Claim Missing Document
Check
Articles

Found 134 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Analisis Simulasi Performansi Modulasi Direct Dan Eksternal Pada Jaringan Ftth Dengan Gigabit Passive Optical Network (Gpon) Ridhwan Gandaatmaja; Akhmad Hambali; Andi Oceanto
eProceedings of Engineering Vol 1, No 1 (2014): Desember, 2014
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini, jaringan FTTH menjadi suatu jaringan komunikasi yang lebih andal untuk digunakan masyarakatsaat ini, dimana masyarakatsaat ini membutuhkan pengiriman data yang lebih cepat dan bandwidth yang lebih lebar untuk akses komunikasi. Pada teknologinya, Gigabit Passive Optical Network (GPON) merupakan teknologi yang sangat andal dikarenakan mampu mencapai bitrate tinggi hingga 2.5 Gbps untuk downstream dan 1.25 Gbps untuk upstream. GPON bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi performa jaringan FTTH. Faktor lain yang mempengaruhinya adalah letak pemodulasian pada sisi transmitter jaringan. Modulasi merupakan proses pengubahan sinyal menjadi bentuk tertentu agar bisa ditransmisikan sampai dengan tujuan. Berdasarkan letak pemodulasianya, cahaya pada serat optik dapat dimodulasi secara direct dan secara eksternal. Pada modulasi direct cahaya akan dimodulasikan di dalam perangkat sumber cahayanya, sedangkan pada modulasi eksternal cahaya akan dimodulasi diluar perangkat sumber cahayanya. Pada penelitian ini dilakukan analisis dengan parameter kelayakan jaringan seperti power link budget, rise time budget. Serta Signal to Noise Ratio (SNR), Bit Error Rate (BER), dan eye diagram yang didapatkan dari hasil simulasi dengan software Optisystem. Pada penelitian digunakan skema jaringan yang didapatkan dari yaitu pada daerah perumahan Batununggal yang dianalisis pada ODC FBG dan distribusi FBG 43 – FBG 54. Dimana pada jaringan ini menggunakan transmitter yang menggunakan modulasi direct dan eksternal sesuai spesifikasi dari datasheet. Pada akhir penelitian didapatkan daya keluaran transmitter pada modulasi direct sebesar 2,388 dBm yang lebih besar dibandingkan dengan modulasi eksternal yaitu 0,934 dBm. Analisis power link budget untuk kedua modulasi pada jarak terdekat dan terjauh didapatkan hasil yang memenuhi kelayakan karena didapatkan hasil daya terima yang lebih besar dari sensitivitas detektor yaitu -28 dBm. Untuk analisis rise time budget pada kedua modulasi juga memenuhi kelayakan karena berada ttotal dibawah batas maksimum penggunaan NRZ yaitu 0,28 ns. SNR yang didapatkan pada kedua modulasi juga berada diatas batas SNR yang ditetapkan yaitu 21,5 dBm. Dan BER yang didapatkan pada modulasi eksternal jauh lebih baik dibandingkan modulasi direct namun pada kedua modulasi masih layak karena berada dibawah batas maksimum yaitu 10 -9 . Kata kunci : GPON, FTTH, modulasi direct, modulasi eksternal
Perencanaan Penggunaan Perangkat Pembagi Untuk Komunikasi Kabel Laut Di Jalur Indonesia Global Gateway (igg) Muhammad Rayhan Hasibuan; Akhmad Hambali; Mochammad Hasan Jauhari
eProceedings of Engineering Vol 5, No 1 (2018): April 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem komunikasi bawah laut (SKKL) merupakan salah satu sistem komunikasi yang digunakan untuk menghubungkan jaringan telekomunikasi antar negara dan pulau. Mengetahui banyaknya pulau yang harus terhubung jaringan telekomunikasi, maka diperlukan perangkat penunjang seperti Branching Unit (BU) agar dapat memenuhi kebutuhan kapasitas pelanggan di setiap landing point.Penelitian ini akan menganalisa konfigurasi perencanaan pada SKKL yang terdapat di Indonesia Global Gateway (IGG) yang memiliki jumlah panjang gelombang sebanyak 80 wavelength. Skema pembagian jaringan kabel laut pada penelitian ini menggunakan 2 konfigurasi, yaitu konfigurasi branching dengan OADM BU, booster, in-line amplifier, dan per-amplifier, serta konfigurasi festoon tanpa menggunakan BU dan hanya menggunakan booster dan pre-amplifier. Dari hasil simulasi akan dilakukan análisis terhadap power receive, bit error rate (BER), dan Q-Factor.Berdasarkan hasil simulasi, didapatkan hasil dari konfigurasi branching memiliki performansi yang lebih baik dibanding konfigurasi festoon. Hal tersebut berdasarkan hasil BER terendah pada konfigurasi branching dan nilai Q-Factor tertinggi.. Selain itu jika dilihat dari power receive, konfigurasi branching juga memiliki nilai yang tertinggi.
Analisa Kinerja Sistem Komunikasi Optik Jarak Jauh Dengan Teknologi Dwdm Dan Penguat (edfa) Winda Friandawa; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunikasi optik jarak jauh menyebabkan berkurangnya daya yang diterima pada sisi penerima, hal ini disebabkan oleh adanya dispersi dan redaman lainnya. Oleh karena itu, untuk mengoptimalisasi daya yang diterima pada sisi penerima digunakan sebuah penguat agar pada sisi penerima sinyal yang dikirimkan dapat diterima dengan baik. Pada Tugas Akhir ini, akan dilakukan pemodelan dan simulasi link DWDM menggunakan software Optisystem 7.0, kemudian akan dilakukan tiga skema yang ada pada erbium doped fiber amplifier (EDFA) tanpa menggunakan Dispersion Compensation Fiber. Tiga skema EDFA yaitu, booster amplifier, In-line amplifier, dan pre amplifier. EDFA dipilih pada Tugas Akhir ini karena EDFA dapat menguatkan sinyal optic tanpa mengubahnya menjadi sinyal elektrik terlebih dahulu. Pada Tugas Akhir ini, serat optik akan diatur panjangnya setiap 2 Km. Panjang link yang digunakan yaitu 72 Km, 142 Km dan 396 Km, bitrate yang digunakan yaitu 10 Gbps dan 40 Gbps, format modulasi yang digunakan yaitu NRZ dan RZ. Selanjutnya, hasil dari simulasi akan dilihat nilai dari Q faktor dan BER masing-masing skema EDFA, sehingga didapatkan nilai yang terbaik dari ketiga skema EDFA yang digunakan . Dari hasil analisa yang dilakukan, penguat (EDFA) memiliki korelasi terhadap kinerja sistem DWDM ini, dimana didapatkan skema booster amplifier yang terbaik diantara ketiga skema EDFA yang ada karena pada skema booster amplifier Q faktor bernilai paling maksimal yaitu sebesar 7.70079 dan BER yang bernilai paling optimal yaitu sebesar 5.58823×10-15 yang terjadi pada saat kondisi panjang link 72 Km, bitrate 10 Gbps dan line coding RZ. Kata Kunci: DWDM, EDFA, Q Faktor, BER.
Analisis Performansi Migrasi Jaringan Dslam Cascade Ke Jaringan Gpon Untuk Mendukung Layanan Triple Play Bernadetta Sekar Pratiwi; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingginya kebutuhan masyarakat akan layanan internet mengakibatkan penyedia layanan internet dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan akan internet dengan kecepatan yang tinggi. Saat ini PT. Telkom sebagai salah satu penyedia jasa layanan telekomunikasi telah menyediakan layanan internet, yaitu Speedy. Speedy adalah layanan akses internet broadband dengan kecepatan tinggi yang menggunakan teknologi ADSL (Asymetric Digital Subscriber Line). Dengan layanan ini, jaringan akses telepon pelanggan ditingkatkan kemampuannya menjadi jaringan digital berkecepatan tinggi, yang memungkinkan pelanggan untuk dapat menggunakan fasilitas telepon sekaligus dapat melakukan akses internet dengan kecepatan tinggi. Dengan menggunakan Speedy, pelanggan dapat menggunakan fasilitas USeeTV yaitu layanan IPTV. Akan tetapi, performansi Speedy sebagai layanan broadband saat ini dirasa masih kurang dan seringkali terjadi gangguan. Selain itu masih banyak pengguna Speedy yang tidak dapat berlangganan UseeTV karena jaringan yang tidak support. Untuk meningkatkan performansi layanan Speedy, meminimalisasi terjadinya gangguan, dan mensupport layanan IPTV, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melakukan optimalisasi pada jaringan DSLAM cascade. Optimalisasi dilakukan.dengan menggunakan teknologi GPON, yang sudah mendukung layanan Triple Play, dan menggunakan Splitter 1:2 di tiap DSLAM agar tidak menyebabkan terjadinya gangguan beruntun. Dalam tugas akhir ini dihasilkan jaringan cascade DSLAM yang sudah menggunakan GPON agar dapat meningkatkan performansi dan mendukung layanan Triple Play. Pada pengukuran dan pengujian di lapangan didapatkan hasil Prx = -17.8578 dB untuk jarak maksimum dan rise time budget 0.229 ns. Hasil pengukuran di lapangan memenuhi syarat kelayakan suatu jaringan dimana Prx ≥ -25 dB dan rise time budget ≤ 0.28 ns. Kata kunci : DSLAM, GPON, Cascading, Triple Play.
Analisis Panjang Gelombang Downstream Dan Upstream Pada Sistem Jaringan Ng-pon 2 Dengan Menggunakan Teknologi Twdm Rasyid Vikri Prisdiansyah; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada era digital ini, perkembangan teknologi telekomunikasi di Indonesia sangat berkembang pesat, terutama pada sistem transmisi. Salah satu sistem jaringan serat optik yang saat ini ada adalah Next-Generation Passive Optical Network 2 (NG-PON 2). Untuk mendukung Sistem jaringan NG-PON 2 dapat menggunakan teknologi Time and Wavelength Division Multiplexed (TWDM). TWDM merupakan penggabungan teknologi TDM dan WDM. Pada tugas akhir ini menganalisis pengaruh panjang gelombang downstream dan juga upstream pada sistem jaringan NG-PON 2 dengan menggunakan teknologi TWDM. Panjang gelombang TWDM dibandingkan dengan panjang gelombang yang lain, yaitu yang digunakan pada sistem G-PON dan XG-PON. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah selain panjang gelombang TWDM dapat digunakan pada sistem ini. Selisih panjang gelombang antar kanal / channel spacing juga dianalisis. Selisih panjang gelombang antar kanal yang digunakan adalah 50 GHz, 100 GHz, 150 GHz, dan 200. GHz. Analisis dilakukan dengan cara melihat pengaruh panjang gelombang dan channel spacing pada sistem jaringan NG-PON 2. Parameter performansi yang digunakan adalah SNR, Q-Factor, dan BER. Hasil dari analisis melalui perhitungan manual maupun menggunakan simulasi didapatkan bahwa panjang gelombang XG-PON dan GPON layak untuk sistem jaringan NG-PON 2 dengan teknologi TWDM walaupun nilai parameter performansinya masih dibawah nilai TWDM. Rentang panjang gelombang atau channel spacing tidak mempengaruhi nilai parameter performansi secara signifikan. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan nilai dari semua parameter performansi yang tidak memiliki perbedaan yang signifikan maupun berubah beraturan. Kata kunci: Panjang gelombang, NG-PON 2, TWDM.
Pengaruh Noise Penguat Edfa Pada Performansi Sinyal Downstream Twdm Ng-pon2 Nabilla Aprilia; Akhmad Hambali; M.Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Berdasarkan standar yang sudah ditetapkan oleh ITU-T G.989.1-G.989.3 generasi terbaru dari PON yaitu NG-PON2. Teknologi NG-PON2 juga memiliki bandwidth yang lebih besar dan skalabilitas dengan menggunakan kombinasi Time Wavelength Division Multiplexing (TWDM). EDFA (Erbium Doped Amplifier) merupakan salah satu penguat optik yang dapat memberikan penguatan langsung pada sinyal optik, tetapi dengan tambahan noise. Noise yang dikuatkan oleh penguat EDFA pada sistem TWDM downstream dapat mengakibatkan performansi sinyal yang buruk karena noise dapat terjadi dalam penguat EDFA. Penelitian ini dilakukan dengan perencanaan dan simulasi dengan menggunakan jaringan NG-PON2 dengan Teknik TWDM yang memiliki total bitrate 80 Gbps pada link downstream. Sistem yang dibuat menggunakan delapan kanal TWDM dengan masing-masing kanal memiliki bitrate 5 Gbps. Kemudian, perencanaan sistem ini akan dilakukan dengan menggunakan 2 skenario dengan jarak transmisi terpendek 20 km dan jarak transmisi terjauh 40 km dengan tiga titik pembagi daya dengan total split ratio 1:128. Selain itu, sistem ini juga menggunakan EDFA sebagai booster amplifier yang memiliki panjang 1 sampai dengan 5 meter dengan Pump Laser Power sebesar 10 mW hingga 100 Mw. Setelah itu, dilakukanlah analisis terhadap sistem berdasarkan parameter pengukuran SNR,Q-Factor dan BER. Selanjutnya, dilakukan analisis Gain terhadap perubahan panjang EDFA dan daya pompa serta analisis Gain system dimana hasil dari parameter tersebut akan mempengaruhi nilai dari Noise Figure. Berdasarkan hasil dari simulasi, didapatkan pada pengunaan kabel EDFA 1 meter mempunyai karakteristik Gain dan Noise Figure yang relatif naik ketika Power Pump 10-50 mW. Kemudian hasil dari Simulasi performansi pada jarak link 20 km didapatkan nilai Link Power Budget sebesar -6.06 dBm nilai Q-factor 81,37, nilai SNR 44.23 dB dan nilai BER sebesar 0. Sedangkan, hasil dari Simulasi performansi pada jarak link 40 km didapatkan nilai Q-factor 51.04, nilai SNR 40.18 dB dan nilai BER sebesar 0. Kata kunci : Downstream, TWDM, NG-PON2, Noise Figure, Gain, Bit Error Rate, Q-factor,SNR, Link Power Budget, Rise Time Budget. ABSTRACT Based on standards he has set by itu-t g.989.1-g.989.3 the new generation of a pound namely NGPON2. Technology of NG-PON2 also has the bandwidth greater and scalability using a combination Time Wavelength Division Multiplexing (TWDM) .EDFA ( Erbium Doped Amplifiers ) is one of amplifier optical that can give strengthening directly on a signal optical , but in addition to noise .Noise supported by amplifier edfa on a system twdm downstream can result in performansi signals bad because noise could also occur in amplifier EDFA. Research was conducted with the planning and simulations with use the network NG-PON2 TWDM technique that has a total of bitrate 80 gbps on link downstream .A system made using eight twdm canal with each canal having bitrate 5 gbps .Then , this system will be planning is performed by the use 2 scenario at a distance of 20 km away from the shortest transmission and the distance the transmission of farthest 40 km and ISSN : 2355-9365 e-Proceeding of Engineering : Vol.5, No.3 Desember 2018 | Page 5219 2 three points a divider of power by the total split ratio 1: 128 .In addition , the system also use the edfa as booster an amplifier having long 1 through 5 meters with pump a laser power amounting to 10 mw up to 100 mw .After that , dilakukanlah system based on the analysis of the measurement of snr parameter , q-factor and rice w .Next , the Gain on changes in an analysis is long and the EDFA Pump and analysis system where the Gain is the result of the parameter will affect the value of noise figure . Based on the results of simulation , on use or on cable edfa 1 meter have characteristic of the gain and noise figure that is relatively up when the power pump 10-50 mw .The results of from simulation performansi at a distance link 20 km away from the link power or the value of a budget of -6.06 dbm 81,37 q-factor value , the value of snr 44.23 db and value of different shapes and name as much as 0 .While , the result of the simulation performansi at a distance link or the value of q-factor 51.04 40 km , the value of snr 40.18 db and value of different shapes and name as much as 0 . Keywords: Downstream, TWDM, NG-PON2, Noise Figure, Gain, Bit Error Rate, Q-factor, SNR, Link Power Budget, Rise Time Budget.
Simulasi Dan Analisis Efek Nonlinier Pada Performansi Sistem Very Narrow Channel Spacing Dwdm-rof Hermawan Widiyanto; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan teknologi telekomunikasi dewasa ini telah me munculkan kebut uhan seperti me mberikan jaminan QoS yang baik kepada pelanggan, rugi- rugi akibat interferensi yang rendah, peningkatan cakupan layanan, akses data berkecepatan tinggi, dan kebut uhan bandwidth yang besar. Teknik Radio over Fiber (RoF) dengan sistem termultipleksi DWDM dapat me njadi pilihan unt uk me ntransmisikan sejumlah besar data melalui sebuah serat optik. Akan tetapi dibalik se mua kelebihan yang didapatkan, terdapat suat u fenome na yang me mbatasi performansi sistem komunikasi serat optik seperti efek nonlinier yang dapat disebabkan oleh kerr effect. Pada t ugas akhir ini, dirancang suat u pemodelan yang menggabungkan teknik RoF dengan teknik DWDM dengan software OptiSystem unt uk me ngetahui pe ngaruh dari Cross Phase Modulation (XPM) pada kondisi very narrow channel spacing. Lalu dilakukan perubahan variabel-variabel pengujian seperti spasi kanal antar panjang gelombang, dan me nguji link dengan dua optical amplifier yang berbeda pada skenario jumlah kanal dengan 4,8,16, dan 32 kanal DWDM. Dari hasil penelitian akhir ini, didapatkan bahwa skema yang paling optimal dalam me minimalisir efek non linier Cross Phase Modulation adalah dengan menggunakan penguat SOA pada link DWDM-RoF dengan 8 kanal pada spasi kanal 0.6 nm. Didapat nilai rata-rata Q factor tertinggi yait u 5.8587275, dan tiga dari delapan kanalnya me miliki nilai Q factor diatas 6 atau BER dibawah 10 -9 . Kata kunci: DWDM-RoF, Cross Phase Modulation, Spasi Kanal, dan Q factor
Analisis Dan Simulasi Efek Non Linier Three Wave Mixing Pada Link Dense Wavelength Division Multiplexing (dwdm) Sistem Komunikasi Serat Optik Herin Damara Ditya; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena efek non linieritas pada sistem komunikasi serat optik (SKSO) sangat mempengaruhi terhadap performansi jaringan dan teknologinya termasuk teknologi Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM). Teknologi ini adalah teknologi yang sangat berkembang pesat dari sistem komunikasi serat optik (SKSO) sehingga mempunyai banyak kelebihan dan keuntungan. Tetapi dibalik kelebihan, ada kekurangannya yang mempengaruhi kinerja teknologi tersebut diantaranya efek non linieritas serat optik jenis Three Wave Mixing (TWM). Pada pembuatan tugas akhir ini, disimulasikan pemodelan link sistem Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) pada perangkat lunak simulator agar diketahui pengaruh dari yang dihasilkan oleh efek non linieritas jenis Three Wave Mixing (TWM) terhadap performansi sistem komunikasi serat optik (SKSO) dan terdapat tiga skenario pengujian pada simulasi. Skenario pertama, mengubah variabel besar nilai bitrate dan jarak link. Pada skenario kedua, mengubah variabel spasi kanal. Pada skenario ketiga, mengubah variabel daya transmitter [5]. Hasil simulasi yang telah dilakukan dapat dikatakan bahwa efek non linier Three Wave Mixing (TWM) membawa dampak buruk bagi performansi link Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM), semua nilai Q-Factor yang dihasilkan dibawah standard kelayakan sistem. Pada link dengan bitrate 10 Gbps didapatkan nilai terbaik Q-Factorsebesar 6.1653525 dan nilai terburuk sebesar 1.0608313 namun dapat di perbaiki menjadi 1.6512025. Pada link dengan bitrate 40 Gbps didapatkan nilai terbaik Q-Factor sebesar 4.0759025 dan nilai terburuk sebesar 0.3180738 namun dapat di perbaiki menjadi 0.9686463. Pada link dengan bitrate 100 Gbps didapatkan nilai terbaik Q-Factor sebesar 3.09007 dan nilai terburuk sebesar 1.6770563 namun dapat di perbaiki menjadi 1.76733375. Kata kunci : Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM), Three Wave Mixing (TWM), Q-Factor
Perbandingan Performansi Agregasi Jaringan 40g Dan 80g Pada Teknologi Ng-pon2 Dengan Variasi Jarak Fauzan Munggara; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kebutuhan akan data rate yang meningkat dalam jaringan telekomunikasi membuat keadaan saat ini terus menerus dilakukan pengembangan dan penelitian terhadap teknologi-teknologi yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Next Generation Passive Optical Network Stage 2 (NG-PON2) merupakan salah satu evolusi dari teknologi Passive Optical Network (PON) yang nantinya akan menjadi pengisi dari kebutuhan yang semakin meningkat tersebut. Hasil simulasi pada penelitian ini ialah dengan didapatkan performansi terbaik dengan jarak maksimum yang dapat ditempuh oleh tiap ONU yang ada dengan kombinasi passive splitter 3 stage terbaik pada dua kanal berbeda. Pada kanal pertama untuk 64 ONU arah downstream pada jarak 20 km menghasilkan Received Power =-21.56 dBm ,QFactor = 9,66 dan BER = 3,72 x 10-21 dan arah upstream pada jarak 20 km dengan hasil Received Power=-25,21 dBm, Q-Factor = 6,3 dan BER = 6,25 x 10-10. Kemudian pada kanal kedua untuk 64 ONU arah downstream pada jarak 20 km menghasilkan Received Power =-21.445 dBm , Q-Factor = 9,62 dan BER = 2,19 x 10-20 dan arah upstream dengan hasil Received Power=-25,18 dBm, Q-Factor = 7,12 dan BER = 4,95 x10-11 . Kata Kunci : NG-PON2, Performansi, TWDM. Abstract The need for increasing data rate and the more it increased in telecommunication networks makes the current state continuously in development and research on technologies which can meet those needs. The result of the simulation is getting the best performance with maksimum distance which can reach by each ONU using the best 3-stage passive splitter combination at two different channnel. On the first channel for 64 ONU downstream direction at 20 km the result is Received Power =-21.56 dBm, Q-Factor = 9,66 and BER = 3,72 x 10-21 and upstream direction with result is Received Power =-21,445 dBm, Q-Factor = 9,62 dan BER = 2,19 x 10-20. Next on the second channel for 64 ONU downstream direction at 25 km the result is Received Power=-25,04dBm , Q-Factor = 7,83 dan BER = 1,17 x 10-13and upstream direction with result is Received Power =-25,18 dBm, Q-Factor = 7,12 and BER = 4,95 x 10-11 . Key Words : NG-PON2, Performance, TWDM
Simulasi Sistem Twdm-pon Menggunakan Hybrid Optical Amplifier Pada Next Generation Passive Optical Network Stage 2 (ng-pon 2) Eka Yunita Dian Pratiwi; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Next-Generation Passive Optical Network 2 (NG-PON 2), merupakan teknologi terbaru untuk mengatasi permasalahan keterbatasan bandwidth pada teknologi Passive Optical Network (PON) saat ini. Pada penelitian ini dilakukan simulasi dan evaluasi performansi jaringan NG-PON 2 dengan metode perubahan bit rate 40 Gbps dan 80 Gbps menggunakan 4 dan 8 kanal TWDM dengan masing-masing kanal mempunyai bit rate 10 Gbps untuk downstream maupun upstream. Sistem tersebut memiliki jarak transmisi dari 10, 20, 30, 40, 50 dan 60 km dengan jumlah 64, 128 dan 256 Optical Network Unit (ONU). Sistem ini menggunakan hybrid optical amplifier (HOA) sebagai booster amplifier dan EDFA sebagai pre-amplifier. Simulasi dilakukan untuk mengetahui pengaruh performansi pada NG-PON 2 apabila dilakukan perubahan bit rate, jarak transmisi dan jumlah ONU terhadap pengaruh Bit Error Rate (BER) di sisi user dengan skenario tanpa penguat dan skenario menggunakan penambahan penguat. Berdasarkan hasil simulasi, performansi sistem terbaik adalah menggunakan penguat yaitu dengan bit rate 40 Gbps dengan jumlah 64 ONU dapat mencapai jarak maksimal 60 km. Nilai Q factor terbaik didapatkan pada jarak 10 km sebesar 23,66 downstream 21,85 upstream , BER 3,86×10-124 downstream dan BER 3,16×10-106 upstream, received power -7,05 dBm downstream dan -7,10 dBm upstream, dengan gain HOA sebesar 16,54 dB dan gain EDFA sebesar 6,31 dB. Penambahan penguat hybrid optical amplifier sebagi booster dan EDFA sebagai preamplifier telah memberikan performansi yang lebih baik dengan semakin banyaknya user dan semakin panjang jarak transmisi sehingga nilai BER mendekati ≤10-9 . Kata kunci : : NG-PON2 , TWDM, Hybrid Optical Amplifier, EDFA Abstract Next Generation Passive Optical Network Stage 2 (NG-PON 2), is the latest technology to help solve the problem of bandwidth resource on Passive Optical Network (PON) today. This research simulate and evaluation the performance of bidirectional NG-PON 2 with 40 Gb/s, and 80 Gb/s bit rate method changes using 4 and 8 TWDM channels with each channel has a 10 Gbps for downstream and upstream. This system has 10, 20, 30, 40 and 50 km transmission distance with the number 64, 128 and 256 Units of Network Optics (ONU).This system uses hybrid optical amplifier (HOA) as booster amplifier and EDFA as a pre-amplifier. The simulation is performed to find out the performance on NG-PON 2, bit rate, transmission distance and number of ONU on the influence of Bit Error Level (BER) on the user side with scenarios without amplifier and scenario using additional amplifier. Based on the simulation results, the best system performance is using amplifier that is with bit rate 40 Gbps with amount of 64 ONU can reach maximum distance 60 km. The best Q factor value obtained in 10 km the value is 23,66 downstream 21,85 upstream, BER 3,86×10-124 downstream and BER 3,16×10-106 upstream, received power -7,05 dBm downstream and -7,10 dBm upstream with Gain HOA 16,54 dB and an EDFA gain 6,31. The addition of a hybrid optical amplifier amplifier as a booster and EDFA as a preamplifier has provided better performance with more users and the longer the transmission distance so that the BER value is close to ≤10-9. Keywords: NG-PON2 , TWDM, Hybrid Optical Amplifier, EDFA
Co-Authors Abbas, Raihan Rizqan Radhiyya Achmad Rifiandi Achmad Wildan Almaiz Achmad, Raffi Ade Rizki Ginanjar Adhitya, Farhan Ghifari Adhy Rizkya Oktauzi Putra Aditya , Bagus Aditya , Reza Afief Dias Pambudi Afif Glenta Utama Ageak Raporte Bermano Aghnia Sabika Agung Mujadid Ahmad Hidayat Ahyadan Weka Pratomo Ajeng Rahmaningtyas Firnadya Akbar, Fadel Al Akbar Aldrin Fakhri Azhari AMINAH INDAHSARI MARSUKI Andi Audy Oceanto Andi Imam Dwi Rezky Andi Oceanto Andika Putra Ramadhan Andre Frendra Zuli Andri Eryawan Ahmad Rifki Andy Oceanto Anggraeni, Nabila Ayu Anissa Okta Adi Perwita Arfianto Fahmi Ario Prabowo Ariqi, Fadhlul Arumadina Islamiq Asdianty, Lisda Aulia Nugraha Azrika, Andi Zhagyta Amalia B. Richard Tampubolon Bagas Sidiq Haryanto Bernadetta Sekar Pratiwi Bima Kurnia Marahsakti Karel Brian Pamukti Danu Dwi Sanjoyo Denny Darlis Dessinta Eka Wulandari Desti Madya Saputri Devitasari, Sabrina Dharu Arseno Dimas Hendratno Dinata, Ericha Septya Efri Suhartono Eka Yunita Dian Pratiwi Ekki Kurniawan Erna Sri Sugesti Fahira Indriyana Fajri Tanjung Fajria Nur Rahmawati Fajriansyah , Dhafa Baldi Faris Bayu Azanto FASYA, ISTI Fathurrahman, Muhammad Naufal Fatrheza Imantaqwa Fauzan Munggara Fauzi Muhammad Iqbal Ferry Alvi Pratama Gede Teguh Laksana Gustommy Bisono Hafiddudin Hafiddudin Hafidudin . Harismawan, Saskia Ananda Harry Rachmatsyah Herin Damara Ditya Hermawan Widiyanto Hernito, Argo Hersanda Narpatangga Kistrawan Hidayat, Muh. Tri Ignatio Chriesma Diba Sanggiantara Ihsan Saputro Ilham Bayu Prabowo Indrarini Dyah Irawati Irfan Maulana, Irfan Irham Mulkan Rodiana Jaka Satria Prayuda Jamil, Althaf Nizarudin Johanes Nicolas Panjaitan Junior, David Juwita Sekar Harum Kahayan, Fahrul Halim Jaka KARIMAH, ZULIA NURUL Kindi Alfitrandy Kris Sujatmoko Kurnia Cahya Ade Putra Kurniawan Gustyanto Lapatoza, Randy Surya Fathir Latief, Noval Ramadhana Lazuardi Ramadeanto Lita Harpaning Pertiwi M. LUTHFI M. LUTHFI Marcellus Haninditya Maulana Pragnya Ghita Maulana, M. Irfan Maulana, Naufal Mirza Michelle Christine Mochammad Hafiz Kurnia Mochammad Hasan Jauhari Mochammad Hasan Jauhari Mohamad Fadhian Mohammad Bima Putra Brayoga Muhamad Arief Permana Muhamad Prasetyo Notonegoro Muhamad Ramdlan Kirom Muhamad Rizky Darmawansyah Muhammad Afrizal Muhammad Afrizal Muhammad Etfrawan Shobirin Muhammad Fajar Nugraha Muhammad Hawary Muhammad Hidayat Abibi Muhammad Irfan Maulana Muhammad Luthfi Ramadhan Abdul Rachman Muhammad Rayhan Hasibuan Muhammad Rendra Perdana Kusuma Djaka Muhammad Yasyir Musarah Wim Nabilla Aprilia Nachwan Mufti Adriansyah Nadhasya, Athallah Favianauvally Nadia Herma Wati Naffisa Naufal Andriani Najib Asqolani Akbar Naufal Karyadi Nugraha Septiana Pamungkas Nur Fahmi Farabi Nur Rizki Yulizar Nurrochman Prabowo Odang Yusuf Okta Mia Sari Oktavianingrum, Andarista Putri Olyvia Noviyanti Oq Vinesto Riyadi Paliwan Paliwan Pane, Grace Deborah Maria Paundra Aldila Pradana, Muhammad Rifki Aldi Prasetya, Rizky Aris Prasetyo, Fery Hafidz Pratama, Rakan Aji Pugar Athma Praja Putra, Farhan Sunella Putri, Crystal Ilesta Putri, Novian Indriani R. Bambang Cahyo Widodo Rahadian, Iqbal Adzani Rahmadianti Nelson Raihanum, Khaula Ramadhan, Abdillah Rasyid Vikri Prisdiansyah Ratih Kusuma Wardhani Raynanda Chandra Wibisono Rendy Munadi Reyga Prayogo Richo Pratama Putra Ridhwan Gandaatmaja Ridwan Pratama Ripai Ripai Riska Agus Rizky Maulana Arpan Rizky Mauludy Muttaqien Rizky Satria Rizky Satria, Rizky Rizky, Muhammad Arief Rosid, Winky Harun Al Ryan Topani Sarah Shafira Wijaya Sasono Rahardjo Satria , Rizky Satrio Priambodo Satya Prianggono Sekar Langit Az-Zahra Saksono Sugito Sugito Suwandi Suwandi Suwardi , Farhan Syawal Alam Machfuddin Taufik Abdurrahman Taufik Akbar Tiara Fadila Tiara Mustika Tjahjo Adiprabowo R Uke Kurniawan Uke Kurniawan Usman Umar Fachreza Unang Sunarya Valendira Putri Wahyu Nur Annisa Wani Wahdania Winda Friandawa Winda Ika Syukrina Windy Christalia Winnugroho Wiratman, Manfaluthy Hakim, Tiara Aninditha, Aru W. Sudoyo, Joedo Prihartono Wiranata, Aldi Yennisa Yesiana Yuliana Permata Sari Yusuf, Hafizh Khairan Adya Zehan Zulkarnaen Zulfi Zulfi Zulfikar Sandy Pratama ‘Aunurrafieq, Muhammad Naufal