Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Pharmascience

Penambatan Molekul Kandungan Eurycoma longifolia Jack. (Pasak bumi) terhadap Human Phosphodiesterase 5 Samsul Hadi; Khoerul Anwar; Amalia Khairunnisa; Noer Komari
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i2.8731

Abstract

Pasak bumi sebagai obat tradisional pria telah digunakan oleh masyarakat melayu, khususnya orang Sumatra dan kalimantan, akan tetapi mekanisme secara molekuler belum dikatahui dengan jelas. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengetahui mekanisme pasak bumi sebagai obat tradisional yang bermanfaat mengatasi disfungsi ereksi adalah penambatan molekul. Penambatan melekul dilakukan dengan cara melihat interaksi ligand dengan reseptor. Ligand yang berasal dari pasak bumi adalah 5-methoxycanthin-6-one, 9-methoxycanthin-6-one, eurycomalactone, eurycomalide A, eurycomanone, eurycomaoside, laurycolactone A, longilactone, niloticin, picrasidine O. Sehingga kesepuluh ligand ini didocking menggunakan salah satu aplikasi docking yaitu PLANTS 1.1 untuk melihat ikatan dengan PDE5. Sebelum dilakukan docking terhadap ligand pasak bumi, terlebih dahulu dilakukan docking terhadap ligand Sildenafil untuk melhat nilai RMSD. RMSD ini diperlukan sebagai alat validasi metode, berdasarkan percobaan, nilai RMSD dari Sildenafil adalah 1,2517 A0. Hasil terbaik dari penambatan molekul pasak bumi adalah niloticin dengan skor doking -97,8802, sehingga nilai interaksinya terhadap reseptor sebesar 93,71% dari Sildenafil.Pasak bumi as traditional male medicine has been used by Malay people, especially Sumatra and Borneo people, but the molecular mechanism is not yet known clearly. One approach that can be used to determine the mechanism of the Pasak Bumi as a traditional medicine that is useful to overcome erectile dysfunction is docking molecules. Molecular docking is done by looking at the interaction of ligands with receptors. Ligands originating from the Pasak Bumi are 5-methoxycanthin-6-one, 9-methoxycanthin-6-one, eurycomalactone, eurycomalide A, eurycomanone, eurycomaoside, laurycolactone A, longilactone, niloticin, picrasidine O. docking application namely PLANTS 1.1 to see the bond with PDE5. Before docking Pasak Bumi ligand, it is first docking Sildenafil ligand to see the RMSD value. The RMSD is needed as a method validation method, based on experiments, the RMSD value of Sildenafil is 1.2517 A0. The best results from docking of the Pasak bumi molecule is niloticin with a doctor score of -97.8802, so interaction skor to the receptor is 93.71% of Sildenafil.Keywords: Pasak Bumi, PDE5, PLANTS
Optimasi Suhu dan Waktu Ekstraksi Akar Pasak Bumi (Eurycoma longifolia jack.) Menggunakan Metode RSM (response surface methodology) dengan Pelarut Etanol 70% Khoerul Anwar; Farida Istiqamah; Samsul Hadi
Jurnal Pharmascience Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i1.9085

Abstract

Akar pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack.) telah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional oleh masyarakat Indonesia sebagai aprodisiaka. Ekstraksi akar tumbuhan ini dilakukan dengan berbagai pelarut yang salah satunya menggunakan etanol 70%.  Pemilihan pelarut ini dilakukan untuk memperoleh kandungan zat berkhasiat semaksimal mungkin yang ditandai dengan rendemen yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu dan waktu ekstraksi optimum pada proses ekstraksi akar E. longifolia dengan pelarut etanol 70%. Metode OFAT (One Factor at The Time) digunakan pada uji pendahuluan dan metode RSM (Response Surface Methodology) digunakan pada desain eksperimen dengan bantuan software MINITAB 17. Penelitian dilakukan menggunakan 13 titik perlakuan dengan kombinasi suhu dan waktu yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa titik optimum rendemen ekstraksi akar E.longifolia sebesar 4,07% diperoleh pada suhu 51,8oC dan waktu 12,13 jam dengan nilai D (desirability) sebesar 0,92. Uji validasi model RSM menunjukkan keakuratan sebesar 97,76%. Model persamaan regresi yang menggambarkan pengaruh suhu dan waktu ekstraksi terhadap rendemen akar E. longifolia adalah Y = - 70,1 + 2,536X1 + 1,387X2 – 0,02389X12 – 0,0464X22 – 0,00500X1X2. Kata Kunci: Eurycoma longifolia Jack., Suhu dan Waktu Ekstraksi, Metode RSM, Etanol 70%The root of the pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack.) has long been used as a traditional medicine by the Indonesian people as an aphrodisiac. Extraction of plant roots is carried out with various solvents, one of which uses ethanol 70%. The selection of this solvent was carried out to obtain the maximum possible active metabolite content which is characterized by high yield. This study aims to determine the optimum extraction temperature and time in the root extraction process of E. longifolia with 70% ethanol as solvent. The OFAT (One Factor at The Time) method was used in the preliminary test and the RSM (Response Surface Methodology) method was used in the experimental design with the help of MINITAB 17 software. The study was conducted using 13 treatment points with different combinations of temperature and time. The results showed that the optimum yield point of E. longifolia root extraction was 4.07% at a temperature of 51.8°C and extraction time of 12.13 hours with D (desirability) value of 0.92. The validation test of the RSM model shows an accuracy of 97.76%. The regression equation model that describes the effect of temperature and extraction time on the root yield of E. longifolia is Y = - 70.1 + 2.536X1 + 1.387X2 – 0.02389X12 – 0.0464X22 – 0.00500X1X2.
Penentuan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Bunga Ceguk (Combretum Indicum L.) Tipe Membulat pada Beberapa Wilayah di Kalimantan Selatan Amalia Khairunnisa; Samsul Hadi; Sri Oktaviana Sari
Jurnal Pharmascience Vol 9, No 2 (2022): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v9i2.13859

Abstract

Tanaman ceguk (Combretum indicum L.) memiliki 2 variasi yaitu tipe membulat dan tipe memanjang dan berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan bunga ceguk tipe membulat pada beberapa wilayah di Kalimantan Selatan yakni di Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar dan Kabupaten Kotabaru. Penentuan aktivitas antioksidan baik secara kualitatif maupun kuantitatif dilakukan dengan menggunakan KLT dan Spektrofotometer UV-Vis. Ekstrak etanol bunga C. indicum tipe membulat dari Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, dan Kabupaten Kotabaru secara kualitatif memiliki aktivitas antioksidan yang ditandai dengan adanya bercak kuning dengan latar belakang ungu pada plat KLT setelah penyemprotan reagen DPPH. Adapun nilai IC50 ekstrak etanol bunga C. indicum tipe membulat pada Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, dan Kabupaten Kotabaru masing-masing sebesar 16,358 ppm, 28,445 ppm, dan 20,868 ppm dengan kategori sangat kuat. Berdasarkan hasil penelitian ini bunga C. indicum tipe membulat memiliki aktivitas antioksidan tertinggi pada wilayah  Kota Banjarbaru.Kata Kunci : Combretum indicum L, bunga ceguk, ekstrak, antioksidan Combretum indicum L. has 2 types, rounded and elongated , as an antioxidant activity. This study aims to determine the antioxidant activity of round-type flowers in several areas in South Kalimantan, such as in Banjarbaru City, Banjar Regency and Kotabaru. Determination of antioxidant activities, qualitatively and quantitatively, was carried out using TLC and UV-Vis Spectrophotometer. The qualitative test of ethanolic extract of round type C. indicum flowers from Banjarbaru City, Banjar Regency, and Kotabaru had antioxidant activity which was indicated by the presence of yellow spots on a purple background on the TLC plate after spraying DPPH reagent. The IC50 values for the ethanolic extract of C. indicum flower type in Banjarbaru City, Banjar Regency, and Kotabaru were 16.358 ppm, 28.445 ppm, and 20.868 ppm with a very strong category antioxidant. Based on the results of this study, the round type of C. indicum flowers had the highest antioxidant activity in the Banjarbaru City area.
Evaluasi Docking Molekular Potensi β-Sitosterol dari Kelakai (Stenochlaena palustris) sebagai Inhibi-tor Estrogen Receptor Noer Komari; Tazkia Safarina; Mirza Maulana Ahmad; Nugi Maulana; Eko Suhartono; Samsul Hadi
Jurnal Pharmascience Vol 9, No 2 (2022): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v9i2.13412

Abstract

 Tumbuhan khas rawa Kalimantan yang banyak dikaitkan dengan kesehatan adalah Kelakai (Stenochlaena palustris). Kelakai mengandung senyawa kimia antioksidan, antibakteri, antijamur, antianemia dan antiinflamasi. β-sitosterol adalah fitosterol penting di tumbuhan kelakai. β-sitosterol dikatakan mampu menekan pertumbuhan sel kanker payudara. Protein penting dalam perkembangan sel kanker payudara adalah Estrogen Receptor (ER) yang juga merupakan target protein untuk kerja obat. Penelitian ini bertujuan melihat potensi senyawa β-sitosterol sebagai inhibitor ER secara in silico. Energi bebas Gibbs (ΔG), koefisien inhibisi (Ki) dan interaksi ligan dengan residu ER dianalisis sebagai parameter docking. Sifat farmakokinetik β-sitosterol diprediksi menggunakan server web pkCSM dan SwissADME. Hasil molekular docking menunjukkan bahwa β-sitosterol membentuk kompleks dengan ER dengan energi bebas Gibbs (ΔG) = -5,27 kkal/mol dan raloxifene = -5,71 Kkal/mol. β-sitosterol berinteraksi dengan residu Gln-441, Asn-439, Met-438, Ala-493, Leu-495, Arg-503, Gln-499, Gln-502, Gln-506 dan raloxifene berinteraksi dengan residu Phe-425, Met-421, Leu-428, Ile-424, Met-388, Leu-391, Leu-387, Phe-404, Met-502, Met 348, Leu-525, Leu-346, Asp-347, Glu-348, Ala-350, Pro-515, Asp547, Trp-383, Met-383, Glu-524, Val-528, Trp-383, Asn-502, Pro-508, Leu-589, Val-524, Val-327. β-sitosterol tidak bersifat hepatotoksik dan tidak menyebabkan alergi kulit. Protein ER berinteraksi stabil dengan β-sitosterol dengan Sembilan residu. β-sitosterol berpotensi sebagai kandidat obat antikanker dengan menghambat pertumbuhan ER. Kata kunci: raloxifene, kanker payudara, in silico, target protein, SwissADME   A typical plant of the Borneo swamp that is widely associated with health is Kelakai (Stenochlaena palustris). Kelakai contains antioxidant, antibacterial, antifungal, antianemic and anti-inflammatory chemical compounds. β-sitosterol is an important phytosterol in Stenochlaena palustris. β-sitosterol is said to be able to suppress the growth of breast cancer cells. An important protein in the development of breast cancer cells is the Estrogen Receptor (ER) which is also a protein target for drug action. This study aims to see the potential of β-sitosterol compounds as ER inhibitors in silico. Gibbs free energy (ΔG), inhibition coefficient (Ki) and ligand interaction with ER residues were analyzed as docking parameters. The pharmacokinetic properties of β-sitosterol were predicted using pkCSM and SwissADME web servers. The results of molecular docking showed that β-sitosterol formed a complex with ER with Gibbs free energy (ΔG) = -5.27 kcal/mol and raloxifene = -5.71 kcal/mol. β-sitosterol interacts with Gln-441, Asn-439, Met-438, Ala-493, Leu-495, Arg-503, Gln-499, Gln-502, Gln-506 residues and raloxifene interacts with Phe-425, Met-421, Leu-428, Ile-424, Met-388, Leu-391, Leu-387, Phe-404, Met-502, Met 348, Leu-525, Leu-346, Asp-347, Glu-348 , Ala-350, Pro-515, Asp547, Trp-383, Met-383, Glu-524, Val-528, Trp-383, Asn-502, Pro-508, Leu-589, Val-524, Val-327 residues. β-sitosterol is not hepatotoxic and does not cause skin allergies. The ER protein interacts stably with β-sitosterol with nine residues. β-sitosterol has potential as an anticancer drug candidate by inhibiting ER growth.
Co-Authors Ag. Yuswanto Ag. Yuswanto Agustina, Ni Kadek Ayu Amalia Khairunnisa Amalia Khairunnisa Amalia Khairunnisa Ana Maulana Ana Muliana Arif Subekti Arif Subekti Bawaihi Bawaihi Buih, Putri Helena Junjung DENI SETIAWAN Deni Setiawan Desiya Ramayanti Azhara Desiya Ramayanti Azhara Diah Aulia Rosanti Diah Aulia Rosanti Dian Ekowati Dian Ekowati Dian Kusuma Putra Eko Suhartono Elvina Astria Agustin Endang Lukitaningsih Fadlilaturrahmah Fadlilaturrahmah, Fadlilaturrahmah Fanli Yudi Anwar Farida Istiqamah Fathul Jannah, Fathul Febriani, Noor Rahmi Fery Ramadhan Fitri Puspitasari Gunawan Gunawan Gunawan Gunawan Indriani, Erika Irawati Irawati Izma, Hayatun Khadijah, Nor Khoerul Anwar Kunti Nastiti Kunti Nastiti Kunti Nastiti Kunti Nastiti Kunti Nastiti Kunti Pelita Kuranji Blok Nastiti Liling Triyasmono Liling Triyasmono Liling tryasmono Linda Wahyuni Ludowika Adonita Tarong Lutfi Chabib, Lutfi Malahayati, Siti Melviani Melviani Mirza Maulana Ahmad Muhammad Firman Akbar Muhammad Ikhwan Rizki Muhammad Luthfi Firdaus Muhammad Syihab Setia Budi Nashrul Wathan Nastiti, Kunti Noer Komari Normaidah, Normaidah Normilawati Noval Noval Noval Noval Nugi Maulana Nur Mahdi Nurul Mardiati Nurul Mardiati Okta Muthia Sari Pertiwi Awilda Rafiah Anggianingrum Rahmadina, Nazwa Rahmawati, Nanda Hesti Ramadani, Rizka aulia Ratnapuri, Prima Happy Rezka Fajar Ramadhan Rinda, Ririn Purnama Riswandayani Savitri Risye Hendry Rizki Swastika Puri ROBIATUL ADAWIYAH RR. Endang Lukitaningsih Salma Salma Sefa Nur Khalifah Setia Budi Sheila Nurrahmah Shindi, Muhammad Riki Sintya Oktaviani Sri Oktaviana Sari Sri Oktaviana Sari Subagus Wahyuono Subagus Wahyuono Suci Kamelia Sukmana, M. Laily Qadry Tazkia Safarina Ulfah, Nahdiati Umi Nur Hapifah Umi Nur Hapifah Uripto Trisno Santoso Viogenta, Pratika Wijaya, Eka Setya Yusri Yusri Yusri Yusri