Claim Missing Document
Check
Articles

Edukasi Family Planning Programs Pada Wanita Usia Subur Sebagai Upaya Menekan Baby Booms di Masa Pandemi Covid-19 Wulan Tertiana S; Ni Komang Sri Ariani; Putu Ayu Ratna Darmayanti
Jurnal Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat (Pamas) Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat (Pamas)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM Universitas Respati Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/pamas.v6i2.1792

Abstract

Pada masa Pandemi COVID-19 terjadi penurunan jumlah pelayanan Family Planning Programs pada wanita usia subur di Indonesia. Hal tersebut mengakibatkan angka kehamilan bertambah sebanyak 67 kehamilan dari tahun sebelumnya. Tujuan kegiatan PkM ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pada wanita usia subur tentang Family Planning Programs sebagai upaya menekan baby booms di masa Pandemi COVID-19 melalui penayangan video. Kegiatan PkM dilakukan pada 725 wanita usia subur di Desa Dalung. Pada PkM tahap I dilakukan pretest melalui google form ditemukan bahwa sebagian besar wanita usia subur memiliki pengetahuan kurang sebanyak 2 orang (0.3%), pengetahuan cukup sebanyak 388 orang (53.5%) dan pengetahuan baik sebanyak 335 orang (46.2%) tentang Family Planning Programs pada wanita usia subur. Pada PkM tahap II, post test melalui google form ditemukan bahwa sebagian besar wanita usia subur memiliki pengetahuan kurang sudah tidak ada lagi, sedangkan yang memiliki pengetahuan cukup sebanyak 10 orang (1,4%) dan sisanya sudah memiliki pengetahuan yang baik sebanyak 715 orang (98.6%) tentang Family Planning Programs pada wanita usia subur. Pemberian edukasi tentang Family Planning Programs pada wanita usia subur sebagai upaya menekan baby booms di masa Pandemi COVID-19 berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengetahuan wanita usia subur. Diharapkan adanya keberlanjutan pemberian edukasi kesehatan khususnya tentang Family Planning Programs pada wanita usia subur di Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Badung. Kata Kunci: Family Planning Program, Covid-19, Wanita Usia Subur
HUBUNGAN KECEMASAN IBU HAMIL DENGAN KUNJUNGAN ANC PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI PUSKESMAS KUTA 1: HUBUNGAN KECEMASAN IBU HAMIL DENGAN KUNJUNGAN ANC PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI PUSKESMAS KUTA 1 Ni Wayan Widiyani; Putu Ayu Ratna Darmayanti; Komang Ayu Purnama Dewi
Jurnal Ilmu Kesehatan MAKIA Vol 12 No 2 (2022): Jurnal Ilmu Kesehatan MAKIA
Publisher : LPPM STIKes ICsada Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37413/.v12i2.213

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Setiap ibu hamil berhak mendapatkan pelayanan kehamilan yang berkualitas dan komprehensif melalui pemeriksaan Antenatal Care agar mendapatkan informasi mengenai janin dan mendeteksi komplikasi. Namun, selama pandemi COVID-19 banyak ibu hamil yang menunda melakukan pemeriksaan kehamilan ke pelayanan kesehatan karena ibu cemas tertular COVID-19. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan ibu hamil dengan kunjungan Antenatal Care pada masa pandemi COVID-19 di UPTD Puskesmas Kuta 1. Metode: Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan Cross Sectional pada bulan Agustus-Oktober 2021. Teknik sampling yang digunakan adalah Total Sampling. Populasi penelitian ini yaitu semua ibu hamil trimester 3 yang melakukan kunjungan ANC di UPTD Puskesmas Kuta 1 sebanyak 59 orang. Alat pengumpulan data yang digunakan yaitu kuesioner kecemasan HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale). Analisa data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Penelitian ini menunjukkan sebagian besar mengalami kecemasan ringan sebanyak 36 orang (61,0%) dan sebagian besar responden tidak lengkap dalam melakukan kunjungan ANC yaitu sebanyak 42 orang (71,2%). Hasil uji korelasi Spearman Rank diperoleh nilai sig. (2-tailed) 0.000 yang artinya ada hubungan kecemasan ibu hamil dengan kunjungan Antenatal Care pada masa pandemi COVID-19 di UPTD Puskesmas Kuta 1. Sedangkan, koefisien korelasi sebesar 0,589 yang artinya hubungan korelasi sedang. Kesimpulan: Petugas kesehatan agar meningkatkan KIE pada ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan serta informasi terkait COVID-19 yang dapat dilakukan secara online dengan membuat grup komunikasi sehingga pemberian KIE lebih maksimal.
IMPLEMENTASI SKRINING RISIKO DEPRESI POST PARTUM DENGAN EDINBURGH POSTNATAL DEPRESSION SCALE PADA IBU PASCA MELAHIRKAN : IMPLEMENTASI SKRINING RISIKO DEPRESI POST PARTUM DENGAN EDINBURGH POSTNATAL DEPRESSION SCALE PADA IBU PASCA MELAHIRKAN Ni Wayan Sari Upadani; Putu Ayu Ratna Darmayanti; Komang Ayu Purnama Dewi
Jurnal Ilmu Kesehatan MAKIA Vol 12 No 2 (2022): Jurnal Ilmu Kesehatan MAKIA
Publisher : LPPM STIKes ICsada Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37413/.v12i2.214

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang dan Tujuan: Melahirkan mempunyai momen menakutkan seperti perubahan emosional selama kehamilan dan masa nifas untuk menyesuaikan diri menjadi seorang ibu. Perubahan emosional ini merupakan fase yang paling berat dan bahaya dan jika tidak ditangani akan jatuh pada fase depresi setelah ibu melahirkan yang sering dikenal dengan istilah depresi postpartum. Mengatasi hal ini sangat perlu implementasi skrining depresi post partum dengan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) yang baik dan benar. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui implementasi skrining risiko depresi post partum dengan EPDS pada ibu pasca melahirkan. Metode: Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 112 rekam medis. Analisa data menggunakan analisa univariat dengan distribusi frekuensi. Hasil: Implementasi skrining risiko depresi post partum dengan EPDS pada kategori baik dilakukan oleh hampir seluruh responden dengan kategori umur dewasa akhir (36-45tahun) yaitu sebanyak 72 responden (80%), dan jenis kelamin perempuan sebanyak 67 responden (78,8%). Implementasi skrining risiko depresi post partum dengan EPDS pada kategori baik juga dilakukan oleh sebagian besar responden dengan pendidikan D III keperawatan yaitu sebanyak 51 responden (76,1%) serta hampir seluruh reponden yang lama bekerja ≥ 6 bulan melakukan impelementasi skrining risiko depresi post partum dengan EPDS pada kategori baik sebanyak 76 responden (77,6%). Kesimpulan: Sebagian kecil responden dengan lama bekerja ≥6 bulan melakukan implementasi skrining risiko depresi post partum dengan EPDS pada kategori kurang. Diharapkan petugas dapat lebih meningkatkan lagi kemampuan untuk melakukan skrining dengan EPDS.
HUBUNGAN PENGETAHUAN REMAJA TERHADAP SIKAP PENCEGAHAN COVID-19 MENGGUNAKAN AROMATERAPI USADA BARAK BALI DI KELURAHAN RENON DENPASAR SELATAN Ni Komang Sri Ariani; Putu Ayu Ratna Darmayanti; Wulan Tertiana Santhi
DINAMIKA KESEHATAN: JURNAL KEBIDANAN DAN KEPERAWATAN Vol 12, No 1 (2021): Dinamika Kesehatan: Jurnal Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/dksm.v12i1.708

Abstract

LATAR BELAKANG Peningkatan jumlah kasus akibat Virus Corona terjadi dalam waktu singkat dan membutuhkan penanganan yang khusus. Hingga saat ini belum ada obat spesifik untuk menangani kasus infeksi akibat Virus Corona. Berbagai tindakan preventif dilakukan untuk pencegahan penularan Virus Corona salah satunya dengan menggunakan bahan tradisional Aromaterapi Usada Barak Bali.TUJUAN Untuk mengetahui apakah ada hubungan pengetahuan remaja terhadap sikap pencegahan COVID-19 menggunakan Aromaterapi Usada Barak Bali di Kelurahan Renon Denpasar Selatan.METODE Jenis penelitian yang digunakan yaitu observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2021 pada 103 remaja dengan wawancara dan mengisi instrumen kuesioner online melalui Google formulir. Analisis data menggunakan analisis chi-square.HASIL Sebagian besar responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik yaitu 40 (38.8%) orang remaja, mempunyai sikap yang baik terhadap sikap pencegahan COVID-19 menggunakan aromaterapi usada barak bali. Sementara 14 (13.6%) orang remaja memiliki tingkat pengetahuan kurang mempunyai sikap yang kurang terhadap sikap pencegahan COVID-19 menggunakan Aromaterapi Usada Barak Bali.SIMPULAN Sebagian besar tingkat pengetahuan remaja terhadap pencegahan COVID-19 dalam kategori baik.Kata Kunci: Remaja, Pengetahuan, Sikap, COVID-19, Aromaterapi Usada Barak Bali. The Relationship Of Adolescent Knowledge Towards Covid-19 Prevention Attitude Using Aromatherapy Usada Barak Bali In Kelurahan Renon  Denpasar Selatan BACKGROUND An increasing number of cases due to the Corona Virus occurs in a short time and requires special handling. Up to now, there have been no specific drugs to deal with cases of infection due to the Corona Virus. A variety of preventive measures were carried out for the prevention of transmission of Corona Virus one of them by using ingredients traditional Aromatherapy Usada Barak Bali.OBJECTIVE To find out whether there is a relationship of knowledge of adolescents' attitude towards the prevention of COVID-19 using Aromatherapy Usada Barak Bali in the Village of Renon, South Denpasar.METHODS This type of research is observational analytic with a cross-sectional approach. The study was conducted in January 2021 in 103 adolescents with interviews and filling instrument the questionnaire online through Google forms. Analysis of data using analysis of chi-square.RESULTS Most of the respondents have a good level of knowledge is 40 (38.8%) of teenagers, has a good attitude toward the attitude of the prevention of COVID-19 using aromatherapy usada Barak bali. While 14 (13.6%) teenagers have less knowledge of the level have the attitude that less attitude towards the prevention of COVID-19 using Aromatherapy Usada Barak Bali.CONCLUSION Most of the level of knowledge of adolescents on the prevention of COVID-19 is in a good category. Key Words: Teenager, Knowledge, Attitudes, COVID-19, Aromatherapy Usada Barak Bali. 
Perilaku Kepatuhan Cuci Tangan Anak Sekolah Dasar Selama Pembelajaran Tatap Muka Pandemi COVID-19 I Putu Ari Yudha Pranata; I Kadek Nuryanto; Putu Ayu Ratna Darmayanti
JURNAL KESEHATAN POLTEKKES KEMENKES RI PANGKALPINANG Vol 10, No 2 (2022): JKP Desember 2022
Publisher : Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32922/jkp.v10i2.544

Abstract

Latar Belakang: Anak sebagai generasi penerus bangsa mempunyai peran penting terkait perilaku sehat. Permasalahan dalam perilaku kesehatan yang terjadi pada anak usia dini adalah kurangnya kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun. Mencuci tangan yang tidak benar dapat menyebabkan berbagai infeksi penyakit pada anak.Tujuan: Mengetahui gambaran perilaku kepatuhan cuci tangan pada anak sekolah dasar selama pembelajaran tatap muka dimasa pandemi COVID-19.Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian ini bejumlah 263 siswa di SD Negeri 2 Sesetan usia 7-12 tahun sesuai kriteria inklusi yaitu orang tua atau wali siswa bersedia menjadi responden dan siswa tidak ijin atau sakit selama penelitian berlangsung. Responden diambil dengan teknik probability sampling yaitu stratified random sampling. Variabel tunggal dalam penelitian yaitu perilaku kepatuhan cuci tangan. Alat pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner perilaku cuci tangan dengan menggunakan skala likert sebanyak 21 pertanyaan. Analisis penelitian ini menggunakan analisis statistik deskriptif.Hasil: Perilaku kepatuhan cuci tangan siswa SD Negeri 2 Sesetan selama pembelajaran tatap muka didapatkan hasil dari 263 responden, sebagian besar responden dalam kategori baik sebanyak 235 siswa (89,4%). Sebagian kecil responden memiliki perilaku kepatuhan cuci tangan cukup sebanyak 24 responden (9,1%). Sedangkan, sebagian kecil responden dengan perilaku kepatuhan cuci tangan kurang sebanyak 4 responden (1,5%). Dari 263 responden, juga didapatkan hasil bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 136 responden (51,7%). Sebagian kecil responden berumur 12 tahun sebanyak 48 responden (18,3%).Kesimpulan: Sebagian besar siswa di SD Negeri 2 Sesetan telah melakukan perilaku kepatuhan cuci tangan yang baik selama pembelajaran tatap muka berdasarkan waktu yang tepat mencuci tangan dan langkah mencuci tangan. Sekolah diharapkan secara rutin memberikan edukasi perilaku cuci tangan yang benar selama pembelajaran tatap muka untuk mencegah penyebaran COVID-19.
Perbedaan Status Gizi Balita Berdasarkan Usia Penyapihan ASI Di TPA Wilayah Denpasar Selatan Putu Ayu Ratna Darmayanti; Luh Yenny Armayanti
Jurnal Ilmu Kesehatan MAKIA Vol 11 No 1 (2021): Jurnal Ilmu Kesehatan MAKIA
Publisher : LPPM ISTeK ICsada Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.219 KB) | DOI: 10.37413/jmakia.v11i1.149

Abstract

ABSTRAK Salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi balita adalah pola pengasuhan yang salah satunya pemberian ASI. Menghentikan pemberian ASI pada anak disebut penyapihan dimana merupakan masa yang paling kritis dalam kehidupan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan status gizi balita berdasarkan usia penyapihan ASI. Penelitian ini merupakan penelitian komparatif dengan pendekatan teknik pengambilan data secara retrospective. Sampel penelitian sebanyak 100 balita di seluruh TPA wilayah Denpasar Selatan yang di analisis menggunakan uji Fisher’s Exact. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara status gizi balita terhadap usia penyapihan ASI (p=0,000). Dimana balita yang usia penyapihan ASI ≤12 bulan separuhnya dalam kategori gizi baik (50%), balita yang usia penyapihan ASI ≤ 6 bulan mayoritas dalam kategori gizi kurang (70%), balita yang usia penyapihan ASI ≤ 6 bulan seluruhnya dalam kategori gizi buruk (100%) dan balita yang usia penyapihan ASI ≤ 6 bulan separuhnya dalam kategori gizi lebih (50%). Balita yang dilakukan penyapihan ASI pada usia 12-24 bulan menunjukkan status gizi baik dibandingkan yang tidak. Orang tua diharapkan dapat mengoptimalkan pemberian ASI sampai usia anak ≤24 bulan dan layanan kesehatan dapat terus memberikan informasi mengenai usia penyapihan ASI yang tepat agar proses pertumbuhan anak tidak terganggu yang dapat menyebabkan terjadinya stunting. Kata Kunci : Status Gizi, Balita, Penyapihan ASI
Karakteristik Dan Persepsi Ibu Balita Tentang Pemanfaatan Buku KIA Sebagai Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita Di Masa Adaptasi Tatanan Hidup Baru Ni Wayan Manik Parwati; Idah Ayu Wulandari; Putu Ayu Ratna Darmayanti
Jurnal Ilmu Kesehatan MAKIA Vol 11 No 2 (2021): Jurnal Ilmu Kesehatan MAKIA
Publisher : LPPM ISTeK ICsada Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.326 KB) | DOI: 10.37413/jmakia.v11i2.177

Abstract

ABSTRAK Tatanan hidup baru selama pandemi COVID-19 juga berdampak pada pelayanan kesehatan untuk balita terutama dalam hal pemantauan deteksi dini tumbuh kembang balita. Pemanfaatan buku KIA sebagai deteksi dini tumbuh kembang balita menjadi hal yang harus diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan persepsi ibu balita tentang pemanfaatan buku KIA. Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini 124 responden di kota Denpasar menggunakan analisis uji Chi Square. Hasil Penelitian menunjukkan karakteristik umur responden paling banyak umur 26-30 tahun (36,3%), jumlah anak 1 (42,8%), pendidikan menengah (52,4%) dan tidak bekerja (33,1%). Sebagian besar responden memiliki persepsi yang positif (77.4%) serta mampu memanfaatkan buku KIA sebagai deteksi dini tumbuh kembang balita dengan baik (74,2%). Terdapat hubungan antara karakteritik umur (p=0,075) jumlah anak (p<0,001), pendidikan (p=0,001) dan persepsi (p=0,02) dengan pemanfaatan buku KIA, sedangkan karakteristik pekerjaan ibu tidak berhubungan dengan pemanfaatan buku KIA sebagai deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan (p=0,131). Ibu yang memiliki balita diharapkan menggunakan buku KIA dengan optimal sebagai deteksi dini tumbuh kembang balita agar kedepannya perkembangan anak tidak terhambat.
Perbedaan Tumbuh Kembang pada Balita Usia 2-5 Tahun dengan Stunting dan Non-Stunting Luh Yenny Armayanti; Putu Ayu Ratna Darmayanti
Jurnal Ilmu Kesehatan MAKIA Vol 12 No 1 (2022): Jurnal Ilmu Kesehatan MAKIA
Publisher : LPPM ISTeK ICsada Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.115 KB) | DOI: 10.37413/jmakia.v12i1.184

Abstract

Indonesia termasuk dalam salah satu negara dengan angka prevalensi stunting tertinggi di ASIA. Stunting akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan balita dan mempengaruhi masa depannya kelak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan perkembangan tumbuh kembang pada balita usia 2-5 tahun dengan stunting dan non stunting. Penelitian ini merupakan penelitian komparatif observasional dengan desain cross sectional. Sebanyak 49 balita usia 2-5 tahun menjadi responden dalam penelitian ini stunting yang berasal di daerah Blahbatuh Gianyar, yang ditentukan dengan menggunakan teknik simple random sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan berupa KPSP, timbangan berat badan, Mikrotoa. Data dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif, dan komparatif dengan tingkat kepercayaan 95%. Berdasarkan hasil analisis data, didapatkan bahwa pada balita yang mengalami stunting, sebanyak 10 orang menunjukkan penyimpangan perkembangan dan 2 orang meragukan, sedangkan pada balita non stunting sebanyak 6 orang perkembangannya meragukan dan 31 orang perkembangannya sesuai usia. Pada balita nonstunting rerata berat badan dan tinggi badan 15,72±2,3 kg dan 99,29±7,6 cm. Sedangkan pada balita stunting rerata berat badan dan tinggi badan 9,25±1,19 kg dan 86,91±5,0 cm. Berdasarkan hasil uji komparasi ditemukan terdapat perbedaan signifikan perkembangan dan pertumbuhanbalita usia 2-5 tahun dengan stunting dan non stunting dengan nilai p-0,001 (<0,05). Terdapat perbedaan signifikan perkembangan balita usia 2-5 tahun dengan stunting dan non stunting. Diharapkan para orang tua untuk menjaga kebutuhan balita khususnya pemenuhan nutrisi sehingga kondisi stunting dapat dihindari dan balita dapat bertumbuh dan berkembang dengan optimal Kata Kunci : Tumbuh Kembang, Balita, Stunting
HUBUNGAN KECEMASAN IBU HAMIL DENGAN KUNJUNGAN ANC PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI PUSKESMAS KUTA 1: HUBUNGAN KECEMASAN IBU HAMIL DENGAN KUNJUNGAN ANC PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI PUSKESMAS KUTA 1 Putu Ayu Ratna Darmayanti; Ni Wayan Widiyani; Komang Ayu Purnama Dewi
Jurnal Ilmu Kesehatan MAKIA Vol 12 No 2 (2022): Jurnal Ilmu Kesehatan MAKIA
Publisher : LPPM ISTeK ICsada Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.651 KB) | DOI: 10.37413/.v12i2.213

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Setiap ibu hamil berhak mendapatkan pelayanan kehamilan yang berkualitas dan komprehensif melalui pemeriksaan Antenatal Care agar mendapatkan informasi mengenai janin dan mendeteksi komplikasi. Namun, selama pandemi COVID-19 banyak ibu hamil yang menunda melakukan pemeriksaan kehamilan ke pelayanan kesehatan karena ibu cemas tertular COVID-19. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan ibu hamil dengan kunjungan Antenatal Care pada masa pandemi COVID-19 di UPTD Puskesmas Kuta 1. Metode: Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan Cross Sectional pada bulan Agustus-Oktober 2021. Teknik sampling yang digunakan adalah Total Sampling. Populasi penelitian ini yaitu semua ibu hamil trimester 3 yang melakukan kunjungan ANC di UPTD Puskesmas Kuta 1 sebanyak 59 orang. Alat pengumpulan data yang digunakan yaitu kuesioner kecemasan HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale). Analisa data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Penelitian ini menunjukkan sebagian besar mengalami kecemasan ringan sebanyak 36 orang (61,0%) dan sebagian besar responden tidak lengkap dalam melakukan kunjungan ANC yaitu sebanyak 42 orang (71,2%). Hasil uji korelasi Spearman Rank diperoleh nilai sig. (2-tailed) 0.000 yang artinya ada hubungan kecemasan ibu hamil dengan kunjungan Antenatal Care pada masa pandemi COVID-19 di UPTD Puskesmas Kuta 1. Sedangkan, koefisien korelasi sebesar 0,589 yang artinya hubungan korelasi sedang. Kesimpulan: Petugas kesehatan agar meningkatkan KIE pada ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan serta informasi terkait COVID-19 yang dapat dilakukan secara online dengan membuat grup komunikasi sehingga pemberian KIE lebih maksimal.
IMPLEMENTASI SKRINING RISIKO DEPRESI POST PARTUM DENGAN EDINBURGH POSTNATAL DEPRESSION SCALE PADA IBU PASCA MELAHIRKAN : IMPLEMENTASI SKRINING RISIKO DEPRESI POST PARTUM DENGAN EDINBURGH POSTNATAL DEPRESSION SCALE PADA IBU PASCA MELAHIRKAN Putu Ayu Ratna Darmayanti; Ni Wayan Sari Upadani; Komang Ayu Purnama Dewi
Jurnal Ilmu Kesehatan MAKIA Vol 12 No 2 (2022): Jurnal Ilmu Kesehatan MAKIA
Publisher : LPPM ISTeK ICsada Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.822 KB) | DOI: 10.37413/.v12i2.214

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang dan Tujuan: Melahirkan mempunyai momen menakutkan seperti perubahan emosional selama kehamilan dan masa nifas untuk menyesuaikan diri menjadi seorang ibu. Perubahan emosional ini merupakan fase yang paling berat dan bahaya dan jika tidak ditangani akan jatuh pada fase depresi setelah ibu melahirkan yang sering dikenal dengan istilah depresi postpartum. Mengatasi hal ini sangat perlu implementasi skrining depresi post partum dengan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) yang baik dan benar. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui implementasi skrining risiko depresi post partum dengan EPDS pada ibu pasca melahirkan. Metode: Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 112 rekam medis. Analisa data menggunakan analisa univariat dengan distribusi frekuensi. Hasil: Implementasi skrining risiko depresi post partum dengan EPDS pada kategori baik dilakukan oleh hampir seluruh responden dengan kategori umur dewasa akhir (36-45tahun) yaitu sebanyak 72 responden (80%), dan jenis kelamin perempuan sebanyak 67 responden (78,8%). Implementasi skrining risiko depresi post partum dengan EPDS pada kategori baik juga dilakukan oleh sebagian besar responden dengan pendidikan D III keperawatan yaitu sebanyak 51 responden (76,1%) serta hampir seluruh reponden yang lama bekerja ≥ 6 bulan melakukan impelementasi skrining risiko depresi post partum dengan EPDS pada kategori baik sebanyak 76 responden (77,6%). Kesimpulan: Sebagian kecil responden dengan lama bekerja ≥6 bulan melakukan implementasi skrining risiko depresi post partum dengan EPDS pada kategori kurang. Diharapkan petugas dapat lebih meningkatkan lagi kemampuan untuk melakukan skrining dengan EPDS.