Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Junior Medical Journal

The Effect Of Dysmenorrhea On Mood Changes In 2020 Yarsi University Faculty Of Medicine Students And According To Islamic Perspective Shintya Nabilla Trianti; Endang Purwaningsih; Qomariyah Qomariyah; Firman Arifandi
Junior Medical Journal Vol 1, No 3 (2022)
Publisher : Junior Medical Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.132 KB) | DOI: 10.33476/jmj.v1i3.2984

Abstract

Background: Dysmenorrhea is defined as painful uterine cramps occurring during menstruation and is one of the most common causes of abdominal pain and menstrual disorders. Not all women who experience menstruation feel comfortable; this is caused by general disturbances such as mood swings, joint pain, and abdominal pain, which is called dysmenorrhea. Women with dysmenorrhea need knowledge about the effects of dysmenorrhea on mood changes. The effect of dysmenorrhea on mood in 2020 YARSI University Faculty of Medicine student is unknown.Methods: This type of research is descriptive-analytic with a cross-sectional study approach. The sample in the study consisted of students from the Faculty of Medicine at YARSI University, class of 2020, with 120 respondents. Data was collected by filling out a questionnaire to measure pain and mood changes, namely Numeric Rating Scale (NRS) and Four Dimensions Mood Scale (FDMS). The analysis was carried out univariately on each variable and bivariate to see the relationship between variables. Results: The results showed that YARSI University Faculty of Medicine students who experienced mild, moderate, and severe dysmenorrhea with negative mood changes, respectively, were 5 people (10.4%), 5 people (10.6%), and 14 people (56%). Mild, moderate, and severe dysmenorrhea with relaxation mood swings affected 10 people (20.8%), 31 people (66%), and 6 people (24%). Mild, moderate, and severe dysmenorrhea with positive mood changes, respectively, affected 33 people (68.8%), 1 person (23.4%), and 5 people (20%). The results of the Chi-Square analysis showed a relationship between the incidence of dysmenorrhea and mood swings.Conclusion: There is a relationship between the incidence of dysmenorrhea and mood swings in 2020 YARSI University Faculty of Medicine students.
Hubungan Jenis Kelamin Dan Ras/Suku Dengan Kemampuan Mengecap Phenylthiocarbamide (Ptc) Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Angkatan 2021 Azriel Al Mushorih; Endang Purwaningsih
Junior Medical Journal Vol 1, No 8 (2023)
Publisher : Junior Medical Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v1i8.3458

Abstract

Kemampuan mengecap PTC seseorang dapat berguna dan penting untuk mempelajari keragaman genetik pada populasi manusia. Sensitifitas rasa PTC penting dalam pemilihan makanan. Jenis kelamin ditentukan pada saat pembuahan. Kromosom X dari sel telur bergabung dengan kromosom seks dari sperma, baik kromosom Y menjadikan pria atau XY atau kromosom X lainnya menjadikan wanita atau XX. Suku/Ras dapat diartikan sebagai pengelompokan atau penggolongan manusia berdasarkan karakteristik fisik yang diturunkan. Tujuan penelitian adalah mengetahui frekuensi tester dan genotipnya pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Tahun akademik 2021 dihubungkan dengan jenis kelamin dan ras/suku. Metode Penelitian adalah eksperimental dengan rancangan cross sectional. Tes PTC dilakukan menggunakan lakmus PTC. Data jenis kelamin dan ras/suku diperoleh menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan aplikasi SPSS Statistic versi 26 dan menggunakan analisis univariat serta analisis bivariat. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 202 mahasiswa didapatkan mahasiswa tester sebanyak 139 dan nontester sebanyak 63. Diantara mahasiswa tester sebagian besar berjenis kelamin perempuan. Frekuensi gen t sebesar 0,5584 dan frekuensi gen T sebesar 0,4415. Mahasiswa yang berasal dari suku jawa paling tinggi dan mahasiswa dari Bengkulu, Melayu dan Lampung paling rendah. Berdasarkan kemampuan mengecap rasa pahit (tester/nontester), jenis kelamin, dan ras/suku frekuensi tertinggi adalah suku jawa pada perempuan tester, sedangkan frekuensi terendah adalah suku Bengkulu, melayu, dan lampung pada laki-laki tester dan perempuan tester. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara jenis kelamin dan ras/suku terhadap kemampuan mengecap PTC.