beta-sitosterol, gum dan asam amino. Biji pinang dilakukan purifikasi untuk mengilangkan zat ballast yang tidak dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan kadar flavonoid total ekstrak kasar dan ekstrak terpurifikasi. Metode yang digunakan dalam penetapan kadar adalah metode kolorimetri AlCl3. Penetapan kadar flavonoid dilakukan pada panjang gelombang 413,5 nm dengan standar baku pembanding kuersetin. Plot hubungan antara konsentrasi kuersetin versus absorbansi diperoleh persamaan kurva baku sebesar y = 0,0088x – 0,17 dengan nilai R2 sebesar 0,9998. Uji kualitatif menunjukkan ekstrak biji pinang tanpa purifikasi, dengan perlakuan purifikasi n-heksan dan etil asetat mengandung metabolit sekunder diantaranya flavonoid, saponin, tannin dan fenol. Purifikasi pelarut n-heksan didapatkan hasil rendemen lebih banyak dibandingkan ekstrak yang dipurifikasi dengan pelarut etil asetat. Kadar flavonoid ekstrak tanpa purifikasi, ekstrak purifikasi pelarut n-heksan dan etil asetat berturut – turut sebesar 69,13 ; 130,3 ; dan 94,73 mgQE/g. Hal tersebut sebanding dengan perolehan % rendemen tertinggi diperoleh dari ekstrak terpurifikasi n-heksan. Purifikasi pada ekstrak akan menyebabkan hilangnya zat ballast dalam ekstrak sehingga kandungan flavonoid pada ekstrak akan lebih tinggi.Kata kunci : flavonoid, metode AlCl3, ekstrak, purifikasiAreca nut is a plant that is widely available in Indonesia and has various benefits. Utilization of boiled betel nut water is used by the community to clean and heal infected wounds. Betel nuts contain phenolic compounds such as flavonoids, tannins, gallic acid, catechins, beta-sitosterol, gum, and amino acids. Areca seeds are purified to remove unnecessary ballast substances. This study aims to determine the total flavonoid levels of crude extract and purified extract. The method used in the assay is the AlCl3 colorimetric method. Determination of flavonoid levels was carried out at a wavelength of 413.5 nm with a quercetin standard. The plot of the relationship between quercetin concentration versus absorbance obtained a standard curve equation of y = 0.0088x - 0.17 with an R2 value of 0.9998. The qualitative test showed that betel nut extract without purification, with purification treatment of n-hexane and ethyl acetate, contained secondary metabolites including flavonoids, saponins, tannins, and phenols. The purification of the n-hexane solvent obtained more yields than the extract purified with ethyl acetate solvent. The flavonoid levels of the extract without purification, the purified extract of n-hexane and ethyl acetate were 69.13; 130.3; and 94.73 mg QE / g. This is comparable to the highest% yield obtained from purified extracts of n-hexane. Purification of the extract will cause the loss of ballast substances in the extract so that the flavonoid content in the extract will be higher.Keywords: flavonoids, AlCl3 method, extract, purification
Aktivitas Antihiperurisemia dan Evaluasi Sifat Fisik Sediaan Sirup Ekstrak Labu Kuning ( Cucurbita maxima ) Istianatus Sunnah; Agitya Resti Erwiyani; Mega Silvi Aprilliani; Maryanti Maryanti; Galih Adi Pramana
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (958.969 KB) | DOI: 10.35473/ijpnp.v4i1.973

Abstract

Konsumsi makanan tinggi purin akan menyebabkan peningkatan kadar asam urat dalam darah. Akibat kadar  asam urat yang tinggi ( hiperurisemia) dan yang tidak terkontrol, akan menyebabkan gangguan pada organ tubuh sehingga timbul penyakit jantung, ginjal maupun Diabetes Mellitus. Allopurinol saat ini masih digunakan sebagai terapi asam urat / gout tetapi memiliki efek samping ruam, gangguan pencernaan, gangguan ginjal dan hati. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji ekstrak labu kuning yang mengandung flavonoid dan terpenoid dapat digunakan sebagai terapi antihiperurisemia akibat adanya induksi pakan tinggi purin yaitu jus hati dan melinjo (1:1) selama 30 hari. Konsentrasi ekstrak yang digunakan 200 mg/KgBB, 400 mg/KgBB dan 600 mg/KgBB diberikan selama 7 hari dan dibuat sediaan sirup untuk memudahkan penggunaan.  Formulasi sirup diuji sifat fisik dan karakteristik berdasar SNI. Hasil penelitian, menunjukkan bahwa ELBK 600 mg/KgBB  memiliki aktivitas antihiperurisemia sebanding dengan Allopurinol (p value = 0,436 > 0,05), dan peningkatan konsentrasi ELBK memberikan aktivitas yang berbeda  terhadap penurunan kadar asam urat (p value= 0,00). Sediaan formulasi sirup belum memenuhi syarat mutu SNI karena pH masih asam, kadar gula dibawah 65%.Consumption of high purine feeds will cause an increase in uric acid levels in the blood. Due to high uric acid levels (hyperuricemia) and uncontrolled, it will cause disturbances in the body's organs, causing heart disease, kidney disease and Diabetes Mellitus. Allopurinol is used as a therapy for gout but has side effects of rashes, indigestion, kidney and liver disorders. The purpose of this study was to study pumpkin extract containing flavonoids and terpenoids which can be used as antihyperuricemia therapy due to the induction of high-purine feed, are chicken liver juice and melinjo (1: 1) for 30 days in Wistar rats. The concentration of the extract used was 200 mg / KgBW, 400 mg / KgBW and 600 mg / KgBW given for 7 days and a syrup formulation was made for ease of use. The syrup formulation with the ratio of PGA (7.5% and 10%) was tested for physical properties and characteristics based on the SNI quality requirements in the form of organoleptic, pH, specific gravity and viscosity. The results showed that ELBK 600 mg / KgBW had antihyperuricemic activity comparable to Allopurinol (p value = 0.436> 0.05), and increased ELBK concentrations gave different activities to decrease uric acid levels (p value = 0.00). Organoleptically in the form of shape, taste and smell, pumpkin syrup did not differ between groups due to the addition of PGA concentrations. Syrup have  pH 3.8 ± 0.011, BJ 1.260 ± 0.001. The viscosity of the syrup changed with the addition of the PGA concentration with a viscosity of F1 of 2.222 ± 0.001 cps and a viscosity of F 2 of 4.447 ± 0.001 cps. Pumpkin extract has activity in reducing uric acid levels and the syrup formulation does not meet the SNI quality requirements because the pH is still acidic, the sugar content is below 65%.
Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Permen Jeli Ekstrak Wortel (Daucuscarota L.): Formulation and Physical Stability Tests of Carrot Extract Jelly Candy (Daucus carota L.) Resti Hayu Ningtyas; Agitya Resti Erwiyani
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 6 No. 01 (2023): Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.301 KB) | DOI: 10.35473/ijpnp.v6i01.2223

Abstract

Carrots contain vitamin A and β-carotene which help maintain eye health. The content of carotenoids in carrots can protect DNA, protein, and fat from oxidative damage and plays a role in maintaining the normal function of the immune system, skin, mucous membranes, and eye vision function. Carrots are formulated in the form of jelly candy as an eye supplement. The aim of this study was to evaluate the characteristics and physical stability of carrot extract jelly candy preparations. Jelly candy was made with various concentrations of gelatin as a jelly former of 8%, 10%, 12%, 14%, 16%, and 18%. Tests for physical characteristics were carried out including organoleptic tests, weight uniformity, pH, water content, and panelist tests. A stability test was observed at room temperature for 7 days. The jelly candy has a characteristic orange color, star shape, distinctive mango aroma, and sweet taste. Jelly candy has a pH of 5 with a weight in the range of 4.17 g - 4.94 g. The water content in each jelly candy is in the range of 38.67% - 48.03%. The panelist test had the highest elasticity at a concentration of 14%, the most attractive color, and shape at a concentration of 18%, smell and taste at a concentration of 8%, 10%, 14%, 16%, and 18% had the same score. The results of the stability test for 7 days showed that the jelly candy experienced a decrease in weight and pH uniformity, mold growth on the surface of the candy, and the water content did not meet the requirements. ABSTRAK Wortel memiliki kandungan vitamin A dan β-karoten yang membantu menjaga kesehatan mata. Kandungan karotenoid dalam wortel dapat melindungi DNA, protein, dan lemak dari kerusakan oksidatif serta berperan dalam mempertahankan fungsi normal sistem imun, kulit, membran mukosa, dan fungsi penglihatan mata. Wortel diformulasi dalam bentuk permen jeli sebagai suplemen mata. Tujuan penelitian ini mengevaluasi karakteristik dan stabilitas fisik sediaan permen jeli ekstrak wortel. Permen jeli dibuat dengan variasi konsentrasi gelatin sebagai pembentuk jeli sebesar 8%, 10%, 12%, 14%, 16%, dan 18%. Pengujian karakteristik fisik dilakukan meliputi uji organoleptis, keseragaman bobot, pH, kandungan air, dan uji panelis. Uji stabilitas dilakukan pengamatan pada suhu kamar selama 7 hari. Permen jeli memiliki karakteristik warna orange, berbentuk bintang, aroma khas mangga dan rasanya manis. Permen jeli memiliki pH 5 dengan bobot berada pada rentang 4,17 g - 4,94 g. Kandungan air pada masing-masing permen jeli berada pada rentang 38,67% - 48,03%. Uji panelis kekenyalan tertinggi pada konsentrasi 14%, warna dan bentuk yang paling menarik pada konsentrasi 18%, bau dan rasa pada konsentrasi 8%, 10%, 14%, 16%, 18% memiliki skor yang sama. Hasil uji stabilitas selama 7 hari menunjukkan permen jeli mengalami penurunan pada keseragaman bobot dan pH, serta kandungan air tidak memenuhi persyaratan.
PEMBEKALAN HAND HYGIENE DAN PELATIHAN PEMBUATAN HAND SANITIZER LIDAH BUAYA (Aloe vera L.) DI SMA NEGERI 1 UNGARAN KABUPATEN SEMARANG Jatmiko Susilo; Agitya Resti Erwiyani; Anita Kumala Hati
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 2 No. 1 (2020): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei Vol.2 No.1
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.379 KB) | DOI: 10.35473/ijce.v2i1.517

Abstract

Tingginya angka penyakit infeksi di Indonesia salah satu diantaranya disebabkan oleh perilaku hidup yang tidak sehat. langkah untuk menurunkan angka infeksi dan meningkatkan derajat kesehatan melalui pembudayaan CTPS dan/atau penggunaan hand sanitizer. Lidah buaya (Aloe vera) merupakan tanaman hias yang mudah dibudidayakan dengan berbagai manfaat untuk kesehatan, diantaranya sebagai antiseptik, yang mampu menghambat pertumbuhan jamur,  bakteri dan virus, namun belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan membudayakan pola hidup sehat melalui CTPS, serta pembuatan hand sanitizer alami pada siswa SMA Negeri 1 Ungaran. Pembekalan ini dilakukan dengan ceramah dan diskusi dilanjutkan praktek pembuatan hand sanitizer, dan dievaluasi menggunakan kuesioner pre-post test. Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan dari 7,11 menjadi 8,26. dan keterampilan siswa kelas X SMA Negeri 1 Ungaran meningkat dalam hal kebersihan tangan, cuci tangan, dan pembuatan gel Hand sanitizer Lidah buaya Kata kunci: Hand sanitizer, aloe vera, siswa.
Peningkatan Perilaku Diri Warga Terhadap Pencegahan Covid 19 Niken Dyahariesti; Agitya Resti Erwiyani; Kartika Dian Pertiwi
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 4 No. 2 (2022): Indonesian Journal of Community Empowerment November 2022
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.401 KB) | DOI: 10.35473/ijce.v4i2.1823

Abstract

The spread of the COVID-19 virus is now out of control. The virus attacks regardless of age, place or gender. Everyone has the same chance of contracting this virus. Candi Rejo Village is one of the largest contributors to the 3rd largest confirmed case of COVID-19 in Semarang Regency. The cause of the high number of patients who are confirmed positive are many things, including the lack of public understanding about covid 19, both prevention and treatment. The purpose of this study is to provide education to the Candirejo community about behaviors that can prevent the spread of Covid 19. The target of community service is more to housewives household, because housewives are the main pillar who maintains health in the family environment and is assisted by health cadres. The method used is by providing education to the community through Candirejo health cadres by distributing posters and education about covid 19 including 7M, nutritious and balanced food and vaccinations. Health cadres are given knowledge and posters are posted in places that are easily accessible to the general public. The success of this education can be seen from changes in people's behavior or community knowledge. The definition of success is an increase in public knowledge about correct behavior, the use of vitamins for prevention and covid vaccination for a better life.ABSTRAKPenyebaran virus covid 19, saat ini sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Virus menyerang tidak memandang usia, tempat ataupun jenis kelamin. Semua orang mempunyai peluang yang sama untuk tertular virus ini. Kelurahan Candi rejo merupakan salah satu daerah penyumbang 3 terbesar pasien terkonfirmasi positif covid 19 di Kabupaten Semarang. Penyebab tingginya pasien yang terkonfirmasi positif banyak hal antara lain kurangnya pemahaman masyarakat tentang covid 19, baik pencegahan maupun pengobatannya.Tujuan penelitian ini adalah memberikan edukasi kepada masyarakat Candirejo tentang perilaku yang dapat mencegah terjangkitnya Covid 19. Sasaran pada pengabdian kepada masyarakat ini lebih ke ibu rumah tangga, karena ibu rumah tangga merupakan pilar utama yang menjaga kesehatan di lingkungan keluarga dan dibantu oleh kader kesehatan. Metode yang dilakukan adalah dengan pemberian edukasi ke masyarakat melalui kader kesehatan Candirejo dengan membagikan poster serta edukasi tentang covid 19 meliputi 7M, makanan bergizi dan seimbang serta vaksinasi. Kader kesehatan diberikan pengetahuan serta poster yang diberikan ditempel ditempat yang mudah diakses oleh khalayak umum. Keberhasilan edukasi ini, dapat dilihat dari perubahan perilaku masyarakat ataupun pengetahuan masyarakat. Definisi berhasil adalah adanya peningkatan pengetahuan masyarakat tentang perilaku yang benar, penggunaan vitamin untuk preventif dan vaksinasi covid untuk hidup yang lebih baik. 
Co-Authors Ambari, Yani Anasthasia Pujiastuti Anasthasia Pujistuti Andre Agasi Aprilia, Lyla Ari Siswati Arista Wahyu Ningsih Auli, Andira Ayu Putri Brilian Subhan Ayu Sonia Cahyani Ayu Sonia Cahyani Beti Pudyastuti, Beti Dedi Haswan Devi Mardiyanti DEWI RAHMAWATI Dian Oktianti Dika Destiani Dika Destiani, Dika Dina Sihot Rejeki Gultom Dwi Teju Nurita Mami Zulfa Eka Nur Rahmawati Ening Listyanti Fadila Aulia Zulfa Fadiyah, Ghina Atika Fania P. Luhurningtyas Fithri Hidayah Galih Adi Pramana Hadi Nasbey Hati, Anita Kumala Indriyani, Niken Istianatus Sunnah Istianatus Sunnah Istinatus Sunnah Jamhari Jamhari Jatmiko Susilo Kabelen, Stefan Adrianus Kartika Dian Pertiwi Krismelinda Octavia Yunisa Krismelinda Octavia Yunisa Layyinatunnisa, Dinda Frieska Luh Putu Mahatrianti Eningsari Luk Lu’ul Khumaeroh Luluk Mursyidah Luluk Nur Hidayah Lyda Walida Awwalin Maryanti Maryanti Mega Silvi Aprilliani Mega Silvi Aprilliani Mona Saparwati Mulasih, Wening Sri Niken Dyaharesti Nita Tanti Wulandari Nur Rahmadani Nyai Melati Pratama Nyai Melati Pratama Pratama, Nyai Melati Pujiastuti, Anasthasia Putri, Erly Hersina Rahmawati, Lili Rendy Rahman Resti Hayu Ningtyas Rilla Noor Farida Riska Aninda Putri Ristina Rahma Shinta Dewi Riva Mustika Anugrah Rofiana, Meilia Rosa Puspita Rizky Wulandini Rusiana, Ermala Samani, Ahmad Najib Saviana, Nur Winda Septi Mariani Septiana Rohama Ria Hikmawati Sikni Retno Karminingtyas Silmi, Wiwin Anuggerah Soraya, Novalisa Nindhi Sri Mustika Ayu Stefan Adrianus Kabelen Suzan Septiana T, Refika Nadha Talitha Cahyaningrum Tiara Anggraeni Tri Dewi Zakinah Ulum, Apiatul vifta, rissa laila Wening Sri Mulasih Wening Sri Mulasih Wijayanti, Estiningsih Sri Winda Ayu Ningtyas Yunisa, Krismelinda Octavia