Claim Missing Document
Check
Articles

Found 134 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Perancangan Komponen Filter Pada Penerima Visible Light Communication (vlc) Muhammad Hidayat Abibi; Akhmad Hambali; Denny Darlis
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pesatnya perkembangan teknologi dewasa ini menjadikan kebutuhan manusia terhadap teknologi yang lebih efisien telah sangat dibutuhkan. Salah satunya teknologi tanpa kabel mengalami perkembangan yang sangat pesat. Manusia memandang efisiensi dari komunikasi tanpa kabel sangat mendukung berbagai banyak jenis aktifitas, namun pada saat sekarang ini teknologi tanpa kabel masih didominasi oleh penggunaan frekuensi radio sebagai media pengiriman informasi. Melihat beberapa penelitian dunia kesehatan terhadap dampak radiasi gelombang elektromagnetik terhadap tubuh manusia sangatlah membahayakan atau ahli kesehatan menyebutnya silent killer. Terlepas dari itu jenis komunikasi tanpa kabel yang saat ini lagi ramai untuk dikembangkan yaitu komunikasi cahaya tampak. Komunikasi tanpa kabel yang memanfaatkan spektrum cahaya tampak sebagai media pengiriman informasi dan bebas dari radiasi gelombang elektromagnetik diprediksi akan menggantikan penggunaan frekuensi radio ditempat tertentu yang harus terbebas dari frekuensi radio. Pada tugas akhir ini, telah dilakukan perancangan sistem komunikasi cahaya tampak dengan mengirimkan sinyal digital dengan maksimum frekuensi 2 MHz. Perancangan blok sistem dibagian pengirim menggunakan LED RGB, sedangkan dibagian penerima ditambahkan kompenen filter optik dengan warna merah, hijau dan biru untuk mengubah kecendrungan pendeteksi cahaya merespon suatu panjang gelombang yang masuk. Kombinasi warna yang digunakan pada pengirim dan penerima mempengaruhi proses penerimaan informasi. Dari hasil pengujian, sistem komunikasi cahaya tampak mampu pengirimkan sinyal digital dengan warna lampu LED RGB pada jarak pengukuran 150 cm. setelah dilakukan kombinasi terhadap warna LED pengirim dan warna filter optik penerima, efektif dapat mengirim dan menerima sinyal hanya jika digunakan kombinasi warna yang sama antara pengirim dan penerima. Selain dari kesamaan kombinasi tersebut, informasi tidak dapat dideteksi dan diolah lebih lanjut. Kata Kunci: Komunikasi Cahaya Tampak, LED RGB, Optical Filter, VLC Abstract The rapid development of today's technology makes human need for more efficient technology has been needed. One of them wireless technology has developed very rapidly. Humans view the efficiency of wireless communication strongly supporting many types of activities, but at present wireless technology is still dominated by the use of radio frequency as a medium transmission of information. Looking at some of the world's health research on the effects of electromagnetic wave radiation on the human body is very dangerous or health experts call it a silent killer. Apart from that type of wireless communication that is currently more crowded to develop the visible light communication. wireless communication utilizing the visible light spectrum as an information transmission medium and free of electromagnetic wave radiation is predicted to replace the use of radio frequencies in certain places that must be free of radio frequency. This final project, the design of visible light communication system has been done by sending digital signal with maximum frequency of 2 MHz. The design of the system block in the sender section using RGB LED, while the receiver section added optical filter optical with red, green and blue to change the tendency of light detector to respond an incoming wavelength. The combination of colors used on the sender and receiver influences the process of receiving information. ISSN : 2355-9365 e-Proceeding of Engineering : Vol.5, No.3 Desember 2018 | Page 5389 2 The test results, visible light communication system capable of sending digital signals with color RGB LED lights at a distance of measurement 150 cm. after a combination of the color of the sending LED and the color of the receiving optical filter, it can effectively send and receive signals only if the same color combination is used between the sender and receiver. Apart from the similarity of combinations, information can not be detected and processed further Keywords: Komunikasi Cahaya Tampak, LED RGB, Optical Filtering, VLC
Modualtor Full Duplex Pada Sistem Radio Over Fiber Dengan Metode Ofdm Muhammad Fajar Nugraha; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Radio over fiber (ROF) merupakan suatu proses pengiriman sinyal radio melalui kabel serat optik. Dengan menggunakan kabel serat optik, maka kualitas sinyal suara yang ditransmisikan tetap bagus atau dapat dikatakan gangguan yang timbul selama proses transmisi kecil, sehingga sinyal yang dibawanya tetap bagus. Orthogonal Frequency Division (OFDM) merupakan teknik modulasi multi-carrier di jaringan nirkabel, OFDM memiliki skema single-carrier untuk mengatasi kondisi saluran tanpa filter dengan pemerataan yang kompleks. Pada tugas akhir ini dilakukan pengumpulan data, setelah melakukan pengumpulan data maka tentukan spesifikasi perangkat berupa modulator optik dan tetapkan parameter yang akan digunakan. Langkah selanjutnya lakukan Simulasi dengan beberapa skenario menyesuaikan berapa banyak perangkat modulator yang telah ditentukan, setelah dilakukan lakukan anlisis pada simulasi yang telah dilakukan maka setiap skenario akan menghasilkan nilai parameter yang berbeda karena spesifikasi setiap perangkat berbeda, jika simulasi dan keluaran parameter tidak sesuai dengan parameter yang di tetapkan maka dilakukan pergantian perangkat hingga parameter dapat terpeuhi. Perhitungan dan Simulasi yang telah dilkukan pada Sistem ROF dengan metode OFDM berbasis full duplex pada Modulator Optik mampu bekerja pada RF band 5 Ghz dan bit rate 1 Ghz pada modulator MZM, EAM, AM, dan PM. Dengan nilai Q Factor yang hanya memenuhi standar ITU-T yaitu MZM dengan nilai 8.97 pada perancanaan dan 6.891 pada simulasi serta nilai BER 2.38 𝑥 10−12 dan 2.74 𝑥 10−12 pada simulasi. Kata kunci: OFDM, ROF, Q-Factor, Bandwidth, LPB, RTB ABSTRACT Radio over fiber (ROF) is a process of sending radio signals through fiber optic cables. Using a fiber optic cable, the quality of the transmitted voice signal remains good or can be said disturbance arising during the transmission process is small, so the signal is still good. Orthogonal Frequency Division (OFDM) is a multicarrier modulation technique in wireless networks, OFDM has a single-carrier scheme to address unfiltered channel conditions with complex equalization. In this final project conducted data collection, after collecting the data then specify the device specifications in the form of optical modulator and set parameters to be used. The next step is to do the simulation with some scenarios to adjust how many modulator devices have been determined, after done anlisis on the simulation that has been done then each scenario will produce different parameter values because the specifications of each device is different, if the simulation and output parameters are not in accordance with the parameters in the set then made the turn of the device until the parameters can be fulfilled. Calculations and Simulations have been performed on ROF system with full duplex-based OFDM method in Optical Modulator able to work on RF band 5 Ghz and 1 Ghz bit rate on modulator MZM, EAM, AM, and PM. With Q Factor value which only meets ITU-T standard that is MZM with value 8,97 in perancanaan and 6,891 at simulation and value BER 𝟐. 𝟑𝟖 𝒙 𝟏𝟎−𝟏𝟐 and 𝟐. 𝟕𝟒 𝒙 𝟏𝟎−𝟏𝟐 in simulation. Keywords: Audio Watermarking, Fast Fourier Transform, Singular Decomposition Value
Pengaruh Kabel Dispersion Compensating Fiber (dcf) Terhadap Performansi Link Sistem Komunikasi Optik Longhaul Dengan Berbagai Skema Jarak Achmad Wildan Almaiz; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini dengan bertambahnya kapasitas pengguna internet, data rate dengan kapasitas tinggi menjadi suatu kebutuhan, oleh karena itu desain fiber optik komunikasi jarak jauh dengan bitrate tinggi diperlukan. Tetapi, data rate dengan kapasitas tinggi memiliki kekurangan, dispersi adalah masalah untuk sistem ini. Maka dari itu, dengan menggunakan dispersion compensating fiber (DCF) diharapkan dapat mengoptimalisasikan rancangan fiber optik pada frekuensi tersebut, terutama dari masalah dispersi yang dapat dioptimalisasikan untuk receivingend. DCF adalah salah satu metode baik yang digunakan untuk menangani maslah dispersi, karena memiliki keunggulan diatantaranya bandwidth yang lebar, BER yang baik, stabilitas, sensitivitas yang bagus terhadap temperature[2]. Penggunaan DCF pada tugas akhir ini diterapkan pada Single mode fiber (SM). Dengan jarak hingga 1000km (long haul) dan datarate pada 10 Gbps sebagai pembanding. Skema yang digunakan pada penelitian ini terbagi menjadi 3 bagian, yang pertama yaitu simulasi tanpa DCF, dimana SM dipasang pada jarak longhaul tanpa DCF. Lalu simulasi dengan DCF dimana terdapat 3 skema berbeda yaitu SM dengan DCF, SM dengan DCF yang dirancang secara simetris, dan yang terakhir SM dengan DCF yang dipasang secara paralel, ke tiga skema tersebut didukung dengan penguat Erbium Doped Fiber Amplifier(EDFA). Pada akhir penelitian dengan bit rate 10 Gbps , skema tanpa DCF menghasilkan dispersi yang sangat besar dengan nilai Q factor maksimal berada pada jarak 100 Km, dengan nilai 8 dan BER bernilai 4.883 e -016. Skema post compensation menghasilkan Q factor dengan nilai 6.6 dan BER bernilai 1.011 e -011 pada jarak 400 km. Skema pre compensation menghasilkan Q factor dengan nilai 7.4 dan BER bernilai 5.9 e -014pada jarak 600 km Skema mix compensation menghasilkan Q factor dengan nilai 6.9 dan BER bernilai 1.8 e -012 pada jarak 600 km Skema paralel compensation menghasilkan Q factor dengan nilai 8 dan BER bernilai 1.16 e -06 pada jarak 400 km.Kata Kunci : DCF, BER , Q factor ,EDFA
Perancangan Dan Implementasi Penggunaan Lampu Led Sebagai Pengirim Informasi Musik Kurniawan Gustyanto; Akhmad Hambali; Efri Suhartono
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Jaringan komunikasi nirkabel (wireless) menjadi teknologi alternatif dan relatif lebih mudah untuk diimplementasikan dimasyarakat sekitar. Ketika teknologi wireless terhubung terhadap suatu perangkat, seperti mendengarkan suatu musik, maka perangkat tersebut akan menggunakan alat pengeras suara musik seperti mini speaker. Penggunaan loudspeaker menggunakan kabel pada saat mendengarkan musik, namun masalah ini berakibat pada keterbatasan penggunaan kabel dan besarnya redaman pada kabel tembaga yang digunakan. Melihat permasalahan tersebut maka dibuatlah sistem pengirim informasi musik dengan menggunakan cahaya tampak yang memanfaatkan lampu LED sebagai cahaya penerangan, lalu dipasangi transmitter untuk mengirimkan informasi musik dan mempunyai redaman yang mendekati nol.Perancangan alat tugas akhir ini melakukan implementasi pemancar dan penerima sinyal informasi musik melalui komunikasi cahaya tampak. Melalui implementasi alat ini dapat diketahui bahwa transmisi suara melalui cahaya tampak bisa direalisasikan. Sinyal yang dikirimkan dalam tugas akhir ini merupakan sinyal informasi musik mp3 module, dan di sisi receiver diterima melalui photodioda, keluaran sinyal tersebut akan dikirim menggunakan speaker mini untuk menampilkan suara musik yang diterima. Hasil dalam perancangan alat ini dapat mengirimkan sinyal informasi musik melalui cahaya tampak pada jarak 4 meter dengan LED yang sudah dimodulasi. Pada sudut 0º mendapatkan nilai gain sebesar 22.17 dB, dengan coverage 32.15 m2 serta atenuasi yang didapatkan sebesar -6.05 dB. Kata Kunci : Light Emmiting Diode, Transmitter, Receiver, Music. Abstract The wireless communication network becomes an alternative technology and is relatively easier to implement in the surrounding community. When wireless technology is connected to a device, such as listening to a music, the device will use music loudspeakers such as mini speakers. The use of loudspeakers using cables when listening to music, but this problem results in limited use of cables and the amount of attenuation on the copper cable used. Looking at these problems, the sending system of music information is made using visible light that utilizes LED lights as lighting light, then the transmitter is installed to transmit music information and has attenuation close to zero. The design of this final project implements the transmitter and receiver of music information signals through communication visible light. Through the implementation of this tool it can be seen that the transmission of sound through visible light can be realized. The signal sent in this final project is the music information signal of the mp3 module, and on the side of the receiver received through the photodiode, the signal output will be sent using a mini speaker to display the sound of the music received. The results in the design of this tool can send music information signals through visible light at a distance of 4 meters with modulated LEDs. At the 0º angle, the gain value is 22.17 dB, with coverage of 32.15 m2 and the attenuation obtained is -6.05 dB. Keywords : Light Emmiting Diode, Transmitter, Receiver, Music.
Perancangan Jaringan Fiber To The Home (ftth) Menggunakan Teknologi 10 Gigabit Capable Passive Optical Network (xgpon) Pada Komplek Pertamina Reyga Prayogo; Akhmad Hambali; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Fiber to the home (FTTH) adalah arsitektur jaringan fiber optik yang mendistribusikan format isyarat optik dari pusat penyedia hingga ke rumah pelanggan (home) dekat pelanggan menggunakan serat optik sebagai medium penghantarnya. Dalam perkembangannya, FTTH dapat menggunakan teknologi 10-Gigabit Capable Passive Optical Network (XGPON) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan bandwidth dan kecepatan data. Pada penelitian sebelumnya, telah dilakukan perancangan FTTH menggunakan teknologi GPON dan XGPON dengan melakukan perhitungan dan simulasi untuk mendapatkan nilai LPB, RTB dan BER. Perancangan yang dilakukan adalah merancang jaringan sampai ke rumah pelanggan dan analisa parameter kelayakan sistem dengan cara perhitungan dan simulasi dari OLT hingga FAT terjauh. Parameter kelayakan yang dianalisis adalah LPB, RTB, SNR, Q factor, dan BER. Berdasarkan hasil yang didapat dari perhitungan simulasi, maka diperoleh nilai LPB upstream terjauh 21,809 dan upstream terdekat 20,513 ,downstream terjauh 20,279 dan downstream terdekat 20,513. SNR arah downstream 28,167dB untuk terdekat dan 27.612dB untuk terjauh. Nilai SNR arah upstream 22,522 dB untuk terjauh dan 24,134 dB untuk terdekat. BER 1,112 x 10-27 untuk downstream terjauh, 2,848 x 10-30 untuk terdekat dan 1,388 x 10-11 untuk upstream terjauhdan 5,2287 x 10-11 untuk terdekat. Nilai Q factor 10,383 untuk downstream terjauh, 11,387 untuk terdekat dan 6,522 untuk upstream terjauh dan 8,5955 untuk terdekat dan untuk LPB 50,05 untuk downstream terjauh, 50,01 untuk downstream terdekat dan 50,01 untuk upstream terjauh, 49,97 untuk upstream terdekat. Kata Kunci : FTTH, FDT, FAT, GPON, XGPON Abstract Fiber to the home (FTTH) is a fiber optic network architecture that distributes optical signal formats from the center of the provider to home customers (home) near customers using optical fiber as the medium of delivery. In its development, FTTH can use 10-Gigabit Capable Passive Optical Network (XGPON) technology to meet people's needs for bandwidth and data speeds. In previous studies, FTTH was designed using GPON and XGPON technology by calculating and simulating to obtain LPB, RTB and BER values. The design is to design the network to the customer's home and analyze the feasibility parameters of the system by calculating and simulating from OLT to the furthest FAT. The feasibility parameters analyzed were LPB, RTB, SNR, Q factor, and BER. Based on the results obtained from the simulation calculation, the farthest upstream LPB value is 21,809 and the nearest upstream is 20,513, the farthest downstream is 20,279 and the nearest downstream is 20,513. SNR downstream direction is 28.167dB for the nearest and 27.612dB for the furthest. The SNR value in the upstream direction is 22,522 dB for the furthest and 24,134 dB for the closest. BER 1,112 x 10-27 for the furthest downstream, 2,848 x 10-30 for the closest and 1,388 x 10-11 for the farthest upstream and 5,2287 x 10-11 for the closest. The Q factor value is 10.383 for the furthest downstream, 11.387 for the nearest and 6.522 for the furthest upstream and 8.5955 for the closest and for LPB 50.05 for the furthest downstream, 50.01 for the nearest downstream and 50.01 for the furthest upstream, 49.97 for nearest upstream. Keywords: FTTH, FDT, FAT, GPON, XGPON
Performansi Digitized Radio-over-fiber (d-rof) Pada Jaringan 40g Wdm-pon Sisi Downstream Zulfikar Sandy Pratama; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pada Radio-over-Fiber (RoF) yang mentransmisikan sinyal radio analog masih terdapat beberapa masalah diantaranya distorsi inter-modulasi (IMD) yang disebabkan oleh factor nonlinearitas dari gelombang mikro dan komponen optik. Bit rate yang tinggi menyebabkan informasi yang ditransmisikan rentan terhadap inter-symbol interference (ISI) dan dispersi pada serat optik. Solusi untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan mengkonversi sinyal analog menjadi sinyal digital, atau yang disebut digitalisasi, dan mengkompensasi dispersi dengan Dispersion Compensating Fiber (DCF). Pada penelitian ini, dilakukan analisis terhadap performansi Digitized Radio-over-Fiber berdasarkan BER, Q-Factor, dan daya yang disimulasikan dengan program simulasi Optisystem lalu dibandingkan dengan Analog Radio-over-Fiber yang kedua sistem tersebut diintegrasikan dengan jaringan WDM-PON dengan bit rate akumulasi 40 Gbps. Hasil simulasi menunjukkan Analog RoF mempunyai Q-Factor 16,26; 14,03; 8,92 dan Digitized RoF mempunyai Q-Factor 22,15; 17,84; 10,52; pada jarak transmisi 40 km, 60 km, dan 80 km. Kata kunci : Radio-over-Fiber, Analog, Digitized, WDM-PON, 40G ABSTRACT Radio-over-Fiber technology that transmitted analog radio signal still experienced some problems including inter-modulation distortion (IMD) caused by nonlinearity factor from microwave and optical component. High bit rate transmission caused the transmitted information to be susceptible to inter-symbol interference (ISI) and dispersion in optical fiber. Solutions to these problems are converting the analog radio signal to become digitized, and using a Dispersion Compensating Fiber (DCF). In this research we have done some analysis about Digitized Radio-over-Fiber performance based on its BER, Q-Factor, and power. The result will be compared to Analog Radio-over-Fiber system. Both systems have 40 Gbps bit rate accumulation and is integrated with WDM-PON network. From the simulation we get the results for Analog RoF with Q-Factor 16,2676; 14,0293; 8,9212 and Digitized RoF with Q-Factor 22,15; 17,84; 10,52; for the transmission distance of 40 km, 60 km, and 80 km.. Keywords: Radio-over-Fiber, Analog, Digitized, WDM-PON, 40G
Analisis Performansi Optical Distribution Network (odn) Ng-pon2 Menggunakan Teknologi Time-and-wavelength Division Multiplexing (twdm) Satya Prianggono; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu teknologi komunikasi serat optik yang baru saja dikembangkan adalah Next-Generation Passive Optical Network Stage 2 (NG-PON2). NG-PON2 digagas untuk memenuhi kebutuhan jaringan akses broadband masa depan dengan kemampuan untuk meningkatkan bitrate hingga lebih dari 10 Gbps dengan metode agregasi OLT dan menggunakan teknologi Time-and-Wavelength Division Multiplexing (TWDM). Pada Tugas Akhir ini dilakukan perancangan dan analisis performansi jaringan NG-PON2 berbasis TWDM. Perancangan dilakukan untuk mengetahui pengaruh fisik khususnya segmen distribusi terhadap performansi NG-PON2. Skenario pengujian menggunakan 4 OLT dengan kecepatan 40 Gbps, lima tipe serat optik berdasarkan standar ITU-T G.652.C/D, G.652.B, G.653, G.655, dan G.652.A, dengan jarak 20 km menggunakan dua titik pembagi (dengan total split ratio 1:64 dan 1:128). Dari hasil simulasi, dilakukan analisis terhadap Link Power Budget (LPB), Signal to Noise Ratio (SNR), Q-factor, dan Bit Error Rate (BER). Berdasarkan hasil simulasi, didapatkan tipe serat G.652.C dan G.652.D memberikan performansi yang terbaik pada setiap parameter performansi. Dengan 64 ONU arah downstream menghasilkan LPB = -25,407 dBm, Q-factor = 9,115, BER = 2,72 x 10-19, sedangkan arah upstream menghasilkan LPB = -25,037, Q-factor = 10,619, BER = 1,36 x 10-24. Dan dengan 128 ONU arah downstream menghasilkan LPB = -25,491 dBm, Q-factor = 8,576, BER = 6,86 x 10-16, sedangkan arah upstream menghasilkan LPB = -25,047 dBm, Q-factor = 12,064, BER = 1,59 x 10-24 .Kata kunci: NG-PON2, ODN, TWDM
Analisis Performansi Optical Traffic Grooming Dalam Elastic Optical Network Berbasis Ofdm Richo Pratama Putra; Akhmad Hambali; Tjahjo Adiprabowo R
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan masyarakat Indonesia saat ini untuk komunikasi data terus meningkat, Salah satu jaringan komunikasi yang mampu menangani kebutuhan masyarakat akan komunikasi data adalah jaringan komunikasi optic. Umumnya di Indonesia sebagian besar jaringan komunikasi optic menggunakan teknologi WDM. Masalah utama dalam Teknologi WDM optic adalah kurang efisiensinya dalam hal jumlah spektrum slot yang diutilisasi dan transmitter yang digunakan dalam suatu topologi jaringan optic.Untuk menyelesaikan permasalahan ini, digunakan elastic optical network berbasis OFDM. Utilisasi spektrum slot dan transmitter yang digunakan dalam suatu jaringan elastic optical network berbasis OFDM dapat dilihat dengan menggunakan algoritma Integer Linear Programming dengan metode Optical Traffic Grooming . Prinsip algoritma Integer Linear Programming adalah mencari nilai minimal atau maksimal dari suatu parameter berdasarkan constraint yang dibutuhkan, dimana constraint untuk perhitungan Integer Linear Programming ini disesuaikan agar mendukung metode Optical Traffic Grooming . Dipilih total 80 data kandidat jalur hasil algoritma k-shortest path untuk diinisialisasi dalam algoritma ILP, dengan total perbandingan data dalam ILP sebanyak 6080 data, dihasilkan Ctotal = 30400 spektrum slot dengan nilai D sebesar 4 subcarriers. Dan total penggunaan transmitter Ttotal = 5472, jika dibandingkan dengan non grooming penghematan transmitter yang diperoleh adalah 10% dengan nilai D sebesar 4 subcarriers. Kata Kunci : OFDM, Elastic Optical Network, Integer Linear Programming, Traffic Grooming
Perbandingan Performansi Edfa – Roa Pada Sistem Twdm-pon Berbasis Next Generation Passive Optical Network Stage 2 Ahmad Hidayat; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Next Generation Passive Optical Network stage 2 (NG-PON2) menjadi perkembangan terbaru dari teknologi PON yang dapat mengirimkan informasi dengan kecepatan ≥ 40 Gbps untuk downstream dan 10 Gbps untuk upstream. Penelitian ini membandingkan penguat erbium doped fiber amplifier (EDFA) dan Raman Optical Amplifier (ROA) pada sistem NG-PON2 menggunakan perangkat lunak. Simulasi menggunakan empat kanal TWDM dengan total bit rate 40 Gbps pada sisi downstream dan 10 Gbps untuk upstream. Simulasi jaringan menggunakan splitting ratio 1:256 dengan jarak transmisi terjauh adalah 60 km. Simulasi skenario pertama dilakukan pada transmisi downstream dengan menambahkan optical amplifier sebagai booster amplifier. Skenario kedua dilakukan simulasi pada transmisi upstream dengan memanbahkan optical amplifier sebagai pre-amplifier. Berdasarkan dari hasil simulasi, didapatkan jenis optical amplifier terbaik pada transmisi downstream yaitu EDFA dengan nilai received power yaitu -23,99 dBm, SNR = 27,46 dB, Q Factor = 14,58, dan BER = 2,85 x 10- 47 . Pada transmisi upstream, EDFA juga menghasilkan performansi yang lebih baik dengan nilai received power yaitu -24,16 dBm, SNR = 23,90 dB, Q Factor = 10,75, dan BER = 2,76 x 10-27 . Berdasarkan nilai tersebut, penguat EDFA lebih unggul apabila diiplementasikan pada sistem NG-PON2 berbasis TWDM – PON.. Kata kunci : Optical amplifier, PON, NG-PON2, TWDM, EDFA, ROA Abstract Next Generation Passive Optical Network stage 2 (NG-PON2) is becoming the latest development of PON technology that can transmit information at speeds of ≥ 40 Gbps for downstream and 10 Gbps for upstream.This research compared the erbium doped fiber amplifier (EDFA) and Raman Optical Amplifier (ROA) on the NGPON2 system using the software. The simulation uses four TWDM channels with a total bit rate of 40 Gbps on the downstream and 10 Gbps for upstream. The network simulation uses 1:256 splitting ratio with the farthest transmission distance is 60 km. The first scenario simulation is performed on the downstream transmission by adding an optical amplifier as a booster amplifier. The second scenario is simulated on the upstream transmission by adding the optical amplifier as a pre-amplifier. Based on the simulation results, the best optical amplifiers in downstream transmission are EDFA with received power value is -23.99 dBm, SNR = 27,46 dB, Q Factor = 14,58, and BER = 2,85 x 10-47. In upstream transmission, EDFA also produces better performance with received power value is -24.16 dBm, SNR = 23.90 dB, Q Factor = 10.75, and BER = 2.76 x 10-27. Based on these values, EDFA amplifier is superior when implemented on NG-PON2 system based TWDM – PON. Keywords: Optical amplifier, PON, NG-PON2, TWDM, EDFA, ROA
Simulasi Dan Analisis Pengaruh Edfa Pada Sistem 80 G Twdm-pon Berbasis Next Generation Passive Optical Network Stage 2 Muhammad Yasyir; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan standar yang ditetapkan oleh ITU-T (G.989.1 hingga G.989.3), generasi terbaru dari PON yaitu NG-PON2 dapat mengirimkan data dengan bitrate downstream lebih dari sama dengan 40 Gbit/s dan 10 Gbit/s untuk upstream. NG-PON2 dapat menjadi salah satu solusi teknologi dalam mengatasi permasalahan terbatasan bandwidth pada teknologi PON saat ini. Dikarenakan penggunaan Teknik TWDM dengan metode aggregasi atau stacking OLT yang menjanjikan jaringan broadband masa depan dengan bandwidth sangat besar. Pada penelitian ini dilakukan perancangan dan evaluasi sistem dan jaringan bi-directional NG-PON2 dengan teknik TWDM. Dilakukan simulasi perancangan sistem delapan kanal TWDM dengan total bitrate 80 Gbit/s pada sisi downstream (WDM) dari OLT yang masing-masing bitrate tiap kanalnya adalah 10 Gbit/s dan 10 Gbit/s untuk upstream (TDM). Kemudian, untuk simulasi perancangan jaringan memiliki tiga titik splitting dengan splitting ratio 1:256 dan jarak terjauh transmisi adalah 40 km. Serta menambahkan EDFA yang memiliki panjang 1 hingga 5 meter sebagai pre-amplifer dan booster amplifier dengan Pump Laser Power 100 mW hingga 1000 mW serta Pump Laser Wavelength 980 dan 1480 nm. Dari hasil simulasi, dilakukan analisis sistem dengan parameter pengukuran Power Received, Q factor dan BER. Serta, dilakukan analisis amplifier terhadap perubahan daya dan panjang gelombang dengan parameter pengukuran Gain dan OSNR. Berdasarkan dari hasil simulasi, didapatkan EDFA dengan panjang 2 meter, daya 400 mW, dan panjang gelombang 1480 nm dapat memberikan peningkatan performansi yang terbaik untuk transmisi downstream dengan nilai parameter Q factor sebesar 9,99 hingga 15,75; BER sebesar 3,33x10-56 hingga 7,06x10-26; Power Received sebesar -20,12 hingga -19,11 dBm; Gain sebesar 14,18 hingga 15,60 dB; dan OSNR sebesar 54,01 hingga 54,37 dB. Sedangkan untuk performansi transmisi upstream ditunjukkan EDFA dengan panjang 2 meter, daya 600 mW, dan panjang gelombang 1480 nm dengan nilai parameter Q factor sebesar 10,09 hingga 15,40; BER sebesar 7,68x10-54 hingga 2,75x10-24; Power Received sebesar -14,11 hingga -11,62 dBm, Gain sebesar 17,97 hingga 20,44 dB dan OSNR sebesar 54,01 hingga 54,37 dB. Kata Kunci: TWDM, NG-PON2, EDFA, WDM, TDM
Co-Authors Abbas, Raihan Rizqan Radhiyya Achmad Rifiandi Achmad Wildan Almaiz Achmad, Raffi Ade Rizki Ginanjar Adhitya, Farhan Ghifari Adhy Rizkya Oktauzi Putra Aditya , Bagus Aditya , Reza Afief Dias Pambudi Afif Glenta Utama Ageak Raporte Bermano Aghnia Sabika Agung Mujadid Ahmad Hidayat Ahyadan Weka Pratomo Ajeng Rahmaningtyas Firnadya Akbar, Fadel Al Akbar Aldrin Fakhri Azhari AMINAH INDAHSARI MARSUKI Andi Audy Oceanto Andi Imam Dwi Rezky Andi Oceanto Andika Putra Ramadhan Andre Frendra Zuli Andri Eryawan Ahmad Rifki Andy Oceanto Anggraeni, Nabila Ayu Anissa Okta Adi Perwita Arfianto Fahmi Ario Prabowo Ariqi, Fadhlul Arumadina Islamiq Asdianty, Lisda Aulia Nugraha Azrika, Andi Zhagyta Amalia B. Richard Tampubolon Bagas Sidiq Haryanto Bernadetta Sekar Pratiwi Bima Kurnia Marahsakti Karel Brian Pamukti Danu Dwi Sanjoyo Denny Darlis Dessinta Eka Wulandari Desti Madya Saputri Devitasari, Sabrina Dharu Arseno Dimas Hendratno Dinata, Ericha Septya Efri Suhartono Eka Yunita Dian Pratiwi Ekki Kurniawan Erna Sri Sugesti Fahira Indriyana Fajri Tanjung Fajria Nur Rahmawati Fajriansyah , Dhafa Baldi Faris Bayu Azanto FASYA, ISTI Fathurrahman, Muhammad Naufal Fatrheza Imantaqwa Fauzan Munggara Fauzi Muhammad Iqbal Ferry Alvi Pratama Gede Teguh Laksana Gustommy Bisono Hafiddudin Hafiddudin Hafidudin . Harismawan, Saskia Ananda Harry Rachmatsyah Herin Damara Ditya Hermawan Widiyanto Hernito, Argo Hersanda Narpatangga Kistrawan Hidayat, Muh. Tri Ignatio Chriesma Diba Sanggiantara Ihsan Saputro Ilham Bayu Prabowo Indrarini Dyah Irawati Irfan Maulana, Irfan Irham Mulkan Rodiana Jaka Satria Prayuda Jamil, Althaf Nizarudin Johanes Nicolas Panjaitan Junior, David Juwita Sekar Harum Kahayan, Fahrul Halim Jaka KARIMAH, ZULIA NURUL Kindi Alfitrandy Kris Sujatmoko Kurnia Cahya Ade Putra Kurniawan Gustyanto Lapatoza, Randy Surya Fathir Latief, Noval Ramadhana Lazuardi Ramadeanto Lita Harpaning Pertiwi M. LUTHFI M. LUTHFI Marcellus Haninditya Maulana Pragnya Ghita Maulana, M. Irfan Maulana, Naufal Mirza Michelle Christine Mochammad Hafiz Kurnia Mochammad Hasan Jauhari Mochammad Hasan Jauhari Mohamad Fadhian Mohammad Bima Putra Brayoga Muhamad Arief Permana Muhamad Prasetyo Notonegoro Muhamad Ramdlan Kirom Muhamad Rizky Darmawansyah Muhammad Afrizal Muhammad Afrizal Muhammad Etfrawan Shobirin Muhammad Fajar Nugraha Muhammad Hawary Muhammad Hidayat Abibi Muhammad Irfan Maulana Muhammad Luthfi Ramadhan Abdul Rachman Muhammad Rayhan Hasibuan Muhammad Rendra Perdana Kusuma Djaka Muhammad Yasyir Musarah Wim Nabilla Aprilia Nachwan Mufti Adriansyah Nadhasya, Athallah Favianauvally Nadia Herma Wati Naffisa Naufal Andriani Najib Asqolani Akbar Naufal Karyadi Nugraha Septiana Pamungkas Nur Fahmi Farabi Nur Rizki Yulizar Nurrochman Prabowo Odang Yusuf Okta Mia Sari Oktavianingrum, Andarista Putri Olyvia Noviyanti Oq Vinesto Riyadi Paliwan Paliwan Pane, Grace Deborah Maria Paundra Aldila Pradana, Muhammad Rifki Aldi Prasetya, Rizky Aris Prasetyo, Fery Hafidz Pratama, Rakan Aji Pugar Athma Praja Putra, Farhan Sunella Putri, Crystal Ilesta Putri, Novian Indriani R. Bambang Cahyo Widodo Rahadian, Iqbal Adzani Rahmadianti Nelson Raihanum, Khaula Ramadhan, Abdillah Rasyid Vikri Prisdiansyah Ratih Kusuma Wardhani Raynanda Chandra Wibisono Rendy Munadi Reyga Prayogo Richo Pratama Putra Ridhwan Gandaatmaja Ridwan Pratama Ripai Ripai Riska Agus Rizky Maulana Arpan Rizky Mauludy Muttaqien Rizky Satria Rizky Satria, Rizky Rizky, Muhammad Arief Rosid, Winky Harun Al Ryan Topani Sarah Shafira Wijaya Sasono Rahardjo Satria , Rizky Satrio Priambodo Satya Prianggono Sekar Langit Az-Zahra Saksono Sugito Sugito Suwandi Suwandi Suwardi , Farhan Syawal Alam Machfuddin Taufik Abdurrahman Taufik Akbar Tiara Fadila Tiara Mustika Tjahjo Adiprabowo R Uke Kurniawan Uke Kurniawan Usman Umar Fachreza Unang Sunarya Valendira Putri Wahyu Nur Annisa Wani Wahdania Winda Friandawa Winda Ika Syukrina Windy Christalia Winnugroho Wiratman, Manfaluthy Hakim, Tiara Aninditha, Aru W. Sudoyo, Joedo Prihartono Wiranata, Aldi Yennisa Yesiana Yuliana Permata Sari Yusuf, Hafizh Khairan Adya Zehan Zulkarnaen Zulfi Zulfi Zulfikar Sandy Pratama ‘Aunurrafieq, Muhammad Naufal