Claim Missing Document
Check
Articles

Perencanaan Sistem Komunikasi Kabel Laut Jasuka Link Alternatif Tanjung Pakis-pontianak Bagas Sidiq Haryanto; Kris Sujatmoko; Akhmad Hambali
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) merupakan sistem komunikasi yang menggunakan media transmisi kabel optik dimana kabel optik tersebut digelar bukan didarat melainkan di dalam laut. Semakin banyaknya pertumbuhan penduduk di Indonesia, maka semakin banyak yang membutuhkan proses pertukaran data. Kapasitas existing tidak memungkinkan untuk melayani banyaknya kebutuhan penduduk melakukan pertukaran data. Kondisi dengan nilai load traffic 77 \% pada link Tanjung Pakis-Tanjung Pandan. Link utama yang terdapat pada Tanjung Pakis – Tanjung Pandan apabila terjadi over traffic maka akan mengakibatkan putusnya link sehingga perlu dibuatnya link alternatif yang mampu menghandle apabila terjadi kondisi yang tidak diingiinkan. Dari semua skenario yang dirancang, skenario 3 dikatakan layak dengan perancangan link menggunakan tipe kabel G.655 sejauh 973,52 kilometer dengan 9 buah penguat EDFA mendapatkan nilai Link Power Budget -12,78 dBm dengan nilai SNR sebesar 26,02 dB, nilai Q-factor sebesar 9,99 dan nilai Bit Error Rate sebesar 8,59 x 10- 24 . Dikatakan layak berdasarkan nilai minimum setiap parameter performansi. Kata Kunci : SKKL, kabel optik, kapaitas, existing, alternatif Abstract The Cable Communication System (SKKL) is a communication system that uses optical cable transmission media that is held not in the sea. The more population growth in Indonesia, the more people need the data exchange process. Existing capacity does not allow to serve the many needs of the population to exchange data Conditions with a 77 \% load traffic value on the Tanjung Pakis-Tanjung Pandan link. The main link found in Tanjung Pakis - Tanjung Pandan if there is over traffic will result in link disconnection so that an alternative link needs to be made that can handle in the event of an undesirable condition. Of all the scenarios designed, scenario 3 is said to be feasible with the design of link using the type of cable G.655 as far as 973.52 kilometers with 9 EDFA amplifiers getting the value of Link Power Budget -12.78 dBm with SNR value for 26.02 dB, the value of Q-factor is 9.99 and the value of Bit Error Rate is 8.59 x 10- 24. It is said to be feasible based on the minimum value of each performance parameter. Keywords : SKKL, optical cable, capacity, existing, alternative.
Analisis Performasi Subcarrier Intensity Modulation Pada Kanal Model Kim Dan Kruse Di Free Space Optic Fatrheza Imantaqwa; Akhmad Hambali; Kris Sujatmoko
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Free Space Optic (FSO) adalah komunikasi berbasis optik tanpa menggunakan kabel. Sebelumnya ada sebuah teknologi optik yang menggunakan radio frekuensi (RF) sebagai sinyal pembawanya, yaitu Radio over Fiber (RoF). Namun RoF memiliki beberapa kekurangan seperti interferensi elektrik, distorsi, dan noise yang besar. Oleh karena itu dibuatlah teknologi Free Space Optic (FSO). FSO juga merupakan teknologi untuk jaringan backup. Contohnya bila ada bencana gempa, lalu kabel optik rusak, maka langsung digantikan dengan FSO yang tidak memakai kabel. Free Space Optic (FSO) adalah teknologi komunikasi berbasis optik yang propagasi cahayanya terjadi di alam terbuka. Teknologi ini memanfaatkan system kerja Line Of Sight (LOS), dan full duplex. Pada umumnya FSO ini menggunakan LASER sebagai light sourcenya. FSO memiliki beberapa kelebihan seperti kurangnya gangguan, mudahnya maintenance, dan kecepatan yang tinggi. Pada penelitian ini, disimulasikan dan dianalisis menggunakan Subcarrier Intensity Modulation (SIM) pada kanal model Kim dan Kruse, dengan penggunaan empat panjang gelombang dan variasi visibility. Setelah pengujian dengan SIM, dibandingkan dengan modulasi OOK-NRZ dan OOK-RZ dengan parameter dan kanal yang sama. BER menggunakan SIM lebih baik daripada menggunakan modulasi OOK-NRZ dan OOK-RZ, dan pada panjang gelombang 1550 nm dengan nilai 10−98pada kanal model Kim dan 10−73 pada kanal model Kruse. Kata kunci : FSO, SIM, Kim, Kruse, BER. Abstract Free Space Optic (FSO) is optical based communication without using cables. Previously there was an optical technology that uses radio frequency (RF) as its carrier signal, namely Radio over Fiber (RoF). But RoF has several disadvantages such as electrical interference, distortion, and large noise. Therefore Free Space Optic (FSO) technology was created. FSO is also a technology for backup networks. For example, if there is an earthquake, then the optical cable is damaged, immediately be replaced with an FSO that does not use cables. Free Space Optic (FSO) is an optical-based communication technology whose light propagation takes place in the open. This technology makes use of the Line Of Sight (LOS) and full duplex work systems. In general, this FSO uses LASER as its light source. The FSO has several advantages such as lack of interference, easy maintenance, and high speed. In this study, it was simulated and analyzed using Subcarrier Intensity Modulation (SIM) on Kim and Kruse's channel models, with the use of four wavelengths and variations in visibility. After testing with SIM, it compared with OOK-NRZ and OOK-RZ modulation with the same parameters and channels. BER using SIM is better than using OOK-NRZ and OOK-RZ modulation, and at wavelengths of 1550 nm with values of 𝟏𝟎−𝟗𝟖on Kim's model channel and 𝟏𝟎−𝟕𝟑 on the Kruse model canal. Keywords: FSO, SIM, Kim, Kruse, BER
Analisis Perbandingan Jumlah Led Dengan Mengukur Performa Pada Sistem Vlc Fahira Indriyana; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abtsrak Tugas Akhir ini melakukan studi tentang teknologi Visible Light Communication (VLC). Dalam Tugas Akhir ini, membandingkan penggunaan jumlah lampu sebanyak 1, 2 dan 3 buah lampu LED dengan menggunakan optical concentrator dan tanpa optical concentrator pada sistem VLC. Teknologi jaringan nirkabel (wireless) terus berkembang dengan menggunakan LED sebagai sarana pengirim informasi dalam ruangan. Konstribusi Tugas Akhir ini signifikan karena performasi pada penggunaan jumlah LED dengan performa sistem VLC relatif memenuhi. Dan penggunaan 1, 2 dan 3 buah lampu menggunakan optical concentrator yang memenuhi yaitu 1 buah lampu sebesar 8,7 × 10−3 mW, jarak sejauh 3,83 m dan posisi sudut receiver sebesar 55,87° dengan menggunakan optical concentrator. Kata Kunci: VLC, LED, BER, OOK-NRZ, Optical Concentrator, Photodioda Abstract The final Project study about Visible Light Communication (VLC) technology. This project compare the utilization of number of LED light's as much as 1, 2, and 3 lights by using optical concentrator and without optical concentrator at VLC system. Wireless network technology develop by using LED as an information transmiter in a room continuously. This final project has a significant contribution because the performance of utilization of number of LED with performance of VLC system are qualified relatively. Then the utilization of 1, 2, and 3 lights by using optical concentrator that qualified is a system that used one light with power receiver (Prx) as 8,7× 10 -3 mW, with distance as 3,83 m and the position of receiver angle as 55,87°.
Analisis Integrasi Sistem Radio Over Fiber (rof) Dengan Next Generation Passive Optical Network Stage 2 (ng-pon2) Naufal Karyadi; Akhmad Hambali; Kris Sujatmoko
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pengguna layanan seluler dalam beberapa tahun belakangan ini semakin meningkat sehingga kebutuhan akan bandwidth semakin tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan sarana telekomunikasi yang bisa menanggulangi permasalahan tersebut, salah satunya yaitu dengan menggunakan sistem Radio Over Fiber (RoF). Kemudian dengan mengimplementasikan RoF ke Passive Optical Network (PON) bisa menawarkan user yang lebih banyak dan bandwidth yang dihasilkan bisa lebih besar. Pada penelitian ini dilakukan simulasi integrasi RoF dengan NGPON2 dengan menggunakan bitrate sebesar 40 Gbps sisi downstream dan menggunakan frekuensi radio sebesar 60 GHz. Kemudian simulasi ini dilakukan dengan 3 skenario yang dibedakan berdasarkan jumlah ONU. Dari simulasi yang dilakukan, didapatkan hasil performansi terbaik pada Skenario I dengan sistem yang menggunakan OA pada jarak 30 km. Untuk hasil performansi terbaik pada Skenario II dengan sistem yang menggunakan OA pada jarak 20 km dengan nilai. Untuk hasil performansi terbaik pada Skenario III dengan sistem yang menggunakan OA pada jarak 10 km dengan hasil performansi seperti LPB ≥ -28 dBm, Q-Factor ≥ 6, dan BER ≤ 10-9 . Kata kunci : RoF, NG-PON2, ONU, Q-Factor, BER, Link Power Budget. Abstract Users of cellular services in recent years are increasing so that the need for bandwidth is getting higher. Therefore, telecommunication facilities are needed that can overcome these problems, one of which is by using the Radio Over Fiber (RoF) system. Then by implementing RoF to Passive Optical Network (PON), it is expected to be able to offer more users and greater bandwidth. In this study a simulation of RoF integration with NG-PON2 was carried out by using a 40 Gbps bitrate downstream and using radio frequency of 60 GHz. Then this simulation is carried out in 3 scenarios that are differentiated based on the number of ONUs. From the simulation, the best performance results obtained in Scenario I with system that uses OA at distance of 30 km. For the best performance results in Scenario II with system that uses OA at distance of 20 km with a value. For the best performance results in Scenario III with system that uses OA at distance of 10 km with performance results such as LPB ≥ -28 dBm, Q-Factor ≥ 6, and BER ≤ 10-9 . Keywords: RoF, NG-PON2, ONU, Q-Factor, BER, Link Power Budget. Abstrak Pengguna layanan seluler dalam beberapa tahun belakangan ini semakin meningkat sehingga kebutuhan akan bandwidth semakin tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan sarana telekomunikasi yang bisa menanggulangi permasalahan tersebut, salah satunya yaitu dengan menggunakan sistem Radio Over Fiber (RoF). Kemudian dengan mengimplementasikan RoF ke Passive Optical Network (PON) bisa menawarkan user yang lebih banyak dan bandwidth yang dihasilkan bisa lebih besar. Pada penelitian ini dilakukan simulasi integrasi RoF dengan NGPON2 dengan menggunakan bitrate sebesar 40 Gbps sisi downstream dan menggunakan frekuensi radio sebesar 60 GHz. Kemudian simulasi ini dilakukan dengan 3 skenario yang dibedakan berdasarkan jumlah ONU. Dari simulasi yang dilakukan, didapatkan hasil performansi terbaik pada Skenario I dengan sistem yang menggunakan OA pada jarak 30 km. Untuk hasil performansi terbaik pada Skenario II dengan sistem yang menggunakan OA pada jarak 20 km dengan nilai. Untuk hasil performansi terbaik pada Skenario III dengan sistem yang menggunakan OA pada jarak 10 km dengan hasil performansi seperti LPB ≥ -28 dBm, Q-Factor ≥ 6, dan BER ≤ 10-9 . Kata kunci : RoF, NG-PON2, ONU, Q-Factor, BER, Link Power Budget. Abstract Users of cellular services in recent years are increasing so that the need for bandwidth is getting higher. Therefore, telecommunication facilities are needed that can overcome these problems, one of which is by using the Radio Over Fiber (RoF) system. Then by implementing RoF to Passive Optical Network (PON), it is expected to be able to offer more users and greater bandwidth. In this study a simulation of RoF integration with NG-PON2 was carried out by using a 40 Gbps bitrate downstream and using radio frequency of 60 GHz. Then this simulation is carried out in 3 scenarios that are differentiated based on the number of ONUs. From the simulation, the best performance results obtained in Scenario I with system that uses OA at distance of 30 km. For the best performance results in Scenario II with system that uses OA at distance of 20 km with a value. For the best performance results in Scenario III with system that uses OA at distance of 10 km with performance results such as LPB ≥ -28 dBm, Q-Factor ≥ 6, and BER ≤ 10-9 . Keywords: RoF, NG-PON2, ONU, Q-Factor, BER, Link Power Budget.
Implementasi Sistem Informasi Pencemaran Air Sungai Berbasis Internet Of Things Agung Mujadid; Akhmad Hambali; Efri Suhartono
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Air merupakan sumber kehidupan mahluk hidup. Air digunakan untuk berbagai kebutuhan manusia, hewan, maupun tumbuhan. Air hujan yang jatuh ketanah akan menghantam bebatuan dan akan menghasilkan pecahan bebatuan kecil yang dapat menghalangi pori-pori tanah. Dengan demikian semakin banyak air yang mengalir dipermukaan tanah dan lama kelamaan akan membentuk sungai. Namun seiring berkembangnya penduduk di berbagai belahan bumi sungai-sungai mulai banyak yang tercemar. Hal tersebut dapat mengakibatkan resiko terkena penyakit lebih rentan. Beberapa penyakit yang dapat muncul seperti kolera, diare, disentri, hepatitis a, malaria dan polio. Tidak hanya dapat menimbukan penyakit bagi manusia, pencemaran air juga dapat mengakibatkan populasi ikan di air sungai akan punah, selain itu pencemaran air dapat merusak tanaman jika air yang digunakan untuk menyiram tanaman ialah air yang tercemar. Pada penelitian ini dibuat suatu rancangan alat yang mampu memberikan informasi kepada petugas kebersihan tentang kualitas air sungai. Pada proyek ini menggunakan sensor pH untuk mengukur tingkat keasaman dan sensor turbidity yang mampu mengukur tingkat kekeruhan air serta didukung dengan platform arduino sebagai mikrokontrolernya yang dihubungkan dengan GPS yang akan mampu memberikan layanan Internet dan posisi latitude dan longitude dari lokasi sungai melalui aplikasi telegram. Dari hasil penelitian ini didapat hasil dari pengukuran bahwa air sungai yang uji melalui aplikasi telegram mendapatkan delay rata-rata 8,84 sampai 10,81 detik. Selain itu juga parameter pH yang didapat rata-rata dari 4,81 sampai 6,43 dan pada parameter turbidity didapat rata-rata dari 3,2 sampai 10,3. Kata kunci : Pencemaran air, Internet of things, Arduino, GPS, Telegram Abstract Water is the source of life for living things. Water is used for various needs of humans, animals and plants. Rainwater that falls to the ground will hit the rocks and will produce small pieces of rock that can block the pores of the soil. Thus the more water that flows on the surface of the land and eventually will form a river. But as the population grows in various parts of the world, rivers begin to become polluted. This can lead to the risk of getting more susceptible diseases. Some diseases that can arise such as cholera, diarrhea, dysentery, hepatitis a, malaria and polio. Not only can humans cause disease, water pollution can also cause fish populations in river water to become extinct, but water pollution can damage plants if the water used to water plants is polluted water. In this research, a tool design that is able to provide information to cleaning staff about river water quality is created. This project uses a pH sensor to measure acidity and turbidity sensors that are capable of measuring water turbidity levels and are supported by an arduino platform as a microcontroller that is connected to GPS that will be able to provide Internet services and latitude and longitude position of river locations through telegraph applications. From the results of this study the results obtained from measurements that the river water tested through telegram applications get an average delay of 8.84 to 10.81 seconds. In addition, the pH parameters obtained on average from 4.81 to 6.43 and the turbidity parameters obtained on average from 3.2 to 10.3. Keywords: Water pollution, Internet of things
Performansi Sistem Radio Over Fiber Untuk 4g Dan 5g Ripai Ripai; Kris Sujatmoko; Akhmad Hambali
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pertubuhan pada bidang telekomunikasi saat ini berkembang sangat pesat, hal ini disebabkan karena kebutuhan user yang menginginkan layanan telekomunikasi yang cepat dengan cakupan yang luas. Radio Over Fiber (RoF) merupakan solusi yang ditawarkan karena menyediakan layanan yang cepat dengan bandwidth yang besar dan cakupannya yang luas. Pada penelitian ini membuat sistem RoF untuk jaringan 4G dan 5G dengan menggunakan teknik modulasi 4-Quardature Amplitude Modulation (QAM) dan menggunakan modulator optik Lithium Nitrobate (LiNb) Mach Zehnder Modulator. Pada simulasi menggunakan jarak lintasan optik 30 Km, 45 Km, dan 60 Km. Hasil performansi sistem RoF dengan jarak terjauh 60 Km mendapatkan nilai Q-factor sebesar 6.017 dan BER sebesar 9.463x10-10 pada sistem RoF menggunakan frekuensi 2.3 GHz. Pada sistem RoF menggunakan frekuensi 3.5 GHz mendapatkan nilai Q-factor sebesar 6.199 dan BER sebesar 2.823x10-10. Pada sistem RoF menggunakan frekeunsi 60 GHz mendapatkan nilai Q-factor sebesar 6.363 dan BER sebesar 9.758x10-11. Hasil dari ketiga skema masih memenuhi standar nilai Q-factor sebesar 6 dan nilai BER 10-9 . Kata Kunci: RoF, QAM, Q-factor, BER. Abstract The organization in the field of telecommunications is now growing very rapidly, this is due to the needs of users who want a fast telecommunication service with wide coverage. Radio Over Fiber (RoF) is a solution offered because it provides fast service with great bandwidth and wide coverage. This study created an RoF system for 4G and 5G networks using 4-Quadrature Amplitude Modulation (QAM) modulator and using the Mach Zehnder Modulator (LiNb). The simulation uses an optical trajectory of 30 Km, 45 Km, and 60 Km. The performance results of the RoF system with the most distance of 60 Km have a Q-factor value of 6,017 and BER of 9.463 X10-10 on the RoF system using a frequency of 2.3 GHz. On the RoF system Using a frequency of 3.5 GHz gets a Q-factor value of 6,199 and BER of 2.823 X10-10. In the RoF system using the 60 GHz Frekeunsi get the Q-factor value of 6,363 and BER of 9.758 X10-11. The results of the three schemes still meet the standard Qfactor value of 6 and the value of 10-9. Keywords: RoF, QAM, Q-factor, BER.
Analisis Performansi Sistem Jaringan Radio Over Fiber Untuk Pengaplikasian Telekomunikasi Dalam Ruangan Michelle Christine; Akhmad Hambali; Kris Sujatmoko
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Radio Over Fiber (RoF) merupakan salah satu proses komunikasi serat optik dimana sinyal radio ditumpangkan ke transmisi serat optik. Dengan besarnya tuntutan keberhasilan proses telekomunikasi data, khususnya di dalam ruangan (indoor), RoF dapat menjadi salah satu solusi untuk mendukung keberhasilan proses telekomunikasi dengan sistem jaringan yang lebih efisien dalam segi pengaplikasiannya. Modulasi digital Differential Phase-Shift Keying (DPSK) digunakan untuk sistem jaringan ini. Bit rate pada penelitian adalah 1Gbps dan terdapat modulator eksternal Mach-Zehnder Modulator (MZM) untuk mendukung proses penumpangan sinyal radio pada sinyal optik. Sumber optik yang digunakan adalah CW Laser dan jarak maksimal kabel serat optik adalah 30 km. Photodetector jenis Avalanche Photodiode (APD) digunakan pada blok penerima. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa variasi power splitter dan jarak kabel serat optik mempengaruhi performansi sistem jaringan. Dimana semakin panjang jarak kabel serat optik dan semakin besar jumlah output port power splitter, semakin buruk nilai setiap parameter performansi. Dengan selisih nilai performansi pada setiap variasi perangkat 19,5%, hasil penelitian menunjukkan bahwa performansi perangkat terbaik dengan nilai Bit Error Rate (BER) 2,34 x 10-12 adalah dengan menggunakan power splitter 1:2 dan jarak kabel serat optik 8 km untuk sistem jaringan radio over fiber. Serta performansi perangkat terburuk dengan nilai BER 9,74 x 10-7 pada saat sistem jaringan menggunakan power splitter 1:8 dan jarak kabel serat optik adalah 30 km. Kata kunci : Radio over Fiber, Indoor, DPSK, BER, Q-Factor. Abstract Radio Over Fiber (RoF) is one of the processes in optical fiber communication where radio signals are modulated in optical fiber. With the increasing number of demands in the success of a telecommunication data processing, especially indoor, RoF could be one of the solutions to support the success of telecommunication processing with a more efficient network system in terms of its application. Differential Phase-Shift Keying digital modulation is used for this network system. The bit rate in this research is 1Gbps and Mach-Zehnder Modulator (MZM) as an external modulator is used to support the modulation process of radio signal in the optical fiber. CW Laser is used as the optical source and the maximum fiber length is 30 km. Avalanche Photodiode (APD) Photodetector is used in the receiver block. Based on the results, it can be concluded that the variants of power splitter and fiber length can affect the network system’s performance. Where the longer fiber length and the bigger number of ports in the power splitter, the values of each performance parameter decreases. With each variants’s difference at 19.5%, the simulation result shows the best parameter performance with BER value 2,34 x 10-12 is by using 1:2 power splitter and 8 km optical fiber length. Where the worst parameter performance with BER value 9,74 x 10-7 is by using 1:8 power splitter and 30 km optical fiber length. Keywords: Radio over Fiber, Indoor, DPSK, BER, Q-Factor.
Analisis Performansi Ber Pada Jaringan Optik Dense Wavelength Division Multiplexing Menggunakan Penguat Hybrid Raman Edfa Taufik Akbar; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penguat hybrid merupakan sebuah teknologi yang menjanjikan dan memberikan performansi yang lebih baik karena dapat menangani jaringan dengan beban yang besar. Penguat hybrid Erbium Doped Fiber Amplifier (EDFA) dan Fiber Raman Amplifier (FRA) digunakan untuk mengoptimalkan peningkatan gain bandwidth dari sistem berbasis Wavelength Dense Multiplexing (WDM). Meningkatkan Gain-Bandwidth penguat optik adalah cara yang paling efektif untuk pemanfaatan optimal bandwidth serat secara efisien dalam peningkatan jumlah saluran berbasis WDM. Pada penelitian ini dilakukan perbandingan sistem Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) pada jarak maksimum 250 km tanpa penguat, menggunakan penguat FRA, penguat EDFA, dan menggunakan penguat Hybrid Optical Amplifier (HOA) yaitu penggabungan FRA dan EDFA. Kemudian melakukan perbandingan pada jarak berapa maksimal penguatan masih bisa dilakukan, simulasi sistem dilakukan menggunakan perangkat lunak Optisystem 7.0 dan membandingkan nilai Bit Error Rate (BER) yang paling baik yaitu BER < 10 9 . Hasil yang diperoleh dari serangkaian simulasi sistem dengan konfigurasi paling optimal yaitu konfigurasi HOA FRA-EDFA secara parallel in line pada jarak 210 km dengan nilai Q factor terendah 6.10417 dan nilai BER sebesar 5.08 sehingga masih layak digunakan pada jarak tersebut. Kata Kunci: EDFA, FRA, HOA,DWDM, Optical amplifier. 1.1 Abstract It is a promising technology and provides better performance as it can handle a large load of network, which is very good. The Erbium Doped Fiber Amplifier (EDFA) and Fiber Raman Amplifier (FRA) amplifier are used to optimize the increase in gain bandwidth from the Wavelength Dense Multipexing (WDM)-based system. Improving gain-bandwidth optical amplifier is the most effective way to efficiently utilization the optimal bandwidth fibers in an increase in the number of WDM-based channels. In this research conducted a comparison of Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) system at a maximum distance of 250 km without amplifier, using FRA amplifier, EDFA amplifier, and use of Hybrid Optical Amplifier (HOA) amplifier of the FRA and EDFA merger. Then do a comparison of how much maximum gain can still be done, system simulation is done using the software Optisystem 7.0 and comparing the best value Bit Error Rate (BER) < 109 . Result obtained from a series of simulation system with the most optimal configuration of HOA FRA EDFA in parallel in line at a distance 210 km with the lowest Q factor value of 6.10417 and the BER value 5.0810 so that is still worth to use at this distances. Keyword : EDFA, FRA, HOA, U-DWDM, Optical amplifier.
Analisis Performansi Pengaruh Splitter Pada Sistem Ng-pon2 Muhammad Afrizal Muhammad Afrizal; Akhmad Hambali; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Salah satu teknologi yang berkembang saat ini adalah NG-PON2. NG-PON2 diharapkan mampu menyalurkan data transmisi dengan lebih efisien dan handal. NG-PON2 merupakan salah satu teknologi yang dikembangkan oleh ITU-T. NG-PON2 diharapkan mampu menyediakan layanan broadband yang semakin berkembang di masa depan untuk melayani kebutuhan pelanggan yang meningkat baik di layanan data, voice, dan video. Dalam penelitian ini penulis ingin mengembangkan penelitian dengan cara menganalisa performansi pengaruh splitter pada sistem NG-PON2 dengan menggunakan jarak 60 km. Dari hasil simulasi, dilakukan analisis sistem dengan parameter pengukuran link power budget, Q factor, dan BER serta mengacu pada standar ITU-T. Penelitian ini akan menggunakan software simulasi optik untuk mempermudah dalam proses analisa data. Berdasarkan hasil simulasi, 2 ONU, 4 ONU, 8 ONU, dan 16 ONU memiliki kelayakan karena telah memenuhi standar kelayakan operasi namun untuk 16 ONU memiliki kelayakan terbaik dengan Q-Factor = 7,4844 dan Power Received = -28,190 dBm serta BER = 𝟑, 𝟒𝟏𝟑𝟏𝒙𝟏𝟎−𝟏𝟒 disisi downstream dan Q-Factor = 6,4450 dan Power Received = -28,342 dBm serta BER = 𝟓, 𝟑𝟏𝟔𝟏𝒙𝟏𝟎−𝟏𝟏 disisi upstream. Kata kunci: NG-PON2, splitter, Link Power Budget, BER, Q-factor. ABSTRACT One of the technologies that is currently developing is NG-PON2. NG-PON2 is expected to be able to channel data transmission more efficiently and reliably. NG-PON2 is one of the technologies developed by ITU-T. In this study different from previous researchers who discussed the power consumption of splitters for next generation optical networks. In this study the author wants to develop research by analyzing the performance of the effect of splitters on NG-PON2 systems using a distance of 60 km. From the simulation results, a system analysis is carried out with measurement parameters of link power budget, Q factor, and BER and refers to the ITU-T standard. Based on the simulation, 2 ONU, 4 ONU, 8 ONU, dan 16 ONU have eligibility because they have met the operational feasibility standard but for 16 ONU has the best feasibility with Q-Factor = 7,4844 and Power Received = -28,190 dBm and BER = 𝟑, 𝟒𝟏𝟑𝟏𝐱𝟏𝟎−𝟏𝟒 on the downstream side and Q-Factor = 6,4450 and Power Received = -28,342 dBm and BER = 𝟓, 𝟑𝟏𝟔𝟏𝐱𝟏𝟎−𝟏𝟏 on the upstream side. Keywords: NG-PON2, splitter, Link Power Budget, BER, Q-factor.
Perancangan Jaringan Last Mile Berbasis Gpon Di Kecamatan Ciwidey Jawa Barat Kindi Alfitrandy; Akhmad Hambali; Muhammad Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 9, No 6 (2022): Desember 2022
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak— Sistem komunikasi jarak jauh merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan layanan internet yang penting bagi umat manusia di zaman ini. Layanan video dan data dengan bandwidth yang tinggi sangat dibutuhkan seperti teknologi Long Term Evolution. Wilayah Ciwidey merupakan salah satu pusat wisata di jawa barat namun jaringan 4G LTE masih tidak baik di wilayah tersebut sehingga dibutuhkan pemerataan jaringan 4G/LTE. Pada tugas akhir ini dilakukan perancangan dengan penentuan wilayah untuk perancangan jaringan last mile berdasarkan letak geografis untuk dilakukan perhitungan user trafik. Dengan menggunakan ONU pada eNodeB dan ONT pada sekolah dan tempat wisata. Perancangan ini menggunakan teknologi GPON sesuai dengan standar ITU-T G.984 dimana 2,488 Gbps untuk downstream dan 1,244 Gbps untuk upstream. Hasil perhitungan perancangan untuk layanan komunikasi data di Kecamatan Ciwidey, Jawa Barat. Rancangan ini terpenuhi dengan parameter terendah BER untuk link eNodeB pada sisi downstream bernilai 1,90 x 10-10 dan upstream 1,95 x 10-13 . Sedangkan untuk link ONT pada sekolah nilai parameter BER terendah pada link akses downstream bernilai 9,81 x 10-9 dan upstream bernilai 1,08 x 10-9 . Kata kunci— LTE, GPON, bit error rate
Co-Authors Achmad Rifiandi Achmad Wildan Almaiz Achmad, Raffi Ade Rizki Ginanjar Adhitya, Farhan Ghifari Adhy Rizkya Oktauzi Putra Aditya , Reza Afief Dias Pambudi Afif Glenta Utama Ageak Raporte Bermano Aghnia Sabika Agung Mujadid Ahmad Hidayat Ahyadan Weka Pratomo Ajeng Rahmaningtyas Firnadya Akbar, Fadel Al Akbar Aldrin Fakhri Azhari AMINAH INDAHSARI MARSUKI Andi Audy Oceanto Andi Imam Dwi Rezky Andi Oceanto Andika Putra Ramadhan Andre Frendra Zuli Andri Eryawan Ahmad Rifki Andy Oceanto Anissa Okta Adi Perwita Arfianto Fahmi Ario Prabowo Ariqi, Fadhlul Arumadina Islamiq Asdianty, Lisda Aulia Nugraha Azrika, Andi Zhagyta Amalia B. Richard Tampubolon Bagas Sidiq Haryanto Bernadetta Sekar Pratiwi Bima Kurnia Marahsakti Karel Brian Pamukti Danu Dwi Sanjoyo Denny Darlis Dessinta Eka Wulandari Desti Madya Saputri Devitasari, Sabrina Dharu Arseno Dimas Hendratno Dinata, Ericha Septya Efri Suhartono Eka Yunita Dian Pratiwi Ekki Kurniawan Erna Sri Sugesti Fahira Indriyana Fajri Tanjung Fajria Nur Rahmawati Faris Bayu Azanto FASYA, ISTI Fathurrahman, Muhammad Naufal Fatrheza Imantaqwa Fauzan Munggara Fauzi Muhammad Iqbal Ferry Alvi Pratama Gede Teguh Laksana Gustommy Bisono Hafiddudin Hafiddudin Hafidudin . Harry Rachmatsyah Herin Damara Ditya Hermawan Widiyanto Hernito, Argo Hersanda Narpatangga Kistrawan Hidayat, Muh. Tri Ignatio Chriesma Diba Sanggiantara Ihsan Saputro Ilham Bayu Prabowo Indrarini Dyah Irawati Irfan Maulana, Irfan Irham Mulkan Rodiana Jaka Satria Prayuda Jamil, Althaf Nizarudin Johanes Nicolas Panjaitan Junior, David Juwita Sekar Harum Kahayan, Fahrul Halim Jaka KARIMAH, ZULIA NURUL Kindi Alfitrandy Kris Sujatmoko Kurnia Cahya Ade Putra Kurniawan Gustyanto Lazuardi Ramadeanto Lita Harpaning Pertiwi M. LUTHFI M. LUTHFI Marcellus Haninditya Maulana Pragnya Ghita Maulana, M. Irfan Maulana, Naufal Mirza Michelle Christine Mochammad Hafiz Kurnia Mochammad Hasan Jauhari Mochammad Hasan Jauhari Mohamad Fadhian Mohammad Bima Putra Brayoga Muhamad Arief Permana Muhamad Prasetyo Notonegoro Muhamad Ramdlan Kirom Muhamad Rizky Darmawansyah Muhammad Afrizal Muhammad Afrizal Muhammad Etfrawan Shobirin Muhammad Fajar Nugraha Muhammad Hawary Muhammad Hidayat Abibi Muhammad Irfan Maulana Muhammad Luthfi Ramadhan Abdul Rachman Muhammad Rayhan Hasibuan Muhammad Rendra Perdana Kusuma Djaka Muhammad Yasyir Musarah Wim Nabilla Aprilia Nachwan Mufti Adriansyah Nadhasya, Athallah Favianauvally Nadia Herma Wati Naffisa Naufal Andriani Najib Asqolani Akbar Naufal Karyadi Nugraha Septiana Pamungkas Nur Fahmi Farabi Nur Rizki Yulizar Nurrochman Prabowo Odang Yusuf Okta Mia Sari Oktavianingrum, Andarista Putri Olyvia Noviyanti Oq Vinesto Riyadi Paliwan Paliwan Pane, Grace Deborah Maria Paundra Aldila Prasetya, Rizky Aris Pratama, Rakan Aji Pugar Athma Praja Putra, Farhan Sunella Putri, Crystal Ilesta Putri, Novian Indriani R. Bambang Cahyo Widodo Rahadian, Iqbal Adzani Rahmadianti Nelson Raihanum, Khaula Ramadhan, Abdillah Rasyid Vikri Prisdiansyah Ratih Kusuma Wardhani Raynanda Chandra Wibisono Rendy Munadi Reyga Prayogo Richo Pratama Putra Ridhwan Gandaatmaja Ridwan Pratama Ripai Ripai Riska Agus Rizky Maulana Arpan Rizky Mauludy Muttaqien Rizky Satria Rizky, Muhammad Arief Ryan Topani Sarah Shafira Wijaya Sasono Rahardjo Satrio Priambodo Satya Prianggono Sekar Langit Az-Zahra Saksono Sugito Sugito Suwandi Suwandi Syawal Alam Machfuddin Taufik Abdurrahman Taufik Akbar Tiara Fadila Tiara Mustika Tjahjo Adiprabowo R Uke Kurniawan Uke Kurniawan Usman Umar Fachreza Unang Sunarya Valendira Putri Wahyu Nur Annisa Wani Wahdania Winda Friandawa Winda Ika Syukrina Windy Christalia Winnugroho Wiratman, Manfaluthy Hakim, Tiara Aninditha, Aru W. Sudoyo, Joedo Prihartono Yennisa Yesiana Yuliana Permata Sari Yusuf, Hafizh Khairan Adya Zehan Zulkarnaen Zulfi Zulfi Zulfikar Sandy Pratama ‘Aunurrafieq, Muhammad Naufal