Claim Missing Document
Check
Articles

Found 134 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Analisis Metode Optimum Unequal Channel Sepparation Pada Efek Four Wave Mixing Dalam Sistem Ng-pon2 Satrio Priambodo; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak NG-PON2 merupakan teknologi di bidang komunikasi serat optik yang paling baru. Meskipun begitu dalam Next Generation Gigabit Passive Optical Network Stage 2 (NG-PON2) sendiri masih terdapat efek non linier yang dapat menurunkan performansi, salah satunya adalah Four Wave Mixing (FWM). Penelitian ini dilakukan pada sistem NG-PON2 dengan jarak 30 km serta menggunakan bitrate masing-masing 40 Gbps untuk upstream dan 10 Gbps untuk downstream. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini antara lain nilai Power Received setelah menggunakan Optimum Golomb Ruler (OGR) mengalami kenaikan sebesar 0,17-0,23% dengan nilai terbesar -22,22 dB, nilai Signal to Noise Ratio (SNR) setelah OGR diterapkan mengalami peningkatan dengan nilai terbesar 36,16 dB, Nilai Q-Factor dan Bit Error Rate (BER) setelah penerapan OGR mengalami peningkatan pada jarak 25-30 km. Kata kunci : NG-PON2, Four Wave Mixing, Optimum Golomb Ruler. Abstract NG-PON2 is the most recent technology in the field of fiber optic communication. Even so, in the Next Generation Passive Optical Network 2 Stage 2 (NG-PON2) there are still non-linear effects that can reduce performance, one of which is Four Wave Mixing (FWM). This research was conducted on NG-PON2 systems with a distance of 30 km and using each bitrate of 40 Gbps for upstream and 10 Gbps for downstream. The results obtained in this study include the value of Power Received after using OGR has increased by 0.17-0.23\% with the largest value of -22.22 dB, Signal to Noise Ratio (SNR) value after OGR applied has increased with the greatest value 36.16 dB, Q-Factor Value and Bit Error Rate (BER) after OGR implementation have increased at a distance of 25-30 km. Keywords: NG-PON2, Four Wave Mixing, Optimum Golomb Ruler
Analisis Performansi Pengaruh Non Linearitas Four Wave Mixing (fwm) Pada Sistem Komunikasi Jarak Jauh Berbasis Dwdm Tiara Mustika; Akhmad Hambali; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Perkembangan Sistem Komunikasi Serat Optik (SKSO) terus mengalami kemajuan dari tahun ke tahun. Teknologi dari sistem komunikasi serat optik yang berkembang sangat pesat adalah teknologi Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM). DWDM mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dari teknologi terdahulu. Akan tetapi dibalik kelebihan yang dimiliki DWDM, terdapat kekurangan yang sangat mempengaruhi kinerja teknologi tersebut seperti efek non linearitas fiber yaitu Four Wave Mixing (FM). Pada pembuatan tugas akhir ini, dibuat pemodelan link DWDM pada perangkat lunak untuk mengetahui pengaruh dari FWM tersebut, dan terdapat dua skenario simulasi. Pada skenario pertama, variabel-variabel input yang dirubah adalah bitrate link dan jarak link. Pada skenario kedua yang dirubah adalah daya transmitter. Bitrate 10 Gbps dengan jarak dengan jarak 200 km memiliki performansi terbaik dengan q-Factor 3. Bitrate 40 Gbps dengan jarak 100 km memiliki performansi Q-factor 3,224. Bitrate 100 Gbps bahwa performansi terbaik pada jarak 100 km. Pengaruh daya transmitter pada bitrate 10 Gbps memiliki performansi terbaik pada skenario sebelumnya bahwa performansi terbaik pada link dengan daya transmitter 0 dBm dengan daya q-factor sebesar 3,37157. Pengaruh daya transmitter pada bitrate 40 Gbps , Perubahan pada daya transmitter pada link yang mengalami performansi terbaik pada skenario sebelumnya bahwa performansi terbaik pada link dengan daya transmitter 0 dBm dengan daya q-factor sebesar 4,0113. Pengaruh daya transmitter pada bitrate 100 Gbps, performansi terbaik pada skenario sebelumnya bahwa performansi terbaik pada link dengan daya transmitter -2.9 dBm dengan daya q-factor sebesar 2,43272. Kata Kunci : Dense Wavelength Division Multiplexing, Four Wave Mixing, Bit Error Rate, Qfactor Abstract Nowadays, The development of the Optical Fiber Communication Systems (SKSO in indonesian) continued to progress from year to year. Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) is one of technology of optical fiber communication systems which grows so fast. DWDM also has several advantages over previous technology. Besides the advantages of DWDM, there are deficiencies which greatly affect the performance of these technologies such as nonlinearity effects Four Wave Mixing (FWM). In this final assigment, there is a modelling of DWDM link was made from software that use the determine the effect of the FWM. And there are also two simulation scenario. In first scenario, the variable input that are changed is the bitrate links and link distance. The second scenario, the variable that is changed is the transmitter power. A 10 Gbps bitrate with a distance of 200 km has the best performance with q-Factor 3. A 40 Gbps bitrate with a distance of 100 km has a Q-factor performance of 3,224. Bitrate of 100 ISSN : 2355-9365 e-Proceeding of Engineering : Vol.6, No.2 Agustus 2019 | Page 3451 2 Gbps that the best performance at a distance of 100 km. The effect of transmitter power on 10 Gbps bitrate has the best performance in the previous scenario that the best performance on a link with 0 dBm transmitter power with q-factor power of 3.37157. Effect of transmitter power at 40 Gbps bitrate, Changes in transmitter power on the link that experiences the best performance in the previous scenario that the best performance on the link with transmitter power is 0 dBm with a q-factor power of 4.0113. The effect of transmitter power on 100 Gbps bitrate, the best performance in the previous scenario that the best performance on the link with transmitter power is -2.9 dBm with q-factor power of 2.43272. Keyword: Dense Wavelength Division Multiplexing, Four Wave Mixing, Bit Error Rate, Q-fact
Analisis Perancangan Ibc (indoor Building Coverage) Menggunakan Media Transmisi Rof (radio Over Fiber) Pada Jaringan Lte Untuk Layanan Data Wani Wahdania; Uke Kurniawan Usman; Akhmad Hambali
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Seiring dengan berkembangnya teknologi sistem komunikasi seluler dan bertambahnya gedung-gedung bertingkat di kota kota besar seperti gedung perkantoran, rumah sakit, dan pusat perbelanjaan atau mall yang tiap harinya memiliki jumlah pengunjung yang banyak sehingga provider harus memastikan bahwa kualitas jaringan yang disediakan itu sudah baik. Berdasarkan hasil drivetest dan walktest yang didapatkan sebelumnya, kualitas jaringan LTE yang diterima user didalam gedung pusat perbelanjaan Pasar Baru tidak dapat diterima dengan baik karena power dari eNodeB mengalami redaman yang cukup besar dari dinding-dinding bangunan yang dilewati.Pada tugas akhir ini, dilakukan perencanaan IBC (Indoor Building Coverage) agar memperbaiki kualitas jaringan LTE yang berada di Gedung Pasar Baru Bandung. Dalam Perencanaan ini, hal yang dilakukan adalah melakukan walktest untuk mengetahui kondisi jaringan yang ada di Gedung Pasar Baru, melakukan perbandingan antara perhitungan berdasarkan capacity planning dan coverage planning yang tujuannya untuk mendapatkan jumlah BTS yang akan digunakan, dan melakukan simulasi perencanaan menggunakan software optisystem dan RPS (Radio Propagation Simulator) serta menggunakan teknologi ROF (Radio Over Fiber).Dari hasil perencanaan ini setelah melakukan perbandingan antara capacity planning dan coverage planning dibutuhkan 23 PAP perlu dipasang di gedung Pasar Baru Bandung. Kemudian dari hasil simulasi untuk lantai basement sampai lantai 7 telah menghasilkan RSL yang sesuai dengan standar KPI operator XL yaitu diatas 90% dimana presentase terendah yaitu 94,18% dan presentase tertinggi yaitu 100%. Begitupun dengan nilai SIR dimana prensentase terendah yaitu 90,96% dan presentase tertinggi yaitu 99,2%. Dan untuk hasil simulasi dari optisystem dengan nilai BER yang mendekati 0, dan hasil PLB senilai -17,5 dBm. Kata Kunci : walktest, LTE, optisystem, Capacity Planning, CoveragePlanning. Abstract Along with the development of cellular communication system technology and the increase of multi-storey buildings in big cities such as office buildings, hospitals, and shopping centers or malls which every day have a large number of visitors so the provider must ensure that the quality of the network provided is good. Based on the results of the drivetest and walktest obtained previously, the quality of the LTE network received by users in the Pasar Baru shopping center cannot be well received because the power from the eNodeB has considerable attenuation from the walls of the building being passed. In this final project, IBC (Indoor Building Coverage) is planned to improve the quality of the LTE networks in Pasar Baru building Bandung. In this plan, what is done is to conduct a walktest to find out the network conditions in Pasar Baru building, to make comparisons between capacity planning and coverage planning calculations that aim to obtain the number of PAP to be used, and carry out simulation planning using optic and RPS (Radio Propagation Simulator) and using ROF (Radio Over Fiber) technology. From the results of this plan, after making a comparisons between capacity planning and coverage planning, 23 PAP needed to installed in Pasar Baru building. Then the simulation result for the basement floor until 7th floor it has produced RSL which is in accordance with XL operator KPI standards which is above 90% where the lowest percentage is 94,18% and the highest percentage is 100%. Likewise with the value of SIR where the lowest percentage is 90,96% and the highest percentage is 99,2%. And for the results of the simulation of the optics get BER results almost zero, and the PLB results worth -17,5 dBm. Keywords: walktest, LTE, optisystem, Capacity Planning, Reach Planning
Pengaruh Efek Nonlinear Pada Jaringan Ng Pon2 Menggunakan Media Transmisi Highly Nonlinear Fiber Muhamad Prasetyo Notonegoro; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Teknologi fiber optik yang sekarang sedang dikembangkan yakni Next Generation Passive Optical Network 2 (NG PON2). NG PON2 diciptakan untuk memenuhi jaringan broadband masa depan yang sangat tinggi tingkat kebutuhnya, serta membutuhkan banyak pengembangan. NG PON2 telah di standarisasikan oleh ITU-T G.989 series pada tahun 2015, dengan menggabungkan 4 Optical Line Terminal (OLT) menggunakan teknologi Time and Wavelength Division (TWDM). Skenario Pengujian yakni dengan menggunakan 32 ONU dan 64 ONU serta membandingkan antara media transmisi Highly Nonlinear Fiber dan G.652.C dengan menganalisis efek nonlinear yang terjadi pada kedua media transmisi tersebut. Penggunaan 4 panjang gelombang dengan kecepatan 40 Gbps untuk arah downstream dan 10 Gbps untuk arah upstream. Berdasarkan data dari simulasi HNLF terjadi efek nonlinear yang mempengaruhi hasil perfomansi LPB, QFaktor dan BER. Pada jarak 21 km dengan 32 ONU HNLF didapatkan hasil LPB = - 22,59 dBm, Q-Faktor = 12,53, BER = 1,7 x 10-36. Sedangkan untuk SMF LPB = -19,44 dBm, Q-Faktor = 19,83 BER = 7,47 x 10-88 . Sedangkan pada 64 ONU HNLF didapatkan hasil LPB = -23,49 dBm, Q-Faktor = 10,82, BER = 9,78 x 10-28 untuk SMF LPB = -19,72 dBm Q-Faktor = 19,25, BER = 5,36 x 10-83. Perbedaan performansi yang terjadi pada kedua media transmisi ini disebabkan oleh Four Wave Mixing terjadi yang dihitung didapatkan sebesar -86,64 dBm. Kata kunci : TWDM, HNLF, NG PON2, Nonlinear Efek, Four Wave Mixing Abstract Optical fiber technology now being developed is Next Generation Passive Optical Network 2 (NG PON2). NG PON2 created for fulfil broadband network future that very high demand, also needs developed. NG PON2 already in standardization ITU-T G.989 series in 2015, with four aggregation OLT using TWDM. The Testing Scenario uses 32 ONU and 64 ONU and compare between HNLF and G.652.C media transmission by analysing nonlinear effect that happened in two media transmission. It uses 4 wavelength with 40 Gbps speed for downstream and 10 Gbps speed for upstream. Based on data HNLF simulation, there is an nonlinear effect that affected performance result LPB, Q-factor and BER. The result obatain from 21 km with 32 ONU HNLF is LPB = - 22,59 dBm, Q-Faktor = 12,53, BER = 1,7 x 10-36. While for SMF LPB = -19,44 dBm, Q-Faktor = 19,83 BER = 7,47 x 10-88 . Whereas for 64 ONU HNLF obtain LPB = -23,49 dBm, Q-Faktor = 10,82, BER = 9,78 x 10-28 for SMF is LPB = -19,72 dBm Q-Faktor = 19,25, BER = 5,36 x 10-83. The difference between performance the media transmission caused by Four Wave Mixing that get calculation result of -86,64 dBm. Keywords: TWDM, HNLF NG PON2, Effect Nonlinear, Four Wave Mixing
Perencanaan Sistem Komunikasi Kabel Laut Jasuka Link Alternatif Tanjung Pakis-pontianak Bagas Sidiq Haryanto; Kris Sujatmoko; Akhmad Hambali
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) merupakan sistem komunikasi yang menggunakan media transmisi kabel optik dimana kabel optik tersebut digelar bukan didarat melainkan di dalam laut. Semakin banyaknya pertumbuhan penduduk di Indonesia, maka semakin banyak yang membutuhkan proses pertukaran data. Kapasitas existing tidak memungkinkan untuk melayani banyaknya kebutuhan penduduk melakukan pertukaran data. Kondisi dengan nilai load traffic 77 \% pada link Tanjung Pakis-Tanjung Pandan. Link utama yang terdapat pada Tanjung Pakis – Tanjung Pandan apabila terjadi over traffic maka akan mengakibatkan putusnya link sehingga perlu dibuatnya link alternatif yang mampu menghandle apabila terjadi kondisi yang tidak diingiinkan. Dari semua skenario yang dirancang, skenario 3 dikatakan layak dengan perancangan link menggunakan tipe kabel G.655 sejauh 973,52 kilometer dengan 9 buah penguat EDFA mendapatkan nilai Link Power Budget -12,78 dBm dengan nilai SNR sebesar 26,02 dB, nilai Q-factor sebesar 9,99 dan nilai Bit Error Rate sebesar 8,59 x 10- 24 . Dikatakan layak berdasarkan nilai minimum setiap parameter performansi. Kata Kunci : SKKL, kabel optik, kapaitas, existing, alternatif Abstract The Cable Communication System (SKKL) is a communication system that uses optical cable transmission media that is held not in the sea. The more population growth in Indonesia, the more people need the data exchange process. Existing capacity does not allow to serve the many needs of the population to exchange data Conditions with a 77 \% load traffic value on the Tanjung Pakis-Tanjung Pandan link. The main link found in Tanjung Pakis - Tanjung Pandan if there is over traffic will result in link disconnection so that an alternative link needs to be made that can handle in the event of an undesirable condition. Of all the scenarios designed, scenario 3 is said to be feasible with the design of link using the type of cable G.655 as far as 973.52 kilometers with 9 EDFA amplifiers getting the value of Link Power Budget -12.78 dBm with SNR value for 26.02 dB, the value of Q-factor is 9.99 and the value of Bit Error Rate is 8.59 x 10- 24. It is said to be feasible based on the minimum value of each performance parameter. Keywords : SKKL, optical cable, capacity, existing, alternative.
Analisis Performasi Subcarrier Intensity Modulation Pada Kanal Model Kim Dan Kruse Di Free Space Optic Fatrheza Imantaqwa; Akhmad Hambali; Kris Sujatmoko
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Free Space Optic (FSO) adalah komunikasi berbasis optik tanpa menggunakan kabel. Sebelumnya ada sebuah teknologi optik yang menggunakan radio frekuensi (RF) sebagai sinyal pembawanya, yaitu Radio over Fiber (RoF). Namun RoF memiliki beberapa kekurangan seperti interferensi elektrik, distorsi, dan noise yang besar. Oleh karena itu dibuatlah teknologi Free Space Optic (FSO). FSO juga merupakan teknologi untuk jaringan backup. Contohnya bila ada bencana gempa, lalu kabel optik rusak, maka langsung digantikan dengan FSO yang tidak memakai kabel. Free Space Optic (FSO) adalah teknologi komunikasi berbasis optik yang propagasi cahayanya terjadi di alam terbuka. Teknologi ini memanfaatkan system kerja Line Of Sight (LOS), dan full duplex. Pada umumnya FSO ini menggunakan LASER sebagai light sourcenya. FSO memiliki beberapa kelebihan seperti kurangnya gangguan, mudahnya maintenance, dan kecepatan yang tinggi. Pada penelitian ini, disimulasikan dan dianalisis menggunakan Subcarrier Intensity Modulation (SIM) pada kanal model Kim dan Kruse, dengan penggunaan empat panjang gelombang dan variasi visibility. Setelah pengujian dengan SIM, dibandingkan dengan modulasi OOK-NRZ dan OOK-RZ dengan parameter dan kanal yang sama. BER menggunakan SIM lebih baik daripada menggunakan modulasi OOK-NRZ dan OOK-RZ, dan pada panjang gelombang 1550 nm dengan nilai 10−98pada kanal model Kim dan 10−73 pada kanal model Kruse. Kata kunci : FSO, SIM, Kim, Kruse, BER. Abstract Free Space Optic (FSO) is optical based communication without using cables. Previously there was an optical technology that uses radio frequency (RF) as its carrier signal, namely Radio over Fiber (RoF). But RoF has several disadvantages such as electrical interference, distortion, and large noise. Therefore Free Space Optic (FSO) technology was created. FSO is also a technology for backup networks. For example, if there is an earthquake, then the optical cable is damaged, immediately be replaced with an FSO that does not use cables. Free Space Optic (FSO) is an optical-based communication technology whose light propagation takes place in the open. This technology makes use of the Line Of Sight (LOS) and full duplex work systems. In general, this FSO uses LASER as its light source. The FSO has several advantages such as lack of interference, easy maintenance, and high speed. In this study, it was simulated and analyzed using Subcarrier Intensity Modulation (SIM) on Kim and Kruse's channel models, with the use of four wavelengths and variations in visibility. After testing with SIM, it compared with OOK-NRZ and OOK-RZ modulation with the same parameters and channels. BER using SIM is better than using OOK-NRZ and OOK-RZ modulation, and at wavelengths of 1550 nm with values of 𝟏𝟎−𝟗𝟖on Kim's model channel and 𝟏𝟎−𝟕𝟑 on the Kruse model canal. Keywords: FSO, SIM, Kim, Kruse, BER
Analisis Perbandingan Jumlah Led Dengan Mengukur Performa Pada Sistem Vlc Fahira Indriyana; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abtsrak Tugas Akhir ini melakukan studi tentang teknologi Visible Light Communication (VLC). Dalam Tugas Akhir ini, membandingkan penggunaan jumlah lampu sebanyak 1, 2 dan 3 buah lampu LED dengan menggunakan optical concentrator dan tanpa optical concentrator pada sistem VLC. Teknologi jaringan nirkabel (wireless) terus berkembang dengan menggunakan LED sebagai sarana pengirim informasi dalam ruangan. Konstribusi Tugas Akhir ini signifikan karena performasi pada penggunaan jumlah LED dengan performa sistem VLC relatif memenuhi. Dan penggunaan 1, 2 dan 3 buah lampu menggunakan optical concentrator yang memenuhi yaitu 1 buah lampu sebesar 8,7 × 10−3 mW, jarak sejauh 3,83 m dan posisi sudut receiver sebesar 55,87° dengan menggunakan optical concentrator. Kata Kunci: VLC, LED, BER, OOK-NRZ, Optical Concentrator, Photodioda Abstract The final Project study about Visible Light Communication (VLC) technology. This project compare the utilization of number of LED light's as much as 1, 2, and 3 lights by using optical concentrator and without optical concentrator at VLC system. Wireless network technology develop by using LED as an information transmiter in a room continuously. This final project has a significant contribution because the performance of utilization of number of LED with performance of VLC system are qualified relatively. Then the utilization of 1, 2, and 3 lights by using optical concentrator that qualified is a system that used one light with power receiver (Prx) as 8,7× 10 -3 mW, with distance as 3,83 m and the position of receiver angle as 55,87°.
Analisis Integrasi Sistem Radio Over Fiber (rof) Dengan Next Generation Passive Optical Network Stage 2 (ng-pon2) Naufal Karyadi; Akhmad Hambali; Kris Sujatmoko
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pengguna layanan seluler dalam beberapa tahun belakangan ini semakin meningkat sehingga kebutuhan akan bandwidth semakin tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan sarana telekomunikasi yang bisa menanggulangi permasalahan tersebut, salah satunya yaitu dengan menggunakan sistem Radio Over Fiber (RoF). Kemudian dengan mengimplementasikan RoF ke Passive Optical Network (PON) bisa menawarkan user yang lebih banyak dan bandwidth yang dihasilkan bisa lebih besar. Pada penelitian ini dilakukan simulasi integrasi RoF dengan NGPON2 dengan menggunakan bitrate sebesar 40 Gbps sisi downstream dan menggunakan frekuensi radio sebesar 60 GHz. Kemudian simulasi ini dilakukan dengan 3 skenario yang dibedakan berdasarkan jumlah ONU. Dari simulasi yang dilakukan, didapatkan hasil performansi terbaik pada Skenario I dengan sistem yang menggunakan OA pada jarak 30 km. Untuk hasil performansi terbaik pada Skenario II dengan sistem yang menggunakan OA pada jarak 20 km dengan nilai. Untuk hasil performansi terbaik pada Skenario III dengan sistem yang menggunakan OA pada jarak 10 km dengan hasil performansi seperti LPB ≥ -28 dBm, Q-Factor ≥ 6, dan BER ≤ 10-9 . Kata kunci : RoF, NG-PON2, ONU, Q-Factor, BER, Link Power Budget. Abstract Users of cellular services in recent years are increasing so that the need for bandwidth is getting higher. Therefore, telecommunication facilities are needed that can overcome these problems, one of which is by using the Radio Over Fiber (RoF) system. Then by implementing RoF to Passive Optical Network (PON), it is expected to be able to offer more users and greater bandwidth. In this study a simulation of RoF integration with NG-PON2 was carried out by using a 40 Gbps bitrate downstream and using radio frequency of 60 GHz. Then this simulation is carried out in 3 scenarios that are differentiated based on the number of ONUs. From the simulation, the best performance results obtained in Scenario I with system that uses OA at distance of 30 km. For the best performance results in Scenario II with system that uses OA at distance of 20 km with a value. For the best performance results in Scenario III with system that uses OA at distance of 10 km with performance results such as LPB ≥ -28 dBm, Q-Factor ≥ 6, and BER ≤ 10-9 . Keywords: RoF, NG-PON2, ONU, Q-Factor, BER, Link Power Budget. Abstrak Pengguna layanan seluler dalam beberapa tahun belakangan ini semakin meningkat sehingga kebutuhan akan bandwidth semakin tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan sarana telekomunikasi yang bisa menanggulangi permasalahan tersebut, salah satunya yaitu dengan menggunakan sistem Radio Over Fiber (RoF). Kemudian dengan mengimplementasikan RoF ke Passive Optical Network (PON) bisa menawarkan user yang lebih banyak dan bandwidth yang dihasilkan bisa lebih besar. Pada penelitian ini dilakukan simulasi integrasi RoF dengan NGPON2 dengan menggunakan bitrate sebesar 40 Gbps sisi downstream dan menggunakan frekuensi radio sebesar 60 GHz. Kemudian simulasi ini dilakukan dengan 3 skenario yang dibedakan berdasarkan jumlah ONU. Dari simulasi yang dilakukan, didapatkan hasil performansi terbaik pada Skenario I dengan sistem yang menggunakan OA pada jarak 30 km. Untuk hasil performansi terbaik pada Skenario II dengan sistem yang menggunakan OA pada jarak 20 km dengan nilai. Untuk hasil performansi terbaik pada Skenario III dengan sistem yang menggunakan OA pada jarak 10 km dengan hasil performansi seperti LPB ≥ -28 dBm, Q-Factor ≥ 6, dan BER ≤ 10-9 . Kata kunci : RoF, NG-PON2, ONU, Q-Factor, BER, Link Power Budget. Abstract Users of cellular services in recent years are increasing so that the need for bandwidth is getting higher. Therefore, telecommunication facilities are needed that can overcome these problems, one of which is by using the Radio Over Fiber (RoF) system. Then by implementing RoF to Passive Optical Network (PON), it is expected to be able to offer more users and greater bandwidth. In this study a simulation of RoF integration with NG-PON2 was carried out by using a 40 Gbps bitrate downstream and using radio frequency of 60 GHz. Then this simulation is carried out in 3 scenarios that are differentiated based on the number of ONUs. From the simulation, the best performance results obtained in Scenario I with system that uses OA at distance of 30 km. For the best performance results in Scenario II with system that uses OA at distance of 20 km with a value. For the best performance results in Scenario III with system that uses OA at distance of 10 km with performance results such as LPB ≥ -28 dBm, Q-Factor ≥ 6, and BER ≤ 10-9 . Keywords: RoF, NG-PON2, ONU, Q-Factor, BER, Link Power Budget.
Implementasi Sistem Informasi Pencemaran Air Sungai Berbasis Internet Of Things Agung Mujadid; Akhmad Hambali; Efri Suhartono
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Air merupakan sumber kehidupan mahluk hidup. Air digunakan untuk berbagai kebutuhan manusia, hewan, maupun tumbuhan. Air hujan yang jatuh ketanah akan menghantam bebatuan dan akan menghasilkan pecahan bebatuan kecil yang dapat menghalangi pori-pori tanah. Dengan demikian semakin banyak air yang mengalir dipermukaan tanah dan lama kelamaan akan membentuk sungai. Namun seiring berkembangnya penduduk di berbagai belahan bumi sungai-sungai mulai banyak yang tercemar. Hal tersebut dapat mengakibatkan resiko terkena penyakit lebih rentan. Beberapa penyakit yang dapat muncul seperti kolera, diare, disentri, hepatitis a, malaria dan polio. Tidak hanya dapat menimbukan penyakit bagi manusia, pencemaran air juga dapat mengakibatkan populasi ikan di air sungai akan punah, selain itu pencemaran air dapat merusak tanaman jika air yang digunakan untuk menyiram tanaman ialah air yang tercemar. Pada penelitian ini dibuat suatu rancangan alat yang mampu memberikan informasi kepada petugas kebersihan tentang kualitas air sungai. Pada proyek ini menggunakan sensor pH untuk mengukur tingkat keasaman dan sensor turbidity yang mampu mengukur tingkat kekeruhan air serta didukung dengan platform arduino sebagai mikrokontrolernya yang dihubungkan dengan GPS yang akan mampu memberikan layanan Internet dan posisi latitude dan longitude dari lokasi sungai melalui aplikasi telegram. Dari hasil penelitian ini didapat hasil dari pengukuran bahwa air sungai yang uji melalui aplikasi telegram mendapatkan delay rata-rata 8,84 sampai 10,81 detik. Selain itu juga parameter pH yang didapat rata-rata dari 4,81 sampai 6,43 dan pada parameter turbidity didapat rata-rata dari 3,2 sampai 10,3. Kata kunci : Pencemaran air, Internet of things, Arduino, GPS, Telegram Abstract Water is the source of life for living things. Water is used for various needs of humans, animals and plants. Rainwater that falls to the ground will hit the rocks and will produce small pieces of rock that can block the pores of the soil. Thus the more water that flows on the surface of the land and eventually will form a river. But as the population grows in various parts of the world, rivers begin to become polluted. This can lead to the risk of getting more susceptible diseases. Some diseases that can arise such as cholera, diarrhea, dysentery, hepatitis a, malaria and polio. Not only can humans cause disease, water pollution can also cause fish populations in river water to become extinct, but water pollution can damage plants if the water used to water plants is polluted water. In this research, a tool design that is able to provide information to cleaning staff about river water quality is created. This project uses a pH sensor to measure acidity and turbidity sensors that are capable of measuring water turbidity levels and are supported by an arduino platform as a microcontroller that is connected to GPS that will be able to provide Internet services and latitude and longitude position of river locations through telegraph applications. From the results of this study the results obtained from measurements that the river water tested through telegram applications get an average delay of 8.84 to 10.81 seconds. In addition, the pH parameters obtained on average from 4.81 to 6.43 and the turbidity parameters obtained on average from 3.2 to 10.3. Keywords: Water pollution, Internet of things
Performansi Sistem Radio Over Fiber Untuk 4g Dan 5g Ripai Ripai; Kris Sujatmoko; Akhmad Hambali
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pertubuhan pada bidang telekomunikasi saat ini berkembang sangat pesat, hal ini disebabkan karena kebutuhan user yang menginginkan layanan telekomunikasi yang cepat dengan cakupan yang luas. Radio Over Fiber (RoF) merupakan solusi yang ditawarkan karena menyediakan layanan yang cepat dengan bandwidth yang besar dan cakupannya yang luas. Pada penelitian ini membuat sistem RoF untuk jaringan 4G dan 5G dengan menggunakan teknik modulasi 4-Quardature Amplitude Modulation (QAM) dan menggunakan modulator optik Lithium Nitrobate (LiNb) Mach Zehnder Modulator. Pada simulasi menggunakan jarak lintasan optik 30 Km, 45 Km, dan 60 Km. Hasil performansi sistem RoF dengan jarak terjauh 60 Km mendapatkan nilai Q-factor sebesar 6.017 dan BER sebesar 9.463x10-10 pada sistem RoF menggunakan frekuensi 2.3 GHz. Pada sistem RoF menggunakan frekuensi 3.5 GHz mendapatkan nilai Q-factor sebesar 6.199 dan BER sebesar 2.823x10-10. Pada sistem RoF menggunakan frekeunsi 60 GHz mendapatkan nilai Q-factor sebesar 6.363 dan BER sebesar 9.758x10-11. Hasil dari ketiga skema masih memenuhi standar nilai Q-factor sebesar 6 dan nilai BER 10-9 . Kata Kunci: RoF, QAM, Q-factor, BER. Abstract The organization in the field of telecommunications is now growing very rapidly, this is due to the needs of users who want a fast telecommunication service with wide coverage. Radio Over Fiber (RoF) is a solution offered because it provides fast service with great bandwidth and wide coverage. This study created an RoF system for 4G and 5G networks using 4-Quadrature Amplitude Modulation (QAM) modulator and using the Mach Zehnder Modulator (LiNb). The simulation uses an optical trajectory of 30 Km, 45 Km, and 60 Km. The performance results of the RoF system with the most distance of 60 Km have a Q-factor value of 6,017 and BER of 9.463 X10-10 on the RoF system using a frequency of 2.3 GHz. On the RoF system Using a frequency of 3.5 GHz gets a Q-factor value of 6,199 and BER of 2.823 X10-10. In the RoF system using the 60 GHz Frekeunsi get the Q-factor value of 6,363 and BER of 9.758 X10-11. The results of the three schemes still meet the standard Qfactor value of 6 and the value of 10-9. Keywords: RoF, QAM, Q-factor, BER.
Co-Authors Abbas, Raihan Rizqan Radhiyya Achmad Rifiandi Achmad Wildan Almaiz Achmad, Raffi Ade Rizki Ginanjar Adhitya, Farhan Ghifari Adhy Rizkya Oktauzi Putra Aditya , Bagus Aditya , Reza Afief Dias Pambudi Afif Glenta Utama Ageak Raporte Bermano Aghnia Sabika Agung Mujadid Ahmad Hidayat Ahyadan Weka Pratomo Ajeng Rahmaningtyas Firnadya Akbar, Fadel Al Akbar Aldrin Fakhri Azhari AMINAH INDAHSARI MARSUKI Andi Audy Oceanto Andi Imam Dwi Rezky Andi Oceanto Andika Putra Ramadhan Andre Frendra Zuli Andri Eryawan Ahmad Rifki Andy Oceanto Anggraeni, Nabila Ayu Anissa Okta Adi Perwita Arfianto Fahmi Ario Prabowo Ariqi, Fadhlul Arumadina Islamiq Asdianty, Lisda Aulia Nugraha Azrika, Andi Zhagyta Amalia B. Richard Tampubolon Bagas Sidiq Haryanto Bernadetta Sekar Pratiwi Bima Kurnia Marahsakti Karel Brian Pamukti Danu Dwi Sanjoyo Denny Darlis Dessinta Eka Wulandari Desti Madya Saputri Devitasari, Sabrina Dharu Arseno Dimas Hendratno Dinata, Ericha Septya Efri Suhartono Eka Yunita Dian Pratiwi Ekki Kurniawan Erna Sri Sugesti Fahira Indriyana Fajri Tanjung Fajria Nur Rahmawati Fajriansyah , Dhafa Baldi Faris Bayu Azanto FASYA, ISTI Fathurrahman, Muhammad Naufal Fatrheza Imantaqwa Fauzan Munggara Fauzi Muhammad Iqbal Ferry Alvi Pratama Gede Teguh Laksana Gustommy Bisono Hafiddudin Hafiddudin Hafidudin . Harismawan, Saskia Ananda Harry Rachmatsyah Herin Damara Ditya Hermawan Widiyanto Hernito, Argo Hersanda Narpatangga Kistrawan Hidayat, Muh. Tri Ignatio Chriesma Diba Sanggiantara Ihsan Saputro Ilham Bayu Prabowo Indrarini Dyah Irawati Irfan Maulana, Irfan Irham Mulkan Rodiana Jaka Satria Prayuda Jamil, Althaf Nizarudin Johanes Nicolas Panjaitan Junior, David Juwita Sekar Harum Kahayan, Fahrul Halim Jaka KARIMAH, ZULIA NURUL Kindi Alfitrandy Kris Sujatmoko Kurnia Cahya Ade Putra Kurniawan Gustyanto Lapatoza, Randy Surya Fathir Latief, Noval Ramadhana Lazuardi Ramadeanto Lita Harpaning Pertiwi M. LUTHFI M. LUTHFI Marcellus Haninditya Maulana Pragnya Ghita Maulana, M. Irfan Maulana, Naufal Mirza Michelle Christine Mochammad Hafiz Kurnia Mochammad Hasan Jauhari Mochammad Hasan Jauhari Mohamad Fadhian Mohammad Bima Putra Brayoga Muhamad Arief Permana Muhamad Prasetyo Notonegoro Muhamad Ramdlan Kirom Muhamad Rizky Darmawansyah Muhammad Afrizal Muhammad Afrizal Muhammad Etfrawan Shobirin Muhammad Fajar Nugraha Muhammad Hawary Muhammad Hidayat Abibi Muhammad Irfan Maulana Muhammad Luthfi Ramadhan Abdul Rachman Muhammad Rayhan Hasibuan Muhammad Rendra Perdana Kusuma Djaka Muhammad Yasyir Musarah Wim Nabilla Aprilia Nachwan Mufti Adriansyah Nadhasya, Athallah Favianauvally Nadia Herma Wati Naffisa Naufal Andriani Najib Asqolani Akbar Naufal Karyadi Nugraha Septiana Pamungkas Nur Fahmi Farabi Nur Rizki Yulizar Nurrochman Prabowo Odang Yusuf Okta Mia Sari Oktavianingrum, Andarista Putri Olyvia Noviyanti Oq Vinesto Riyadi Paliwan Paliwan Pane, Grace Deborah Maria Paundra Aldila Pradana, Muhammad Rifki Aldi Prasetya, Rizky Aris Prasetyo, Fery Hafidz Pratama, Rakan Aji Pugar Athma Praja Putra, Farhan Sunella Putri, Crystal Ilesta Putri, Novian Indriani R. Bambang Cahyo Widodo Rahadian, Iqbal Adzani Rahmadianti Nelson Raihanum, Khaula Ramadhan, Abdillah Rasyid Vikri Prisdiansyah Ratih Kusuma Wardhani Raynanda Chandra Wibisono Rendy Munadi Reyga Prayogo Richo Pratama Putra Ridhwan Gandaatmaja Ridwan Pratama Ripai Ripai Riska Agus Rizky Maulana Arpan Rizky Mauludy Muttaqien Rizky Satria Rizky Satria, Rizky Rizky, Muhammad Arief Rosid, Winky Harun Al Ryan Topani Sarah Shafira Wijaya Sasono Rahardjo Satria , Rizky Satrio Priambodo Satya Prianggono Sekar Langit Az-Zahra Saksono Sugito Sugito Suwandi Suwandi Suwardi , Farhan Syawal Alam Machfuddin Taufik Abdurrahman Taufik Akbar Tiara Fadila Tiara Mustika Tjahjo Adiprabowo R Uke Kurniawan Uke Kurniawan Usman Umar Fachreza Unang Sunarya Valendira Putri Wahyu Nur Annisa Wani Wahdania Winda Friandawa Winda Ika Syukrina Windy Christalia Winnugroho Wiratman, Manfaluthy Hakim, Tiara Aninditha, Aru W. Sudoyo, Joedo Prihartono Wiranata, Aldi Yennisa Yesiana Yuliana Permata Sari Yusuf, Hafizh Khairan Adya Zehan Zulkarnaen Zulfi Zulfi Zulfikar Sandy Pratama ‘Aunurrafieq, Muhammad Naufal