Claim Missing Document
Check
Articles

EKSPLORASI HAMBATAN KEPATUHAN PENGOBATAN PASIEN DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS: STUDI KUALITATIF Alfian, Riza; Fawwazi, Muhammad Hafizh Abiyyu Fathin; Faqih, Muhammad; Adikusuma, Wirawan
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 10 No 2 (2025): Jurnal Ilmiah Ibnu Sina
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36387/jiis.v10i2.2789

Abstract

Medication adherence is a crucial factor in the successful management of diabetes mellitus, yet many studies show that adherence remains low and is shaped by multidimensional influences. This study aimed to explore barriers to medication adherence among patients with diabetes mellitus in primary health centers (Puskesmas) using the WHO five-domain adherence framework. A qualitative descriptive-exploratory design was applied. Data were collected through in-depth interviews with ten patients undergoing routine treatment at Puskesmas in Banjarmasin City, recruited through purposive sampling. Thematic analysis was performed guided by the WHO adherence model. Five major themes emerged. Social and economic factors included limited transportation costs, distance to the health center, and lack of family support. Health system and provider factors involved brief consultations, insufficient patient education, and long queues. Condition-related factors comprised the absence of immediate symptoms, fatigue from chronic illness, comorbidities, and psychological distress. Therapy-related factors included complex regimens, side effects, and discontinuation of therapy without consultation. Patient-related factors were characterized by forgetfulness, reliance on alternative medicine, fluctuating motivation, and feelings of boredom. These findings highlight that adherence barriers are multidimensional and result from the interaction of individual, social, and system-level determinants. Addressing adherence requires holistic and continuous interventions at the primary care level, with emphasis on patient education, family involvement, and strengthening the role of healthcare providers.
HUBUNGAN KOMPLEKSITAS REGIMEN PENGOBATAN DENGAN KEPATUHAN PENGOBATAN PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI POLI PENYAKIT DALAM RSUD SULTAN SURIANSYAH BANJARMASIN Faqih, Muhammad; Alfian, Riza; Yumassik, Abdul Mahmud; Ilahi, Fitrah Shafran; Nordin, Nordin
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 10 No 2 (2025): Jurnal Ilmiah Ibnu Sina
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36387/jiis.v10i2.2810

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) is a chronic disease that requires prevention and treatment to reduce the various consequences associated with poor glycemic control. Diabetes mellitus treatment aims to control blood sugar levels within normal limits, improve the patient's quality of life, and prevent complications. One factor contributing to non-adherence to treatment in diabetes mellitus patients is the complexity of the medication regimen. This study aimed to examine the level of medication regimen complexity, medication adherence, and the relationship between medication regimen complexity and medication adherence in type 2 diabetes mellitus patients at the Internal Medicine Clinic of Sultan Suriansyah Hospital, Banjarmasin. This study used a cross-sectional design. Data were collected from August to September 2024, with 155 samples used in this study. The sampling method used a consecutive sampling technique. Medication regimen complexity (MRCI) data were obtained from prescriptions, while medication adherence data were collected using the Adherence to Refill Medication Scale (ARMS) questionnaire. The results of this study showed that the complexity of the patient's regimen was dominated by medications with a moderate level of complexity (75%, 48.4%). The results showed that the medication adherence rate was 61% of patients (39.4%). The correlation test showed an insignificant relationship between the complexity of the medication regimen and medication adherence, with a p value > 0.05 (0.139). Based on the research results, it can be concluded that the complexity of the medication regimen is not the main factor causing non-compliance in diabetes mellitus patients.
Pola Penggunaan Obat Antihipertensi dan Kesesuaiannya pada Pasien Geriatri Rawat Jalan di RSUD Ulin Banjarmasin Periode April 2015 Yugo Susanto; Riza Alfian
Jurnal Ilmu Farmasi Terapan dan Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2019): Jurnal Ilmu Farmasi Terapan dan Kesehatan Vol.1 No.1 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama penyebab gangguan jantung. Selain mengakibatkan gagal jantung, hipertensi dapat juga berakibat terjadinya gagal ginjal maupun penyakit serebrovaskular. Di negara berkembang, hipertensi telah menggeser penyakit menular sebagai penyebab terbesar mortalitas dan morbiditas. Hal ini dibuktikan dari hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2013 melalui pengukuran pada umur ≥18 tahun di wilayah kalimantan selatan menduduki peringkat kedua yakni sebanyak (30,8%). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola penggunaan obat antihipertensi dan kesesuaiannya pada pasien geriatri rawat jalan di RSUD Ulin Banjarmasin periode April 2015. Penelitian ini merupakan penelitian observasional yang bersifat deskriptif dan retrospektif dengan sampel berupa data rekam medik kesehatan (RMK) pasien geriatri penderita hipertensi dengan atau tanpa penyakit penyerta di RSUD Ulin Banjarmasin periode April 2015. Sampel yang didapat dari penelitian ini yaitu sebanyak 197 pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pasien hipertensi geriatri di RSUD Ulin Banjarmasin periode April 2015 didominasi oleh pasien hipertensi tingkat I dengan jumlah 105 pasien (53,30%) kemudian diikuti oleh pasien pre-hipertensi yaitu sebanyak 49 pasien (24,88%) dan selanjutnya adalah pasien hipertensi tingkat II yaitu sebanyak 43 pasien (21,82%). Obat antihipertensi yang diresepkan pada pasien geriatri ini kebanyakan digunakan secara tunggal yaitu sejumlah 119 pasien (60,41%). Golongan Antihipertensi yang sering digunakan adalah golongan Penghambat saluran kalsium (CCB) yaitu sebanyak 116 macam (42.02%). Kesesuaian terapi penggunaan obat antihipertensi pada pasien geriatri rawat jalan di RSUD Ulin Banjarmasin dibandingkan dengan literatur Joint National Comitte Seventh (JNC VII), dinyatakan bahwa terapi penggunaan obat antihipertensi yang sesuai adalah sebayak 100 pasien (50.77%) dan yang dinyatakan tidak sesuai adalah sebanyak 97 pasien (49.23%).
Pengaruh Konseling Terhadap Konsumsi Garam pada Pasien Hipertensi di RSUD Dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin Saftia Aryzki; Riza Alfian
Jurnal Ilmu Farmasi Terapan dan Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2019): Jurnal Ilmu Farmasi Terapan dan Kesehatan Vol.1 No.1 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama gangguan jantung. Selain mengakibatkan gagal jantung, hipertensi dapat berakibat terjadinya gagal ginjal maupun penyakit serebrovaskular. Perilaku pasien dengan asupan natrium dan lemak tinggi, kepatuhan yang rendah yang dapat menyebabkan tidak tercapainya tujuan terapi sehingga terjadi penurunan kualitas hidup pasien hipertensi. Oleh karena itu diperlukan suatu metode untuk meningkatkan hal-hal tersebut, salah satunya dengan metode brief counseling-5A. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh brief counseling-5A terhadap asupan natrium yang tinggi pada pasien hipertensi rawat jalan di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin pada bulan April-Juni 2015. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuasi-eksperimental menggunakan rancangan penelitian two group pretest and postest dengan pengambilan data pasien secara prospektif. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi sejumlah 68 pasien menjadi dua kelompok secara acak yaitu 34 pasien yang mendapatkan intervensi dan 34 pasien tidak mendapatkan intervensi. Kriteria eksklusi adalah pasien dengan kondisi hamil, tuli dan tidak hadir pada kunjungan kedua atau ketiga. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara dan pengisian kuesioner tingkat perilaku berobat, kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ). Data tekanan darah diambil dari catatan medis. Data dianalisis dengan uji kolmogorov-smirnov untuk mendeskripsikan distribusi pasien, uji wilcoxon untuk melihat perbandingan skor rata-rata saat pre dan post perlakuan, sedangkan uji mann-whitney untuk mengetahui perbedaan tingkah perilaku asupan natrium terhadap pasien hipertensi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian brief counseling-5A dapat merubah perilaku pasien kelompok perlakuan terhadap asupan natrium pada pasien kelompok perlakuan mengalami perubahan secara signifikan pada post 1 (833,08±560,77) dan p=0,000, pada post 2 (683,58±456,32) dan p=0,000. Disimpulkan bahwa brief counseling-5A pasien hipertensi secara positif dapat merubah perilaku pasien dalam asupan natrium pasien hipertensi.
Kualitas Hidup Pasien Hipertensi Dengan Penyakit Penyerta Di Poli Jantung RSUD Ratu Zalecha Martapura Riza Alfian; Yugo Susanto; Siti Khadizah
Journal of Pharmascience Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v4i1.5754

Abstract

ABSTRAK Hipertensi dengan penyakit penyerta adalah salah satu penyebab kematian nomor satu di dunia. Hal tersebut pasti akan membahayakan jiwa pasien dan menurunkan kualitas hidup pasien. Kualitas hidup merupakan indikator penting untuk menilai keberhasilan intervensi pelayanan kesehatan, baik dari segi pencegahan maupun pengobatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pasien hipertensi dengan penyakit penyerta gagal jantung dan hipertensi dengan penyakit penyerta diabetes melitus di poli jantung RSUD Ratu Zalecha Martapura. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara prosfektif pada pasien rawat jalan di poli jantung selama periode Desember 2015 – Januari 2016. Subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi sejumlah 71 orang yang terbagi atas 58 orang (82,36 %) pasien hipertensi dengan penyakit penyerta gagal jantung dan 13 orang (17,64 %) pasien hipertensi dengan penyakit penyerta diabetes melitus. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara mengunakan kuesioner Short Form 36 (SF 36). Hasil penelitian menunjukkan untuk 58 orang pasien hipertensi dengan penyakit penyerta gagal jantung 15 orang (25,86%) kualitas hidup baik, dan 43 orang (74,14%) kualitas hidup kurang baik, total skor kualitas hidup rata-rata yaitu 46,21 dengan nilai skor tiap dimensi yaitu fungsi fisik 48,71, fungsi emosi 64,9, fungsi sosial 50,25, kesehatan umum 44,11, keadaan fisik 31,9, keadaan emosi 36,23, dimensi nyeri 36,85, dan fatique 58,72. Sedangkan untuk 13 orang pasien hipertensi dengan penyakit penyerta diabetes melitus 9 orang (69,23 %) kualitas hidup baik dan 4 orang (30,77 %) kualitas hidup kurang baik, total skor kualitas hidup rata-rata yaitu 67,93 dengan nilai skor tiap dimensi yaitu fungsi fisik 69,54, fungsi emosi 86,00, fungsi sosial 75,96, kesehatan umum 49,68, keadaan fisik 63,46, keadaan emosi 66,67, dimensi nyeri 61,92, dan fatique 70,19. Berdasarkan hasil penelitian di poli jantung RSUD Ratu Zalecha Martapura dapat disimpulkan bahwa pasien hipertensi dengan penyakit penyerta gagal jantung mayoritas memiliki gambaran kualitas hidup yang kurang baik dan pasien hipertensi dengan penyakit penyerta diabetes melitus mayoritas memiliki gambaran kualitas hidup baik. Kata Kunci— Kualitas Hidup, Hipertensi dengan penyakit penyerta, ABSTRACT Hypertension with the followers disease is one of the main causes of death in the world. This problem certainly will endanger patients’ life and decrease their life quality. Life quality is an important indicator to measure the successful of health service intervention, either from prevention aspect or medical treatment aspect. The purpose of this research is to know the description of hypertension patient’s life quality with the followers disease heart failure and hypertension with the followers disease diabetes mellitus at polyclinic cardiology of Ratu Zalecha Hospital Martapura. This research is a descriptive research. Collecting data was conducted prosfectively on outpatient at poly cardiology from December 2015 until January 2016. The research subject who fulfilled the inclusive criteria is 71 patients. 58 patients (82.36%) have hypertension with the followers disease heart failure and 13 patients (17.64%) have and hypertension with the followers disease diabetes mellitus. Collecting data was done by doing interview using Short Form questioner (SF36). The result shows that from 58 hypertension patient with the followers disease heart failure, 15 patients of them (25.86%) have a good quality of life and 43 patients (74.14%) have a poor quality of life. The total average score of life quality is 46,21 with each detail aspect score like, physical function 48,71 emotional function 64.9, social function 50.25, general health 44.11, physical condition 31.9, emotional condition 36.23, painful aspect 36.85 and fatigue 58.72. Whereas for 13 hypertension patients with the followers disease diabetes mellitus, 9 (69.23%) of them have a good quality of life and 4 patients (30.77%) have a poor quality of life. The total average score of life quality is 67.93 with each detail aspect like; physical function 69.54, emotional function 86.00, social function 75.96, general health 49.68, physical condition 63.46, emotional condition 66.67, painful aspect 61,92 and fatigue 70,19. Based on the research at polyclinic cardiology of Ratu Zalecha Hospital Martapura it can be concluded that hypertension with the followers disease heart failure majority have poor quality of life and hypertension with the followers disease diabetes mellitus majority have good life of quality Keywords— Quality of life, Hypertension with complication, polyclinic cardiology.
Kualitas Hidup Pasien Hipertensi Dengan Penyakit Penyerta Di Poli Jantung RSUD Ratu Zalecha Martapura Riza Alfian; Yugo Susanto; Siti Khadizah
Journal of Pharmascience Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v4i2.5774

Abstract

Hipertensi dengan penyakit penyerta adalah salah satu penyebab kematian nomor satu di dunia. Hal tersebut pasti akan membahayakan jiwa pasien dan menurunkan kualitas hidup pasien. Kualitas hidup merupakan indikator penting untuk menilai keberhasilan intervensi pelayanan kesehatan, baik dari segi pencegahan maupun pengobatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pasien hipertensi dengan penyakit penyerta gagal jantung dan hipertensi dengan penyakit penyerta diabetes melitus di poli jantung RSUD Ratu Zalecha Martapura. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara prosfektif pada pasien rawat jalan di poli jantung selama periode Desember 2015 – Januari 2016. Subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi sejumlah 71 orang yang terbagi atas 58 orang (82,36 %) pasien hipertensi dengan penyakit penyerta gagal jantung dan 13 orang (17,64 %) pasien hipertensi dengan penyakit penyerta diabetes melitus. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara mengunakan kuesioner Short Form 36 (SF 36). Hasil penelitian menunjukkan untuk 58 orang pasien hipertensi dengan penyakit penyerta gagal jantung 15 orang (25,86%) kualitas hidup baik, dan 43 orang (74,14%) kualitas hidup kurang baik, total skor kualitas hidup rata-rata yaitu 46,21 dengan nilai skor tiap dimensi yaitu fungsi fisik 48,71, fungsi emosi 64,9, fungsi sosial 50,25, kesehatan umum 44,11, keadaan fisik 31,9, keadaan emosi 36,23, dimensi nyeri 36,85, dan fatique 58,72. Sedangkan untuk 13 orang pasien hipertensi dengan penyakit penyerta diabetes melitus 9 orang (69,23 %) kualitas hidup baik dan 4 orang (30,77 %) kualitas hidup kurang baik, total skor kualitas hidup rata-rata yaitu 67,93 dengan nilai skor tiap dimensi yaitu fungsi fisik 69,54, fungsi emosi 86,00, fungsi sosial 75,96, kesehatan umum 49,68, keadaan fisik 63,46, keadaan emosi 66,67, dimensi nyeri 61,92, dan fatique 70,19. Berdasarkan hasil penelitian di Poli Jantung RSUD Ratu Zalecha Martapura dapat disimpulkan bahwa pasien hipertensi dengan penyakit penyerta gagal jantung mayoritas memiliki gambaran kualitas hidup yang kurang baik dan pasien hipertensi dengan penyakit penyerta diabetes melitus mayoritas memiliki gambaran kualitas hidup baik. Kata Kunci: Kualitas Hidup, Hipertensi dengan penyakit penyerta
Analisis Kualitatif Kandungan Ibuprofen Dalam Jamu Pegal Linu Yang Beredar di Pasar Baru Permai Banjarmasin Eka Kumalasari; Linda Fitria Wahyuni; Riza Alfian
Journal of Pharmascience Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v5i1.5783

Abstract

ABSTRAK Ibuprofen merupakan obat yang berkhasiat untuk menghilangkan nyeri, menurunkan demam, peradangan seperti rematik dan encok. Efek samping yang paling bahaya jika digunakan dalam jangka panjang atau dalam dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan permukaan saluran gastrointestinal dan pendarahan. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan Ibuprofen pada jamu pegal linu yang beredar di pasar Baru Permai Banjarmasin. Jenis penelitian ini adalah penelitian bersifat deskriptif. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode analisis kualitatif dengan kromatografi lapis tipis. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kimia Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin dari tanggal 15 – 19 Juni 2017. Teknik sampling yang digunakan yaitu sampling jenuh. Sampel di ambil dari toko obat di Pasar Baru Permai Banjarmasin, didapatkan 15 sampel jamu pegal linu dengan merek berbeda. Analisis KLT menggunakan eluen dari campuran etil asetat, metanol, dan ammonia dengan perbandingan 85:10:5 dan plat KLT silica gel GF254 dengan Rf Ibuprofen yaitu 0,87. Dari hasil penelitian didapatkan 14 dari 15 sampel atau 93,3% dari total sampel mengandung Ibuprofen. Kata Kunci : Ibuprofen, Jamu Pegal Linu, KLT ABSTRACT Ibuprofen is a medicine to relieve pain, fever, inflammation such as rheumatism and gout. The most dangerous side effects when used in the long term or in high doses can cause damage to the gastrointestinal tract and bleeding. The purpose of this research is to know the presence or absence of Ibuprofen content in jamu pegal linu which is circulating in market Baru Permai Banjarmasin. The type of research is descriptive. The method used is qualitative analysis with thin layer chromatography. The research was conducted at ISFI Banjarmasin Pharmacy Laboratory from 15-19 June 2017. The sampling technique used was saturated sampling. Samples are taken from pharmacies in the in pasar Baru Permai Banjarmasin. The researcher obtained 15 herbal samples with various brands. TLC analysis used eluent from mixture of ethyl acetate, methanol, and ammonia with ratio 85: 10: 5 and KLT silica gel plate GF254 with Rf Ibuprofen was 0.87. From the results obtained 14 of 15 samples or 93.3% of the total sample positively contained Ibuprofen Keywords: Ibuprofen, Pegal Linu Herbal Medicine, TLC
Korelasi Antara Kepatuhan Minum Obat dengan Kadar Gula Darah pada Pasien Diabetes Melitus Rawat Jalan di RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin Riza Alfian
Journal of Pharmascience Vol. 2 No. 2 (2015): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v2i2.5818

Abstract

ABSTRAK            Diabetes melitus merupakan penyakit kelainan metabolik dengan karakteristik hiperglikemia kronis serta kelainan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Prevalensi diabetes melitus di Kalimantan Selatan pada tahun 2013 sebesar 1,4%. Ketidakpatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat anti diabetika oral merupakan faktor utama yang dapat menyebabkan tingginya kadar gula darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan minum obat dan kadar gula darah serta untuk mengetahui korelasi kepatuhan minum obat dengan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan pengambilan data secara prospektif selama periode bulan April sampai dengan Mei 2015. Subyek penelitian adalah pasien diabetes melitus rawat jalan di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin yang menerima obat anti diabetika oral. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 110 pasien. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara dan pengisian lembar kuesioner kepatuhan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS). Data kadar gula darah diambil dari catatan medis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan minum obat pada pasien diabetes melitus rawat jalan yaitu tingkat kepatuhan rendah (42,7%), tingkat kepatuhan sedang (39,1%), dan tingkat kepatuhan tinggi (18,2%). Dengan rata-rata kadar gula darah puasa dan dua jam setealah makan secara berturut-turut sebesar 156,04 ± 63,15 mg/dL dan 210.90 ± 80,76 mg/dL. Terdapat korelasi yang bermakna antara kepatuhan minum obat dengan kadar gula darah dua jam setelah makan (p<0,05) dengan arah korelasi yaitu negatif. Kata Kunci—Diabetes melitus, Kepatuhan, MMAS, Kadar gula darah Abstract            Diabetes mellitus is a one of metabolic diseases with characteristic chronic hyperglycemia and abnormal metabolism carbohydrate, lipid and protein. The prevalence of diabetes mellitus in South Borneo in 2013 was 1,4%. Non adherence in patients taking oral anti-diabetic drugs are the main factors that cause high blood glycemic levels. The purpose of this study was to determine the relationship and level of medication adherence on ambulatory diabetes mellitus spatients at internal disease polyclinic Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin General Hospital. This study was conducted with a cross sectional design to take patient data prospectively during the period from April until May, 2015. Subjects were ambulatory diabetes mellitus patients at internal disease polyclinic general Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin Hospital who had received oral anti-diabetic. The sample who met the inclusion and exclusion criteria were 110 patients. The data were collected by conducting interviews and completion Morisky Medication Adherence Scale (MMAS) questionnaire. The blood glucose levels data was taken from their medical records. The results showed that the level of medication adherence on diabetes mellitus patient are low adherence level (42,7%), moderate levels of adherence (39,1%%), and high levels of adherence (18,2%). The average of fasting blood glucose and blood glucose two hours post prandial were 156,04 ± 63,15 mg/dL and 210.90 ± 80,76 mg/dL respectively. There were correlation between the adherence and the blood glucose two hours post prandial (p<0,05), and the correlation were negative. Keywords— Diabetes melitus, Adherence, MMAS, Blood Glycemic Level
Perbandingan Pengaruh Penggunaan Layanan Pesan Singkat Pengingat dan Aplikasi Digital Pillbox Reminder Terhadap Kepatuhan Minum Obat Pasien Hipertensi RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin Riza Alfian; Zakiah Wardati
Journal of Pharmascience Vol. 3 No. 1 (2016): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v3i1.5837

Abstract

ABSTRAK Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko pada penyakit kardiovaskular dan ginjal. Kalimantan Selatan menempati urutan kedua yaitu sebesar 30,8% sebagai prevalensi hipertensi tertinggi di Indonesia. Ketidakpatuhan terhadap terapi hipertensi merupakan faktor yang dapat menghambat pengontrolan tekanan darah, sehingga memerlukan intervensi untuk membantu meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan pengaruh pemberian pesan singkat pengingat dan penggunaan aplikasi digital pillbox reminder terhadap kepatuhan serta hasil terapi pasien hipertensi rawat jalan di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan kuasi-eksperimental dengan pengambilan data secara prospektif selama periode April-Mei 2015. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 40 pasien hipertensi dibagi menjadi dua kelompok yaitu 25 pasien (62,5%) yang mendapatkan intervensi berupa pesan singkat pengingat dan 15 pasien (37,5%) yang mendapatkan intervensi digital pillbox reminder. Kriteria eksklusi adalah pasien dengan kondisi tuli dan buta huruf. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara dan pengisian kuesioner kepatuhan MMAS. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian layanan pesan singkat pengingat dan aplikasi digital pillbox reminder dapat meningkatkan kepatuhan pre study 4,79±2,04 dan 5,02±2,30 menjadi 6,09±1,42 dan 7,23±0,99 pada post study dengan nilai p 0,00. Rata-rata peningkatan kepatuhan pada kelompok pesan singkat pengingat 1,30±1,30 dan aplikasi digital pillbox reminder 2,22±1,60 tidak berbeda signifikan (p=0,055). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian pesan singkat pengingat dan digital pillbox reminder pada pasien hipertensi dapat meningkatkan kepatuhan pasien minum obat tetapi tidak berbeda signifikan antara kedua kelompok ini.(p>0,05). Kata Kunci — Hipertensi, layanan pesan singkat pengingat, digital pillbox reminder, kepatuhan ABSTRACTHypertension is one of risk factor of cardiovascular and kidney disease. South Borneo was occupied the second place (30.8%) of hypertension prevalence in Indonesia. Non andherence is factor that can inhibit the blood pressure control so that it needs the intervention to improve the adherence of hypertension patients to the therapy. The aim of this study were to investigate the comparison of influence of giving short message reminder and using digital pillbox reminder on adherence and the outcome therapy hypertension patients at RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. This study was conducted with quasi-experimental design and the data was collected prospectively during period April until May 2015. Forty patients were divided into 2 groups, 25 patients (62.5%) were received short message reminder and 15 patients (37.5%) were received digital pillbox reminder intervention.The exclussion criteria were patient with deaf and illiterate conditions. Data collection was conducted with interview and completion of Morisky Modification Adherence Scale (MMAS) questionnaire. The resut of this study showed that giving short message reminder and digital pillbox reminder could improve pre study adherence 4.79±2.04 and 5.02±2.30 increased 6.09±1.42 and 7.23±0.99 at post study with the value p 0.00. The average of increasing adherence on short message reminder group 1.30±1.30 and digital pillbox reminder group 2.22±1.60 were not significantly different (p=0.055). Based on this study, it can be concluded that giving short message reminder and digital pillbox reminder can improve the adherence but not significantly different between this two groups (p>005). Keywords— Hypertension, short message reminder, digital pillbox reminder, adherence