Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Pengaruh Matched Filter Terhadap Jarak Maksimal Antara Source Ke Receiver Pada Sistem Vlc Andre Frendra Zuli; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada Tugas Akhir ini penulis akan melakukan mensimulasikan dan menganalisis pengaruh Matched Filter terhadap jarak antara Source dan Receiver dalam sistem VLC dalam ruangan tertutup. Bit yang menjadi input akan dimodulasikan dengan arus masuk dengan modulasi OOK-NRZ sebelum masuk kedalam Lampu LED untuk ditransmisikan. Lampu LED akan memancarkan cahaya tampak sebagai penerangan yang di dalamnya sudah ada sinyal informasi berupa bit-bit. Fotodioda akan menangkap cahaya tersebut sebelum diterima UE (User Equipment). Hasil yang diperoleh dari Tugas Akhir ini menghasilkan parameter saat tanpa matched filter dengan bitrate = 100 Mbps, jumlah bit = 1 juta bit, jarak antara source dan UE = 1.1 meter, pergeseran receiver maksimal sejauh 14.14 cm, artinya sistem memiliki coverage sebesar 0.0628 𝑚2 . Saat sistem ditambahkan matched filter, jarak pergeseran receiver dari titik 0 bertambah menjadi 49.49 cm dengan coverage sebesar 0.7697 𝑚2 . Saat posisi source dan receiver berada pada garis lurus maupun posisi receiver terjauh dengan standar BER yang ditetapkan, BER pada sistem dengan matched filter lebih baik dibandingkan tanpa matched filter. Kata Kunci : VLC, Matched Filter, OOK-NRZ, Fotodioda, LED, BER. Abstract In this Final Project the author will simulate and analyze the effect of Matched Filter on the distance between Source and Receiver in a VLC system in a closed room. The input bits will be modulated with an inlet with OOK-NRZ modulation before entering into the LED lights to be transmitted. The LED light will emit visible light as the lighting in which there is an information signal in the form of bits. The photodiode will capture the light before it is received by the EU (User Equipment). The results obtained from this Final Project produce current parameters without matched filter with bitrate = 100 Mbps, number of bits = 1 million bits, distance betweem source and UE = 1.1 meter, maximum receiver shift as far as 21.21 cm, meaning the system has a coverage of 0.0628𝑚2 . When the matched filter system is added, the receiver's shift distance from point (0,0,3) increases to 49.49 cm with a coverage of 0.7697 𝑚2 . When the source position and receiver are in a straight line or the position of the receiver furthest to the specified BER standard, BER on the system with matched filter is better than without matched filter. Keywords : VLC, Matched Filter, OOK-NRZ, Fotodioda, LED, BER.
Perancangan Dan Simulasi Aco Ofdm Untuk Visible Light Communication Nur Fahmi Farabi; Akhmad Hambali; Denny Darlis
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Visible Light Communication (VLC) merupakan sistem komunikasi menggunakan cahaya tampak sebagai sinyal pembawanya, VLC merupakan alternatif yang cukup baik dalam melayani kebutuhan data, disaat alokasi spektrum frekuensi radio yang sudah sangat padat digunakan. Orthogonal Frequency Divison Multiplexing (OFDM) merupakan teknik transmisi data dengan memanfaatkan sifat ortogonalitas sinyal. OFDM banyak digunakan pada sistem komunikasi broadband wireless dan wireline karena ketahanannya terhadap interferensi antar symbol (ISI). Pada tugas akhir ini disimulasikan sistem komunikasi cahaya tampak menggunakan teknik Asymmetrically Clipped Optical (ACO) OFDM yang memungkinkan efisiensi daya optik dan memberikan data rate yang tinggi. Berdasarkan hasil simulasi, untuk mendapatkan target SNR > 10 dB. Transmitter LED dengan sudut 50o ,60o dapat mencapai target dengan level daaya 6.5 dan 7 watt untuk jarak terjauh. Pada target BER 10-3 rasio SNR yang dibutuhkan 4, 16, 64 dan 256 QAM berturut-turut sebesar 10 dB, 17 dB, 23 dB dan 29 dB. Kata kunci : VLC, Asymmetrically Clipped Optical, OFDM, BER Abstract Visible Light Communication (VLC) is a communication system using visible light as a signal carrier, VLC is a fairly good alternative in serving data needs, when the allocation of radio frequency spectrum that is already very dense is used. Orthogonal Frequency Divison Multiplexing (OFDM) is a data transmission technique utilizing signal orthogonality. OFDM is widely used in wireless broadband communication systems and wireline because of its resistance to inter-symbol interference (ISI). In this final project simulated visible light communication systems using the Asymmetrically Clipped Optical (ACO) OFDM technique enable optical power efficiency and provide high data rates. To get expected SNR target which is > 10 dB. LED transmitter with semi-angle 50o , 60o can reach these targets with power requirements at the level of 6.5 and 7 watt for the longest distance. When BER 10-3the signal ratio required by 4, 16, 64 and 256 QAM is 10 dB, 17 dB, 23 dB and 29 dB respectively Keywords: VLC, Asymmetrically Clipped Optical, OFDM, BER
Analisis Efek Non Linier Four Wave Mixing (fwm) Pada Sistem Long Haul Ultra Dense Wavelength Division Multiplexing (u-dwdm) Rahmadianti Nelson; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Perkembangan sistem komunikasi optik yang pesat mengakibatkan perkembangan pada teknologi berbasis WDM juga meningkat. Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) yang merupakan pengembangan dari teknologi berbasis WDM memiliki banyak kelebihan dibanding teknologi pendahulunya. Namun sistem DWDM memiliki beberapa kelemahan, salah satunya efek non linieritas yang dapat mempengaruhi performansi Jaringan optik. Tugas Akhir ini akan membahas pengaruh efek non linier Four Wave Mixing (FWM) terhadap performansi sistem Long Haul Ultra Dense Wavelength Division Multiplexing (U-DWDM). Penelitian ini terdiri dari 4 skenario. Skenario pertama, melakukan perhitungan matematis dan simulasi pada sistem Long Haul U-DWDM tanpa penguat dan tanpa efek non linier. Skenario kedua, melakukan perhitungan matematis dan simulasi pada sistem Long Haul U-DWDM dengan penguat Hybrid Optical Amplifier FRAEDFA dan tanpa efek non linier. Skenario ketiga, melakukan simulasi pada sistem Long Haul U-DWDM tanpa penguat dan dengan efek non linier. Skenario keempat, melakukan simulasi pada sistem Long Haul U-DWDM dengan penguat Hybrid Optical Amplifier FRA-EDFA dan dengan efek non linier. Hasil penelitian akhir yaitu efek non linier Four wave Mixing (FWM) pada sistem Long Haul UDWDM dapat menurunkan kualitas performansi pada sistem hingga lebih dari 10%. namun dengan penambahan Hybrid Optical Amplifier (HOA) FRA-EDFA pada sistem dapat meminimalisir efek non linieritas tersebut. Sehingga kualitas performansi sistem akan tetap baik walaupun terkena efek non linieritas tersebut. Kata kunci : U-DWDM, FWM, Hybrid Optical Amplifier Abstract The development of the Optical Communication Systemshas resulted in increased deman for bandwidth in broadband aplication. The use of WDM-based systems in order to be able to utilize bandwidth efficiently. However, the WDM-based system has several weaknesses, which one is the non-linearity effect that can affect the performance of optical network. This final assigment will discuss about the non-linear Four Wave Mixing (FWM) effect on the performance of the Long Haul Ultra Dense Wavelength Division Multiplexing (U-DWDM) system. There are 4 scenarios. The first scenario, doing mathematical calculations and simulations on the Long Haul U-DWDM system without Optical Amplifier and without non-linear effects. The second scenario, doing mathematical calculation and simulation on the Long Haul U-DWDM system with FRA-EDFA Hybrid Optical Amplifier amplifier and without non-linear effects. The third scenario, simulates a Long Haul U-DWDM system without Optical Amplifier and with non-linear effects. The fourth scenario, simulates a Long Haul U-DWDM system with a FRA-EDFA Hybrid Optical Amplifier amplifier and with non-linear effects. The results of the non-linear effect of Four Wave Mixing (FWM) on the Long Haul U-DWDM system can reduce the quality of performance on the system by more than 10% but with the FRA-EDFA Hybrid Optical Amplifier (HOA) on the system it can minimize the non-linearity effect. So that the quality of the performance system will still be affected by non-linearity effects. Keywords: U-DWDM, FWM, Hybrid Optical Amplifier
Simulasi Radio Over Fiber Menggunakan Gelombang Milimeter Frekuensi 60 Ghz Untuk Penggunaan Home Access Network Zehan Zulkarnaen; Akhmad Hambali; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada saat ini penggunaan teknologi pada berbagai perangkat dan aplikasi membutuhkan kecepatan tinggi dan mobilitas yang fleksibel, teknologi wireless-fidelity dapat menjadi solusi dari kebutuhan tersebut. Pada penelitian ini dilakukan analaisa jaringan home area network dengan menggunakan topologi jaringan Radio over Fiber - Wavelength Division Multiplexing pada tiga standar wifi, yakni standar IEEE 802.11n yang menggunakan frekuensi kerja 2.4 GHz dengan kecepatan data 300Mbit/s, standar IEEE 802.11ac yang menggunakan frekuensi kerja 5 GHz dengan kecepatan data 1350Mbit/s, dan standar IEEE 802.15.3c yang menggunakan frekuensi kerja 60 GHz dengan kecepatan data 6000 Mbit/s yang masing-masing skema simulasi tersebut diukur pada jarak 5 kilometer, 10 kilometer, 15 kilometer dan jarak terjauh 20 kilometer sesuai standar access network. Hasil yang diperoleh dari perhitungan ketiga skema tersebut adalah pada jarak terjauh yakni 20 km, pada standar IEEE 802.11n nilai BER yang diperoleh 7,987×10-44 dan Q-factor sebesar 13,834. Pada standar IEEE 802.11ac nilai BER yang diperoleh 7,987×10-44 dan Q-factor sebesar 13,834. Dan terakhir pada standar IEEE 802.15.3c diperoleh hasil dengan nilai BER 4,154×10-39 dan Q-factor sebesar 13,03. Ketiga skema simulasi tersebut memperoleh nilai parameter yang memenuhi standar BER yakni 10-9 dan Q-factor sebesar 6. Kata kunci : Radio over Fiber, wifi, Serat Optik, Sinyal Radio. Abstract Nowadaysthe use of technology in various devices and applications requires high speed and flexible mobility, wireless-fidelity technology can be a solution to those needs. In this study, there was an analysis of home area network networks using Radio over Fiber network topology - Wavelength Division Multiplexing on three WiFi standards, the IEEE 802.11n standard that uses a 2.4 GHz frequency with a data speed of 300Mbit/s, IEEE 802.11ac standard that uses 5 GHz frequency with data rates of 1350Mbit/s, and the IEEE 802.15.3c standard that uses a 60 GHz frequency with a data rate of 6000 Mbit/s, each of scheme is measured at a distance of 5 kilometers, 10 kilometers, 15 kilometers and the farthest distance 20 kilometers according to the standard access network. The results obtained from the calculation of the three schemes are at the farthest distance of 20 km, in the IEEE 802.11n standard the BER value is 7.987 × 10-44 and Q-factor is 13.834. In the IEEE 802.11ac standard, the BER value is 7.987 × 10-44 and Q-factor is 13.834. And the IEEE 802.15.3c standard the BER value is of 4.154 × 10-39 and Q-factor 13.03. The three simulation schemes have obtained parameter values that meet the BER standard of 10-9 and Q-factor of 6. Keywords: Radio over Fiber, wifi, Fiber Optic, Radio signal.
Analisis Sistem Radio Over Fiber Pada Aplikasi Sel Piko Untuk Lte Raynanda Chandra Wibisono; Arfianto Fahmi; Akhmad Hambali
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Radio over Fiber (RoF) merupakan pengiriman sinyal radio melalui kabel serat optik. Sedangkan piko sel adalah cakupan wilayah terkecil dari sistem seluler sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas jaringan. Selain memiliki bit rate yang tinggi, RoF juga memiliki kapasitas yang besar sehingga membuat jaringan ini baik untuk digunakan pada area padat pengguna. Long Term Evolution (LTE) adalah teknologi seluler yang membutuhkan kecepatan tinggi dan kapasitas yang besar, namun penggunaan kabel tembaga pada LTE menyebabkan terbatasnya laju data maksimum. Maka, untuk meningkatkan laju data maksimum dibutuhkan penggantian kabel tembaga dengan menggunakan serat optik karena memiliki laju data yang lebih tinggi dan kapasitas yang lebih besar dari pada kabel tembaga. Analisis dilakukan pada sisi downstream dengan laju bit sebesar 10Gbps dengan variasi line coding NRZ dan RZ dan teknik modulasi ASK, FSK, dan PSK. Sinyal radio menggunakan LiNb03 Mach Zehnder Modulator (LiNb03-MZM) dengan skema variasi jarak link sistem transmisi 10 sampai 20 Km dengan spasi jarak sejauh 1 Km . Hasil simulasi pada penelitian ini didapatkan performansi terbaik dengan teknik modulasi dan line coding yang berbeda. Didapatkan nilai performansi daya terima terbaik yaitu -7,967 dBm untuk jarak 10 km. QFactor 27,867 untuk jarak 10km dengan menggunakan RZ-PSK dengan BER sebesar 3,33 × 10-169. Kata kunci : Radio over Fiber, LTE, Sel Piko Abstract Radio over Fiber (RoF) is a radio signal delivery through an optical fiber cable. While the Pico Cell is the smallest coverage area of the mobile system so it can be used to increase network capacity. In addition to having a high bit rate, RoF also has a large capacity that makes this network good for use on the user's dense areas. Long Term Evolution (LTE) is a mobile technology that requires high speed and great capacity, but the use of copper wires on LTE leads to a limited maximum data rate. Thus, to increase the maximum data rate the required replacement of copper wires using fiber optic because it has a higher data rate and greater capacity than copper wires. The analysis was conducted on the downstream side at 10Gbps bit rate with NRZ and RZ line coding and ASK, FSK, and PSK modulation varies techniques. The radio signal uses the LiNb03 Mach Zehnder Modulator (LiNb03-MZM) with a variation scheme of transmission distance link System 10 to 20 Km with spacing as far as 1 Km. Simulated results of this study gained the best performance with different modulation techniques and line coding. Obtained the best value of power performance is-7.967 dBm for a distance of 10 km. Q-Factor 27.867 for 10km distance using RZ-PSK with BER of 3.33 × 10-169. Keywords : Radio over Fiber, LTE, Pico Cell
Perancangan Navigasi Indoor Positioning Menggunakan Komunikasi Cahaya Tampak Ryan Topani; Kris Sujatmoko; Akhmad Hambali
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Dewasa ini pesatnya perkembangan teknologi menjadikan kebutuhan manusia terhadap teknologi yang lebih efisien sangat memungkinkan. Salah satunya adalah teknologi kabel yang digunakan dengan pentransmisian cahaya. Pada saat ini teknologi tanpa kabel masih didominasi oleh penggunaan frekuensi radio sebagai media pengiriman informasi. Melihat beberapa penelitian dunia kesehatan terhadap dampak radiasi gelombang elektromagnetik terhadap tubuh manusia sangatlah membahayakan atau ahli kesehatan menyebutnya silent killer. Saat ini sedang ramai dikembangkan komunikasi tanpa kabel menggunakan cahaya tampak atau yang disebut VLC (Visible Light Communication) yang memanfaatkan spektrum cahaya sebagai media pengiriman informasi, bebas dari radiasi gelombang elektromagnetik dan diprediksi akan menggantikan penggunaan frekuensi radio ditempat tertentu yang harus terbebas dari frekuensi radio. Pada tugas akhir ini, telah dilakukan perancangan sistem komunikasi cahaya tampak dengan mengirimkan sinyal digital yang dibantu oleh mikrokontroler berupa Arduino UNO agar data digital tersebut dapat ditransmisikan dan diterima. Perancangan blok diagram dibagian pengirim menggunakan lampu LED 10 Watt, sedangkan dibagian penerima menggunakan sensor cahaya yaitu photodetector. Pengujian dilakukan dengan jarak 5cm, 15cm, 25cm, 30cm, 90cm. Didapatkan hasil dari pengujian, sistem komunikasi cahaya tampak mampu mengirimkan sinyal digital dan dapat diterima oleh receiver dengan terbacanya data yang dikirimkan oleh transmitter, terlihat pada layar LCD mengeluarkan karakter sebagai mana mestinya dengan jarak maksimal 90cm selebihnya sulit diterima. Jarak antar transmitter dan receiver berpengaruh terhadap nilai arus yang terjadi selama pengiriman data, semakin jauh jarak maka semakin kecil nilai arusnya walaupun tidak terlalu siginifikan. Kata Kunci: Komunikasi cahaya tampak, LED, Arduino UNO, Photodetector ABSTRACT Today’s the rapid development of technology makes human needs for more efficient technology very possible. One of them is cable technology that is used with light transmission. At present wireless technology is still dominated by the use of radio frequency as a medium for sending information. Seeing some of the world's health studies on the effects of electromagnetic wave radiation on the human body is very dangerous or health experts call it the silent killer. Currently being developed wireless communication using visible light or called VLC (Visible Light Communication) that utilizes the light spectrum as a medium for sending information, free from electromagnetic wave radiation and is predicted to replace radio frequency use in certain places that must be free of radio frequency. In this final project, the design of visible light communication systems has been carried out by sending digital signals assisted by an Arduino UNO microcontroller so that the digital data can be transmitted and received. The design of the block diagram in the sender section uses a 10 Watt LED light, while the receiver uses a light sensor, the photodetector. Tests are carried out at a distance of 5cm, 15cm, 25cm, 30cm, 90cm. Obtained from the results of testing, the light communication system appears capable of sending digital signals and can be received by the receiver with readings of data sent by the transmitter, visible on the LCD screen issuing the character as it should be with a maximum distance of 90cm more than that cannot be read. The distance between the transmitter and receiver has an effect on the current value that occurs during data transmission, the farther the distance the smaller the current value even though it is not too significant. Keywords : Visible Light Communication, LED, Arduino UNO, Photodetector
Analisis Metode Optimum Unequal Channel Sepparation Pada Efek Four Wave Mixing Dalam Sistem Ng-pon2 Satrio Priambodo; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak NG-PON2 merupakan teknologi di bidang komunikasi serat optik yang paling baru. Meskipun begitu dalam Next Generation Gigabit Passive Optical Network Stage 2 (NG-PON2) sendiri masih terdapat efek non linier yang dapat menurunkan performansi, salah satunya adalah Four Wave Mixing (FWM). Penelitian ini dilakukan pada sistem NG-PON2 dengan jarak 30 km serta menggunakan bitrate masing-masing 40 Gbps untuk upstream dan 10 Gbps untuk downstream. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini antara lain nilai Power Received setelah menggunakan Optimum Golomb Ruler (OGR) mengalami kenaikan sebesar 0,17-0,23% dengan nilai terbesar -22,22 dB, nilai Signal to Noise Ratio (SNR) setelah OGR diterapkan mengalami peningkatan dengan nilai terbesar 36,16 dB, Nilai Q-Factor dan Bit Error Rate (BER) setelah penerapan OGR mengalami peningkatan pada jarak 25-30 km. Kata kunci : NG-PON2, Four Wave Mixing, Optimum Golomb Ruler. Abstract NG-PON2 is the most recent technology in the field of fiber optic communication. Even so, in the Next Generation Passive Optical Network 2 Stage 2 (NG-PON2) there are still non-linear effects that can reduce performance, one of which is Four Wave Mixing (FWM). This research was conducted on NG-PON2 systems with a distance of 30 km and using each bitrate of 40 Gbps for upstream and 10 Gbps for downstream. The results obtained in this study include the value of Power Received after using OGR has increased by 0.17-0.23\% with the largest value of -22.22 dB, Signal to Noise Ratio (SNR) value after OGR applied has increased with the greatest value 36.16 dB, Q-Factor Value and Bit Error Rate (BER) after OGR implementation have increased at a distance of 25-30 km. Keywords: NG-PON2, Four Wave Mixing, Optimum Golomb Ruler
Analisis Performansi Pengaruh Non Linearitas Four Wave Mixing (fwm) Pada Sistem Komunikasi Jarak Jauh Berbasis Dwdm Tiara Mustika; Akhmad Hambali; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Perkembangan Sistem Komunikasi Serat Optik (SKSO) terus mengalami kemajuan dari tahun ke tahun. Teknologi dari sistem komunikasi serat optik yang berkembang sangat pesat adalah teknologi Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM). DWDM mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dari teknologi terdahulu. Akan tetapi dibalik kelebihan yang dimiliki DWDM, terdapat kekurangan yang sangat mempengaruhi kinerja teknologi tersebut seperti efek non linearitas fiber yaitu Four Wave Mixing (FM). Pada pembuatan tugas akhir ini, dibuat pemodelan link DWDM pada perangkat lunak untuk mengetahui pengaruh dari FWM tersebut, dan terdapat dua skenario simulasi. Pada skenario pertama, variabel-variabel input yang dirubah adalah bitrate link dan jarak link. Pada skenario kedua yang dirubah adalah daya transmitter. Bitrate 10 Gbps dengan jarak dengan jarak 200 km memiliki performansi terbaik dengan q-Factor 3. Bitrate 40 Gbps dengan jarak 100 km memiliki performansi Q-factor 3,224. Bitrate 100 Gbps bahwa performansi terbaik pada jarak 100 km. Pengaruh daya transmitter pada bitrate 10 Gbps memiliki performansi terbaik pada skenario sebelumnya bahwa performansi terbaik pada link dengan daya transmitter 0 dBm dengan daya q-factor sebesar 3,37157. Pengaruh daya transmitter pada bitrate 40 Gbps , Perubahan pada daya transmitter pada link yang mengalami performansi terbaik pada skenario sebelumnya bahwa performansi terbaik pada link dengan daya transmitter 0 dBm dengan daya q-factor sebesar 4,0113. Pengaruh daya transmitter pada bitrate 100 Gbps, performansi terbaik pada skenario sebelumnya bahwa performansi terbaik pada link dengan daya transmitter -2.9 dBm dengan daya q-factor sebesar 2,43272. Kata Kunci : Dense Wavelength Division Multiplexing, Four Wave Mixing, Bit Error Rate, Qfactor Abstract Nowadays, The development of the Optical Fiber Communication Systems (SKSO in indonesian) continued to progress from year to year. Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) is one of technology of optical fiber communication systems which grows so fast. DWDM also has several advantages over previous technology. Besides the advantages of DWDM, there are deficiencies which greatly affect the performance of these technologies such as nonlinearity effects Four Wave Mixing (FWM). In this final assigment, there is a modelling of DWDM link was made from software that use the determine the effect of the FWM. And there are also two simulation scenario. In first scenario, the variable input that are changed is the bitrate links and link distance. The second scenario, the variable that is changed is the transmitter power. A 10 Gbps bitrate with a distance of 200 km has the best performance with q-Factor 3. A 40 Gbps bitrate with a distance of 100 km has a Q-factor performance of 3,224. Bitrate of 100 ISSN : 2355-9365 e-Proceeding of Engineering : Vol.6, No.2 Agustus 2019 | Page 3451 2 Gbps that the best performance at a distance of 100 km. The effect of transmitter power on 10 Gbps bitrate has the best performance in the previous scenario that the best performance on a link with 0 dBm transmitter power with q-factor power of 3.37157. Effect of transmitter power at 40 Gbps bitrate, Changes in transmitter power on the link that experiences the best performance in the previous scenario that the best performance on the link with transmitter power is 0 dBm with a q-factor power of 4.0113. The effect of transmitter power on 100 Gbps bitrate, the best performance in the previous scenario that the best performance on the link with transmitter power is -2.9 dBm with q-factor power of 2.43272. Keyword: Dense Wavelength Division Multiplexing, Four Wave Mixing, Bit Error Rate, Q-fact
Analisis Perancangan Ibc (indoor Building Coverage) Menggunakan Media Transmisi Rof (radio Over Fiber) Pada Jaringan Lte Untuk Layanan Data Wani Wahdania; Uke Kurniawan Usman; Akhmad Hambali
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Seiring dengan berkembangnya teknologi sistem komunikasi seluler dan bertambahnya gedung-gedung bertingkat di kota kota besar seperti gedung perkantoran, rumah sakit, dan pusat perbelanjaan atau mall yang tiap harinya memiliki jumlah pengunjung yang banyak sehingga provider harus memastikan bahwa kualitas jaringan yang disediakan itu sudah baik. Berdasarkan hasil drivetest dan walktest yang didapatkan sebelumnya, kualitas jaringan LTE yang diterima user didalam gedung pusat perbelanjaan Pasar Baru tidak dapat diterima dengan baik karena power dari eNodeB mengalami redaman yang cukup besar dari dinding-dinding bangunan yang dilewati.Pada tugas akhir ini, dilakukan perencanaan IBC (Indoor Building Coverage) agar memperbaiki kualitas jaringan LTE yang berada di Gedung Pasar Baru Bandung. Dalam Perencanaan ini, hal yang dilakukan adalah melakukan walktest untuk mengetahui kondisi jaringan yang ada di Gedung Pasar Baru, melakukan perbandingan antara perhitungan berdasarkan capacity planning dan coverage planning yang tujuannya untuk mendapatkan jumlah BTS yang akan digunakan, dan melakukan simulasi perencanaan menggunakan software optisystem dan RPS (Radio Propagation Simulator) serta menggunakan teknologi ROF (Radio Over Fiber).Dari hasil perencanaan ini setelah melakukan perbandingan antara capacity planning dan coverage planning dibutuhkan 23 PAP perlu dipasang di gedung Pasar Baru Bandung. Kemudian dari hasil simulasi untuk lantai basement sampai lantai 7 telah menghasilkan RSL yang sesuai dengan standar KPI operator XL yaitu diatas 90% dimana presentase terendah yaitu 94,18% dan presentase tertinggi yaitu 100%. Begitupun dengan nilai SIR dimana prensentase terendah yaitu 90,96% dan presentase tertinggi yaitu 99,2%. Dan untuk hasil simulasi dari optisystem dengan nilai BER yang mendekati 0, dan hasil PLB senilai -17,5 dBm. Kata Kunci : walktest, LTE, optisystem, Capacity Planning, CoveragePlanning. Abstract Along with the development of cellular communication system technology and the increase of multi-storey buildings in big cities such as office buildings, hospitals, and shopping centers or malls which every day have a large number of visitors so the provider must ensure that the quality of the network provided is good. Based on the results of the drivetest and walktest obtained previously, the quality of the LTE network received by users in the Pasar Baru shopping center cannot be well received because the power from the eNodeB has considerable attenuation from the walls of the building being passed. In this final project, IBC (Indoor Building Coverage) is planned to improve the quality of the LTE networks in Pasar Baru building Bandung. In this plan, what is done is to conduct a walktest to find out the network conditions in Pasar Baru building, to make comparisons between capacity planning and coverage planning calculations that aim to obtain the number of PAP to be used, and carry out simulation planning using optic and RPS (Radio Propagation Simulator) and using ROF (Radio Over Fiber) technology. From the results of this plan, after making a comparisons between capacity planning and coverage planning, 23 PAP needed to installed in Pasar Baru building. Then the simulation result for the basement floor until 7th floor it has produced RSL which is in accordance with XL operator KPI standards which is above 90% where the lowest percentage is 94,18% and the highest percentage is 100%. Likewise with the value of SIR where the lowest percentage is 90,96% and the highest percentage is 99,2%. And for the results of the simulation of the optics get BER results almost zero, and the PLB results worth -17,5 dBm. Keywords: walktest, LTE, optisystem, Capacity Planning, Reach Planning
Pengaruh Efek Nonlinear Pada Jaringan Ng Pon2 Menggunakan Media Transmisi Highly Nonlinear Fiber Muhamad Prasetyo Notonegoro; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Teknologi fiber optik yang sekarang sedang dikembangkan yakni Next Generation Passive Optical Network 2 (NG PON2). NG PON2 diciptakan untuk memenuhi jaringan broadband masa depan yang sangat tinggi tingkat kebutuhnya, serta membutuhkan banyak pengembangan. NG PON2 telah di standarisasikan oleh ITU-T G.989 series pada tahun 2015, dengan menggabungkan 4 Optical Line Terminal (OLT) menggunakan teknologi Time and Wavelength Division (TWDM). Skenario Pengujian yakni dengan menggunakan 32 ONU dan 64 ONU serta membandingkan antara media transmisi Highly Nonlinear Fiber dan G.652.C dengan menganalisis efek nonlinear yang terjadi pada kedua media transmisi tersebut. Penggunaan 4 panjang gelombang dengan kecepatan 40 Gbps untuk arah downstream dan 10 Gbps untuk arah upstream. Berdasarkan data dari simulasi HNLF terjadi efek nonlinear yang mempengaruhi hasil perfomansi LPB, QFaktor dan BER. Pada jarak 21 km dengan 32 ONU HNLF didapatkan hasil LPB = - 22,59 dBm, Q-Faktor = 12,53, BER = 1,7 x 10-36. Sedangkan untuk SMF LPB = -19,44 dBm, Q-Faktor = 19,83 BER = 7,47 x 10-88 . Sedangkan pada 64 ONU HNLF didapatkan hasil LPB = -23,49 dBm, Q-Faktor = 10,82, BER = 9,78 x 10-28 untuk SMF LPB = -19,72 dBm Q-Faktor = 19,25, BER = 5,36 x 10-83. Perbedaan performansi yang terjadi pada kedua media transmisi ini disebabkan oleh Four Wave Mixing terjadi yang dihitung didapatkan sebesar -86,64 dBm. Kata kunci : TWDM, HNLF, NG PON2, Nonlinear Efek, Four Wave Mixing Abstract Optical fiber technology now being developed is Next Generation Passive Optical Network 2 (NG PON2). NG PON2 created for fulfil broadband network future that very high demand, also needs developed. NG PON2 already in standardization ITU-T G.989 series in 2015, with four aggregation OLT using TWDM. The Testing Scenario uses 32 ONU and 64 ONU and compare between HNLF and G.652.C media transmission by analysing nonlinear effect that happened in two media transmission. It uses 4 wavelength with 40 Gbps speed for downstream and 10 Gbps speed for upstream. Based on data HNLF simulation, there is an nonlinear effect that affected performance result LPB, Q-factor and BER. The result obatain from 21 km with 32 ONU HNLF is LPB = - 22,59 dBm, Q-Faktor = 12,53, BER = 1,7 x 10-36. While for SMF LPB = -19,44 dBm, Q-Faktor = 19,83 BER = 7,47 x 10-88 . Whereas for 64 ONU HNLF obtain LPB = -23,49 dBm, Q-Faktor = 10,82, BER = 9,78 x 10-28 for SMF is LPB = -19,72 dBm Q-Faktor = 19,25, BER = 5,36 x 10-83. The difference between performance the media transmission caused by Four Wave Mixing that get calculation result of -86,64 dBm. Keywords: TWDM, HNLF NG PON2, Effect Nonlinear, Four Wave Mixing
Co-Authors Achmad Rifiandi Achmad Wildan Almaiz Achmad, Raffi Ade Rizki Ginanjar Adhitya, Farhan Ghifari Adhy Rizkya Oktauzi Putra Aditya , Reza Afief Dias Pambudi Afif Glenta Utama Ageak Raporte Bermano Aghnia Sabika Agung Mujadid Ahmad Hidayat Ahyadan Weka Pratomo Ajeng Rahmaningtyas Firnadya Akbar, Fadel Al Akbar Aldrin Fakhri Azhari AMINAH INDAHSARI MARSUKI Andi Audy Oceanto Andi Imam Dwi Rezky Andi Oceanto Andika Putra Ramadhan Andre Frendra Zuli Andri Eryawan Ahmad Rifki Andy Oceanto Anissa Okta Adi Perwita Arfianto Fahmi Ario Prabowo Ariqi, Fadhlul Arumadina Islamiq Asdianty, Lisda Aulia Nugraha Azrika, Andi Zhagyta Amalia B. Richard Tampubolon Bagas Sidiq Haryanto Bernadetta Sekar Pratiwi Bima Kurnia Marahsakti Karel Brian Pamukti Danu Dwi Sanjoyo Denny Darlis Dessinta Eka Wulandari Desti Madya Saputri Devitasari, Sabrina Dharu Arseno Dimas Hendratno Dinata, Ericha Septya Efri Suhartono Eka Yunita Dian Pratiwi Ekki Kurniawan Erna Sri Sugesti Fahira Indriyana Fajri Tanjung Fajria Nur Rahmawati Faris Bayu Azanto FASYA, ISTI Fathurrahman, Muhammad Naufal Fatrheza Imantaqwa Fauzan Munggara Fauzi Muhammad Iqbal Ferry Alvi Pratama Gede Teguh Laksana Gustommy Bisono Hafiddudin Hafiddudin Hafidudin . Harry Rachmatsyah Herin Damara Ditya Hermawan Widiyanto Hernito, Argo Hersanda Narpatangga Kistrawan Hidayat, Muh. Tri Ignatio Chriesma Diba Sanggiantara Ihsan Saputro Ilham Bayu Prabowo Indrarini Dyah Irawati Irfan Maulana, Irfan Irham Mulkan Rodiana Jaka Satria Prayuda Jamil, Althaf Nizarudin Johanes Nicolas Panjaitan Junior, David Juwita Sekar Harum Kahayan, Fahrul Halim Jaka KARIMAH, ZULIA NURUL Kindi Alfitrandy Kris Sujatmoko Kurnia Cahya Ade Putra Kurniawan Gustyanto Lazuardi Ramadeanto Lita Harpaning Pertiwi M. LUTHFI M. LUTHFI Marcellus Haninditya Maulana Pragnya Ghita Maulana, M. Irfan Maulana, Naufal Mirza Michelle Christine Mochammad Hafiz Kurnia Mochammad Hasan Jauhari Mochammad Hasan Jauhari Mohamad Fadhian Mohammad Bima Putra Brayoga Muhamad Arief Permana Muhamad Prasetyo Notonegoro Muhamad Ramdlan Kirom Muhamad Rizky Darmawansyah Muhammad Afrizal Muhammad Afrizal Muhammad Etfrawan Shobirin Muhammad Fajar Nugraha Muhammad Hawary Muhammad Hidayat Abibi Muhammad Irfan Maulana Muhammad Luthfi Ramadhan Abdul Rachman Muhammad Rayhan Hasibuan Muhammad Rendra Perdana Kusuma Djaka Muhammad Yasyir Musarah Wim Nabilla Aprilia Nachwan Mufti Adriansyah Nadhasya, Athallah Favianauvally Nadia Herma Wati Naffisa Naufal Andriani Najib Asqolani Akbar Naufal Karyadi Nugraha Septiana Pamungkas Nur Fahmi Farabi Nur Rizki Yulizar Nurrochman Prabowo Odang Yusuf Okta Mia Sari Oktavianingrum, Andarista Putri Olyvia Noviyanti Oq Vinesto Riyadi Paliwan Paliwan Pane, Grace Deborah Maria Paundra Aldila Prasetya, Rizky Aris Pratama, Rakan Aji Pugar Athma Praja Putra, Farhan Sunella Putri, Crystal Ilesta Putri, Novian Indriani R. Bambang Cahyo Widodo Rahadian, Iqbal Adzani Rahmadianti Nelson Raihanum, Khaula Ramadhan, Abdillah Rasyid Vikri Prisdiansyah Ratih Kusuma Wardhani Raynanda Chandra Wibisono Rendy Munadi Reyga Prayogo Richo Pratama Putra Ridhwan Gandaatmaja Ridwan Pratama Ripai Ripai Riska Agus Rizky Maulana Arpan Rizky Mauludy Muttaqien Rizky Satria Rizky, Muhammad Arief Ryan Topani Sarah Shafira Wijaya Sasono Rahardjo Satrio Priambodo Satya Prianggono Sekar Langit Az-Zahra Saksono Sugito Sugito Suwandi Suwandi Syawal Alam Machfuddin Taufik Abdurrahman Taufik Akbar Tiara Fadila Tiara Mustika Tjahjo Adiprabowo R Uke Kurniawan Uke Kurniawan Usman Umar Fachreza Unang Sunarya Valendira Putri Wahyu Nur Annisa Wani Wahdania Winda Friandawa Winda Ika Syukrina Windy Christalia Winnugroho Wiratman, Manfaluthy Hakim, Tiara Aninditha, Aru W. Sudoyo, Joedo Prihartono Yennisa Yesiana Yuliana Permata Sari Yusuf, Hafizh Khairan Adya Zehan Zulkarnaen Zulfi Zulfi Zulfikar Sandy Pratama ‘Aunurrafieq, Muhammad Naufal